Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN. Tampilkan semua postingan

Penyebaran Dan Habitan Ikan Nila

Penyebaran Dan Habitan Ikan Nila - Ikan Nila berasal dari daerah Afrika bagian timur, terutama di Sungai Nil dan perairan yang terhubung dengan sungai tersebut, seperti Danau Tanganyika. Oleh karena itulah ikan nila memiliki nama latin sesuai dengan nama asal habitatnya, Orechromis Niloticus. Ikan tersebut kemudian mulai menyebar ke daerah Timur Tengah, Amerika, Eropa dan negara-negara Asia, setelah dibawa oleh bangsa Eropa. Saat ini, ikan nila telah dibudidayakan di semua propinsi di Indonesia.

Habitat atau lingkungan tempat tumbuh dan berkembang biak ikan nila sangat bervariasi. Memang, ikan ini dikenal memiliki daya adaptasi yang sangat bagus terhadap perubahan lingkungan hidup. Oleh karena itu, ikan nila dapat dibudidayakan di berbagai tempat dengan kondisi perairan yang bervariasi, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Kondisi perairan yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk pemeliharaan ikan nila adalah air tawar, air payau, bahkan masih mampu bertahan hidup di air asin, dengan nilai pH air berkisar antara 6-8,5. Kadar garam yang ideal untuk pertumbuhannya antara 0-35 permil. Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan adaptasi yang bertahap, dengan kadar garam yang ditingkatkan sedikit demi sedikit. Jika pemindahan dilakukan secara mendadak, dari air tawar ke air asin dengan kadar garam tinggi, dapat mengakibatkan stress, bahkan berpotensi menimbulkan kematian dalam jumlah besar.

Ikan nilai kecil relatif lebih mudah beradaptasi dibanding dengan ikan nila dewasa, oleh sebab itu, pemindahan ikan nila ke habitat lain sebaiknya dilakukan saat masih anakan. Ikan ini juga mampu bertahan hidup baik di perairan dangkal maupun dalam. Oleh sebab itu, ikan ini juga sering dibudidayakan di waduk-waduk yang memiliki perairan relatif dalam, dengan sistem budidaya Karamba Jaring Apung. Bahkan akhir-akhir ini, budidaya ikan nila sudah dilakukan dengan sistem Karamba Jaring Apung di laut.

Suhu optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya antara 25-30 derajat Celcius, sehingga budidaya ikan nila akan lebih efisien jika dilakukan di dataran rendah hingga menengah. Untuk mengetahui bagaimana cara budidaya ikan nila yang efektif, silahkan baca pada artikel Budidaya Ikan Nila.

Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila

Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila – Ikan Nila memiliki nama ilmiah Oreochromis niloticus, merupakan ikan yang berasal dari Afrika bagian timur, seperti Sungai Nil, Danau Tanganyika, Nigeria, dan Kenya. Ikan Nila mulai menyebar ke berbagai negara, seperti Amerika, negara-negara Timur Tengah, dan Asia, setelah disebarkan oleh orang-orang Eropa. Ikan ini memiliki sifat unik setelah memijah, induk betina akan mengerami telur-telur yang telah dibuahi dalam rongga mulutnya. Perilaku semacam itu dikenal dengan sebutan mouth breeder.

Klasifikasi terbaru ikan nila yang masuk dalam genus Oreochromis dipelopori oleh seorang ilmuwan bernama Dr. Trewavas, pada tahun 1982. Sebelumnya, ikan nila masuk dalam genus Tilapia, namun, pada tahun 1980, Dr. Trewavas mencetuskan ide untuk membagi genus Tilapia menjadi tiga kelompok, yaitu genus Oreochromis, Sarotherodon, dan Tilapia.

Ikan nila tergolong jenis ikan yang cukup digemari baik untuk dibudidayakan maupun dikonsumsi. Potensi pertumbuhannya yang cepat, bersifat omnivora, dan mudah berkembang biak membuat ikan ini menjadi salah satu primadona para pembudidaya ikan. Kecepatan pertumbuhan dan bersifat omnivora membuat ikan nila lebih efisien dalam penggunaan pakan, sehingga lebih menguntungkan untuk dibudidayakan.

Ikan nila memiliki ciri khas sendiri, berupa garis vertikal di bagian ekor sebanyak enam hingga delapan buah. Garis-gari vertikal ini juga terdapat di sirip dubur dan sirip punggung, dan garis inilah yang membedakan antara ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan ikan mujahir (Oreochromis mossambicus).

Klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) berdasarkan rumusan Dr. Trewavas.

Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Keunggulan ikan nila dalam pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan membuat ikan ini lebih disukai untuk dibudidayakan di berbagai negara. Para ilmuwan berusaha untuk memuliakan ikan nila ini dengan teknologi hibridasi agar menghasilkan bibit yang lebih unggul dibanding jenis aslinya. Taiwan dan Philipina merupakan dua negara yang cukup intensif dalam memuliakan ikan nila. Tak mengherankan jika bibit-bibit unggul yang didatangkan ke Indonesia berasal dari dua negara tersebut. Saat ini, kegiatan Budidaya Ikan Nila telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, baik skala rumah tangga maupun bisnis.

