Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN. Tampilkan semua postingan

Penyebaran Dan Habitan Ikan Nila

Penyebaran Dan Habitan Ikan Nila - Ikan Nila berasal dari daerah Afrika bagian timur, terutama di Sungai Nil dan perairan yang terhubung dengan sungai tersebut, seperti Danau Tanganyika. Oleh karena itulah ikan nila memiliki nama latin sesuai dengan nama asal habitatnya, Orechromis Niloticus. Ikan tersebut kemudian mulai menyebar ke daerah Timur Tengah, Amerika, Eropa dan negara-negara Asia, setelah dibawa oleh bangsa Eropa. Saat ini, ikan nila telah dibudidayakan di semua propinsi di Indonesia.

Habitat atau lingkungan tempat tumbuh dan berkembang biak ikan nila sangat bervariasi. Memang, ikan ini dikenal memiliki daya adaptasi yang sangat bagus terhadap perubahan lingkungan hidup. Oleh karena itu, ikan nila dapat dibudidayakan di berbagai tempat dengan kondisi perairan yang bervariasi, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Kondisi perairan yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk pemeliharaan ikan nila adalah air tawar, air payau, bahkan masih mampu bertahan hidup di air asin, dengan nilai pH air berkisar antara 6-8,5. Kadar garam yang ideal untuk pertumbuhannya antara 0-35 permil. Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan adaptasi yang bertahap, dengan kadar garam yang ditingkatkan sedikit demi sedikit. Jika pemindahan dilakukan secara mendadak, dari air tawar ke air asin dengan kadar garam tinggi, dapat mengakibatkan stress, bahkan berpotensi menimbulkan kematian dalam jumlah besar.

Ikan nilai kecil relatif lebih mudah beradaptasi dibanding dengan ikan nila dewasa, oleh sebab itu, pemindahan ikan nila ke habitat lain sebaiknya dilakukan saat masih anakan. Ikan ini juga mampu bertahan hidup baik di perairan dangkal maupun dalam. Oleh sebab itu, ikan ini juga sering dibudidayakan di waduk-waduk yang memiliki perairan relatif dalam, dengan sistem budidaya Karamba Jaring Apung. Bahkan akhir-akhir ini, budidaya ikan nila sudah dilakukan dengan sistem Karamba Jaring Apung di laut.

Suhu optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya antara 25-30 derajat Celcius, sehingga budidaya ikan nila akan lebih efisien jika dilakukan di dataran rendah hingga menengah. Untuk mengetahui bagaimana cara budidaya ikan nila yang efektif, silahkan baca pada artikel Budidaya Ikan Nila.

Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila

Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila – Ikan Nila memiliki nama ilmiah Oreochromis niloticus, merupakan ikan yang berasal dari Afrika bagian timur, seperti Sungai Nil, Danau Tanganyika, Nigeria, dan Kenya. Ikan Nila mulai menyebar ke berbagai negara, seperti Amerika, negara-negara Timur Tengah, dan Asia, setelah disebarkan oleh orang-orang Eropa. Ikan ini memiliki sifat unik setelah memijah, induk betina akan mengerami telur-telur yang telah dibuahi dalam rongga mulutnya. Perilaku semacam itu dikenal dengan sebutan mouth breeder.

Klasifikasi terbaru ikan nila yang masuk dalam genus Oreochromis dipelopori oleh seorang ilmuwan bernama Dr. Trewavas, pada tahun 1982. Sebelumnya, ikan nila masuk dalam genus Tilapia, namun, pada tahun 1980, Dr. Trewavas mencetuskan ide untuk membagi genus Tilapia menjadi tiga kelompok, yaitu genus Oreochromis, Sarotherodon, dan Tilapia.

Ikan nila tergolong jenis ikan yang cukup digemari baik untuk dibudidayakan maupun dikonsumsi. Potensi pertumbuhannya yang cepat, bersifat omnivora, dan mudah berkembang biak membuat ikan ini menjadi salah satu primadona para pembudidaya ikan. Kecepatan pertumbuhan dan bersifat omnivora membuat ikan nila lebih efisien dalam penggunaan pakan, sehingga lebih menguntungkan untuk dibudidayakan.

Ikan nila memiliki ciri khas sendiri, berupa garis vertikal di bagian ekor sebanyak enam hingga delapan buah. Garis-gari vertikal ini juga terdapat di sirip dubur dan sirip punggung, dan garis inilah yang membedakan antara ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan ikan mujahir (Oreochromis mossambicus).

Klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) berdasarkan rumusan Dr. Trewavas.

Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Keunggulan ikan nila dalam pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan membuat ikan ini lebih disukai untuk dibudidayakan di berbagai negara. Para ilmuwan berusaha untuk memuliakan ikan nila ini dengan teknologi hibridasi agar menghasilkan bibit yang lebih unggul dibanding jenis aslinya. Taiwan dan Philipina merupakan dua negara yang cukup intensif dalam memuliakan ikan nila. Tak mengherankan jika bibit-bibit unggul yang didatangkan ke Indonesia berasal dari dua negara tersebut. Saat ini, kegiatan Budidaya Ikan Nila telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, baik skala rumah tangga maupun bisnis.

Mengenal Ikan Nila

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sebenarnya bukanlah ikan asli Indonesia. Ikan ini merupakan hasi introduksi dari luar negeri. Ikan Nila secara resmi dikembangkan di Indonesia pada tahun 1969 oleh Balai Penelitian Perikanan Ari Tawar. Setelah melalui proses adaptasi dan pengembangan, barulah ikan nila di sebarkan ke masyarakat.

Nama ikan nila merupakan nama khas Indonesia yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan. Nama ini diambil dari nama latinnya (Oreochromis niloticus), yang memang merupakan habitat asli ikan nila, yaitu di Sungai Nil dan perairan yang berhubungan dengan sungai itu.

Dalam perkembangannya, ikan nila menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari masyarakat, karena memang tekstur dagingnya tebal seperti daging ikan kakap merah, dan cita rasanya yang lezat. Selain itu, struktur tulang ikan nila juga tidak serumit ikan-ikan lain, sehingga lebih mudah dimakan. Saat ini, ikan nila telah tersebar di seluruh benua, terutama di negara-negara yang beriklim tropis maupun subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan ini sulit untuk beradaptasi.

Pemerintah Indonesia telah beberapa kali mendatangkan bibit ikan nila dari berbagai negara. Pertama kali mendatangkan, pemerintah mengambil bibit dari Taiwan. Ikan nila dari Taiwan ini berwarna hitam, dengan garis-garis vertikal di bagian ekornya yang berjumlah antara 6-8 garis. Pada perkembangan selanjutnya, pemerintah mendatangkan bibit ikan nila berwarna merah dari Philipina. Hingga saat ini, bibit ikan nila yang memiliki galur murni masih didatangkan dari luar negeri, karena memang sistem pembibitan di Indonesia masih kurang efektif dalam menjaga kemurnian galur. Upaya pengadaan bibit dari luar negeri bertujuan untuk menjaga persediaan dan kualitas induk, agar keunggulan genetiknya tidak menurun setelah bercampur dengan varietas lain.

Daya adaptasinya yang sangat tinggi, membuat ikan nila banyak dibudidayakan di berbagai daerah. Memang, ikan nila mampu hidup di air tawar, payau, bahkan air laut. Ikan ini juga tahan terhadap perubahan lingkungan, bersifat omnivora, sehingga mampu mencerna berbagai jenis makanan secara efisien. Keunggulan lain ikan nila adalah ketahanan terhadap penyakit yang cukup tinggi.

Daging pada bagian tubuh ikan nila sangat tebal, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai fillet atau sayatan daging tanpa tulang. Daging ikan dalam bentuk fillet ini sangat disukai di luar negeri, dan biasanya dimasak dengan berbagai bumbu atau saus, dan dijadikan isi sandwhich.

Para pakar pembudidaya ikan dari FAO menganjurkan kapada penduduk berpenghasilan rendah untuk membudidayakan ikan nila, sehingga dapat memperbaiki gizi keluarga. Memang, anjuran tersebut sangat beralasan, mengingat ikan ini mudah dibudidayakan, cepat berkembang biak, dan dapat dibudidayakan di kolam sempit bahkan comberan. Untuk mengetahui cara membudidayakan ikan nila, lihat pada artikel Budidaya Ikan Nila.

Saat ini, ikan nila yang dibudidayakan di Indonesia terdiri dari berbagai varietas, baik nila hitam, merah, maupun putih. Pembudidayaan ikan nila di Indonesia dilakukan di berbagai daerah dengan kondisi lingkungan berbeda-beda, baik di kolam pekarangan, dengan sistem karamba di sungai-sungai, kolam air deras, dan sistem karamba jaring apung, seperti di waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, Gajahmungkur, Kedungombo, dan Wadaslintang.

MENGENAL IKAN MAS

Ikan mas merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang harganya cukup mahal. Konon, ikan mas sudah dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia sejak dua ratus tahun silam. Namun, secara pasti belum ada data yang menyebutkan kapan tepatnya ikan mas mulai dibudidayakan. Terlepas dari kapan ikan mas mulai dibudidayakan, yang jelas hingga saat ini komoditas perikanan tersebut masih cukup digemari masyarakat, hal ini disebabkan selain cita rasanya yang istimewa, ikan mas juga hampir tidak mengandung kolesterol, sehingga sangat aman untuk dikonsumsi para penderita kolesterol tinggi.

Lingkungan Hidup Ikan Mas

Habitat asli ikan mas adalah perairan dangkal yang mengalir pelan dengan suhu sejuk. Di danau-danau atau di sungai-sungai, ikan ini hidup menepi sambil mencari pakan berupa binatang-binatang kecil. Jentik-jentik nyamuk merupakan pakan alami yang sangat digemari oleh ikan mas. Di tepi-tepi danau maupun sungai ini ikan mas meletakkan telurnya pada rerumputan yang menjorok ke perairan. Lingkungan optimal untuk pertumbuhan dan perkembangannya yaitu perairan yang berada pada ketinggian antara 150-1.000 mdpl dengan suhu antara 20-25°C, dan pH ideal adalah 6,5-7,5.

Jenis Ikan Mas




Membedakan jenis ikan mas sebetulnya cukup sulit, namun ada beberapa ahli yang membedakannya dari segi fisik, misalnya dari bentuk sisik atau warna tubuhnya. Namun, pembagian berdasarkan kriteria tersebut dianggap kurang mengena, dan supaya bisa mendapatkan keturunan murni dari jenis ikan mas, maka seorang pakar perikanan, Dr. A.L. Buschkiel mencoba untuk menetapkan pembagian jenis ikan mas berdasarkan ciri-ciri sisiknya.

Terlepas dari penggolongan jenis ikan mas yang belum ditetapkan secara pasti dari segi biologinya, dipasaran banyak dijumpai berbagai jenis ikan mas, diantaranya adalah ikan mas majalaya, ikan mas punten atau karper, ikan mas kancra domas, sinyonya, fancy carp, kumpai, dll.

Ikan mas majalaya merpakan salah satu jenis ikan mas unggul yang diperoleh dari hasil seleksi yang dilakukan oleh seorang petani di Cipedas, Majalaya, Jawa Barat. Seleksi tersebut dilakukan selama tujuh tahun yang selesai pada tahun 1974. Ikan mas majalaya memiliki warna tubuh hijau kehitaman, bentuk badan relatif lebih pendek dibanding ikan mas lain, memiliki punggung tinggi sehingga tampak membungkuk, gerakannya lebih jinak. Ikan ini memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik, sehingga sangat cocok dibudidayakan.

Ikan mas punten atau karper diperoleh dari hasil persilangan yang dilakukan di daerah Punten Jawa Timur, pada tahun 1919-1920. Ikan ini memiliki warna tubuh hijau kehitaman, dengan mata menonjol. Bentuk tubuhnya panjang dengan punggung lebar.

Kancra domas memiliki sisik yang berukuran kecil dengan warna tubuh agak kemerahan. Terdapat garis membujur pada bagian tengah tubuhnya, yang membatasi dengan bagian perut yang berwarna keperakan. Bagian punggung tampak gelap atau hijau kehitaman, dengan susunan sisik kecil-kecil yang tidak teratur.

Sinyonya biasa disebut juga dengan si putri yogya karena memang berasal dari daerah Yogyakarta. Bentuk dan ukuran sisiknya sama seperti ikan mas pada umumnya, dengan warna kuning muda. Mata tidak terlalu menonjol dengan bentuk normal saat masih muda, sedangkan ikan yang sudah tua memiliki mata yang agak sipit.

Fncy carp atau lebih dikenal dengan ikan mas koi, merupakan salah satu jenis ikan mas yang banyak dimanfaatkan sebagai ikan hias kolam. Warna tubuhnya sangat bervariasi, dengan corak warna yang beragam. Selain itu, bentuk tubuhnyapun agak memanjang, sehingga menyerupai terpedo. Salah satu keunggulan ikan mas koi adalah warna tubuhnya yang sangat menarik, sehingga oleh orang Jepang, ikan ini dijadikan sebagai ikan hias utama.

Klasifikasi Ikan Mas

Klasifikasi ikan mas adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Species : (Cyprinus carpio)

Ikan mas merupakan spesies Cyprinus carpio yang termasuk dalam famili Cyprinidae, dengan bentuk tubuh pipih memanjang. Ikan ini memiliki mulut yang terletak di ujung tengah bagian tubuhnya. Pada bagian mulut tersebut, terdapat dua pasang sungut. Sementara warna tubuhnya sangat bervariasi, ada yang merah, kekuningan, hitam, hitam kehijauan, putih, atau bahkan kombinasi dari warna-warna tersebut. Secara umum, bagian tubuh ikan mas terdiri atas tiga bagian, yaitu kepala, badan, dan ekor.

