BUDIDAYA SEMANGKA

Bagi petani, budidaya semangka mampu memberikan keuntungan cukup besar karena produktivitas tanaman semangka tinggi, apalagi masa budidaya buah semangka juga singkat. Semangka merupakan salah satu jenis buah berkadar air tinggi serta banyak digemari oleh masyarakat karena buah semangka memiliki cita rasa khas serta cara penyajiannya juga mudah. Kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat membuat kualitas dan daya adaptasi tanaman semangka terus meningkat. Disamping bentuk buah beragam, baik warna maupun ukuran buah semangka juga semakin bervariasi. Selain itu, sekarang bahkan sudah banyak dibudidayakan varietas semangka nonbiji, harganya pun relatif terjangkau sehingga membuat buah semangka semakin digemari oleh semua lapisan masyarakat.

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA SEMANGKA

Teknik dan cara menanam semangka yang baik merupakan kunci utama keberhasilan budidaya, untuk itu sebagai seorang petani tentunya petunjuk mengenai teknik dan cara budidaya tanaman terutama tanaman hortikultura menjadi syarat dasar yang harus dipenuhi. Penguasaan teknik budidaya semangka menentukan tingkat keberhasilan petani selama proses penanaman semangka berlangsung, meskipun faktor harga juga berperan dominan. Setidaknya keberhasilan budidaya mampu meninimalkan tingkat kerugian saat harga jual sedang jatuh di pasaran.

SYARAT TUMBUH TANAMAN SEMANGKA

Tanaman semangka memerlukan curah hujan antara 40-50 mm/bulan, ketinggian tempat optimal 300 mdpl. Selain itu, tanaman semangka membutuhkan intensitas sinar matahari penuh sepanjang hari tanpa naungan untuk membantu proses fotosintesis. Agar diperoleh kualitas buah tinggi, penanaman semangka membutuhkan suhu optimal berkisar 25-30 derajat C. Kelembaban udara terlalu tinggi akan mendorong perkembangan penyakit, terutama cendawan patogen.

Sebelum budidaya semangka berlangsung, juga perlu diperhatikan jenis tanahnya, tanaman semangka membutuhkan tanah gembur serta subur untuk menopang pertumbuhan serta berproduksi optimum, seperti tanah bertekstur lempung berpasir serta kaya akan kandungan bahan organik. Oleh karena itu, pengolahan tanah secara intensif disertai penambahan pupuk organik dalam jumlah cukup merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan budidaya semangka. Jika budidaya semangka dilakukan di tanah berat, maka akan menekan laju pertumbuhan, kualitas buahnya pun rendah, buah semangka pecah-pecah. Usahatani semangka membutuhkan air dalam pemeliharaannya karena 90% kandungan buah semangka terdiri dari air.

Lokasi budidaya semangka sebaiknya dipilih bukan bekas lahan penanaman semangka atau tanaman sefamili. Usahakan lahan telah diberakan (tidak ditanami tanaman sefamili) selama 2 tahun agar diperoleh hasil optimal.

PERSIAPAN TEKNIS

Pengukuran pH tanah diperlukan dalam menentukan pengapuran, terutama pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran nilai pH ini dapat berbagai cara, yaitu dengan pH meter, kertas lakmus, atau cairan pH tester. Penentuan titik sampel dilakukan secara zigzag dan diusahakan sudah mewakili keseluruhan lokasi budidaya semangka.

PELAKSANAAN BUDIDAYA SEMANGKA




Persiapan Lahan

Persiapan lahan sebelum melakukan budidaya semangka, diantaranya pembajakan tanah dilanjutkan penggaruan, pembuatan bedengan, pemberian kapur pertanian sebanyak 1,5 ton/ha untuk pH tanah di bawah 6, pemberian pupuk kandang fermentasi 40 ton/ha serta pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 1,5 ton/ha. Kemudian dilakukan pengadukan/pencacakan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah.

Pembuatan bedengan pada saat budidaya semangka dilakukan dengan cara mencangkul tanah di bagian parit kemudian menaikkan tanah tersebut ke bagian atas bedengan sehingga permukaan bedengan menjadi lebih tinggi. Bedengan dibuat selebar 5 meter, jarak antar bedengan 60 cm serta tinggi bedengan 40-60 cm. Langkah selanjutnya, tanah di bagian tengah bedengan dibagi menjadi dua bagian lalu diangkat ke masing-masing tepi bedengan sehingga kedua tepi bedengan akan membentuk bedengan tanam dengan lebar 1 meter. Cara budidaya sistem ini, dalam satu bedengan selebar 5 meter terdapat dua bedengan tanam selebar 1 meter. Kedua bedengan tanam tersebut dibuat miring ke arah tengah, pada titik tengah pertemuan kedua bedengan dibuat saluran air selebar 20 cm, kedalaman 10 cm.
Setelah bedengan siap, persiapan selanjutnya adalah pemasangan mulsa PHP (Plastik Hitam Perak). Mulsa PHP dipasang pada bedengan tanam yang berada di masing-masing tepi bedengan, sedangkan pada bagian yang miring ke arah tengah bedengan ditutup rapat menggunakan jerami. Maksud dari perlakuan ini untuk menekan pertumbuhan gulma. Mulsa PHP berukuran lebar 120 cm, sisi berwarna perak menghadap ke atas, sedangkan sisi berwarna hitam menghadap ke tanah. Pemasangan mulsa dilakukan saat terik matahari agar mulsa PHP mudah ditarik serta lebih hemat pemakaian. Setelah mulsa terpasang dilakukan pembuatan lubang tanam di bagian tepi luar bedengan, jarak antartanaman 60 cm. Masing-masing bedengan tanam terdapat satu baris lubang tanam.

Persiapan Pembibitan dan Penanaman Semangka

Persiapan pembibitan untuk budidaya tanaman semangka membutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 10 ltr pupuk kandang, 20 ltr tanah, 150 g NPK halus. Setelah itu masukkan media campuran tersebut ke dalam polibag semai.
Benih semangka yang akan ditanam harus dipersiapkan secara benar sehingga setelah ditanam di lahan, tanaman semangka memiliki pertumbuhan optimal dan menghasilkan buah semangka berkualitas. Jumlah bibit semangka dengan cara budidaya seperti ini kurang lebih 8.000 tanaman/ha termasuk cadangan bibit penyulam. Kebutuhan benih kurang lebih 500-600 gram. Sebelum penyemaian, benih semangka direndam dalam larutan simokanil atau metalaksil, dosis/konsentrasi ½ dari dosis terendah sesuai anjuran di kemasan selama 6 jam. Untuk mempercepat perkecambahan benih, tutup permukaan media dengan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP) serta usahakan kondisi tanahnya tetap dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup kain goni atau mulsa dilakukan ketika terlihat benih sudah mulai berkecambah, kemudian diganti dengan sungkup plastik transparan. Buka sungkup setiap pagi hari, pukul 07.00 dan ditutup pukul 09.00, dibuka sore harinya pukul 15.00 dan ditutup pukul 17.00. Buka sungkup secara penuh menjelang tanam, kira-kira 5-7 hari sebelum penanaman. Selama di pembibitan, bibit perlu disiram setiap hari agar kelembaban tanahnya tetap terjaga, tetapi penyiraman jangan terlalu basah. Penyiraman yang baik dilakukan setiap pagi saja, perkirakan kelembabannya selalu terjaga sampai keesokan harinya. Jika sore hari tanah terlihat kering, bisa disiram lagi secukupnya. Tetapi jika kondisi tanahnya masih lembab, penyiraman cukup satu kali saja. Pada umur 8 hss (hari setelah semai) semprot bibit semangka menggunakan bahan aktif simoksanil (fungisida) dan berbahan aktif imidakloprid untuk insektisidanya. Penyemprotan jangan terlalu pekat, cukup setengah dosis terendah sesuai anjuran kemasann.
Bibit berdaun sejati 4 helai siap dipindah tanam ke lahan. Penanaman sebaiknya dilakukan saat pagi hari sebelum jam 10.00 atau sore hari setelah jam 15.00 untuk menghindari tanaman mengalami stress tinggi akibat sengatan terik matahari. Cara penanamannya mula-mula lepaskan bibit semangka beserta medianya dari polybag semai. Lakukan secara hati-hati agar media tidak pecah, setelah itu masukkan bibit ke dalam lubang tanam yang sudah dipersiapkan hingga leher akar tertutup tanah. Kemudian tanah di sekitar bibit sedikit dipadatkan menggunakan tangan. Usahakan posisi bibit setelah ditanam dalam keadaan tegak supaya tidak ada bagian bibit tanaman semangka yang menyentuh mulsa. Untuk memudahkan pemeliharaan, pastikan bibit semangka berukuran sama ditanam pada satu lokasi tertentu.

PEMELIHARAAN TANAMAN SEMANGKA

Perawatan tanaman harus dilakukan secara rutin semenjak setelah selesai penanaman hingga buah semangka dipanen. Upaya pemeliharaannya antara lain penyulaman, pemangkasan dan pembentukan tajuk, sanitasi lahan dan pengairan, pemupukan susulan, pemeliharaan buah, serta pengendalian hama penyakit tanaman.

Penyulaman Tanaman Semangka

Penyulaman tanaman semangka paling lambat dilakukan umur 3 hari setelah tanam (HST) sampai umur tanaman 10 hari. Tanaman semangka yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhannya menjadi tidak seragam, hal ini akan berpengaruh terhadap perawatan tanaman semangka serta pengendalian hama penyakit ketika berumur dewasa.

Pemangkasan dan Pembentukan Tajuk

Pemangkasan merupakan kegiatan membuang cabang tidak produktif untuk membentuk percabangan optimum. Kegiatan ini bertujuan menyeragamkan pertumbuhan tanaman semangka, menjamin proses produksi berlangsung maksimal, menekan resiko serangan hama penyakit, serta merangsang tumbuhnya tunas-tunas produktif.
Umur 10-12 HST tanaman semangka mulai membentuk 5-6 helai daun sejati. Tahap ini merupakan waktu paling baik untuk melakukan pemangkasan bentuk. Pemotongan titik tumbuh dilakukan dengan menggunting sekitar 2 cm bagian paling pucuk menggunakan gunting, sebelumnya gunting dicelupkan ke dalam larutan fungisida. Tujuan pencelupan gunting ke dalam larutan fungisida untuk menghindari infeksi penyakit setelah pemotongan, terutama serangan cendawan. Sisa pemotongan jangan sampai berserakan di lahan karena berpotensi menjadi penular penyakit, sisa potongan tersebut harus dikumpulkan dan dimusnahkan segera setelah kegiatan pemangkasan selesai. Pemangkasan pucuk atau titik tumbuh jangan sampai terlambat karena akan berdampak terhadap produktivitas.
Tunas baru akan muncul 4-5 hari setelah pemotongan pucuk. Setelah tunas baru membentuk 4-5 ruas, lakukan pemilihan 3 tunas dengan pertumbuhan cepat dan seragam, tunas-tunas ini terus dipelihara menjadi tunas produktif. Ketiga tunas produktif tersebut diatur membentuk huruf W berjarak antarcabang 15-20 cm. Arahkan menjalar sesuai arah kemiringan bedengan. Tunas atau cabang yang tidak terpilih dipotong menggunakan gunting, gunting potong sebelumnya dicelupkan terlebih dahulu ke dalam larutan fungisida. Sisa potongan tunas tersebut dikumpulkan lalu segera dimusnahkan.
Agar hasil fotosintesis tidak digunakan untuk membentuk tunas tidak produktif, maka seluruh cabang sekunder di bawah ruas atau daun ke-14 dipotong, sebaiknya proses pemotongan dilakukan secara periodik.

Sanitasi Lahan dan Pengairan

Sanitasi lahan merupakan kegiatan membersihkan areal budidaya semangka, meliputi : pengendalian air genangan saat terjadi hujan, penyiangan gulma/rumput, pemusnahan ranting atau cabang bekas pemangkasan, serta pencabutan dan pemangkasan bagian tanaman semangka terserang hama penyakit. Kegiatan sanitasi lahan pada budidaya semangka bertujuan menjamin proses produksi berlangsung secara maksimal dengan menekan resiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) serta menekan persaingan dengan gulma untuk mendapatkan sinar matahari dan unsur hara.
Budidaya semangka pada dasarnya tidak membutuhkan air yang terlalu banyak. Walaupun demikian proses fotosintesis sangat membutuhkan air. Oleh karena itu, pemberian air yang tepat seefisien mungkin akan membantu menekan biaya sekaligus menghasilkan produksi optimal. Pengairan atau irigasi adalah kegiatan memberi air sesuai kebutuhan tanaman di daerah perakaran dengan air yang memenuhi standar. Proses pengairan dilakukan pada waktu, cara, dan jumlah yang tepat untuk menjamin kebutuhan air bagi tanaman sehingga pertumbuhan dan proses produksinya berjalan dengan baik.
Saat sebelum tanam dan setelah tanam, bibit semangka disiram cukup basah agar bibit tidak stress kekeringan sehingga dapat segera beradaptasi dengan kondisi di lahan. Tiga hari setelah tanam lakukan pengontrolan, jika terjadi kekeringan maka tanaman semangka yang baru dipindah ke lahan harus segera diairi. Hal ini perlu diperhatikan karena fase-fase ini akar tanaman semangka belum tumbuh dan masih dalam tahap penyesuaian diri dengan lingkungan barunya. Ketika musim kemarau pengairan dilakukan dua hari sekali sampai menjelang berbunga, atau sekitar 21 HST. Menjelang pembungaan atau sebelum bunga mekar perlu dilakukan penggenangan lahan setiap hari, hal ini bertujuan menjaga kerontokan bunga. Setelah memasuki proses pembungaan sebaiknya lahan tidak diairi dulu agar pembentukan buah semangka tidak terganggu serta buahnya tidak mudah pecah.
Sewaktu buah semangka sudah sebesar telur ayam perlu dilakukan pengairan, hal ini bertujuan menjaga kelembaban lahan agar tetap stabil serta ukuran buah bisa optimal. Setelah dilakukan seleksi buah semangka, kelembaban lahan perlu dijaga sampai sekitar 23 hari dari bunga mekar. Fase ini merupakan fase pembentukan buah, apabila kekurangan air maka kulit buah semangka akan mengeras, kemudian setelah diairi kembali buah semangka akan banyak yang pecah kemudian membusuk. Setelah 24 hari semenjak pembungaan, pengairan sedikit demi sedikit harus dikurangi. Hingga 10 hari menjelang panen, pengairan dihentikan agar lahan menjadi kering, hal ini dimaksudkan untuk memperoleh kadar gula tinggi dalam buah semangka, serta memudahkan pemanenan semangka.

