Tampilkan postingan dengan label LELE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LELE. Tampilkan semua postingan

HAMA DAN PENYAKIT IKAN LELE

Hama dan Penyakit Ikan Lele - merupakan faktor yang sering menimbulkan kerugian bagi peternak atau pelaku agribisnis budidaya ikan lele. Meskipun kerugian akibat serangan hama tidak sebesar kerugian akibat serangan penyakit, namun demi menunjang keberhasilan budidaya lele, keduanya harus mendapat perhatian serius.

Meskipun biaya pengendalian serangan hama dan penyakit ikan lele tidak begitu besar, namun tindakan pencegahan akan lebih efektif jika dibandingkan dengan tindakan pengobatan. Tindakan pencegahan dilakukan jauh sebelum serangan hama dan penyakit ikan lele tersebut menyerang ikan sekalipun harus dilakukan secara terpadu. Tindakan pengobatan akan lebih sulit dilakukan bahkan memiliki resiko jauh lebih besar atas kegagalan penanganan. Hal ini terutama bila dialami oleh peternak pemula, tentunya mereka masih tahap belajar dalam menghadapi permasalahan-permasalah di lapangan. Bagi peternak lele profesional, upaya pengendalian menggunakan metode pengobatan terhadap serangan hama dan penyakit ikan lele di lapangan mungkin tidak akan terlalu banyak mengalami kesulitan.

HAMA IKAN LELE

Hama ikan lele adalah organisme pengganggu setiap kegiatan budidaya ikan lele yang dapat memangsa, membunuh, serta mempengaruhi produktivitas ikan. Meskipun tidak menimbulkan kerugian dalam jumlah besar, namun hama ikan lele ini tetap harus dikendalikan. Serangan hama ikan lele biasanya datang dari luar, baik melalui aliran air, udara, maupun darat. Meskipun demikian, serangan hama dapat juga berasal dari dalam, biasanya serangan hama ini diakibatkan oleh persiapan kolam yang kurang sempurna. Untuk itu, cara pembuatan kolam ikan (konstruksi kolam) perlu diperhatikan sebelum melakukan budidaya ikan lele.

Seperti telah disebutkan di atas, pencegahan lebih diprioritaskan daripada pengobatan. Adapun cara pencegahan serangan hama pengganggu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
  • Lakukan pengeringan serta pengapuran sebelum kolam digunakan untuk proses budidaya. Tujuan pengapuran adalah untuk meningkatkan nilai pH air kolam, sedangkan proses pengeringan bertujuan membunuh atau menekan kehidupan organisme pengganggu yang berpotensi menjadi hama ikan lele nantinya.
  • Pemasangan saringan baik pada pintu masuk maupun saluran pembuangan air agar hama pengganggu yang berpotensi masuk ke dalam kolam ikan melalui kedua saluran tersebut bisa dihindari.
Hama pengganggu ikan lele, terutama ikan berukuran kecil, diantaranya meliputi ular, belut, serta ikan gabus. Tindakan penanggulangan serangan dari ketiga jenis hama pengganggu tersebut dapat dilakukan sesuai langkah-langkah berikut:

  1. Penanggulangan Hama Ular




    1. Sebelum kolam digunakan untuk budidaya ikan lele, lingkungan di sekitar kolam terlebih dahulu harus dibersihkan sampai benar-benar bersih. Hama ular memiliki karakter tidak menyukai tempat terbuka dan terang, sehingga ia akan takut mendatangi tempat tersebut. Lebih lanjut, selama proses budidaya berlangsung, upaya pembersihan lingkungan kolam ini tetap harus dilakukan secara kontinyu agar kebersihan lingkungan kolam selalu dalam keadaan terjaga.
    2. Untuk menghindari kemungkinan adanya lubang tikus sebagai tempat sarang hama ular, jika memungkinkan alangkah baiknya kalau pematang (dinding) kolam dibuat dari tembok. Dengan demikian hama ular tidak memiliki peluang bersarang di sekitar kolam. Namun hal ini sangat fleksibel, tergantung kemampuan modal masing-masing peternak.
    3. Lakukan pengontrolan di malam hari, terutama saat benih ikan lele masih kecil. Bila menemui hama ular berada di dalam kolam, segera buru lalu buang jauh-jauh atau bisa juga dibunuh agar tidak kembali lagi.
  2. Penanggulangan Hama Belut

    1. Sebelum melakukan pengolahan sebaiknya kolam pemeliharan digenangi terlebih dahulu setinggi 20-30 cm, kemudian diberi insektisida akodan, gunakan dosis rendah, yakni 0,3-0,5 cc/m³ air. Ingat, penggunaan insektisida ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati serta menggunakan dosis rendah karena dapat mencemari lingkungan. Sebetulnya penggunaan pestisida kimia hanya dilakukan jika kondisi sangat mendesak. Bila waktu tersedia cukup lama untuk melakukan pengeringan, misalnya selama tiga minggu, maka hama belut atau bibit belut di permukaan dasar kolam atau di sekitar pematang sudah mati atau pergi meninggalkan kolam.
    2. Setelah diberi insektisida, kolam dibiarkan selama 2 hari hingga hama belut maupun hama penggangu lain mati. Kemudian buang air dalam kolam, lalu keringkan lahan. Pengeringan lahan bertujuan menetralkan sisa racun insektisida di sekitar kolam. Perhatikan saat melakukan pengurasan kolam, pastikan saat membuang air kolam, terlebih dahulu kolam harus diisi air secara penuh. Tujuan pengisian air sampai penuh adalah untuk mengurangi konsentrasi pestisida, dimana kepekatan pestisida menjadi semakin kecil, sehingga ketika terbawa oleh aliran air sudah tidak membahayakan lingkungan sepanjang aliran pembuangan atau kolam-kolam lainnya, terutama kolam tempat pemeliharaan ikan dibawahnya.
  3. Penanggulangan Hama Ikan Gabus

    1. Pintu masuk dan saluran pembuangan dipasang saringan agar hama ikan gabus tidak masuk ke dalam kolam melalui kedua saluran tersebut.
    2. Pematang kolam dibuat tinggi, sehingga hama ikan gabus yang berada di kolam lain atau genangan air lain di sekitar kolam tidak melompat masuk ke dalam kolam.

PENYAKIT IKAN LELE

Penyakit ikan lele merupakan organisme pengganggu yang dapat menimbulkan kerugian besar bagi para peternak ikan lele. Bahkan penyakit ini sering dianggap sebagai pemicu kegagalan paling besar peranannya. Penyakit ikan lele dapat diartikan sebagai organisme pengganggu yang hidup dan berkembang pada tubuh lele sehingga organ tubuh lele mengalami kerusakan. Jika salah satu atau sebagian organ tubuh terganggu, maka seluruh jaringan tubuh ikan juga akan terganggu. Terganggunnya jaringan tubuh tentu saja akan mempengaruhi mekanisme kerja jaringan tubuh tersebut, menyebabkan pertumbuhannya menjadi terhambat. Jika serangan parah atau terjadi pada organ vital, maka besar kemungkinan lele yang terserang penyakit tersebut akan mati.