Kandungan Gizi Dalam 100 gram Daging Ikan Mas

Selain cita rasanya yang banyak digemari masyarakat, ikan mas juga memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap, sehingga menjadi salah satu alternatif bahan pangan sebagai sumber gizi keluarga. Berikut ini kandungan gizi dalam 100 gram daging ikan mas.
Kalori 95 kal, protein 4.5 gram, lemak 0.2 gram, karbohidrat 23.1 gram, kalsium 42 mg, fosfor 134 mg, besi 1 mg, vitamin B1 0.22 mg, air 71 gram.

Dengan komposisi dan kandungan gizi yang lengkap tersebut, ikan mas menjadi salah satu komoditas perikanan yang diperkirakan menjadi andalan sumber gizi bagi masyarakat.

CARA MEMBUAT KOLAM IKAN

Cara Membuat Kolam Ikan - Selain nutrisi pakan dan bibit ikan, keberhasilan budidaya ikan juga sangat dipengaruhi oleh konstruksi kolam ikan tempat ikan dibudidayakan. Pembuatan kolam ikan menurut kaidah yang benar mampu menciptakan iklim kondusif bagi kelangsungan hidup ikan budidaya. Bahkan di negara dengan sektor perikanan maju seperti di Thailand, konstuksi kolam yang benar menjadi faktor penting keberhasilan budidaya ikan.

TEKNIK PEMBUATAN KOLAM IKAN

Cara membuat kolam ikan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu membuat kolam ikan permanen, semipermanen, serta nonpermanen.
Membuat kolam ikan secara permanen merupakan salah satu cara membuat kolam ikan bermodal besar, proses pembuatannya dilakukan dengan menggali tanah seluas yang diperlukan, kemudian dasar dan tepi kolam dibuat dinding permanen (terbuat dari tembok). Pada proses ini membutuhkan bahan-bahan bangunan seperti kapur atau gamping, pasir, batu, serta semen atau PC (portland cement). Cara membuat kolam ikan seperti ini tentunya membutuhkan biaya lebih besar daripada pembuatan nonpermanen, akan tetapi dilihat dari segi manfaat jangka panjang, membuat kolam ikan permanen justru lebih efisien karena biaya perawatannya menjadi lebih sedikit untuk budidaya ikan berkelanjutan.
Langkah awal cara membuat kolam ikan semipermanen hampir sama pada cara permanen, hanya saja dinding kolam ditutup menggunakan mulsa PHP (mulsa plastik hitam perak) atau bisa juga menggunakan terpal.
Sedangkan dalam membuat kolam ikan nonpermanen merupakan cara membuat kolam ikan beralaskan tanah, pada proses pembuatannya cukup menggali tanah seluas yang diperlukan secara benar.

BAHAN PEMBUATAN KOLAM IKAN




  1. Anyaman terbuat dari kawat atau anyaman bambu untuk saringan air, baik di pintu masuk maupun pintu pembuangan.
  2. Kolam permanen membutuhkan batu, semen (PC), pasir, kapur. Penggunaan kapur sebenarnya mengurangi kekuatan dinding kolam ikan, akan tetapi juga diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan lumut sehingga membantu menambah nutrisi kebutuhan ikan.
  3. Papan kayu untuk pintu air model monik.
  4. Peralon atau pipa PVC untuk membuat pintu masuk maupun pintu keluarnya air. Dapat juga menggunakan bambu dilubangi bagian dalamnya tepat di pertemuan dua ruas sehingga air dapat mengalir.
  5. Bilah bambu untuk tiang pancang (patok) benang pemandu, pembatas bentuk, dan ukuran setiap bagian kolam.
  6. Benang sebagai pemandu ukuran dan bentuk bagian-bagian kolam.
  7. Pensil maupun alat tulis lain untuk membuat gambar sket, mencatat ukuran-ukuran serta ketentuan lain yang diperlukan.

ALAT PEMBUATAN KOLAM IKAN

Secara umum peralatan membuat kolam ikan permanen adalah peralatan tukang bangunan seperti cangkul, cetok, penggosok dinding (lepan), dll. Pada pembuatan kolam ikan semipermanen, membutuhkan paku pasak terbuat dari bambu untuk memasak mulsa PHP pada dinding tanah.
  1. Cangkul. Cangkul digunakan untuk menggali tanah, melumatkan serta mencampur tanah atau material (pembuatan kolam ikan permanen).
  2. Linggis. Linggis diperlukan untuk menggali tanah keras (wadas).
  3. Lempak. Lempak diperlukan untuk merapikan dinding kolam.
  4. Selang plastik, digunakan untuk mengukur kemiringan maupun bagian-bagian lain.
  5. Martel (palu). Martel digunakan untuk menancapkan patok, memasang pasak bambu pada pembuatan kolam semipermanen.
  6. Saringan pasir dari kawat. Saringan kawat digunakan untuk menyaring pasir.
  7. Cetok. Cetok digunakan untuk menembok dan memoles adonan material pada pembuatan kolam permanen.
  8. Penggosok (lepan). Penggosok (lepan) digunakan untuk memoles lapisan semen dan kapur.
  9. Meteran atau teodolith. Meteran atau teodolith digunakan untuk mengukur baik panjang, lebar maupun tinggi kolam.

CARA MEMBUAT KOLAM IKAN

Sebelum membuat kolam ikan, langkah pertama tentukan lokasi pembuatan kolam ikan, kemudian ukur luas lahan, kemiringan lahan, serta batas-batas pembuatan kolam ikan. Buatlah skesta gambar dan skema atau gambar konstruksi kolam ikan yang akan dibuat. Kemudian lakukan penggalian tanah dan pembuatan tanggul (pematang). Setelah selesai melakukan penggalian, langkah selanjutnya adalah membuat caren serta melakukan pemasangan perlengkapan seperti saringan air, pemasangan pintu air baik pintu masuk maupun pintu keluar.

1. Menentukan Lokasi Kolam Ikan

Sebelum melakukan pembuatan kolam ikan, perlu diperhatikan lokasi yang akan dibuat kolam. Hal ini penting untuk mengetahui jenis tanah, menentukan pusat pengambilan air pintu masuk, serta pembuangan air. Tanah yang baik untuk membuat kolam ikan adalah tanah berstruktur liat berpasir. Cara mengetahui jenis tanah pasir, liat, atau gembur secara sederhana dapat dilakukan dengan mengambil lapisan tanah atas (top soil) dan lapisan bawah, kemudian masing-masing ditambahkan air sampai kondisi tanah menjadi jenuh (lembek). Setelah tanah lembek, kemudian ambil dan kepal, tekan kuat-kuat. Jika di telapak tangan meninggalkan sedikit pasir berarti tanah tersebut merupakan tanah jenis liat atau gembur. Sedangkan jika di telapak tangan meninggalkan banyak pasir berarti tanah tersebut merupakan jenis tanah pasir.

2. Pengukuran Lokasi Kolam Ikan

Pengukuran luas lahan untuk budidaya ikan dapat dilakukan menggunakan meteran biasa atau menggunakan teodolith. Kemiringan tanah diukur menggunakan selang plastik (water pass) dengan cara menarik salah satu ujung selang ke bagian tepi batas kemudian direntangkan sampai ke sisi lain yang akan diukur kemiringan tanahnya. Cara pengukuran ini dilakukan oleh dua orang untuk mempermudah pekerjaan. Permukaan air di kedua ujung selang menjadi batas tingkat kerataan tanah. Ukur permukaan air dari permukaan tanah pada kedua ujung selang. Selisih jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada satu sisi dengan jarak permukaan tanah dengan permukaan air pada sisi lain merupakan tingkat kemiringan lahan. Lakukan sampai berapa kali di tempat lain untuk diambil rata-ratanya, kemudian dijumlahkan lalu dibagi jumlah titik pengukuran.

3. Pengamatan Lokasi Kolam Ikan

Pengamatan lokasi pembuatan kolam ikan diperlukan untuk mempermudah pembuatan sketsa konstruksi kolam ikan serta mempermudah pekerjaan pembuatan. Hal-hal yang perlu dilakukan disini adalah pengamatan terhadap jenis tanaman sekitar, bebatuan, serta saluran irigasi. Tanaman di sekitar lokasi lahan perlu diamati untuk menentukan apakah mau dipertahankan atau ditebang dengan melihat aspek nilai manfaatnya terhadap kolam ikan di kemudian hari. Saluran irigasi sangat penting pada pembuatan kolam ikan, karena menentukan pembuatan pintu masuk air sekaligus pintu keluarnya.

4. Membuat Sketsa Lokasi Kolam Ikan

Setelah melakukan beberapa langkah seperti di atas, langkah selanjutnya adalah membuat sketsa gambar sebelum melakukan pembuatan gambar skema konstruksi kolam ikan. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pekerjaan pembuatan konstruksi. Hal-hal yang dijumpai di lapangan ketika melakukan pengamatan dituangkan dalam gambar sketsa.

5. Membuat Gambar Skema Konstruksi Kolam Ikan

Langkah selanjutnya adalah membuat gambar skema konstruksi kolam ikan disesuaikan ukuran dan luas lahan tersedia. Pembuatan gambar skema konstruksi harus lengkap dan detail, setiap bagian dalam gambar juga dibuatkan gambar tersendiri untuk memperjelas saat proses pembuatan kolam ikan. Contoh gambar skema konstruksi pembuatan kolam ikan dapat dilihat di bawah ini:

kolam ikan

Pembuatan gambar konstruksi pintu air kolam ikan, meliputi:
  1. Membuat gambar pintu masuk air.
  2. Membuat gambar pintu pembuangan air.

    kolam ikan
  3. Pintu pembuangan air model monik.

    kolam ikan
  4. Pintu pembuangan air dari bambu atau pipa PVC siku atau model “L”.

    kolam ikan

6. Penggalian Tanah dan Pembuatan Pematang atau Tanggul Kolam Ikan

Langkah cara membuat kolam ikan selanjutnya adalah melakukan penggalian terhadap tanah menggunakan peralatan seperti cangkul, linggis maupun lempak untuk memudahkan serta mempercepat pekerjaan. Penggalian tanah dengan memperhatikan skema gambar konstruksi yang sudah dibuat sebelumnya. Tanggul atau pematang harus kuat agar tanah tidak mudah longsor karena tanggul atau pematang kolam ini tidak hanya menampung air tetapi juga menahan tekanan air terutama saat terjadi hujan deras.

Pada pembuatan kolam tradisional (nonpermanen), pembuatan pematang atau tanggul kolam dengan cara memadatkan tanah galian. Agar tanggul lebih kuat, pembuatan tanggul jangan sekali jadi, harus dilakukan secara bertahap. Dalam membuat tanggul kolam ini, faktor tanah mempengaruhi tingkat kepadatan. Kekuatan tanggul atau pematang selain dipengaruhi oleh jenis tanah juga oleh lebar sempitnya ukuran tanggul. Semakin lebar ukuran tanggul akan semakin kuat meskipun dari sudut efisiensi penggunaan lahan kurang efisien.

Tanggul pembuatan kolam ikan semipermanen sama seperti pada cara membuat kolam ikan nonpermanen hanya saja permukaan dan bagian dinding kolam ditutup menggunakan mulsa PHP (mulsa palstik hitam perak). Penutupan mulsa PHP dilakukan sampai di dasar dinding kolam kemudian permukaan dasarnya ditutup lagi menggunakan tanah. Hal ini bertujuan menghindari terjadinya kebocoran akibat lubang tikus, kepiting maupun hama pengganggu lainnya. Sedangkan pada tanggul kolam secara permanen selain lebih kuat juga aman dari kebocoran atau rembesan akibat hama sawah karena kolam permanen terbuat dari dinding semen. Pembuatan tanggul atau pematang secara permanen sebetulnya lebih kuat, tetapi memerlukan biaya lebih banyak.

Beberapa contoh meembuat tanggul kolam ikan :
a. Membuat Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Datar
Pada contoh ini, tanggul dibuat dengan cara membuat timbunan tanah yang diambil dari masing-masing sisi dasar kolam. Tanah dasar kolam dicangkul secara merata, dan cangkulan tanah tersebut digunakan sebagai timbunan tanggul pada masing-masing sisi dengan pembagian secara merata.

b. Membuat Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Agak Miring
Pada contoh ini, tanggul dibangun menggunakan lapisan tanah permukaan dengan cara penimbunan dari setiap sisi lahan. Sisi lahan yang lebih rendah memperoleh timbunan tanah lebih banyak dibanding sisi lahan lebih tinggi. Misalnya, dua bagian dari tanah yang akan dijadikan kolam diangkat lalu diletakkan pada sisi lahan lebih rendah, sedangkan satu bagiannya diangkat lalu diletakkan pada sisi lahan lebih tinggi.

c. Membuat Tanggul Kolam Ikan Pada Lahan Miring
Pada contoh ini, tanggul dibuat dengan cara mencangkul salah satu sisi bagian dasar kolam ikan yang permukaannya lebih rendah. Kemudian tanah galian tersebut digunakan sebagai timbunan tanah yang berfungsi sebagai tanggul pada sisi kolam tersebut. Sedangkan sisi kolam yang memiliki permukaan lebih tinggi dengan sendirinya akan membentuk dinding, setelah dasar kolam digali.

