Tampilkan postingan dengan label IKAN GURAMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IKAN GURAMI. Tampilkan semua postingan

CARA PENDEDERAN IKAN GURAMI

Cara Pendederan Ikan Gurami – Pendederan merupakan kegiatan budidaya ikan gurami setelah fase pembibitan hingga mencapai ukuran tertentu. Kegiatan pendederan ini dilakukan untuk memelihara benih ikan gurami berukuran 5-8 cm dengan berat 50 gram menjadi benih berukuran 8-12 cm dengan ukuran 100 gram. Waktu yang dibutuhkan dalam kegiatan pendederan berlangsung kurang lebih selama tiga bulan. Usaha budidaya pendederan bisa dilakukan di kolam pendederan, bak atau tangki, sangkar, maupun karamba jaring apung.

Cara Pendederan Ikan Gurami Di Kolam

Kolam tempat pendederan berukuran 50-200 m², kedalaman air antara 60-80 cm serta debit air 10 liter per menit dengan padat penebaran 5 ekor per m². Pemberian pakan buatan sebanyak 2% dari bobot total per hari yang diberikan setiap pagi, siang dan sore hari. Sedangkan pakan hijauan diberikan sebanyak 5% dari bobot total per hari dan diberikan setiap pagi hari saja. Tingkat kematian pada teknik pendederan ini kurang lebih 10% dari populasi ikan, atau survival rate 90%.

Cara Pendederan Ikan Gurami Dalam Bak




Selain kolam, pendederan dapat juga dilakukan di dalam bak dari beton, fiber, maupun terpal. Ukuran bak disesuaikan dengan mempertimbangkan kemudahan pemeliharaan. Agar serangan hama bisa lebih dikendalikan, sebaiknya bak pemeliharaan ditutup menggunakan jaring. Sebaiknya bak dibuat di lokasi terlindung dari sinar matahari langsung agar perubahan suhu antara siang dan malam tidak terlalu tinggi. Selain itu, di lingkungan yang teduh juga dapat memacu pertumbuhan plankton sebagai pakan alami benih ikan.

Populasi penebaran benih kurang adalah 10 ekor/m² dan kedalaman air kolam kurang lebih 100 cm. Pemberian pakan tambahan berupa pelet atau pakan pabrik dilakukan setiap hari, yaitu pagi, siang, dan sore hari sebanyak 3% dari bobot total. Sementara pemberian pakan hijauan sama seperti pada pendederan di dalam kolam. Penambahan pakan alami jika mudah didapat juga bisa dilakukan untuk menambah serapan nutrisi. Pakan alami yang bisa diberikan antara lain Azolla, Lemna, maupun Daphnia. Penggantian air dalam bak pemeliharaan minimal 10% dari volume air serta dilakukan setiap hari. Jika lingkungan dan suhu mendukung, resiko kegagalan pada teknik pendederan ini hanya 5% dari total populasi.

Cara Pendederan Ikan Gurami Di Dalam Sangkar

Sangkar merupakan wadah yang terbuat dari anyaman bambu dengan ukuran lubang anyaman tidak lebih dari ukuran benih ikan gurami yang akan di tebar. Sangkar dibuat dengan ukuran panjang 2 meter, lebar 1 meter, dan tinggi 1 meter.

Sangkar ditempatkan di waduk atau danau atau sungai dengan aliran air pelan. Posisi sangkar mengapung di atas perairan. Kepadatan penebaran benih ikan gurami antara 100-200 ekor per m². Pemberian pakan buatan sebanyak 3% dari bobot total dilakukan setiap hari. Frekuensi pemberian pakan semakin sering semakin baik, agar dapat mengurangi jumlah pakan yang terbuang. Resiko kematian sekitar 10 persen dari populasi awal. Keuntungan sistem pendederan ini adalah populasi penebarannya bisa sangat tinggi, sehingga penggunaan waktu budidaya lebih efisien.

Cara Pendederan Ikan Gurami Di Karamba Jaring Apung

Karamba Jaring Apung merupakan wadah dan sistem budidaya yang paling produktif dibanding dengan wadah pemeliharaan lain. Karamba jaring apung mini berukuran 1 x 1 x 1 meter dapat digunakan untuk menampung benih ikan gurami sebanyak 300-500 ekor. Teknis pemeliharaan tidak berbeda jauh dengan pemeliharaan sistem sangkar. Keuntungan menggunakan Karamba Jaring Apung adalah populasi penebaran ikan cukup tinggi. Selain itu, pemanenan benih dapat dilakukan berkala berdasarkan ukuran. Dengan demikian, keseragaman ukuran dapat dicapai saat pemanenan.

PERAWATAN BENIH IKAN GURAMI SETELAH PROSES PENETASAN

Perawatan Benih Ikan Gurami Setelah Proses Penetasan – Setelah proses penetasan berhasil dengan baik, langkah selanjutnya adalah perawatan benih atau larva. Benih ikan gurami yang baru saja menetas masih sangat rentan terhadap berbagai gangguan baik internal yang dipengaruhi oleh perkembangan biologi maupun eksternal yang dipengaruhi oleh cuaca, hama, penyakit, maupun makanan. Pada tahap ini, benih masih dalam fase kritis, sehingga membutuhkan perawatan serius agar angka kematian tidak begitu tinggi. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perawatan benih atau larva ikan gurami.