Mengenal Ikan Nila

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sebenarnya bukanlah ikan asli Indonesia. Ikan ini merupakan hasi introduksi dari luar negeri. Ikan Nila secara resmi dikembangkan di Indonesia pada tahun 1969 oleh Balai Penelitian Perikanan Ari Tawar. Setelah melalui proses adaptasi dan pengembangan, barulah ikan nila di sebarkan ke masyarakat.

Nama ikan nila merupakan nama khas Indonesia yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan. Nama ini diambil dari nama latinnya (Oreochromis niloticus), yang memang merupakan habitat asli ikan nila, yaitu di Sungai Nil dan perairan yang berhubungan dengan sungai itu.

Dalam perkembangannya, ikan nila menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari masyarakat, karena memang tekstur dagingnya tebal seperti daging ikan kakap merah, dan cita rasanya yang lezat. Selain itu, struktur tulang ikan nila juga tidak serumit ikan-ikan lain, sehingga lebih mudah dimakan. Saat ini, ikan nila telah tersebar di seluruh benua, terutama di negara-negara yang beriklim tropis maupun subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan ini sulit untuk beradaptasi.

Pemerintah Indonesia telah beberapa kali mendatangkan bibit ikan nila dari berbagai negara. Pertama kali mendatangkan, pemerintah mengambil bibit dari Taiwan. Ikan nila dari Taiwan ini berwarna hitam, dengan garis-garis vertikal di bagian ekornya yang berjumlah antara 6-8 garis. Pada perkembangan selanjutnya, pemerintah mendatangkan bibit ikan nila berwarna merah dari Philipina. Hingga saat ini, bibit ikan nila yang memiliki galur murni masih didatangkan dari luar negeri, karena memang sistem pembibitan di Indonesia masih kurang efektif dalam menjaga kemurnian galur. Upaya pengadaan bibit dari luar negeri bertujuan untuk menjaga persediaan dan kualitas induk, agar keunggulan genetiknya tidak menurun setelah bercampur dengan varietas lain.

Daya adaptasinya yang sangat tinggi, membuat ikan nila banyak dibudidayakan di berbagai daerah. Memang, ikan nila mampu hidup di air tawar, payau, bahkan air laut. Ikan ini juga tahan terhadap perubahan lingkungan, bersifat omnivora, sehingga mampu mencerna berbagai jenis makanan secara efisien. Keunggulan lain ikan nila adalah ketahanan terhadap penyakit yang cukup tinggi.

Daging pada bagian tubuh ikan nila sangat tebal, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai fillet atau sayatan daging tanpa tulang. Daging ikan dalam bentuk fillet ini sangat disukai di luar negeri, dan biasanya dimasak dengan berbagai bumbu atau saus, dan dijadikan isi sandwhich.

Para pakar pembudidaya ikan dari FAO menganjurkan kapada penduduk berpenghasilan rendah untuk membudidayakan ikan nila, sehingga dapat memperbaiki gizi keluarga. Memang, anjuran tersebut sangat beralasan, mengingat ikan ini mudah dibudidayakan, cepat berkembang biak, dan dapat dibudidayakan di kolam sempit bahkan comberan. Untuk mengetahui cara membudidayakan ikan nila, lihat pada artikel Budidaya Ikan Nila.

Saat ini, ikan nila yang dibudidayakan di Indonesia terdiri dari berbagai varietas, baik nila hitam, merah, maupun putih. Pembudidayaan ikan nila di Indonesia dilakukan di berbagai daerah dengan kondisi lingkungan berbeda-beda, baik di kolam pekarangan, dengan sistem karamba di sungai-sungai, kolam air deras, dan sistem karamba jaring apung, seperti di waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, Gajahmungkur, Kedungombo, dan Wadaslintang.

MENGENAL IKAN MAS

Ikan mas merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang harganya cukup mahal. Konon, ikan mas sudah dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia sejak dua ratus tahun silam. Namun, secara pasti belum ada data yang menyebutkan kapan tepatnya ikan mas mulai dibudidayakan. Terlepas dari kapan ikan mas mulai dibudidayakan, yang jelas hingga saat ini komoditas perikanan tersebut masih cukup digemari masyarakat, hal ini disebabkan selain cita rasanya yang istimewa, ikan mas juga hampir tidak mengandung kolesterol, sehingga sangat aman untuk dikonsumsi para penderita kolesterol tinggi.

Lingkungan Hidup Ikan Mas

Habitat asli ikan mas adalah perairan dangkal yang mengalir pelan dengan suhu sejuk. Di danau-danau atau di sungai-sungai, ikan ini hidup menepi sambil mencari pakan berupa binatang-binatang kecil. Jentik-jentik nyamuk merupakan pakan alami yang sangat digemari oleh ikan mas. Di tepi-tepi danau maupun sungai ini ikan mas meletakkan telurnya pada rerumputan yang menjorok ke perairan. Lingkungan optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya yaitu perairan yang berada pada ketinggian antara 150-1.000 mdpl dengan suhu antara 20-25°C, dan pH ideal adalah 6,5-7,5.