Membuat Sumbatan
Sumbatan berfungsi memperkuat tanggul agar tidak mudah terjadi kebocoran. Sumbatan dibuat dari tanah liat berpasir yang dilumatkan. Waktu membuat sumbatan ini bersamaan dengan pembuatan tanggul kolam ikan. Beberapa peternak ikan kadang-kadang membuat sumbatan ini setelah tanggul selesai dibangun. Cara membuat sumbatan tanggul adalah dengan terlebih daahulu menggali lokasi atau tempat tanggul akan dibangun. Kedalaman galian tanah tersebut kurang lebih 0,25 m, lebar disesuaikan lebar tanggul yang akan dibangun di atasnya. Pada lubang galian tersebut, masukkan lumatan tanah liat berpasir (jawa=jledrogan) setinggi 50 cm. Setelah timbunan jledrogan tersebut agak keras, kemudian di atasnya pada bagian tengah, dengan ketebalan kurang lebih sepertiga bagian dari rencana lebar tanggul, ditambahkan lagi lumatan atau jledrogan tersebut setinggi kira-kira sebatas permukaan air kolam yang telah direncanakan.

Teknis pembuatan tanggul ini dibuat secara bertahap. Yaitu dengan terlebih dahulu membuat sumbatan bagian bawah setinggi 50 cm hingga selesai. Setelah sumbatan agak mengering dan keras maka tambahan sumbatan tersebut (berupa lumatan tanah berpasir seperti pada lumatan di bawahnya), bisa ditambahkan. Jika rencana lebar tanggul adalah 90 cm, maka ketebalan sumbatan bagian bawah juga 90 cm, dengan ketebalan sumbatan bagian atas 30 cm. Jika rencana ketinggian air dari dasar kolam 60 cm, maka ketinggian sumbatan bagian atas adalah 35 cm.

Setelah pembuatan sumbatan mengering, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penimbunan pada kedua sisi sumbatan bagian atas hingga membentuk tanggul setengah jadi. Demikian pembuatan sumbatan tanggul kolam telah selesai, seperti tampak pada gambar di bawah.

kolam ikan

kolam ikan

Setelah pembuatan tanggul selesai, untuk memperkuat tanggul agar tidak mudah terkikis oleh air, maka pada bagian sisi dalam tanggul bisa dipasang penguat terbuat dari pasangan batu kali atau batu bata yang pasang menggunakan campuran atau adukan semen dan pasir.

Jika merencanakan untuk membuat tanggul yang diperkuat dengan pasangan batu kali atau batu bata, maka pembuatan sumbatan pada tanggul tidak perlu dibuat. Pemasangan penguat tanggul dari pasangan batu kali atau batu bata ini sudah cukup kokoh, sehingga tanggul yang dibuat tidak perlu mengikuti aturan pembuatan tanggul seperti di atas. Bahkan begitu tanggul dipasang, tanpa menunggu tanah mengeras terlebih dahulu sudah bisa langsung dipasang penguat pada sisi bagian dalamnya.

Dengan pemasangan penguat dinding kolam menggunakan tembok ini, maka tanggul tidak perlu dibuat miring. Lebar penguat tanggul atau dinding kolam juga harus disesuaikan dengan komposisi campuran semen (PC) dan pasir. Semakin banyak komposisi PC dalam campuran, maka dinding semakin kuat, tetapi biaya untuk membuat penguat ini juga cukup besar. Sebagai komposisi standar

Tanggul tidak harus lebar di bagian bawah. Tebal maupun lebar tanggul penguat tergantung pada komposisi campuran semen (PC) dan komponen lain. Semakin banyak semen PC akan semakin kuat, hanya saja biayanya cukup besar. Patokan komposisi campuran material yang dapat digunakan sebagai referensi membuat dinding kolam adalah 1 semen dan 5 pasir, dengan ketebalan dinding kolam ideal 50 cm.

Dasar dinding penguat tanggul sedalam 30 cm di bawah permukaan dasar kolam. Dinding penguat yang dibuat dari pecahan bata penataannya harus dibuat sedemikian rupa sehingga permukaan yang menghadap ke kolam terlihat rata dan rapi.

Saat melakukan pemasangan pecahan batu atau batu bata, maka cara pemasangannya harus disusun sedikit sigsag saling berseberangan agar saling memperkuat posisi masing-masing pecahan batu maupun batu bata tersebut.

Bagi kolam yang potensi airnya terbatas atau minim, maka pembuatan dinding sebaiknya diperkuat oleh dinding tembok, menggunakan semen sebagai komposisi campuran dalam membuat dinding tembok. Selain itu, permukaan yang menghadap ke kolam juga perlu diplester agar bisa mengurangi rembesan air.

7. Membuat dan Pemasangan Perlengkapan Kolam Ikan

Pemasangan dan pembuatan pintu keluar maupun pintu masuk air dilakukan bersamaan saat membuat tanggul. Sebelum tanggul selesai dibuat, pintu masuk air dan saluran pembuangan, yang merupakan kesatuan dari dinding kolam, harus mulai dikerjakan agar proses pembuatannya lebih efisien.

Untuk mengoptimalkan fungsinya selama kegiatan pemeliharaan, kolam ikan perlu diberi pintu-pintu air. Disamping untuk memudahkan pemeliharaannya, pintu air berfungsi mengatur sirkulasi air di dalam kolam. Dilihat dari fungsinya, pintu air pada kolam ikan terdiri dari 2 macam, yitu pintu masuk dan pintu pembuangan atau saluran pembuangan. Standar teknis membuat kolam ikan ideal paling tidak memiliki satu pintu masuk air dan satu saluran pembuangan. Pintu masuk air berfungsi mengatur besar kecilnya debit air yang masuk ke dalam kolam. Sementara itu, pintu atau saluran pembuangan berfungsi mengatur ketinggian permukaan air kolam serta sebagai saluran menguras air saat dilakukan pengeringan maupun pemanenan.

Kolam ikan yang memiliki tanggul atau dinding kolam dari tanah serta tidak diperkuat menngunakan penguat dari pasangan batu atau batu bata, sebaiknya menggunakan pintu air terbuat dari PVC atau bambu, agar saat ingin melakukan perbaikan, saluran air tersebut tidak terlalu mahal untuk diganti. Selain itu, cara pemasangan pintu air dari PVC maupun bambu ini boleh dibilang mudah, yaitu cukup membenamkan bagian tengah PVC atau bambu ke dalam dinding atau tanggul. Kedua ujungnya dibiarkan terbuka, posisi mendatar serta sejajar permukaan saluran sumber air. Salah satu ujung PVC atau bambu tersebut dibuat mencuat di atas permukaan kolam.

Untuk pemasangan pintu pengeluaran atau saluran pembuangan pada kolam ikan tidak berbeda jauh dengan pemasangan pintu pemasukan air. Saluran pembuangan dibuat sebanyak dua buah. Saluran pembuangan pertama berfungsi sebagai saluran pengurasan air yang dipasang di bawah permukaan dasar kolam atau sejajar permukaan caren. Saluran pembuangan kedua berfungsi sebagai pintu keluar air dan pengatur ketinggian permukaan kolam. Pemasangan saluran pembuangan kedua ini ditentukan berdasarkan rencana ketinggian permukaan air kolam. Cara pembuatan kedua saluran pembuangan ini sama dengan pemasangan pada pintu masuk air, yaitu membenamkan pipa PVC atau bambu ke dalam tanggul.

Pintu pembuangan air dari pipa PVC dapat dibuat dua model. Model pertama dibuat seperti pintu air dari bambu, dan model kedua dipasang dengan posisi mendatar pada kolam. Ujung pipa yang satu mencuat di bagian dalam pematang tepat di dasar kolam dan ujung lainnya mencuat di luar tanggul. Ujung pipa PVC yang mencuat di luar tanggul disambung menggunakan pipa siku serta disambung lagi dengan potongan pipa PVC setinggi tanggul kolam. Bila dilihat secara utuh, model pintu pengeluaran ini tampak seperti huruf L. Keuntungan pintu air model ini adalah dapat diputar ke kiri atau ke kanan sehingga ujung luar pipa posisinya dapat diatur tegak atau miring. Dengan mengatur kemiringan pipa pengeluaran air ini, kedalaman air kolam dapat diatur sesuai kehendak.

Jumlah dan ukuran pintu keluar air disesuaikan dengan kapasitas air masuk. Minimal jumlah maupun ukuran pintu sama dengan jumlah pintu masuk air. Biasanya kolam yang cukup luas mempunyai dua buah atau lebih pintu masuk maupun pintu keluar air. Letak pintu air ini disesuaikan pula dengan bentuk kolam maupun letak sumber air ataupun saluran pembuangan. Letak pintu masuk dan pembuangan air ideal adalah bersilangan. Bila pintu masuk terletak di bagian depan sisi kanan, maka pintu pembuangannya berada di bagian belakang sisi kiri.

Pada kolam ikan dengan tanggul atau dinding permanen, pintu pemasukan dibuat dengan cara membuat cekungan atau dalam Bahasa Jawa coakan pada dinding kolam yang berada tepat pada saluran sumber air. Pada cekungan atau coakan tersebut diberi jeruji bersi yang dipasang secara berjajar ke samping atau ke atas. Jarak antar jeruji besi disesuaikan kebutuhan. Untuk menghindari masuknya hama ikan lele, pada sisi yang menghadap arah aliran air masuk dipasang saringan dengan kerapatan sesuai kebutuhan. Pemasangan saringan maupun jeruji besi ini juga berfungsi sebagai penahan sampah atau kotoran yang masuk ke dalam kolam.

Jeruji besi dapat diganti menggunakan kawat yang dianyam serta diberi bingkai bambu sebagai saringan. Pemasangan saringan pada pintu ini harus diberi patok di sisi dalam cekungan agar cukup kuat menahan aliran air atau sampah yang terangkut. Patok ini dipasang pada sisi tegak serta masing-masing dipasang minimal 2 patok berseberangan. Pada cekungan ini dapat pula dibuat cekungan lagi dengan posisi membujur searah dengan posisi tanggul untuk menancapkan saringan air.

Model pintu air lain yang juga cukup dikenal di masyarakat adalah pintu air sistem monik. Pintu air sistem monik ini dapat diaplikasikan untuk pintu pemasukan dan pintu pembuangan. Selain dapat mempermudah kegiatan pengurasan, pintu air sistem monik ini pun memiliki fungsi sangat besar, terutama untuk menjaga kualitas air agar tetap dalam kondisi baik.

Pintu air model monik dibuat secara permanen dari pasangan batu bata, dan bangunan utamanya dibuat mirip dengan pintu masuk pada tanggul permanen. Bedanya pada pintu model monik adalah celah penyekat dibuat lebih dari satu, dimana celah penyekat berfungsi untuk menempatkan papan-papan kayu yang disusun bertumpuk. Dengan cara ini, aliran air masuk maupun keluar dapat diatur. Demikian pula ketika melakukan pengurasan kolam untuk panen tidak perlu merusak pintu air, tetapi cukup melepas papan-papan penyekatnya saja. Untuk mengeluarkan sampah pun cukup dengan membuka salah satu potongan papan penyekat paling atas, sehingga tidak perlu masuk ke dalam kolam.

Membuat pintu monik pada tanggul tanah maupun permanen tidak berbeda. Pintu air ini berdiri tegak dari dasar kolam sampai permukaan tanggul.
Saringan pada pintu air model monik dipasang di bagian bawah pelapis kayu pada sekat sisi dalam atau bagian atas pelapis kayu sisi luar. Untuk mempermudah pengambilan sampah kolam dan menyumbat aliran air, sebaiknya saringan dipasang di bagian atas dari pintu air yang berada di sisi luar. Berbeda dengan pemasangan saringan pada pintu air dari bambu atau pipa PVC, saringannya dipasang di bagian depan sesuai arah aliran air.

Perangkat lain yang harus tersedia pada kolam ikan adalah caren atau kemalir. Caren merupakan saluran atau parit yang dibuat di dasar kolam dengan cara menggali tanah di dasar kolam dengan ukuran serta bentuk yang disesuaikan dengan ukuran dan bentuk konstruksi kolam. Dalam konstruksi kolam, caren memiliki fungsi mempermudah pemanenan atau penangkapan ikan saat melakukan kegiatan panen. Selain itu, tidak kalah pentingnya bahwa keberadaan caren ini sekaligus sebagai tempat penimbunan endapan lumpur maupun sisa-sisa pakan ikan serta sebagai pengatur sirkulasi air di dasar kolam ikan. Kebanyakan peternak ikan belum memahami fungsi teknis dari keberadaan caren ini sehingga mereka membuat caren atau kemalir secara sembarangan. Bahkan para ahli perikanan pun kebanyakan beranggapan bahwa membuat caren ini hanya berfungsi mempermudah penangkapan ikan saat dilakukan kegiatan panen.

Dari segi teknis, dalam konstruksi kolam ikan, caren merupakan saluran yang berperan sebagai penyambung fungsi pintu masuk air dengan saluran pembuangan. Salah satu ujung parit berfungsi sebagai muara pintu masuk air sedangkan ujung lainnya bermuara ke pintu pembuangan. Agar pembuatan caren tidak mengalami kesulitan saat dikerjakan di lahan, sebelumnya perlu dibuatkan gambar konstruksi terlebih dahulu. Bagaimana stuktur pintu masuk air serta bagaimana arah dan bentuk caren yang akan dibuat.

Untuk kolam ikan yang memiliki pintu pemasukan air lebih dari satu buah, maka jumlah caren yang dibutuhkan juga sama dengan jumlah pintu air tersebut. Caren dibuat dengan arah menyesuaikan keberadaan pintu air pada kolam ikan. Sementara itu, ukuran caren menyesuaikan ukuran kolam, kurang lebih 10% dari luas kolam. Berikut ini beberapa gambaran mengenai ukuran caren pada kolam ikan.
  • Untuk luas kolam 100 m², maka luas caren ideal adalah 5 m²
  • Untuk luas kolam1.000 m², maka luas caren ideal adalah 50 m²
  • Untuk luas kolam 10.000 m², maka luas caren ideal adalah 1.000 m²

BUDIDAYA IKAN HIAS

Ikan hias ternyata memiliki jumlah peminat yang sangat tinggi sehingga prospek usaha budidaya ikan hias memiliki peluang yang cukup bagus. Minat masyarakat terhadap ikan hias ini konon berawal dari kebiasaan orang mengurung ikan di pekarangan. Kebiasaan tersebut akhirnya menjadi hobi untuk memelihara ikan di rumah. Kini kegemaran orang memandang kecantikan ikan hias di pekarangan atau di dalam rumah telah berkembang menjadi peluang bisnis berskala internasional.