Pemberian Pakan Alami dan Pakan Buatan Pada Benih Ikan Gurami

Setelah menetas, larva masih bisa bertahan hidup dari cadangan kuning telur yang menempel pada tubuhnya hingga berumur kurang lebih satu minggu. Setelah itu, larva perlu mendapatkan pakan tambahan untuk menopang pertumbuhannya. Pakan tambahan yang paling sesuai dengan ukuran bukaan multnya yang masih kecil adalah pakan alami, baik berupa Moina maupun Daphnia. Pemberian pakan alami sebanyak 100-200 persen dari total bobot benih. Selain pakan alami, dapat juga diberikan pakan tambahan berupa pakan buatan. Jika diberikan pakan buatan, maka komposisi pakannya adalah 75% pakan alami dan 25% pakan tambahan. Pakan tambahan harus diberikan dalam bentuk tepung yang sangat halus.

Vaksinasi Pada Benih Atau Larva Ikan Gurami

Vaksinasi diberikan setelah larva berumur lebih dari dua minggu. Jenis vaksin yang diberikan misalnya Septicaemia haemorrhagica untuk menanggulangi penyakit bercak merah akibat infeksi bakteri Aeromonas hydrophila. Pemberian vaksin dilakukan dengan merendam benih dalam larutan selama 30 menit. Konsentrasi larutan 1 ml per 10 liter air. Vaksinasi tersebut mampu memberikan kekebalan selama empat bulan.

Gunakan Sumber Air Bersih Dan Sehat Selama Pemeliharaan Benih




Penggunaan air bersih dan sehat bertujuan untuk menghindari serangan hama maupun penyakit. Beberapa sumber air bersih yang dapat digunakan antara lain mata air, air sumur, atau air hujan. Selain menggunakan air tersebut, dapat juga menggunakan air sungai yang sudah melalui proses penyaringan. Pembuatan saringan secara berlapis dari bagian bawah ke atas yaitu ijuk, pasir, kerikil, dan batu. Sebagai ilustrasi, berikut kami sajikan gambar bak penyaring.

Kolam penyaring atau pengendapan

Sistem Aerasi

Aerasi bertujuan untuk menambahkan oksegen terlarut ke dalam baskom atau wadah pemeliharaan. Perlu diingat, bahwa larva atau benih ikan gurami yang baru menetas sangat rentan terhadap kekurangan oksigen. Oleh karena itu, diperlukan sistem areasi yang baik. Sistem aerasi bisa dilakukan dengan memasang aerator ke dalam baskom atau wadah pemeliharaan. Aerator hanya diaktifkan pada kondisi-kondisi tertentu, misalnya menjelang matahari terbit atau pada saat cuaca mendung. Hal ini perlu diperhatikan mengingat larva atau benih ikan gurami juga rentan dengan pemberian oksigen yang berlebihan.

Pemberian Naungan Atau Atap Pada Tempat Pemeliharaan

Faktor cuaca sangat mempengaruhi tingkat kehidupan (survival rate) larva atau benih ikan gurami, apalagi jika terjadi fluktuasi sangat tajam sehingga membahayakan kehidupan benih. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi perubahan cuaca tersebut, benih perlu dipelihara pada tempat beratap.

Perlu diketahui, bahwa suhu tubuh ikan akan selalu menyesuaikan suhu perairan disekitarnya, yaitu sekitar 5°C lebih tinggi. Kemampuan ikan menyesuaikan suhu tubuhnya dengan perairan disekitarnya juga tidak lebih dari 5°C. Apabila terjadi perubahan suhu perairan di atas 5°C, ikan sudah tidak mampu lagi menyesuaikan suhu tubuhnya. Dengan demikian, perubahan suhu perairan yang terlalu tinggi dapat membahayakan keselamatan ikan.

Fungsi lain pemasangan atap juga untuk menghindari jatuhnya air hujan langsung ke permukaan air tempat pemeliharaan benih. Larva ikan gurami idealnya berada di lapisan atas air. Sementara jatuhnya air hujan ke permukaan air akan menghalangi pergerakan larva ke lapisan atas air. Oleh karena itu, dengan pemeliharaan di tempat beratap, dapat menghindari stress pada larva akibat tidak mampu berenang ke lapisan atas pada saat musim hujan.

CARA PENETASAN TELUR IKAN GURAMI

Cara Penetasan Telur Ikan Gurami – Setelah melalui proses pemijahan, fase selanjutnya adalah penetasan telur. Kegiatan penetasan telur ikan gurami dapat dilakukan di dalam kolam pemijahan, kolam penetasan, maupun baskom. Namun, untuk kegiatan budidaya secara intensif, proses penetasan telur ikan gurami sebaiknya dilakukan di dalam baskom.

Penetasan Telur Ikan Gurami Di Kolam Pemijahan

Dengan cara ini, penetasan telur dilakukan tanpa memindah induk ikan gurami dari dalam kolam pemijahan. Keberadaan induk sangat diperlukan untuk menjaga sarang dan larva setelah menetas. Di sekitar sarang diberi potongan-potongan ranting sebagai pelindung dari hujan dan sinar matahari, serta tempat menempelnya larva setelah menetap. Potongan ranting dipasang sedemikian rupa, terutama pada bagian atas sarang.

Setelah menetas, larva dipelihara selama satu bulan di kolam tersebut. Selama masa pemeliharaan, larva riberi pakan berupa rayap, tepung bungkil kacang tanah, dan tepung konsentrat. Kerugian cara penetasan ini, kolam pemijahan tidak bisa segera dilakukan untuk melakukan kegiatan selanjutnya. Hal ini tentu akan menghambat proses produksi.