Pemupukan Susulan

Tanaman semangka merupakan tanaman berumur pendek. Disamping itu, pertumbuhan tanaman semangka juga sangat cepat. Pemberian pupuk dasar saat persiapan lahan masih belum mencukupi untuk pencapaian produksi optimal. Oleh karena itu, pemupukan susulan selama budidaya semangka perlu dilakukan, bertujuan memberikan unsur hara tambahan pada tanaman semangka agar nutrisi tanaman terpenuhi sehingga menjamin pertumbuhan secara optimal serta menghasilkan produksi semangka bermutu sesuai standar kualitas produk.
Pupuk akar diberikan dengan cara pengocoran. Pupuk susulan pertama diberikan umur 5 hst menggunakan pupuk NPK 15-15-15 dan ZK, dosis 3 kg NPK dan 1 kg ZK dilarutkan ke dalam air sebanyak 1 drum (200lt air), larutan ini untuk 1000 tanaman, tiap tanaman dikocor 200 ml.
Pupuk susulan kedua diberikan umur 15 hst menggunakan pupuk NPK 15-15-15, dosis 4kg NPK 15-15-15, 2kg ZK dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml.
Pupuk susulan ketiga diberikan setelah seleksi buah (25-30 hst) menggunakan pupuk NPK 15-15-15, dosis 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml.
Pupuk susulan keempat diberikan 7-10 hari setelah pemupukan ketiga menggunakan pupuk NPK 15-15-15, dosis 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml.

Pemeliharaan Buah Semangka

Buah semangka yang sudah terbentuk perlu diseleksi dan dipelihara agar pertumbuhan ukurannya maksimal sesuai deskripsi varietas serta mencapai standar mutu yang ditetapkan oleh pasar tujuan. Langkah pemeliharan buah semangka mencakup seleksi buah dan pembalikan buah. Seleksi buah semangka ditunjukan untuk mendapatkan buah semangka dengan pertumbuhan paling optimum dan berbentuk sempurna. Untuk tujuan memilih buah semangka berukuran besar, sebaiknya dipilih 1 buah semangka yang memiliki pertumbuhan paling baik. Seleksi buah dilakukan ketika buah semangka yang terbentuk sudah berukuran sebesar telur ayam. Pilih satu diantara buah semangka yang terbentuk pada 3 cabang. Kriteria buah semangka pilihan adalah buah yang memiliki pertumbuhan paling bagus. Bila pertumbuhan buah semangka seragam, pilih dari cabang yang paling vigor. Untuk varietas berbobot buah kecil (kurang dari 2 kg), pada satu tanaman dapat dibesarkan 2-3 buah. Buah semangka dipelihara dipilih yang berada di cabang yang berbeda dengan posisi ruas yang seragam, yaitu pada ruas 13-15 agar keseragaman buah semangka dapat terpenuhi.
Pemotongan terhadap buah semangka yang tidak lolos seleksi dilakukan saat cuaca panas setelah pukul 09.00. Hal ini dimaksudkan agar menghindari infeksi penyakit pada bekas potongan buah. Buah semangka yang tidak dipilih dipotong menggunakan gunting, sebelumnya gunting direndam terlebih dahulu dalam larutan fungisida. Buah semangka hasil potongan dikumpulkan untuk segera dimusnahkan.
Pembalikan buah semangka merupakan kegiatan membalik buah agar bagian buah semangka di bawah bertukar posisi dengan bagian buah yang berada di atas. Hal ini bertujuan mengurangi kelembaban berlebihan pada salah satu sisi buah semangka serta memberikan penyinaran berimbang di seluruh bagian buah.

CARA PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA SEMANGKA

PENGENDALIAN HAMA TANAMAN SEMANGKA

Hama Gangsir

Hama menyerang bagian batang tanaman muda terutama tanaman semangka baru saja ditanam. Serangan hama gangsir dilakukan di malam hari, dengan cara memotong batang tanaman semangka tetapi tidak memakannya. Hama ini bersembunyi di dalam tanah dengan membuat liang dalam tanah, keberadaan gangsir dicirikan terdapat onggokan tanah pada muka liang. Cara pengendalian hama gangsir adalah dengan pemberian pestisida insektisida karbofuran sebanyak 1 gram per tanaman.

Hama Ulat Tanah

Hama ulat tanah jenis ini juga menyerang tanaman semangka di malam hari, siang harinya bersembunyi dalam tanah atau di balik mulsa PHP. hama ulat ini senag sekali memakan batang tanaman muda hingga terputus, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendalian hama ulat tanah dalam budidaya semangka adalah dengan pemberian pestisida insektisida karbofuran sebanyak 1 gram per tanaman.

Hama Ulat Grayak

Hama ulat grayak menyerang daun tanaman semangka bersama-sama dalam jumlah sangat banyak, hama ulat jenis ini biasanya menyerang tanaman semangka di malam hari. Pengendalian serangan ulat grayak selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin, metomil, profenofos, sipermetrin, klorpirifos, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Jengkal

Gejala serangan ulat jengkal ditandai di bagian tepi daun muda ada bekas gigitan serangga, namun semakin lama semakin ke tengah dan hanya tersisa tulang daunnya. Pengendalian serangan hama ulat jengkal selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin, metomil, profenofos, sipermetrin, klorpirifos, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Thrips

Serangan thrips pada daun tanaman semangka ditandai adanya bercak keperakan, terutama di permukaan bawah daun. Hama thrips memakan dengan cara menghisap cairan daun semangka muda, yang akhirnya menyebabkan daun mengeriting dan kerdil. Pengendalian hama thrips selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Daun

Kutu daun juga menyerang dengan menghisap cairan tanaman, terutama daun semangka muda. Kotoran dari hama kutu jenis ini rasanya manis sehingga disukai semut. Daun semangka terserang mengalami klorosis (warna hijau daun memudar), menggulung, mengeriting, akhirnya tanaman semangka menjadi kerdil. Pengendalian serangan hama kutu daun selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Kebul

Kutu kebul memiliki warna putih, bersayap, serta seluruh tubuhnya berselimut serbuk putih seperti lilin. Hama kutu kebul menyerang dengan cara menghisap cairan daun semangka sehingga mengakibatkan kerusakan pada jaringan maupun sel-selnya. Pengendalian serangan hama kutu kebul selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Tungau

Tungau seringkali bersembunyi di balik daun semangka kemudian menghisap cairan daunnya. Daun semangka terserang terpelintir, berwarna coklat, pada permukaan bawah daun terlihat benang halus biasanya berwarna merah atau kuning. Pengendalian serangan hama tungau dilakukan penyemprotan insektisida akarisida berbahan aktif dikofol, propargit, tetradifon, klofentezin, piridaben, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kumbang Daun

Hama kumbang daun dikenal dengan nama oteng-oteng. Serangan oteng-oteng membentuk guratan memusat pada daun semangka, selain itu juga ditandai adanya bekas gigitan serangga. Selain merusak daun tanaman, kumbang daun juga merusak bunga semangka sehingga menyebabkan kerontokan bunga. Pengendalian serangan hama kumbang daun adalah dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin, metomil, profenofos, sipermetrin, klorpirifos, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Lalat Buah

Lalat buah betina dewasa menyerang semangka dengan cara meletakkan telur-telurnya ke dalam daging buah, selanjutnya telur berubah menjadi larva dan memakan bagian dalam buah semangka, akibat lebih lanjut menyebabkan busuk buah. Cara mengendalikan lalat buah adalah menggunakan perangkap (sexpheromone), yaitu dengan memasang perangkap yang telah diberi metil eugenol. Metil eugenol dimasukkan pada botol aqua, kemudian diikat kuat pada ajir atau bambu. Atau dapat juga menggunakan buah-buahan dicampur metomil seperti buah nangka atau timun yang aromanya lebih disukai lalat buah. Jika serangan tidak terkendali, semprot insektisida berbahan aktif deltametrin, sipermetrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Tikus

Serangan hama tikus terjadi sewaktu malam hari, sedangkan saat siang hari bersembunyi dalam sarang. Cara pengendalian serangan tikus dapat dengan memberikan umpan tikus. Umpan dicampur rodentisida, ditaruh pada lubang tikus aktif. Lubang aktif ditandai masih jelas terlihat bekas dilalui tikus atau terkadang ada sisa-sisa makanan baru. Cara lainnya, beri karbit pada lubang aktif, lalu siram air secukupnya, tutup lubang tikus dengan tanah untuk mengantisipasi gas yang ditimbulkan tidak keluar.

Hama Nematoda

Hama nematoda menyerang bagian akar tanaman. serangannya ditandai adanya bintil-bintil. Nematoda bersifat parasit, berupa cacing tanah yang sangat kecil. Cacing tanah menggigit bagian akar tanaman, sehingga berpotensi munculnya penyakit sekunder, seperti penyakit busuk phytopthora, layu fusarium, layu bakteri, ataupun cendawan lainnya. Cara pengendalian serangan hama nematoda dengan pemberian pestisida insektisida karbofuran sebanyak 1 gram per tanaman.

CARA MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA SEMANGKA

Penyakit Rebah Semai

Penyakit rebah semai biasa menyerang tanaman semangka pada fase pembibitan. Cara pengendalian serangan penyakit ini menggunakan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif simoksanil, propamokarb hidroklorida, asam fosfit, kasugamisin, atau dimetomorf. Dosis/konsentrasi ½ dari dosis terendah sesuai anjuran di kemasan.

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri sering menggagalkan budidaya semangka, serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian layu bakteri antara lain melakukan penggiliran tanaman, memusnahkan tanaman terserang, meningkatkan pH tanah, serta penyemprotan secara kimiawi dengan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif asam oksolinik, streptomisin sulfat, validamisin, kasugamisin, atau oksitetrasiklin, dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma saat persiapan lahan, ketika tanaman semangka berumur 20 hst dan 35 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Layu Fusarium

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit layu fusarium hampir sama dengan penyakit layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Penyakit layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian serangan penyakit layu fusarium antara lain sedini mungkin memusnahkan tanaman terserang, meningkatkan nilai pH, penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif metalaksil, benomil, atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma ketika sedang persiapan lahan, dilanjutkan kocoran pada tanah saat semangka berumur 20 hst dan 35 hst. Pengocoran menggunakan pestisida organik seperti wonderfat, super glio, dll. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Busuk Phytopthora

Serangan hama ini dapat terjadi di semua bagian tanaman semangka dan dapat mengakibatkan tanaman layu jika serangannya mengganas, terutama di musim hujan. Batang tanaman terserang berwarna coklat kehitaman serta kebasah-basahan. Serangan pada daun tampak perubahan warna dan bentuk seperti tersiram air panas. Buah semangka yang busuk berwarna coklat kehitam-hitaman melunak. Pengendalian serangan penyakit busuk phytopthora secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Gummy Stem Blight

Penyakit ini bermula dari bagian bawah batang tanaman semangka nampak seperti tercelup minyak, selanjutnya mengeluarkan cairan berwarna merah cokelat, akhirnya tanaman semangka mati. Daun terserang ditandai bercak bundar melekuk ke dalam berwarna cokelat kehitaman lama kelamaan daun semangka akan mengering. Pengendalian serangan penyakit gummy stem blight secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, metil tiofanat, karbendazim, tridemorf, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai prtunjuk di kemasan.