Pada dasarnya, penyakit akan menyerang ikan lele jika terjadi ketidakseimbangan antara kondisi ikan, lingkungan, serta patogen. Ikan lele yang mengalami kekurangan nutrisi atau kondisi tubuhnya tidak baik, sangat mudah terserang penyakit atau patogen. Sebaliknya, jika kondisi tubuh baik (sehat) dengan kecukupan nutrisi yang sempurna, maka kemungkinan ikan lele terserang penyakit sangat kecil. Kondisi tubuh kurang baik pada tubuh ikan bisa disebabkan oleh berbagai hal, seperti misalnya terjadi perubahan kondisi lingkungan sekitar sehingga lele mengalami stress, terjadi luka atau perdarahan (dapat disebabkan oleh serangan hama), penganganan saat panen dan teknik pengangkutan kurang tepat, atau mungkin terjadinya perkelahian antar ikan di dalam kolam.

Selain perubahan lingkungan dan luka atau perdarahan, kondisi tubuh ikan yang kurang baik juga bisa diakibatkan oleh kondisi lingkungan perairan dalam kolam, misalnya karena kandungan oksigen terlarut di dalam kolam rendah sehingga menyebabkan kurangnya sirkulasi air (kemungkinan terjadi karena terlalu banyak memberikan pakan alami sehingga terjadi persaingan akan kebutuhan oksigen), adanya gas beracun yang dapat dipicu dari pembusukan sisa-sisa pemberian pakan, atau terjadi pencemaran air kolam baik oleh limbah industri, buangan bahan kimia, maupun limbah rumah tangga.

Serangan penyakit ikan lele dapat menyerang baik pada bagian dalam maupun bagian luar tubuhnya. Penyakit yang menyerang organ tubuh ikan bagian dalam disebut dengan endotern. Biasanya penyakit ini akan menyerang organ usus, jantung, maupun hati. Sementara itu, penyakit ikan lele yang menyerang organ tubuh bagian luar disebut dengan eksotern. Penyakit ini menyerang bagian tubuh lele, sirip, mata, mulut, maupun bagian luar tubuh lele lainnya.

Tindakan Pencegahan Penyakit Ikan Lele.

  1. Lakukan pengeringan dan pengapuran pada dasar kolam sebelum dilakukan pengolahan lahan. Pengapuran dapat meningkatkan pH atau derajat keasaman tanah dan air. Pada pH mendekati netral, patogen atau penyakit tidak bisa berkembang baik. Dengan demikian salah satu fungsi dari pemberian kapur pertanian adalah untuk memutus siklus hidup patogen.
  2. Kualitas perairan kolam harus dijaga agar kondisinya selalu baik. Upaya pencegahannya adalah selalu menjaga kualitas air kolam, diantaranya adalah tidak memberi pakan secara berlebihan, sehingga tidak ada sisa pakan yang mengendap di dasar kolam (endapan sisa pakan ikan berpotensi menimbulkan gas beracun). Selain pengaturan pemberian pakan ikan, upaya menjaga kualitas air juga dapat dilakukan dengan pengaturan sirkulasi air, yaitu menjaga debit air masuk supaya tetap stabil karena debit air stabil akan meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air.
  3. Pemberian pakan ikan harus terukur, pakan tambahan diberikan sesuai dosis anjuran. Jika berlebihan, selain dapat menurunkan kualitas air, juga dapat mengganggu kesehatan lele yang terlalu kenyang.
  4. Penanganan saat pemanenan benih ikan lele harus dilakukan secara hati-hati serta sesuai prosedur penangkapan ikan. Jika saat melakukan penanganan sudah benar, maka resiko terjadinya luka akibat penanganan bisa diperkecil.
  5. Lakukan pengontrolan secara rutin, sehingga bisa menghindari atau mengendalikan masuknya binatang pembawa penyakit ke dalam kolam. Binatang luar yang berpotensi membawa penyakit ikan lele antara lain keong mas, siput, dan burung.
Ikan lele bisa terserang atau terinfeksi oleh beberapa jenis penyakit. Setiap jenis penyakit mempunyai karakter sendiri-sendiri dalam malakukan infeksi terhadap tubuh lele. Selain itu, gejala yang ditimbulkan akibat serangan penyakit tersebut juga tidak sama. Oleh karena itu, Cara pengendalian maupun penanganan setiap jenis penyakit juga berbeda-beda. Dengan mengetahui gejala serangan, jenis penyakit, obat yang bisa digunakan, serta dosis penggunaannya maka tindakan pengobatan akan menjadi lebih efektif.

Berikut ini beberapa jenis penyakit, gejala, serta cara penanganannya.

Penyakit Ikan Lele Yang Disebabkan Oleh Bakteri :

Penyakit Pseudomonas sp.
Gejala serangan penyakit akibat terinfeksi bakteri Pseudomonas sp. ditandai adanya perdarahan di kulit, hati, ginjal, maupun limpa. Perdarahan pada kulit tersebut akhirnya mengakibatkan luka berupa borok-borok pada tubuh ikan.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit Pseudomonas sp. dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga kondisi lele akan selalu sehat. Jika sudah terserang, lakukan tindakan pengobatan secara tepat, caranya adalah melakukan perendaman lele dalam larutan Oxytertracyclin menggunakan dosis 25-30 mg/kg ikan per hari. Perendaman dilakukan secara berturut-turut selama 7-10 hari pada bak terpisah agar ikan sehat tidak menjadi kebal terhadap bahan aktif tertentu.

Penyakit Aeromonas hydrophiladan
Gejala serangan penyakit akibat terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophiladan ditandai adanya perubahan warna tubuh ikan lele. Tubuh ikan semula terang kemudian berubah menjadi gelap, kulit kasat, serta terjadi perdarahan. Ikan sulit bernapas, saat berenang juga sangat lemah, dan terjadi perdarahan pada hati, ginjal, maupun limpa. Ciri-ciri akibat serangan penyakit bakteri Pseudomonas dapat dibedakan dari serangan bakteri Aeromonas yaitu terlihat adanya luka-luka kecil pada kulit akhirnya meluas ke arah daging.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit bakteri Aeromonas hydrophiladan dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi sehat. Pada lele terserang bisa dilakukan penyuntikan menggunakan Terramycine 25-30 mg/kg lele, penyuntikan diulang lagi setiap 3 hari sekali sebanyak 3 kali ulangan. Lakukan pencampuran makanan dengan Terramycine 50 mg/kg lele per hari, perlakuan selama 7-10 hari berturut-turut. Selain itu dapat juga menggunakan Sulphanamide sebanyak 100 mg/kg lele per hari selama 3-4 hari.

Penyakit Aeromonas punctata
Gejala serangan penyakit akibat terinfeksi bakteri Aeromonas punctata ditandai adanya ikan yang kehilangan nafsu makan. Infeksi pada kulit kepala, kulit badan bagian belakang, insang, sirip, serta bagian badan lainnya.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit bakteri Aeromonas punctata dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi sehat. Ikan lele terserang harus direndam menggunakan larutan copper sulfat dosis 1200 ppm selama 1-20 menit. Perendaman menggunakan Oxytetracyclin HCL juga dapat dilakukan, dosis 10 mg/1 kg lele selama 30 menit.