Penetasan Telur Ikan Gurami Di Kolam Penetasan Khusus

Kolam penetasan dibuat tidak terlalu lebar, karena hanya digunakan untuk memelihara larva hingga ukuran tertentu. Untuk empat buah sarang, dibutuhkan kolam dengan ukuran kurang lebih 3 x 5 m. Persiapan kolam sama seperti persiapan pada kolam pemijahan. Berikut ini langkah-langkah penetasan telur:
  1. Dasar kolam dilapisi kerikil pengikat lumpur, sehingga selama proses penetasan dan pemeliharaan, telur maupun larva tidak terbungkus oleh lumpur.
  2. Kolam ditebari dengan pupuk kandan sebanyak 3 kg/m² kurang lebih dua minggu sebelum digunakan.
  3. Pengisian air sedalam 30 cm, serta debit air cukup 1 liter/menit.
  4. Sarang ditempatkan di dasar kolam, biasanya telur akan menetas setelah tiga hari.
  5. Benih diberi pakan berupa tepung, bisa dari tepung bungkil kacang, tepung konsentrat, atau bisa juga dedak. Selain itu, pemberian pupuk kandang juga akan menumbuhkan pakan alami berupa plankton.
  6. Pemeliharaan benih ikan gurami dilakukan selama satu bulan setelah menetas.

Penetasan Telur Ikan Gurami Di Dalam Baskom




Baskom yang digunakan sebagai tempat penetasan terbuat dari fiber, karet, atau bahan plastik. Ukuran baskom kurang lebih berkapasitas 20 liter air. Baskom-baskom tersebut ditempatkan di atas bangku atau meja setinggi 50 cm di atas permukaan tanah kemudian dibuatkan naungan atau atap.

Setelah baskom diisi air hingga ketinggian 15 cm dari dasar baskom, kemudian angkat sarang yang telah ditutup oleh induk gurami jantan dengan hati-hati, agar telur tidak bertaburan keluar dari dalam sarang. Masukkan sarang ke dalam baskom dengan cara ditebar merata. Untuk setiap liter air, dapat menampung kurang lebih 1.000 butir telur.

Penggantian air dalam baskom dialkukan setiap hari, dengan teknik sifon untuk membuang airnya. Selang yang digunakan untuk menyifon diberi penyaring dari kain halus, agar letur tidak ikut terangkat. Penyifonan dilakukan hingga air dalam baskom tersisa 60 persen, kemudian diisi kembali dengan air bersih.

Pemasangan instalasi aerator pada setiap baskom penetasan untuk memberikan suplai oksigen dalam air. Tekanan aerator dibuat tidak terlalu tinggi, sehingga massa air hanya terlihat bergerak pelan.

Setelah tiga hari, telur akan menetas, dan larva akan menempel pada ijuk. Kuning telur sebagai cadangan makanan larva akan habis dalam waktu kurang lebih satu minggu. Setelah kuning telur habis, larva diberi pakan berupa Moina secukupnya, kurang lebih 200-300 persen dari berat total. Pemeliharaan larva dilakukan hingga bermur 12 hari. Setelah berumur 12 hari, larva memiliki berat 10 mg per ekor. Survival rate pada tahap ini mencapai 90%

Perawatan selanjutnya dilakukan dalam wadah lebih besar. Kepadatan benih kurang lebih 10 ekor/liter air. Pemeliharaan benih ini dilakukan selama satu bulan, sehingga benih sudah memiliki berat 100 mg per ekor. Selama dalam pemeliharaan, benih diberi pakan Moina atau Branchionus. Survival rate pada tahap pemeliharaan ini mencapai 60%.

Setelah mencapai bobot 100 gram, benih dipindahkan pada wadah lebih besar lagi dengan kepadatan 6 ekor per liter air. Pakan yang diberikan berupa Moina dan pakan buatan pabrik dalam bentuk tepung. Pemberian pakan sebanyak 10% dari total bobot ikan. Pemeliharaan dilakukan selama dua bulan, sehingga mencapai bobot 500 mg per ekor.

CARA PEMIJAHAN IKAN GURAMI

Cara Pemijahan Ikan Gurami – Keberhasilan perbanyakan atau pengadaan benih ikan gurami tidak terlepas dari teknik atau cara pemijahan yang benar. Beberapa kegiatan dalam proses pemijahan antara lain penangkapan induk, pemberian tanda pada induk, pemindahan induk ke kolam pemijahan, hingga proses berlangsungnya pemijahan atau perkawinan.

Penangkapan Induk Ikan Gurami

Penangkapan induk dimaksudkan untuk mengetahui induk-induk ikan gurami yang sudah memasuki fase matang gonad. Penangkapan ini dilakukan setelah kolam pemijahan selesai dipersiapkan. Induk ditangkap seekor demi seekor menggunakan tangguk, kemudian diamati tingkat kematangan donadnya tanpa mengangkat dari dalam air. Agar tidak menimbulkan stress berlebihan pada induk, penangkapan harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan sampai induk terjatuh, karena akan berakibat tidak mau memijah meskipun sudah matang gonad.

Pemindahan Induk

Setelah dilakukan penangkapan sekaligus seleksi induk, kemudian induk-induk tersebut dimasukkan ke dalam kolam pemijahan. Pemindahan dilakukan dengan hati-hati agar induk ikan gurami tidak stress. Cara pemindahan dapat dilakukan menggunakan ember atau wadah yang diisi air secukupnya. Sebaiknya air tidak terlalu penuh agar ikan gurami tidak melompat keluar. Taruh ikan gurami hasil seleksi pada wadah tersebut, kemudian segera di bawa ke kolam pemijahan. Cara memasukkan induk ke dalam kolam pemijahan beserta wadahnya. Pelan-pelan wadah dicelupkan ke dalam kolam, kemudian dimiringkan. Biarkan induk ikan gurami keluar sendiri dari dalam wadah. Dengan cara demikian, induk ikan gurami akan cepat beradaptasi dengan lingkungan perairan di kolam pemijahan.