Penyakit Powdery Mildew

Gejala penyakit powdery mildew diawali adanya bercak bulat kecil berwarna keputihan pada permukaan bagian bawah daun semangka. Kemudian bercak akan menyatu dan berkembang ke permukaan daun bagian atas sehingga daun seperti diselimuti tepung. Pengendalian penyakit powdery mildew secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, karbendazim, difenokonazol, metil tiofanat, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, mankozeb atau azoksistrobin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Downy Mildew

Terdapat bercak berwana kuning muda pada permukaan daun semangka yang dibatasi oleh tulang daun, sedangkan permukaan bagian bawahnya terdapat massa spora berwarna kehitaman. Serangan parah menyebabkan pembusukan tulang daun, akhirnya menyebabkan tanaman semangka mati. Pengendalian penyakit downy mildew secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, karbendazim, difenokonazol, metil tiofanat, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, mankozeb atau azoksistrobin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Patek (Antraknosa)

Penyakit antraknosa atau patek merupakan salah satu jenis penyakit serius yang dapat menyerang semua bagian tanaman semangka. Serangannya ditandai adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar, menyatu akhirnya daun semangka mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah semangka terserang akan nampak bercak agak bulat serta berlekuk berwarna cokelat tua, di sini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian serangan penyakit patek secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, karbendazim, difenokonazol, metil tiofanat, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, mankozeb atau azoksistrobin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Bercak Daun

Penyakit bercak daun selama budidaya tanaman semangka disebabkan oleh serangan bakteri, bakteri berkembang pesat terutama saat musim hujan. Serangan penyakit bercak daun ditandai adanya bercak putih dan bersudut karena dibatasi tulang daun. Kemudian bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun semangka mengeluarkan cairan, akhirnya daun semangka mengering. Pengendalian serangan penyakit bercak daun dengan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif asam oksolinik, streptomisin sulfat, validamisin, kasugamisin, atau oksitetrasiklin, atau golongan anorganik tembaga. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Virus

Penyakit momok ini merupakan penyakit yang sering mengakibatkan gagal panen ketika musim kemarau. Gejala serangan umumnya menunjukkan pertumbuhan yang mengerdil, daun semangka menjadi keriting serta terdapat bercak kebasah-basahan berwarna kuning. Penyakit virus ditularkan oleh penular atau vektor, baik serangga maupun manusia. Ada banyak jenis hama yang berpotensi menjadi penular virus jika tidak dikendalikan, diantaranya hama kutu daun, thrips, kutu kebul, maupun tungau. Penularan virus melalui perantara manusia seringkali terjadi melalui alat-alat pertanian ataupun penanganan pada tanaman, terutama ketika sedang melakukan pemangkasan tajuk atau pengurangan buah semangka. Meskipun hingga saat ini penyakit virus belum juga ditemukan vaksinnya, namun ada upaya untuk meninimalisir serangan, diantaranya selalu melakukan sanitasi lahan, mengendalikan serangga perantara, mencabut tanaman yang terinfeksi virus sedini mungkin, menjaga kebersihan alat-alat budidaya serta berhati-hati saat melakukan penanganan tanaman, terutama jika terjadi pelukaan.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama gangsir, hama ulat tanah, maupun nematoda dilakukan bersamaan, cukup sekali saja, yaitu 1 gram per lubang tanam satu minggu sebelum penanaman.

Pengendalian hama ulat grayak, ulat jengkal, thrips, kutu daun, kutu kebul, tungau, kumbang daun, lalat buah dan penyakit secara kimiawi dengan penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap kali melakukan penyemprotan (jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut).

PENYAKIT FISIOLOGIS YANG SERING DIJUMPAI PADA BUDIDAYA SEMANGKA

Penyebab dari penyakit fisiologis adalah iklim yang ekstrim, ketidakseimbangan unsur hara, serta kandungan mineral berbahaya. Beberapa penyakit fisiologis yang sering dialami budidaya semangka antara lain seperti di bawah ini:

Busuk Ujung Buah (blossom-end rot)

Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan kalsium. Serangan penyakit akan lebih berat apabila budidaya semangka dilakukan di daerah berudara panas, kering, serta berangin yaitu ketika terjadi kondisi kekurangan air. Gejala akibat kekurangan kalsium ditandai adanya gugur buah maupun terdapat busuk berwarna cokelat di ujung buah semangka. Pengendalian masalah busuk ujung buah dapat dilakukan dengan pemberian pupuk berkandungan kalsium tinggi.

Pecah Daging Buah

Masalah ini disebut juga internal cracking, disebabkan oleh pertumbuhan labil (tidak stabil), yaitu pertumbuhan terlalu cepat pada satu fase serta terlalu lambat pada fase selanjutnya atau sebaliknya. Gejala serangan ditandai adanya buah semangka berbentuk tidak normal serta berasa hambar, daging buah tidak sempurna bahkan sampai retak-retak. Pengendalian masalah pecah daging buah dilakukan dengan perlakukan tanaman secara tepat sesuai teknik budidaya (telah diuraikan di atas, mulai dari pengairan, pemangkasan, pemupukan, sampai pengendalian hama dan penyakit tanaman).

Rasa Buah Tidak Manis

Pada kondisi tertentu buah semangka berasa hambar. Hal ini biasanya terjadi karena kekurangan berbagai unsur hara, terutama unsur kalium, magnesium, maupun boron. Pengendalian masalah ini dapat dilakukan dengan pemupukan berimbang sesuai cara pemupukan di atas.

Tanaman Kerdil

Jika selama proses budidaya semangka menemui masalah seperti antara lain tanaman semangka tampak kerdil beruas pendek, batang tanaman menjadi kaku, terdapat beberapa luka/retakan yang mengeluarkan lendir berwarna cokelat kekuningan, batang semangka mudah patah, menunjukkan pertumbuhan tanaman semangka tidak normal, kemungkinan besar kandungan unsur boron di dalam tanah kurang tersedia atau tidak dapat diserap dengan baik oleh akar tanaman. Jika serangan berlanjut hingga tanaman dewasa, tanaman semangka sulit akan menghasilkan buah, kalaupun berbuah bentuknya menjadi kurang sempurna. Pengendalian masalah ini dilakukan dengan memberikan pupuk mikro berkandungan boron tinggi, seperti pupuk borate. Dosis/konsentrasi 2 g/tanaman.

Daun Menguning Dimulai dari Bagian Tepi

Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan unsur kalium. Gejala penyakit fisiologis akibat kekurangan unsur kalium ditandai terjadinya perubahan warna daun semangka menjadi kuning muda dimulai dari bagian tepi daun. Semakin lama warna kuning berubah menjadi cokelat serta salah satu sisinya robek sehingga daun nampak bergerigi. Tanaman kekurangan unsur kalium memiliki daya tahan rendah terhadap serangan hama dan penyakit maupun kekeringan. Selain itu, rasa buah semangka juga kurang manis. Pengendalian masalah ini dapat dilakukan dengan pemupukan berimbang seperti cara pemupukan di atas, bila perlu tambahkan pupuk berkandungan kalium tinggi, seperti KNO3 saat melakukan pemupukan susulan.

Klorosis pada Tulang Daun

Penyebab penyakit ini adalah kekurang unsur hara magnesium. Unsur magnesium berfungsi dalam membentuk klorofil (zat hijau daun) serta mengaktifkan enzim-enzim dalam proses metabolisme. Gejala kekuarangan unsur magnesium ditandai adanya klorosis diantara tulang daun semangka, warna daun menguning, terdapat bercak merah kecoklatan, sedangkan tulang daun semangka tetap berwarna hijau. Untuk mengatasi kekurangan unsur magnesium dapat dilakukan pengapuran ataupun penyemprotan pupuk daun berkandungan magnesiun tinggi, misal magnesium sulfat.

PANEN SEMANGKA

Panen merupakan kegiatan memetik buah semangka siap panen atau mencapai kematangan optimal sesuai standar permintaan pasar. Tujuan pemanenan adalah untuk memperoleh hasil sesuai tingkat kematangan buah. Umumnya produk hortikultura merupakan produk yang cepat sekali rusak. Meskipun kualitasnya bagus, namun jika pemanenan dilakukan secara tidak benar maka dapat menurunkan kualitas buah semangka secara signifikan. Penentuan saat panen didasarkan pada umur ketika terjadi penyerbukan. Panen buah semangka dilakukan sekitar 27-30 hari setelah penyerbukan. Selain itu, panen juga dapat ditentukan dengan melihat ciri-ciri fisik buah sebagai berikut :
  • Warna maupun tekstur kulit buah semangka terlihat bersih, jelas, serta mengkilap.
  • Sulur kecil di belakang tangkai buah telah berubah warna menjadi cokelat tua serta mengering.
  • Bila buah semangka diketuk menggunakan jari terdengar suara agak berat.
  • Tangkai buah semangka mengecil hingga terlihat tidak sebanding dengan ukuran buah itu sendiri.
  • Bagian buah semangka yang terletak di atas landasan berubah warna dari putih menjadi kuning tua.
Untuk menjaga kualitas buah semangka yang dicapai selama masa produksi, buah siap panen harus segera dipetik tepat waktu. Hal-hal di bawah ini perlu diperhatikan antara lain :
  • Panen sebaiknya dilakukan di pagi hari agar buah semangka berasa lebih manis serta tahan penyimpanan. Panen saat sore hari juga dapat dilakukan asal tidak hujan atau sehabis hujan.
  • Tangkai buah semangka dipotong sekitar 3-5 cm dari pangkal buah.
  • Buah semangka hasil pemanenan dikumpulkan dalam keranjang, diberi alas lalu diletakkan di tempat teduh. Hindari terkena sinar matahari langsung.

BUDIDAYA BAWANG MERAH DARI BIJI

Bawang merah merupakan salah satu jenis sayuran bernilai ekonomis tinggi. Tanaman ini dapat diandalkan sebagai sumber penghasilan petani, pendapatan negara, penyumbang keanekaragaman bahan pangan serta kecukupan gizi. Salah satu upaya meningkatkan produktifitas dan kualitas bawang merah yang sesuai dengan permintaan konsumen adalah penggunaan bibit berupa benih atau biji (true shallot seed = TSS). Keuntungan usahatani bawang merah dengan biji ini antara lain dapat menurunkan biaya produksi, penyimpanan serta distribusinya lebih mudah, disamping itu juga dapat menciptakan varietas unggul baru. Budidaya bawang merah memerlukan air yang cukup terutama saat pembentukan umbi. Tanaman bawang merah yang kekurangan air pada fase pembentukan umbi dapat mengakibatkan penurunan produksi secara signifikan. Hal utama dalam budidaya bawang merah adalah menjaga tanah dalam keadaan cukup lembab.

CARA MENANAM BAWANG MERAH

SYARAT TUMBUH TANAMAN BAWANG MERAH

Tanaman bawang merah memerlukan curah hujan antara 100-200 mm/bulan dengan ketinggian tempat optimal 10-200 mdpl. Meskipun demikian, bawang merah masih dapat tumbuh dan berproduksi di ketinggian sampai dengan 800 mdpl. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman bawang merah 20-30°C. Intensitas sinar matahari penuh tanpa naungan, lama penyinaran 12 jam. Tanaman bawang merah dapat beradaptasi pada kelembaban udara (rH 80-90%). Kelembaban udara dan kelembaban tanah yang relatif tinggi (> 90%) dapat merangsang terjadinya serangan penyakit. Angin sepoi-sepoi berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan pembentukan umbi bawang merah. Tanaman bawang merah membutuhkan tanah gembur, subur, banyak mengandung bahan organik, serta mudah menyediakan air dengan aerasi udara baik dan tidak becek. Budidaya bawang merah dapat dilakukan pada lahan sawah maupun lahan kering.

PELAKSANAAN TEKNIS BUDIDAYA BAWANG MERAH

Pengukuran pH tanah diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.

PELAKSANAAN BUDIDAYA BAWANG MERAH




Persiapan Lahan Budidaya Bawang Merah

Persiapan lahan meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, pencangkulan sedalam 30 cm (dikeringanginkan selama 15 hari), pembuatan bedengan dengan lebar 80-100 cm serta tinggi 30 cm (lahan kering) dan 60 cm (lahan sawah) dengan lebar parit 30-40 cm, pemberian pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 1,2 ton/ha, persiapan selanjutnya melakukan pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, kemudian dilakukan penugalan untuk pembuatan lubang tanam.

Persiapan Bibit dan Penanaman Budidaya Bawang Merah

Persiapan pembibitan bawang merah membutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kebutuhan benih bawang merah sebanyak 3 kg/ha. Pilih lokasi persemaian yang tanahnya subur dan intensitas cahaya matahari sempurna. Cangkul tanah sedalam 30 cm hingga gembur, kemudian keringanginkan selama 2 minggu. Buat bedengan dengan ukuran lebar 80-100 cm dan tinggi 30 cm. Berikan pupuk kandang yang telah difermentasi sebanyak 2 kg/m2, NPK 15-15-15 sebanyak 10 gram/m2. Buat alur-alur dangkal dengan arah alur memotong panjang bedengan. Jarak antaralur 5-10 cm. Tebar biji bawang merah secara merata pada alur kemudian tutup tipis dengan tanah. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup menggunakan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP), dijaga dalam keadaan lembab.

Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 - 09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 7 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai). Dosis/konsentrasi ½ dosis terendah.

Bibit bawang merah berumur 30 hari siap untuk di tanam. Sebelum ditanam, bibit yang telah dicabut direndam dalam larutan karbofuran (konsentrasi 1 gr/ liter selama 2 jam). Penanaman berjumlah satu tanaman per titik tanam, usahakan posisi berdiri tegak. Jarak tanam ideal untuk musim kemarau 10 cm x 5 cm sedangkan untuk musim penghujan bisa diperlebar 10 cm x 10 cm. Padatkan tanah dekat pangkal batang secara pelan.

KEGIATAN PEMELIHARAAN PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH

Penyulaman Budidaya Bawang Merah

Penyulaman dilakukan sampai umur tanaman 2 minggu. Tanaman bawang merah yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Hal ini akan berpengaruh terhadap keseragaman pemanenan.