Penyakit Peduncle (cold water diseases)
Gejala serangan penyakit akibat terinfeksi bakteri Peduncle (cold water diseases) hampir sama dengan gejala serangan akibat penyakit bakteri Columnaris, bedanya penyakit bakteri Peduncle menyerang saat temperatur dingin, sekitar 16°C, sedangkan penyakit bakteriColumnaris menyerang saat temperatur panas, sekitar 20°C, infeksi berjalan lambat dalam hal timbulnya borok atau nekrosa pada kulit.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit bakteri Peduncle (cold water diseases) dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga kondisi ikan selalu sehat. Tindakan pengobatan terhadap lele terserang adalah melakukan perendaman menggunakan Oxytetracyclin 10 ppm selama 30 menit. Melakukan pencampuran makanan dengan Sulfisoxzole sebanyak 100 mg/kg berat ikan per hari selama 10-20 hari berturut-turut.

Penyakit Columnaris
Gejala serangan penyakit akibat terinfeksi bakteri Columnaris ditandai adanya perdarahan pada kulit lele, timbul borok-borok pada kulit, terjadi perdarahan pada organ dalam seperti hati, ginjal, maupun limpa, munculnya luka-luka kecil pada hati, serta timbul nekrosa pada jaringan daging maupun jaringan pembuat darah.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit bakteri Columnaris dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan akan selalu dalam kondisi sehat. Penangan terhadap ikan lele terserang, tindakan pengobatannya adalah melakukan perendaman menggunakan Oxytetracyclin HCL dosis 25-30 mg/kg ikan per hari diberikan 7-10 hari berturut-turut. Pemberian Sulfamerazine sebanyak 100-200 mg/kg berat ikan per hari, melalui makanan 1-3 hari. Penyuntikan Oxytetracyclin HCL sebanyak 25-30 mg/kg ikan per hari, melalui makanan selama 7-10 hari berturut-turut.

Penyakit Edward siella
Gejala serangan penyakit akibat terinfeksi bakteri Edward siella ditandai adanya perubahan tubuh lele, tubuh lele semula terang kemudian berubah menjadi berwarna gelap. Kadang-kadang mata ikan menonjol. Ada sedikit bercak darah di pangkal sirip dada ikan. Kadang-kadang juga ditemukan benjolan di bagian samping tubuh lele.

Tindakan penanggulangan terhadap serangan penyakit bakteri Edward siella dapat dilakukan dengan menjaga kualitas air agar tetap baik sehingga ikan lele akan selalu dalam kondisi sehat. Tindakan pengobatan dapat dilakukan selama masa periode awal penyerangan menggunakan Sulphanamide (dosis 100-200 mg/kg/hari), diberikan sampai hari keempat secara berturut-turut. Ikan lele terserang penyakit Edward siella harus segera dimusnahkan, caranya dapat dibakar atau dikubur.

Penyakit Ginjal
Gejala serangan akibat penyakit ginjal ditandai adanya luka di ginjal, hati, serta bintik-bintik berwarna keputih-putihan. Hingga saat ini belum ditemukan obat paling tepat untuk memberantas penyakit ginjal.

Penyakit Tuberculosis
Gejala akibat terserang penyakit Tuberculosis ditandai adanya perubahan tubuh ikan lele, tubuh ikan semula terang kemudian berubah menjadi berwarna gelap. Perut membengkak serta terdapat bintik-bintik pada hati. Cara pencegahan terhadap penyakit Tuberculosis adalah melakukan perbaikan kualitas air.

Penyakit Ikan Lele Yang Disebabkan Oleh Parasiter :

Penyakit Saprolegiasis
Gejala serangan penyakit ditandai adanya sekumpulan benang halus seperti kapas berwarna putih kecokelatan pada tubuh lele. Tempat penyerangan biasanya di daerah kepala, tutup insang, sirip, serta bagian badan ikan lainnya.

Upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu dengan menjaga kebersihan kolam maupun kualitas air. Mengupayakan cara perlakuan terbaik terhadap ikan agar tidak berpotensi menimbulkan luka. Melakukan perendaman dalam larutan Malachite Green Oxalate (MGO) sebanyak 3 g/m³ air selama 30 menit.

Penyakit Bintik Putih
Gejala serangan penyakit bintik putih ditandai saat ikan lele berenang terlihat sangat lemah serta selalu muncul di permukaan air. Terdapat bintik-bintik berwarna putih pada bagian kulit, sirip, serta insang. Lele sering menggosokkan tubuhnya ke dasar kolam atau pada benda-benda keras.

Upaya pengendalian terhadap penyakit bintik putih adalah lele diberok dalam air mengalir, melakukan pengurangan padat penebaran ikan, melakukan perendaman terhadap lele terserang menggunakan larutan formalin 25 ml/m³ air ditambah larutan Oxalate 0,1 g/m³ air selam 12-24 jam.

Penyakit Tichodiina sp.
Gejala serangan penyakit Tichodiina sp. ditandai gerakan lele melemah serta tubuh lele kurus, ikan sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada benda-benda keras.

Upaya pengendalian terhadap penyakit Tichodiina sp. adalah melakukan pengurangan padat penebaran ikan, melakukan perendaman terhadap ikan lele terserang dalam larutan formalin 150-200 ppm (150-200 ml/m³) selama 15 menit, merendam dalam larutan malachite green oxalate 0,1 g/m³ selama 24 jam.

Penyakit Cacing Kecil pada Kulit, Sirip, maupun Insang
Gejala serangan penyakit ini ditandai adanya kepala lele kelihatan besar tetapi kurus, kulit tubuh ikan lele suram, sirip ekor kelihatan rontok, lele menggosok-gosokkan badan ke dasar kolam penampungan atau benda keras lainnya, serta adanya tutup insang tidak normal.

Upaya pengendalian terhadap serangan penyakit ini yaitu mengurangi kepadatan penebaran, melakukan perendaman terhadap ikan lele terserang dalam larutan formalin 250 ml/m³ air selama 15 menit, merendam menggunakan Methylene Blue sebanyak 3 gr/m³ air selama 24 jam.

Myxosporensis (Myxobolus sp.)
Gejala serangan penyakit Myxosporensis (Myxobolus sp.) ditandai adanya bintil-bintil berwarna putih kemerah-merahan pada insang.

Upaya pengendalian terhadap serangan penyakit Myxosporensis (Myxobolus sp.) yaitu melakukan pengeringan kolam dan pengapuran (dosis 200 g/m³). Biarkan selama 1-2 minggu. Air yang masuk disaring melalui filter pasir, kerikil, dan ijuk.

Penyakit Myxosoma sp.
Gejala serangan penyakit Myxosoma sp. ditandai adanya pembengkakan (bisul) di sekitar punggung. Jika bisul pecah, akan keluar cairan keruh berwarna kuning.

Pencegahan dengan cara menyaring air masuk, melakukan perendaman terhadap ikan lele terinfeksi menggunakan larutan formalin 25 cc/m³ selama 5 menit, serta melakukan penyemprotan kolam menggunakan Dipterex/Sumithion 50 EC dengan takaran 1 cc/m³.