Proses Pemijahan




Secara alamiah, induk ikan gurami jantan akan membuat sarang untuk proses pemijahan. Aktivitas pembuatan sarang tersebut dilakukan pada 15-20 hari setelah penebaran. Proses pembuatan sarang biasanya memakan waktu selama kurang lebih satu minggu. Tetapi pada proses pemijahan ini, sarang sudah dibuat terlebih dahulu sehingga sudah tersedia dalam kolam pemijahan. Karena sarang sudah tersedia, induk ikan gurami jantan hanya perlu untuk memeriksa sarang, apakah sarang tersebut siap digunakan untuk proses pemijahan atau tidak. Jika belum siap, induk jantan akan memperbaiki sarang tersebut seperlunya. Hal ini akan menghemat waktu pemijahan, sehingga proses budidaya dapat dipercepat. Setelah sarang siap digunakan untuk pemijahan, induk ikan jantan akan berputar-putar di sekitar sarang, terutama dilakukan di depan mulut sarang, yang bertujuan untuk memamerkan keindahan tubuhnya melalui gerakan-gerakan tertentu. Sesekali, ikan gurami jantan juga akan mencoba menggiring induk ikan gurami betina agar mendekati mulut sarang. Aktivitas ini disebut dengan prapemijahan, biasanya memakan waktu dua hingga tiga hari.

Setelah melalui proses prapemijahan, aktivitas selanjutnya adalah pemijahan. Aktivitas pemijahan ikan gurami terjadi di depan mulut sarang. Setelah induk betina memijah, selanjutnya induk ikan gurami jantan melakukan pembuahan. Pembuahan terjadi di dalam sarang. Sisa-sisa telur yang belum menempel di sarang, atau masih tercecer di benda-benda lain, akan disedot oleh ikan gurami jantan, kemudian disemprotkan ke dalam sarang. Selama berlangsung proses pemijahan, akan timbul bau amis dan bintik-bintik menyerupai minyak di permukaan air. Tanda atau indikasi tersebut menunjukkan bahwa proses pemijahan berhasil. Jika belum nampak tanda-tanda tersebut, maka sarang bisa ditusuk secara perlahan menggunakan kayu atau alat lain, sehingga akan muncul butiran-butiran menyerupai minyak di atas permukaan air. Harap diperhatikan, bawa penusukan sarang untuk memastikan apakah proses pemijahan berhasil atau tidak harus dilakukan dengan hati-hati, agar tidak melukai telur yang menempel pada sarang. Proses pemijahan tersebut terjadi berulang-ulang hingga telur induk ikan gurami betina habis. Pada umumnya, proses ini berlangsung selama 2-3 hari.

Setelah proses pemijahan selesai, induk ikan gurami jantan akan menutup sarang, selanjutnya akan menjaga sarang tersebut hingga telur menetas. Penjagaan sesekali juga dilakukan oleh induk ikan gurami betina.

PERSIAPAN KOLAM PEMIJAHAN IKAN GURAMI

Persiapan Kolam Pemijahan Ikan Gurami – Kolam merupakan salah satu sarana utama dalam kegiatan agribisnis perikanan. Keberhasilan proses pemijahan ikan gurami tidak terlepas dari kesiapan teknis kolam pemijahan yang digunakan. Untuk kegiatan pemijahan ikan gurami, persiapan kolam dilakukan lebih spesifik, dibanding dengan kolam pemeliharaan ikan lainnya. Ukuran kolam sebaiknya tidak terlalu luas, cukup 20-25 m², kedalaman air 1-1,25 cm. Persiapan kolam pemijahan ini dilakukan pada saat induk-induk ikan gurami, baik jantan maupun betina sudah memasuki fase matang gonad. Beberapa kegiatan dalam persiapan kolam pemijahan antara lain pembersihan dan perbaikan pematang atau dinding kolam, pengeringan kolam, serta pembuatan sarang.

Pembersihan Dan Perbaikan Dinding Kolam

Pembersihan dilakukan dengan menyiangi rumput-rumput yang ada di dinding kolam. Pembersihan tersebut bertujuan agar dinding tidak dijadikan sebagai sarang hama ikan gurami, seperti ular. Rumput-rumput di dasar kolam yang tidak terlalu tinggi dibiarkan tumbuh, karena bisa menjadi makanan hijauan ikan gurami. Dinding kolam yang rusak atau bocor juga harus diperbaiki agar air kolam tidak surut (tetap stabil). Kebocoran dinding kolam biasanya diakibatkan oleh kepiting, sehingga pada saat melakukan perbaikan usahakan untuk menangkap kepiting yang membuat sarang di tempat terjadinya kebocoran.

Pengeringan Kolam

Selain pembersihan, kolam juga harus dikeringkan agar bibit-bibit penyakit di dalam kolam terkena sinar matahari, sehingga populasinya tidak terlalu tinggi. Pada saat melakukan pengeringan, sebaiknya dasar kolam juga ditaburi dengan kapur dolomit untuk menetralkan pH air. Pengapuran jangan terlalu banyak, cukup ditebar tipis-tipis saja. Selain untuk mengurangi populasi penyakit, pengeringan juga bertujuan untuk menghilangkan gas-gas beracun yang berpotensi membahayakan ikan. Jika kondisi cuaca tidak hujan atau musim kemarau, pengeringan cukup dilakukan selama enam hari. Tetapi jika musim hujan, pengeringan kolam dilakukan selama empat belas hari.

