Tampilkan postingan dengan label BIOETANOL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOETANOL. Tampilkan semua postingan

Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Mahalnya harga bensin sebagai bahan bakar menjadikan bioetanol memiliki peluang lebih besar sebagai bahan bakar alternatif sekaligus bahan bakar masa depan. Memang, penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar telah dilakukan oleh beberapa negara di berbagai belahan dunia semenjak abad 20, seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Swedia, Brazil, dan India. Negara-negara tersebut telah menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan, sebagai alternatif penggunaan petrolium. Hal tersebut didorong oleh munculnya kesadaran akan dampak negatif penggunaan BBM, yang berkontribusi besar terhadap berbagai polusi di muka bumi. Harus diakui bahwa penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama turut berperan dalam menimbulkan kerusakan lingkungan, gangguan terhadap kelestarian alam, dan membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena alasan itulah perlu kiranya bagi kita semua untuk mencari alternatif sumber energi. Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif tentu saja menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan energi.

Namun sayangnya, kesadaran masyarakat Indonesia untuk menggunakan bioetanol memang belum tinggi. Hal tersebut disebabkan harga petrolium beberapa waktu yang lalu masih sangat murah. Namun, seiring dengan meningkatnya harga BBM yang selama ini menjadi bahan bakar utama, tentu akan memberikan ruang lebih besar bagi bioetanol untuk menjadi bahan bakar pengganti. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Henry Ford, sebuah perusahaan produsen mobil berkelas internasional, yang memandang bahwa bioetanol merupakan salah satu bahan bakar masa depan. Salah satu keunggulan menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar yaitu ramah lingkungan. Selain itu, bioetanol juga menjadi sumber bahan bakar terbarukan, tidak seperti bahan bakar fosil. Apalagi didukung dengan proses pembuatan bioetanol yang relatif sederhana, tentu semakin memperbesar peluang sumber energi alternatif ini menjadi bahan bakar utama. Tak hanya itu, kesadaran masyarakat akan dampak negatif penggunaan BBM juga menjadi salah satu faktor yang membuat bioetanol semakin populer.

Bioetanol sebagai bahan bakar ramah lingkungan



Penggunaan bioetanol yang makin luas, terutama bagi para pengguna mesin otomotif, salah satunya dipengaruhi oleh dampak negatif penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama terhadap lingkungan. Sudah diakui oleh dunia, bahwa bioetanol merupakan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Penggunaanya sebagai bahan bakar utama kendaraan, dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan BBM. Karena faktor itulah beberapa negara di dunia telah mensosialisasikan penggunaan etanol sebagai bahan bakar untuk berbagai jenis kendaraan. Pemakaian bioetanol di negara Brazil pemakaian bioetanol sudah digunakan pada seluruh jenis kendaraan bermotor, dengan mencampurkan 20% bioetanol pada bahan bakar yang digunakan. Bahkan pada pertengahan tahun 1980, lebih dari 90% mobil baru di negara tersebut sudah dirancang menggunakan bioetanol murni.

Sekilas Tentang Etanol?

Etanol atau lebih akrab dikenal dengan sebutan alkohol, pada dasarnya telah dibuat oleh manusia semenjak ribuan tahun silam. Namun, masyarakat pada waktu itu tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah memproduksi etanol atau alkohol dalam makan atau minuman yang mereka buat melalui proses fermentasi dengan pemberian ragi. Hal itu terjadi lantaran tujuan utamanya adalah pembuatan makanan atau minuman. Cara pembuatan etanol pada waktu itu memang sangat sederhanan, hanya dengan memberikan ragi pada bahan makanan. Misalnya, buah anggur difermentasi menjadi khomar/arak/minuman keras lain, gandum difermentasi menjadi bir, beras difermentasi menjadi sake, dan ketan hitam difermentasi menjadi tape ketan. Di Amerika, Jepang, atau negara-negara Eropa, pembuatan etanol biasanya dalam bentuk minuman keras, seperti bir, sake, vodka, dan lain-lain.

Pada perkembangan selanjutnya, pembuatan etanol saat ini tidak hanya bersumber dari bahan makanan, tetapi juga berasal dari bagian-bagian tanaman yang lain. Teknik pembuatan yang sederhana, dan bahan baku yang relatif murah, menjadikan etanol berpotensi sebagai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin besar. Semenjak awal abad ke 21, penggunaan etanol sebagai bahan dasar kendaraan sudah mencapai lebih dari 2/3 produksi kendaraan dunia. Hingga saat ini, pemakaian etanol di Brazil sudah mencapai angka 40-45%. Di Amerika Serikat, penjualan etanol mencapai 1,2% dari seluruh pasaran bensin. Khusus untuk Indonesia, penggunaan etanol sebagai bahan bakar kendaraan bisa untuk mengatasi krisis bahan bakar. Selain itu, juga mampu untuk mendongkrak peningkatan tenaga kerja.