Jenis Ikan Mas




Membedakan jenis ikan mas sebetulnya cukup sulit, namun ada beberapa ahli yang membedakannya dari segi fisik, misalnya dari bentuk sisik atau warna tubuhnya. Namun, pembagian berdasarkan kriteria tersebut dianggap kurang mengena, dan supaya bisa mendapatkan keturunan murni dari jenis ikan mas, maka seorang pakar perikanan, Dr. A.L. Buschkiel mencoba untuk menetapkan pembagian jenis ikan mas berdasarkan ciri-ciri sisiknya.

Terlepas dari penggolongan jenis ikan mas yang belum ditetapkan secara pasti dari segi biologinya, dipasaran banyak dijumpai berbagai jenis ikan mas, diantaranya adalah ikan mas majalaya, ikan mas punten atau karper, ikan mas kancra domas, sinyonya, fancy carp, kumpai, dll.

Ikan mas majalaya merpakan salah satu jenis ikan mas unggul yang diperoleh dari hasil seleksi yang dilakukan oleh seorang petani di Cipedas, Majalaya, Jawa Barat. Seleksi tersebut dilakukan selama tujuh tahun yang selesai pada tahun 1974. Ikan mas majalaya memiliki warna tubuh hijau kehitaman, bentuk badan relatif lebih pendek dibanding ikan mas lain, memiliki punggung tinggi sehingga tampak membungkuk, gerakannya lebih jinak. Ikan ini memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik, sehingga sangat cocok dibudidayakan.

Ikan mas punten atau karper diperoleh dari hasil persilangan yang dilakukan di daerah Punten Jawa Timur, pada tahun 1919-1920. Ikan ini memiliki warna tubuh hijau kehitaman, dengan mata menonjol. Bentuk tubuhnya panjang dengan punggung lebar.

Kancra domas memiliki sisik yang berukuran kecil dengan warna tubuh agak kemerahan. Terdapat garis membujur pada bagian tengah tubuhnya, yang membatasi dengan bagian perut yang berwarna keperakan. Bagian punggung tampak gelap atau hijau kehitaman, dengan susunan sisik kecil-kecil yang tidak teratur.

Sinyonya biasa disebut juga dengan si putri yogya karena memang berasal dari daerah Yogyakarta. Bentuk dan ukuran sisiknya sama seperti ikan mas pada umumnya, dengan warna kuning muda. Mata tidak terlalu menonjol dengan bentuk normal saat masih muda, sedangkan ikan yang sudah tua memiliki mata yang agak sipit.

Fncy carp atau lebih dikenal dengan ikan mas koi, merupakan salah satu jenis ikan mas yang banyak dimanfaatkan sebagai ikan hias kolam. Warna tubuhnya sangat bervariasi, dengan corak warna yang beragam. Selain itu, bentuk tubuhnyapun agak memanjang, sehingga menyerupai terpedo. Salah satu keunggulan ikan mas koi adalah warna tubuhnya yang sangat menarik, sehingga oleh orang Jepang, ikan ini dijadikan sebagai ikan hias utama.

Klasifikasi Ikan Mas

Klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : (Cyprinus carpio)

Ikan mas merupakan spesies Cyprinus carpio yang termasuk dalam famili Cyprinidae, dengan bentuk tubuh pipih memanjang. Ikan ini memiliki mulut yang terletak di ujung tengah bagian tubuhnya. Pada bagian mulut tersebut, terdapat dua pasang sungut. Sementara warna tubuhnya sangat bervariasi, ada yang merah, kekuningan, hitam, hitam kehijauan, putih, atau bahkan kombinasi dari warna-warna tersebut. Secara umum, bagian tubuh ikan mas terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor.

Kandungan Gizi Dalam 100 gram Daging Ikan Mas

Selain cita rasanya yang banyak digemari masyarakat, ikan mas juga memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap, sehingga menjadi salah satu alternatif bahan pangan sebagai sumber gizi keluarga. Berikut ini kandungan gizi dalam 100 gram daging ikan mas.
Kalori 95 kal, protein 4.5 gram, lemak 0.2 gram, karbohidrat 23.1 gram, kalsium 42 mg, fosfor 134 mg, besi 1 mg, vitamin B1 0.22 mg, air 71 gram.

Dengan komposisi dan kandungan gizi yang lengkap tersebut, ikan mas menjadi salah satu komoditas perikanan yang diperkirakan menjadi andalan sumber gizi bagi masyarakat.

CARA MEMBUAT KOLAM IKAN

Cara Membuat Kolam Ikan - Selain nutrisi pakan dan bibit ikan, keberhasilan budidaya ikan juga sangat dipengaruhi oleh konstruksi kolam ikan tempat ikan dibudidayakan. Pembuatan kolam ikan menurut kaidah yang benar mampu menciptakan iklim kondusif bagi kelangsungan hidup ikan budidaya. Bahkan di negara dengan sektor perikanan maju seperti di Thailand, konstuksi kolam yang benar menjadi faktor penting keberhasilan budidaya ikan.