Budidaya Ikan Hias Arulius

Klasifikasi Ikan Hias Arulius

Ordo: Ostariophysi/Ostariophysoidei, Sub-ordo: Cyprinoidei, Famili: Cyprinidae, Genus: Puntius, Spesies: Puntius arulius/Barbus arulius.

Ciri-ciri Ikan Hias Arulius

Ikan hias ini dikenal juga dengan nama Longfin Barb dan berasal dari negara India dan sudah lama dikenal oleh para hobi dan pembudidaya ikan hias dalam negeri. Karena selain mudah dikembangbiakkan, ikan hias ini pun mampu memberi keturunan yang lumayan banyak setiap kali memijah. Lain daripada itu, ikan hias arulius juga memiliki daya tarik di tubuhnya yang mirip ikan bandeng itu. Warna dasar tubuhnya sulit diuraikan secara tepat. Punggungnya berwarna keperakan, perut kekuningan, sedangkan tutup insangnya dilekati warna-warni kehijauan.

Sirip ekor dan anus gabungan antara hijau dan merah dominan. Sirip punggung mempunyai tulang sirip yang mencuat keluar seperti duri, sedang sirip perut dan dada transparan hijau gelap. Warna-warni tubuh arulius ini tidak selalu permanen. Tetapi yang pasti gabungan warna di tubuhnya mengundang banyak perhatian. Panjang total tubuhnya dapat mencapai 12 cm.

Sifat Ikan Hias Arulius




Longfin barb ini dikenal juga ikan yang suka damai. Bila ingin dipelihara di dalam akuarium pajangan, ia aman dicampur dengan ikan jenis lain meski ukurannya jauh lebih kecil. Kelebihannya, jika ia dicampur beberapa ekor sekaligus, mereka sering bertingkah aneh-aneh, misalnya membentuk barisan dan berjalan secara beriringan.

Di alamnya sana, arulius banyak ditemukan di air yang agak deras. Gerakannya lincah dan agresif tetapi tidak membahayakan keselamatan ikan lainnya. Hanya raja semasa mudanya ikan ini kurang menawan, dan akan menawan setelah berubah dewasa terlebih-lebih untuk ikan jantan.

la membutuhkan akuarium yang berukuran besar dan luas karena si jantan ini sering bertindak aneh-aneh misalnya mengotori air akuarium. Akuarium itu sendiri hendaknya diisi batu-batuan yang agak kehitaman serta diberi ornamen lain. Ornamen ini bisa berupa kayu dan tanaman air yang ditanam di dalam akuarium. la membutuhkan ruang luas untuk berenang. Selain itu juga menuntut air segar, maka usahakanlah penggantian air di dalam akuarium dilakukan secara rutin. Ketentuannya air baru itu harus sama temperaturnya dengan yang ada di dalam akuarium. Jika tidak, bisa membawa malapetaka baginya.

Tempat Pemijahan Ikan Hias Arulius

Memijahkan ikan hias arulius merupakan kegiatan yang bisa dibilang mudah. Tempat memijah yang disediakan buat ikan ini ialah :
  • kolam atau bak dari semen 2 x 3 m sedalam 50 cm.
  • akuarium panjang 1 m, lebar 0,5 m, kedalaman 0,5 m.
  • air yang dikehendaki arulius tidak ada kekecualian dengan ikan hias jenis lain, yaitu bisa dari sumur atau ledeng dengan kesadahan normal, keasaman (pH) 7 dengan suhu antara 23-25°C.
Untuk melengkapi tempat pemijahan ini maka ke dalam tempat pemijahan diisi air setinggi 40 cm. Karena arulius sifatnya memberantakkan telur, maka ke dalam tempat pemijahan harus disediakan tanaman air dasar, untuk melindungi keselamatan telur dari induknya. Tempat pemijahan ini kalau bisa diusahakan menerima sinar matahari pagi. Eceng gondok boleh ditempatkan untuk mengurangi terik matahari dan memberi kesan alami bagi induk.

Memilih induk Ikan Hias Arulius

Syarat induk tak boleh ditawar, yaitu harus sehat, bentuk tubuh normal, dan lincah. Usia siap kawin arulius setidaknya 9-12 bulan dengan panjang. tubuh antara 8-10 cm. Untuk membedakan jenis kelaminnya bisa dilihat dari bentuk badan dan sirip punggungnya. Bentuk badan si jantan biasanya lebih panjang dan langsing, sementara si betina lebih montok, buntek dengan penampang badan lebih besar. Selain itu, ikan hias arulius jantan memiliki sirip punggung yang luar biasa cantik, memanjang dengan warna gelap atau kemerahan. Sedang si betina memiliki sirip punggung yang lebih pendek.

Pemijahan Ikan Hias Arulius

Induk ikan hias arulius yang telah dipilih ditaruh ke dalam tempat pemijahan yang sudah dimanupulasi sedemikian rupa sebelumnya, dengan perbandingan jantan-betina 4 : 10. Induk arulius jantan 4 ekor betina 10 ekor. Dengan perbandingan ini diharapkan ikan jantan dapat membuahi telur-telur ikan betina secara merata.

Biasanya, induk ikan hias arulius yang telah matang kelamin yang dimasukkan sore hari akan memijah malam harinya. Telur-telur akan jatuh dan berserakan di dasar kolam/akuarium pemijahan, di antara tanaman air. Jadi tidak menempel pada tanaman. Biasanya telur-telur itu akan menetas setelah 24-36 jam.

Untuk lebih memberi jaminan keselamatan bagi telur dan benih sebaiknya induk dikembalikan ke tempat pemeliharaan induk, begitu selesai memijah. Ke dalam akuarium diberi aerator sebagai supplyer oksigen. Sedang bak/kolam kurang perlu diberi aerator.

Telur dan benih tetap dibiarkan dalam akuarium pemijahan, tanpa perlu diganggu. Setelah menetas, tanaman air dasar boleh dipindahkan. Untuk menjaga agar benih tidak terikut, sebaiknya digoyang-goyangkan terlebih dahulu.

Pembesaran Ikan Hias Arulius

Biasanya telur ikan hias arulius akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Tetapi ada pula yang baru menetas keseluruhan jadi burayak setelah tiga hari. Larva atau burayak yang baru saja menetas sampai dengan tiga hari tidak perlu diberi makan. Pakan diberikan setelah pada hari keempat berupa infusspria. Seminggu kemudian, kutu air hasil saringan pun sudah bisa disantapnya. Jika ukuran mulutnya sudah mampu menelan pakan yang berukuran lebih besar maka perlu diberi tambahan pakan lain seperti cacing sutera yang diberikan pagi dan sore agar pertumbuhannya lebih pesat.

Induk ikan hias arulius dipelihara di tempat terpisah untuk memulihkan kondisinya seperti semula dan dapat dikawinkan kembali. Perlakuan merawat anak-anak ini harus tetap memperhatikan suhu air dan kesadahannya airnya. Yang perlu diperhatikan adalah saat penggantian air harus dilakukan dengan hati-hati terutama suhu air yang lama dan air baru harus dipastikan sama. Setelah tempat pendederan ini terlalu padat, maka perlu dilakukan pendederan di tempat yang lebih luas.

Budidaya Ikan Hias Cupang

Klasifikasi Ikan Hias Cupang

Ordo: Percomorphoidei, Sub-ordo: Anabantoidea, Famili: Anabantidae, Genus: Trichopsis, Spesies: Trichopsis vittatus (Cuvier & Valenciennes), Osphromenus vittatus (Cuvier & Valenciennes)

Ciri-ciri Ikan Hias Cupang

Ikan hias cupang berasal dari daerah Jawa, Kalimantan, Sumatera, Malaya, Indochina dan Siam. Ikan hias yang dikenal dalam bahasa Inggris dengan sebutan Talking Gourami atau Croaking Gourami memiliki bentuk tubuh yang sangat langsing dan pipih ke samping (Compressed). Warna dasar badannya bervariasi dari kuning hingga sawo matang. Punggung berwarna lebih gelap dengan bagian perut lebih kuning putih. Secara keseluruhan warna pada tubuhnya sangat bervariasi dan terlihat tajam.

Pada sisi badannya terdapat garis horizontal yang berwarna biru gelap atau hitam. Garis ini dimulai dari mata hingga di daerah sirip ekor. Beberapa specimen lain yang ditemukan kadang-kadang mempunyai tambahan garis samar-samar, sebanyak satu atau dua buah.

Sirip-sirip berwarna kemerahan, dengan ujung berwarna ungu atau biru. Sirip ini mempunyai bintik-bintik berwarna seperti pelangi — biru, merah, kehijauan. Warna matanya sangat menarik. Bagian luar berwarna merah darah, sedangkan bagian dalam berwarna hijau kebiruan. Sirip anal, punggung dan ekor tumbuh sempurna dengan beberapa jari-jari sirip yang tumbuh menonjol.

Sifat-sifat Ikan Hias Cupang

Ikan hias ini dapat mencapai panjang total 6,25 cm, sedangkan untuk pemijahannya dapat dilakukan sejak berukuran 5 cm.

Cupang merupakan salah satu jenis ikan hias yang memiliki kebiasaan menyusun sarang busa sebelum melakukan pemijahan. Namun demikian berbeda dengan ikan hias betta, ikan hias cupang ini bisa ditempatkan dalam akuarium umum, karena mempunyai sifat pendamai.

Ikan hias cupang banyak ditemukan hampir pada semua perairan bebas serta dapat hidup dan berkembang biak pada media yang terbatas.

Tempat Pemijahan Ikan Hias Cupang

Untuk memijahkannya cukup disediakan akuarium berukuran 20 x 40 cm, tinggi 20 cm. Atau toples-toples kaca. Dapat juga dengan menggunakan bak semen berukuran 1 x 2 m atau 1 x 1 m dengan ketinggian bak antara 30-40 cm. Bila pemijahan dilakukan dalam bak semen sebaiknya dibuatkan kamar-kamar dengan sekatan kayu, agar dapat dipakai untuk mengawinkan cupang dalam jumlah yang cukup banyak. Kamar pemijahan ini boleh berukuran hanya 20 x 20 cm.

Di dalam tempat pemijahan diberi tanaman air untuk membantu induk jantan membuat sarang busa. Tanaman ini boleh eceng gondok yang mengapung atau Aponogeton yang memanjang dari dasar bak. Bisa juga sekedar potongan daun eceng gondok, jika pemijahan dilakukan pada kamar-kamar yang disekat di bak semen.

Air yang digunakan bisa air biasa dari sumur atau ledeng. Sebaiknya telah didiamkan selama 24 jam, untuk menguapkan gas yang tidak dikehendaki. Bila memang air sulit dicari, ikan ini masih mau dikawinkan pada air yang diperoleh dari penampungan hujan. Tentunya harus pula diendapkan sehari semalam.

Memilih Induk Ikan Hias Cupang

Untuk membedakan ikan cupang jantan dari betin dapat dilihat dari perbedaan sirip-siripnya dan warna badannya.
Ikan hias cupang jantan mempunyai jari-jari sirip anal, punggung, dan ekor yang tumbuh dengan sangat sempurna, yaitu lebih panjang sedikit dibandingkan selaput yang menutupinya. Sedangkan ikan hias cupang betina mempunyai sirip ekor, anal, dan punggung yang biasa, tanpa ada penonjolan dari jari-jari siripnya.
Selain itu ikan hias cupang jantan juga terlihat mempunyai ujung sirip punggung yang berwarna kemerahan, yang juga terlihat pada sirip ekor dan analnya. Pada ikan jantan yang telah matang kelamin terdapat bintik-bintik hitam pada punggungnya yang lebih banyak dari biasanya, yang tidak terlihat pada induk ikan hias cupang betina.

Ikan-ikan yang dipilih sebagai induk sebaiknya telah berukuran 5 cm dan telah berumur antara 6-7 bulan. Induk jantan berjumlah sebanding dengan induk betina, karena perkawinan ikan hias cupang menganut sistem monogami.

Induk yang telah terpilih ditempatkan dalam wadah terpisah, dan diberi makan yang layak, biasanya kutu air atau cuk (jentik nyamuk).

Pemijahan Ikan Hias Cupang

Sebelum dipakai, bak atau akuarium dibersihkan dulu untuk menghindari jamur atau bibit penyakit lainnya. Kotoran yang melekat di dindingnya digosok hingga licin, kemudian dibilas dengan air bersih. Jika dirasakan perlu, boleh direndam dengan larutan PK encer, sebelum akhirnya dibilas lagi.

Ke dalam akuarium diisi air setinggi 15-18 cm, sedangkan bak boleh sampai kedalaman 25 cm. Kemudian dimasukkan tanaman yang telah dibersihkan. Aponogeton harus diberi pecahan genteng pada dasarnya supaya jangan tumbang, sedangkan eceng gondok dapat ditempatkan begitu saja.

Induk-induk ikan hias cupang yang telah dipilih dimasukkan ke dalam tempat pemijahan, satu ikan jantan untuk satu induk ikan betina. Bila menggunakan tempat bak semen, banyaknya induk yang dikawinkan disesuaikan dengan banyaknya sarang yang tersedia.

lnduk ikan hias cupang jantan akan membangun sarang busa di antara daun-daunan enceng gondok atau di sekitar tanaman Aponogeton. Induk ikan hias cupang betina hanya mengawasi pasangannya mempersiapkan pelaminan. Setelah sarang busa siap, maka tidak berapa lama induk betina akan menghampiri pasangannya untuk bersama-sama bercumbu di bawah sarang busa.