Sanitasi Lahan dan Pengairan Budidaya Bawang Merah

Sanitasi lahan budidaya bawang merah meliputi : pengendalian gulma/rumput (penyiangan), pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan serta pencabutan tanaman bawang merah yang terserang hama penyakit. Penyiangan dilakukan sebelum melakukan pemupukan susulan baik pemupukan susulan pertama maupun kedua. Penyiangan gulma dapat dicabut secara manual atau menggunakan alat gosrok/landak.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban dua hari sekali selama 15-30 menit tergantung kondisi kelembaban tanah.

Pemupukan Susulan Budidaya Bawang Merah

Pemupukan susulan budidaya bawang merah meliputi pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar diberikan secara larikan, dibenamkan dalam tanah sedalam 10 cm sebanyak 2 kali. Pemupukan pertama dilakukan umur 10 hari setelah tanam (HST) menggunakan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/ha dan pupuk urea sebanyak 50 kg/ha. Pemupukan kedua dilakukan umur 30 HST menggunakan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 200 kg/ha.
Pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 14 hst dengan konsentrasi 2 gr/liter, sedangkan pupuk daun kandungan Phospat serta kalium tinggi diberikan umur 30 hst dan 45 hst. Pemupukan phospat dan kalium tinggi menggunakan pupuk MKP dengan konsentrasi 2 gr/liter pada umur 30 hst, dan konsentrasi 4 gr/lliter pada umur 45 hst.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH

HAMA TANAMAN BAWANG MERAH

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)

Larva ulat tanah aktif menyerang tanaman bawang merah pada malam hari dengan cara memotong pangkal batang tanaman muda. Sedangkan siang harinya larva ulat bersembunyi di dalam celah-celah tanah, biasanya dengan posisi tubuh melingkar. Pengendalian hama ini secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Hama Putih (Thrips tabaci Lind.)

Siklus hidup thrips berlangsung selama 3 minggu. Di daerah tropis, siklus hidup Thrips hanya berlangsung selama 7-12 hari, sehingga dalam satu tahun dapat mencapai 5-10 generasi. Setiap ekor Thrips betina dapat menghasilkan telur sebanyak 80-120 butir selama hidupnya. Gejala serangan dapat diamati pada daun muda atau pucuk daun. Nimfa dan imago menyerang tanaman bawang merah dengan cara menghisap cairan daun. Bagian tanaman terserang akan ternoda berwarna putih mengkilap seperti perak, kemudian berubah menjadi kecoklatan berbintik hitam. Serangan berat menyebabkan tanaman mati serta umbi yang dihasilkan berukuran kecil bermutu rendah. Pengendalian hama Thrips menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ulat Bawang

Ulat bawang tanaman bawang merah adalah Spodoptera exiqua. Larva ulat bawang menyerang tanaman bawang merah dengan cara membuat lubang pada daun bagian ujung, kemudian masuk ke dalam daun dan memakan daun bagian dalam tetapi epidermis bagian luar tetap dibiarkan, akibatnya daun tersebut tampak bercak-bercak berwarna putih, apabila diterawang tembus cahaya. Jika populasi ulat bawang sangat banyak dapat menyerang umbi bawang merah. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH

Layu Fusarium

Layu Fusarium menyerang tanaman bawang merah pada bagian dasar umbi lapis, sehingga pertumbuhan akar dan umbi bawang merah terganggu. Gejala serangan dapat diamati secara visual, yaitu daun menguning cenderung terpelintir, tanaman mudah dicabut karena akar membusuk. Pada dasar umbi terlihat cendawan putih, sedangkan pada umbi lapis jika dipotong membujur terlihat pembusukan yang berawal dari dasar umbi kemudian meluas ke atas maupun ke samping. Tanaman mati mulai dari ujung daun kemudian menjalar hingga ke pangkal daun. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman bawang merah yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ngelumpruk

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Stemhylium vesicarium (Wallr Simmons). Gejala serangan penyakit ngelumpruk pada tanaman bawang merah adalah terdapat bercak kekuningan yang tumbuh sangat banyak pada seluruh bagian tanaman. Penyebaran penyakit berlangsung sangat cepat sesuai dengan arah bertiupnya angin di areal pertanaman. Cendawan Stemhylium vesicarium mampu mematikan tanaman secara serentak. Kumpulan tanaman yang mati serentak terlihat seperti tersiram air panas. Pada kondisi kelembaban udara tinggi dan berangin, maka infeksi dapat secara tunggal maupun berasosiasi dengan cendawan Alternaria porri. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Bercak Cercospora

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora duddidae (Walles). Gejala serangan penyakit bercak Cercospora pada tanaman bawang merah adalah terjadinya bercak klorosis pada ujung daun dan sering tampak terpisah dengan infeksi pada pangkal batang. Daun tampak belang-belang. Bercak klorosis berbentuk bulat berwarna pucat dan bergaris tengah 3-5 mm. Pusat bercak berwarna cokelat serta terdapat bintik-bintik yang merupakan konidiofora jamur. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Bercak Alternaria

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Alternaria porri (Ell.) Cif. Gejala serangan penyakit bercak Alternaria pada tanaman bawang merah adalah adanya bercak pada daun dengan pusat bercak berwarna ungu atau lebih gelap. Pada daerah tersebut dapat ditemukan konidiofor yang mampu berkecambah membentuk konidiospora. Infeksi awal pada tanaman bawang merah ditandai adanya bercak berukuran kecil, melekuk ke dalam, berwarna putih dengan pusat bercak berwarna ungu atau abu-abu. Apabila cuaca lembab, bercak berkembang hingga menyerupai cincin, bagian tengahnya berwarna ungu dan tepinya kemerahan serta dikelilingi warna kuning yang dapat meluas. Ujung daun mengering atau bahkan patah. Permukaan bercak pada akhirnya berwarna cokelat kehitaman. Serangan parah berlanjut ke umbi, menyebabkan umbi membusuk berwarna kuning lalu menjadi merah kecokelatan. Umbi membusuk dan berair dimulai dari bagian leher, kemudian jaringan umbi yang terinfeksi mengering serta berwarna gelap. Penyakit bercak daun Alternaria porri dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Embun Bulu

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Peronospora destructor (Berk) Casp. Serangan cendawan Peronospora destructor bersifat sistemik dan lokal. Gejala serangan penyakit embun bulu pada tanaman bawang merah terjadi pada awal pertumbuhan. Infeksi terlihat terutama saat daun basah terkena embuh, terlihat warna putih menyerupai bulu-bulu halus. Apabila tanaman mampu bertahan hidup, maka pertumbuhannya akan terhambat, daun berwarna hijau pucat. Infeksi pada daun mampu menyebar ke bawah mencapai umbi lapis, kemudian menjalar ke seluruh lapisan hingga berwarna cokelat. Penyakit embun bulu dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Antraknosa

Antraknosa pada tanaman bawang merah adalah cendawan Colletrotichum gloespoiroides Penz. Kerusakan tanaman bawang merah akibar serangan penyakit antraknosa bisa mencapai 50-100%. Penyakit ini sangat berpotensi menimbulkan kegagalan. Gejala serangan dapat dilihat secara fisiologis, tanaman mati serentak secara cepat. Serangan awal ditandai adanya gejala bercak putih pada daun, selanjutnya akan terbentuk lekukan ke dalam (invag1nasi), berlubang dan patah karena terkuai tepat pada bercak tersebut. Jika serangan berlanjut akan membentuk koloni konidia berwarna merah muda, lalu berubah menjadi cokelat tua, dan akhirnya menjadi kehitaman. Umbi akan membusuk serta daun mengering. Penyakit antraknosa dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

PANEN

Tanaman bawang merah dapat dipanen pada umur 60-70 hss di dataran rendah, 80-100 hss di dataran tinggi. Tanaman bawang merah siap panen ditandai sebagai berikut:
  1. Pangkal daun jika dipegan sudah lemah.
  2. 70-80% daun berwarna kuning.
  3. Daun bagian atas mulai rebah.
  4. Umbi bawang merah kelihatan tersembul di atas permukaan tanah
  5. Sudah terjadi pembentukan pigmen merah dan timbulnya bau bawang merah yang khas, serta terlihat warna merah tua atau merah keunguan pada umbi bawang merah.

Panen sebaiknya dilakukan dalam keadaan kering dan cuaca cerah. Untuk menghindari umbi tertinggal dalam tanah, 1-2 hari sebelum panen dilakukan penyiraman terlebih dahulu menggunakan air. Panen dilakukan dengan mencabut seluruh tanaman secara hati-hati, kemudian setiap satu genggam diikat dengan 1/3 daun bagian atas. Pengikatan bertujuan untuk memudahkan penanganan berikutnya.

KANDUNGAN DAN MANFAAT JERUK

Kandungan dan Manfaat Jeruk - Buah jeruk merupakan buah yang paling banyak dijumpai di seluruh kota. Buah ini sudah sangat dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat. Selain enak, buah jeruk juga memiliki banyak manfaat. Namun, dari berbagai jenis jeruk masing-masing mempunyai manfaat yang berbeda-beda.

Jeruk Nipis (Citrus auranfolia)

Jeruk nipis selain mengandung vitamin juga mengandung senyawa kimia antara lain limonen, linalin asetat, geranil asetat, fellandren, sitral, dan asam sitrat. Kandungan dalam 100 gram buah jeruk nipis adalah vitamin C 27 mg, Ca 40 mg, fosfor 22 mg, hidrat arang 12,4 g, vitamin B1 0,04 mg, zat besi 0,6 mg, lemat 0,1 g, kalori 37 kkal, protein 0,8 g, dan air 86 g.

Jeruk nipis bermanfaat menghambat pembentukan kristal oksalat yang merupakan penyebab penyakit batu ginjal. Jeruk nipis juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti amandel, sesak napas, influensa, sembelit, batuk, ambien, malaria, demam, disentri, perut mulas saat haid, terlambat haid, bahkan keriput wajah.

Jeruk Lemon (Citrus medica Linn)

Jeruk lemon mengandung bioflavanoid yang berperan sebagai antioksidan pencegah kanker. Flavanoid jeruk lemon berfungsi menghalangi oksidasi LDL sehingga aterosklerosis penyebab penyakit jantung dan stroke bisa dihindari. Jeruk lemon juga kaya akan kandungan serat yang berupa pektin. Pektin ini bermanfaat baik untuk menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida. Selain kandungan flavanoid dan serat, jeruk lemon juga mengandung vitamin C, vitamin B, vitamin E, natrium, dan beberapa mineral mikro yang dibutuhkan tubuh untuk sistem imunitas serta mencegah virus penyebab influenza.

Jeruk Bali (Citrus maxima)




Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari mengkonsumsi jeruk bali. Bentuk buahnya yang besar dengan cita rasa yang manis, asam dan segar mampu mengundang selera konsumen untuk mengkomsumsi buah ini. Jeruk bali mengandung flavonoid, pektin dan lycopene yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan senyawa ini menjadikan jeruk bali mampu mencegah kanker, menurunkan kolesterol, menurunkan resiko penyakit jantung, mencegah anemia, mencegah konstipasi, melancarkan saluran pencernaan serta menjaga kesehatan kulit. Selain kandungan senyawa kimia  tersebut, jeruk bali juga mengandung provitamin A, vitamin B, vitamin B1, vitamin B2 dan asam folat.

Jeruk Manis/Orange (Citrus aurantium)

Jeruk manis/orange mengandung betakaroten dan bioflavanoid yang dapat memperkuat dinding pembuluh darah kapiler. Kandungan flavanoidnya seperti flavanpis berfungsi sebagai antioksidan penangkal radikal bebas penyebab kanker. Falavanoid juga menghalangi reaksi oksidasi LDL yang menyebabkan darah mengental dan mencegah pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah. Kandungan pektin jeruk banyak terdapat pada buah dan kulit jeruk. Pektin bermanfaat untuk membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL). Selain itu, jeruk juga kaya akan kandungan gula buah dan serat. Kandungan buahnya bermanfaat untuk memulihkan energi dengan cepat, sedangkan kandungan seratnya membantu memperlancar proses pencernaan dan berfungsi mengikat zat karsinogen dalam saluran pencernaan sehingga mampu membantu menyembuhkan kanker kolon, wasir serta sembelit.

Tiap 100 gram jeruk manis mengandung energi 51 kkal, protein 0,9 g, lemak 0,2 g, karbohidrat 11,4 g, kalsium 33 mg, fosfor 23 mg, besi 0,4 mg, retinol 57 mcg dan asam askorbat 49 mg.

MANFAAT BUAH DAN KULIT MANGGIS

Manfaat Buah dan Kulit Manggis - Queen of fruits – ratu dari segala buah – itulah julukan buah manggis. Buah ini sangat bermanfaat bagi kesehatan maupun kecantikan, terutama bagian buah dan kulit manggis. Apalagi didukung dengan rasa buah manggis yang manis, lezat, serta lembut, membuat buah manggis banyak disukai orang. Semua bagian dari buah manggis kaya akan manfaat, mulai dari daging buah, kulit bahkan biji buah sekalipun, kecuali bagi wanita hamil. Konsumsi buah manggis setiap hari sangat dianjurkan untuk menjaga kesegaran tubuh kita.

Manfaat buah maupun kulit manggis dalam pengobatan ternyata banyak sekali, buah ini diyakini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit mulai dari penyakit ringan seperti mengurangi rasa sakit sampai penyakit berbahaya bahkan mematikan seperti diabetes, kanker, jantung atau arteriosclerosis, alzheimer. Selain itu, manfaat buah maupun kulit manggis juga mampu melawan radikal bebas, menurunkan darah tinggi atau hipertensi, gangguan pencernaan, ginjal, asma, menurunkan kolesterol, gangguan penglihatan, memulihkan stamina, bahkan mencegah penurunan mental.