TEKNIK PEMBUATAN KOLAM IKAN

Cara membuat kolam ikan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu membuat kolam ikan permanen, semipermanen, serta nonpermanen.
Membuat kolam ikan secara permanen merupakan salah satu cara membuat kolam ikan bermodal besar, proses pembuatannya dilakukan dengan menggali tanah seluas yang diperlukan, kemudian dasar dan tepi kolam dibuat dinding permanen (terbuat dari tembok). Pada proses ini membutuhkan bahan-bahan bangunan seperti kapur atau gamping, pasir, batu, serta semen atau PC (portland cement). Cara membuat kolam ikan seperti ini tentunya membutuhkan biaya lebih besar daripada pembuatan nonpermanen, akan tetapi dilihat dari segi manfaat jangka panjang, membuat kolam ikan permanen justru lebih efisien karena biaya perawatannya menjadi lebih sedikit untuk budidaya ikan berkelanjutan.
Langkah awal cara membuat kolam ikan semipermanen hampir sama pada cara permanen, hanya saja dinding kolam ditutup menggunakan mulsa PHP (mulsa plastik hitam perak) atau bisa juga menggunakan terpal.
Sedangkan dalam membuat kolam ikan nonpermanen merupakan cara membuat kolam ikan beralaskan tanah, pada proses pembuatannya cukup menggali tanah seluas yang diperlukan secara benar.

BAHAN PEMBUATAN KOLAM IKAN




  1. Anyaman terbuat dari kawat atau anyaman bambu untuk saringan air, baik di pintu masuk maupun pintu pembuangan.
  2. Kolam permanen membutuhkan batu, semen (PC), pasir, kapur. Penggunaan kapur sebenarnya mengurangi kekuatan dinding kolam ikan, akan tetapi juga diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan lumut sehingga membantu menambah nutrisi kebutuhan ikan.
  3. Papan kayu untuk pintu air model monik.
  4. Peralon atau pipa PVC untuk membuat pintu masuk maupun pintu keluarnya air. Dapat juga menggunakan bambu dilubangi bagian dalamnya tepat di pertemuan dua ruas sehingga air dapat mengalir.
  5. Bilah bambu untuk tiang pancang (patok) benang pemandu, pembatas bentuk, dan ukuran setiap bagian kolam.
  6. Benang sebagai pemandu ukuran dan bentuk bagian-bagian kolam.
  7. Pensil maupun alat tulis lain untuk membuat gambar sket, mencatat ukuran-ukuran serta ketentuan lain yang diperlukan.

ALAT PEMBUATAN KOLAM IKAN

Secara umum peralatan membuat kolam ikan permanen adalah peralatan tukang bangunan seperti cangkul, cetok, penggosok dinding (lepan), dll. Pada pembuatan kolam ikan semipermanen, membutuhkan paku pasak terbuat dari bambu untuk memasak mulsa PHP pada dinding tanah.
  1. Cangkul. Cangkul digunakan untuk menggali tanah, melumatkan serta mencampur tanah atau material (pembuatan kolam ikan permanen).
  2. Linggis. Linggis diperlukan untuk menggali tanah keras (wadas).
  3. Lempak. Lempak diperlukan untuk merapikan dinding kolam.
  4. Selang plastik, digunakan untuk mengukur kemiringan maupun bagian-bagian lain.
  5. Martel (palu). Martel digunakan untuk menancapkan patok, memasang pasak bambu pada pembuatan kolam semipermanen.
  6. Saringan pasir dari kawat. Saringan kawat digunakan untuk menyaring pasir.
  7. Cetok. Cetok digunakan untuk menembok dan memoles adonan material pada pembuatan kolam permanen.
  8. Penggosok (lepan). Penggosok (lepan) digunakan untuk memoles lapisan semen dan kapur.
  9. Meteran atau teodolith. Meteran atau teodolith digunakan untuk mengukur baik panjang, lebar maupun tinggi kolam.

CARA MEMBUAT KOLAM IKAN

Sebelum membuat kolam ikan, langkah pertama tentukan lokasi pembuatan kolam ikan, kemudian ukur luas lahan, kemiringan lahan, serta batas-batas pembuatan kolam ikan. Buatlah skesta gambar dan skema atau gambar konstruksi kolam ikan yang akan dibuat. Kemudian lakukan penggalian tanah dan pembuatan tanggul (pematang). Setelah selesai melakukan penggalian, langkah selanjutnya adalah membuat caren serta melakukan pemasangan perlengkapan seperti saringan air, pemasangan pintu air baik pintu masuk maupun pintu keluar.

1. Menentukan Lokasi Kolam Ikan

Sebelum melakukan pembuatan kolam ikan, perlu diperhatikan lokasi yang akan dibuat kolam. Hal ini penting untuk mengetahui jenis tanah, menentukan pusat pengambilan air pintu masuk, serta pembuangan air. Tanah yang baik untuk membuat kolam ikan adalah tanah berstruktur liat berpasir. Cara mengetahui jenis tanah pasir, liat, atau gembur secara sederhana dapat dilakukan dengan mengambil lapisan tanah atas (top soil) dan lapisan bawah, kemudian masing-masing ditambahkan air sampai kondisi tanah menjadi jenuh (lembek). Setelah tanah lembek, kemudian ambil dan kepal, tekan kuat-kuat. Jika di telapak tangan meninggalkan sedikit pasir berarti tanah tersebut merupakan tanah jenis liat atau gembur. Sedangkan jika di telapak tangan meninggalkan banyak pasir berarti tanah tersebut merupakan jenis tanah pasir.

