Tampilkan postingan dengan label OPT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPT. Tampilkan semua postingan

Kutu Daun Myzus Persicae

Kutu Daun Myzus Persicae merupakan hama utama pada tanaman, bersifat polyfag, hampir semua jenis tumbuhan terserang oleh serangga ini. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan mulai dari sedang hingga tinggi. Pada serangan berat, bisa mengakibatkan gagal panen. Kutu Daun Myzus Persicae merupakan serangga vektor penular berbagai jenis virus pada tanaman, sehingga keberadaannya sangat membahayakan petani.

Klasifikasi Kutu Daun Myzus Persicae

Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Class: Insecta
Order: Hemiptera
Family: Aphididae
Genus: Myzus
Species: M. persicae

Anggota family Aphididae ini selalu berwarna hijau ketika fase bersayap (dewasa). Sedangkan pada fase aptarae bisa berwarna kuning, hijau atau merah. Keturunannya mengikuti warna induknya. Siklus hidupnya identik dengan family aphididae lain (lihat pada artikel Kutu Daun Aphis Gossypii). Serangga betina bersifat partenogenesis, mampu menghasilkan keturunan meskipun tanpa kehadiran serangga jantan. Kutu betina bagaikan mesin, akan menghasilkan keturunan setiap 20 menit.

Jenis Tanaman Terserang

Kutu Daun Myzus Persicae menjadi momok bagi petani, terutama petani hortikultura. Resiko kerugian akibat serangan hama ini sangat tinggi, karena menjadi penular virus. Jika populasi tidak terkendali, area pertanaman bisa habis tertular virus. Beberapa jenis tanaman terserang antara lain kentang, tembakau, cabe, tomat, terung, jagung, kacang panjang, buncis, semangka, melon, timun, anggrek, jambu, jeruk, dll.

Geala Serangan

Biasanya terdapat sekumpulan serangga terutama pada daun muda. Pertumbuhan tunas akan terganggu, daun mengerupuk, tanaman tampak mengerdil. Serangan pada bunga dapat mengakibatkan kerontokkan. Serangga ini tergolong sangat rakus, bagian tanaman yang sudah terpotong tetap dihisap cairannya. Biasanya bersembunyi pada permukaan daun bagian bawah atau pada lipatan tunas yang baru tumbuh.

Pengendalian Serangan Kutu Daun Myzus Persicae

Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggiliran tanaman, sanitasi lahan (pembersihan gulma), pemasangan yellow trap, dll. Jika serangan masih sirang, dapat dilakukan dengan membunuh kutu langsung menggunakan tangan. Jika tanaman terlanjur terserang virus, segera musnahkan dari lahan.

Kutu Daun Myzus Persicae

Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, dimetoad, fipronil, lamdasihalotrin, dan klorpirifos. Penyemprotan dilakukan secara rutin dengan interval 5 hari sekali, terutama pada musim kemarau. Lakukan penggantian bahan aktif setiap kali penyemprotan secara bergilir untuk menghindari resistensi terhadap bahan aktif tertentu.

Kutu Putih Pseudococcus sp.

Kutu Putih Pseudococcus sp. merupakan salah satu hama utama yang harus dikendalikan oleh petani atau pembudidaya tanaman. Bersifat polifag, hampir semua jenis tanaman berpotensi terserang oleh kutu putih. Tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh serangan Pseudococcus sp. mulai dari sedang hingga tinggi. Pada serangan tinggi, resiko yang ditimbulkan bisa mengakibatkan kegagalan budidaya.

Klasifikasi Kutu Putih Pseudococcus sp.

Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Class: Insecta
Order: Hemiptera
Suborder: Sternorrhyncha
Family: Pseudococcidae
Genus: Pseudococcus

Anggota family Pseudococcidae memiliki serbuk putih menyerupai lilin yang membungkus seluruh bagian tubuhnya. Serbuk lilin tersebut melindunginya dari serangan predator, bahkan bisa membuat aplikasi pestisida tidak efektif jika tidak disertai surfaktan yang kuat. Biasanya hama ini bersarang di buku-buku tanaman atau permukaan daun muda, dan bisa merusak ujung akar maupun batang bawah tanaman. Berbagai jenis tanaman bisa terserang oleh kutu putih, terutama tanaman buah dan tanaman hias.

Gejala Serangan

Tanaman gagal membentuk tunas baru, daun tua akan menguning, layu, dan rontok satu per satu. Bagian akar menjadi kempis, permukaan cekung, dan tampak kurus. Pada serangan parah, tanaman akan menguning, layu, lalu mati.

Kutu Putih Pseudococcus sp

Penyebab

Karena berukuran sangat ringan, kutu putih mudah berpindah tempat, sehingga tingkat penyebarannya sangat tinggi, terutama pada musim kemarau. Selain mampu berpindah sendiri, penyebaran juga bisa dibantu oleh angin, manusia, atau burung. Adanya lapisan lilin di tubuhnya membuat kutu putih mudah melekat pada apa saja, termasuk pakaian, alat kebun, dan kaki burung.

Siklus hidupnya berlangsung antara 1-5 bulan, tergantung pada spesies, iklim, dan tempat tumbuh. Setiap tahun, kutu putih mampu menurunkan 2-4 generasi. Imago betina dapat menghasilkan telur sebanyak 300-500 butir, dan akan menetas 6-20 hari kemudian.

Upaya Pengendalian

Jika tampak kutu putih di media tanam atau tanah, kemungkinan akar sudah terserang. Bagian tanaman yang rusak biasanya dijadikan sebagai tempat persembunyian. Musnahkan segera tanaman terserang. Lakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif imidakloprid, asetamiprid, lamda sihalotrin, dan klorpirifos. Penyemprotan dilakukan dengan interval 4 hari sekali, dengan menyelingan bahan aktif setiap kali semprot.

Busuk Akar Dan Rebah Semai Rhizoctonia solani

Penyakit Busuk Akar dan Rebah Semai biasanya menyerang tanaman saat masih di pembibitan dan tanaman muda di lahan. Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani, yang biasanya menyerang tanaman berbatang lunak, seperti anggrek, kubis, kentang, cabai, tomat, serta beberapa jenis tanaman hortikultura lain. Tingkat kerusakan akibat serangan Rhizoctonia solani antara sedang hingga berat. Jika terjadi serangan berat, dan penanganan terlambat, maka bisa mengakibatkan bibit tanaman di area persemaian habis. Jika terjadi serangan berat di lahan, maka harus dilakukan penanaman ulang, sehingga biaya produksi akan membengkak. Rhizoctonia solani merupakan cendawan yang sangat berbahaya, oleh karena itu, pembudidaya harus mewaspadai kehadiran cendawan ini, dengan melakukan berbagai upaya pencegahan, sehingga kerugian tidak terlalu besar.

Penyakit Rhizoctonia solani bisa menyerang umbi, akar, dan batang tanaman. Penyakit ini memang begitu tersohor lantaran bisa menggagalkan kegiatan dan tujuan budidaya. Begitu seringnya menyerang tanaman, baik di pembibitan, lahan, sehingga petani sudah cukup familiar dengan nama busuk Rhizoctonia. Bukan hanya menyerang pada fase penanaman, bahkan umbi kentang di gudang penyimpanan juga bisa terinfeksi oleh cendawan ini.

Gejala Serangan

Tanaman terserang akan menunjukkan gejala fisiologis, seperti daun menguning, keriput, dan beberapa waktu kemudian akan layu. Gejala lain yang ditunjukkan adalah tanaman kerdil, pertumbuhan tidak sehat dan tidak sempurna, dan akhirnya mati. Pada tanaman kentang, umbi yang terserang akan kerdil, karena cendawan ini menyerap sebagian besar nutrisi yang mengalir. Tunas-tunas baru yang muncul akan membusuk sebelum mampu keluar dari permukaan tanah. Pada tanaman jagung, akan mengalami hawar pelepah, sedangkan pada tanaman cabai, terong, dan tomat, biasanya menyerang pada fase pembibitan dan tanaman muda. Batang tanaman yang masih kecil akan mengerut, kemudian mati.

Rhizoctonia solani

Penyebab

Spora cendawan yang berada di permukaan tanah menempel pada tanaman, melalui perantara air, peralatan, maupun manusia. Spora akan berkembang menjadii miselium yang menyerang jaringan tanaman. Sirkulasi udara yang kurang baik, sehingga berpotensi meningkatkan kelembaban, disertai drainase yang buruk di sekitar area penanaman, dapat memicu dan memberikan peluang cendawan untuk terus berkembang dan menginfeksi tanaman lain.

Upaya Pengendalian

Agar tidak terjadi serangan parah yang berpotensi menimbulkan kerugian besar, pembudidaya harus melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan serangan cendawan Rhizoctonia solani. Secara teknis dapat dilakukan dengan cara mengatur drainase agar tidak terjadi genangan di sekitar area penanaman. Perbaiki sirkulasi udara, terutama di sekitar rumah pembibitan, bila perlu gunakan kipas angin secara berkala. Jangan lakukan penyiraman secara berlebihan, yang berpotensi meningkatkan kelembaban media tanam.

Secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida ada pembibitan dan tanaman muda di lahan yang baru saja pindah tanam. Namun perlu diingat, pada saat melakukan penyemprotan dosis dan konsentrasi pestisida jangat terlalu pekat, usahakan hanya memberikan setengah dari dosis tanaman dewasa, agar daun tanaman yang masih muda tidak terbakar. Alternatif bahan aktif yang bisa digunakan adalah azoksistrobin, difenokonazol, tebuconazole, simoksanil, atau propamokarb hidroklorida.

Kutu Daun Aphis Gossypii

Kutu Daun Aphis Gossypii merupakan hama penghisap yang sangat membahayakan tanaman, karena serangga ini juga berperan sebagai vektor penular berbagai macam virus. Kutu Aphis bersifat polifag, menyerang berbagai jenis tanaman, termasuk gulma. Kerugian akibat serangan hama ini bisa sangat besar, apalagi jika tanaman terserang sudah terinfeksi virus pada fase-fase awal pertumbuhan. Oleh karena itu, pembudidaya harus mewaspadai munculnya kutu daun Aphis Gossypii, terutama pada musim kemarau.

Kutu Aphis Gossypii menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan, sehingga mengakibatkan bagian tanaman terserang akan terhambat pertumbuhannya. Selain kerusakan pada tanaman, hama ini juga menjadi vektor utama beberapa jenis virus, sehingga sangat berbahaya. Seperti halnya kutu-kutu penghisap lain, Aphis Gossypii juga menghasilkan kotoran berupa cairan manis yang disukai semut. Serangga betina dapat menghasilkan keturunan tanpa adanya serangga jantan (partenogenesis). Dalam satu musim, kutu ini selalu ada dalam berbagai stadium.

Klasifikasi Aphis Gossypii

Kingdom: Animalia
Phylum: Arthropoda
Class: Insecta
Order: Hemiptera
Family: Aphididae
Genus: Aphis
Species: Aphis Gossypii

Gejala Serangan

Aphis Gossypii menghisap cairan tanaman, terutama pada bagian daun, sehingga bagian tepi daun akan mengerut dan menggulung. Bentuk daun akan mengeriting, kerdil, dan akhirnya rontok. Pertumbuhan tunas, daun, dan bunga akan terganggu, sehingga tanaman akan mengalami keterlambatan pertumbuhan. Kutu ini akan mengeluarkan cairan kental manis, sehingga berpotensi menimbulkan serangan cendawan jelaga di permukaan daun yang mengakibatkan proses fotosintesis terganggu.

Penyebab Serangan

Serangan berat biasanya terjadi pada musim kemarau. Populasi kutu bisa meledak sangat besar, lantaran serangga betina bisa berpartenogenesis untuk menghasilkan keturunan. Oleh karena itulah Aphis Gossypii mampu bereproduksi setiap saat. Di daerah tropis, terutama dataran rendah hingga menengah, Aphis Gossypii berkembang sangat pesat. Ledakan populasi kutu ini terutama terjadi pada musim kemarau. Tumbuhnya tunas-tunas baru pada tanaman akan menarik serangga penghisap ini untuk datang.

Siklus Hidup Aphis Gossypii

Reproduksi kutu ini terjadi dalam dua cara, yaitu seksual dan aseksual. Pada kondisi udara dingin, proses reproduksi biasanya terjadi secara aseksual, serangga betina mampu menghasilkan ribuan Aphis baru tanpa kawin dan terjadi dalam waktu 4-6 minggu. Nimfa yang dihasilkan akan melewati empat fase sebelum menjadi serangga dewasa dalam waktu 8-10 minggu. Serangga dewasa akan bereproduksi dalam 2-3 hari kemudian. Serangga dewasa bersayap, sehingga mampu berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain secara cepat, dan tentu akan mempercepat kerusakan di area budidaya.
Kutu Daun Aphis Gossypii

Pengendalian Kutu Daun Aphis Gossypii

Upaya pengendalian kutu ini harus dilakukan secara komprehensif, baik secara mekanis, teknis budidaya maupun kimiawi. Secara mekanis dapat dilakukan dengan memusnahkan bagian tanaman yang sudah terserang parah. Secara teknis budidaya dapat dilakukan dengan melakukan penanaman serempak untuk memutus siklus perkembangan hama. Selain itu, juga harus memilih tanaman yang tahan terhadap serangan kutu daun dan infeksi virus. Tempatkan perangkap kuning di sekitar area budidaya. Secara kimiawi, bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif lamda sihalotrin, tiametoksam, dimetoat, fipronil, dan imidakloprid. Lakukan penggantian bahan aktif setiap kali penyemprotan. Interval penyemprotan 5 hari sekali pada musim kemarau, dan 7 hari sekali pada musim hujan, dengan dosis dan konsentrasi sesuai pada kemasan. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.

Ulat Kubis (Plutella xylostella)

Ulat Kubis (Plutella xylostella) merupakan hama utama pada taman kubis dengan tingkat serangan mulai dari sedang hingga berat. Pada serangan berat bisa mengakibatkan kerugian yang sangat signifikan, terutama menurunnya kualitas produksi. Ilat ini dikenal juga dengan nama Ulat Tritip, dan menjadi salah satu hama yang paling ditakuti oleh petani kubis. Ulat berukuran kecil ini biasanya bersembunyi di balik daun, dan menyerang jaringan daun sehingga jaringan daun kosong, hanya tersisa epidermis saja. Daun yang terserang ditandai dengan bercak-bercak putih.

Gejala Serangan

Gejala serangan dapat diketahui melalui kelainan fisiologis pada daun, dimana terdapat bercak putih akibat jaringan daun kehilangan isinya. Serangan berat membuat daun tidak mampu melakukan proses fotosintesis, sehingga pertumbuhan tanaman bisa terhambat.