ENERGI HIJAU ENERGI ALTERNATIF

Energi Hijau Energi Alternatif - Energi merupakan salah satu bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Energi selalu dibutuhkan manusia untuk mendukup aktifitasnya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa manusia tidak akan mampu untuk menghindarkan diri dari kebutuhan energi. Ironisnya, kesadaran akan kelestarian energi sangat rendah. Seiring dengan perkembangan jaman, teknologi, dan informasi, kebutuhan energi telah membuat manusi membabibuta dalam mengendalikan penggunaannya. Hal itu diperparah lagi dengan tingkat kebutuhan manusia yang membutuhkan suplai energi besar. Gerak perkembangan jaman tersebut telah menyeret manusia untuk larut dalam kesibukan bekerja. Sehingga perhatian dan kepedulian mengenai perlunya pelestarian energi semakin tipis.

Lantas pertanyaan yang sangat kritis pun mengemuka, “mungkinkah kita melakukan pelestarian energi?” Pelestarian energi hanya mungkin dilakukan dengan membudidayakan energi atau dengan sebuah bahasa yang kini berkembang adalah energy-farming. Membudidayakan energi hanya mungkin dilakukan bilamana kita mampu menciptakan sumber energi selain melakukan exploitasi terhadap sumber daya alam. Pentingnya sajian informasi mengenai sumber energi alternati bagi kehidupan manusia mungkin secara perlahan akan mengubah kesadaran masyarakat untuk tidak selalu bergantung pada sumber-sumber energi terbatas dan tidak terbaharukan.

Karena itulah, pada artikel kali ini akan dibahas mengenai sumber energi alternatif bagi kehidupan manusia. Membudidayakan energi berarti melakukan suatu bentuk kegiatan atau proses untuk menciptakan energi atau sumber energi dan bukan berorientasi untuk melakukan ekploitasi sumber energi yang jumlahnya terbatas. Berpikir mengenai engergy-farming berarti berpikir tentang sebuah alat yang mampu untuk mengumpulkan, menghasilkan dan menyimpan energi dan alat tersebut merupakan alat yang bisa diperbaharui atau dilestarikan.

Dengan kata lain, berpikir untuk mengumpulkan, menghasilkan, dan menyimpan energi maka arah dan tujuan kita akan tertuju pada salah satu sumber energi yang jumlahnya tak terbatas, yaitu matahari. Tumbuhan hijau mungkin merupakan satu-satunya media yang sangat tepat untuk mengumpulkan, menghasilkan, dan menyimpan energi matahari tersebut, karena tumbuhan hijau mampu mengolah bahan makanan dalam tubuhnya menjadi nutrisi dengan energi matahari. Tumbuhan mengambil bahan mentah berupa air dari tanah dan karbon dioksida dari atmosfer, lalu mengubahnya menjadi oksigen dan gula menggunakan energi sinar matahari untuk memberi tenaga pada proses tersebut. Seluruh bagian dari tumbuh tanaman, baik batang, daun, buah, maupun akar menyimpan energi dalam bentuk energi kimia. Energi tersebut dilepas ketika tanaman dibakar, mati, membusuk, atau dimakan oleh hewan.

Dengan demikian, energi hijau menjadi salah satu sumber energi alternatif yang bisa dilestarikan sehingga kebutuhan energi manusia bisa tercukupi tanpa harus melakukan eksploitasi sumber energi yang jumlahnya terbatas. Dengan orientasi pelestarian energi ini diharapkan generasi penerus kita pada masa mendatang tidak akan berada pada satu titik yang banyak dikatakan sebagi krisis energi.

Sumber Energi Alternatif




Sumber energi hayati sebetulnya telah dimanfaatkan oleh manusia selama ribuan tahun silam. Pemanfaatan energi hijau ini tidak pernah disadari bahwa tumbuhan merupakan salah satu sumber energi yang sangat besar yang bila dikelola dengan baik maka energi yang dihasilkan pun akan mampu mencukupi kebutuhan manusia. Salah satu pemanfaatan sumber energi yang paling klasik adalah pemanfaatan biomassa tumbuhan. Biomassa adalah material atau turunan biologis lainnya yang secara fisik bisa kita lihat sebagai tumbuhan itu sendiri. Pemanfaatan biomassa klasik umumnya dilakukan dengan cara dibakar sehingga terciptalah sebuah energi yang kita kenal dengan nama energi panas. Umur energi hijau ini mungkin lebih tua dari peradaban manusia. Dengan demikan, pemanfaatan energi hijau sebagai sumber energi alternatif sebetulnya bukanlah hal baru. Ketika belum ditemukan bahwa di dalam perut bumi terpendam sumber energi dalam bentuk batu bara, minyak bumi, dan gas, manusia telah mengunakan bahan bakar hayati ini sebagai energi utama dalam kehidupannya. Beberapa tahun silam, ketika belum ditemukan listrik, masyarakat Indonesia telah menggunakan biji jarak pagar sebagai sumbu pada obor untuk penerangan malam hari. Beberapa puluh tahun silam, masyarakat telah mamanfaatkan arang sebagai pemanas untuk menyeterika pakaian. Bahkan untuk menghasilkan energi uap pun manusia telah memanfaatkan biomassa tumbuhan sebagai sumber energi utama. Dengan demikian, pemanfaatan energi hijau sebagai sumber energi alternatif di peradaban modern bukanlah hal yang mustahil atau sekedar omong kosong.