Pembuatan Sarang




Secara alamiah, pada saat menjelang pemijahan, ikan gurami jantan akan membuat sarang dengan bentuk menyerupai sarang burung. Biasanya terbuat dari rumput-rumput kering yang diperoleh di sekitar perairan. Sarang tersebut digunakan sebagai tempat untuk meletakkan telur. Tetapi, dalam praktik agribisnis budidaya ikan gurami secara intensif, untuk mempercepat proses pemijahan dibutuhkan sarang buatan. Petani atau pembudidaya biasanya membuat sarang pemijahan menggunakan bahan ijuk. Sebelum digunakan sebagai bahan sarang buatan, ijuk terlebih dahulu dicuci bersih kemudian dikeringkan. Pengeringan bertujuan untuk mengurangi bibit penyakit yang menempel pada ijuk. Ijuk dibuat menyerupai sarang burung, berbentuk membulat dengan diameter kurang lebih 20 cm. Setelah siap, sarang dipasang pada patok bambu dengan kedalaman 20-30 dari dasar kolam. Letakkan sarang tersebut agak jauh dari tanggul sehingga hama tidak mudah menyerang. Pemasangan sarang dilakukan dengan mulut sarang menghadap ke samping.

Pengisian Air

Setelah semua persiapan kolam selesai, lakukan pengisian air sedalam 60-80 cm dari dasar kolam. Ketinggian air kolam tersebut tetap dipertahankan hingga menjelang pemijahan. Memasuki proses pemijahan, ketinggian air kolam dinaikkan menjadi 1-1,25 cm dari dasar kolam. Air kolam tetap dalam kondisi mengalir agar suplai oksigen tetap terjaga, sehingga kebutuhan oksigen induk ikan gurami tetap terpenuhi.

Setelah semua proses di atas selesai, kolam telah siap digunakan sebagai tempat pemijahan. Sebaiknya segera dilakukan proses pelepasan induk, agar kolam bisa langsung berfungsi. Hal tersebut bertujuan agar kualitas kolam pemijahan masih dalam kondisi baik dan menghemat waktu budidaya.

MEMILIH INDUK IKAN GURAMI

Memilih Induk Ikan Gurami – Agar kegiatan agribisnis budidaya ikan gurami dapat menghasilkan keuntungan yang optimal, sebaiknya kegiatan tersebut harus ditopang dengan induk ikan gurami yang berkualitas baik. Oleh karena itu, sebagai pembudidaya, harus memiliki ketelitian saat menentukan indukan yang akan digunakan dalam produksi ikan gurami.

Kriteria Memilih Induk Ikan Gurami

Ada beberapa parameter atau kriteria yang harus dipenuhi saat memilih induk untuk menghasilkan benih atau larva ikan gurami yang berkualitas. Tentu saja, induk yang baik akan menghasilkan larva yang berkualitas baik pula.

Secara umum, calon induk ikan gurami harus memenuhi kriteria kualitas induk, diantaranya adalah warna mulus dan tidak pucat, badan tampak bersih dan mengkilap, serta memiliki gerakan yang lincah dan gesit. Ikan gurami yang memiliki kriteria tersebut menunjukkan kesehatan fisiknya yang cukup. Ikan gurami tersebut merupakan calon induk yang harus dipelihara secara terpisah di kolam lain. Padat penebaran di kolam pemeliharaan calon induk adalah tiga ekor per meter persegi, yang terdiri dari dua ekor ikan gurami betina dan satu ekor ikan gurami jantan. Dalam kolam pemeliharaan induk ini, ikan gurami diberi perlakuan yang sedikit berbeda, terutama pada pemberian pakannya. Berikan pakan yang mengandung protein lebih tinggi dibanding dengan kolam pemeliharaan ikan gurami bukan calon induk. Selain itu, pakan hijauan dari dedaunan juga harus ditambah agar pertumbuhan ikan semakin baik.

Perlu diperhatikan, bahwa induk ikan gurami yang masih muda belum menghasilkan anakan yang memuaskan, baik kualitas maupun kuantitasnya. Oleh karena itu, ada baiknya ikan gurami calon induk yang masih mudah dipisahkan terlebih dahulu, hingga cukup umur untuk melakukan pemijahan.

Umur ideal untuk induk ikan gurami betina adalah 5-10 tahun. Jika terlalu muda, di bawah lima tahun, atau terlalu tua, di atas sepuluh tahun, maka telur yang dihasilkan tidak akan banyak. Sedangkan induk ikan gurami jantan yang ideal adalah berumur 2-3 tahun. Jika terlalu muda atau terlalu tua, maka ikan gurami jantan tidak akan menghasilkan sperma yang cukup banyak, sehingga pembuahan tidak berjalan sempurna. Oleh karena itu, faktor umur sangat menentukan kualitas induk ikan gurami yang akan dipijahkan.

Untuk membedakan induk ikan gurami betina dan jantan, terdapat beberapa perbedaan fisik yang dapat diamati. Untuk induk ikan gurami betina, beberapa ciri fisik yang bisa diamati antara lain, tidak memiliki cula pada dahinya, dagu terlihat rata atau tidak menonjol, tutup insang berwarna putih kecokelatan, pangkal sirip dada berwarna agak hitam atau gelap, ujung sirip ekor lebih cembung atau cenderung membulat, perut lebih membundar.

Sedangkan induk ikan gurami jantan dapat dilihat dengan ciri-ciri fisik sebagai berikut: memiliki cula pada dahinya, dagu terlihat menonjol sehingga bibir bawah tampak lebih ke depan, tutup insang berwarna kekuningan, pangkal sirip dada berwarna putih atau lebih terang dibanding induk betina, ujung sirip ekor tidak membulat atau tampak rata, dan perut yang meruncing.