2. Pengukuran Lokasi Kolam Ikan

Pengukuran luas lahan untuk budidaya ikan dapat dilakukan menggunakan meteran biasa atau menggunakan teodolith. Kemiringan tanah diukur menggunakan selang plastik (water pass) dengan cara menarik salah satu ujung selang ke bagian tepi batas kemudian direntangkan sampai ke sisi lain yang akan diukur kemiringan tanahnya. Cara pengukuran ini dilakukan oleh dua orang untuk mempermudah pekerjaan. Permukaan air di kedua ujung selang menjadi batas tingkat kerataan tanah. Ukur permukaan air dari permukaan tanah pada kedua ujung selang. Selisih jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada satu sisi dengan jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada sisi lain merupakan tingkat kemiringan lahan. Lakukan sampai berapa kali di tempat lain untuk diambil rata-ratanya, kemudian dijumlahkan lalu dibagi jumlah titik pengukuran.

3. Pengamatan Lokasi Kolam Ikan

Pengamatan lokasi pembuatan kolam ikan diperlukan untuk mempermudah pembuatan sketsa konstruksi kolam ikan serta mempermudah pekerjaan pembuatan. Hal-hal yang perlu dilakukan disini adalah pengamatan terhadap jenis tanaman sekitar, bebatuan, serta saluran irigasi. Tanaman di sekitar lokasi lahan perlu diamati untuk menentukan apakah mau dipertahankan atau ditebang dengan melihat aspek nilai manfaatnya terhadap kolam ikan di kemudian hari. Saluran irigasi sangat penting pada pembuatan kolam ikan, karena menentukan pembuatan pintu masuk air sekaligus pintu keluarnya.

4. Membuat Sketsa Lokasi Kolam Ikan

Setelah melakukan beberapa langkah seperti di atas, langkah selanjutnya adalah membuat sketsa gambar sebelum melakukan pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pekerjaan pembuatan konstruksi. Hal-hal yang dijumpai di lapangan ketika melakukan pengamatan dituangkan dalam gambar sketsa.

5. Membuat Gambar Skema Konstruksi Kolam Ikan

Langkah selanjutnya adalah membuat gambar skema konstruksi kolam ikan disesuaikan ukuran dan luas lahan tersedia. Pembuatan gambar skema konstruksi harus lengkap dan detail, setiap bagian dalam gambar juga dibuatkan gambar tersendiri untuk memperjelas saat proses pembuatan kolam ikan. Contoh gambar skema konstruksi pembuatan kolam ikan dapat dilihat di bawah ini:

kolam ikan

Pembuatan gambar konstruksi pintu air kolam ikan, meliputi:
  1. Membuat gambar pintu masuk air.
  2. Membuat gambar pintu pembuangan air.

    kolam ikan
  3. Pintu pembuangan air model monik.

    kolam ikan
  4. Pintu pembuangan air dari bambu atau pipa PVC siku atau model “L”.

    kolam ikan

6. Penggalian Tanah dan Pembuatan Pematang atau Tanggul Kolam Ikan

Langkah cara membuat kolam ikan selanjutnya adalah melakukan penggalian terhadap tanah menggunakan peralatan seperti cangkul, linggis maupun lempak untuk memudahkan serta mempercepat pekerjaan. Penggalian tanah dengan memperhatikan skema gambar konstruksi yang sudah dibuat sebelumnya. Tanggul atau pematang harus kuat agar tanah tidak mudah longsor karena tanggul atau pematang kolam ini tidak hanya menampung air tetapi juga menahan tekanan air terutama saat terjadi hujan deras.

Pada pembuatan kolam tradisional (nonpermanen), pembuatan pematang atau tanggul kolam dengan cara memadatkan tanah galian. Agar tanggul lebih kuat, pembuatan tanggul jangan sekali jadi, harus dilakukan secara bertahap. Dalam membuat tanggul kolam ini, faktor tanah mempengaruhi tingkat kepadatan. Kekuatan tanggul atau pematang selain dipengaruhi oleh jenis tanah juga oleh lebar sempitnya ukuran tanggul. Semakin lebar ukuran tanggul akan semakin kuat meskipun dari sudut efisiensi penggunaan lahan kurang efisien.

Tanggul pembuatan kolam ikan semipermanen sama seperti pada cara membuat kolam ikan nonpermanen hanya saja permukaan dan bagian dinding kolam ditutup menggunakan mulsa PHP (mulsa palstik hitam perak). Penutupan mulsa PHP dilakukan sampai di dasar dinding kolam kemudian permukaan dasarnya ditutup lagi menggunakan tanah. Hal ini bertujuan menghindari terjadinya kebocoran akibat lubang tikus, kepiting maupun hama pengganggu lainnya. Sedangkan pada tanggul kolam secara permanen selain lebih kuat juga aman dari kebocoran atau rembesan akibat hama sawah karena kolam permanen terbuat dari dinding semen. Pembuatan tanggul atau pematang secara permanen sebetulnya lebih kuat, tetapi memerlukan biaya lebih banyak.