Masih dalam sejarah pemanfaatan energi hijau, tahun 1942-1945, pada masa penjajahan Jepang, dunia menjadi saksi bahwa sebagian besar sumber-sumber minyak bumi di Indonesia dan Cina dibakar oleh pasukan sekutu sebagai sebuah taktik untuk mengurangi pasokan energi bagi balatentara Dai Nippon. Namun, pada waktu itu Jepang tidak kehilangan akal untuk mencukupi kebutuhan energinya. Di Indonesia sendiri pernah ada kewajiban yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang agar rakyat Indonesia menanam Ricinus communis atau yang lebih dikenal dengan nama jarak kepyar. Jarak kepyar tersebut diambil minyaknya untuk dijadikan bahan bakar bagi kendaraaan perang dan pesawat terbang Dai Noppon. Kesulitan pasokan energi pasukan Dai Nippon waktu itu bisa diatasi dengan memanfaatkan sumber energi alternatif dari tumbuhan hijau. Belajar dari kejadian puluhan tahun silam ini, maka bukan hal yang mustahil bahwa pada era peradaban modern ini kita harus mampu untuk menciptakan sumber energi alternatif tersebut.

Aktivitas manusia dalam mencari sumber energi alternatif sudah dilakukan sejak lama. Manusia berusaha untuk memenuhi kebutuhan energi dalam kehidupannya terutama untuk digunakan sebagai bahan bakar. Inovasi yang dikembangkan oleh Rudolf Diesel, sebagai penemu mesin diesel, menggunakan minyak kacang (Arachis hipogaea) dan minyak ganja (Cannabis sativa) sebagai bahan bakar utama mesil diesel pertama yang ia ciptakan. Seorang penemu dan penggagas mobil Ford, yaitu Herry Ford, pada tahun 1880 telah menggunakan alkohol sebagai bahan bakar mobil hasil invasinya, yang diberi merk Quadricycle. Hingga kini para peneliti terus berusaha mencari bahan bakar alternatif sebagai pengganti bahan bakar yang berasal dari fosil. Penelitian terus berlangsung dan dilakukan di semua wilayah, baik pegunungan hingga ke lautan. Namun, beberapa kegiatan penelitian ini justru melakukannya di lingkungan sekitarnya. Sawah, ladang, dan hutan, sumber dari biomass bahan-bahan organik, yang kini dikenal sebagai energi hijau. Berkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, energi hijau kini telah menjadi salah satu solusi dalam memenuhi kebutuhuan energi dalam kehidupan manusia, baik sebagai energi panas, sumber bahan bakar, hingga pembangkit listrik. Energi hijau inilah yang kini dikenal dengan istilah bioenergi.

Ya, semua pihak barangkali akan sepakat jika mengatakan energi hijau ini sebagai energi masa depan. Selain energi tersebut bisa diperbaharui, energi yang berasal dari tumbuhan ini juga bersifat ramah lingkungan. Oleh karena bahan baku utama energi ini dari tumbuhan hijau yang berasal dari hasil bumi, baik tanaman pertanian, perikanan, perkebuanan, limbah peternakan, bahkan sampah organik rumah tangga, maka energi hijau disebut juga sebagai BBM nabati. BBM ini tidak akan habis dengan penggunaan yang berlangsung terus-menerus karena bahan baku yang berupa tumbuhan hijau bisa diperbaharui atau diadakan kembali dengan cara dibudidayakan. Oleh karena itulah, sepanjang energi matahari masil bisa memberikan manfaat bagi kehidupan di bumi dan manusia tetap membudidayakannya, maka sumber dari energi alternatif ini tidak akan pernah habis.

Berbagai macam bentuk dari sumber energi alternatif ini dapat diambilkan dari limbah peternakan, sisa-sisa atau limbah panen padi, sekam padi, sampah rumah tangga, serabut kelapa, kotoran ternah, bahkan kini sudah dibudidayakan tanaman khusus untuk menghasilkan energi alternatif, seperti willow coppie dan miscanthus (semacam rerumputan seperti bambu). Tanaman tersebut menjadi sumber energi alternatif yang cukup mudah diperoleh karena dapat tubuh dengan cepat sehingga masa budidayanya bisa dipercepat. Selain itu, penanaman ini bisa menjadi habitat baru untuk perlindungan binatang atau suaka marga satwa.