Manfaat Kulit Manggis Bagi Kesehatan

Bagian utama buah manggis yang paling kaya akan manfaat ternyata terdapat pada kulit buahnya. Dalam kulit manggis mengandung antioksidan, dimana antioksidan ini mampu mencegah timbulnya penyakit. Kulit manggis mengandung xanthone yang bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kanker p4yud4ra, kanker paru-paru, kanker perut, leukimia, dll. Kadar antioksidan ini mencapai 123,97 mg/ml. Xanthone dapat menangkap radikal bebas serta mencegah kerusakan sel sehingga proses degenerasi sel terhambat. Radikal bebas masuk melalui makanan yang kita konsumsi dan merupakan penyebab utama penyakit kanker, stroke, jantung, dll. Dengan kata lain xanthone selain memiliki manfaat sebagai antioksidan juga bermanfaat sebagai antikanker.
Adanya kandungan antioksidan sangat tinggi pada kulit manggis ini juga menyebabkan buah manggis tidak mudah busuk walaupun diletakkan di atas tanah dalam jangka waktu sangat lama.



Ekstrak kulit manggis selain bersifat antiproliferasi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker seperti pada kanker hati, kanker paru-paru, maupun kanker usus, juga bersifat apoptosis penghancur sel kanker. Xanthone dalam kulit manggis juga memiliki manfaat dalam menyembuhkan penyakit asma, TBC, serta antiinflamasi. Kelebihan bakteri di dalam perut ketika sedang diare dapat diatasi dengan xanthone sehingga kerja perut menjadi seimbang.

Menurut dr. Berna Elya, peneliti Departemen Farmasi Unibersitas Indonesia, antikanker dan antioksidan mujarab mengatasi jantung koroner serta mengatasi HIV, semua itu hanya sebagian kecil dari manfaat kulit manggis yang sering kali tidak dimanfaatkan oleh kebanyakan orang.

Manfaat Manggis Bagi Kesehatan

Buah manggis sangat baik untuk para wanita, kecuali wanita hamil tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi buah ini. Konsumsi buah manggis secara rutin dapat membuat awet muda. Hal ini disebabkan karena adanya kandungan antioksidan yang memiliki manfaat besar dalam menjaga serta memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak karena buah manggis mampu menghancurkan semua penyakit yang menyerang tubuh kita bahkan memperbaiki sistem antibody. Seseorang yang masih muda ketika sedang menderita penyakit degeneratif akan terlihat sangat tua seperti berusia 60 tahunan. Tetapi ketika mengkonsumsi buah manggis secara rutin sampai sembuh wajahnya akan terlihat seperti berumur 30 tahunan. Manfaat buah manggis lainnya adalah sebagai antijamur maupun antibakteri penyebab jerawat. Selain itu, buah manggis juga memiliki manfaat besar untuk mengurangi berat badan, karena kandungan xanthone pada buah manggis mampu melunakkan kembali membran sel yang membesar serta mengeras dalam tubuh kita, serta mengubah zat makanan menjadi energi.

Kandungan lain buah manggis adalah catechins. Catechins mampu melawan radikal bebas dalam tubuh. Catechins ini ternyata lebih efektif melawan radikal bebas dibandingkan dengan vitamin C maupun vitamin E. Xanthone buah manggis juga bersifat sebagai antibakteri sehingga mampu mengatasi gangguan penapasan.

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Teknik dan Cara Budidaya Jamur Tiram - Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan budidaya.

JAMUR TIRAM

Jamur tiram putih berwarna putih agak krem dengan diameter tubuh 3-14 cm. Jamur tiram memiliki miselium. Tubuh buah jamur inilah yang bernilai ekonomis tinggi serta menjadi tujuan dari budidaya. Teknik budidaya jamur tiram mulai dari persiapan hingga pasca panen sangat perlu diperhatikan agar pelaku usaha budidaya benar-benar memahami sehingga lebih menguasai dalam pemeliharaan maupun pengendalian hama jamur tiram.

PERSIAPAN PENANAMAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Hal-hal yang menunjang budidaya jamur tiram harus diperhatikan sebelum melakukan penanaman. Persiapan matang membantu menciptakan suasana kondusif bagi pertumbuhan jamur tiram sehingga menunjang keberhasilan budidaya. Langkah-langkah yang harus dilakukan diantaranya membuat rumah kumbung baglog, rak baglog, menyediakan bibit, serta menyediakan peralatan budidaya. (Bisa Anda lihat di artikel Persiapan Usaha Budidaya Jamur Tiram).
Usahakan selama budidaya menggunakan bibit bersertifikat yang dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan budidaya untuk jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa memanfaatkan peralatan dapur.

Pada dataran rendah, modifikasi bahan media jamur tiram serta takarannya dapat mengoptimalkan hasil, caranya yakni mengurangi atau menambah takaran tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Pada usaha budidaya skala kecil, perlu juga dilakukan eksperimen atau percobaan dalam menentukan takaran bahan media agar takarannya tepat. Hal ini perlu dilakukan mengingat jamur tiram yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh yang berbeda tentu membutuhkan nutrisi maupun media yang berbeda pula tergantung kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media serta lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing.

NUTRISI DAN MEDIA TANAM JAMUR TIRAM




Nutrisi sangat dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup untuk melangsungkan setiap proses kehidupannya, tak terkecuali jamur tiram. Pada budidaya jamur tiram, jamur memperoleh nutrisi dari serbuk gergaji, dimana serbuk gergaji ini berfungsi sebagai media tempat tumbuh. Bahan serbuk gergaji yang baik dapat diperoleh dari bahan kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen. Dalam kayu keras mengandung selulose dalam jumlah banyak dimana solusose ini sangat dibutuhkan oleh jamur tiram. Beberapa jenis kayu keras yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam antara lain dari kayu sengon, kayu kampung, atau kayu mahoni. Serbuk gergaji sebagai media tumbuh jamur tiram dapat diperoleh dari tempat penggergajian kayu. Sebelum digunakan sebagai media, perlu dilakukan pengomposan terlebih dahulu pada serbuk gergaji agar dapat terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga tersedia serta mudah dicerna oleh jamur tiram. Proses pengomposan serbuk gergaji kayu ini dapat dilakukan dengan cara menutup serbuk gergaji kayu menggunakan plastik atau terpal selama kurang lebih 1 sampai 2 hari. Jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50°C berarti pengomposan telah berlangsung baik.

Media tanam jamur tiram sebenarnya tidak hanya berasal dari serbuk gergaji kayu saja, melainkan ada berbagai alternatif pilihan bahan sebagai pengganti serbuk kayu, antara lainnya dapat berasal dari berbagai macam ampas, seperti misalnya ampas kopi, ampas kertas, ampas tebu, atau ampas teh. Meskipun demikian, media yang baik untuk budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu.

Selain serbuk gergaji kayu, media tempat tumbuh juga terdiri dari bekatul (dedak) halus, tepung jagung, kompos, kapur dan air. Media berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat serta penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Pastikan bekatul atau dedak maupun tepung jagung masih baru agar media dalam keadaan steril. Penggunaan bahan media yang sudah lama dikhawatirkan pada bahan tersebut sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat tumbuhnya jenis jamur lain yang tidak dikehendaki (terkontaminasi). Substrat dedak/bekatul atau tepung jagung sebenarnya berfungsi sama sehingga jika bahan yang dibutuhkan sulit diperoleh dapat dipilih salah satunya saja. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan dedak maupun tepung jagung memberikan kualitas hasil jamur tiram yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut hampir sama. Akan tetapi penggunaan dedak dirasa lebih efisien. Penggunaan dedak (bekatul) dapat menekan biaya produksi, selain harganya lebih murah juga mudah didapat karena selama ini dedak masih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Pemberian kapur (CaCo3) pada media selain berfungsi untuk mengatur keasaman media tanam juga berfungsi sebagai sumber mineral. Keasaman yang sebabkan oleh miselium jamur ini dapat dinetralisir oleh kalsium dalam kapur, sehingga pemberian kapur pada media tanam sangat diperlukan untuk mengoptimalkan hasil panen. Adapun komposisi media semai jamur tiram terdiri dari serbuk gergaji 100 kg; tepung jagung 10 kg; dedak halus atau bekatul 10kg; kompos 0,5kg; kapur (CaCo3) 0,5kg; serta air 50-60%. Media tanam kemudian diletakkan dalam kantong plastik bening tanah panas (PE 0,002) berukuran 20cm x 30cm.

Setelah media tanam siap diisi media, langkah selanjutnya sebelum melakukan penanaman bibit jamur tiram, perlu dilakukan sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog. Mengingat budidaya jamur tiram sangat rentan akan serangan hama penyakit sehingga sterilisasi mutlak diperhatikan oleh pelaku usaha budidaya jamur. Hal terburuk, serangan hama penyakit yang tidak terkendali dapat menggagalkan panen.

STERILISASI BAHAN DAN BAGLOG BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Proses sterilisasi media tanam penting dilakukan mengingat budidaya jamur disamping membutuhkan lingkungan budidaya yang selalu bersih juga media tanam yang benar-benar steril agar hasil panen dapat mencapai optimal serta proses budidaya jamur tiram menghasilkan keuntungan tinggi. Proses sterilisasi media tanam ini meliputi sterilisasi bahan dan sterilisasi baglog. Sterilisasi bahan dilakukan menggunakan oven dengan suhu 100°C. Sterilisasi ini berlangsung selama 6-8 jam untuk diperoleh hasil lebih baik, dengan melakukan pemanasan diharapkan mikroorganisme pengganggu dapat ditekan, selain itu juga bertujuan mengurangi kadar air. Bahan-bahan yang disterilisai berupa serbuk gergaji kayu dan dedak (bekatul). Sebelum dimasukkan ke dalam oven, serbuk gergaji kayu dan dedak ini di campur menjadi satu terlebih dahulu kemudian ditambahkan air bersih sekitar 50-60%, campur bahan hingga benar-benar rata serta kalis agar mudah dikepal. Penambahan air ini berfungsi membantu proses penyerapan nutrisi oleh miselium.

Kemudian bahan-bahan steril tadi dimasukkan ke dalam plastik sambil ditekan-tekan sedikit demi sedikit, perlu diperhatikan bahwa bahan-bahan yang dimasukkan harus sepadat mungkin untuk mengoptimalkan hasil. Semakin padat bahan dalam kantong plastik maka semakin banyak pula hasil produksi jamur tiram, untuk itu pastikan bahwa pemasukan bahan-bahan harus benar-benar padat. Tambahkan cincin paralon atau potongan bambu pada bagian atas kantong plastik terlebih dahulu sebelum akhirnya ditutup menggunakan sumbat kapas dan diikat dengan karet tahan panas. Cara pemasangan cincin paralon atau potongan bambu pada budidaya ini yaitu dengan memasang paralon atau potongan bambu pada bagian atas plastik, lalu masukkan seluruh bagian ujung plastik ke dalam lubang peralon atau potongan bambu, tarik kuat-kuat kemudian lipatlah ujung plastik yang telah masuk ke dalam lubang paralon atau potongan bambu ini ke arah sisi luar. Setelah itu baru ikatlah plastik dengan kuat. Sebagai gambaran, hasil akhir dari proses cara pemasangan paralon atau potongan bambu ini adalah bagian ujung baglog terdapat lubang peralon atau potongan bambu sebagai tempat munculnya jamur tiram.

Setelah dilakukan sterilisasi bahan, proses sterilisasi media tanam selanjutnya adalah sterilisasi baglog. Sterilisasi baglog pada budidaya ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/Steamer dan sterilisasi menggunakan drum minyak. Cara sterilisasi dapat disesuaikan kondisi masing-masing, masing-masing metode memiliki kelebihan maupun kelemahan sendiri-sendiri. Secara prinsip, kedua cara ini dapat menciptakan lingkungan kondusif untuk pertumbuhan jamur tiram.

Sterilisasi Baglog Menggunakan Autoclave atau Pemanas/Steamer
Sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/steamer membutuhkan waktu relatif sebentar, cukup selama 15 menit saja. Pemanasan cara ini dilakukan pada suhu 121°C. Caranya pun cukup mudah, baglog yang sudah siap serta sudah disteril bahan terlebih dahulu tentunya tinggal dimasukkan saja ke dalam autoclave. Keuntungan sterilisasi baglog menggunakan cara ini adalah dapat menghemat waktu, namun membutuhkan biaya tinggi untuk investasi alat. Meskipun demikian untuk budidaya jangka panjang serta berskinambungan justru akan lebih menguntungkan.

Sterilisasi Baglog Menggunakan Drum Minyak
Sterilisasi baglog menggunakan drum memiliki keuntungan lebih murah jika dibandingkan dengan sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer sehingga dapat menekan biaya produksi. Namun membutuhkan waktu lama dalam proses sterilisasinya. Selain itu, drum minyak pun harus berkapasitas besar agar dapat menampung kurang lebih 50 baglog agar lebih menghemat waktu sehingga juga dapat menekan biaya produksi. Cara sterilisasi baglog menggunakan cara ini sebenarnya juga cukup mudah, yaitu cukup memanaskannya di atas kompor minyak atau api. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses pemanasan sekitar 8 jam.