Beberapa contoh meembuat tanggul kolam ikan :
a. Membuat Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Datar
Pada contoh ini, tanggul dibuat dengan cara membuat timbunan tanah yang diambil dari masing-masing sisi dasar kolam. Tanah dasar kolam dicangkul secara merata, dan cangkulan tanah tersebut digunakan sebagai timbunan tanggul pada masing-masing sisi dengan pembagian secara merata.

b. Membuat Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Agak Miring
Pada contoh ini, tanggul dibangun menggunakan lapisan tanah permukaan dengan cara penimbunan dari setiap sisi lahan. Sisi lahan yang lebih rendah memperoleh timbunan tanah lebih banyak dibanding sisi lahan lebih tinggi. Misalnya, dua bagian dari tanah yang akan dijadikan kolam diangkat lalu diletakkan pada sisi lahan lebih rendah, sedangkan satu bagiannya diangkat lalu diletakkan pada sisi lahan lebih tinggi.

c. Membuat Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Miring
Pada contoh ini, tanggul dibuat dengan cara mencangkul salah satu sisi bagian dasar kolam ikan yang permukaannya lebih rendah. Kemudian tanah galian tersebut digunakan sebagai timbunan tanah yang berfungsi sebagai tanggul pada sisi kolam tersebut. Sedangkan sisi kolam yang memiliki permukaan lebih tinggi dengan sendirinya akan membentuk dinding, setelah dasar kolam digali.

Membuat Sumbatan
Sumbatan berfungsi memperkuat tanggul agar tidak mudah terjadi kebocoran. Sumbatan dibuat dari tanah liat berpasir yang dilumatkan. Waktu membuat sumbatan ini bersamaan dengan pembuatan tanggul kolam ikan. Beberapa peternak ikan kadang-kadang membuat sumbatan ini setelah tanggul selesai dibangun. Cara membuat sumbatan tanggul adalah dengan terlebih daahulu menggali lokasi atau tempat tanggul akan dibangun. Kedalaman galian tanah tersebut kurang lebih 0,25 m, lebar disesuaikan lebar tanggul yang akan dibangun di atasnya. Pada lubang galian tersebut, masukkan lumatan tanah liat berpasir (jawa=jledrogan) setinggi 50 cm. Setelah timbunan jledrogan tersebut agak keras, kemudian di atasnya pada bagian tengah, dengan ketebalan kurang lebih sepertiga bagian dari rencana lebar tanggul, ditambahkan lagi lumatan atau jledrogan tersebut setinggi kira-kira sebatas permukaan air kolam yang telah direncanakan.

Teknis pembuatan tanggul ini dibuat secara bertahap. Yaitu dengan terlebih dahulu membuat sumbatan bagian bawah setinggi 50 cm hingga selesai. Setelah sumbatan agak mengering dan keras maka tambahan sumbatan tersebut (berupa lumatan tanah berpasir seperti pada lumatan di bawahnya), bisa ditambahkan. Jika rencana lebar tanggul adalah 90 cm, maka ketebalan sumbatan bagian bawah juga 90 cm, dengan ketebalan sumbatan bagian atas 30 cm. Jika rencana ketinggian air dari dasar kolam 60 cm, maka ketinggian sumbatan bagian atas adalah 35 cm.

Setelah pembuatan sumbatan mengering, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penimbunan pada kedua sisi sumbatan bagian atas hingga membentuk tanggul setengah jadi. Demikian pembuatan sumbatan tanggul kolam telah selesai, seperti tampak pada gambar di bawah.

kolam ikan

kolam ikan

Setelah pembuatan tanggul selesai, untuk memperkuat tanggul agar tidak mudah terkikis oleh air, maka pada bagian sisi dalam tanggul bisa dipasang penguat terbuat dari pasangan batu kali atau batu bata yang pasang menggunakan campuran atau adukan semen dan pasir.

Jika merencanakan untuk membuat tanggul yang diperkuat dengan pasangan batu kali atau batu bata, maka pembuatan sumbatan pada tanggul tidak perlu dibuat. Pemasangan penguat tanggul dari pasangan batu kali atau batu bata ini sudah cukup kokoh, sehingga tanggul yang dibuat tidak perlu mengikuti aturan pembuatan tanggul seperti di atas. Bahkan begitu tanggul dipasang, tanpa menunggu tanah mengeras terlebih dahulu sudah bisa langsung dipasang penguat pada sisi bagian dalamnya.

Dengan pemasangan penguat dinding kolam menggunakan tembok ini, maka tanggul tidak perlu dibuat miring. Lebar penguat tanggul atau dinding kolam juga harus disesuaikan dengan komposisi campuran semen (PC) dan pasir. Semakin banyak komposisi PC dalam campuran, maka dinding semakin kuat, tetapi biaya untuk membuat penguat ini juga cukup besar. Sebagai komposisi standar

Tanggul tidak harus lebar di bagian bawah. Tebal maupun lebar tanggul penguat tergantung pada komposisi campuran semen (PC) dan komponen lain. Semakin banyak semen PC akan semakin kuat, hanya saja biayanya cukup besar. Patokan komposisi campuran material yang dapat digunakan sebagai referensi membuat dinding kolam adalah 1 semen dan 5 pasir, dengan ketebalan dinding kolam ideal 50 cm.