Bukankah negara kita, Indonesia, yang notabenenya sebagai negara agraris, memiliki potensi yang sangat besar untuk menghasilkan sumber energi alternatif tersebut? Menurut data Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi (2001), potensinya mencapai pemanfaatan energi alternarif dapat mencapai 311.232 MW. Namun, pemanfaatan sumber energi alternatif tersebut masih sangat rendah, yaitu kurang dari 20%. Rendahnya pemanfaatan sumber energi alternatif di Indonesia disebabkan karena kesadaran untuk beralih menggunakan energi yang bisa diperbarui ini masih kurang. Masyarakat masih terlena dengan harga BBM subsidi yang lebih murah. Mungkin, untuk jangka waktu beberapa tahun ke depan jika teknologi penghasil energi alternatif ini semakin efisien, maka pemanfaatan energi alternatif akan mengalami peningkatan. Sumber lain energi terbarukan yang tersedia di Indonesia sebenarnya cukup banyak, diantaranya adalah, tenaga air (hydro), tenaga panas bumi, energi cahaya, energi angin dan biomassa. Dari semua itu, potensi energi terbarukan dari biomassa masih sangat diabaikan.

Pemanfaatan Energi Alternatif

Ada tiga macam cara yang biasa digunakan untuk memanfaatkan biomassa tumbuhan hijau sebagai energi alternatif, diantaranya adalah:

Pertama, pembakaran langsung (direct combustion) dalam bentuk pemanfaatan panas. Pemanfaatan panas biomassa dikenal sejak dulu, seperti pemanfaatan kayu bakar. Pemanfaatan yang cukup besar umumnya untuk menghasilkan uap pada pembangkitan listrik atau proses manufaktur. Dalam sistem pembangkit, kerja turbin biasanya memanfaatkan ekspansi uap bertekanan dan bertemperatur tinggi untuk menggerakkan generator. Pada industri kayu dan kertas, serpihan kayu terkadang langsung dimasukkan ke boiler agar menghasilkan uap untuk proses manufaktur atau menghangatkan ruangan. Beberapa sistem pembangkit berbahan bakar batu bara menggunakan biomassa sebagai sumber energi tambahan dalam boiler efisiensi tinggi untuk mengurangi emisi. Yang paling penting, ketika dibakar, bahan bakar bio tidak menghasilkan karbon dioksida yang lebih besar jika dibiarkan meluruh secara alami sehingga penggunaannya tidak memberikan sumbangan bersih pada pemanasan global atau efek rumah kaca.

Kedua, pemanfaatan biomassa untuk menghasilkan gas metana. Teknologi untuk mengubah biomassa menjadi gas metana yang banyak dikenal adalah digester biogas. Teknologi ini bertujuan untuk memanfaatkan gas metana hasil fermentasi biomassa sebagai sumber energi panas. Pemanfaatan gas metana dengan teknologi yang lebih maju dilakukan dengan sistem gasifikasi menggunakan temperatur tinggi. Melalui teknologi tersebut, biomassa dari tumbuhan hijau diubah menjadi gas hidrogen, CO, dan metana.

Ketiga, konversi menjadi bahan bakar cair. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa pemanfaatan bahan bakar hayati yang sedang naik daun saat ini adalah bioetanol dan biodiesel. Kedua bahan bakar bio tersebut sedang gencar dipropagandakan oleh pemerintah sebagai energi alternatif bagi kendaraan. Bioetanol merupakan alkohol yang dibuat melalui proses fermentasi biomassa tumbuhan hijau menggunakan bantuan mikroba dekomposer. Agar hasil yang diperoleh memiliki kualitas yang baik, maka bahan tumbuhan hayati yang digunakan dalam proses fermentasi adalah bahan-bahan alami yang memiliki kandungan pati tinggi, seperti singkong biji sorgum, gandum, sagu, biji jagung, beras, dan kentang; bahan-bahan yang mengandung kadar gula tinggi seperti molases (tetes tebu), nira tebu, nira kelapa, batang sorgum manis, nira aren (enau), nira nipah, nira gewang, dan nira lontar; dan bahan-bahan yang memiliki selulosa, misalnya limbah pertanian berupa jerami padi, ampas tebu, janggel (tongkol) jagung, onggok (limbah tapioka), batang pisang, atau serbuk gergaji (grajen), limbah logging, dan lain-lain. Bioetanol merupakan sumber energi alternatif yang paling sering digunakan sebagai aditif bahan bakar terutama untuk mengurangi emisi karbon monoksida (CO) dan asap lainnya dari kendaraan. Sedangkan biodiesel adalah ester yang dibuat dengan memanfaatkan minyak tanaman, lemak binatang, ganggang, atau bahkan minyak goreng bekas. Biodiesel dapat juga digunakan sebagai aditif bahan bakar diesel untuk mengurangi emisi kendaraan yang berbahan diesel atau dalam bentuk murninya sebagai bahan bakar kendaraan pengganti diesel.