Ciri-ciri fisik tersebut dapat dijadikan pedoman saat menghitung jumlah induk jantan dan betina yang akan dipelihara pada kolam pemeliharaan induk. Pisahkan induk jantan dan betina terlebih dahulu, kemudian masukkan dalam satu kolam dengan perbandingan dua betina dan satu jantan. Yang juga perlu diperhatikan, padat penebaran jangan sampai melebihi tiga ekor per meter persegi.

Merawat Induk Ikan Gurami




Induk maupun calon induk jantan dan betina harus dipelihara di kolam yang berbeda. Pemisaan ini bertujuan untuk menghindari terjadinya pemijahan liar, mengatur pasangan induk atau calon induk, serta proses pematangan gonad berlangsung lebih baik. Selain itu, proses pemisaan pemeliharaan induk juga bermanfaat untuk menetapkan waktu pemijahan secara teratur. Kelemahan pemeliharaan induk yang dilakukan secara terpisah adalah memerlukan kolam pemeliharaan yang lebih banyak.

Sebaiknya kolam pemeliharaan dibuat tidak terlalu luas kurang lebih 25 m², agar memudahkan proses penanganan dan pemeliharaan. Ketinggian air kolam antara 80-100 cm. Debit air yang ideal adalah 10 liter/menit. Dengan debit air tersebut, kotoran atau sisa pakan yang mengendap di dasar kolam akan terbuang. Kepadatan penebaran untuk induk betina kurang lebih 2-3 ekor per meter persegi, sehingga pemberian pakan bisa lebih merata dan proses pematangan gonad berlangsung lebih baik.

Induk ikan gurami jantan akan membuat sarang, yang berfungsi sebagai tempat untuk mengerami telur dan merangsang lawan jenisnya. Induk jantan akan selalu menjaga sarangnya, dan akan mengusir semua binatang air lain dari areal sarang, kecuali ikan gurami betina. Dengan pertimbangan penguasaan daerah inilah, kepadatan penebaran ikan gurami jantan hanya 1 ekor per meter persegi, sehingga memberikan cukup ruang untuk sesama ikan gurami jantan.

Ciri-ciri Induk Ikan Gurami Telah Matang Gonad

Pengamatan terhadap tingkat kematangan gonad terutama dilakukan terhadap induk ikan gurami betina. Tingkat keberhasilan pemijahan sangat ditentukan oleh kematangan telur maupun sperma, sehingga induk ikan gurami yang akan dipijahkan harus dipastikan matang gonad. Untuk menentukan induk yang telah matang gonad, dapat dilakukan dengan mengamati ciri-ciri umum fisik induk ikan gurami.

Berikut ini ciri-ciri umum yang dapat dijadikan patokan untuk menentukan induk ikan gurami yang telah matang gonad:

Ciri-ciri Induk Jantan Matang Gonad

Induk ikan gurami jantan yang telah memasuki fase matang gonad bisa dilihat dari warna tubuhnya yang merah dan hitam terang. Bagian perut membentuk sudut tumpul dengan susunan sisik yang normal. Gerakan ikan gurami jantan matang gonad relatif lebih lincah. Selain itu, ikan gurami jantan matang gonad juga menunjukkan perilaku membuat sarang, serta sisi badannya jika disentuh dan sedikit ditekan akan mengeluarkan cairan berwarna putih susu.

Ciri-ciri Induk Betina Matang Gonad

Induk ikan gurami betina yang telah memasuki fase matang gonad bisa dilihat dari warna tubuhnya yang relatif lebih terang. Sementara bagian perut tampak membulat dan membesar dengan susunan sisik lebih membuka. Gerakan ikan gurami betina matang gonad relatif lebih lamban.

Demikian informasi terbaik yang dapat kami berikan, semoga artikel Memilih Induk Ikan Gurami, bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

KIAT MEMACU PERTUMBUHAN IKAN GURAMI

Ikan gurami merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki pertumbuhan tergolong lambat. Namun ikan ini memiliki keistimewaan terutama pada tekstur dagingnya sehingga banyak digemari konsumen. Oleh karena cara pemeliharaannya yang cukup sulit dan membutuhkan rentang waktu cukup lama, menjadikan ikan gurami sebagai komoditas perikanan yang mahal dan menjadi ikan santapan pada perjamuan-perjamuan elit. Bagaimana kiat memacu pertumbuhan ikan guramai agar diperoleh hasil yang optimal dalam proses budidaya? Di bawah ini kami uraian secara singkat beberapa kiat yang dapat dilakukan untuk memacu pertumbuhan ikan gurami. Untuk mengetahui lebih dalam tentang ikan gurami silahkan kunjungi artikel kami Mengenal Ikan Gurami

Pemilihan Lokasi Yang Tepat Untuk Budidaya Ikan Gurami

Ikan gurami memiliki habitat asli di dataran rendah dengan suhu optimal untuk pertmbuhannya 25-28C. Ikan gurami merupakan salah satu jenis ikan yang sangat peka terhadap suhu rendah, sehingga tidak cocok untuk dibudidayaan di dataran tinggi. Ikan gurami masih memiliki kemampuan untuk melangsungkan kehidupannya dengan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal jika dipelihara pada ketinggian maksimal 800 mdpl.