Penyebab Serangan Ulat Kubis (Plutella xylostella)

Serangan berat hama utama pada tanaman kubis ini dipicu oleh suhu dan kelembaban udara tinggi. Pada kondisi tersebut, serangga dewasa akan terangsang untuk kawin dan berkembang biak. Imago akan menghasilkan telur, yang kemudian menetas dan berubah menjadi larva. Pada instar satu, larva akan menggorok dan memakan bagian dalam jaringan daun. Pada instar berikutnya, larva akan memakan dan membuat lubang pada daun. Daun yang terluka berpotensi terserang penyakit sekunder, yang disebabkan oleh cendawan maupun bakteri.
Ulat Kubis Plutella xylostella
Di dataran rendah, kurang lebih pada ketinggian 100-80 meter di atas permukaan laut, daur hidup ulat ini lebih pendek dibanding dengan dataran tinggi, di atas 100 mdpl. Nengat betina tanpa sayap akan bertelur pada satu atau beberapa daun secara mengelompok. 2-4 hari akan menetas dan berubah menjadi larva. Setelah 9-12 hari, larva berubah menjadi kepompong atau pupa, kemudian menjadi ngengat dewasa dalam 4-7 hari. Ngengat jantan bersayap, sedangkan ngengat betina tidak bersayap, dan akan bertelur dalam waktu 7-20 hari.

Upaya Pengendalian Serangan Ulat Kubis (Plutella xylostella)

Secara teknis budidaya, serangan ulat ini dapat dikendalikan dengan memutus siklus hidupnya, yaitu dengan penggiliran atau rotasi tanaman. Selain itu, petani juga bisa mengamati tanaman secara manual dan memusnahkan telur, ulat, dan serangga dewasa. Buat perangkap bercahaya, misalnya menggunakan obor, karena ngengat tertarik dengan cahaya pada malam hari.

Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan rutin menggunakan insektisida. Namun perlu diingat, bahwa ulat ini mudah sekali resisten terhadap bahan aktif pestisida, sehingga diusahakan melakukan menggantian bahan aktif setiap kali melakukan penyemprotan. Beberapa pilihan bahan aktif yang bisa digunakan antara lain deltametrin, betasiflutrin, emamektin benzoat, klorantaniliprol, tiametoksam, klorfluazuran, dan fipronil. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.

Bercak Daun Alternaria Sp.

Bercak Daun Alternaria Sp. merupakan salah satu penyakit pada tanaman yang sangat merugikan petani. Penyakit ini terutama menyerang tanaman hortikultura, seperti tanaman cabai, tomat, semangka, melon, timun, kentang, bawang merah, bawang putih, dll. Tak hanya di lahan, menyakit ini juga mampu menyerang kentang pada gudang penyimpanan. Hal yang paling menakutkan dari serangan bercak daun ini adalah rontoknya daun secara besar-besaran, sehingga tanaman tidak mampu melakukan proses fotosintesis. Kerugian paling fatal akibat berhentinya proses fotosintesis adalah pertumbuhan yang terhambat. Tanaman menjadi kerdil, kurang nutrisi, dan produksi bisa mengalami kegagalan.

Klasifikasi Ilmiah Alternaria Sp.

Kingdom: Fungi
Phylum: Ascomycota
Subdivision: Pezizomycotina
Class: Dothideomycetes
Order: Pleosporales
Family: Pleosporaceae
Genus: Alternaria
Spesies:
  • Alternaria alternata
  • Alternaria alternantherae
  • Alternaria arborescens
  • Alternaria arbusti
  • Alternaria blumeae
  • Alternaria brassicae
  • Alternaria brassicicola
  • Alternaria burnsii
  • Alternaria carotiincultae
  • Alternaria carthami
  • Alternaria celosiae
  • Alternaria cinerariae
  • Alternaria citri
  • Alternaria conjuncta
  • Alternaria cucumerina
  • Alternaria dauci
  • Alternaria dianthi
  • Alternaria dianthicola
  • Alternaria eichhorniae
  • Alternaria euphorbiicola
  • Alternaria gaisen
  • Alternaria helianthi
  • Alternaria helianthicola
  • Alternaria hungarica
  • Alternaria infectoria
  • Alternaria japonica
  • Alternaria limicola
  • Alternaria linicola
  • Alternaria longipes
  • Alternaria molesta
  • Alternaria panax
  • Alternaria perpunctulata
  • Alternaria petroselini
  • Alternaria radicina
  • Alternaria raphani
  • Alternaria saponariae
  • Alternaria selin
  • Alternaria senecionis
  • Alternaria solani
  • Alternaria smyrnii
  • Alternaria tenuissima
  • Alternaria triticina
  • Alternaria zinniae
Bercak Daun Alternaria Sp.

Gejala Serangan Bercak Daun Alternaria Sp.

Adanya bercak kering berwarna coklat tua pada daun tanaman. Mula-mula bercak berukuran kecil, makin lama melebar di permukaan daun. Serangan awal biasanya terjadi pada daun tua di bagian bawah, lalu serangan meluas ke seluruh daun. Makin lama daun akan menguning, dan rontok. Pada serangan parah, seluruh daun habis, sehingga pertumbuhan tanaman merana. Cendawan ini juga menyerang buah tomat, baik tua maupun muda, sehingga mengakibatkan buah rontok, dan produksi terancam gagal.

Penyebab Serangan

Cendawan Alternaria Sp. biasanya menyerak pada kondisi udara dengan kelembaban diatas 60% dan suhu 26-32 derajat Celcius. Kondisi tersebut bisa dipicu karena hujan terus menerus, drainase buruk, atau terlalu lama melakukan penggenangan pada musim kemarau. Percikan air hujan dapat membantu penyebaran spora, sehingga penularan penyakit bercak daun semakin cepat. Spora cendawan bisa bertahan dalam benih atau sisa tanaman terserang.

Upaya Pengendalian Bercak Daun Alternaria Sp.

Upaya pengendalian harus dilakukan secara komprehensif, baik teknis maupun kimiawi. Secara teknis dapat dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain menggunakan bibit tahan terhadap penyakit Alternaria Sp., pengaturan jarak tanam, penggiliran tanaman, memusnahkan bagian tanaman terserang, dan tidak melakukan pengairan berlebihan, terutama pada sore hari. Upaya tersebut harus dilakukan secara menyeluruh, untuk menghindari terciptanya kondisi yang memicu serangan bercak daun Alternaria Sp.

Secara kimiawi, dapat menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, karbendazim, klorotalonil, atau tembaga. Gunakan bahan aktif tersebut secara berseling, dengan dosis atau konsentrasi sesuai pada kemasan. Penyemprotan fungisida dilakukan secara rutin, tiga hari sekali pada musim hujan, dan seminggu sekali pada musim kemarau. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.

Erythricium salmonicolor (Cendawan Upas)

Erythricium salmonicolor atau lebih dikenal dengan istilah cendawan upas (jamur upas) sering menyerang tanaman-tanaman keras, seperti karet, mimosa hias, albasia, dll. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan serangan cendawan ini tergolong sedang hingga berat. Pada serangan berat, bisa mengakibatkan tanaman mati. Selain dikenal dengan istilah cendawan upas, Erythricium salmonicolor juga dikenal dengan sebutan pink fungus desease. Hampir semua jenis tanaman berkayu dapat terserang oleh cendawan ini, termasuk kopi dan kakao. Bagian tanaman yang biasa terserang adalah batang, cabang, dan ranting. Cendawan ini mampu bertahan hidup dan berkembang pada daerah tropis hingga subtropis. Biasanya Erythricium salmonicolor menyerang tanaman pada kondisi lembab, dan kurang sinar matahari.

Klasifikasi Erythricium salmonicolor

Kingdom: Fungi
Phylum: Basidiomycota
Class: Basidiomycetes
Subclass: Agaricomycetidae
Order: Corticiales
Family: Corticiaceae
Genus: Erythricium
Species: Erythricium salmonicolor
Erythricium salmonicolor (Cendawan Upas)

Gejala Serangan

Gejala serangan Cendawan upas ditandai dengan munculnya bercak putih, terutama pada bagian batang yang lembab dan tidak terkena serangan matahari. Pada serangan awal, cendawan ini mengeluarkan miselium yang menyerupai benang-benang halus berwarna putih seperti sarang laba-laba. Lama-kelamaan miselium akan menyebar dan tumbuh menjadi kerak berwarna merah muda. Pada stadium ini, cendawan juga memproduksi spora tidak sempurna, dan permukaan kayu yang tertutup akan membusuk. Pada tanaman karet, lateks akan keluar menetes pada daerah yang terinfeksi, namun pada bagian kering akan memunculkan tunas-tunas baru. Cendawan yang berwarna merah muda lama kelamaan akan memucat dan berubah menjadi keputihan. Pada stadium lanjut, batang/dahan/ranting yang terserang akan mati. Jika serangan terjadi di pangkal batang, maka seluruh tanaman akan mati.

Penyebab

Kelembaban merupakan pemicu utama serangan cendawan upas (Erythricium salmonicolor), terutama jika kelembaban melebihi 80%. Hembusan angin dan percikan air dapat berperan membawa spora cendawan, dan menular kebagian lain pada tanaman.

Mengatasi Serangan Cendawan Upas

Secara teknis dapat mengurangi resiko serangan dengan menjaga kelembaban di sekitar tanaman, terutama jika tajuk terlalu rindang, maka perlu dilakukan pemangkasan agar sinar matahari bisa masuk dan sirkulasi udara lancar. Selain itu, jarak tanam juga harus dijaga, jangan terlalu rapat. Pada tanaman perkebunan, usahakan untuk menanam varietas yang tahan terhadap cendawan upas. Bagian tanaman yang sudah terlanjur terserang dipangkas dan buang dari area pertanaman, kemudian olesi bekas pangkasan tersebut menggunakan fungisida.

Secara kimiawi dapat dilakukan dengan mengoleskan bubur bordeaux, yaitu bubur yang dibuat dari campuran tembaga sulfat dan kapur. Cara membuat bubur bordeaux cukup mudah, campurkan 1 kg tembaga sulfat dan 1,25 kg kapur, kemudian tambahkan air sebanyak 100 liter, aduk hingga rata. Oleskan bubur tersebut pada permukaan batang yang terserang. Sebaiknya batang dikerok terlebih dahulu sebelum pengolesan. Untuk tanaman karet, sebaiknya bubur bordeaux digunakan pada 6 bulan sebelum masa sadap, karena kandungan tembaga yang tinggi dapat merusak lateks. Jika sudah memasuki masa sadap, sebaiknya gunakan fungisida lain, misalnya fungisida berbahan aktif tridemorf. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.

HAMA ULAT TANAH (Agrotis sp.) DAN CARA PENGENDALIANNYA

Hama Ulat Tanah (Agrotis sp.) merupakan salah satu jenis hama ulat perusak tanaman yang banyak dikeluhkan para petani, terutama petani hortikultura. Hama ulat tanah seringkali menyerang batang tanaman muda, baik di persemaian maupun setelah pindah tanam. Ulat tanah (Agrotis sp.) bersembunyi di dalam tanah, pada bongkahan tanah, dan terkadang juga dijumpai di balik mulsa PHP (plastik hitam perak) pada budidaya tanaman secara intensif, sehingga ulat tanah dengan mudah merusak akar dan pangkal batang tanaman. Tanaman yang terserang ulat tanah keesokan harinya akan rebah, terkadang hanya tersisa batang bawahnya saja. Seperti halnya jenis hama ulat lainnya, hama ulat tanah menyerang tanaman pada malam hari. Ulat tanah (Agrotis sp.) menyerang tanaman budidaya dengan cara memotong batang, sehingga hama ulat tanah juga dikenal dengan nama ulat pemotong (cut worm). Selain menyerang batang muda, ulat tanah juga menyerang bagian tanaman lain, seperti bagian akar, dan daun tanaman.
Hama ulat tanah banyak dijumpai pada tanaman budidaya, seperti saat kita sedang budidaya cabe, budidaya kentang, budidaya terong, budidaya bawang putih, budidaya bawang merah, budidaya tomat, budidaya melon, budidaya jagung, dan budidaya tanaman hortikultura lainnya. Tingkat serangan hama ulat tanah (Agrotis sp.) tergolong tinggi, bahkan jika hal ini tidak diantisipasi, kemungkinan serangan ulat tanah bisa mencapai 50% dari total tanaman budidaya. Alhasil, pertumbuhan tanaman tidak seragam karena banyak tanaman sulaman. Apalagi jika tanaman lebih dari 2 minggu masih disulam, dapat meningkatkan tingkat kesulitan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Untuk ini, pengetahuan tentang hama ulat tanah (Agrotis sp.) maupun cara pengendalian yang tepat guna perlu diketahui oleh seorang petani, terutama petani hortikultura. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko kegagalan produksi, diharapkan produksi yang dihasilkan tinggi sesuai tingkat produktifitas masing-masing komoditas pertanian.

Klasifikasi Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Family : Noctuidae
Genus : Agrotis
Organisme pengganggu tanaman dari spesies Agrotis sp. adalah Agrotis ipsilon, Agrotis segetum dan Agrotis interjectionis.

Siklus Hidup Ulat Tanah (Agrotis sp.)




Siklus hidup ulat tanah sama dengan jenis hama ulat lainnya. Dalam satu generasi, diselesaikan dalam waktu antara 28-42 hari. Ngengat dewasa meletakkan telurnya di permukaan daun tanaman, tangkai daun, maupun tangkai batang. Kemudian telur menetas dan berubah menjadi larva. Saat malam hari, larva memakan tanaman muda untuk melangsungkan hidupnya, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah, dibalik mulsa, maupun pada bongkahan tanah. Selanjutnya ulat besar akan berubah menjadi kepompong, dan keluar menjadi ngengat dewasa yang akan segera bertelur lagi, demikian seterusnya.

Gejala Serangan Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Gejala serangan hama ulat tanah ditandai dengan terpotongnya batang tanaman, terutama tanaman muda di persemaian. Tanaman yang baru saja pindah tanam terpotong hingga putus dan menyisakan pangkal batangnya saja.

Pengendalian Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Seperti halnya jenis hama ulat bulu, ulat grayak, ulat kubis dan jenis hama ulat lainnya, hama ulat tanah Agrotis sp. dapat dikendalikan dengan beberapa cara juga, yaitu bisa secara teknis, mekanis maupun kimiawi.