PENDINGINAN

Setelah melakukan proses sterilisasi, baik sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog, langkah selanjutnya adalah proses pendinginan. Pada poses ini, baglog yang sudah disterilisasi tadi, yaitu selama 15 menit untuk sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer dan 8 jam untuk sterilisasi menggunakan drum, baglog harus didinginkan sebelum dilakukan penanaman. Pastikan baglog sudah menjadi dingin terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman, baru setelah benar-benar dingin kemudian dilakukan penanaman bibit jamur tiram.

PERSIAPAN PENANAMAN JAMUR TIRAM

Steril merupakan kunci utama keberhasilan budidaya, untuk itu kebersihan harus tetap terus dijaga serta lebih ditingkatkan. Persiapan sebelum melakukan penanaman jamur tiram terutama sekali adalah dalam hal kebersihan ini, baik kebersihan alat, tempat, maupun tenaga kerja. Tempat penanaman jamur tiram harus disterilisasi terlebih dahulu menggunakan disinfektan untuk mengurangi terjadinya kontaminasi yang tidak diinginkan sehingga budidaya jamur tiram semakin optimal. Alat yang akan digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol serta dipanaskan terlebih dahulu. Selain itu, tanaga kerja juga dianjurkan untuk memakai masker penutup terutama penutup hidung dan mulut sehingga kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri (mikroorganisme pengganggu) melalui mulut maupun hidung tenaga kerja dapat diminimalisir.

PENANAMAN JAMUR TIRAM

Penanaman jamur tiram dilakukan setelah semuanya dipastikan steril. Selama proses ini perlu diperhatikan suhu serta kelembaban udaranya. Suhu udara kondusif sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan miselium jamur tiram, suhu yang dibutuhkan berkisar antara 23-28°C, dengan suhu udara optimun pada 25°C. Siram lantai menggunakan air atau semprot lokasi menggunakan tangki sprayer jika cuaca terlalu terik dan berangin. Hal ini dilakukan untuk menurunkan suhu udara pada kisaran suhu ideal. Atur juga sirkulasi udara pada tempat budidaya jamur agar jamur tiram tetap mendapatkan udara segar. Tutup sebagian lubang sirkulasi udara jika angin sedang bertiup kencang. Pastikan kondisi lingkungan tetap kondusif untuk menopang pertumbuhan jamur tiram.

PEMELIHARAAN JAMUR TIRAM

Seperti halnya dalam budidaya lain, pemeliharaan tanaman merupakan faktor penting. Dalam hal ini, pemeliharaan selama budidaya adalah mengenai pengendalian hama penyakit jamur tiram. Hal ini penting sekali mengingat hama penyakit pasti selalu menyerang pada setiap budidaya apa saja terutama di bidang pertanian. Meskipun saat pembuatan baglog sampai penanaman semua media maupun tempat sudah disterilisisai, namun hama penyakit pasti selalu datang di setiap fase. Untuk mengoptimalkan hasil produksi, meminimalisir resiko serta mengendalikan hama penyakit adalah langkah-langkah paling tepat.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Serangan hama dan penyakit antara tempat satu dengan tempat lainnya pada budidaya jamur tiram berbeda-beda, cara pengendalian hama dan penyakit ini pun tentunya tidak sama, tergantung jenis hama maupun penyakit apa yang sedang menyerang. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda-beda pula antara satu tempat dengan lainnya serta kebersihan lokasi budidaya atau rumah kumbung. Selain faktor lingkungan, serangan hama penyakit dapat bersumber dari jamur tiram itu sendiri terutama saat melakukan proses sterilisasi baik saat melakukan sterilisasi bahan media tanam maupun sterilisasi baglog. Dimungkinkan terjadi kesalahan saat melakukan sterilisasi ini sehingga mudah terkontaminasi oleh kondisi lingkungan setempat.

HAMA JAMUR TIRAM

Hama pengganggu selama proses budidaya jamur tiram meliputi hama ulat, kleket, semut, serta laba-laba. Pengamatan setiap hari di lapangan perlu dilakukan agar serangan hama dapat terdeteksi lebih dini sehingga mengurangi resiko kegagalam panen. Berikut ini deskripsi singkat mengenai hama pengganggu berikut cara pengendaliannya:

Ulat

Hama utama jamur tiram adalah hama ulat. Hama ini muncul ketika kelembaban udara tinggi, kebersihan lingkungan tidak terjaga, serta akibat kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur maupun jamur yang tidak terpanen. Pencegahan hama ulat dilakukan dengan mengatur sirkulasi udara untuk mengatur kelembaban, pemanenan lebih hati-hati sehingga tidak banyak pangkal atau batang maupun jamur tiram yang tidak terpanen, serta menjaga kebersihan lokasi kumbung. Pengendalian secara kimiawi dengan melakukan penyemprotan formalin di sekitar lokasi rumah kumbung.

Kleket (sejenis moluska), Semut dan Laba-laba

Pengendalian hama kleket, semut dan laba-laba dapat dilakukan dengan dua cara, baik secara mekanis maupun kimiawi. Secara mekanis, pengendalian hama semut dan laba-laba dapat dengan melakukan pembongkaran pada sarangnya, kemudian disiram menggunakan minyak tanah. Sedangkan hama kleket seringkali dijumpai pada mulut baglog cukup diambing menggunakan tangan. Secara kimiawi, hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida untuk semut dan laba-laba serta pemberian molustisida untuk hama kleket. Namun, pengendalian kimiawi hendaknya dijadikan alternatif terakhir karena produk jamur tiram merupakan produk organik. Selain ramah lingkungan, pengendalian hama kleket, semut maupun laba-laba secara mekanis juga menekan biaya produksi.

PENYAKIT JAMUR TIRAM

Penyakit pengganggu selama budidaya jamur tiram meliputi jamur parasit dan tangkai jamur memanjang. Seperti halnya pada cara pengendaian hama, pengamatan setiap hari di lapangan juga perlu dilakukan agar hasil panen optimal. Berikut ini deskripsi singkat mengenai penyakit beserta cara pengendaliannya:

Jamur Parasit

Seperti telah berulangkali dibahas sebelumnya, bahwa kebersihan merupakan kunci utama keberhasilan budidaya. Rumah kumbung maupun peralatan yang digunakan selama proses produksi harus selalu dalam keadaan steril untuk mengurangi kontaminasi mikroorganisme pengganggu yang tidak diinginkan, bahkan dapat menggagalkan budidaya jamur. Jika kebersihan maupun faktor lingkungan (suhu, kelembaban, dll) kurang mendukung, biasanya sering terjadi pada baglog banyak ditumbuhi penyakit cendawan maupun jamur lain yang tumbuh seiring pertumbuhannya. Missellium cendawan atau jamur parasit tersebut saling berebut untuk melakukan pertumbuhan sehingga sering mengakibatkan pertumbuhan menjadi terhambat, bahkan terkadang menyebabkan tidak tumbuh. Jamur parasit ini berisifat patogen, gejalanya ditandai munculnya miselium berwarna kuning, hijau, hitam, disertai lendir pada substrat. Jamur parasit yang biasa menyerang selama proses budidaya adalah Penicillium sp., Rhizopus sp., Aspergillus sp., serta Mucor sp.. Jamur ini menyerang substrat atau baglog dengan cara tumbuh bersaing dengan tanaman pokok. Penyakit ini menyerang baglog tertutup maupun terbuka. Pengendalian jamur penganggu dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan yang berhubungan dengan proses budidaya (baik kumbung, baglog, peralatan, maupun tenaga kerja), musnahkan baglog terserang jamur parasit dengan cara dibakar, serta mengatur kelembanan udara di sekitar lokasi kumbung.

Tangkai Jamur Memanjang

Penyakit tangkai jamur memanjang merupakan penyakit fisiologis yang sering dijumpai selama prses budidaya, ditandai tangkai jamur tiram memanjang dengan tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara kurang sempurna. Pencegahan penyakit tangkai memanjang adalah mengatur ventilasi seoptimal mungkin pada rumah kumbung sehingga sirkulasi udara berjalan sempurna sesuai kebutuhan pertumbuhannya.

PANEN JAMUR TIRAM

Kegiatan ini merupakan hasil akhir dari proses budidaya yang sangat dinanti-nantikan oleh para petani. Mereka bisa tersenyum senang manakala hasil budidaya jamur tiram menuai keberhasilan, sebaliknya bahkan bisa menangis penuh kesedihan manakala hasil panen jamur tiram tak sesuai harapan. Pemanenan jamur tiram ini dilakukan secara bertahap. Pada prinsipnya, jamur tiram siap panen sudah berukuran cukup besar dengan tepi meruncing tetapi belum mekar penuh (belum pecah). Namun, dapat juga disesuaikan dengan permintaan pasar. Panen biasanya dilakukan saat berumur 40 hari setelah pembibitan. Pada kondisi ini, tubuh jamur tiram sudah berkembang maksimal, berkisar antara 3 mingguan dari saat buah jamur terbentuk.

PENANGANAN PASCA PANEN JAMUR TIRAM

Setelah pemanenan selesai dilakukan, masih memerlukan proses penangan lebih lanjut untuk meningkatkan keuntungan. Penanganan ini disesuaikan dengan permintaan pasar tujuan. Upaya penanganan pascapanen biasanya meningkatkan hasil antara 25%-100% tergantung kesepakatan maupun pasar tujuan. Untuk mendapatkan produk berkualitas baik serta memenuhi kriteria permintaan pasar modern, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti di bawah ini:

Pencucian

Penggunaan pestisida dalam budidaya jamur tiram mungkin belum bisa dihindari oleh para petani baik petani hortikultura maupun petani jamur tiram. Hal ini sangat dimaklumi karena kesadaran masyarakat kita masih sangat rendah baik di tingkat konsumen maupun petani, ditambah perekonomian masyarakat juga masih sangat rendah. Mayoritas konsumen di Indonesia menginginkan produksi pertanian berkualitas super bahkan organik tetapi dengan harga murah, sedangkan para petani menginginkan produktivitas tinggi dengan sedikit resiko karena harga jualnya juga rendah sehingga mereka tetap berorientasi mencari laba atau keuntungan. Suatu masalah yang sangat bertolak belakang, dan perlu dicarikan titik temu. Namun, bagi para petani jamur tiram, ada cara untuk meminimalisir hasil panen dari residu pestisida, yaitu melakukan pencucian menggunakan air bersih sehabis panen, kemudian pangkal jamur dipisahkan dari tubuhnya. Biasanya residu pestisida mengendap pada pangkal batang ini, sedangkan pada tubuh buah jamur tiram residu pestisida diminimalisir oleh pencucian tersebut.

Sortasi Hasil Panen

Setelah dilakukan pencucian, langkah selanjutnya pada proses pascapanen adalah penyortiran atau sortasi. Keseragaman hasil merupakan syarat utama untuk pemasaran agribisnis modern, baik keperluan ekspor maupun supermarket. Sortasi atau penyortiran dilakukan dengan memisahkan bentuk maupun ukuran tertentu. Biasanya masing-masing pasar menentukan standar ukuran berbeda-beda, disesuaikan tingkat kebutuhan konsumen setempat.

Pengemasan dan Transportasi

Masalah penting dalam penangan pascapanen adalah pengemasan (packing) maupun transportasi, karena model pengemasan merupakan salah satu bagian penting untuk mendongkrak keuntungan. Pada pasar modern masalah pengemasan bahkan mampu meningkatkan harga jual hingga 100% tergantung permintaan konsumen. Untuk keperluan ini, jamur tiram segar dikemas menggunakan plastik kedap udara. Pengemasan semacam ini bertujuan meminimalisir resiko kerusakan, semakin sedikit udara di dalam plastik, maka semakin tahan lama untuk disimpan. Tidak hanya itu, penggunaan plastik kedap udara bahkan dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram selama 2 sampai 4 hari. Sedangkan untuk pengangkutan jarak jauh, alat transportasi sebaiknya menggunakan ruangan pendingin agar kestabilan kesegarannya tetap terjaga sehingga meminimalisir resiko.

Demikian artikel mengenai teknik dan cara budidaya jamur tiram, semoga dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah para petani atau pelaku usaha budidaya jamur. Dapatkan dukungan teknis dari partner kami, semoga bermanfaat. Salam Tanijogonegoro!

Dukungan Teknis: Rois Efendi - 0852 3875 5088 - PIN BB 76339A3D


Budidaya Jamur

Budidaya Jamur memang sedang marak akhir-akhir ini. Disamping teknik budidayanya mudah, kegiatan budidaya jamur juga dapat dilakukan di rumah, misalnya di salah satu ruangan. Oleh karena itulah budidaya jamur menjadi berkembang begitu pesat. Tak mengherankan jika budaya jamur, terutama jamur tiram terus mengalami pertumbuhan, bahkan bukan tidak mungkin jika di kemudian hari kegiatan budidaya jamur mampu memberikan sumbangsih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pertimbangan fenomena tersebut, maka pemerintah melalui instansi terkai, terus melakukan pembinaan dan penyuluhan kepada para petani budidaya jamur. Banyak pilihan varietas jamur yang bisa dibudidayakan, seperti jamur tiram, jamur kuping, dll. Diantara varietas-varietas tersebut, jamur tiram merupakan komoditas yang paling banyak dibudidayakan. Disamping lebih mudah dan tahan penyakit, cita rasa jamur tiram juga banyak digemari di berbagai kalangan.