Gunakan Benih Ikan Gurami Yang Efisien

Efisiensi benih ikan gurami dapat dilihat dari umur dan laju pertumbuhannya. Untuk memelihara ikan gurami yang akan dipanen pada berat 500 gram, sebaiknya menggunakan benih dengan berat 100 gram yang berumur lebih dari satu tahun. Benih yang akan dipelihara juga berasal dari lokasi penangkaran yang tidak begitu jauh dari lokasi pembesaran, sehingga waktu adaptasi akan lebih efisien. Populasi penebaran berkisar antara 10-15 ekor/m² dan untuk mencapai berat 500 gram dibutuhkan waktu pemeliharaan antara 6-7 bulan dengan resiko kematian 20-25%.

Berikan Pakan Yang Tepat Pada Ikan Gurami Yang Dipelihara




Dihabitat alaminya ikan gurami merupakan ikan yang lambat tumbuh karena fator perebutan makanan yang kurang dominan dibanding ikan-ikan lain, terutama pakan hewani. Ikan ini tergolong pemakan daging dan tumbuhan sehingga pencampuran komposisi kedua jenis pakan tersebut sangat tepat.

Dalam kolam pembudidayaan, ikan gurami harus diberi pakan tambahan yang memiliki nilai gizi tinggi, terutama kandungan protein hewani, agar pertumbuhannya cepat. Pemberian pakan tambahan tersebut paling tidak harus mengandung protein hewani di atas 25%. Sedangkan pakan nabati dapat dipenuhi dengan pemberian daun-daunan dan rumput-rumputan. Dedaunan yang biasa digunaan sebagai pakan tambahan adalah daun talas, daun singkong, daun kangkung, daun ubi kayu, daun selada air, dan lain-lain. Pakan hewani berupa pakan pabrik yang diberikan sebanyak 3% dari berat total, sedangkan pakan nabati diberikan sekenyangnya. Pertumbuhan akan lebih cepat jika ditambahkan enzim komplek sebanyak 2% dari pakan pabrik.

Kiat pengendalian hama penyakit ikan gurami

Kolam pemeliharaan sebaiknya dikeringkan terlebih dahulu selama 10-14 hari dan diberi kapur pertanian sebanyak 100-200 gram/m². Semua peralatan sebaiknya direndam dalam larutan kaporir 15-20 mg/liter selama 24 jam kemudian dijemur hingga kering. Ikan gurami yang akan dipelihara sebaiknya direndam dalam larutan disinfektan selama 30-60 menit. Larutan yang biasa digunakan untuk merendam ikan gurami tersebut adalah betadin dengan konsentrasi 50-200 mg/liter. Perendaman ikan gurami bisa juga menggunakan larutan formalin 100-200 mg/liter selama 1-3 jam. Untuk menjaga serangan hama maupun penyakit selama masa pemeliharaan, bisa ditambahkan garam pada kolam pemeliharaan sebanyak 400 gram/m³/bulan. Selain itu, pemberian vaksin melalui pakan setiap 1-1,5 bulan juga sangat berperan mencegah serangan hama penyakit. Pemberian vaksin dilakukan menggunakan vaksin Aeromonas hydrophila 10⁵sel/ml sebanyak 20 ml/kg pakan. Ikan yang terserang jamur segera ditangkap dan direndam dalam larutan garam dapur dengan konsentrasi 20 mg/liter selama 1 jam atau menggunakan larutan malachite green oxalat dengan konsentrasi 1 mg/liter selama 1 jam.

Memacu Pembesaran Ikan Gurami

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mempercepat pembesaran ikan gurami:
  1. Kolam pemeliharaan sebaiknya dibuat lebih dalam karena karakter ikan gurami yang lebih menyukai untuk melakukan pergerakan ke arah vertikal.
  2. Tempat memeliharaan sebaiknya dilaukan pada tempat yang terbuka dengan jumlah oksigen terlarut tinggi.
  3. Kolam pemeliharaan harus dijaga kebersihannya.
  4. Gerakan lamban yang menjadi sifat dasar ikan gurami menjadikannya tidak dominan dalam perebutan pakan dengan ikan-ikan lain. Sehingga lebih disarankan untuk memelihara ikan gurami dengan sistem monokultur.
  5. Agar pakan yang diberikan lebih efisien, sebaiknya gunakan pakan terapung agar ikan gurami yang memiliki karakter bergerak lambat memiliki cukup waktu untuk memakan pakan yang diberikan. Jika menggunakan pakan tenggelam, dikhawatirkan pakan akan tenggelam sebelum ikan gurami memakannya. Pemberian pakan sebaiknya dilakukan dengan frekuensi lebih sering, dengan volume sedikit demi sedikit.

Demikian informasi yang dapat kami sajikan mengenai Kiat Memacu Pertumbuhan Ikan Gurami, semoga informasi ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, Salam Tanijogonegoro.

MENGENAL IKAN GURAMI

Ikan gurami adalah salah satu jenis ikan air tawar yang sangat populer dan memiliki banyak penggemar. Oleh karena itu nilai ekonomis ikan gurami juga sangat tinggi. Ikan ini sudah banyak dikenal oleh masyarakat. Keungulan ikan gurami antara lain mudah dipelihara, dapat berkembang biak secara alami, dapat hidup di air tenang, serta harganya relatif mahal. Ikan ini memiliki organ pernapasan  tambahan sehingga bisa mengambil oksigen dari luar air tetapi sangat peka terhadap terhadap suhu rendah sehingga budidaya ikan gurami akan lebih produktif jika dilakukan di dataran rendah.

Orang Jawa mengenal ikan gurami dan menyebutnya dengan istilah grameh atau brami, sementara itu orang Sumatra dan Kalimantan menyebut ikan yang satu ini dengan nama kalui, sialui, kalua, kalau, dan kalwe.