Pengendalian Secara Teknis

Pengendalian secara teknis untuk ulat tanah dapat dengan penggenangan lahan selama sehari penuh. Hal ini bertujuan untuk membunuh hama ulat tanah maupun pupa yang masih bersembunyi di dalam tanah. Penggunaan mulsa PHP juga dianjurkan, terutama untuk budidaya intensif karena mulsa plastik ini mampu meningkatkan suhu di dalam tanah sehingga ulat tanah maupun pupa yang tersisa di dalam tanah akan musnah.

Pengendalian Secara Mekanis

Pengendalian mekanis untuk ulat tanah dilakukan dengan cara memusnahkan seluruh tanaman terserang dengan mencabut sampai ke bagian akarnya, sehingga telur-telur yang masih menempel segera dimusnahkan.

Pengendalian Secara Kimiawi

Pembuatan lubang tanam pada tanah dilakukan 1 minggu sebelum tanam, kemudian masukkan 1 sendok makan pestisida berbahan aktif karbofuran ke dalam lubang tanam. Setelah itu, ditutup dengan tanah tipis-tipis. Aplikasi pestisida ini dapat dilakukan bersamaan dengan pemupukan dasar maupun aplikasi lainnya pada lubang tanam.
Jika setelah tanaman tumbuh dan serangan ulat tanah belum melebihi ambang batas pengendalian, maka diupayakan untuk melakukan pengendalian mekanis. Hal ini bertujuan mengurangi tingkat resistensi hama ulat tanah terhadap jenis bahan aktif pestisida. Namun jika serangan cukup tinggi, bisa dilakukan penyemprotan menggunakan bahan aktif pestisida, seperti klorpirifos, sipermetrin, lamda sihalotrin, deltametrin, profenofos, tiodikarb, klorantraniliprol, amamektin benzoat, metomil, betasiflutrin, kartophidroklorida, atau dimehipo sesuai petunjuk pada kemasan.
Pilih beberapa bahan aktif tersebut untuk penyelingan saat penyemprotan. Yang perlu diperhatikan saat mengendalikan ulat tanah adalah jangan menggunakan hanya 1 bahan aktif saja, minimal 2 bahan aktif, namun lebih banyak lebih baik. Gunakan dosis terendah seperti yang tertera di kemasannya terlebih dahulu, baru ditingkatkan jika tidak ada perubahan signifikan. Hal ini bertujuan mengurangi resistensi hama ulat tanah (Agrotis sp.) terhadap jenis bahan aktif tertentu.

Hama Ulat Bulu Lymantriidae dan Cara Pengendaliannya

Hama Ulat Bulu Lymantriidae merupakan salah satu jenis hama perusak tanaman yang akhir-akhir ini menjadi masalah besar di dunia pertanian, terutama dari jenis tanaman keras. Hama Lymantriidae disebut dengan ulat bulu karena seluruh tubuh jenis ulat ini ditutupi oleh bulu-bulu. Bulu dari famili ulat Lymantriidae merupakan senjata untuk bertahan dari serangan predator. Jika bulu tersentuh kulit akan timbul rasa panas yang sangat menyengat, dan seringkali mengakibatkan bentol-bentol pada kulit, terutama kulit manusia. Ulat dari famili Lymantriidae bersifat polifag, yaitu memiliki banyak inang (ulat dapat berkembangbiak dengan baik pada semua jenis tanaman).

Tingkat serangan hama ulat bulu sangat tinggi, bahkan jika populasi pada tanaman terserang tinggi, tanaman seperti meranggas tidak memiliki satu helai daunpun, hanya tersisa tulang daun dan ranting saja. Bahkan dalam waktu singkat, hanya semalam saja, serangan ulat mampu menghabisi seluruh daun tanaman. Apabila jumlah daun tidak mencukupi kebutuhan ulat, ulat bulu akan turun dari pohon untuk mencari makanan. Jika lokasi tanaman terserang dekat dengan pemukiman, atau mungkin di depan rumah kita, maka ulat bisa masuk ke dalam rumah dengan jumlah yang tidak sedikit.

Serangan parah biasanya terjadi saat musim kemarau tiba. Pada musim ini, ngengat terangsang berkembangbiak dengan tingkat populasi sangat tinggi, sehingga serangan ulat bulu seringkali melampaui ambang ekonomi. Meskipun bersifat polifag, hama ulat ini jarang ditemukan pada tanaman berbatang lunak maupun rerumputan. Ulat bulu lebih banyak menyerang pepohonan dan tanaman menyemak berkayu.

Klasifikasi Ulat Bulu Lymantriidae

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Superfamily : Noctuidae
Family : Lymantriidae
Lymantriidae memiliki banyak spesies, bahkan mencapai 2500 spesies. Namun organismepengganggu yang banyak dijumpai adalah Orgyia postica, Dasychira inclusa, D. mendosa, D. pennatula, Psalis pennatula, Laelia suffusa, Euproctis virguncula, dll.

Siklus Hidup Ulat Bulu Lymantriidae




Ngengat dewasa mampu bertelur antara 50-200 butir. Telur-telur ini diletakkan di permukaan daun tanaman, tangkai daun, maupun pada retakan kulit batang. Setelah menetas, telur berubah menjadi larva dan segera mencari tempat untuk melangsungkan hidup. Larva ulat bulu berganti kulit antara 3-4 kali dan semakin membesar. Kemudian ulat besar berubah menjadi kepompong, selanjutnya dari kepompong keluar ngengat dewasa yang hanya dalam waktu beberapa hari akan segera bertelur.

Gejala Serangan Ulat Bulu Lymantriidae

Ulat menyerang daun tanaman dengan meninggalkan tanda bergerigi pada tepi daun akibat gigitan ulat. Namun, jika serangan tinggi daun tanaman dimakan sampai tidak tersisa sedikitpun, tinggal tulangnya saja.

Pengendalian Ulat Bulu Lymantriidae

Ulat Bulu Lymantriidae dapat dikendalikan dengan beberapa cara tergantung dari tingkat serangan terhadap tanaman. Pengendalian dapat dilakukan secara teknis, mekanis maupun kimiawi. Pengendalian teknis terutama bertujuan untuk mencegah atau mengurangi serangan tinggi. Sedangkan jika populasi ulat bulu sangat tinggi dengan serangan telah melebihi ambang ekonomi, maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida untuk mengurangi resiko kegagalan produksi.

1. Pengendalian Secara Teknis

Seperti halnya saat mengendalian hama ulat lain, pengendalian ulat bulu untuk tanaman budidaya dilakukan dengan melakukan teknis budidaya yang benar, diantaranya menjaga sanitasi kebun, melakukan penggiliran tanaman, maupun dengan pengolahan tanah (pencangkulan dan penggaruan).

2. Pengendalian Secara Mekanis

Secara manual, dilakukan penangkapan terhadap ulat, telur, maupun kepompong, lalu dimusnahkan. Cara ini lebih efektif dilakukan pada malam hari dengan menempatkan perangkap lampu di area penanaman untuk menjebak ngengat.

3. Pengendalian Secara Kimiawi

Pengendalian ulat bulu secara kimiawi harus dilakukan secara tepat. Penggunaan pestisida yang melebihi dosis penggunaan justru dapat meningkatkan resistensi atau tingkat kekebalan ulat terhadap suatu jenis bahan aktif tertentu. Oleh sebab itulah, setiap kali melakukan penyemprotan pestisida harus dilakukan penggiliran bahan aktif. Tujuan dari penggantian bahan aktif pestisida ini adalah agar tingkat resistensi ulat bulu terhadap bahan aktif tertentu dapat diputus.
Gunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, klorantraniliprol, profenofos, klorpirifos, tiodikarb, amamektin benzoat, metomil, kartophidroklorida, betasiflutrin, atau dimehipo sesuai petunjuk pada kemasan. Pilih beberapa bahan aktif tersebut untuk penyelingan saat penyemprotan. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.

PENYAKIT BUSUK PHYTOPHTHORA

Penyakit Busuk Phytophthora merupakan salah satu penyakit yang sangat merugikan kegiatan agribisnis, terutama subsektor hortikultura. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Phytophthora spp. yang memiliki banyak tanaman inang. Serangan berat terjada pada saat kelembaban tinggi serta suhu udara rendah. Beberapa jenis tanaman yang rentan terhadap serangan cendawan Phytophthora spp. diantaranya adalah cabai, tomat, tembakau, kentang, anggrek, durian, agave, azela, alpukat, jeruk, kapas, kelengkeng, bawang merah, melon, bahkan tanaman kelapa pun bisa terinfeksi oleh cendawan ini.

Klasifikasi Cendawan Phytophthora spp.

Cendawan Phytophthora spp. digolongkan dalam ordo Peronosporales dan famili Pythiaceae. Berikut ini klasifikasi lengkap Phytophthora spp.:

Domain: Eukaryota
Kerajaan: Chromalveolata
Filum: Heterokontophyta
Kelas: Oomycetes
Ordo: Peronosporales
Famili: Pythiaceae
Genus: Phytophthora

Gejala Serangan Phytophthora spp.




Adanya bercak atau busuk basah berwarna coklat kehitaman. Semua bagian tanaman bisa terinfeksi oleh cendawan ini, mulai dari akar, umbi, batang, daun, tunas, hingga buah. Serangan pada batang bisa menyebabkan tanaman membusuk kemudian layu. Serangan pada umbi menimbulkan bercak berwarna coklat karena jaringan umbi mati. Sementara serangan pada daun, bunga, dan buah dapat mengakibatkan kerontokan. Pada musim hujan, spora cendawan berkembang sangat cepat.

Upaya Pengendalian

Pengendalian Teknis

Pengendalian secara teknis menitikberatkan pada teknis atau cara budidaya, meliputi pola budidaya, pengolahan lahan, pemupukan, pengaturan kelembaban, serta menjaga kebersihan lingkungan pertanaman. Pola budidaya dilakukan dengan penggiliran tanaman, misalnya menanam tanaman tahan terhadap serangan cendawan Phytophthora spp. Pengolahan lahan dengan penyangkulan atau pembajakan agar tanah terkena sinar matahari dapat mengurangi spora cendawan di dalam tanah. Pemupukan berimbang agar tanaman lebih kokoh, tidak terlalu banyak nitrogen, sehingga lebih tahan terhadap serangan cendawan. Pengaturan kelembaban dan menjaga kebersihan areal pertanaman untuk mengurangi perkembangan spora. Hindari adanya genangan air di sekitar tempat budidaya, agar tidak memicu perkembangan spora cendawan.

Pengendalian Mekanis

Pengendalian mekanis merupakan upaya mengendalikan penyakit phytophthora secara fisik. Cara pengendalian ini menitikberatkan pada kegiatan sanitasi kebun. Kegiatan ini meliputi pengendalian gulma atau tanaman pengganggu untuk menjaga kelembaban. Selain itu, gulma juga bisa menjadi tanaman inang cendawan Phytophthora spp. Tanaman terserang juga harus dibersihkan dan dimusnahkan dari areal pertanaman. Bagian tanaman terserang segera dipotong, bekas potongan diolesi dengan fungisida. Pada saat melakukan pembersihan tanaman terserang, tenaga kerja sebaiknya tidak melakukan kegiatan lain, karena bisa jadi spora cendawan menempel di tangan, peralatan, bahkan pakaian.

Pengendalian Organik

Pengendalian secara organik dilakukan dengan memanfaatkan agensia hayati maupun pestisida organik. Agensia hayati yang cukup efektif menekan pertumbuhan spora cendawan adalah Thrichoderma sp. dan Gliocladium sp. Aplikasi bisa dilakukan dengan pengocoran di lubang tanam atau melalui penyemprotan. Sedangkan pestisida organik bisa memanfaatkan serai, bawang putih, kunyit, serta minyak cengkeh. Rebus semua bahan tersebut, kemudian air rebusan bisa dicampurkan untuk penyemprotan. Jumlah bahan dan konsentrasi larutan bisa melakukan uji coba sendiri. Berdasarkan pengalaman penulis, 2 kg bawang putih, 2 kg bawang merah, 2 kg kunyit, dan 2 genggam serai, direbus dalam 15 liter air. Gunakan air rebusan tersebut dengan konsentrasi 1 liter per tangki. Lakukan penyemprotan dengan interval tiga hari sekali. Upaya tersebut mampu mengendalikan penyakit phytophthora pada tanaman tomat.

Pengendalian Kimiawi

Jika serangan sudah parah, atau melampaui ambang ekonomis, lakukan penyemprotan menggunakan fungisida kimia. Namun perlu diingat, aplikasi pestisida kimia harus memperhatikan prinsip 4 tepat, yaitu tepat waktu, tepat dosis, tepat sasaran, dan tepat cara. Disamping itu, berhubung cendawan ini mudah beradaptasi dengan bahan aktif pestisida, maka harus dilakukan penggiliran atau penggantian bahan aktif setiap kali melakukan penyemprotan, sehingga tidak menimbulkan resistensi atau kekebalan. Untuk melakukan pengendalian Phytophthora spp. secara kimiawi bisa menggunakan fungisida sistemik dan kontak yang diaplikasikan secara berseling. Contoh bahan aktif fungisida sistemik yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf. Sedangkan bahan aktif fungisida kontak yang bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis atau konsentrasi larutan sesuai petunjuk pada kemasan.

LAYU FUSARIUM (Fusarium oxysporum)

Layu Fusarium (Fusarium oxysporum) – Penyakit layu fusairum disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum, merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti terutama oleh petani hortikultura karena berpotensi menimbulkan kerugian besar. Bahkan tidak jarang penyakit ini menjadi penyebab kegagalan budidaya. Pada tingkat serangan tinggi, penyakit layu fusarium bisa menghabisi seluruh tanaman, terutama terjadi pada musim hujan dan areal pertanaman mudah tergenang air.

Perkembangan Spora Cendawan Fusarium oxysporum

Cendawan ini mampu menghasilkan tiga tipe spora, yaitu mikrokonidia, makrokonidia, dan klamidospora. Mikrokondidia spora diproduksi oleh cendawan ini di dalam jaringan tanaman terserang. Sementara makrokonidia spora diproduksi dipermukaan tanaman yang mati setelah terserang atau terinfeksi. Sedangkan klamidospora merupakan spora yang terdapat pada tanah yang sudah terinfeksi. Klamidospora mampu bertahan selama 30 tahun di dalam tanah.

Baik mikrokonidia, makrokonidia, dan klamidospora dapat menyebar dengan bantuan air, peralatan pertanian, maupun kegiatan budidaya. Klamidospora merupakan jenis spora yang sangat aktif menginfeksi tanaman sehat melalui luka pada akar, maupun titik tumbuh akar lateral. Setelah masuk xilem, miselium bercabang dan menghasilkan mikrokondidia yang akan terus berkecambah di dalam jaringan tanaman. Pertumbuhan mikrokonidia spora ini mempengaruhi pasokan air, sehingga tanaman menjadi lemas dan akhirnya mati.