Induk ikan hias cupang betina akan mengeluarkan telurnya yang segera akan diikuti induk jantan dengan menyemprotkan spermanya. Telur-telur akan melekat di busa yang berwarna putih itu. Sebagian telur yang jatuh akan dipungut oleh kedua induknya dan ditempatkan bersama sekumpulan telur yang lain.

Telur yang dibuahi oleh sperma ikan hias cupang jantan akan menetas dalam tempo tidak lebih dari 24 jam, pada suhu 24°C. Benih yang telah menetas akan berdiam di sekitar tempatnya semula. Baru setelah melewati masa tiga hari benih-benih akan mulai terlihat berpindah, berenang bebas. Pada saat inilah harus diberikan makanan, sebab kandungan kuning telurnya sudah habis. Juga jangan lupa memindahkan induk jantannya. Sedangkan induk betina sudah harus dipisah begitu selesai memijah.

Pembesaran Ikan Hias Cupang

Mengingat tempat pemijahan yang relatif sempit dan untuk menyelamatkan benih-benih yang masih lemah, maka setelah berumur seminggu benih sudah boleh dipindahkan ke lain tempat. Tempat yang baru, boleh berupa bak semen atau akuarium yang berukuran agak besar.

Pemindahan dilakukan pagi hari di saat suhu masih rendah dengan mengikutsertakan sebagian airnya. Air yang dipakai di tempat baru sebaiknya telah diendapkan sehari semalam, dengan ketinggian air tidak boleh lebih dari 25 cm. Di dalam bak ini boleh ditempatkan satu atau dua rumput eceng gondok yang berakar rimbun sebagai tempat peneduh dan perlindungan dari tetesan air hujan. Jangan lupa membersihkan lebih dulu sebelum menempatkan dalam bak pendederan, sebab jika alpa dapat fatal akibatnya.

Makanan pertama kali yang diberikan oleh infusaria atau air hijau yang dapat diperoleh dari permukaan kolam. Kemudian rotifera yang disusul kutu air yang kecil, sebelum akhirnya benih mampu menelan cacing sutra.

Penggantian air dilakukan seminggu sekali dengan membuang tidak lebih dari 2/3 bagian air lama. Penggantian air dilakukan dengan menyipon air lama memakai slang dan menggantinya dengan air yang telah diendapkan sehari semalam.

Pemindahan kedua dilakukan setelah benih berumur sebulan, ke bak yang lebih lapang. Atau bisa juga dengan mengurangi kepadatan benih dalam kolam dengan memindahkan sebagian ke bak lain. Sementara itu induk ikan hias cupang dapat dikawinkan lagi setelah waktu empat minggu, kadang-kadang malah bisa kurang.

BUDIDAYA KUTU AIR (Daphnia sp.)

Budidaya kutu air yang akan dibahas pada artikel ini khususnya kutu air dari jenis Daphnia sp. Budidaya Daphnia sp. ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan alami pada budidaya ikan lele pembibitan maupun pendederan. Dengan dibudidayakan kutu air, diharapkan posokan pakan alami tidak mengalami kekurangan, sehingga benih atau larva ikan lele yang dipelihara bisa tumbuh sesuai dengan target yang ditetapkan oleh pembudidaya. Berikut ini kami uraikan secara singkat mengenai kutu air (Daphnia sp.).

Kutu Air (Daphnia sp.)

Kutu air (Daphnia sp.) merupakan krustasea kecil bagian dari zooplankton yang habitatnya di air. Kutu air (Daphnia sp.) bukan merupakan jenis serangga dan tidak hidup sebagai parasit.

Kutu air (Daphnia sp.) berukuran panjang kurang dari setengah milimeter. Pakan utamanya kutu air ini adalah berbagai fitoplankton dan juga sisa-sisa makanan hewan lainnya (detritus).

Budidaya Kutu Air




Kutu air (Daphnia sp.) banyak terdapat di alam, terutama di daerah comberan dan daerah persawahan. Biasanya kutu air (Daphnia sp.) akan tumbuh subur pada perairan yang banyak mengandung bahan organik. Di samping bisa diperoleh langsung dengan melakukan penangkapan dari alam, kutu air atau Daphnia sp. juga bisa dibudidayakan. Selain cara mendapatkan kutu air (Daphnia sp.) yang cukup repot, untuk daerah-daerah yang tidak banyak comberan dan persawahan juga akan kesulitan mendapatkan kutu air (Daphnia sp.) dari alam. Oleh karena itu, untuk mencukupi kebutuhan pakan ikan, terutama pada fase pembenihan, maka kutu air (Daphnia sp.) ini haru dibudidayakan atau dikulturkan sendiri. Cara membudidaya kutu air (Daphnia sp.) cukup mudah.

Wadah atau tempat yang dapat digunakan untuk budidaya kutu Daphnia sp. bisa menggunakan bak tembok maupun fibre glass. Bak atau wadah yang sudah disiapkan harus dibersihkan terlebih dahulu, kemudian diisi dengan air bersih yang tidak mengandung kaporit. Untuk mendapatkan air bersih tersebut, bisa menggunakan air sumur. Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk kandang, akan lebih baik menggunakan kotoran ayam kampung, yang tidak tercemar bahan kimia, dengan dosis 4-5 g/liter air.

Pemupukan tersebut dilakukan dengan cara memasukkan kotoran atau pupuk kandang ke dalam karung atau bahan lain yang bisa digunakan sebagai wadah dan bisa menyerap air. Hal ini dimaksudkan agar kotoran atau material kasar tidak masuk ke dalam bak, sehingga bak tempat budidaya akan tetap bersih. Pemupukan yang sudah berhasil ditandai dengan warna air di dalam wadah yang berubah menjadi kecokelatan seperti teh, sesaat setelah pupuk dimasukkan ke dalam wadah. Pupuk tersebut dibiarkan selama 7 hari agar terjadi proses dekomposisi, dengan tujuan untuk mengurangai gas-gas beracun yang timbul akibat proses dekomposisi pupuk tersebut. Setelah itu, pada hari kedelapan inokulasi atau penebaran bibit-bibit kutu air (Daphnia sp.) sudah bisa dilakukan. Bibit kutu air (Daphnia sp.) bisa didapat dengan melakukan penangkapan dari alam, yaitu ditempat comberan atau di daerah persawahan. Bibit kutu air (Daphnia sp.) yang sudah diinokulasi akan tumbuh dengan cepat dan bisa dipanen menggunakan scopnet halus bermata jaring 1,5-2mm. Bibit-bibit kutu air (Daphnia sp.) tersebut sudah bisa diberikan pada benih atau larva ikan lele.

Untuk menjaga agar stok kutu air (Daphnia sp.) selalu tersedia, maka harus dilakukan pemupukan ulang sebanyak ½ dosis pemupukan pertama dengan interval pemberian pupuk selama 7-8 hari sekali. Jika bak atau tempat budidaya Daphnia sp. sudah penuh dengan pupuk, maka sebelum melakukan pemupukan ulan harus dikeluarkan terlebih dahulu pupuk yang sudah diberikan sebelumnya. Dengan demikian, pasokan kutu air (Daphnia sp.) akan tetap tersedia untuk mendukung budidaya perikanan.

CARA MERAWAT KOLAM IKAN

Cara Merawat Kolam Ikan - Kegiatan perawatan kolam ikan merupakan faktor penting yang dapat menunjang keberhasilan usaha budidaya di sektor perikanan. Di banyak negara, seperti di Thailand, banyak pelaku agribisnis perikanan yang menyatakan bahwa keberhasilan kegiatan usaha budidaya ikan tidak terlepas dari kegiatan perawatan kolam ikan. Ikan gurami (Osphronemus gouramy) akan mengalami keterlambatan pertumbuhan jika dipelihara di kolam yang tidak memenuhi standar untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan hidupnya. Misalnya jika ikan tersebut dipelihara di kolam dangkal. Sementara itu ikan tawes atau Puntius javanicus akan memiliki pertumbuhan jauh lebih cepat jika dibudidayakan di kolam perairan dangkal.

Gambaran lain tentang pentingnya kolam ikan terhadap keberhasilan usaha budiaya di sektor perikanan adalah penentuan bentuk kolam. Secara umum, ikan air tawar dan air payau akan memiliki tingkat pertumbuhan lebih cepat jika dibudidayakan di kolam berbentuk bulat atau segi empat sama sisi dimana tingkat perputaran air akan lebih tinggi sehingga debit oksigen terlarut dalam kolam juga lebih tinggi. Kelangsungan hidup ikan juga akan lebih tinggi jika dibudidayakan di kolam ikan dengan intensitas perawatan yang lebih baik.

Kurangnya informasi akan pentingnya peranan kolam ikan terhadap keberhasilan budidaya, pada umumnya para petani ikan atau bahkan para ahli di bidang perikanan tidak memperhatikan faktor tersebut sehingga bentuk dan konstruksi kolam yang dibuat tidak dipertimbangkan dengan baik. Kolam-kolam ikan yang mereka miliki tidak lebih dari cekungan (Jawa: kowakan) tanah berisi air yang dipergunakan untuk menampung ikan. Bahkan tidak sedikit peternak ikan yang belum memahami prinsip dan cara pembuatan kolam ikan.

Lihat Lebih Detil Cara Membuat Kolam Ikan




Kegiatan merawat kolam ikan merupakan kegiatan yang sering diabaikan oleh petani atau peternak ikan. Banyak diantara mereka mengesampingkan kegiatan tersebut. Kegiatan pemeliharaan pada budidaya ikan di kolam akan mengalami kesulitan jika usaha budidaya tersebut dilakukan di kolam dengan perawatan sembarangan atau bahkan tidak dirawat sama sekali. Sementara itu, kegiatan budidaya yang dilakukan dalam perawatan kolam yang lebih baik, pengelolaanya akan jauh lebih mudah, praktis, dan lebih hemat biaya.

Pada budidaya ikan secara intensif, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh faktor pemberian pakan semata, tetapi pengelolaan kolam menjadi faktor penunjang keberhasilan tersebut. Pengelolaan kolam yang baik meliputi kegiatan pengeringan kolam, pengapuran, pemberian pupuk kandang, serta kegiatan-kegiatan perbaikan lain. Proses pengeringan dilakukan dengan membuka saluran pengurasan hingga kering. Agar air pada dasar kolam bisa terbuang semua, maka permukaan dasar kolam ikan harus dibuat miring ke arah caren. Sementara itu, caren juga dibuat miring dari pintu masuk air ke arah saluran pembuangan. Untuk mempermudah pengaturan tinggi rendah air, saluran pembuangan sebaiknya dibuat menggunakan sistem monik dengan membuat papan pembatas berlapis. Agar pemanfaatan lahan dan sumber air yang tersedia bisa optimal, maka perencanaan pembuatan kolam ikan harus mempertimbangkan bentuk, ukuran, tata letak, serta jumlah petakan kolam yang akan dibuat.

Di daerah pegunungan atau dataran tinggi yang kondisi tanahnya memiliki tingkat kemiringan relatif besar, perencanaan tata letak dan bentuk kolam ikan relatif lebih mudah. Tetapi jenis tanah di daerah pegunungan biasanya lebir ringan dan gebur, sehingga lebih mudah tergerus air. Pematang atau tanggul dari jenis tanah gembur berlumpur ini lebih mudah dalam pembuatannya, tetapi pematang dari jenis tanah tersebut tidak kuat menahan tekanan air, tida kedap, terlalu porous sehingga mudah rembes yang berpotensi menimbulkan kebocoran, dan mudah retak sehingga tanggul kolam ikan tersebut mudah ambrol atau jebol. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi tanah di daerah yang memiliki tanah liat. Tanah liat berisfat sangat lembek, sehingga dalam pembuatan tanggul atau dinding kolam akan lebih sulit dan memerlukan waktu lebih lama. Demikianlah, pengetahuan dan keterampilan dalam merawat kolam merupakan hal yang sangat penting, sehingga akan lebih mudah dalam melakukan perawatan.

PERAWATAN KOLAM IKAN

Kolam ikan beserta seluruh perlengkapannya perlu dirawat secara baik. Selama masa pemeliharaan, kolam ikan selalu tergenang air, terguyur hujan, tercemar lumpur dan sampah atau terpanggang oleh panasnya sinar matahari. Akibatnya, kolam sering mengalami kerusakan, misalnya tanggul bocor atau retak, pintu air tersumbat, dan caren menjadi dangkal tertimbun lumpur atau sampah. Selain itu, banyak sekali hewan dan organisme liar yang hidup di dalam atau di sekitar kolam ikan yang termasuk dalam golongan hewan perusak, yaitu kepiting, tikus, dll.

Kolam ikan yang tidak dirawat dengan baik akan berkurang fungsinya dan bahkan akan kehilangan manfaatnya sebagai tempat memelihara atau budidaya ikan. Oleh karena itu, prinsip pemeliharaan atau perawatan kolam ini tidak sekedar memperbaiki kerusakan-kerusakan pada kolam ikan, tetapi juga sekaligus memulihkan dan kegunaan kolam tersebut sebagai tempat untuk memelihara ikan, sehingga kegiatan atau usaha budidaya ikan tetap bisa dilangsungkan di kalam ikan tersebut.

Bagian-bagian kolam ikan yang perlu dilakukan perawatan secara rutin, terutama setelah melakukan selesai melakukan panen adalah tanggul atau dinding kolam, caren atau parit, pintu air, dan saringan atau papan-papan penutup pintu air.