Lernaea sp.
Gejala serangan penyakit Lernaea sp. ditandai adanya parasit yang menempel di tutup insang, sirip, atau mata selama 15 menit. Kemudian terlihat luka-luka di tempat penyerangan tersebut.

Pencegahan dengan cara menyaring air masuk. Ikan lele terinfeksi direndam dalam larutan garam/NaC1 20 g/liter (2%) selama 5 menit.

Kutu Ikan (Argulus).
Gejala serangan penyakit Kutu ikan (Argulus) ditandai adanya ikan lele semula gemuk berubah menjadi kurus. Parasit menempel di kulit, sirip, serta insang. Bekas penyerangan kelihatan kemerah-merahan.

Pencegahan terhadap serangan penyakit kutu ikan (Argulus) adalah melakukan pengeringan kolam serta pengapuran sebanyak 200 g/m², melakukan penyaringan Air masuk.

PAKAN ALTERNATIF IKAN LELE

Untuk meningkatkan keuntungan dalan usaha agribisnis, para peternak ikan lele berupaya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan lele dengan memberikan berbagai pakan alternatif. Memberikan pakan tambahan yang berupa pakan buatan saja memang terlalu berat terutama bagi pembudidaya ikan lele dengan kapasitas permodalan kecil. Pakan buatan adalah pakan yang sengaja dibuat oleh manusia atau pabrik untuk memenuhi kebutuhan pakan pada kegiatan budidaya lele. Sementara itu, mengandalkan ketersediaan pakan alami juga tidak mungkin, mengingat dalam kegiatan budidaya ikan lele yang dilakukan secara intensif ketersediaan pakan alami tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan ikan lele terhadap pakan. Oleh karena itu, pemberian pakan alternatif sangat besar pengaruhnya untuk menopang pertumbuhan dan perkembangan ikan lele dalam kegiatan budidaya.

Pakan alternatif sangat banyak ragamnya dan bisa didapat di sekitar lokasi budidaya. Secara prinsip, pemberian pakan alternatif ini bertujuan untuk menekan biaya selama proses budidaya. Oleh karena itu, pertimbangan utama dalam mencari pakan alternatif untuk ikan lele adalah harga yang murah dan mudah didapat. Beberapa jenis pakan alternatif yang bisa didapatkan dengan harga murah dan mudah dalam pencariannya antara lain limbah peternakan ayam, daging bekicot atau keong mas yang banyak terdapat di daerah persawahan, limbah pemindangan ikan, ikan runcah, serta ikan-ikan yang sudah rusak dan tidak layak dikonsumsi manusia yang biasanya banyak terdapat di daerah pesisir.

Pakan alternatif ikan lele

Pakan alternatif adalah pakan jenis lain yang bisa diberikan kepada ikan lele terutama pada kegiatan usaha budidaya ikan lele pembesaran. Pakan tersebut bukan buatan pabrik maupun petani, melainkan sisa-sisa industri peternakan, limbah pemindangan, ikan rucah, atau berupa hama-hama yang menyerang tanaman padi, seperti keong mas. Selain harganya murah dan cara perolehannya yang mudah didapat, pakan alternatif mengandung protein yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan ikan lele. Numun, pakan alternati juga memiliki kelemahan, yaitu cara pemberiannya yang kurang efektif sehingga memerlukan beberapa penanganan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ikan lele. Sebagai contoh, jika memberikan pakan alternatif berupa bekicot maka harus dilakukan pemisahan tubuh bekicot dari cangkangnya terlebih dahulu. Hal ini disebabkan cangkang bekicot tidak akan dimakan oleh ikan lele sehingga akan terjadi pengendapan pakan di dasar kolam yang berpotensi menurunkan kualitas air kolam. Untuk pemberian ikan runcah juga harus dipisahkan dulu antara daging ikan dan tulang-tulangnya karena tulang-tulang ikan runcah tersebut tidak akan dimakan oleh ikan lele. Demikian pula jika memberikan pakan alternatif berupa limbah peternakan ayam berupa ayam yang mati. Ayam yang telah mati harus dibersihkan dulu bulu-bulunya. Bulu-bulu ini tidak dimakan oleh ikan lele yang akan mengendap di dasar kolam dan sangat berpotensi menimbulkan pencemaran air kolam.

Limbah peternakan




Para pelaku agribisnis ini banyak yang mengkombinasikan budidaya ikan lele dengan budidaya ayam, seperti ayam pedaging atau lokasi usaha budidayanya berdekatan dengan lokasi petenakan ayam. Pemanfaat limbah peternakan ayam berupa bangkai ayam yang telah mati menjadi sumber pakan yang murah dan mengandung nilai gizi yang tinggi bagi ikan lele. Hal ini tentu saja sangat menguntungkan bagi pembudidaya ikan lele yang bermodal terbatas. Bangkai ayam yang telah mati memerlukan beberapa perlakuan khusus sebelum diberikan kepada ikan lele. Bangkai tersebut harus dibersihkan dari bulu-bulu ayam, kemudian dimasak sampai matang dengan cara merebus bangkai ayam tersebut. Pastikan bahwa semua organ ayam ini telah matang sebelum diberikan kepada ikan lele. Perebusan bangkai ayam ini bertujuan untuk membunuh bibit-bibit penyakit yang terdapat pada ayam yang telah mati. Hal yang harus diperhatikan saat memberikan bangkai ayam sebagai pakan alternatif ikan lele adalah cara pemberiannya yang harus terukur. Pastikan bahwa bangkai ayam yang diberikan akan habis dimakan oleh ikan lele. Jika ada sisa dari organ bangkai ayam tersebut harus segera diambil dari dalam kolam agar tidak mencemari perairan kolam.

Ikan Rucah

Selain limbah peternakan, pakan alternatif lain yang sangat disukai ikan lele adalah ikan runcah. Ikan runcah merupakan limbah dari hasil tangkapan ikan laut, yaitu ikan-ikan hasil tangkapan yang rusak dan tidak layak dikonsumsi manusia. Untuk mendapatkan ikan runcah, harus mencarinya di daerah pantai atau daerah nelayan terutama daerah yang berdekatan dengan TPI atau tempat pelelangan ikan. Untuk ikan runcah yang berukuran kecil biasanya tidak banyak mengandung tulang atau tulangnya masih lunak, sehingga bisa diberikan langsung tanpa diolah terlebih dahulu. Untuk ikan runcah yang berukuran besar, maka harus diolah terlebih dahulu, yaitu dengan merebusnya setengah matang untuk memisahkan daging dan tulang. Setelah daging dipisahkan dari tulangnya, untuk memberikan tambahan nutrisi, bisa ditambahkan dedak halus kemudian dicampur hingga rata. Pakan yang sudah siap bisa diberikan kepada ikan lele dengan ditebarkan secara merata. Namun, yang perlu diperhatikan adalah pemberian pakan tetap tidak boleh berlebihan, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi pengendapan sisa pakan di dasar kolam.