Tanaman Terserang




Cendawan Fusarium oxysporum bersifat polifag, memiliki banyak tanaman inang, terutama tanaman sayuran. Beberapa jenis tanaman yang paling rentan terhadap serangan penyakit ini adalah cabai, pisang, terong, tomat, kubis, seledri, jeruk kopi, kapas, mentimun, melon, kedelai, labu, bawang merah, semangka, dan lain-lain. Tidak jarang penyakit layu fusarium menghabisi areal pertanaman cabai, terutama saat cabai memasuki fase pembuahan, yaitu antara umur 40-60 hari. Serangan berat juga kerap menyerang areal pertanaman melon, mentimun dan tomat yang menimbulkan kegagalan hingga 100%.

Gejala Serangan

Serangan cendawan Fusarium oxysporum ditandai dengan gejala menguningnya daun-daun tua yang kemudian menjalar ke atas. Tulang daun memucat dan berwarna keputihan. Tanaman terkulai karena penyerapan unsur hara maupun air tidak bisa dilakukan. Hal ini disebabkan berkas pembuluh pengangkut membusuk. Jika tanah di sekitar lubang tanam dibongkar, tampak akar tanaman membusuk dan berwarna kecokelatan. Jika pangkal batang dipotong secara melintang, terdapat lingkaran cokelat kehitaman berbentu cincin, yang menunjukkan bahwa berkas pembuluh pengangkut rusak. Jika menyerang pembibitan, tunas tiba-tiba layu dan tanaman mati.

Upaya Pengendalian

Pengendalian Teknis

Lakukan penggiliran tanaman dengan tanaman yang tidak rentan terhadap serangan Fusarium oxysporum. Pengolahan lahan dengan pencangkulan dan pembalikan tanah, agar bibit penyakit terkena sinar matahari. Pengapuran lahan untuk meningkatkan pH tanah. Pada pH mendekati normal, cendawan tidak begitu aktif menyerang. Jaga kelembaban di areal pertanaman, hindari adanya genangan air yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan spora.

Pengendalian Mekanis

Sanitasi kebun untuk menjaga kelembaban areal pertanaman. Penyiangan secara rutin terhadap gulma atau tanaman penggangu. Musnahkan tanaman terserang, usahakan agar tanah pada tanaman terserang tidak tercecer. Masukkan tanaman dalam wadah agar tanahnya tidak tercecer. Peri kapur pada bekas tanaman yang dicabut.

Pengendalian Organik

Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma pada saat persiapan lahan, pada umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran dengan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan. Dapat juga dilakukan pengocoran dengan air rebusan serai atau bawang putih setiap tujuh hari sekali.

Pengendalian Kimiawi

Meskipun cendawan ini tergolong resisten terhadap bahan aktif pestisida, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba aplikasi fungisida sistemik berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Lakukan penyemprotan secara rutin minimal tujuh hari sekali.

HAMA ULAT GRAYAK (Spodoptera sp.)

Hama Ulat Grayak (Spodoptera sp.) – Ulat grayak dikenal juga dengan sebutan ulat tentara, karena menyerang tanaman secara bergerombol bagaikan tentara hingga daun tanaman habis dan meranggas. Tingkat kerusakan akibat serangan ulat ini cukup tinggi, bahkan Spodoptera sp. mampu menghabisi tanaman hanya dalam waktu satu malam. Seperti halnya ulat-ulat lain, ulat grayak tergolong jenis hama malam, dimana menyerang tanaman terutama pada malam hari.

Organisme pengganggu ini terdiri dari beberapa spesies, antara alain Spodoptera litura, Spodoptera exigua, Spodoptera mauritia, dan Spodoptera exempta. Tanaman terserang ditandai dengan adanya daun yang meranggas, hanya tersisa tulang daunnya saja. Ulat ini menyerang dengan cara bergerombol dalam jumlah sangat banyak, sehingga potensi kerugian petani bisa sangat tinggi. Ulat grayak terutama menyerang tanaman pada malam hari. Hama ini tergolong polifag, hampir setiap jenis tanaman diserang habis-habisan. Serangan parah terjadi pada musim kemarau, pada saat kelembaban udara rata-rata 70% dan suhu udara18-23%. Pada saat cuaca demikian, ngengat akan terangsang untuk berbiak serta prosentase penetasan telur sangat tinggi, sehingga populasinya menjadi sangat tinggi dan tingkat serangannya jauh melampaui ambang ekonomi.

Klasifikasi Ulat Grayak (Spodoptera sp.)

Kerajaan : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Bangsa : Lepidoptera
Suku : Noctuidae
Marga : Spodoptera
Jenis : Spodoptera litura, Spodoptera exigua, Spodoptera mauritia, dan Spodoptera exempta.

Siklus Hidup Ulat Grayak




Siklus hidup Spodoptera sp. berlangsung dalam empat stadium, yaitu stadium telur, larva, pupa, dan imago atau ngengat. Ngengat betina meletakkan telurnya di permukaan daun tanaman dengan jumlah telur antara 2000-3000 butir. Setelah 3-5 hari, telur akan menetas menjadi larva dan hidup secara berkelompok dalam jumlah sagat banyak. Fase ini terdiri atas lima instar, dan pada instar terakhir, ulat sangat rakus dan bisa menghabisi daun tanaman dalam waktu satu malam. Pada siang hari, larva akan bersembunyi di dalam tanah, dan malam harinya sangat aktif untuk memakan daun-daun tanaman. Fase larva berlangsung kurang lebih selama 20 hari, kemudian akan berubah menjadi pupa. Stadium pupa akan berlangsung selama kurang lebih 8 hari, kemudian akan keluar ngengat dewasa. Pada umur 2-6 hari, ngengat dewasa sudah kembali bertelur untuk menurunkan generasi baru.

Gejala Serangan Ulat Grayak

Gejala serangan ditandai dengan daun tanaman meranggas, biasanya hanya tersisa tulang daunnya saja. Pada serangan parah, tanaman akan gundul kehabisan daun. Jika populasinya sangat tinggi, larva pada stadium akhir dapat menghabisi seluruh daun tanaman hanya dalam waktu semalam.

Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera sp.)

Pengendalian Secara Teknis

Pengendalian dilakukan dengan melakukan teknis budidaya yang benar. Beberapa upaya teknis untuk mengurangi serangan ulat grayak adalah menjaga sanitasi kebun, pengolahan tanah (pencangkulan dan penggaruan), penggiliran tanaman.

Pengendalian Mekanis

Lakan penangkapan secara manual, terutama terhadap larva. Pengendalian ini efektif dilakukan pada malam hari. Jika ditemukan sekumpulan telur yang berada di permukaan daun dan diselimuti seperti benang kelamat, segera musnahkan.

Pengendalian Secara biologi

Pengendalian ini pada initinya menitikberatkan pada pemanfaatan musuh alaminya. Terdapat beberapa musuh alami ulat grayak baik dari jenis predator, parasitoid, maupun patogen. Beberapa jenis predator yang bisa dimanfaatkan untuk menekan populasi ulat grayak antara lain Lycosa pseudoannnulata (Araceae), Paederus fuscipes (Coleoptera), Euburellia stali (Dermaptera), dan Eocantheocona furcellata (Hemiptera). Sementara itu, jenis parasitoid yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan ulat grayak adalah Apanteles sp. (Hymenoptera), dan Telenomus sp. (Hymenoptera). Sedangkan patogen yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan ulat grayak adalah SlNPV dan Beauveria bassiana.

Pengendalian Kimiawi

Upaya pengendalian kimiawi hanya dilakukan apabila serangan tidak terkendali setelah dilakukan upaya-upaya pengendalian di atas. Ulat grayak tergolong jenis ulat yang mudah resisten atau kebal terhadap suatu jenis bahan aktif pestisida. Oleh karena itu, penggiliran bahan aktif pestisida setiap kali penyemprotan merupakan kunci keberhasilan pengendalian Spodoptera sp. Penggantian bahan aktif dapat memutus resistensi ulat grayak terhadap pestisida. Pengendalian kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan dan dilakukan secara berseling setiap kali penyemprotan.

HAMA PENGGOROK DAUN (Liriomyza huidobrensis)

Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis) – Hama ini dikenal juga dengan sebutan leaf miner, merupakan spesies lalat dari genus Liriomyza dan keluarga Agromyzidae. Lalat ini menyerang daun tanaman dengan cara meletakkan telur di bagian epidermis daun. Setelah telur menetas dan berubah menjadi larva, akan menggorok dan masuk ke dalam jaringan mesofil daun. Sehingga jaringan daun menjadi kosong, dan menampakkan bercak berwarna putih atau keperakan di atas permukaan daun.

Klasifikasi Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis)

Kerajaan : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Diptera
Family : Agromyzidae
Genus : Liriomyza
Spesies : Liriomyza huidobrensis

Sekilas Tentang Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis)

Lalat Liriomyza huidobrensis bertubuh kecil, mungil, dengan panjang antara 1-4 mm. Konon, lalat penggorok daun ini berasal dari daerah Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Selain menyerang daun, lalat ini juga menyerang batang muda dan buah, seperti pada kacang polong.


Gejala Serangan Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis)




Hama ini bersifat polifag dan biasa menyerang tanaman sawi, seledri, cabai paprika, camellia, cabai, mawar, bawang daun, kentang, tomat, dan huidobrensis. Gejala serangan lalat penggorok daun ini ditunjukkan dengan adanya guratan berwarna putih atau perak dengan pola acak tak beraturan menyerupai di permukaan daun. Serangan berat akan mengakibatkan daun mengering dan tidak mampu mengeluarkan tunas baru.

Serangan diawali dengan lalat betina meletakkan sejumlah telur melalui ovipositornya, kurang lebih 50-300 butir, pada bagian epidermis daun. Setelah menetas, larva akan menggerogoti jaringan mesofil daun, sehingga jaringan tersebut menjadi terbuka atau terluka. Luka pada jaringan mesofil ini berpotensi menimbulkan serangan penyakit sekunder, terutama disebabkan oleh infeksi fungi maupun bakteri, sehingga daun akan membusuk. Sementara lalat dewasa akan menghisap cairan tanaman hingga tanaman mengering dan tidak mampu lagi mengeluarkan tunas baru.

Waktu Terjadinya Serangan Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis)

Lalat ini akan berkembang baik pada saat cuaca panas dan kelembaban rendah. Pada suhu 25-32°C dengan kelembaban udara rendah, lalat dewasa akan terangsang untuk kawin dan menghasilkan keturunan baru. Sehingga pada suhu yang demikian, berpotensi terjadi serangan berat lalat penggorok daun Liriomyza huidobrensis, dengan tingkat kerugian yang dialami oleh petani sangat tinggi.

Pemupukan dengan nitrogen tinggi akan merangsang terjadinya serangan Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis). Memang, salah satu hal yang mempengaruhi tingkat serangan hama atau penyakit adalah faktor abiotik, salah satunya adalah pemupukan tidak berimbang. Oleh karena itu, penggunaan pupuk berimbang dan terukur selama proses budidaya lebih disarankan, sebagai salah satu upaya menanggulangi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Siklus Hidup Liriomyza huidobrensis

Siklus hidup Liriomyza huidobrensis pada tanaman kentang berlangsung selama 22-25 hari. Telur yang diletakkan pada bagian epidermis akan menetas setelah 2-4 hari. Stadium larva berlangsung selama 6-12 hari dan terdiri dari tiga instar. Larva instar kedua dan ketiga merupakan larva yang paling besar menimbulkan kerusakan. Pada fase berikutnya, larva akan berubah menjadi pupa, yang bersembunyi di dalam tanah atau di antara daun. Setelah delapan hari, stadium pupa selesai dan berubah menjadi lalat dewasa.

Pengendalian Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis)

Yang perlu diperhatikan dalam melakukan upaya pengendalian terhadap lalat Liriomyza huidobrensis adalah tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap aplikasi suatu jenis pestisida tertentu. Oleh karena itu, hindari penggunaan pestisida tunggal selama proses budidaya.

Pengendalian Kultur Teknis

Pengendalian ini menitik beratkan pada teknologi dan pola budidaya yang dilakukan oleh petani. Lakukan pembersihan lahan dari gulma atau tanaman pengganggu secara berkala. Selain itu, jangan menanam komoditas yang rentan terhadap serangan lalat Liriomyza huidobrensis secara berturut-turut dalam kurun waktu lama. Dengan kata lain, penggiliran tanaman merupakan solusi efektif.

Pengendalian Mekanis

Gunakan perangkap kuning, yang terbuat dari papan atau plastik lembaran berukuran 15 x 15 cm. Oleskankan perekat, atau vaselin, atau oli, atau minyak goreng pada perangkap tersebut. Seperti halnya serangga lain, lalat penggorok daun ini juga tertarik dengan warna kuning. Dengan memasang perangkap sebanyak 100 buah per hektar, sudah mampu menekan serangan hingga 50%.

Pengendalian Biologis

Upaya pengendalian ini menitikberatkan pada pemanfaatan musuh alami Liriomyza huidobrensis. Salah satu parasitoid yang cukup efektif untuk mengendalikan hama ini adalah Hemiptarsenus varicorni H. varicornis (Hymenoptera : Eulophidae). Parasitoid ini banyak ditemukan di arela pertanaman kentang. Selain itu, dapat juga dengan memanfaatkan parasitoid dari keluarga tawon Braconidae, Pteromalidae, dan Eulopidae.

Pengendalian Kimiawi

Menurut beberapa penelitian yang dilakukan para ahli, diduga, lalat Liriomyza huidobrensis sudah resisten terhadap beberapa pestisida terutama dari golongan hidroklorin, organofosfat, karbamat, dan piretroid. Terlepas dari benar tidaknya penelitian tersebut, ada baiknya untuk tidak menggunakan pestisida dari golongan di atas. Beberapa jenis insektisida yang bisa digunakan untuk mengendalikan Liriomyza huidobrensis antara lain, siromazin, abamektin, atau klorfenapir. Gunakan insektisida tersebut secara berseling. Dosis dan konsentrasi sesuai pada kemasan.