Ikan gurami tersebar luas di berbagai negara dari Asia hingga ke Australia. Beberapa negara yang dikenal sebagai daerah penyebaran ikan gurami antara lain Thailand, Sri Langka, Malaysia, Australia, Cina, India, dan Indonesia. Sementara itu, di Indonesia ikan gurami banyak dibudidayakan di berbagai tempat antara lain pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan.

Morfologi dan Taksonomi Ikan Gurami

Ikan gurami memiliki ukuran tubuh yang relatif panjang. Bentuk tubuhnya yang pipih memberikan kesan bentuk tubuh yang lebar meninggi. Seluruh permukaan tubuhnya tertutup oleh sisik-sisik yang besar, kasar, dan kuat. Pada tubuh bagian bawah terdapat sirip perut yang memiliki jari-jari dan berfungsi sebagai alat peraba. Jika dilihat dari samping, bentuk tubuh ikan gurami tampak meninggi dan terkesan membulat. Ikan gurami tergolong jenis ikan yang hidup dengan habitat di perairan yang dalam dan tenang. Ikan gurami muda memiliki bentuk kepala yang lancip atau terkesan meruncing pada bagian depannya, namun bentuk tersebut akan berubah menjadi agak bulat saat ikan gurami telah tubuh menjadi ikan dewasa. Mulut ikan gurami berukuran kecil dengan bibir bagian bawa berukuran lebih panjang dan lebih menonjol ke depan sehingga bibir bagian bawah ini terkesan menutupi bibir bagian atas. Pada ikan gurami jantan yang sudah berumur tua akan muncul tonjolan yang berbentuk seperti cula di bagian kepalanya.

Ikan gurami yang masih muda memiliki tubuh yang berwarna biru kehitaman dengan bagian bawah tubuhnya, yaitu bagian perut, berwana putih. Warna tersebut akan berubah pada saat ikan gurami berada pada fase menjelang dewasa. Tubuh bagian atas, punggung, berubah menjadi kecokelatan dan tubuh bagian bawah, perut, berubah menjadi keperakan atau kekuningan. Selain itu, ikan gurami muda juga memiliki garis tubuh yang berjumlah 7-8 buah, berwarna kehitaman dengan bentuk tegak vertikal, dan akan memudar setelah ikan gurami dewasa.

Jari-jari pertama pada sirip perut ikan gurami berbentuk benang memanjang yang berfungsi sebagai alat peraba. Ikan gurami juga memiliki sirip punggung yang yang terdapat pada bagian atas tubuhnya membentang dari tengah punggung hingga mencapai pangkal bagian atas ekor. Sirip ekor berbentuk agak membulat seperti busur. Dibagian bawah depan sirip ekor terdapat sirip dubur yang membentang dari bagian perut hingga mencapai pangkal ekor bagian bawah. Ikan gurami juga memiliki sirip dada berjumlah dua buat. Pada ikan gurami betina, dasar atau pangkal sirip dada tersebut terdapat lingkaran hitam. Panjang tubuh ikan gurami dapat mencapai 65 cm dengan berat tubuhnya hingga 10 kg.

Klasifikasi Ikan Gurami




Filum : Chordata
Sub-filum : Vetrtebrata
Kelas : Pisces
Bangsa : Perciformes Labirinthici
Sub-bangsa : Anabantoidei
Suku : Osphronemidae  Anabantidae
Marga : Osphronemus
Jenis : Osphronemus gouramy

Pertumbuhan Ikan Gurami

Ikan gurami banyak hidup di perairan-perairan di Indonesia. Pada habitat alaminya, ikan ini dapat hidup cukup lama. Laju pertumbuhan ikan gurami tergolong lambat jika dibanding ikan-ikan budidaya komersial lainnya, seperti ikan nila dan ikan mas. Baca lebih lengkap pada artikel Kiat Memacu Pertumbuhan Ikan Gurami. Namun demikian, ikan gurami memiliki cita rasa daging yang sangat lezat dan banyak digemari masyarakat. Selain itu, ikan gurami juga memiliki pangsa pasar yang cukup besar dan tergolong ikan konsumsi papan atas.

Sebagai gambaran umum laju pertumbuhan ikan gurami, pada umur satu tahun ikan ini dapat tumbuh hingga panjang mencapai 15 cm. Pada tahun kedua, panjang tubuh ikan gurami mencapai 25 cm. Tetapi laju pertumbuhan tersebut mengalami penurunan pada tahun ketiga. Pada umur tiga tahun panjang tubuh ikan gurami kurang lebih 30 cm. Seperti ikan pada umumnya, ikan gurami juga memiliki kapasitas meneruskan pertumbuhan selama hidupnya, bila kondisi lingkungan hidupnya memenuhi persyaratan. Pertumbuhan ikan gurami yang sudah berumur tua lebih lambat dibanding dengan ikan gurami yang berumur muda.

Laju pertumbuhan ikan gurami akan berlansung cepat pada saat ikan gurami berumur 3-5 tahun. Setelah berumur lebih dari lima tahun, ikan gurami akan menggunakan sebagian besar energi dan nutrisi pada tubuhnya untuk pemeliharaan tubuhnya. Pada saat ikan gurami berada pada fase pematangan kelami pertama kalinya, pertumbuhan tubuhnya akan mengalami perlambatan karena sebagian besar energi dan nutrisi yang tersedia pada tubuhnya digunakan untuk perkembangan kelamin. Laju pertumbuhan ikan gurami juga akan mengalami penurunan selama preses pembuatan sarang dan selama periode mengasuh anak-anaknya. Selama periode tersebut ikan gurami hanya sedikit mencari makanan dan bahkan bisa tidak makan sama sekali.

ARTIKEL POPULER