CARA MEMBUAT BAHAN BAKAR BENSIN (BIOETANOL) DARI BERAS

Naiknya harga BBM seperti yang sedang terjadi saat ini tentunya semakin membuat rakyat kecil semakin berat dalam menghadapi dinamika hidup sehari-hari. Untunglah sudah banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli terhadap bahan bakar lain sebagai bahan bakar alternatif. Hingga saat ini yang sedang menjadi perhatian serius adalah mengenai pemanfaatan sumber nabati sebagai bahan bakar. karena bahan bakar nabati mempunyai banyak kelebihan, selain ramah lingkungan, juga merupakan sumber bahan bakar yang bisa diperbarui karena sumber bahan bakar tersebut bisa ditanam dan dikembangkan.

BAHAN BAKAR BENSIN ATAU BIOETANOL

Penelitian yang banyak dilakukan saat ini difokuskan pada pemanfaatan bioetanol sebagai sumber bahan bakar. Dimana dalam pembuatan bioetanol ini memanfaatkan bahan baku yang mudah didapat dan diproduksi, seperti beras, jagung, ubi, serta jarak.

MEMBUAT BAHAN BAKAR BENSIN ATAU BIOETANOL DARI BERAS

Di beberapa negara di belahan dunia seperti Brazil, Perancis, Jerman, Swedia, Amerika Serikat, India, dan beberapa negara lainnya sudah sejak permulaan abad ke-20 memanfaatkan etanol sebagai bahan bakar kendaraan bermotor. Seperti perusahaan mobil kelas dunia yang melahirkan mobil ford, yakni henry ford telah melihat fungsi etanol sebagai bahan bakar masa depan. Tetapi karena harga BBM jenis petroleum lebih murah, para produsen kendaraan kemudian merancang kendaraannya dengan bahan bakar tersebut, sehingga kehadiran petroleum jauh lebih dominan.

Namun kini, Setelah masyarakat dunia menyadari dan merasakan betapa dahsyatnya dampak negatif yang ditimbulkan BBM terhadap kelestarian alam, kesehatan manusia, serta kelangsungan hidup manusia di bumi ini, barulah mereka berupaya mencari alternatif pengganti BBM yang ramah lingkungan, tidak memiliki dampak negatif, atau setidaknya dampak negatif yang ditimbulkan tidak begitu besar.

Berdasarkan hal-hal tersebutlah, akhirnya etanol kembali menjadi bahan pertimbangan masyarakat dunia, bahkan diagung-agungkan terutama oleh para pengguna mesin otomotif. Tidak cukup disitu, pemakaiannya pun sudah meluas seperti di Brazil, Cile, bahkan Amerika Serikat sekalipun. Di negeri Samba, sekitar pertengahn tahun 1980 seluruh kendaraan bermotor sudah menggunakan etanol sebagai sumber bahan bakarnya, minimal mengandung etanol 20%. Lebih dari 90% mobil baru yang digunakan di Brazil, mesinnya dirancang untuk menggunakan bahan bakar etanol murni.

Etanol yang juga akrab dinamakan dengan nama alkohol sebetulnya sudah tidak asing lagi di telinga kita, bangsa Indonesia. Di negeri ini, sebetulnya alkohol sudah banyak diproduksi untuk kebutuhan sehari-hari, baik dalam bentuk makanan maupun minuman. Bahkan msyarakat dunia sudah memproduksi ribuan tahun yang lalu meskipun mereka tidak sadar telah mempoduksi etanol yang sebetulnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Padahal cara pembuatannya sangatlah sederhana, seperti misalnya pada makanan, hanya dengan menambahkan ragi saja sebenarnya kita sudah bisa memproduksi etanol karena pada dasarnya prinsip pembuatannya pun sama, apalagi jika bahan yang dipakai dapat menghasilkan etanol dalam kadar yang tinggi.

Di sini, Anda mestinya sudah tidak asing lagi dengan makanan bernama tape ketan, apalagi tape ketan produk Magelang yang memiliki rasa sangat istimewa. Nah, pembuatan tape ketan ini pada prinsipnya sama dengan pembuatan etanol untuk bahan bakar karena pada dasarnya di dalam tape beras ketan tersebut mengandung cukup banyak etanol. Sehingga proses pembuatan etanol itu sendiri sebenarnya bukanlah hal yang aneh bagi masyarakat kita. Selain bahan baku beras ketan, di Jepang, bahan baku beras telah diolah menjadi minuman berkadar etanol yang cukup tinggi, dinamakan sake.