Demikian informasi termaik yang dapat kami sajikan, semoga artikel Hama Penggorok Daun (Liriomyza huidobrensis), bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

ULAT KUBIS (Plutella xylostella)

Ulat Kubis (Plutella xylostella) – Ulat kubis dikenal juga dengan sebutan diamondback moth atau cabbage moth. Bagi petani, hama ini tergolong sangat merugikan, kerusakan yang ditimbulkan bisa sangat tinggi. Bahkan di beberapa daerah, petani kubis sangat kesulitan mengendalikan hama ulat Plutella xylostella. Selain mudah resisten terhadap suatu jenis bahan aktif insektisida, ulat ini juga bisa bersembunyi di balik daun saat petani melakukan penyemprotan, sehingga bisa tidak terkena oleh kabut semprot. Menurut beberapa penelitian, ulat Plutella xylostella berasal dari daerah Mediterania Eropa Barat.

Klasifikasi Plutella xylostella
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Lepidoptera
Family : Plutellidae
Genus : Plutella
Spesies : Plutella xylostella

Telur diletakkan di bawah permukaan daun secara berkelompok maupun tunggal, dengan bentuk bulat oval yang berukuran 0,3-0,6 mm dan berwarna kuning. Telur akan menetas menjadi larva setelah berumur 2-4 hari.

Larva atau ulat teridiri atas 4 stadium berwarna hijau dan bergerak lincah. Larva yang baru menetas akan langsung menggerek daun kubis. Memasuki stadium atau instar kedua, ulat akan keluar dari dalam jaringan daun. Larva pada stadium 4, memiliki panjang tubuh optimal mencapai 10-12 mm. Ulat ini akan menjatuhkan diri ke tanah atau bergelantungan pada benang kelamat yang dikeluarkan saat menjatuhkan diri, bila merasa ada ancaman. Ulat kubis atau dikenal juga dengan ngengat tritip, akan melakukan aktivitasnya pada malam hari. Stadium larva biasanya berlangsung selama 9-12 hari kemudian larva akan berubah menjadi kepompong. Setelah berumur 4-7 hari, kempompong akan berubah menjadi ngengat.

Ngengat ulat kubis jantan memiliki sayap selebar kurang lebih 15 mm dengan panjang tubuh sekitar 6-10 mm, sedangkan ngengat betina tidak memiliki sayap. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan telur mencapai 180-320 butir, dan kebanyakan akan bertelur mengelompok pada satu daun. Namun ada kalanya ngengat juga meletakkan telur bepindah-pindah ke daun yang lain.

Gejala Serangan Ulat Kubis (Plutella xylostella)
Larva pada instar pertama yang baru menetas akan menggerek dan masuk ke dalam jaringan daun, akibatnya jaringan daun akan kehilangan isinya, dan hanya tersisa jaringan epidermis saja. Jaringan daun yang telah dimakan akan menunjukkan gejala bercak-bercak putih. Serangan larva pada instar berikutnya dilakukan dari bagian luar, daun tampak berlubang-lubang serta luka-luka. Jika merasa terancam, ulat akan menjatuhkan diri ke tanah dan mengeluarkan benang kelamat untuk menyelamatkan diri. Sehingga ulat ini sangat sulit terkena kabut semprot saat petani melakukan penyemprotan pestisida.

Serangan parah di areal pertanaman terjadi pada saat kondisi suhu dan kelembaban tinggi. Pada kondisi tersebut, imago akan terangsang untuk berbiak, sehingga serangan berpotensi menimbulkan serangan berat. Jika terjadi kondisi serangan berat, petani akan kesulitan untuk mengendalikannya, sehingga resiko kerugian akan semakin besar.

Pengendalian Serangan Ulat Kubis (Plutella xylostella)




Pengendalian Mekanis

Pengendalian dengan cara mekanis dilakukan dengan memusnahkan ulat, serangga dewasa, maupun telur yang menempel pada tanaman. Tanaman yang terserang parah juga harus dimusnahkan. Buat perangkap dengan memasang alat yang bisa mengeluarkan cahaya, misalnya menggunakan obor. Nengat Plutella xylostella tertarik dengan cahaya pada malam hari.

Kultur Teknis

Pengendalian dengan cara kultur teknis bertujuan untuk memutus siklus hidup ulat kubis (Plutella xylostella). Biasanya cara ini dilakukan dengan penggiliran tanaman, pembalikan tanah lokasi pertanaman, dan pengeringan lahan.

Pengendalian Organik

Untuk mengendalikan ulat secara organik, dapat digunakan beberapa pestisida organik, misalnya dengan memanfaatkan akar atau batan tanaman tuba, umbi gadung, maupun daun nimba. Misalnya, jika menggunakan akar batang tuba, caranya dengan menumbuk akar atau batang tuba tersebut, kemudian direndam dalam air selama satu malam. Air rendaman tersebut disemprotkan pada tanaman. Selain itu, pengendalian secara organik juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan agensia hayati, misalnya dengan aplikasi bakteri Bacillus thuringiensis.

Pengendalian Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif klorantraniliprol, emamektin benzoat, beta siflutrin, tiametoksam, maupun klorfluazuran. Dosis atau konsentrasi larutan yang digunakan sesuai dengan rekomendasi yang tertera pada kemasan.

Demikian informasi terbaik yang dapat kami sajikan, semoga artikel Ulat Kubis (Plutella xylostella), bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

PENYAKIT PATEK ATAU ANTRAKNOSA

Penyakit patek atau antraknosa merupakan salah satu jenis penyakit tanaman yang sering merepotkan petani atau pembudidaya. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan patek atau antraknosa ini terbilang sangat besar, bahkan tidak jarang penyakit patek atau antraknosa menimbulkan kegagalan panen, terutama pada tanaman cabai.

Jenis Tanaman Yang Rentan Terserang Patek Atau Antraknosa

Penyakit patek atau antraknosa menyerang berbagai jenis tanaman. Penyakit ini sangat sulit dikendalikan, terutama jika kelembaban areal pertanaman sangat tinggi. Bagian tanaman yang terserang penyakit patek atau antraknosa pada umumnya adalah buah atau daun. Penyakit patek atau antraknosa menyerang pada bagian daun terutama pada tanaman sansevieria, anggrek, bromelia, miracle, seledri, dan melon. Penyakit ini juga sering menyerang buah, terutama pada tanaman melon, apel, cabai, tomat, mangga, kopi, pepaya, alpukat, dan sebagainya.

Jenis Cendawan Yang Menimbulkan Penyakit Patek Atau Antraknosa

Penyakit patek atau antraknosa disebabkan oleh serangan cendawan. Penyakit ini terutama menyerang pada saat kelembaban udara tinggi dan suhu rendah. Pada musim hujan, penyakit patek atau antraknosa bisa menggagalkan areal pertanaman cabai hanya dalam waktu beberapa hari. Penyebaran miselium dan spora cendawan penyebab patek atau antraknosa sangat cepat. Serangan sangat hebat terjadi pada saat kelembaban di atas 95% dan suhu udara dibawah 32C. Beberapa jenis cendawan yang paling sering menyebabkan timbulnya penyakit patek atau antraknosa adalah Colletrotichum sp. dan Gloesperium sp. Pada buah cabai, cendawan tersebut mampu bertahan di dalam biji selam 9 bulan. Nama Colletrotichum sp. sangat diperhitungkan dalam dunia pertanian setelah reputasinya memporakporandakan hampir sepertiga lahan strowberry di Perancis pada tahun 1990 Cendawan ini menjadi momok yang paling menakutkan terutama di daerah subtropis dan daerah tropis seperti Indonesia.

Gejala Serangan Patek Atau Atraknosa




Penyakit patek atau antraknosa sangat ditakuti terutama oleh petani cabai. Serangan patek atau antraknosa ini mampu membuyarkan impian petani untuk memetik hasil yang besar, bahkan tidak jarang justru menimbulkan kerugian meskipun harga cabai sedang tinggi. Tanaman yang terserang penyakit patek atau antraknosa yang disebabkan oleh infeksi cendawan Colletrotichum sp. menunjukkan gejala bercak cokelat kehitaman yang kemudian akan meluas menjadi busuk lunak. Pada bagian tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam yang merupakan koloni cendawan. Sedangkan tanaman yang terserang patek atau antraknosa akibat infeksi cendawan Gloesperium sp. menunjukkan bercak cokelat dengan bintik-bintik berlekuk. Pada bagian tepi bintik-bintik tersebut berwarna kuning membesar dan memanjang. Jika kelembaban tinggi, cendawan akan membentuk lingkaran memusat atau konsentris berwarna merah jambu. Serangan pada buah cabai biasanya diawali dari bagian ujung buah yang mengakibatkan dieback atau mati ujung.

Pengendalian Patek Atau Antraknosa

Di Indonesia, penyakit ini tergolong penyakit yang paling sulit dijinakkan, terutama pada saat musim hujan. Untuk petani cabai yang melakukan penanaman dengan musim berbuah pada saat musim hujan harus melakukan pengontrolan yang ketat dan terus-menerus. Berikut ini beberapa upaya penanganan untuk mengendalikan serangan patek atau antraknosa
  1. Perlakuan pada bibit atau biji tanaman yang akan dibudidayakan, misalnya untuk tanaman cabai atau tomat, rendam bibit atau biji menggunakan larutan fungisida sistemik, seberti benomil, metil tiofanat, atau karbendazim. Dosis atau konsentrasi larutan adalah 2 g/l. Perendaman dilakukan selama 4-6 jam.
  2. Secara teknis, bagian tanaman yang terserang harus dimusnahkan dari lahan atau areal pertanaman. Lakukan pengamatan di lapangan secara kontinu atau terus menerus.
  3. Berikan pupuk dengan kandungan P, K, dan Ca tinggi agar jaringan tanaman lebih kuat. Jangan melakukan pemupukan N berlebihan, karena akan menyebabkan jaringan tanaman berair sehingga rentan terhadap serangan cendawan.
  4. Berikan pupuk organik yang banyak. Pemupukan organik akan meningkatkan ketahanan tanaman dari serangan hama maupun penyakit.
  5. Hindari adanya genangan air di areal pertanaman, pembersihan lahan termasuk penyiangan gulma.
  6. Perlebar jarak tanam dengan pola tanam zigzag untuk menjaga sirkulasi udara dan mengurangi kelembaban tinggi saat terjadi hujan berkepanjangan.
  7. Jika kelembaban di sekitar areal pertanaman tinggi, misalnya hujan terus menerus, lakukan pencegahan menggunakan pestisida kimia. Beberapa bahan aktif yang bisa digunakan untuk mengendalikan penyakit patek atau antraknosa adalah fungisida sistemik dengan bahan aktif benomil, karbendazim, metil tiofanat, difenokonazol. Fungisida kontak dengan bahan aktif mankozeb, klorotalonil, dan propineb. Lakukan penyelingan bahan aktif tersebut setiap kali melakukan penyemprotan dengan dosis atau konsentrasi sesuai pada kemasan.
  8. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya melakukan kombinasi dari beberapa bahan aktif, misalnya benomil + mankozeb masing-masing ½ dosis, karbendazim + mankozeb masing-masing ½ dosis, metil tiofanat + klorotalonil masing-masing ½ dosis, difenokonazol + propineb masing-masing ½ dosis. Setiap kali penyemprotan lakukan penggantian kombinasi bahan aktif tersebut, setelah satu putaran kemudian kembali ke kombinasi awal yang pertama kali digunakan.
Demikian informasi yang kami sajikan tentang Penyakit Patek Atau Antraknosa, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

VIRUS PADA TANAMAN

Virus pada Tanaman bersifat parasit obligat, yaitu hanya dapat hidup pada inang yang hidup. Virus tidak menyerap cairan atau nutrisi tanaman. Akan tetapi virus menyerang dengan cara yang lebih ganas, yaitu memasuki sel inang dan memperbanyak diri di dalamnya. Jika inangnya mati, maka virus tersebut meninggalkan sel inangnya tersebut. Pemberantasan virus nyaris tidak mungkin dilakukan karena virus sangat mudah bermutasi. Pengendalian virus hanya dilakukan terhadap serangga vektor penularannya.

GEJALA UMUM PENYAKIT TANAMAN OLEH VIRUS

Secara umum tanaman yang terinfeksi oleh virus menunjukkan beberapa gejala yang biasanya terdapat daun, buah, batang, cabang, maupun akar. Gejala tersebut ditunjukkan dengan ukuran yang mengecil, perubahan bentuk atau bagian tanaman, perubahan warna, kematian jaringan tanaman (misalnya bercak bercincin), dan tanaman mengalami hambatan pertumbuhan.

PENYEBAB DAN CARA HIDUP VIRUS

Jenis virus yang menyerang tanaman sangat banyak, beberapa diantaranya adalah geminivirus, TMV, CMV, ChiVMV. Ketika tanaman pokok yang dibudidayakan tidak ada di lahan, virus dapat bertahan hidup: pada bahan biakan tanaman, vektor (serangga penular), gulma. Khusus TMV masih hidup pada daun tembakau yang sudah kering atau jadi rokok.

ASAL/SUMBER SERANGAN

Sumber serangan virus sangat banyak dan beragam. Bahan biakan (benih) juga dapat menjadi sumber serangan virus, terutama untuk TMV dan CMV. Selain itu, tanaman sakit di lapang, baik tanaman pokok yang dibudidayakan, tanaman budidaya lain selain tanaman pokok, maupun gulma. Bahkan ada gulma yang kadang-kadang tidak bergejala tetapi sudah tertular. Tetapi yang sangat membahayakan adalah serangan serangga penular (vektor) virus. Apalagi saat musim dalam kondisi yang optimal untuk perkembangan serangga penular tersebut. Manusia juga bisa menjadi perantara penularan virus, terutama untuk tanaman budidaya melalui proses pelukaan tanaman saat sedang melakukan perawatan.

KARAKTERISTIK PENYEBAB SERANGAN

Virus selalu berkembang dari waktu ke waktu. Pada umumnya pola sebaran di lapangan (lahan) tidak teratur. Disamping itu, serangan virus juga diikuti atau bersamaan dengan serangan serangga penyebabnya atau pembawanya (vektor). Penyakit virus biasanya ditemukan pada tanaman tertentu/kelompok tanaman tertentu.

CARA PENULARAN VIRUS




Infeksi virus menular dari satu tanaman ke tanaman lain melalui aktivitas serangga penular (vektor), antara lain kutu daun, kutu kebul, dan thrips. Pelukaan tanaman dalam proses budidiaya tertutama selama proses perlakuan fisik terhadap tanaman, seperti pengikatan, perempelan, maupun pemotongan. Penularan melalui pelukaan tanaman juga bisa terjadi karena adanya gesekan antara tanaman yang terserang virus dengan tanaman sehat.