Perawatan Kolam Ikan Permanen

  • Pada kolam ikan yang dibuat dari tanggul atau dinding permanen ini kerusakan biasanya berupa geripis dan kebocoran. Dinding tanggul yang rusak tersebut ditambal dengan campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:5.
  • Jika terjadi keretakan pada bagian tanggul atau dinding kolam, maka retakan tersebut harus disuntik atau dalam bahasa Jawa dicokol. Penyuntikan atau penyumbatan retakan dinding kolam tersebut dilakukan dengan campuran semen dan pasir, tetapi jika retakannya kecil, penyuntikan cukup dilakukan menggunakan semen saja.
  • Menyumbat lubang-lubang kecil di bawah pondasi tanggul dengan tanah liat berpasir. Tanah sumbatan ditimbunkan di atas lubang, lalu diinjak-injak hingga keras.
  • Lakukan penimbunan dengan tanah pada bagian dasar tanggul di sekitar pintu, meskipun tidak bocor, kemudian diinjak-injak hingga keras
  • Membersihkan celah-celah papan kayu dan saringan pintu air yang tertutup oleh lumpur dan lumut. Sedangkan papan kayu yang rusak harus diganti.
  • Mengeluarkan lumpur, sisa pakan dan kotoran serta sampah yang tertimbun di caren. Caren dibuat lagi sesuai dengan bentuk semula.
  • Bersihkan seluruh saluran disekitar kolam, jika ada perakaran tanaman yang menembus dinding kolam harus dipotong.
  • Pasangan batu atau batu bata yang goyah dikencangkan kembali dengan cara melapisi dan menyuntik rongga pasangan batu atau batu bata tersebut dengan semen.

Perawatan Kolam Ikan Non Permanen (Tanah)

  • Setiap kali selesai melakukan kegiatan pemanenan, lakukan pembersihan tanggul atau dinding kolam dengan cara dicangkul tipis-tipis atau dikepras dengan bentuk miring menggunakan cangkul yang tajam. Tanah dari keprasan ini disebar ke dasar kolam bagian tepi. Tanggul atau dinding kolam yang bocor disumbat dengan lumatan tanah liat berpasir. Lubang bocoran tersebut ditutup dengan lumatan tanah, kemudian diinjak-injak dengan tumit hingga benar-benar terisi penuh dan padat. Setelah selesai melakukan penyumbatan pada seluruh bocoran tanggul atau dinding kolam, seluruh permukaan tanggul atau dinding kolam yang menghadap ke kolam ikan dilapisi kembali dengan lumatan tanah liat berpasir atau tanah bekas keprasan tersebut.
  • Dasar tanggul di sekitar saluran pembuangan atau pengurasan harus dipadatkan kembali, bila terjadi kebocoran, perlu diberbaiki dengan cara seperti pada penyumbatan tanggul yang bocor.
  • Perbaikan pada caren kolam ikan dilakukan dengan cara membuang endapan lumpur yang memenuhi caren, bersihkan dari sampah plastik dan sebagainya, sehingga caren atau kemalir dapat berfungsi seperti semula. Bila lumpur yang terdapat pada caren terlanjur padat, buatkan caren baru dengan bentuk dan ukuran seperti semula.
  • Lakukan pengontrolan terhadap pintu pemasukan air dan pintu pembuangan kolam ikan yang terbuat dari PVC atau bambu. Pengontrolan dilakukan dengan membongkar pintu air tersebut kemudian dibersihkan, bila ditemukan kerusakan segera diganti dengan yang baru. Setelah pintu air dipasang kembali, lakukan penimbunan saluran tersebut dengan lumatan tanah berpasir yang diambil dari dasar kolam. Penimbunan juga dimaksudkan untuk mengembalikan posisi tanggul seperti semula.
  • Lakukan pengecekan terhadap saringan air, jika ada kerusakan segera diperbaiki bila perlu diganti dengan yang baru kemudian pasang kembali seperti semula.
  • Jika kolam ikan menggunakan pintu air yang dibuat permanen, harus dilakukan pengontrolan secara khusus. Bagian-bagian yang retak, pecah, atau geripis segera ditambal. Papan kayu pembatas yang rusak juga harus diganti. Celah yang digunakan sebagai tempat pemasangan papan pembatas dibersihkan dari lumpur atau lumut.
  • Saluran pintu pemasukan air dan saluran pembuangan perlu dijaga kebersihannya. Lakukan perbaikan dengan segera jika ditemukan kerusakan pada saluran-saluran tersebut. Rumput-rumput yang perakarannya dapat merusak dinding kolam ikan juga harus dibersihkan dengan cara dicabut atau diptong.
  • Tanggul harus dijaga dari hewan-hewan perusak, seperti kepiting, tikus, atau belut. Selain itu, untuk menghindari permukaan tanggul akibat dilewati binatang-binatan besar, seperti kerbau atau sapi, maka tanggul tersebut harus diberi pagar yang dibuat mengelilingi kolam.

NUTRISI DAN PAKAN IKAN

Nutrisi dan Pakan Ikan - Pada artikel ini akan dibahas secara khusus mengenai nutrisi dan pakan ikan yang meliputi definisi pakan, fungsi pakan pada ikan, serta kebutuhan nutrisi ikan. Dengan mengetahui peran maupun fungsi pakan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan, maka keberhasilan budidaya ikan dapat dicapai secara optimal. Pakan ikan berkualitas akan meningkatkan kesehatan serta mempercepat pertumbuhan, sehingga produksi budidaya ikan akan lebih meningkat dan sudah barang tentu keuntungan yang didapat juga lebih tinggi.

DEFINISI PAKAN

Pakan adalah makanan atau asupan yang diberikan kepada hewan ternak atau peliharaan. Istilah ini diadopsi dari bahasa Jawa. Pakan merupakan sumber energi dan materi bagi pertumbuhan dan kehidupan makhluk hidup. Pakan Buatan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi tertentu berdasarkan pertimbangan pembuatnya. Pembuatan pakan buatan sebaiknya didasarkan pada pertimbangan kebutuhan nutrisi atau gizi hewan ternak atau peliharaan yang bersangkutan, sumber dan kualitas bahan baku, serta nilai ekonomis. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, diharapkan pakan buatan yang dihasilkan (pakan ikan), dapat memiliki standar mutu tinggi dengan biaya murah.

Dalam melakukan kegiatan budidaya ikan secara intensif, pakan buatan merupakan faktor terpenting untuk menunjang keberhasilan agribisnis budidaya tersebut. Selain itu, pakan buatan berfungsi sebagai sumber energi utama bagi perkembangan maupun pertumbuhan ikan budidaya. Berdasarkan tingkat kebutuhan maupun urgensi pemberiannya, pakan buatan dalam agribisnis perikanan dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu: (1) pakan tambahan, (2) pakan suplemen, (3) pakan utama.

Pakan tambahan adalah pakan yang dibuat atau diberikan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan terhadap tambahan pakan. Dalam agribisnis perikanan, hal ini biasanya terjadi pada kegiatan budidaya ikan secara tradisional atau semiintensif. Pakan tambahan ini diberikan dengan asumsi bahwa ikan budidaya sudah mendapatkan pakan dari alam, tetapi jumlahnya belum memenuhi kebutuhan baik untuk perkembangan maupun pertumbuhan yang lebih baik. Sementara itu pakan suplemen adalah pakan yang dibuat serta diberikan dengan tujuan untuk memenuhi komponen nutrisi tertentu yang sedikit disediakan atau bahkan tidak bisa disediakan sama sekali oleh pakan lain. Pakan suplemen ini banyak diberikanan pada budidaya ikan hias. Untuk memenuhi standar tertentu dari tujuan budidaya ikan hias, misal warna, bentuk, atau ukuran, maka ikan budidaya harus diberi suplemen tertentu dalam jumlah cukup. Sedangkan pakan utama adalah pakan yang dibuat untuk menggantikan sebagian besar atau keseluruhan pakan alami. Pakan utama ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan ikan terhadap pakan pada sistem budidaya ikan secara intensif. Penebaran ikan dengan populasi tinggi pada budidaya ikan secara intensif mengakibatkan kebutuhan terhadap nutrisi mutlak harus bergantung dari pemberian pakan utama ini. Karena jumlah pakan alami sama sekali tidak mencukupi kebutuhan ikan untuk menopang pertumbuhannya.

Agar pakan buatan yang diberikan dapat mendukung serta mengoptimalkan perkembangan maupun pertumbuhan ikan budidaya, sebaiknya pembuatan pakan ini harus berorientasi menghasilkan pakan ikan berkualitas, yaitu pakan yang disukai, mudah dicerna, serta dapat memenuhi standar kebutuhan nutrisi ikan. Untuk menghasilkan pakan ikan berkualitas tersebut, dibutuhkan komponen bahan baku berkualitas pula. Komponen utama bahan baku pembuatan pakan ikan dikelompokkan menjadi dua kelompok utama, yaitu komponen penghasil energi (terdiri dari protein, lemak, karbohidrat), dan komponen bukan penghasil energi (terdiri dari vitamin, mineral).

FUNGSI PAKAN IKAN




Fungsi utama pakan ikan adalah untuk menghasilkan energi dimana energi ini digunakan untuk menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan. Pakan tersebut bisa diperoleh dari pakan alami maupun pakan buatan. Secara umum, ikan memanfaatkan protein sebagai sumber energi utama, oleh karena itu, komponen utama yang harus tersedia saat membuat pakan buatan adalah protein. Namun demikian, pakan ikan tidak hanya berfungsi sebagai penghasil energi, sehingga ketersediaan komponen lain dalam pembuatan pakan ikan juga sangat penting. Beberapa fungsi penting pakan ikan untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan ikan antara lain:

A. Fungsi Pakan Ikan Sebagai Pengobatan

Pada dasarnya, ikan dengan kecukupan nutrisi dari pakan ikan dengan kualitas maupun kuantitas memadai akan tumbuh lebih baik serta tidak mudah terserang penyakit. Pakan ikan akan membantu terciptanya sistem ketahanan tubuh. Sistem ketahanan tubuh tersebut akan menciptakan imunitas atau kekebalan terhadap serangan penyakit, serta sangat dipengaruhi oleh sistem hormonal. Sementara mekanisme sistem hormonal sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan ikan yang dikonsumsi. Dengan demikian, apabila pakan ikan berkualitas baik, maka sistem hormonal juga akan berjalan baik maka dengan sendirinya akan terbentuk sistem ketahanan tubuh yang baik pula.

B. Fungsi Pakan Ikan Untuk Membentuk Warna Tubuh

Salah satu fungsi pakan bagi ikan adalah sebagai pembentuk warna tubuh atau pigmen. Biasanya fungsi pakan ikan tersebut terkandung dalam pakan buatan serta dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikan hias. Pakan buatan yang digunakan untuk membentuk warna tubuh pada ikan jika dilihat dari komponen bahan penyusunnya tidak beda jauh dengan pakan buatan lainnya, hanya pada pakan buatan ditambahkan pigmen atau penghasil warna.

Secara fisik pakan buatan yang diperkaya dengan pigmen mudah dibedakan dengan pakan buatan biasa, karena pakan buatan kaya akan pigmen biasanya memiliki warna khas, seperti merah atau hijau. Selain itu, keterangan yang menyebutkan adanya tambahan pigmen biasanya juga tertera pada kemasan. Ikan yang diberi nutrisi berkandungan pigmen secara proporsional akan memiliki warna tubuh lebih cemerlang serta lebih tajam.

C. Fungsi Pakan Ikan Untuk Meningkatkan Cita Rasa

Cita rasa sangat mempengaruhi selera konsumen. Ikan bercita rasa buruk atau kurang enak biasanya tidak disukai konsumen. Cita rasa daging ikan ini sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan ikan yang dimakan. Ikan selain mendapatkan pakan dari pemberian pakan tambahan, juga mendapatkan pakan dari pakan alami. Kualitas pakan alami sangat dipengaruhi oleh lingkungan perairan masing-masing. Setiap lingkungan perairan memiliki kandungan dan kualitas pakan alami berbeda-beda. Dengan demikian, ikan yang memperoleh pakan alami dari suatu lingkungan perairan akan memiliki aroma maupun cita rasa berbeda dibanding dengan ikan sejenis yang memperoleh pakan alami dari lingkungan perairan lain. Demikian pula jika ditangkap pada suatu lingkungan perairan akan memiliki aroma serta cita rasa yang berbeda jika dibandingkan dengan ikan sejenis yang ditangkap pada lingkungan perairan sama tetapi di musim berbeda.

Dengan asumsi tersebut di atas, pembuatan pakan buatan sebaiknya juga mempertimbangkan komponen yang mempengaruhi cita rasa daging ikan yang dihasilkan. Sebagai contoh, pemberian pakan ikan di Amerika yang berupa tepung darah, memiliki cita rasa berbeda dengan ikan di Israel yang diberi pakan ikan berupa bungkil kacang tanah. Demikian pula dengan ikan di Jepang yang diberi pakan dari kepompong ulat sutra memiliki cita rasa daging ikan berbeda dengan ikan di kedua negara tersebut. Tetapi cita rasa daging ikan di ketiga negara tersebut ternyata memiliki cita rasa daging ikan lebih enak dibanding dengan cita rasa daging ikan di Indonesia (diberi pakan pellet).

D. Fungsi Pakan Ikan Untuk Mempercepat Reproduksi

Pengangkutan hormon reproduksi menuju organ reproduksi sangat dipengaruhi oleh kinerja sistem endokrin. Sistem endokrin dan sistem hormon ditunjang oleh kualitas pakan ikan. Sehingga, kualitas pakan ikan yang baik harus mampu menunjang kerja organ tubuh ikan, termasuk kinerja kedua sistem hormon tersebut. Kinerja sistem endokrin secara optimal akan mempercepat proses pematangan gonad atau pematangan kelamin ikan. Jika proses pematangan gonad bisa berlangsung lebih cepat, maka proses reproduksi pun bisa dipercepat. Dengan demikian, salah satu fungsi dari pakan ikan adalah untuk mempercepat proses reproduksi ikan.