Budidaya Jamur Tiram

Merebaknya kegiatan budidaya jamur tiram membuat sektor usaha ini banyak dibicarakan oleh berbagai kalangan. Bahkan di dunia online sendiri artikel-artikel tentang budidaya jamur tiram sangat banyak, bertebaran di mana-mana. Jamur tiram memiliki beberapa varietas, seperti jamur tiram putih dan jamur tiram merah. Kegiatan budidaya jamur tiram memang cukup mudah dilakukan, sehingga masyarakat mulai berbondong-bondong untuk mencari tambahan penghasilan dengan melakukan budidaya jamur tiram. Demikian merebaknya kegiatan budidaya jamur tiram, sehingga membuat banyak pihak ikut terlibat, tak terkecuali lembaga keuangan. Ya,, lembaga keuangan memang mulai melirik sektor usaha budidaya jamur tiram, dengan menyelenggarakan fasilitas permodalan bagi para pengusaha budidaya jamur tiram. Hal ini tentu saja memberikan angin segar bagi tumbuhkan kegiatan usaha budidaya jamur tiram. Terlebih lagi pemasaran hasil produksi juga cukup mudah,, baik di pasar-pasar tradisional maupun pasar modern.

Cara Menanam Jamur

Artikel ini berisi tentang teknik atau cara untuk menanam jamur. Lengkap dengan berbagai hama/penyakit yang biasa menyerang jamur. Kunjungan Anda ke tanijogonegoro.com memang sangat tepat. Disamping menemukan informasi yang dibutuhkan, juga akan mendapatkan tambahan informasi lain, terutama tentang bagaimana cara menanam jamur tiram. Ya, telah dibahas sebelumnya, bahwa jamur tiram merupakan salah satu spesies jamur yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Dengan pertimbangan itulah, kami menyusun secara detail bagaimana cara menanam jamur tiram.

Kegiatan Budidaya Jamur Tiram

Kegiatan budidaya jamur tiram menyangkut berbagai aspek, mulai dari persiapan pembuatan rumah jamur atau yang disebut dengan kumbung, perisapan media tanam atau sering disebut baglog, persiapan benih dan bibit jamur, persiapan peralatan budidaya, proses pelaksanaan kegiatan budidaya, pemeliharaan jamur tiram, pemanenan jamur tiram, hingga penanganan pasca panen dan tentu saja pemasaran jamur tiram. Secara umum, kegiatan budidaya jamur tiram bisa didefinisikan sebagai upaya untuk mengelola, memelihara, dan memperbanyak jamur tiram dengan tujuan untuk mencari keuntungan atau laba usaha. Tidak mungkin suatu kegiatan budidaya yang dilakukan baik oleh petani maupun pengusaha, dapat berjalan sesuai dengan rencana dan target yang telah ditetapkan, jika teknik dan cara budidaya yang dilakukan tidak tepat.

Jamur Tiram

Seperti telah dibahan di muka, bahwa jamur tiram merupakan jenis jamur yang sangat populer, baik di kalangan pembudidaya maupun konsumen. Cita rasa jamur tiram yang lezat memang menjadi salah satu faktor sehingga jamur tiram lebih disukai dibanding jenis jamur lain. Selain itu, jamur tiram juga mudah dibudidayakan, sehingga pasokan pasar tersedia dan tidak terbatas. Banyaknya pasokan jamur tiram tentu menjadikan harga komoditas ini semakin terjangau. Dengan permintaan yang tinggi, sehingga bisa dikatakan bahwa harga jamur tiram sangat stabil. Oleh karena itulah para pembudidaya jamur banyak yang memilih jenis jamur tiram sebagai komoditas utamanya.

Jamur Tiram Putih

Jamur Tiram Putih merupakan varietas jamur tiram yang paling banyak ditemukan, terutama di Indonesia. Jamur Tiram Putih umum dibudidayakan oleh para pelaku usaha karena memang varietas ini mudah ditemukan di Indonesia. Bibit jamur tiram putih juga banyak dibudidayakan oleh para penyedia bibit. Untuk mencari bibit jamur tiram putih, Anda bisa menghubungi tim teknis kami. Jamur Tiram Putih secara fisik memang lebih menarik dibanding dengan jamur tiram merah, oleh karena itulah jamur tiram putih lebih banyak dibudidayakan, karena pangsa pasarnya luas.

Cara Budidaya Jamur Tiram

Kupas Tuntas Tentang Teknik Budidaya Jamur Tiram

Tak salah lagi jika Anda berkunjung ke tanijogonegoro untuk mencari referensi tentang budidaya jamur tiram. Artikel ini secara detil membahas tentang berbagai aspek yang perlu dilakukan dalam kegiatan budidaya jamur tiram. Kami akan merinci secara sistematis setiap kegiatan, sehingga Anda bisa memperoleh informasi yang jelas tentang teknik budidaya jamur tiram. Setiap pokok bahasan kami uraikan secara detail, mulai dari persiapan, pelaksanaan budidaya, hingga pemasaran hasil produksi jamur tiram. Tanijogonegoro akan mengupas secara tuntas setiap proses dalam kegiatan budidaya jamur tiram.

PERSIAPAN USAHA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Persiapan Usaha Budidaya Jamur Tiram pada dasarnya merupakan faktor penting yang berperan dalam menunjang kesuksesan usaha budidaya jamur tiram. Tanpa persiapan matang, bisa jadi usaha agribisnis budidaya jamur yang kita kembangkan menjadi berantakan. Salah satu cara mengantisipasi kemungkinan timbulnya resiko kegagalan budidaya, alangkah baiknya jika sebelum pelaksanaan usaha budidaya ini, terlebih dahulu petani atau pelaku usaha jamur tiram melakukan beberapa langkah persiapan matang.

LANGKAH-LANGKAH PENTING SEBELUM BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Seperti telah diuraikan di atas, langkah-langkah ini dimaksudnya agar proses budidaya berjalan lancar tanpa kendala berarti di lapangan. Bagaimanapun juga peluang bisnis usaha budidaya jamur saat ini masih terbuka lebar, sehingga diharapkan hasil produksi mencapai titik optimal. Berikut langkah-langkah awal sebelum melakukan proses produksi:

Pemilihan Lokasi Budidaya Jamur Tiram

Usaha budidaya jamur sebenarnya sangat mudah, hanya saja terkadang penyebab utama kegagalan ada pada kebersihan lingkungan. Kebersihan lingkungan menjadi syarat utama harus diperhatikan, mengingat budidaya jamur baik budidaya jamur kuping, tiram maupun lainnya sangat rentan terhadap kelembaban tinggi. Langkah pertama sebelum memulai usaha budidaya jamur tiram, kita perlu memperhatikan lokasi usaha, diusahakan lokasi usaha tidak dekat kandang ternak, tempat pembuangan sampah maupun tempat-tempat lain yang berpotensi mendatangkan hama penyakit. Pilih tempat-tempat bersih serta strategis supaya memudahkan pengangkutan saat panen sehingga dapat menghemat biaya transportasi.

Bagi usaha budidaya jamur tiram skala rumah tangga, lingkungan rumah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat usaha, asalkan kebersihannya harus tetap terjaga. Kunci utama usaha ini hanyalah faktor kebersihan lingkungan serta menjaga suhu udara konstan agar produksi optimal dapat tercapai.

Rumah atau Kumbung Jamur Tiram




Jika memilih lokasi di luar rumah maka harus dibuatkan rumah khusus untuk budidaya jamur, biasa disebut kumbung. Bentuk maupun bangunan kumbung disesuaikan kondisi lahan, biaya, daya tampung baglog. Sebagai contoh dalam menentukan ukuran rumah atau kumbung, untuk kapasitas baglog sebanyak 500-1500 diperlukan rumah kumbung berukuran 6 x 4 m. Mengingat faktor terpenting penunjang keberhasilan usaha budidaya jamur tiram adalah kelembaban maupun kebersihan. Rumah atau kumbung idealnya harus memenuhi kelembaban optimal bagi pertumbuhan jamur, sedangkan kebersihan menjadi syarat mutlak dalam mencegah serangan hama penyakit pengganggu.

Pembuatan Rak Baglog Budidaya Jamur Tiram

Untuk mempermudah pekerjaan, baik saat pemeliharaan maupun pemanenan, serta menaruh media jamur, pada rumah kumbung dibuatkan rak tempat meletakkan baglog. Rak-rak ini bisa terbuat dari bambu semua atau kombinasi bambu-kayu. Pembuatan rak baglog disesuaikan kondisi usaha saja, bagi skala rumah tangga cukup menggunakan rak dari bambu agar biaya produksi dapat ditekan, sedangkan usaha budidaya jamur dalam skala besar berjangka panjang, pembuatan rak baglog menggunakan kombinasi bambu kayu juga akan menghemat biaya. Buat lapisan-lapisan rak paling banyak 5 lapis untuk satu unit rak. Hal ini bermaksud agar memudahkan pemeliharaan, jika terlalu tinggi justru para pekerja akan kesulitan menjangkaunya, menyebabkan pekerjaan menjadi semakin lama (berakibat terhadap pembengkakan biaya pemeliharaan). Satu lapis rak dibuat panjang 300 cm, lebar 40 cm, serta tinggi 40 cm. Pada ukuran ini mampu menampung kurang lebih 60 baglog. Jadi, satu unit rak (terdiri dari 5 lapis), mampu menampung sebanyak 300 baglog.

Lapisan rak paling bawah jaraknya diperlebar menjadi 30-35 cm dari permukaan tanah. Hal ini bertujuan menjaga kelembaban udara pada lapisan rak paling bawah, sirkulasi udara menjadi lancar sehingga perkembangbiakan hama penyakit dapat ditekan, terutama jika lantai dasarnya masih berupa lantai tanah. Jarak antarrak baglog 1 m juga agar memudahkan saat melakukan pemeliharaan serta pemanenan.

Persiapan Media Budidaya Jamur Tiram

Media tanam budidaya jamur banyak sekali jenisnya, tergantung bagaimana mudahnya kita memperoleh bahannya saja. Media dapat berupa substrat kayu, serbuk gergaji, ampas tebu, maupun sekam. Pembuatan media tanam berisi campuran dari media ditambahkan nutrisi berupa tepung jagung, air, dedak halus, air, gips atau kapur (CaCo3). Media tanam kemudian dimasukkan dalam kantong plastik sampai penuh, lalu dimasukkan pralon atau bambu berdiameter 3 cm kemuadian baru diikat dengan kuat. Media jadi tersebut dinamakan baglog. Namun, kebanyakan para pelaku usaha jamur tiram membeli baglog siap pakai dikarenakan butuh ketrampilan, kebiasaan serta ketelitian tinggi dalam membuat baglog sendiri.

Bibit Jamur Tiram

Pada umunya para petani kesulitan membuat bibit sendiri sehingga banyak diantara mereka memperoleh bibit dengan cara membeli bersama baglognya. Selain membeli bibit bersama baglog, bibit dapat diperoleh melalui berbagai cara, diantaranya melalui pembuatan kultur murni, pembuatan bibit induk, serta bibit semai. Pembuatan kultur murni membutuhkan teknik khusus karena cara pembuatan bibit jamur tiram kultur murni rawan terkontaminasi, biasanya pembuatan bibit kultur murni dilakukan oleh para peneliti atau petani jamur profesional yang memang telah memahami teknik pengkulturan/isolasi. Pembuatan kultur murni menggunakan media khusus berupa PDA (potatoes dextrose algae) serta pembuatannya dilakukan dalam kotak inokulasi. Pembuatan kultur murni membutuhkan lingkungan kondusif serta sangat steril.

Pembuatan bibit dengan cara pembuatan bibit induk pada dasarnya sama dengan pembuatan bibit semai, perbedaannya hanyalah pada komposisi media maupun inokulannya. Pada pembuatan bibit induk, inokulan menggunakan kultur murni, sedangkan inokulan untuk bibit semai adalah bibit induk.

Saat ini para petani tidak perlu khawatir lagi dalam memperoleh bibit, karena kini telah banyak pengusaha jamur mulai menjual bibit sudah dalam kemasan baglog siap pakai, bahkan kebanyakan sudah disertifikasi. Jadi bibit sudah ditanam di dalam baglog bahkan sudah siap dilanjutkan dalam proses budidaya jamur hingga panen. Kebanyakan para petani memperoleh bibit dengan cara ini meskipun biaya produksinya menjadi lebih mahal.

Meskipun demikian, cara ini ada baiknya dilakukan untuk petani pemula atau pelaku usaha jamur skala rumah tangga. Jika sudah menguasai teknik budidaya serta usaha budidaya jamurnya sudah tergolong besar, lebih baik mengupayakan penekanan biaya produksi dengan pembuatan bibit sendiri.

Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Jamur Tiram

Budidaya jamur tiram membutuhkan lingkungan spesifik agar menghasilkan produksi optimal. Ada banyak faktor keberhasilan budidaya, salah satunya adalah lingkungan pertumbuhan harus kondusif. Pertumbuhan diawali munculnya pertumbuhan miselium, miselium kemudian membentuk tunas atau calon tubuh buah jamur (pin head), lebih lanjut akan berkembang menjadi tubuh buah (jamur). Untuk menciptakan lingkungan kondusif bagi pertumbuhan miselium maupun tubuh jamur ini, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti suhu, intensitas cahaya matahari, keasaman (pH), kelembaban maupun oksigen.