Limbah Pemindangan

Petani atau peternak ikan lele yang mengembangkan usaha agribisnisnya di daerah dataran rendah, terutama daerah-daerah pantai, maka tidak kesulitan untuk mencari dan memperoleh pakan alternatif yang bisa dijadikan sebagai pasokan pakan utama ikan lele. Selain murah, memanfaatkan limbah pengolahan ikan laut, misalnya limbah pemindangan, sebagai pakan alternatif, juga memiliki manfaat yang besar. Limbah pengolahan ikan laut ini memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga selain sebagai pakan tambahan, limbah ini juga berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein ikan lele. Limbah pengolahan ikan laut yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan lele antara lain isi perut, kepala, dan bagian-bagian lain yang tidak terpakai. Sebagai tambahan gizi, limbah pengolahan ikan laut tersebut bisa dicampur dengan dedak halus sebelum diberikan.

Keong Mas atau Bekicot

Bagi peternak lele yang mempunyai lokasi budidaya di dekat daerah persawahan atau kebun, pakan alternatif yang bisa dicari untuk diberikan pada ikan lele adalah adalah bekicot dan keong mas. Bekicot dan keong mas ini merupakan hama bagi petani, terutama petani sayur untuk bekicot dan petani padi untuk keong mas. Kedua jenis binatang ini banyak ditemukan di lokasi budidaya komoditas pertanian. Untuk mencari bekicot, bisa diperoleh dari lokasi-lokasi budidaya sayuran, sedangkan untuk mencari keong mas, bisa diperoleh di lokasi-lokasi persawahan atau penanaman padi. Dengan demikian, pemanfaatan kedua jenis binatang ini sebagai pakan alternatif ikan lele bisa bersimbiosis mutualisme dengan petani-petani di desa.

Pemanfaatan bekicot dan keong mas sebagai pakan alternatif ikan lele tidak bisa diberikan langsung. Tetapi kedua binatang ini harus diolah terlebih dahulu, yaitu dengan memisahkan tubuh kedua binatang ini dari rumah atau cangkangnya. Pemisahan bekicot dan keong mas dari cangkangnya dapat dilakukan dengan mudah. Rebus kedua jenis binatang ini selama beberapa menit, kemudian ambil tubuhnya dengan cara dicongkel dengan benda yang keras atau bisa juga ditarik mengunakan penjepit. Setelah daging bekicot dan keong mas tersebut terpisah dari cangkangnya, bisa diberikan langsung sebagai pakan ikan lele.

Bekicot dan cangkang ini memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, sehingga pemanfaatannya sebagai pakan alternatif akan memberikan pengaruh yang sangat baik, terutama untuk menopang kebutuhan protein sebagai sumber energi utama ikan.

MENGENAL IKAN LELE

Kebanyakan masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan ikan lele. Ikan yang menjadi komoditas agribisnis yang memiliki prospek bisnis cerah ini banyak dibudidayakan oleh masyarakat, baik di kolam tanah, kolam tembok, atau kolam terpal. Saat ini upaya membudidayakan ikan lele di kolam terpal sangat marak dilakukan oleh masyarakat.

Dari segi cita rasa, ikan lele memiliki tekstur daging yang lezat dan disukai konsumen. Kegemaran masyarakat terhadap komoditas perikanan yang satu ini bisa dilihat dari begitu banyaknya warung makan yang menyediakan menu ikan lele selalu ramai dikunjungi orang. Selain cita rasanya yang enak, daging ikan lele juga tidak dipenuhi tulang-tulang kecil seperti ikan-ikan lain, misalnya ikan mas. Hal ini memudahkan orang untuk mengkonsumsi daging ikan lele tersebut tanpa harus menelisik tulang-tulang kecil yang menyelip dalam daging.

Morfologi Ikan Lele

Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar yang memiliki warna tubuh kehitaman atau kecokelatan. Tubuh ikan lele berkulit licin karena diselimuti lendir, dan tidak memiliki sisik seperti ikan-ikan lain. Hal yang menarik dari tubuh ikan lele ini adalah apabila terkena sinar matahari, maka warna tubuh ikan lele akan berubah menjadi pucat. Warna tubuh tersebut juga akan berubah jika ikan lele terkejut menjadi loreng hitam putih seperti mozaik. Ikan lele memiliki mulut yang berukuran kurang lebih ¼ dari panjang tubuhnya. Ikan lele juga dijuluki catfish karena memiliki kumis disekitar mulut yang berjumlah delapan buah sehingga menyerupai kucing. Kumis ikan lele tersebut berfungsi sebagai alat peraba saat mencari makanan atau sedang bergerak.

Seperti kebanyakan ikan-ikan air tawar lain, ikan lele menggunakan sirip untuk bergerak atau berenang. Sirip ikan lele terdiri dari dua buah sirip dada yang berpasangan, dua buah sirip perut yang berpasangan, satu buah sirip dubur, satu buah sirip ekor, dan satu buah sirip punggung. Sirip dada pada ikan lele dilengkapi dengan sirip keras dan runcing yang berfungsi sebagai senjata dan alat gerak. Sirip keras tersebut sering dikenal dengan istilah patil. Sirip perut terletak di bagian bawah tubuhnya. Sementara itu, sirip dubur terletak dibelakang sirip perut yang membentang hingga pangkal ekor. Sirip ekor ikan lele berbentuk busur agak membulat. Dan sirip punggung pada ikan lele berada di atas tubuhnya yang mementang hingga ke pangkal ekor bagian atas.

Klasifikasi ikan lele




Ikan lele termasuk ke dalam ordo: Ostariophysi, subordo: Silaroidae, famili: Clariidae, genus Clarias, dan spesies Clarias sp.

Syarat Hidup Ikan Lele

Ikan lele memiliki organ arborescent atau insang tambahan yang dikenal pula dengan sebutan labyrinth. Organ tersebut berfungsi sebagai alat untuk bertahan hidup saat ikan lele berada di dalam lumpur atau di dalam perairan yang sedikit mengandung oksigen.

Kelebihan ikan lele tersebut membuat ikan ini menjadi pilihan budidaya oleh para petani pembudidaya ikan lele. Kelebihan membudidayakan ikan lele ini adalah ikan lele mampu bertahan hidup dengan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal meskipun dibudidayakan di dalam kolam yang memiliki kualitas air kurang baik. Hal ini sangat berseberangan dengan ikan-ikan yang biasa dibudidayakan lainnya yang memerlukan kualitas yang yang baik. Oleh karena itu, budidaya lele ini dapat dilakukan di comberan atau kolam-kolam dengan sumber air yang terbatas, seperti kolam terpal yang dibuat di pekarangan rumah. Akan tetapi, dalam membudidayakan ikan lele ini, meskipun daya hidupnya (survival rate) lebih tinggi dibanding ikan-ikan lain, tetap harus dipenuhi paling tidak kriteria standar minimal untuk lingkungan hidup ikan lele.