Penambahan vitamin, terutama vitamin E ternyata dapat merangsang pematangan gonad. Vitamin E diketahui memiliki fungsi untuk mencegah oksidasi EPA (eikosapentanoic acid). EPA diubah menjadi prostaglandin, prostaglandin berperan mempercepat pematangan gonad. Bersama dengan vitamin A (berperan sebagai antioksidan), penambahan vitamin E juga akan meningkatkan fungsi PUFA (polyunsaturated fatty acid) yang diperlukan selama proses pembentukan hormon. Selain itu, beberapa jenis bahan pembuatan pakan ikan yang dapat mempercepat proses pematangan gonad antara lain, udang, cumi-cumi, kerang, serta kepiting segar.

E. Fungsi Pakan Ikan Untuk Perbaikan Metabolisme Lemak

Secara umum, ikan memenuhi kebutuhan energinya dari protein. Dengan kata lain, ikan lebih mudah untuk mencerna protein untuk mengganti energinya dibanding dengan mencerna karbohidrat maupun lemak. Kondisi ini tentu saja bagi petani kurang menguntungkan, mengingat biaya untuk memenuhi kebutuhan protein lebih mahal. Bagi peternak ikan, protein yang diberikan melalui pakan akan lebih baik digunakan untuk menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan. Sementara itu, energinya diperoleh dari pemberian lemak atau karbohidrat.

Para ahli telah melakukan berbagai upaya penelitian untuk meningkatkan daya cerna ikan terhadap lemak maupun karbohidrat untuk memenuhi kebutuhan energinya. Sehingga protein yang diberikan dan harus disediakan dengan biaya mahal dapat digunakan secara optimal untuk menopang pertumbuhan ikan.

Dari hasil penelitian tersebut, salah satu bahan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan ikan dalam mencerna lemak untuk memenuhi kebutuhan energinya adalah asam bile. Asam bile merupakan cairan yang dihasilkan oleh hati. Senyawa ini banyak mengandung garam natrium dan garam kalium. Dalam proses pencernaan lemak, kedua jenis garam ini akan menurunkan tegangan permukaan lemak serta mengubah bentuk lemak menjadi bola-bola kecil (micelle). Lemak berbentuk bola-bola kecil ini relatif larut dalam air (membentuk emulsi) sehingga mudah diserap oleh tubuh.

Upaya lain untuk meningkatkan daya cerna ikan terhadap lemak juga dapat dilakukan dengan penambahan lesitin. Lesitin merupakan lemak yang mengandung gliserol dan asam fosfat. Senyawa ini banyak terdapat di otak, kedelai, biji bunga matahari, jagung, maupun kuning telur. Selain sebagai sumber lemak, lesitin juga berfungsi untuk menstabilkan lemak dalam saluran pencernaan. Dengan kandungan gliserol tinggi, lesitin mudah dicerna oleh ikan.

Penambahan mikroba jenis tertentu juga diketahui dapat meningkatkan kemampuan ikan dalam mencerna lemak maupun karbohidar. Selain menguraikan lemak sehingga mudah dicerna oleh ikan, mikroba juga dapat membantu pencernaan karbohidrat maupun protein. Beberapa pabrik pakan ikan telah menggunakan jenis mikroba yang dapat meningkatkan pencernaan lemak maupun karbohidrat dengan menambahkannya dalam formulasi pakan ikan.

KEBUTUHAN NUTRISI IKAN

Kebutuhan nutrisi ikan secara alami sudah tersedia, baik di kolam maupun di perairan lain. Pada usaha agribisnis budidaya ikan secara tradisional, kebutuhan nutrisi ikan dapat dipenuhi oleh pakan alami dari kolam itu sendiri. Akan tetapi pada skala usaha agribisnis budidaya ikan secara intensif, ketersediaan pakan alami tersebut sudah tidak mampu lagi menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan secara optimal, mengingat kepadatan populasi pemeliharaan ikan sangat tinggi. Oleh karena itu, kebutuhan nutrisi ikan ini harus disediakan melalui pemberian pakan buatan.

Seperti telah disebutkan di awal bahwa komponen penyusun bahan baku pembuatan pakan ikan dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu komponen penghasil energi dan komponen bukan penghasil energi.

Komponen Penghasil Energi. Komponen yang termasuk dalam kelompok ini akan menghasilkan energi bila dicerna oleh ikan. Komponen penyusun pakan ikan (berfungsi sebagai penghasil energi) yaitu protein, lemak, karbohidrat. Ketiga komponen tersebut merupakan komponen utama penyusun ransum atau pakan ikan, karena dibutuhkan dalam jumlah relatif besar untuk menopang pertumbuhannya.

Dalam pembuatan pakan ikan, standar pemenuhan nilai energi untuk pertumbuhan adalah 4,0 kkal/g untuk protein; 9,0 kkal/g untuk lemak; serta 4,0 kkal/g untuk karbohidrat. Dalam budidaya ikan secara intensif, efisiensi energi pakan ikan yang diberikan dapat dikatakan baik jika nilai efisiensi tersebut berkisar antara 25-40%. Nilai tersebut dapat dikatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan energi ikan sebesar 100 kkal maka dibutuhkan energi yang tersedia dalam pakan ikan sebesar 250-400 kkal. Dengan pemberian energi dengan besaran tersebut, maka energi yang dapat digunakan untuk pertumbuhan kurang dari 50% total energi dalam pakan ikan, selebihnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan untuk hidup (cost of living).

Komponen Bukan Penghasil Energi. Untuk menjaga keseimbangan gizi, komponen ini tetap dibutuhkan untuk mempertahankan kelangsungan hidup, pertumbuhan maupun perkembahan ikan, sekalipun komponen ini tidak berperan sebagai penghasil energi. Komponen pakan ikan yang berperan bukan sebagai penghasil energi adalah vitamin dan mineral. Kedua komponen ini sangat besar peranannya dalam mempertahankan kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan. Beberapa referensi menyebutkan komponen zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah relatif kecil ini sebagai komponen mikro (micro component). Beberapa referensi lain bahkan menambahkan air sebagai zat gizi keenam. Meskipun bukan pakan dalam arti sebenarnya, air tetap diperlukan sebagai media proses metabolisme maupun pembentukan cairan tubuh.

Protein

Protein merupakan suatu polimer heterogen yang tersusun atas monomer asam amino dalam jumlah banyak, mencapai ribuan bahkan ratusan, saling berhubungan satu sama lain melalui ikatan peptida dan ikatan silang antara ikatan hidrogen, ikatan sulfhidril, dan ikatan van der waal. Protein merupakan penyusun utama makhluk hidup, molekul protein ini mengandung unsur oksigen, nitrogen, hidrogen, karbon, sulfur, serta fosfor yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup. Pada makhluk hidup, protein memegang peranan penting, baik sebagai antibodi (sistem kekebalan tubuh), sistem kendali (hormon), sumber asam amino bagi organisme heterotof (tidak mampu membentuk asam amino), sumber gizi, maupun dalam fungsi struktural atau mekanis (pembentuk batang dan sendi sitoskeleton)
Pada ikan, protein memegang peranan penting karena material organik utama dalam jaringan maupun organ tubuh ikan tersusun oleh protein berkisar antara 18-30 %. Bahkan bersama dengan komponen nitrogen lain, protein berperan membentuk vitamin, enzim, asam nukleat, hormon, dll.

Fungsi Protein. Sebagai senyawa organik kompleks yang berbobot molekul tinggi, protein sangat dibutuhkan oleh ikan terutama sebagai sumber energi. Karena nilai energi produktif yang diberikan oleh protein kepada ikan lebih besar jika dibandingkan dengan hewan lainnya, dimana peningkatan panas akibat pemberian protein pada ikan lebih rendah. Selain itu, Sebagian besar energi yang dapat dicerna (digestible energy) dalam protein juga dapat dimetabolisme dengan lebih baik oleh tubuh ikan.
Selain sebagai sumber energi, protein pada ikan juga berfungsi memperbaiki jaringan rusak, serta membantu pertumbuhan ikan. Protein ini dibutuhkan oleh tubuh ikan secara kontinue karena asam amino dalam protein dibutuhkan secara terus menerus terutama untuk mengganti protein rusak selama masa pemeliharaan dan membentuk protein baru selama masa pertumbuhan dan masa reproduksi.
Fungsi Utama Protein Pada Ikan:
  1. Berperan dalam pembentukan antibodi, hormon, enzim, vitamin.
  2. Berperan untuk pertumbuhan maupun pembentukan jaringan tubuh.
  3. Sebagai sumber gizi.
  4. Sebagai sumber energi utama, terutama apabila komponen lemak atau karbohidrat yang terdapat di dalam pakan ikan tidak mampu memenuhi kebutuhan energi.
  5. Berperan dalam perbaikan jaringan tubuh yang rusak.
  6. Turut berperan dalam pembentukan gamet.
  7. Berperan dalam proses osmoregulasi di dalam tubuh.

Lemak (Lipids)

Lemak adalah senyawa organik yang tersusun atas unsur-unsur karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (0). Molekul-molekul penyusun lemak meliputi asam lemak, sterol, monogleserida, fosfolipida, glikolipida, digliserida, malam, terpenoida (getah dan steriod), vitamin larut dalam lemak seperti vitamin A, D, E, K, dll. Lemak pada ikan merupakan sumber energi paling tinggi. Secara khusus, lemak juga disebut minyak hewani pada suhu kamar yang terdapat pada jaringan tubuh adiposa Pada jaringan adiposa, sel lemak mengeluarkan hormon sitokina, hormon leptin dan resistin. Hormon sitokina yang dihasilkan oleh jaringan adiposa ini berperan penting dalam komunikasi antarsel, sedangkan hormon leptin dan resistin berperan penting dalam sistem kekebalan. Sebenarnya lemak dan minyak adalah senyawa organik yang tersusun oleh molekul sama, perbedaannya hanya terletak pada titik cair dan bobot molekulnya. Titik cair pada lemak lebih tinggi jika dibandingkan dengan minyak, selain itu lemak juga memiliki bobot molekul lebih berat dengan rantai lebih panjang.
Lemak dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu lemak sederhana, lemak campuran, dan lemak turunan.
  1. Lemak sederhana (simple lipids) terdiri atas lemak netral (trigliserida), ester gliserol, wax (ester kolesterol, ester vitamin A atau D), dll. Wax merupakan ester asam lemak dari alkohol berantai panjang, berperan sebagai sumber energi serta memperbaiki karakteristik fisika dan kimia.
  2. Lemak campuran (compound lipids), misalnya fosfolipid (merupakan ester asam lemak dan asam fosfatidik). Lemak ini merupakan komponen utama lemak pada membran sel.
  3. Lemak turunan (derived lipids), yaitu produk hidrolisis dari lemak sederhana dan lemak campuran. Komponen utama lemak turunan adalah asam lemak.
Berdasarkan kejenuhannya, lemak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu lemak jenuh dan tidak jenuh. Kejenuhan lemak dapat diketahui berdasarkan ada tidaknya ikatan rangkap di antara atom karbon penyusunnya. Lemak tidak jenuh mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap, sedangkan lemak jenuh tidak mempunyai ikatan rangkap. Lemak jenuh relatif sulit bereaksi karena titik cairnya relatif tinggi dibandingkan dengan lemak tidak jenuh.

Fungsi Lemak. Secara umum fungsi lemak bagi makhluk hidup adalah :
  1. Sebagai cadangan energi dalam bentuk sel lemak.
  2. Menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal.
  3. Menjadi suspensi bagi vitamin A, D, E dan K yang berperan penting dalam proses biologis.
  4. Berfungsi sebagai penahan goncangan terutama melindungi organ vital serta melindungi tubuh dari suhu luar yang kurang bersahabat.
  5. Sebagai sarana sirkulasi energi di dalam tubuh dan komponen utama yang membentuk membran semua jenis sel.

Ikan memanfaatkan lemak sebagai sember energi utama untuk kelangsungan hidupnya disamping sebagai pembentuk struktur sel "prekursor" dan memelihara keutuhan biomembran. Biomembran berperan dalam pengangkutan antarsel seperti vitamin dan sterol dimana vitamin dan sterol ini merupakan nutrien larut dalam lemak. Sterol merupakan alkohol berantai panjang polisiklik yang berfungsi sebagai komponen pada sistem hormon dan fungsi fisiologis yang berkaitan dengan proses pemijahan. Fungsi utama sterol pada sistem hormon adalah pada proses pematangan gonad. Asam lemak yang terdapat dalam fosfolipid sangat mempengaruhi aktivitas biomembram. Biasanya terdapat pada pakan maupun daging ikan. Namun, dalam pakan maupun daging ikan, selain lemaknya terdapat dalam bentuk fosfolipid, juga trigliserida, bahkan kadang-kadang terdapat dalam bentuk wax. Fosfolipida merupakan lemak yang dibentuk dari molekul gliserol dengan dua asam lemak, trigliserida merupakan lemak yang dibentuk dari molekul gliserol tetapi dengan tiga asam lemak, sedangkan wax merupakan ester yang terbuat dari asam lemak dan alkohol berantai panjang. Ketiga jenis lemak ini mempunyai peran berbeda. Fosfolipid berperan penting untuk pembentukan membran sel, trigliserida berperan dalam penyimpanan lemak, serta wax merupakan bentuk umum penyimpanan asam lemak pada beberapa zooplankton.