Dasar dinding penguat tanggul sedalam 30 cm di bawah permukaan dasar kolam. Dinding penguat yang dibuat dari pecahan bata penataannya harus dibuat sedemikian rupa sehingga permukaan yang menghadap ke kolam terlihat rata dan rapi.

Saat melakukan pemasangan pecahan batu atau batu bata, maka cara pemasangannya harus disusun sedikit sigsag saling berseberangan agar saling memperkuat posisi masing-masing pecahan batu maupun batu bata tersebut.

Bagi kolam yang potensi airnya terbatas atau minim, maka pembuatan dinding sebaiknya diperkuat oleh dinding tembok, menggunakan semen sebagai komposisi campuran dalam membuat dinding tembok. Selain itu, permukaan yang menghadap ke kolam juga perlu diplester agar bisa mengurangi rembesan air.

7. Membuat dan Pemasangan Perlengkapan Kolam Ikan

Pemasangan dan pembuatan pintu keluar maupun pintu masuk air dilakukan bersamaan saat membuat tanggul. Sebelum tanggul selesai dibuat, pintu masuk air dan saluran pembuangan, yang merupakan kesatuan dari dinding kolam, harus mulai dikerjakan agar proses pembuatannya lebih efisien.

Untuk mengoptimalkan fungsinya selama kegiatan pemeliharaan, kolam ikan perlu diberi pintu-pintu air. Disamping untuk memudahkan pemeliharaannya, pintu air berfungsi mengatur sirkulasi air di dalam kolam. Dilihat dari fungsinya, pintu air pada kolam ikan terdiri dari 2 macam, yitu pintu masuk dan pintu pembuangan atau saluran pembuangan. Standar teknis membuat kolam ikan ideal paling tidak memiliki satu pintu masuk air dan satu saluran pembuangan. Pintu masuk air berfungsi mengatur besar kecilnya debit air yang masuk ke dalam kolam. Sementara itu, pintu atau saluran pembuangan berfungsi mengatur ketinggian permukaan air kolam serta sebagai saluran menguras air saat dilakukan pengeringan maupun pemanenan.

Kolam ikan yang memiliki tanggul atau dinding kolam dari tanah serta tidak diperkuat menngunakan penguat dari pasangan batu atau batu bata, sebaiknya menggunakan pintu air terbuat dari PVC atau bambu, agar saat ingin melakukan perbaikan, saluran air tersebut tidak terlalu mahal untuk diganti. Selain itu, cara pemasangan pintu air dari PVC maupun bambu ini boleh dibilang mudah, yaitu cukup membenamkan bagian tengah PVC atau bambu ke dalam dinding atau tanggul. Kedua ujungnya dibiarkan terbuka, posisi mendatar serta sejajar permukaan saluran sumber air. Salah satu ujung PVC atau bambu tersebut dibuat mencuat di atas permukaan kolam.

Untuk pemasangan pintu pengeluaran atau saluran pembuangan pada kolam ikan tidak berbeda jauh dengan pemasangan pintu pemasukan air. Saluran pembuangan dibuat sebanyak dua buah. Saluran pembuangan pertama berfungsi sebagai saluran pengurasan air yang dipasang di bawah permukaan dasar kolam atau sejajar permukaan caren. Saluran pembuangan kedua berfungsi sebagai pintu keluar air dan pengatur ketinggian permukaan kolam. Pemasangan saluran pembuangan kedua ini ditentukan berdasarkan rencana ketinggian permukaan air kolam. Cara pembuatan kedua saluran pembuangan ini sama dengan pemasangan pada pintu masuk air, yaitu membenamkan pipa PVC atau bambu ke dalam tanggul.

Pintu pembuangan air dari pipa PVC dapat dibuat dua model. Model pertama dibuat seperti pintu air dari bambu, dan model kedua dipasang dengan posisi mendatar pada kolam. Ujung pipa yang satu mencuat di bagian dalam pematang tepat di dasar kolam dan ujung lainnya mencuat di luar tanggul. Ujung pipa PVC yang mencuat di luar tanggul disambung menggunakan pipa siku serta disambung lagi dengan potongan pipa PVC setinggi tanggul kolam. Bila dilihat secara utuh, model pintu pengeluaran ini tampak seperti huruf L. Keuntungan pintu air model ini adalah dapat diputar ke kiri atau ke kanan sehingga ujung luar pipa posisinya dapat diatur tegak atau miring. Dengan mengatur kemiringan pipa pengeluaran air ini, kedalaman air kolam dapat diatur sesuai kehendak.

Jumlah dan ukuran pintu keluar air disesuaikan dengan kapasitas air masuk. Minimal jumlah maupun ukuran pintu sama dengan jumlah pintu masuk air. Biasanya kolam yang cukup luas mempunyai dua buah atau lebih pintu masuk maupun pintu keluar air. Letak pintu air ini disesuaikan pula dengan bentuk kolam maupun letak sumber air ataupun saluran pembuangan. Letak pintu masuk dan pembuangan air ideal adalah bersilangan. Bila pintu masuk terletak di bagian depan sisi kanan, maka pintu pembuangannya berada di bagian belakang sisi kiri.