Tidak hanya di Magelang dan di Jepang saja, ternyata masyarakat di belahan Eropa juga telah memproduksi etanol dengan memanfaatkan berbagai bahan baku seperti buah anggur dan gandum. Melalui serangkaian proses fermentasi, buah anggur diolah dan berubah menjadi khamer atau minuman keras atau arak yang tentunya kebiasaan (adat) dan hukum yang berlaku di sana memperbolehkannya. Tidak hanya itu, gandum juga diolah menjadi bir. Bagi masyarakat Amerika, Eropa, atau Jepang, mereka telah memproduksi etanol yang diperuntukkan bagi minuman keras seperti bir, sake, vodka, dan lain-lain. Berbeda dengan di Indonesia, pembuatan etanol telah diproduksi untuk makanan berupa tape baik tape ketan maupun tape singkong.

Dengan semakin berkembangnya jaman, menuntut perkembangan teknologi menjadi semakin pesat pula, akhirnya telah ditemukan bahwa hasil konversi etanol tidak hanya berasal dari tanaman pangan saja, melainkan juga bisa bersumber dari bagian lain dari tanaman. Bahkan, dari etanol pun kembali dikonversi menjadi produk lain.

Betapa pentingnya produk etanol ini sehingga sejak abad ke-20 hingga saat ini abad ke-21, bahan bakar kendaraan bermotor yang memanfaatkan etanol telah mencapai 2/3 produksi dunia. Artinya etanol telah diposisikan sebagai bahan bakar terbesar di belahan dunia. Di Brazil saja pemakaian etanol untuk bahan bakar kendaraan bermotornya sudah menyentuh angka 40-45% dan di Amerika Serikat sendiri tidak kurang dari 1,2% pasaran bensin bersumber dari etanol. Artinya, pasaran bahan bakar kendaraan bermotor di Amerika Serikat berjumlah sekitar 570 juta ton. Yakni, dengan pasaran etanol pada posisi 2.000 juta ton (atau 80 kali produksi dunia sekarang).

Besarnya penggunaan etanol menjadi bahan bakar tidak lepas dari tumbuhnya kesadaran manusia terhadap dampak lingkungan. Bayangkan saja, BBM telah distempel sebagai sumber utama polusi dunia, sementara etanol (bioetanol) terbukti merupakan bahan bakar terbarui yang ramah lingkungan. Tidak hanya itu, biaya pembuatannya pun relatif lebih sederhana dan lebih murah, serta tidak harus berburu sampai ke lepas pantai untuk mendapatkan sumber minyaknya.

Di samping itu, kehadiran etanol mampu mengurangi beban impor BBM. Khusus untuk Indonesia, selain bisa mengatasi krisis bahan bakar rumah tangga seperti minyak tanah dan gas, juga bisa mendongkrak peningkatan jumlah tenaga kerja yang sangat luar biasa, dan sangat cocok dikembangkan di kawasan perkebunan tanaman pangan.

PROSES-PROSES SELAMA BERLANGSUNGNYA PEMBUATAN ETANOL




  1. Proses Gelatinasi
    Proses gelatinasi merupakan proses penting dalam pembuatan etanol, pada proses ini terjadi perubahan bahan baku menjadi bubur, kemudian dilakukan proses pemanasan pada suhu 100°C yang diakhiri dengan proses pendinginan.
    Tujuan dari proses gelatinasi ini mengubah karbohidrat menjadi gula sederhana.
  2. Proses Fermentasi
    Proses fermentasi merupakan proses perombakan yang dilakukan oleh jasad renik sebagai dekomposer (pengurai). Dekomposer pada proses pebuatan etanol dari beras ini dilakukan oleh ragi dari jenis Sacaromyses C. Dalam hal ini, proses fermentasi yang berlangsung adalah proses perubahan gula oleh ragi Sacaromyses C. Sacaromyces C ini melepaskan ikatan kimia rantai karbon dari gula dan fruktosa satu per satu, kemudian secara kimiawi kembali dirangkai menjadi molekul etanol, gas karbondioksida, serta menghasilkan panas.
    Ketika proses ini berlangsung, ragi mengeluarkan enzim yang sangat kompleks, bahkan mampu merombak monosakarida menjadi etanol dan karbon dioksida. Ragi terus bekerja sepanjang waktu tanpa diperintah.
    Selama proses fermentasi, ragi yang jumlahnya miliaran ini melakukan pekerjaan secara teratur dan rapi, setelah melalui proses pelepasan karbon dan mengikatan kembali menjadi etanol, proses ini mengeluarkan panas (kenaikan suhu), dimana suhu yang ditimbulkan selama proses fermentasi justru bisa mematikan ragi. Selain itu, ragi juga bisa mati ketika alkohol yang dihasilkan sudah cukup banyak. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses fermentasi, yakni:
    • Kandungan monosakarida
    • Derajat keasaman, ideal antara 4,8 s/d 5
    • Temperatur mash tidak lebih dari 30°C (ragi menjadi tidak aktif pada temperatur di atas 30°C atau 32°C dan pada kadar alkohol 12%
    • Fermentasi berlangsung selama 1-2 hari
  3. Proses Destilasi
    Proses destilasi merupakan proses penyulingan untuk memisahkan antara alkohol dengan air dan bahan padat lainnya.