Lemak merupakan sumber energi utama, sehingga kemampuan lemak sebagai penghasil energi jauh lebih besar dibandingkan dengan karbohidrat dan protein. Tetapi, karena kemampuan ikan dalam mengkonsumsi protein lebih baik dibanding dengan kemampuannya mengkonsumsi lemak dan karbohidrat, maka peranan lemak sebagai sumber energi lebih kecil dibandingkan peran protein. Ikan dari golongan karnivora memiliki ketersediaan rendah terhadap karbohidrat. Oleh karena itu, pada ikan golongan karnivora ini peranan lemak sebagai sumber energi sangat vital. Penambahan lemak sebagai sumber energi akan meningkatkan efektifitas penggunaan protein (protein sparing effect).

Karbohidrat

Karbohidrat adalah senyawa organik kompleks (terdiri atas unsur karbon, hidrogen, oksigen), secara biokimia mengandung gugus fungsi karbonil (sebagai aldehida atau keton) dan banyak gugus hidroksil. Berdasarkan jumlah molekulnya, karbodidrat dibedakan menjadi monosakarida, polisakarida, disakarida, dan oligosakarida. Monosakarida merupakan golongan karbohidrat paling sederhana, terbentuk oleh satu molekul gula sederhana. Polisakarisa merupakan molekul karbohidrat terbentuk oleh molekul gula yang terangkai menjadi rantai panjang serta dapat pula bercabang-cabang. Disakarida merupakan molekul karbohidrat yang terbentuk oleh dua monosakarida. Oligosakarida merupakan molekul karbohidrat yang terbentuk oleh beberapa monosakarida. Karbohidrat dalam bentuk monosakarida diantaranya adalah galaktosa, triosa, pentosa, dan heksosa. Monosakarida yang paling banyak terdapat di dalam sel adalah pentosa (ribosa dan dioksiribosa) dan heksosa (glukosa dan fruktosa). Karbihidrat dalam bentuk disakarida siantaranya maltosa (gula anggur), laktosa (gula susu), sukrosa (gula tebu), dan selubiosa (hasil hidrolisis tidak sempurna dari selulosa). Sedangkan karbohidrat dalam bentuk polisakarida diantaranya pati, kitin, selulosa, glikogen, pektin, lignin, amilosa, dan amilopektin. Karbohidrat yang terbentuk dari unsur utama karbon, hidrogen dan ogsigen ini relatif lebih mudah larut di dalam air jika dibandingkan dengan protein dan lemak.

Karbohidrat merupakan salah satu komponen sumber energi bagi makhluk hidup. Fungsi karbohidrat dalam tubuh adalah sebagai cadangan makanan (misalnya pati pada tumbuhan dan glikogen pada hewan), sebagai bahan bakar (misalnya glukosa), materi pembangun (misalnya selulosa pada tumbuhan, kitin pada hewan dan jamur). Peranan lain dari karbohidrat adalah sebagai prekursor dalam berbagai metabolisme internal (intermediate metabolism) dimana produk yang dihasilkan dibutuhkan untuk pertumbuhan, misalnya asam amino nonesensial dan asam nukleat.

Karbohidrat dalam tubuh ikan disimpan di dalam hati dan otot dalam bentuk glikogen, karbohidrat ini berfungsi sebagai cadangan energi. Meskipun demikian, peranan karbohidrat sebagai sumber energi bagi ikan belum bisa dipahami sepenuhnya karena ikan masih dapat hidup dengan baik meskipun tanpa pemberian karbihodrat. Hal ini diperkirakan bahwa ikan tidak mempunyai kebutuhan karbohidrat secara khusus meskipun pemberian pakan ikan yang mengandung karbohidrat memberikan peningkatan pertumbuhan dan perkembangan ikan secara optimal. Contoh bahan baku pakan ikan berkandungan karbohidrat adalah jagung, beras, dedak, tepung terigu, tapioka, serta sagu. Sebagian contoh bahan pakan ikan di atas dapat berfungsi sebagai alat perekat (hinder) untuk mengikat komponen bahan baku dalam pembuatan pakan ikan.

Karbohidrat terdiri atas bahan ekstrak tanpa nitrogen dan serat kasar. Pemberian serat kasar pada ikan dapat mengakibatkan ganggunan pada proses penyerapan makanan (berlangsung dalam usus halus). Oleh karena itu, pemberian serat kasar harus terukur, tidak boleh berlebihan. Untuk meningkatkan gerak peristaltik usus, serat kasar masih tetap diperlukan oleh ikan meskipun sebetulnya serat kasar sangat sulit dicerna oleh ikan sehingga penggunaannya harus tetap terukur. Sebagai contoh pemberian pakan udang, kandungan serat kasar pada pakan udang sebaiknya jangan lebih dari 30%.

Disamping memiliki fungsi sebagai sumber energi, karbohidrat juga berperan dalam penghematan penggunaan protein yang digunakan sebagai sumber energi utama bagi tubuh ikan. Apabila pakan ikan kekurangan karbohidrat, maka seluruh energi yang dikeluarkan ikan harus dipenuhi melalui penyerapan protein. Dengan demikian, penggunaan protein dalam penggunaan protein untuk menghasilkan energi serta proses metabolik lainnya menjadi kurang efisien. Penggunaan protein yang kurang efisien akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan ikan. Penghematan protein melalui peran karbohidrat ini disebut protein sparing effect dari karbohidrat, di mana karbohidrat dapat menghemat protein. Beberapa referensi menyebutkan bahwa pemberian 0,23 g karbohidrat dalam 100 g pakan dapat menghemat protein sebesar 0,05 gram.

Vitamin

Vitamin merupakan senyawa organik yang berbobot molekul kecil tetapi mutlak diperlukan oleh tubuh meskipun dalam jumlah relatif kecil. Senyawa organik esensial ini tidak dapat diproduksi oleh tubuh ikan. Vitamin memegang peranan vital dalam metabolisme terutama untuk menjaga agar proses-proses yang terjadi di dalam tubuh ikan tetap berlangsung dengan baik. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan oleh tubuh untuk tumbuh dan berkembang secara normal.

Seperti telah diketahui, tubuh ikan tidak mampu memproduksi vitamin. Oleh karena itu, untuk menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan, vitamin harus dipenuhi melalui pemberian pakan ikan. Ikan-ikan liar yang hidup di alam serta mengandalkan pakan alami hampir tidak pernah mengalami kekurangan vitamin. Namun jika dibudidayakan secara intensif baik di dalam kolam maupun karamba dengan kepadatan populasi tinggi, ketersediaan dan jumlah pakan alami tersebut sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan ikan. Dengan demikian, untuk mendukung agribisnis perikanan agar berhasil sesuai rencana, maka peternak ikan harus memberikan penambahan vitamin melalui pakan ikan.

Kandungan vitamin di dalam pakan buatan tergantung dari bahan baku yang digunakan serta ditambahkan. Jumlah vitamin dapat berkurang atau rusak selama proses pembuatan dan penyimpanan pakan buatan. Oleh karena itu, perlu selalu dilakukan penambahan vitamin.

Sebagian besar vitamin akan rusak karena penanganan kurang cermat, baik selama proses pembuatan maupun penyimpanan pakan ikan yang terlalu lama (lebih dari tiga bulan). Tiamin akan kehilangan aktivitasnya apabila pembuatan atau penyimpanan pakan ikan dilakukan dalam kondisi basa atau mengandung sulfida. Beberapa vitamin akan mengalami perombakan lebih lanjut apabila terkena cahaya matahari secara langsung. Riboflavin harus dilindungi dari cahaya matahari atau cahaya lampu. Piridoksin tidak tahan terhadap udara dan cahaya matahari. Asam pantotenat kurang stabil apabila disimpan di tempat panas serta lembap. Cahaya matahari maupun penyimpanan terlalu lama akan merusak aktivitas asam folat. Fungsi vitamin B-12 akan menurun apabila disimpan di tempat bersuhu tinggi. Vitamin E sangat sensitif terhadap proses oksidasi. Vitamin K dalam bentuk sintetis harus terlindung dari cahaya matahari secara langsung.

Tampak jelas bahwa fungsi vitamin mudah terganggu sehingga lebih baik segera digunakan. Jika terpaksa disimpan, sebaiknya vitamin diletakkan di tempat kering dan dingin, serta terhindar dari pengaruh cahaya matahari maupun cahaya lampu yang terlalu terang.

Klasifikasi dan Fungsi Vitamin. Secara garis besar, vitamin dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu vitamin larut dalam lemak dan vitamin larut dalam air. Golongan vitamin larut dalam lemak yaitu vitamin A, D, E, dan K. Sementara, golongan larut dalam air yaitu vitamin B dan C. Vitamin B terdiri atas tiamin (B-1), riboflavin (B-2), piridoksin (B-6), sianokobalamin (B-12), niasin, biotin, kolin, asam folat, inositol, dan asam pantotenat.

Dalam proses osmoregulasi tubuh, vitamin mempunyai peranan penting, di antaranya sebagai berikut:
  1. Vitamin merupakan senyawa yang berfungsi sebagai katalisator (pemacu) dalam proses metabolisme ikan. Sebagai bagian dari enzim atau koenzim vitamin sangat berperan dalam pengaturan berbagai proses metabolisme tubuh ikan. Selain itu, vitamin mampu mempercepat proses perombakan pakan tanpa mengalami perubahan.
  2. Vitamin berfungsi untuk membantu protein dalam memperbaiki dan membentuk sel baru.
  3. Vitamin berperan dalam mempertahankan fungsi berbagai jaringan tubuh ikan sehingga mekanisme jaringan tubuh tersebut tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya.
  4. Vitamin turut berperan dalam pembentukan senyawa-senyawa tertentu di dalam tubuh.

Mineral

Mineral merupakan elemen anorganik yang dibutuhkan oleh ikan dalam pembentukan jaringan dan berbagai fungsi metabolisme dan osmoregulasi. Ikan juga menggunakan mineral untuk mempertahankan keseimbangan osmosis antara cairan tubuh dan cairan di sekitarnya. Meskipun dibutuhkan dalam jumlah relatif kecil, namun mineral memiliki peran sangat penting dalam menjaga kelangsungan hidup, karena mineral sangat dibutuhkan dalam beberapa proses yang berlangsung di dalam tubuh ikan.

Berdasarkan kebutuhannya, mineral dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu mineral esensial dan mineral nonesensial. Mineral esensial harus selalu tersedia di dalam tubuh serta harus disuplai dari pakan ikan karena tubuh tidak mampu memproduksi mineral ini. Sementara, mineral nonesensial yaitu mineral yang sebaiknya tersedia di dalam tubuh ikan.

Berdasarkan jumlah kebutuhannya, mineral dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu makromineral dan mikromineral. Makromineral yaitu mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah relatif besar, seperti kalsium (Ca), fosfor (P), belerang (S), natrium (Na), klorida (CI), magnesium (Mg), dan kalium (K). Sebaliknya, mikromineral adalah mineral yang dibutuhkan oleh tubuh ikan dalam jumlah relatif kecil, yaitu kobalt (Co), selenium (Se), tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn), krom (Cr), fluorine (F), iodium (I), besi (Fe), dan molibdenum (Mo). Mikromineral sering pula disebut sebagai trace mineral.

Pakan buatan dengan kandungan mineral lengkap belum bisa dikatakan sebagai pakan berkualitas nutrisi baik. Hal ini disebabkan kelengkapan mineral yang terdapat pada pakan ikan baru bisa memberi dampak positif terhadap pertumbuhan maupun perkembangan ikan apabila pakan ikan tersebut juga dilengkapi komponen nutrisi lain dengan komposisi tepat. Dengan demikian, protein, lemak, karbohidrat, dan vitamin tetap harus dilibatkan dalam penyusunan ransum pakan ikan. Kelengkapan komponen dalam penyusunan komposisi pakan ikan sangat berpengaruh terhadap penyerapan mineral oleh tubuh ikan. Sebagai contoh, selain Kalsium (Ca) dan Natrium (Na), ikan menyerap mineral esensial dalam bentuk garam atau senyawa sukar larut. Bentuk ini memerlukan peran protein yang berfungsi sebagai pembawa, serta bahan-bahan lain untuk mempermudah penyerapan.

Fungsi Mineral. Mineral merupakan komponen pembentuk pakan ikan yang memiliki fungsi terutama dalam proses pembentukan rangka, pernapasan, serta metabolisme. Kalsium (Ca), Phosphor (P), Flourine (F), dan Magnesium (Mg) merupakan kelompok mineral pembentuk rangka yang berperan dalam pembentukan struktur tubuh ikan, seperti tulang, gigi, dan sisik. Sedangkan kelompok mineral yang berperan dalam proses pernafasan meliputi Ferum (Fe), Kalsium (Ca), dan Cuprum (Cu). Fungsi utama lain dari mineral, baik esensial maupun nonesensial, terhadap pertumbuhan dan perkembangan ikan adalah untuk membantu proses metabolisme. Mineral-mineral tersebut berperan dalam pembentukan enzim dan pengaturan keseimbangan antara cairan tubuh dan cairan lingkungannya.

Beberapa fungsi lain dari mineral pada ikan:
  1. Natrium (Na), Kalium (K), Kalsium (Ca), dan Klor (Cl) berfungsi untuk mengatur keseimbangan asam basa dan proses osmosis antara cairan tubuh ikan dan lingkungannya.
  2. Ferum (Fe), Cuprum (Cu), dan Cobalt (Co), memegang peranan penting dalam proses pembekuan darah dan pembentukan hemoglobin pada tubuh ikan.
  3. Klor (Cl), Magnesium (Mg), dan Phosphor (P), memegang peranan penting dalam proses metabolisme tubuh ikan.
  4. Cuprum (Cu) dan Zinc (Zn) berperan untuk mengatur fungsi sel; Sulfur (S) dan Phosphor (P) berperan untuk membentuk fosfolipid dan bahan inti sel, Bromine (Br) berperan untuk mematangkan kelenjar kelamin, dan Iodin (I) berperan untuk membentuk hormon tiroid.

ARTIKEL POPULER