Pada kolam ikan dengan tanggul atau dinding permanen, pintu pemasukan dibuat dengan cara membuat cekungan atau dalam Bahasa Jawa coakan pada dinding kolam yang berada tepat pada saluran sumber air. Pada cekungan atau coakan tersebut diberi jeruji bersi yang dipasang secara berjajar ke samping atau ke atas. Jarak antar jeruji besi disesuaikan kebutuhan. Untuk menghindari masuknya hama ikan lele, pada sisi yang menghadap arah aliran air masuk dipasang saringan dengan kerapatan sesuai kebutuhan. Pemasangan saringan maupun jeruji besi ini juga berfungsi sebagai penahan sampah atau kotoran yang masuk ke dalam kolam.

Jeruji besi dapat diganti menggunakan kawat yang dianyam serta diberi bingkai bambu sebagai saringan. Pemasangan saringan pada pintu ini harus diberi patok di sisi dalam cekungan agar cukup kuat menahan aliran air atau sampah yang terangkut. Patok ini dipasang pada sisi tegak serta masing-masing dipasang minimal 2 patok berseberangan. Pada cekungan ini dapat pula dibuat cekungan lagi dengan posisi membujur searah dengan posisi tanggul untuk menancapkan saringan air.

Model pintu air lain yang juga cukup dikenal di masyarakat adalah pintu air sistem monik. Pintu air sistem monik ini dapat diaplikasikan untuk pintu pemasukan dan pintu pembuangan. Selain dapat mempermudah kegiatan pengurasan, pintu air sistem monik ini pun memiliki fungsi sangat besar, terutama untuk menjaga kualitas air agar tetap dalam kondisi baik.

Pintu air model monik dibuat secara permanen dari pasangan batu bata, dan bangunan utamanya dibuat mirip dengan pintu masuk pada tanggul permanen. Bedanya pada pintu model monik adalah celah penyekat dibuat lebih dari satu, dimana celah penyekat berfungsi untuk menempatkan papan-papan kayu yang disusun bertumpuk. Dengan cara ini, aliran air masuk maupun keluar dapat diatur. Demikian pula ketika melakukan pengurasan kolam untuk panen tidak perlu merusak pintu air, tetapi cukup melepas papan-papan penyekatnya saja. Untuk mengeluarkan sampah pun cukup dengan membuka salah satu potongan papan penyekat paling atas, sehingga tidak perlu masuk ke dalam kolam.

Membuat pintu monik pada tanggul tanah maupun permanen tidak berbeda. Pintu air ini berdiri tegak dari dasar kolam sampai permukaan tanggul.
Saringan pada pintu air model monik dipasang di bagian bawah pelapis kayu pada sekat sisi dalam atau bagian atas pelapis kayu sisi luar. Untuk mempermudah pengambilan sampah kolam dan menyumbat aliran air, sebaiknya saringan dipasang di bagian atas dari pintu air yang berada di sisi luar. Berbeda dengan pemasangan saringan pada pintu air dari bambu atau pipa PVC, saringannya dipasang di bagian depan sesuai arah aliran air.

Perangkat lain yang harus tersedia pada kolam ikan adalah caren atau kemalir. Caren merupakan saluran atau parit yang dibuat di dasar kolam dengan cara menggali tanah di dasar kolam dengan ukuran serta bentuk yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuk konstruksi kolam. Dalam konstruksi kolam, caren memiliki fungsi mempermudah pemanenan atau penangkapan ikan saat melakukan kegiatan panen. Selain itu, tidak kalah pentingnya bahwa keberadaan caren ini sekaligus sebagai tempat penimbunan endapan lumpur maupun sisa-sisa pakan ikan serta sebagai pengatur sirkulasi air di dasar kolam ikan. Kebanyakan peternak ikan belum memahami fungsi teknis dari keberadaan caren ini sehingga mereka membuat caren atau kemalir secara sembarangan. Bahkan para ahli perikanan pun kebanyakan beranggapan bahwa membuat caren ini hanya berfungsi mempermudah penangkapan ikan saat dilakukan kegiatan panen.

Dari segi teknis, dalam konstruksi kolam ikan, caren merupakan saluran yang berperan sebagai penyambung fungsi pintu masuk air dengan saluran pembuangan. Salah satu ujung parit berfungsi sebagai muara pintu masuk air sedangkan ujung lainnya bermuara ke pintu pembuangan. Agar pembuatan caren tidak mengalami kesulitan saat dikerjakan di lahan, sebelumnya perlu dibuatkan gambar konstruksi terlebih dahulu. Bagaimana stuktur pintu masuk air serta bagaimana arah dan bentuk caren yang akan dibuat.

Untuk kolam ikan yang memiliki pintu pemasukan air lebih dari satu buah, maka jumlah caren yang dibutuhkan juga sama dengan jumlah pintu air tersebut. Caren dibuat dengan arah menyesuaikan keberadaan pintu air pada kolam ikan. Sementara itu, ukuran caren menyesuaikan ukuran kolam, kurang lebih 10% dari luas kolam. Berikut ini beberapa gambaran mengenai ukuran caren pada kolam ikan.
  • Untuk luas kolam 100 m², maka luas caren ideal adalah 5 m²
  • Untuk luas kolam1.000 m², maka luas caren ideal adalah 50 m²
  • Untuk luas kolam 10.000 m², maka luas caren ideal adalah 1.000 m²

ARTIKEL POPULER