Hal-Hal Yang Perlu Perlu Diperhatikan Saat Membuat Bahan Bakar Bensin Atau Bioetanol

  1. Menyiapkan Ragi
    • Sediakan ragi sebanyak 0,5 kg untuk tiap 1.000 liter mash dengan kandungan total gula yang ada pada mash berkisar antara 20-22%.
    • Sebelumnya, ragi dibiakkan di dalam tangki berisi 10 liter mash selama kurang lebih 1 jam pada suhu maksimal 30°C.
  2. Kebersihan Peralatan
    Kebersihan peralatan sangat perlu diperhatikan, mengingat hasil etanol yang diproduksi dapat terkontaminasi oleh mikroorganisme lain yang tidak diharapkan serta mempengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan. Bakteri Azotobacter di udara bebas atau yang tertinggal pada peralatan kotor akan menghasilkan vinegar, selain itu family Lactobacillus juga akan mengubah etanol menjadi asam laktat sehingga mempengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan.

Proses Pembuatan Bahan Bakar Bensin Atau Bioetanol Dari Beras

Beras yang merupakan salah satu bahan pangan di Indonesia mengandung senyawa karkohidrat yang kompleks, dimana tanaman padi ini termasuk salah satu sumber pati. Untuk bisa menghasilkan etanol, sebelum melakukan proses fermentasi pati yang terkandung dalam beras ini perlu disederhakan terlebih dahulu menjadi glukosa melalui sebuah proses penguraian yang dilakukan oleh cendawan atau jamur. Pada proses penguraian pati menjadi glukosa tersebut dibutuhkan aktivitas cendawan Aspergillus sp. yang terdapat pada ragi. Cendawan Aspergillus sp. merupakan salah satu jenis jamur pengurai makanan. Selama proses penguraian berlangsung, cendawan Aspergillus sp. menghasilkan enzim alfaamilase dan glikoamilase. Enzim alfaamilase dan glikoamilase inilah yang berperan penting dalam proses penguraian karbohidrat (maltosa atau sukrosa) menjadi gula sederhana (glukosa dan fruktosa). Setelah pati diubah menjadi glukosa, barulah fermentasi bisa dilakukan sehingga menghasilkan etanol.
Secara sederhana dapat diuraikan bahwa pembentukan etanol terjadi karena enzim-enzim dalam ragi mengubah karbohidrat (maltosa atau sukrosa) menjadi lebih sederhana (glukosa dan fruktosa). Kemudian mengubah karbohidrat sederhana tersebut menjadi etanol dan karbondioksida.