Untuk menunjang keberhasilan budidaya dan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan ikan lele, para ahli perikanan penetapkan kriteria atau standar minimal untuk kualitas air pada kolam budidaya ikan lele, baik secara kimia maupun fisika, yang harus dipenuhi untuk membudidayakan ikan lele. Beberapa syarat dan kualitas air yang dibutuhkan untuk menopang kehidupan ikan lele antara lain:
  1. Suhu optimal untuk pemeliharaan ikan lele berkisar antara 20-30° C.
  2. Suhu optimal untuk kehidupan ikan lele agar pertumbuhan dan perkembangannya optimal adalah 27° C.
  3. Kandungan oksigen terlarut di dalam air minimum sebanyak 3 ppm (miligram per liter).
  4. Derajat keasaman (pH) air untuk kehidupan ikan lele dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal adalah 6,5-8.
  5. Kandungan karbondioksida (CO₂) dalam air harus di bawah 15 ppm; NH, sebesar 0,05 ppm; NO, sebesar 0,25 ppm; dan NO, sebesar 250 ppm.

Kebiasaan Hidup Ikan Lele

Di habitat aslinya yaitu di perairan bebas, ikan ikan lele memiliki kebiasaan untuk memijah pada awal musim penghujan. Pada musim penghujan, ikan lele mengalami rangsangan untuk memijah karena terjadinya peningkatan kedalaman air. Kebiasaan tersebut juga bisa dilihat pada usaha pembenihan ikan lele yang dilakukan secara tradisional. Pada kegiatan usaha pembenihan tradisional proses pemijahan ikan lele tidak berbeda jauh dengan kebiasaan alaminya. Hal ini tentu sangat berbedan dengan pemijahan ikan lele terutama pada budidaya ikan lele pembenihan semiintensif dan intensif. Pada kedua sistem pembenihan tersebut, ikan lele diberi rangsangan untuk memijah, yaitu dengan memberikan zat tertentu melalui suntikan.

Kebiasaan alami ikan lele untuk memijah tersebut dalam kegiatan budidaya ikan lele bisa disiasati dengan memanipulasi lingkungan di kolam budidaya untuk merangsang ikan lele memijah di luar musim hujan.

Cara pemijahan ikan lele secara alami di alam dapat diilustrasikan sebagai berikut.
  1. Ketika musim penghujan datang, ikan lele yang siap memijah (matang kelamin atau matang gonad) akan mencari lokasi sesuai dengan keinginannya.
  2. Gerombolan ikan lele jantan dan betina yang telah matang kelamin tersebut berpijah. Ikan lele betina meletakkan telur-telurnya di bagian pinggiran perairan.
  3. Pada saat bersamaan, ikan lele jantan menyemprotkan spermanya pada telur-telur tersebut. Telur-telur yang telah dibuahi akan menempel pada batu-batuan atau tanaman air yang ada di pinggiran perairan.
  4. Beberapa hari kemudian (tergantung pada suhu perairan) telur-telur ikan lele tersebut akan merietas dengan sendirinya.
Produksi yang dihasilkan dari pemijahan secara alami ini jumlahnya sangat sedikit. Hal ini disebabkan benih-benih yang baru menetas sebagian besar mengalami kematian, karena tidak tahan dengan kondisi lingkungan perairan yang sangat ekstrem. Sementara itu, tidak sedikit benih yang masih hidup dimangsa oleh predator-predator yang ada di perairan tersebut. Bisa juga terjadi, predator atau pemangsa sudah memangsa telur yang dibuahi ketika telur tersebut belum sempat menetas.

Ikan lele tergolong jenis ikan karnivor atau pemakan daging dan sangat menyukai pakan alami berupa binatang-binatang renik seperti kutu air dari kelompok Daphnia, Cladocera, atau Cipepoda. Selain memakan ketiga jenis binatang tersebut, ikan lele juga menyukai binatang-binatang lain seperti cacing sutera, larva jentik nyamuk, serangga yang masuk ke dalam air, keong-keong kecil, belatung serta daging-daging lain yang masuk dalam air.

Lihat Lebih Detil Tentang Pakan Alternatif Ikan Lele

Baik sewaktu hidup bebas di alam maupun ketika dipelihara di kolam budidaya, ikan lele tergolong jenis ikan yang sangat responsif terhadap makanan. Artinya, hampir semua pakan yang diberikan sebagai ransum atau pakan sehari-hari akan dimakannya. Oleh karena itulah, ikan lele memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat dalam waktu yang singkat. Sehingga para pembudidaya ikan banyak yang memilih komoditas ini sebagai komoditas agribisnis andalannya. Keunggulan laju pertumbuhan ikan lele ini bisa dioptimalkan dengan memberikan pakan yang memiliki nutrisi tinggi dan kompleks sehingga jangka waktu pemeliharaan bisa dipersingkat dengan produktivitas yang tinggi.

Lihat Lebih Detil Tentang Budidaya Ikan Lele

Karakteristik Daging Ikan Lele

Ikan lele termasuk salah satu jenis ikan air tawar yang memiliki tekstur daging dengan cita rasa yang enak dan empuk. Salah satu keunggulan tekstur daging ikan lele ini adalah tidak memiliki tulang-tulang halus dan kecil dalam dagingnya. Cita rasa dan keunggulan tekstur daging inilah yang membuat ikan lele banyak diburu konsumen di pasar-pasar ikan. Namun demikian, tidak semua konsumen menyukai daging ikan lele. Tetap ada saja yang kurang begitu tertarik dengan daging ikan lele ini karena beranggapan bahwa daging ikan lele mengandung terlalu banyak lemak. Sah-sah saja beranggapan demikian, dan mungkin anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, mengingat daging ikan lele, terutama untuk ikan lele yang berukuran besar, jika digoreng memang ada bagian-bagian tertentu yang hancur.

Akan tetapi, terlepas dari pro dan kontra mengenai cita rasa daging ikan lele, ternyata daging ikan lele memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari hasil berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa setiap 100 gram daging ikan lele mengandung 18,2 gram protein. Dengan perhitungan kandungan protein tersebut, setiap 1 kg ikan lele yang berukuran kecil bisa dikonsumsi untuk 10 porsi. Setiap porsi mengandung kurang lebih protein 18 gram, energi 290 kalori, lemak 16 gram, dan karbohidrat 12 gram. Komposisi tersebut jarang terdapat pada daging ikan lain yang digunakan sebagai sumber energi. Dengan demikian tidak mustahil jika daging ikan lele sangat disukai oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Pengolahan daging ikan lele yang cukup populer di Indonesia dan banyak dijajakan di warung-warung pinggir jalan adalah pecel lele. Ikan lele berukuran 100-150 gram digoreng kering kemudian diberi bumbu sambal dan dimakan bersama lalapan. Selain dibuat pecel lele, pengolahan daging ikan lele ini sangat beragam dalam berbagai bentuk, misalnya dibuat masakan pedas sambal goreng ikan lele, pepes ikan lele, gulai ikan lele, hingga asam pedas. Bahkan menu dari ikan lele ini sudah banyak disajikan dan menjadi menu utama di restoran-restoran kelas menegah ke atas dan di hotel-hotel berbintang pun sudah cukup banyak menyajikannya.

BUDIDAYA LELE PENDEDERAN

Budidaya Lele Pendederan merupakan kegiatan pemeliharaan benih ikan lele yang berasal dari hasil budidaya ikan lele pembenihan hingga mencapai ukuran tertentu. Budidaya ikan lele pendederan dilakukan dalam dua tahap, yakni pendederan tahap pertama dan pendederan tahap kedua.