FAKTOR LINGKUNGAN YANG MEMPENGARUHI SERANGAN VIRUS

Penyakit yang disebabkan oleh virus banyak terjadi pada musim kemarau atau pertanaman di musim hujan tetapi pembibitan dilakukan pada musim kemarau, karena populasi vektor berpeluang berkembang dengan baik dan suhunya sesuai bagi perkembangan virus. Untuk virus yang ditularkan oleh kutu kebul, populasi serangga dewasa yang tidak terlalu tinggi sudah cukup untuk menularkan, karena sangat aktif geraknya.

VIRUS MOSAIK KETIMUN (Cucumber Mosaic Virus/CMV)

VIRUS TANAMAN
  • Memiliki inang yang luas termasuk gulma
  • Jarang menyerang tanaman yang masih muda
  • Ditularkan oleh kutu daun
  • Mudah ditularkan oleh manusia melalui pelukaan tanaman
  • Terbawa benih

VIRUS MOSAIK TEMBAKAU (TOBACCO MOSAIC VIRUS/TMV)

VIRUS TANAMAN
  • Inang utama dari famili Solanaceae (tembakau, terung, tomat, cabai, kentang)
  • Sangat mudah tertular lewat pelukaan
  • Terbawa di permukaan benih
  • Bertahan pada sisa tanaman yang berada di lahan
  • Bahkan pada rokok yang daunnya terinfeksi
  • Tidak ditularkan oleh serangga

CHILI VEIN MOTTLE VIRUS (ChiVMV)

VIRUS TANAMAN
  • Ditularkan oleh kutu daun
  • Jika populasi kutu daun sangat tinggi akan membentuk sayap sehingga mudah diterbangkan oleh angin

POTATO VIRUS Y (PVY)

VIRUS TANAMAN
  • Tanaman terserang: cabe, kentang, tomat, dan tembakau
  • Ditularkan oleh kutu daun dan bahan biakan vegetatif
  • Tidak ditularkan benih

TOMATO SPOTTED WILT RINGSPOT VIRUS (VIRUS BERCAK BERCINCIN)

VIRUS TANAMAN
  • Jenis tanaman inang yang terserang sangat banyak
  • Ditularkan oleh Thrips

GEMINI VIRUS (VIRUS KUNING)

VIRUS TANAMAN
  • Tanaman inang: cabai, tomat, tembakau, gulma
  • Ditularkan oleh kutu kebul (Bemisia tabaci). Jumlah kutu yang sedikit sudah cukup untuk menyebarkan karena serangga dewasa aktif bergerak.
  • Tidak ditularkan benih

STRATEGI PENGENDALIAN VIRUS

  • Menghindari adanya kontak virus dengan tanaman pada saat usia dini: benih sehat, perlindungan bibit.
  • Menghindari kontak dengan vektor: Tanaman penghalang, kelambu untuk pembibitan, metode strip farming.
  • Mengurangi populasi vektor penular virus dengan memasang perangkap likat kuning maupun aplikasi pestisida.
  • Pengamatan rutin dan memusnahkan tanaman yang terserang (mengorbankan beberapa tanaman untuk menyelamatkan yang lebih besar). JANGAN TERLALU SAYANG DENGAN TANAMAN YANG SUDAH SAKIT.
  • Perlakuan benih dengan cara merendam 2 g benih dalam 10 ml trisodium fosfat (Na3PO4.12 H2O) 10 % (10 gram bahan dalam 100 ml air) selama 30 menit. Setelah itu pindahkan kembali benih yang sudah diperlakukan ke larutan yang sama, dengan membuat larutan yang baru, selama 2 jam. Bila proses tersebut telah selesai, bilas benih dengan air mengalir selama 45 menit.
  • Pemasangan kelambu di persemaian untuk menghindari kontak dengan serangga vektor penular virus.
  • Penerapan sistem strip planting atau tanaman perangkap untuk mengurangi serangan serangga vektor penular virus di areal pertanaman.
  • Jika masih ada tanaman sakit di lapang dan belum sempat dimusnahkan, hindari melakukan perompesan (wiwilan) dari tanaman sakit.
  • Secara rutin membersihkan gulma selama di pertanaman. Beberapa jenis gulma yang berpotensi sebagai inang virus adalah Ageratum (Sunda: babadotan, Jawa: wedusan), Physalis (Jawa: ceplukan, sunda: cecenet), Mimosa (putri malu, sunda: Alimusa).
  • Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat untuk mengurangi tingkat serangan serangga vektor.
  • Memperkuat pertumbuhan tanaman agar mampu mengkompensasi akibat serangan virus yaitu dengan menerapkan pemupukan dan pengairan yang tepat dan cukup.
  • Penggunaan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) untuk membuat tanaman lebih bugar dan menginduksi ketahanan.

MENENTUKAN PERMASALAHAN UNTUK MENGENDALIKAN SERANGAN VIRUS

Identifikasi karakter tanaman (spesies atau varietas). Misal, jenis tanaman tertentu yang tampak tidak normal, bukan karena sakit, tetapi karena karakternya.

Periksa individu tanaman abnormal secara keseluruhan dan kelompok tanaman di sekitarnya. Misal, jika daun tanaman menguning karena kerusakan akar, maka permasalahan sebenarnya adalah akar yang rusak bukan daun yang menguning.

LALAT BUAH (Bactrocera sp.)

Lalat buah (Bactrocera sp.) adalah hama yang banyak menyerang buah-buahan dan sayuran. Anggota ordo Diptera ini kerap menggagalkan panen yang dinanti petani buah dan sayur. Sayuran seperti kubis dan seledri pun menjadi target serangan. Bahkan saai ini serangan lalat buah meluas ke tanaman hias adenium dan aglaonema.

Morfologi Lalat Buah

Lalat buah berukuran 1-6 mm, berkepala besar, berleher sangat kecil. Warnanya sangat bervariasi, kuning cerah, oranye, hitam, cokelat, atau kombinasinya dan bersayap datar. Pada tepi ujung sayap ada bercak-bercak coklat kekuningan. Pada abdomennya terdapat pita-pita hitam, sedangkan pada thoraxnya terdapat bercak-bercak kekuningan. Disebut Tephtridae-berarti bor-karena terdapat ovipositor pada lalat betina. Bagian tubuh itu berguna memasukkan telur ke dalam buah. Ovipositornya terdiri dari tiga ruas dengan bahan seperti tanduk yang keras.

Daur Hidup Lalat Buah

Dengan ovipositornya, lalat buah betina menusuk kulit buah atau sayur untuk meletakkan telurnya. Jumlah telur sekitar 50-100 butir. Setelah 2-5 hari, telur akan menetas dan menjadi larva. Larva tersebut akan membuat terowongan di dalam buah dan memakan dagingnya selama lebih kurang 4-7 hari. Larva yang telah dewasa meninggalkan buah dan jatuh di atas tanah, kemudian membuat terowongan sedalam 2-5 cm dan berubah menjadi pupa. Lama masa pupa 3-5 hari. Lalat dewasa keluar dari dalam pupa, dan kurang dari satu menit langsung bisa terbang. Total daur hidupnya antara 23-34 hari, tergantung cuaca. Dalam waktu satu tahun lalat ini diperkirakan menghasilkan 8-10 generasi. Lalat buah sering menyerang dan menghancurkan tanaman saat musim penghujan karena kelembapan memicu pupa untuk keluar menjadi lalat dewasa.

Klasifikasi Lalat Buah




Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Diptera
Family : Tephritidae
Genus : Bactrocera
Subgenus : Bactrocera

Gejala Serangan Lalat Buah

Lalat betina menusuk buah atau sayur mengunakan ovipositornya untuk meletakkan telurnya dalam lapisan epidermis. Setelah telur menetas, larva akan menggerek buah dan menyebabkan buah membusuk di bagian dalam. Bila diamati, pada buah yang terserang akan tampak lubang kecil kehitaman bekas tusukan. Buah menjadi rusak, lembek, busuk dan akhirnya rontok. Lalat buah juga meletakkan telurnya tidak hanya di dalam buah, tetapi juga pada bunga dan batang. Batang yang terserang menjadi benjolan seperti bisul sehingga buah yang dihasilkan kecil-kecil dan menguning.

Akibat Serangan Lalat Buah

Sebagai contoh akan kita bahas serangan lalat buah pada tanaman cabai. Pada buah cabai terserang terdapat luka tusukan dalam ukuran kecil, seperti tertusuk jarum. Buah menjadi busuk lunak dan menghitam. Luka akibat tusukan menimbulkan infeksi sekunder berupa busuk buah, baik yang disebabkan oleh cendawan maupun bakteri. Buah cabai yang terkena tusukan lalat buah ini akan rontok. Jika buah dibelah akan terlihat biji-biji berwarna hitam dan terdapat belatung yang merupakan larva lalat buah.

Pengendalian Serangan Lalat Buah

Pengendalian lalat buah secara kultur teknis

  1. Sanitasi lingkungan, yaitu pengumpulan buah-buah yang terserang, baik yang jatuh maupun yang masih di pohon. Kemudian dimusnahkan dengan menimbun yang terserang kedalam tanah (pastikan bahwa kedalaman tanah tidak memungkinkan larva dapat berkembang menjadi pupa).
  2. Tanah di sekitarnya dicangkul dan dibalik agar pupa yang bersembunyi terkena sinar matahari dan mati.
  3. Tanaman perangkap, yaitu menanam selasih di sekeliling kebun.
  4. Pengasapan dengan membakar sampah kering dan bagian atasnya ditutupi sampah basah, agar dapat dihasilkan asap dan tidak sampai terbakar. Kepulan asap yang menyebar ke seluruh bagian tanaman akan mengusir keberadaan hama.
  5. Pembungkusan buah dengan kertas atau kantong.
  6. Penggunaan perangkap atraktan (bahan penarik lalat buah) dalam alat perangkap yang terbuat dari botol bekas air minum mineral yang diberi lubang untuk masuknya lalat buah. Bahan atraktan: metil eugenol (ME), protein hidrolisa, atau selasih.

Bioinsektisida

Bioinsektida adalah mikroorganisme pengendali serangga. Selain penyakit, kendala utama dalam budidaya tanaman adalah serangan hama. Pada awal infeksi bakteri, serangga akan menunjukkan penurunan aktivitas makan dan cenderung mencari perlindungan di tempat tersembunyi (dibawah daun). Sementara larva serangga akan mengalami diare, mengeluarkan cairan dari mulutnya, dan mengalami kelumpuhan pada saluran makanan.

Pemanfaatan musuh alami

Pengendalian hama Lalat buah (Bactrocera sp.) dengan memnfaatkan keanekaragaman hayati dalam agroekosistem. Pengendalian Bractocera dorsalis yang sudah dilakukan adalah dengan pemanfaatan musuh alami sebagai agen pengendali. Di mana dalam aplikasinya perlu ditunjang oleh beberapa hal, yaitu teknik perbanyakan inangnya yaitu B. dorsalis dengan menggunakan pakan buatan; eksplorasi, identifikasi musuh alami, yakni parasitopid B. Dorsalis, seperti Famili Braconidae (Biosteres sp. dan Opius sp.) serta peranannya dalam pengelolaan hama lalat buah; dan manipulasi musuh alami melalui praktik agronomis agar efektif sebagai agen pengendali hayati. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) di Bogor telah melakukan serangkaian penelitian pengendalian hama tersebut. Pengendalian yang dipilih menggunakan Minyak Cemara Hantu (Melaleuca braceata) dan minyak selasih (Ocimum sanctum) yang berpeluang menjadi atraktan karena mengandung metil eugenol yang cukup tinggi. Sifatanya sebagai atraktan dapat menarik lalat buah. Akan tetapi tidak membunuhnya.

Pengendalian kimia

Pengendalian lalat buah secara kimiawi dapat dilakukan dengan memasang alat perangkap yang terbuat dari botol aqua dengan jarak ± 10 meter. Dalam perangkap tersebut diberi buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan. Penyemprotan menggunakan insektisida sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dan dicampur dengan gula pasir sebanyak dua sendok makan per-tangki untuk memancing lalat memakan pestisida tersebut.

TUNGAU (MITES)

Tungau adalah sekelompok hewan kecil bertungkai delapan yang menjadi anggota superordo Acarina. Tungau berbeda dengan serangga (Insecta), tetapi lebih dikategorikan pada laba-laba. Hingga saat ini terdapat puluhan jenis tungau yang sudah ditemukan, tetapi taksonomi tungau belum stabil karena masih ditemukan banyak perubahan.

Dalam kondisi kering dengan suhu optimal 27° C tungau dapat menetas dalam waktu 3 hari, dan menjadi dewasa secara 5eksual dalam waktu 5 hari. Satu ekor tungau betina dapat bertelur hingga 20 butir per hari dan dapat hidup selama 2-4 minggu dan dapat meletakkan ratusan telur. Seekor tungau betina tunggal dapat menurunkan populasi hingga satu juta ekor tungau dalam waktu satu bulan. Tingkat reproduksi yang sangat cepat memungkinkan populasi tungau untuk beradaptasi dan melawan pestisida, sehingga metode pengendalian secara kimia menjadi kurang efektif ketika pestisida dengan bahan aktif yang sama digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Tungau betina bersifat diploid tungau sedangkan tungau jantan bersifat haploid. Artinya, tungau betina merupakan keturunan dari telur yang dibuahi oleh tungau jantan, sendangkan tungau jantan merupakan keturunan dari telur yang tidak dibuahi. Ketika melakukan perkawinan, tungau betina akan menghindari terjadinya pembuahan pada beberapa butir telur untuk menghasilkan tungau jantan. Telur yang dibuahi akan menghasilkan betina diploid. Sementara telur yang tidak dibuahi akan menghasilkan tungan jantan haploid.

Tungau menyerang tanaman dengan cara menusuk permukaan daun dan menghisap cairannya. Kerusakan akibat serangan tungau tidak bisa disepelekan. Selain merusak daun, tungau juga berpotensi menyerang batang dan buah. Hama ini menyerang tanaman pada berbagai musim karena memiliki kemampuan beradaptasi di berbagai habitat, seperti lumut, tanah, rumput, bahkan hingga gudang penyimpanan. Tungau bersifat polyfag, semua jenis tanaman diserang.

JENIS TUNGAU YANG SERING MENYERANG TANAMAN




Polyphagotarsonemus latus

Hama ini dikenal dengan nama tungau kuning. Polyphagotarsonemus latus sering menyerang tanaman cabai, tomat, karet, dan teh.

Tetranychus bimaculatus dan Tetranychus cinnabarinus

Hama ini dikenal dengan nama tungau merah. Tungau muda yang baru menetas berwarna merah jambu, mengalami beberapa kali pergantian kulit, selongsong kulitnya menempel pada daun. Tungau muda berwarna putih kekuningan dan tungau dewasa berwarna merah. Siklus hidup tungau merah diselesaikan dalam waktu sekitar 15 hari. Tungau ini sering menyerang tanaman cabai maupun tomat.