CARA MEMBUAT BAHAN BAKAR BENSIN ATAU BIOETANOL DARI BERAS

Cara Membuat Bahan Bakar Bensin atau Bioetanol Dari Beras 1

  1. Beras 25 kilogram. Semua jenis beras dapat dijadikan sebagai bahan bakunya.
  2. Cuci beras sampai bersih.
  3. Masukkan beras ke dalam tangki/dandang besar berkapasitas 120 liter, lalu tambahkan air hingga mencapai volume 100 liter.
  4. Panaskan beras hingga suhu 100°C atau sampai mendidih sambil terus diaduk, hingga hancur menjadi bubur. Tambahkan air jika kurang, masak beras sampai benar-benar menjadi bubur.
  5. Masukkan bubur ke dalam tangki/dandang, lalu dinginkan. Setelah dingin taburkan cendawan Aspergilus sp. atau ragi ke dalam bubur. (Untuk kebutuhan menguraikan 100 liter bubur pati beras diperlukan sedikitnya 10-12 liter larutan cendawan Aspergillus atau 10% dari total bubur).
    Perlu diketahui bahwa tingkat konsentrasi cendawan mencapai 100 juta sel/ ml. Sebelum cendawan digunakan, sebaiknya dibenamkan terlebih dahulu ke dalam bubur yang telah dimasak, tujuannya agar adaptif dengan sifat kimia bubur. Pada tahap ini, cendawan akan berkembang biak dan bekerja mengurai pati.
  6. Setelah 2 jam, bubur akan berubah menjadi 2 lapisan, yaitu lapisan air dan endapan gula.
  7. Pastikan bahwa bubur sudah mengalami perubahan, kemudian aduk-aduk pati yang sudah berubah menjadi gula tersebut.
  8. Setelah itu masukkanke dalam tangki fermentasi. (Sebelum difermentasi, larutan pati mengandung kadar gula 17-18%. Kondisi ini sangat cocok untuk hidup dan berkembangnya bakteri Saccaromyces, dimana bakteri Saccaromyces akan bekerja menguraikan gula menjadi alkohol.
    Perlu diperhatikan: Jika kadar gulanya terlalu tinggi, perlu ditambahkan air. Sebaliknya, jika kadar gulanya terlalu rendah, perlu ditambahkan gula.
    Tutup tangki rapat-rapat agar tidak terjadi kontaminasi dengan mokroorganisme lain yang tidak diharapkan, disamping itu juga untuk menjaga bakteri Saccaromyces agar bekerja lebih baik. karena, proses fermentasi berlangsung secara anaerob yaitu tidak memerlukan oksigen pada suhu 28-32°C.
  9. Diamkan selama 3-4 hari. Setelah 3-4 hari, akan terjadi perubahan pada larutan pati tadi dengan membentuk 3 lapisan, yitu endapan protein pada lapisan terbawah, lapisan air pada bagian tengah, dan lapisan etanolnya di bagian teratas. Hasil fermentasi ini disebut juga bir (sake), karena telah mengandung etanol (alkohol) sebanyak 6-12%.
  10. Pisahkan etanol dengan cara penyedotan menggunakan selang plastik. Gunakan kertas/kain penyaring berukuran 1 mikron untuk menyaring endapan protein.
  11. Setelah seluruh etanol dipisahkan, proses selanjutnya dilakukan destilasi atau penyulingan, yaitu dengan menggunakan tangki/dandang yang sudah dipasangi pipa, dimana pipa itu dialirkan ke tangki/dandang lainnya dalam keadaan selalu basah atau terendam dalam air. Panaskan pada suhu 78°C atau sampai etanol mendidih. Tujuan dari penyulingan ini adalah untuk memisahkan etanol dari air sehingga akan terjadi penguapan pada etanol, dan mengalirkannya melalui pipa yang terendam air sehingga terkondensasi dan kembali menjadi etanol cair.
  12. Hasil penyulingan ini menghasilkan etanol dengan kadar 95%, Etanol berkadar 95% ini belum larut dalam bensin, tetapi sudah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah. Agar bisa larut dalam bensih, perlu dilakukan penyulingan kedua untuk meningkatkan kadar etanolnya hingga mencapai 99%.
  13. Larutan etanol yang dibutuhkan berkadar 99% (etanol kering), memerlukan destilasi absorbent, yaitu dengan cara memanaskan etanol 95% hingga suhu 100°C, agar etanol dan air menguap. Uap tersebut masuk melalui pipa yang dindingnya sudah dilapisi zeolit atau pati. Zeolit tersebut berfungsi untuk menyerap kadar air tersisa hingga diperoleh etanol berkadar 99%.
Etanol berkadar 99% ini sudah cukup larut dalam bensin sehingga sudah bisa digunakan sebagai campuran bensin untuk kendaraan bermotor.

Cara Membuat Bahan Bakar Bensin atau Bioetanol Dari Beras 2

  1. Pencucian
  2. Cuci sampai bersih beras yang akan dijadikan etanol, kemudian dilakukan pemasakan hingga beras berubah menjadi bubur. Selanjutnya dipanaskan dengan malat. Malat adalah beras berkecambah yang mengandung enzim pengurai pati menjadi karbohidrat yang lebih sederhana, yang disebut maltosa.
    Maltosa memiliki rumus molekul yang sama seperti sukrosa tetapi mengandung dua unit glukosa yang saling mengikat, sedangkan sukrosa mengandung satu unit glukosa dan satu unit fruktosa.
  3. Setelah itu masukkan ragi ke dalam bubur, biarkan hangat pada suhu sekitar 35°C selama beberapa hari sampai proses fermentasi berlangsung sempurna. Tutup sampai rapat dan jangan biarkan udara masuk ke dalam campuran, tujuannya untuk mencegah terjadinya oksidasi etanol menjadi asam ethanoat (asam cuka).
    Tunggu sampai kira-kira 4-5 hari, maka akan dihasilkan dengan kadar etanol berkisar 90%, kadar etanol 90% ini sering juga disebut dengan minyak tanah BE.40.
  4. Pada etanol berkadar 90% ini masih mengandung Pb sehingga perlu ditingkatkan lagi menjadi etanol berkadar 95% dengan cara menambahkan batu kapur (gamping). Karena kadar etanol 90% ini belum cukup berfungsi sebagaimana layaknya minyak tanah.

ARTIKEL POPULER