Suhu udara kondusif untuk menunjang pertumbuhan miselium maupun tubuh jamur tiram berkisar antara 23-28°C dengan suhu optimum 25°C. Meskipun demikian, dengan modifikasi komposisi media maupun penyesuaian lingkungan, saat sekarang telah banyak budidaya jamur tiram yang dikembangkan di dataran rendah dengan kisaran suhu di atas 28°C, di daerah ini tubuh jamur dapat tumbuh baik pada suhu 30°C. Bahkan hasil panennya pun tidak kalah dengan budidaya di dataran menengah maupun tinggi, dengan kualitas tubuh buah berdaya adaptasi lebih baik, jamur telihat lebih segar, serta saat panen berbau lebih harum. Intensitas cahaya matahari diperlukan selama proses budidaya jamur tiram, khususnya saat pembentukan tubuh. Pada dasarnya penyinaran cahaya matahari tidak secara langsung dan menyebar merupakan cahaya yang baik bagi pertumbuhan jamur. Penyinaran cahaya matahari langsung bisa mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan miselium atau merusak tubuh buah yang sudah terbentuk. Derajat keasaman (pH) yang tepat memungkinkan jamur tumbuh optimal. Untuk budidaya ini membutuhkan kisaran pH 5-7. Lingkungan terlalu asam atau terlalu basa justru akan menghambat pertumbuhannya.

Selain faktor suhu, intensitas cahaya matahari, serta keasaman (pH), faktor lain seperti kelembaban dan oksigen sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya jamur. Substrat harus tetap terjaga dalam kondisi lembab bahkan jangan sampai mengering karena akan berpengaruh terhadap hasil produksi. Kelembaban udara selama pertumbuhan bibit maupun pertumbuhan tubuh jamur tiram ideal adalah 90%. Salah satu cara untuk menjaga agar kelembaban tetap terjaga adalah melakukan penyiraman lantai ruangan budidaya menggunakan air bersih di saat pagi maupun sore hari, atau dengan cara penyemprotan air menggunakan tangki sprayer. Jamur merupakan tanaman saprofit semiaerob sehingga membutuhkan asupan oksigen dalam jumlah cukup untuk menopang pertumbuhannya. Jika oksigen tersedia dalam jumlah terbatas bisa menyebabkannya menjadi layu, akibat lebih lanjut akhirnya mati.

Sarana Pendukung Budidaya Jamur Tiram

Sarana pendukung dalam melakukan usaha budidaya jamur berupa peralatan dan bahan untuk membantu selama proses produksi, mulai dari penanaman hingga pascapanen. Peralatan atau bahan pendukung tersebut antara lain plastik (PE 0,002) berukuran 20 cm x 30 cm, cincin paralon, alkohol, pembakar bunsen, alat sterilisasi baglog berupa drum/oven/autoclave, termometer, barometer, sprinkle bernozle halus, fungisida (bila menggunakan plastik pengemas), serta vacuum sealer.

MEMBUAT PUPUK ORGANIK (KOMPOS) CAIR DARI LIMBAH RUMAH TANGGA

Membuat kompos dari limbah atau sampah rumah tangga merupakan suatu upaya untuk mengurangi menumpuknya sampah yang dapat mencemari lingkungan. Teknologi yang diterapkan untuk membuatnya sangat mudah, yaitu dengan menggunakan suatu alat yang dapat mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik dan memanfaatkan aktivitas dan peran mikroba dekomposer, sehingga dapat dihasilkan produk akhir yang bermanfaat. Dengan demikian, upaya pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang lebih berdayaguna dapat direalisasikan.

MEMBUAT PUPUK ORGANIK (KOMPOS) CAIR

Setiap orang tidak menginginkan tinggal di tempat yang banyak sampahnya, karena bau yang menyengat dari sampah membuat kita tidak merasa terganggu. Apalagi jika kesadaran masyarakat untuk mengurangi produksi sampah masih sangat rendah. Tentu saja hal ini membutuhkan suatu penanganan serta pembinaan yang serius.

Produksi sampah yang sangat tinggi merupakan suatu keniscayaan akibat pola konsumsi masyarakat yang cenderung untuk memilih produk-produk yang menghasilkan sampah. Pada saat yang sama juga diikuti dengan sitem penawaran barang dalam kemasan, sehingga berpotensi untuk menimbulkan sampah. Belum adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemisahan antara sampah organik dan sampah anorganik membuat pengelolaan sampah mengalami suatu kendala yang berarti. Sangat jarang warga yang menggunakan tempat sampah berbeda untuk memisahkan >sampah organik dan anorganik.

Pengelolaan sampah tidak bisa hanya menggantungkan peran pemerintah, tetapi juga dibutuhkan partisipasi masyarakat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pengololaan sampah ini harus mulai ditumbuhkan. Dimulai dengan kesadaran untuk memisahkan sampah organik dan anorganik, sehingga dapat mengurangi dampak pencemaran sampah terhadap lingkungan. Selain untuk mengurangi resiko pencemaran lingkungan, pengelolaan sampah juga bertujuan untuk mengasilkan sesuatu yang lebih berdayaguna. Sampah-sampah anorganik bisa dikelola dengan teknologi daur ulang sehingg dapat menghasilkan berbagai macam barang yang bermanfaat. Sementara itu, sampah basah atau sampah organik bisa dikelola dan dimanfaatkan sebagai pupuk, bioetanol, biogas, maupun biodiesel.

Untuk mengelola sampah rumah tangga menjadi pupuk organik, maka pada artikel ini akan diuraikan bagaimana teknologi sederhana yang dapat diterapkan oleh masyarakat. Terutama mengenai teknik pengolahan sampah atau limbah rumah tangga menjadi kompos cair.

Peralatan yang Dibutuhkan untuk Membuat Kompos Cair




Peralatan utama yang dibuthkan untuk membuat kompos cari dengan bahan dasar sampah atau limbah rumah tangga ini sering disebut dengan istilah komposter. Komposter ini merupakan tempat dilakukannya proses dekomposisi yang biasanya terbuat dari tong sampah plastik atau kotak semen yang telah dimodifikasi sedemikian rupa dan dapat diletakkan baik di dalam maupun di luar ruangan. Jika komposter tersebut diletakkan di dalam ruangan, maka lubang udara yang dibuat sebaiknya disambung dengan pipa yang mengarah ke luar, sehingga bau menyengat yang ditimbulkan selama proses dekomposisi tidak menyebar ke dalam ruangan.

Komposter sebagai tempat melakukan proses dekomposisi bahan-bahan organik yang dimasukkan ke dalamnya, dengan bantuan mikroba aktifator kompos atau sering disebut sebagai mikroba dekomposer, dapat mengubah sampah atau limbah rumah tangga menjadi kompos hanya dalam waktu 10-12 hari. Mikroba dekomposer tersebut banyak dijual di pasaran, dengan berbagai merk, baik dalam bentuk ragi, bakteri, maupun fungi.

Komposter yang dibuat dengan dilengkapi instalasi udara di dalamnya akan mempercepat proses penguraian sampah atau limbah-limbah organik dengan suatu proses dekomposisi yang dilakukan secara aerob. Instalasi udara di dalam komposter selain berfungsi sebagai penyuplai oksigen, juga berfungsi sebagai pengatur kelembaban dan suhu di dalam komposter, sehingga aktivitas mikroba dekomposer yang dimasukkan ke dalamnya dapat bekerja dengan baik. Dengan teknik dekomposisi menggunakan komposter ini, proses pengambilan lindi atau air sampah dapat dilakukan dengan mudah, karena komposter didesain agar dapat memisahkan antara kompos pada dan kompos cair. Bagaimana membuat komposter yang dapat berfungsi sebagai wadah pengomposan ini? Berikut ini kami uraikan secara sederhana langkah-langkah pembuatn komposter.

Alat Dan Baham Pembuatan Komposter

  1. Tong plastik bekas ukuran 20 liter, 1 buah
  2. Pipa paralon ukuran panjang 13 cm dengan diameteri 1 inchi, 2 buah
  3. Pipa paralon ukuran panjang 10 cm dengan diameteri 1 inchi, 1 buah
  4. Pipa paralon ukuran panjang 9 cm dengan diameteri 1 inchi, 1 buah
  5. Sambungan pipa berbentuk T, 1 buah
  6. Sambungan pipa berbentuk L, 1 buah
  7. Kran plastik, 1 buah
  8. Kasa Plastik>
  9. Lem PVC
  10. Meteran
  11. Bor
  12. Pemotong pipa, bisa menggunakan gergaji>
  13. Pipa besi berukuran 1 inchi

Cara Membuat Kompos Cair

  1. Buat dua lubang udara menggunakan pipa besi yang dipanaskan di sisi kanan dan kiri tong plastik, atau pada sisi yang berseberangan, dengan diameter disesuaikan dengan diameter pipa paralon.
  2. Buat satu lubang lagi yang terletak kurang lebih 10 cm di bawah lubang pertama menggunakan pipa besi yang dipanaskan. Diameter lubang disesuaikan dengan diameter pipa paralon, sedangkan posisi lubang bisa terletak pada sisi diantara dua lubang di atas.
  3. Buat lubang-lubang kecil menggunakan bor di badan pipa paralon berukuran 13 cm dan 10 cm. Bungkus lubang-lubang kecil tersebut menggunakan kasa plastik dengan rapi.
  4. Langkah selanjutnya adalah pemasangan instalasi udara di dalam komposter, dimulai dengan memasang kedua pipa paralon berukuran 13 cm pada lubang kanan dan kiri tong plastik. Kedua pipa paralon tersebut dimasukkan dari arah dalam tong plastik hingga keluar sekitar 3 cm dari dinding tong plastik sehingga panjang pipa paralon di bagian dalam sekitar 10 cm.
  5. Kedua ujung pipa paralon yang mencuat keluar tong plasting ditutup dengan kasa plastik. Cara penutupannya dengan memberikan lem PVC di ujung pipa dan tempelkan kasa plastik tersebut dengan rapi.
  6. Kedua pipa berukuran 13 cm yang berada pada sisi bagian dalam tong plastik disambung dengan sambungan pipa berbentuk T dengan salah satu kaki sambungan pipa menghadap ke bawah.
  7. Dari kaki sambungan pipa berbentuk T yang menghadap ke bawah tersebut disambung dengan pipa paralon berukuran 10 cm.
  8. Kemudian pada ujung bagian bawah pipa paralon berukuran 10 cm tersebut disambung dengan sambungan pipa berbentuk L dengan salah satu ujung sambungan pipa berbentuk L tersebut menghadap ke lubang ketiga.
  9. Dari sambungan pipa berbentuk L disambung pipa paralon berukuran 9 cm mengarah ke lubang ketiga, kemudian sambungkan dengan kran plastik dari bagian luar.
Demikian pembuatan komposter telah selesai dan siap digunakan. Teknik tersebut bisa diaplikasikan untuk pembuatan komposter kapasitas besar, tinggal ukuran pipa paralon untuk instalasi udara yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Teknik Pengomposan

Seperti diuraikan di atas, alat yang dibutuhkan untuk membuat pupuk organik cair adalah komposter. Komposter ini merupakan alat yang bisa digunakan untuk mengolah semua jenis limbah organik rumah tangga menjadi kompos baik dalam bentuk padat maupun cair. Jadi semua sampah yang tergolong limbah organik bisa digunakan sebagai bahan, seperti sisa sayur, buah, sisa makanan, sisa dapur, bahkan limbah organik dari kebun.

Semua bahan dirajang atau dicincang terlebih dahulu agar proses dekomposisinya lebih cepat dan sempurna. Selain itu potongan yang kecil-kecil bisa memaksimalkan kapasitas atau daya tampung komposter. Siapkan bio aktivator atau mikroba dekomposer untuk membantu proses penguraian bahan-bahan organik, sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat. Agar mikroba dekomposer dapat bekerja lebih optimal, sebaiknya ditambahkan air cucian beras dan gula merah untuk menambah energi mikroba dekomposer tersebut. Larutkan mikroba dekomposer dengan 1 liter air. Konsentrasi larutan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan produk mikroba dekomposer yang digunakan. Setiap merk dagang memiliki rujukan yang berbeda-beda dalam penetapan standar larutan. Masukkan semua bahan ke dalam komposter yang sudah disiapkan sedikit demi sedikit sambil disiram larutan mikroba dekomposer, sehingga pemberian aktivator bisa merata keseluruh bahan. Setelah semua bahan dimasukkan lalu tutup rapat-rapat komposter tersebut.

Pada awal pemakaian komposter baru bisa menghasilkan air lindi atau kompos cair dalam waktu dua minggu. Selanjutnya pengambilan lindi dapat dilakukan dalam waktu 2-3 hari sesuai kebutuhan. Pengambilan air lindi hanya sebatas kran, karena air lindi di bawah kran dibiarkan saja untuk membantu proses dekomposisi. Air lindi tersebut sudah banyak mengandung mikroba aktivator sehingga dapat digunakan untuk melakukan pengomposan.

Air lindi yang sudah diambil sebaiknya dicampur lagi dengan mikroba dekomposer agar kandungan mikrobanya lebih banyak. Berikan 10 ml mikroba dekomposer per liter air lindi. Diamkan selama 2-3 hari, setelah itu pupuk organik cair siap untuk diaplikasikan. Pupuk organik cair tersebut bisa disimpan selama 1-2 bulan.

Setelah proses pengomposan awal berjalan, selanjutnya sampah atau limbah organik bisa dimasukkan setiap hari ke dalam komposter. Jika komposter sudah penuh, maka kompos padat, merupakan pupuk organik padat, yang berada di dalam komposter bisa diambil sesuai dengan jumlah sampah atau limbah organik yang akan dimasukkan. Selamat mencoba!

ARTIKEL POPULER