Steneotarsonemus bancofti

Steneotarsonemus bancofti menyerang tanaman tebu.

Pyemotes spp

Pyemotes spp menyerang tanaman lada.

Gejala Serangan Tungau

Umumnya tungau bersembunyi di balik daun dan menghisap cairan daun dalam jaringan mesofil hingga jaringan itu rusak. Akibatnya klorofil menjadi rusak dan menghambat proses fotosintesis tanaman. Serangan ditandai dengan munculnya bintik kuning di permukaan daun. Bintik tersebut lama-kelamaan melebar lalu berubah menjadi kecokelatan dan akhirnya menghitam. Daun menjadi terpelintir (distorsi), menebal, berbentuk seperti sendok terbalik, serta bagian bawah daun berwarna seperti tembaga dan terdapat benang-benang putih halus.

THRIPS

Hama thrips sangat mudah ditemukan di areal pertanaman. Bentuk tubuhnya langsing dengan panjang 1-2 mm, berwarna hitam dengan bintik-bintik atau garis merah. Telur thrips berbentuk oval. Telur menetas menjadi nimfa, tidak bisa terbang dan hanya meloncat-loncat. Thrips muda (nimfa) biasanya berwarna agak keputihan, kekuningan, hingga kemerahan. Serangga dewasa (imago) berwarna kuning pucat, coklat atau hitam. Thrips akan berubah warna menjadi lebih gelap pada suhu rendah. serangga betina memiliki dua pasang sayap kecil dan terdapat rambut berumbai di bagian samping tubuhnya, sedangkan serangga jantannya tidak bersayap. Thrips memiliki mulut asimetris yang berfungsi untuk menusuk dan menghisap tanaman, terutama pada bagian daun muda, kuncup atau tunas, bunga, dan buah muda. Masing-masing tanaman memiliki ketahanan yang berbeda terhadap spesies thrips, tergantung pada ketebalan epidermisnya.

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Subclass : Pterygota
Ordo : Thysanoptera

Bagian tanaman yang dihisap cairannya akan menampakkan bercak berwarna putih keperakan yang selanjutnya bercak berubah warna menjadi kecoklatan. Pada serangan parah, daun tanaman tampak menggulung dan mengeriting. Kebanyakan spesies thrips mengeluarkan embun madu yang berpotensi mengundang datangnya serangan cendawan jelaga.

Pada kelembaban udara 70% dan suhu 27-32°C thrips berkembang biak sangat cepat karena pada kondisi demikian akan memicu produksi hormon s3ks sehingga terjadi perkawinan masal, selain thrips itu sendiri mampu bereproduksi secara partenogenesis. Saat musim kemarau, jumlah populasi meningkat dan akan berkurang bila terjadi hujan lebat. Tekanan air hujan yang besar mampu menghanyutkan thrips. Penyebaran hama thrips dari satu tanaman ke tanaman lain berlangsung sangat cepat dengan bantuan angin maupun manusia.

KARAKTERISTIK BEBERAPA SPESIES THRIPS THYSANOPTERA




Taeniothrips simplek

Spesies ini memiliki tanaman inang utama gladiol. Nimfa menyerang bunga dan kuncup bunga serta mampu berkembang biak dalam umbi di gudang penyimpanan. Suhu optimal untuk perkembangbiakannya adalah 27°C dengan jumlah telur 130 butir/imago. Siklus hidupnya kurang lebih 33 hari, tetapi jika berada di dalam umbi hanya 10-19 hari.

Thrips tabaci

Thrips tabaci dikenal juga dengan nama onion thrips (thrips bawang), Thrips palmi. Bersifat kosmopolitan (tersebar luas hampir di seluruh dunia) dan polifag (mempunyai tanaman inang yang banyak) dengan jumlah telur 80 butir/imago. Spesies ini memiliki tanaman inang utama cabai, tomat, bawang merah, semangka, kentang, bayam, kapas, tembakau, labu dan tanaman dari famili Cruciferae. Perkembangan optimal terjadi pada kelembaban 70% dan jika merasa terganggu akan bersembunyi di dalam tanah. Pada tanaman bawang merah, spesies ini berkembang sempurna umur 7-12 hari. Merupakan vektor penular virus yang sangat aktif terutama pada tanaman tomat dan cabai.

Thrips parvispinus

Thrips parvispinus bersifat polifag. Tanaman inang utama meliputi tembakau, kopi, kacang panjang dan ubi jalar. Serangan awal terjadi pada daun bagian bawah atau daun tua kemudian akan menjalar ke bagian atas. Berkembang biak optimal saat suhu udara kering dengan siklus hidup satu generasi selama 9 hari. Populasi akan menurun saat musim hujan.

Heliothrips haemorrhoidalis

Spesies ini tidak memiliki tanaman inang utama karena hampir segala jenis tanaman akan diserang, bersifat polifag dan bereproduksi secara patrenogenesis. Perkembangbiakan optimal terjadi pada suhu 26-28°C dengan siklus hidup satu generasi selama 33 hari. Jumlah telur sebanyak 50 butir/imago.

Selenothrips rubrocinctus

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu mangga, salam, mete, dan kakao. Habitat utamanya di daerah tropis dan menyerang daun muda.

Dichromothrips smithi

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu anggrek (arachnis, cattleya, dendrobium, vanda). Menyerang tangkai daun, tangkai bunga dan petal bunga. Serangan parah terjadi saat musim kemarau.

Baliothrips biformis

Spesies ini memiliki tanaman inang utama yaitu tanaman jagung dan pembibitan padi. Serangnnya menimbulkan efek seperti kekeringan, serta bersifat partenogenesis.

Gejala Serangan Thrips

Thrips menghisap cairan tanaman melalui daun, pucuk, bunga, dan buah. Serangan pada daun, thrips menyerang dengan cara memakan permukaan bawah daun menggunakan mulut yang telah mengalami modifikasi menjadi penusuk penghisap. Daun tanaman yang dihisap meninggalkan bekas berwarna keperakan sebagai akibat dari jaringan daun yang dihisap cairannya menjadi kosong dan terisi udara. Perpaduan antara udara dan zat besi sebagai salah satu komponen pembentuk klorofil mengakibatkan warna keperakan tersebut berubah menjadi cokelat. Daun terserang akhirnya berkerut dan mengeriting.

Disamping itu, thrips juga bersarang di bunga. Bunga yang terserang akan layu dan gugur karena thrips menghisap cairan kaya karbohidrat dari tangkai bunga yang berperan membentuk kelopak dan polen. Serangan pada buah mengakibatkan buah mengecil dan keriput, karena jaringan dalam buah rusak.

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KENTANG

Hama dan Penyakit Tanaman Kentang - Tanaman kentang tergolong tanaman sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit baik saat musim hujan maupun musim kemarau. Penanaman kentang di musim hujan sangat rentan terhadap serangan busuk phytophthora maupun layu fusarium. Sebaliknya, jika penanaman dilakukan di musim kemarau, tanaman kentang rentan terhadap serangan hama thrips, ulat, maupun lalat penggorok daun. Pola tanam tanpa sistem rotasi tanaman serta berlangsung terus-menerus dalam waktu lama menyebabkan hama dan penyakit tersebut kini berpotensi menggagalkan panen di segala musim. Berikut kami uraikan tentang berbagai jenis hama dan penyakit pengganggu tanaman kentang beserta cara pengendaliannya:

HAMA TANAMAN KENTANG

Hama Uret Phyllophaga (Holotricia) javana

Hama uret dikenal juga dengan nama white grub. Bentuk binatang ini menyerupai kumbang berwarna cokelat gelap dengan panjang 2-2,5 cm. Hama ini biasanya banyak terdapat di tumpukan bahan organik mentah (belum difermentasi). Sehingga aplikasi pupuk kandang mentah (belum difermentasi) juga berpotensi menjadi penyebab serangan uret. Phyllophaga (Holotricia) javana menyerang tanaman kentang dengan cara melubangi umbi kentang, umbi terseerang berpotensi terserang penyakit sekunder akibat gigitan hama uret. Selain itu uret juga menyerang akar tanaman, sehingga jika serangan parah dapat mengakibatkan tanaman kentang mati.

Pemanfaatan agensia hayati bisa dilakukan untuk mengendalikan hama uret, seperti Metarrhizium anisoplae, bisa didapatkan di kios pertanian terdekat.

Hama Anjing Tanah Gryllotalpa sp.

Hama anjing tanah (dalam bahasa jawa dikenal orong-orong) memiliki kaki sangat kuat. Hama ini selain menyerang umbi kentang juga sering ditemukan pada tanaman padi muda. Selain itu, Gryllotalpa sp. juga banyak ditemukan menyerang tanaman sayuran lain saat masih muda. Hama ini tinggal di dalam tanah, penyerangannya dilakukan saat malam hari.

Untuk saat ini anjing tanah belum menjadi hama serius pada budidaya kentang. Tetapi jika ditemukan serangan hama tersebut, maka segera taburkan insektisida berbahan aktif karbofuran. Dosis/konsentrasi 0,5 gram/tanaman.

Hama Thrips Tabaci




Hama thrips berukuran sangat kecil, kurang lebih 1 mm sehingga sulit dilihat mata telanjang. Hama ini bergerak lincah dengan radius serangan hingga 1 km. Hama thrips menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan daun, sehingga daun tanaman terserang tampak mengeriput lalu keriting. Bagian bawah daun berwarna keperakan karena bagian dalam daun berongga setelah cairannya terhisap. Daun tua terserang tampak menggulung ke bagian bawah. Hama ini akan berkembang biak dengan baik serta menyerang ganas terutama ketika kelembaban udara berkisar 70%. Thrips memiliki daur hidup antara 7-12 hari. Serangga muda berwarna putih, kekuningan, hingga kemerahan. Serangga dewasa memiliki dua pasang sayap kecil (terdapat rambut di bagian tepi tubuhnya). Bagian mulutnya berfungsi menusuk maupun menghisap bagian tanaman kentang, seperti daun, bunga, buah, maupun kuncup tunas.

Upaya pengendalian serangan hama kutu daun antara lain sebagai berikut :
  1. Menerapkan strip planting (tanaman perangkap) di sekeliling areal pertanaman sebagai tanaman pagar. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap adalah tanaman yang pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tanaman utama antara lain jagung, kacang panjang, atau buncis. Tanaman perangkap ditanam dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil lalu dimusnahkan.
  2. Penggiliran tanaman dengan tanaman bukan sefamili maupun tanaman inang.
  3. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma serta pemusnahan bagian tanaman kentang terserang.
  4. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu melalui penyemprotan insektisida nabati maupun agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati berdaya bunuh tinggi terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, cabai, atau pohon jenu.
  5. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai petunjuk di kemasannya.

Hama Kutu Daun

Hama kutu daun pengganggu tanaman kentang adalah Aphis gossypii (berwarna hijau kehitaman sampai kuning kecokelatan) dan Myzus persicae (sayapnya berwarna kehitaman sedangkan tubuhnya berwana hijau, kuning, sampai merah kecokelatan). Kedua serangga ini bersifat polyfag, yaitu menyerang segala jenis tanaman, serta bersifat partenogenesis, yaitu berkembang biak secara as3ksual (tanpa kawin). Kutu ini akan melahirkan nimfa, daur hidupnya diselesaikan dalam jangka waktu 7-10 hari. Populasi hama kutu daun sangat tinggi saat kelembaban udara relatif rendah, terutama terjadi di musim kemarau.

Kedua hama tersebut menyerang tanaman kentang dengan cara menghisap cairan daun atau bagian daun muda. Daun tampak keriput, berkerut, terpelintir, serta berwana kekuningan. Tanaman terserang akan tumbuh kerdil, bahkan pertumbuhannya menjadi terhambat. Hal paling ditakutkan oleh petani kentang adalah kutu daun Aphis gossypii dan Myzus persicae, kedua hama ini merupakan serangga sangat aktif berperan sebagai penular virus. Serangan hama kutu daun berpotensi menggagalkan budidaya hingga puso.

Upaya pengendalian serangan hama kutu daun adalah sebagai berikut:
  1. Menerapkan strip planting (tanaman perangkap) di sekeliling areal pertanaman sebagai tanaman pagar. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap adalah tanaman yang pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tanaman utama antara lain jagung, kacang panjang, buncis, atau tanaman yang bunganya berwarna kuning karena kutu ini menyukai warna kuning. Tanaman perangkap ditanam dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil lalu dimusnahkan.
  2. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma serta pemusnahan bagian tanaman terserang.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan penyemprotan insektisida nabati maupun agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati berdaya bunuh tinggi terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, atau pohon jenu. Serta memanfaatkan agensia hayati seperti Enthomopthora sp.
  4. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Lalat Daun

Hama lalat daun sering disebut juga leafminer. Hama ini merupakan hama jenis penggorok. Lalat daun bersifat polyfag (menyerang beberapa tanaman) serta termasuk jenis hama ganas karena berpotensi menyerang semua jenis tanaman di segala musim. Hama lalat daun lebih dikenal sebagai lalat penggorok daun (Lyriomyza huidobrensis). Hama Lyriomyza huidobrensis pernah merusak areal budidaya kentang di Pengalengan dan Garut.

Gejala serangan tampak adanya lubang-lubang kecil di permukaan daun akibat lalat dewasa menusukkan ovipositornya untuk meletakkan telur. Dari luka tusukan tersebut akan keluar cairan, cairan ini akan dihisap oleh lalat sebagai makanan. Setelah telur menetas, larva (imago) akan menggorok ke dalam daun dengan cara menghisap cairan serta memakan bagian dalam daun. Permukaan daun kentang terserang akan terlihat bercak-bercak cokelat, lubang gorokan akan menyatu satu sama lain, akhirnya daun mengering. Serangan hama lalat penggorok daun umumnya terjadi saat tanaman kentang berumur 20-35 hari atau menjelang pembentukan umbi, kemudian berlanjut hingga fase panen. Kerusakan tanaman kentang akibat serangan lalat Lyriomyza hudobrensis dapat mencapi 60%. Hama ini sangat berbahaya karena berperan sebagai serangga vektor penular virus. Virus berpotensi menginfeksi tanaman saat lalat menusukkan ovipositornya.