Budidaya ikan lele pendederan tahap pertama adalah kegiatan budidaya atau ternak lele yang berasal dari hasil kegiatan budidaya ikan lele pembenihan dengan ukuran benih 1-3 cm hingga mencapai ukuran tertentu. Biasanya para petani atau peternak melakukan kegiatan budidaya ini dalam jangka waktu 2-3 minggu, budidaya tahap pertama menghasilkan benih lele berukuran 3-5 cm. Budidaya ikan lele pendederan tahap pertama ini dapat dilakukan di kolam tanah, kolam tembok, kolam tanah dengan dinding tembok maupun karamba jaring apung. Sementara itu, kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap kedua adalah kegiatan budidaya atau ternak lele yang berasal dari hasil kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap pertama. Petani ikan atau peternak melakukan kegiatan budidaya ini selama 30 hari, tahap kedua menghasilkan benih berukuran 8-12 cm per ekor.

BUDIDAYA LELE PENDEDERAN TAHAP PERTAMA

Budidaya Ikan Lele Pendederan Menggunakan Kolam Jaring

Kegiatan budidaya lele menggunakan jaring apung biasanya hanya dilakukan untuk kegiatan pendederan tahap pertama. Hal ini disebabkan benih ikan peliharaan masih berukuran kecil serta belum membutuhkan tempat luas.
Keuntungan usaha budidaya ikan lele pendederan menggunakan jaring adalah sebagai berikut:
  • Tingkat kematian atau kehilangan benih lele bisa ditekan jauh lebih kecil dibanding dengan pemeliharaan ikan di kolam, yaitu sekitar 15-20%. Rendahnya tingkat kehilangan benih lele tersebut disebabkan hama penganggu semakin kecil, karena hama kesulitan masuk dalam jaring.
  • Teknik pemeliharaan menggunakan karamba cukup mudah dan praktis. Bahkan saat melakukan pemanenan benih lele juga sangat mudah. Caranya hanya dengan mengangkat beberapa ujung atau sudut atas jaring. Pada saat beberapa bagian ujung diangkat, benih-benih ikan lele dengan sendirinya akan berkumpul pada sisi jaring yang ujungnya tidak diangkat. Benih lele tinggal diambil menggunkan seser atau sair.
Untuk budidaya ikan lele menggunakan jaring, maka jaring dipilih harus jaring bermata lebih kecil daripada ukuran benih. Tujuan pemilihan mata jaring berukuran lebih kecil tersebut adalah agar benih ikan lele tidak kabur keluar jaring. Jaring terbuat dari kain trilin berbahan lembut yang biasanya digunakan para petani atau peternak lele sebagai tempat penetasan telur ikan mas (hapa). Jaring tersebut bisa didapatkan di toko-toko perikanan, toko perlengkapan pancing, maupun toko-toko lain yang menjual alat-alat perikanan. Jaring baru biasanya masih berbentuk lembaran, sehingga perlu sedikit penanganan agar berbentuk karamba, misalnya dapat dengan cara dijahit menggunakan benang nilon. Ukuran jaring karamba untuk budidaya lele disesuaikan dengan luas kolam maupun jumlah benih ikan lele yang akan didederkan. Pada setiap sudut jaring diberi tali sehingga memudahkan saat pengikatan jaring ke tiang karamba. Tinggi jaring kurang lebih 50-60 cm berbentuk kotak.

Pemasangan Jaring Tempat Benih Ikan Lele




Jaring karamba harus dipastikan tidak dalam keadaan rusak atau berlubang bekas gigitan tikus maupun binatang lain. Pemasangan jaring karamba dapat dilakukan setelah semua tiang atau patok dipasang pada kolam dengan cara mengikatkan ujung-ujung jaring tersebut. Jika jaring berukuran besar, maka jumlah tali yang harus diikatkan pada patok atau tiang penyangga juga harus lebih banyak. Jumlah patok disesuaikan dengan ukuran jaring. Semakin besar ukuran jaring karamba maka semakin banyak jumlah patok yang dipasang. Jarak antarpatok atau tiang penyangga jaring satu dengan patok atau tiang penyangga jaring lain juga disesuaikan dengan ukuran jaring karamba. Patok sebaiknya terbuat dari bambu agar lebih kuat jika terendam air. Untuk memudahkan pemeliharaan benih lele budidaya, sebaiknya jaring karamba ditempatkan tidak terlalu ke tengah kolam, sehingga kontrol maupun penanganan terhadap benih ikan lele tersebut bisa optimal. Usahakan ketinggian air di dalam jaring tetap stabil berada pada kisaran 30-40 cm karena benih ikan budidaya masih berukuran sangat kecil sehingga tidak membutuhkan air dalam.

Penebaran Benih Ikan Lele

Setelah jaring siap, maka langkah selanjutnya adalah penebaran benih lele. Untuk mengurangi tingkat stress, penebaran benih ikan sebaiknya dilakukan saat cuaca tidak panas, yaitu saat pagi atau sore hari. Benih ikan lele tersebut bisa dibeli dari petani atau peternak lele pembenihan yang lain maupun dari hasil pembenihan sendiri. Hasil benih ikan lele dari pembenihan sendiri memiliki banyak keuntungan, diantaranya adalah jarak angkut benih lele lebih dekat sehingga resiko kerusakan benih juga lebih kecil, pemanenan atau pengambilan benih ikan lele dari kolam penetasan bisa menyesuaikan cuaca saat penebaran, benih ikan lele yang dihasilkan bisa dijamin kualitasnya, serta tingkat adaptasi benih terhadap lingkungan barunya tidak terlalu besar sehingga tingkat stress ikan lele dapat diminimalisir.
Jika benih lele berasal dari petani atau peternak lain maka hal ini perlu penanganan serius, terutama berkaitan dengan proses adaptasi benih ikan lele yang akan ditebar. Proses adaptasi ini merupakan proses penyesuaian benih lele dengan kondisi perairan yaitu antara kondisi perairan saat benih lele berada di dalam kolam penetasan dengan kondisi perairan di dalam kolam pendederan. Adaptasi ini juga terjadi untuk menyesuaikan kondisi air saat berada dalam wadah penampungan atau pengangkutan yang biasanya di dalam plastik dengan kondisi air kolam pendederan.
Untuk mengurangi tingkat stress benih lele selama proses adaptasi di lapangan, dapat dilakukan dengan cara membiarkan wadah pengangkutan atau plastik tempat benih ikan lele diangkut berada terapung di kolam penebaran selama kurang lebih sepuluh menit. Setelah itu wadah baru dibuka, lalu tambahkan air kolam pendederan ke dalam plastik tempat benih diangkut sedikit demi sedikit. Dengan teknik seperti ini diharapkan benih lele akan terbiasa dengan kondisi air di jaring dalam kolam pendederan. Setelah wadah penuh, letakkan wadah benih lele tersebut pelan-pelan, biarkan air dalam wadah keluar, biarkan benih lele keluar dengan sendirinya. Kepadatan penebaran benih pada budidaya ikan lele tahap pertama ini 1.500-2.500 ekor/m².