Upaya pengendalian serangan hama lalat penggorok daun adalah sebagai berikut :
  1. Menanam bibit sehat.
  2. Menerapkan strip planting (tanaman perangkap) di sekitar areal pertanaman. Tanaman yang bisa digunakan sebagai tanaman perangkap antara lain kacang merah, atau tanaman yang bunganya berwarna kuning karena lalat ini menyukai warna kuning. Tanaman perangkap ditanam dua minggu sebelum penanaman kentang. Saat daun tanaman perangkap terserang, harus segera diambil lalu dimusnahkan. Selain cara tersebut, dapat juga dengan membuat perangkap berwarna kuning yang beri perekat. Perangkap tersebut dipasang sebanyak 100 perangkap/ha.
  3. Sanitasi lahan, yaitu pengendalian gulma maupun pemusnahan bagian tanaman terserang.
  4. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu penyemprotan menggunakan insektisida nabati maupun agensia hayati. Insektisida nabati dapat dibuat dari beberapa bahan nabati berdaya bunuh tinggi terhadap serangga, misalnya daun nimbau, umbi gadung, atau pohon jenu. Pemanfaatan agensia hayati seperti Ascecode sp., Hemiptarsenus varicornis., Gronotoma sp., atau Opius sp. juga dapat dilakukan.
  5. Upaya pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, profenofos, dimehipo, asetamiprid, atau imidakloprid. Dosis/konsentrasi penyemprotan sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Penggulung

Hama ulat penggulung pengganggu tanaman kentang adalah Phthorimaea operculella. Serangan ulat jenis ini banyak terjadi saat musim kemarau. Selain menyerang tanaman kentang, Phthorimaea operculella juga menyerang tanaman tembakau. Hama ulat ini dikenal juga dengan nama Potato Tumbermoth (PTM). Hama PTM diduga sebagai hama pengundang datangnya serangan jamur fusarium. Pada ketinggian 1.200 mdpl daur hidup ulat dapat mencapai 40 hari sehingga sangat berbahaya bagi tanaman kentang. Selain menyerang tanaman kentang, Phthorimaea operculella juga berpotensi menyerang umbi kentang di dalam gudang. Serangga dewasa berupa kupu-kupu aktif di malam hari. Kupu-kupu ini meletakkan telur yang sangat kecil di bawah daun atau di atas umbi terbuka (tidak tertutup tanah).

Gejala serangan dimulai adanya perubahan warna daun dari hijau menjadi merah tua. Selain itu, akan mucul jalinan menyerupai benang, didalamnya terdapat ulat kecil berwarna abu-abu. Daun menggulung karena permukaan daun sebelah atas rusak. Serangan tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga di gudang tempat penyimpanan umbi, ditandai adanya kotoran di sekitar mata tunas.

Upaya pengendalian hama ulat Phthorimaea operculella adalah sebagai berikut :
  1. Usahakan tidak ada retakan tanah, karena larva ulat Phthorimaea operculella ini akan masuk melalui retakan tanah serta merusak umbi.
  2. Pembubunan harus dilakukan secara rutin untuk mencegah serangan larva ke dalam umbi.
  3. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  4. Upaya pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus).
  5. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Spodoptera exigua

Hama Spodoptera exigua berwarna hijau, berubah menjadi cokelat dengan strip kekuningan. Pupa ulat bawang terbentuk di dalam tanah akhirnya berubah menjadi kupu-kupu dengan sayap depan berwarna abu-abu gelap sedangkan sayap belakang berwarna agak putih. Ulat ini sangat rakus bahkan menyerang hampir semua jenis tanaman hortikultura, sehingga penyebarannya sangat cepat. Hama Spodoptera exigua menyerang tanaman kentang dengan cara memakan daun tanaman dimulai dari bagian tepi daun menuju bagian tengah. Serangan hebat menyebabkan daun habis, bahkan tanaman tampak gundul.

Upaya pengendalian hama ulat Spodoptera exigua adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus).
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)

Hama ulat ini disebut juga ulat pemotong (black cut worm). Hama Agrotis epsilon menyerang tanaman saat masih muda dengan cara memotong pangkal batang tanaman. Hama ini tergolong hama aktif di malam hari, saat siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Larva yang baru menetas biasanya merusak jaringan daun, setelah dewasa ulat pindah ke dalam tanah kemudian memotong tanaman muda di lahan. Serangga dewasa berupa kupu-kupu berwarna gelap. Daur hidup dalam satu generasi berlangsung selama 28-42 hari.

Upaya pengendalian hama ulat Agrotis ipsilon adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Heliothis armigera

Hama ulat Heliothis armigera dikenal juga dengan nama corn earworm. Hama dapat menyerang bagian umbi maupun daun kentang. Ulat ini juga sering ditemukan pada tanaman cabai, tomat, tembakau, maupun jagung. Stadium dewasa berupa kupu-kupu berwarna kekuningan berbintik serta bergaris hitam. Hama ini dapat hidup di dataran rendah hingga dataran tinggi, yaitu di ketinggian 2.000 mdpl. Serangan ditandai adanya daun maupun umbi berlubang.

Upaya pengendalian hama ulat Heliothis armigera adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu menggunakan pestisida nabati. Selain bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus).
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Spodoptera litura

Tubuh ulat Spodoptera litura terdapat bintik-bintik segitiga berwana hitam. Bagian sisi tubuhnya berwana hitam, bergaris kekuningan. Pupa terdapat di bawah permukaan tanah. Ulat ini dikenal juga dengan nama ulat grayak (ulat tentara), karena menyerang secara bergerombol. Ulat menyerang daun tanaman kentang hingga tinggal epidermis saja sehingga daun tampak seperti meranggas. Hama ulat grayak bersifat polyfag serta tergolong hama sangat ganas. Pada tanaman cabai, Hama Spodoptera litura tidak hanya menyerang daun tanaman saja, tetapi buah cabai pun ikut diserang.

Upaya pengendalian serangan hama ulat grayak Spodoptera litura adalah sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan pestisida biologi (memanfaatkan Bacillus thuringiensis atau Baculovirus.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kumbang Kentang (Epilachna sp.)

Hama Epilachna sp. dikenal juga dengan nama potato beetle. Hama menyerang tanaman dari famili Solanaceae seperti tomat, terong, tembakau, cabai, maupun Physalis angulata (sejenis ciplukan). Sosok serangga ini menyerupai kepik berwarna kecokelatan serta berbintik hitam. Jumlah bintik di tubuhnya sangat bervariasi, yaitu antara 12-16 totol.

Serangan dimulai dengan memakan bagian tengah daun, sehingga daun tanaman kentang terserang akan nampak berlubang menyerupai jendela. Ketika terjadi serangan berat, hanya akan tersisa tulang daunnya saja.

Upaya pengendalian serangan hama ulat Epilachna sp. antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara rutin.
  2. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati.
  3. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Nematoda (Meloidogyne incognita)

Hama nematoda sering juga disebut dengan nama bintil akar (Root Knot Nematode), karena serangan hama ini ditandai adanya bintil-bintil kecil di bagian akar atau umbi yang menyerupai jerawat. Tanaman kentang terserang nematoda menunjukkan gejala pertumbuhan kerdil, daun menguning saat udara panas, selanjutnya daun akan berguguran. Apabila tanaman dicabut akan terlihat bintil-bintil pada akar atau umbi kentang.

Upaya pengendalian serangan hama nematoda antara lain sebagai berikut :
Tidak menanam tanaman kentang di daerah endemik.
Pemberian insektisida nematisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gr/tanaman.

PENYAKIT TANAMAN KENTANG

Penyakit Busuk Daun (Phytophthora infestans)

Penyakit busuk daun disebabkan oleh infeksi patogen Phytophthora infestans. Cendawan tersebut dapat menyerang seluruh bagian tanaman, baik daun, batang, pangkal batang, umbi, maupun perakaran tanaman kentang. Hingga saat ini, Phytophthora insfestans masih merupakan penyakit utama penyebab kegagalan panen kentang, terutama terjadi saat musim hujan dengan suhu optimal untuk perkembangannya adalah 21°C.

Daun kentang terserang menunjukkan gejala ditandai adanya bercak kecil kebasah-basahan berwarna hijau kelabu, lama kelamaan berubah menjadi cokelat kehitaman. Bercak meluas ke seluruh daun sehingga daun kentang akan membusuk dan kering. Bagian daun membusuk tetap meggantung pada tanaman. Selanjutnya serangan akan meluas sampai ke batang atau cabang. Di bagian bawah daun terserang terdapat konidia spora berwana putih.

Serangan pada umbi ditandai adanya bercak berwarna cokelat sampai ungu kehitaman. Ketika seranga semakin berat, umbi akan membusuk sehingga tidak dapat dipanen. Penyakit ini juga menyerang umbi kentang saat disimpan di gudang penyimpanan.

Upaya pengendalian serangan penyakit Phytophthora infestans antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu memusnahkan tanaman kentang terserang serta pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air saat musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, famoksadon, dimetomorf, propamokarb hidroklorida, mankozeb, klorotalonil atau thiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Layu Bakteri

Penyebab layu bakteri adalah bakteri Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum. Gajala serangan ditandai adanya beberapa daun muda pada pucuk tanaman mati serta menguningnya daun bagian bawah. Bila pangkal batang dipotong akan terlihat bercak berwarna cokelat pada kambiumnya berbentuk menyerupai cincin.

Serangan penyakit layu bakteri pada umbi ditandai adanya tanah basah berlendir yang menempel di ujung stolon atau bagian mata umbi atau bagian ujung umbi. Bila umbi dibelah akan nampak warna cokelat tua melingkar di bagian dagingnya. Tanda ini merupakan ciri khas serangan bakteri Pseudomonas (Ralstonia) solanacearum. Suhu uptimum untuk perkembangan bakteri adalah 27-37°C, sedangkan suhu yang menghambat pertumbuhannya berkisar antara 8-10°C.

Upaya pengendalian serangan layu bakteri antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman kentang terserang, melakukan penggiliran tanaman, pengaturan drainase agar tidak terjadi genangan air saat musim hujan, serta penyemprotan kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Sebagai pencegahan, dapat diaplikasikan agensia Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp. saat persiapan lahan, lalu dilanjutkan pengocoran menggunakan pestisida organik di tanah ketika tanaman kentang memasuki umur 20hst dan 35 hst, contoh pestisida organiknya seperti super glio, wonderfat, dll. Dosis/konentrasi sesuai anjuran di kemasan.

Penyakit Layu Fusarium

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Fusarium oxisporium. Gejala tanaman kentang terserang penyakit ini sepintas mirip serangan layu bakteri. Perbedaannya hanya terletak pada bagian tanaman terserang, yaitu pada serangan penyakit layu bakteri, jika bagian terserang dimasukkan ke dalam air maka akan keluar cairan putih susu meyerupai asap. Sedangkan serangan layu fusarium tidak mengeluarkan cairan tersebut.

Upaya pengendalian serangan penyakit layu fusarium antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman kentang terserang, melakukan penggiliran tanaman, pengaturan drainase agar tidak terjadi genangan air saat musim hujan, serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Sebagai pencegahan, dapat diaplikasikan agensia Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp. saat persiapan lahan, lalu dilanjutkan pengocoran menggunakan pestisida organik di tanah ketika tanaman kentang memasuki umur 20hst dan 35 hst, contoh pestisida organiknya seperti super glio, wonderfat, dll. Dosis/konentrasi sesuai anjuran di kemasan.

Penyakit Bercak Daun Alternaria

Penyakit ini disebut juga cacar daun atau bercak kering. Penyakit bercak daun alternaria disebabkan oleh serangan cendawan Alternaria solani. Daun tanaman kentang terserang terdapat bercak-bercak cokelat sampai hitam (terdapat warna kuning di sekitar bercak tersebut). Serangan parah akan mengakibatkan daun mengering lalu berguguran. Selain menyerang daun tanaman kentang, cendawan Alternaria pori juga menyerang umbi kentang. Umbi terserang ditandai adanya bercak-bercak gelap berbentuk bulat tidak teratur pada kulit umbi.

Upaya pengendalian penyakit bercak daun alternalia antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu memusnahkan tanaman terserang maupun pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air saat musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, difenokonazol, metil tiofanat, karbendazim, mankozeb, klorotalonil atau thiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Kudis Lak

Penyakit kudis lak disebut juga dengan nama stem-cancer atau black scurf. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Rhizoctonia solani. Cendawan dapat terbawa oleh umbi, tanah, maupun pupuk kandang. Daun tanman terserang akan menggulung ke arah dalam, tepi berwarna ungu, batang lebih pendek, terdapat nekrotis di pangkal akar, jika menyerang umbi akan mengakibatkan stolon busuk (berwarna cokelat tua sampai hitam) serta akan muncul umbi-umbi kecil pada batang di atas tanah. Bagian permukaan umbi terdapat koloni cendawan berbentuk noda berwarna cokelat sampai hitam.

Upaya pengendalian penyakit kudis antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu memusnahkan tanaman terserang serta pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air saat musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, famoksadon, dimetomorf, propamokarb hidroklorida, mankozeb, klorotalonil atau thiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Kudis

Penyakit kudis disebut juga dengan nama common scab. Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri Streptomyces scabies. Secara umum gejala serangan penyakit kudis tidak berbeda jauh dengan gejala serangan penyakit layu bakteri meupun layu fusarium. Bagian permukaan umbi kentang terserang terdapat bercak-bercak berwana kemerahan hingga kecokelatan. Pada bagian terserang akan mengering, berkerut, mengeras, serta bagian dalamnya bertepung.

Upaya pengendalian serangan penyakit kudis antara lain sebagai berikut :
  1. Sanitasi lingkungan, yaitu memusnahkan tanaman kentang terserang serta pengendalian gulma secara rutin.
  2. Pengaturan drainase sehingga tidak terjadi genangan air saat musim hujan.
  3. Pengendalian secara organik lebih diutamakan, yaitu dengan menggunakan pestisida nabati. Selain itu bisa juga menggunakan agensia hayati yaitu Trichoderma sp. maupun Gliocladium sp.
  4. Pengendalian kimiawi menggunakan bakterisida berbahan aktif oksitetrasiklin, strptomicyn sulfat, kasugamisin, atau tembaga. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Virus

Penyakit virus yang sering menyerang tanaman kentang diantaranya PLRV, PVX, PVY, maupun CMV. Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan budidaya kentang terutama musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhan tanaman kentang mengerdil, daun mengeriting serta terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit virus ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor(penular virus). Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya hama thrips, kutu daun, kutu kebul, maupun hama tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai vektor (penular virus), baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama saat melakukan perempelan.

Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma karena gulma berpotensi menjadi inang virus, mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman kentang terserang virus, menjaga kebersihan alat serta memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman selama proses budidaya kentang.

ARTIKEL POPULER