Pemeliharaan Benih Ikan Lele

Pemeliharaan merupakan kegiatan utama dalam agribisnis budidaya lele. Dalam budidaya ikan lele pendederan menggunakan jaring ini kegiatan pemeliharan meliputi pemberian pakan tambahan, pengontrolan jaring untuk memantau jaring dari kerusakan (biasanya diakibatkan oleh gigitan binatang air), pengontrolan kolam untuk mengantisipasi adanya kebocoran kolam akibat aktivitas binatang lain seperti kepiting, belut, atau lainnya.
Pemberian pakan tambahan berupa pellet dalam bentuk tepung. Pemberian pakan ikan dalam bentuk pakan alami kurang sesuai untuk budidaya ikan lele pendederan menggunakan jaring karamba. Hal ini disebabkan ruang pemeliharaan sempit sehingga benih ikan lele tidak memiliki ruang untuk bergerak mencari pakan. Pemberian pakan ikan berupa pellet tepung dilakukan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, sore, serta malam hari. Volume pemberian pakan adalah 3-5% dari berat total benih lele peliharaan setiap harinya. Pemberian pakan ikan lele dilakukan dengan cara ditebar secara merata dalam kolam jaring agar semua benih lele memiliki kesempatan untuk memperoleh makanan.

Pemanenan Benih Ikan Lele

Pada umur 2-3 minggu benih lele siap dipanen. Sebelum melakukan pemanenan perlu dipersiapkan beberapa peralatan panen terlebih dahulu, sehingga pada saat benih lele sedang dipanen tidak ada kendala akibat peralatan belum siap. Adapun beberapa peralatan yang harus dipersiapkan antara lain adalah :
  • Seser, yaitu alat tangkap untuk mengambil dan menangkap benih lele dari jaring karamba atau kolam.
  • Ember atau wadah penampung, yaitu tempat untuk menampung benih lele setelah ditangkap menggunakan seser.
  • Ember seleksi, yaitu alat untuk melakukan seleksi benih lele. Biasanya ember ini diberi lubang-lubang yang besarnya sesuai sasaran benih ikan yang dikehendaki.
  • Jaring penampung, yaitu jaring untuk menampung benih ikan lele setelah dilakukan penangkapan seleksi
  • Plastik, yaitu wadah untuk menampung benih lele jika benih tersebut akan dipindahkan ke tempat pemeliharaan lain yang jarak tempuhnya jauh.
  • Oksigen, yaitu gas untuk membantu pernafasan benih ikan lele saat lele diangkut menuju tampat pemeliharan lain yang jarak tempuhnya jauh.
Pemanenan pada karamba jaring cukup dilakukan dengan mengangkat beberapa ujung jaring. Setelah benih lele berkumpul pada sisi jaring yang tidak diangkat, maka benih ikan bisa langsung dipanen. Pemanenan atau pengangkatan benih ikan lele dilakukan dengan hati-hati menggunakan seser atau alat tangkap berbentuk jaring, dengan ukuran tidak terlalu besar atau sesuai kebutuhan.
Langkah selanjutnya adalah melakukan sortasi benih lele. Benih ikan dalam wadah penampung dimasukkan ke dalam ember sortasi yang diletakkan pada jaring penampung. Benih ikan lele berukuran lebih kecil dari lubang-lubang yang dibuat pada ember sortasi akan keluar dengan sendirinya dari ember tersebut. Sedangkan benih lele yang tidak keluar dari ember sortasi adalah benih lele berukuran sesuai kriteria seleksi peternak. Benih ikan lele tersebut ditempatkan secara terpisah, yaitu dengan cara membagi dua jaring penampung yang disiapkan dengan mengangkat bagian tengah jaring tersebut menggunakan bambu, kayu, atau benda lain yang bisa digunakan untuk penopang. Pemisahan bisa juga dilakukan dengan mempersiapkan dua jaring penampung.
Ukuran benih lele rata-rata yang dihasilkan telah mencapai 3-5cm dengan tingkat kematian atau tingkat kehilangan kurang lebih sebesar 10-20% dari jumlah penebaran awal. Benih ikan lele dapat dipelihara ke kolam pendederan tahap kedua atau langsung dijual kepada petani atau peternak lain. Dengan kata lain, perolehan hasil dari budidaya ikan lele dalam jaring ini berkisar 80 hingga 90%.

Budidaya Lele Pendederan Di Kolam

Budidaya ikan lele pendederan tahap pertama ini juga bisa dilakukan di dalam kolam. Kolam untuk pemeliharaan benih lele bisa berupa kolam tanah, kolam tembok, maupun kolam tanah dengan dinding tembok. Namun untuk mencapai hasil optimal dalam kegiatan agribisnis budidaya ikan lele, ada baiknya mengikuti beberapa prosedur cara membuat kolam ikan.

Persiapan Budidaya Lele Pendederan di Kolam

Sebelum benih lele ditebarkan, dilakukan persiapan terlebih dahulu sebagai berikut.
  • Lakukan pengeringan kolam. Pengeringan kolam bertujuan untuk memudahkan pengolahan dan perbaikan kolam serta membunuh bibit-bibit penyakit serta menetralkan gas-gas beracun yang ada di dasar kolam.
  • Pemberian pupuk dan pengapuran kolam. Untuk menumbuhkan pakan alami berupa plankton, kolam diberi pupuk menggunakan pupuk kandang, seperti misalnya kotoran ayam sebanyak 200-300 gram/m², TSP dan pupuk urea masing-masing sebanyak 10 gram/m² serta kapur pertanian atau dolomit sebanyak 25-30 gram/m² atau disesuaikan dengan derajat keasaman tanah (pH tanah). Tujuan pemupukan dan pengapuran selain untuk menaikkan tingkat keasaman tanah (pH), juga dapat menekan pertumbuhan bibit-bibit penyakit. Tebar pupuk maupun kapur pertanian tersebut secara merata ke seluruh permukaan dasar kolam.
  • Pintu masuk atau inlet dan pintu pembuangan air atau outlet perlu diberi saringan agar benih ikan peliharaan tidak kabur keluar dari kolam. Selain itu, pemasangan saringan juga bertujuan menghindari masuknya hama melalui saluran air.
  • Setelah semua proses selesai, kolam perlu diisi dengan air setinggi 40-50 cm serta dibiarkan selama 7 hari untuk memberi waktu terhadap proses dekomposisi dari pupuk kandang. Selain itu, membiarkan kolam tergenang air juga bertujuan menumbuhkan pakan alami dengan sempurna.

Penebaran Benih Pada Budidaya Lele Pendederan Di Kolam

Penebaran benih ikan lele dilakukan pada hari kedelapan setelah pemberian pupuk kandang dan pengapuran atau saat pakan alami telah tersedia. Benih ikan lele yang ditebar ke dalam kolam pemeliharaan adalah benih lele berukuran 1-3 cm dengan populasi atau padat penebaran 500-700 ekor/m². Penebaran harus dilakukan secara hati-hati agar benih lele tidak mengalami stres. Jika benih ikan lele berasal dari tempat jauh, sebelum ditebarkan benih ikan harus diberi waktu untuk proses adaptasi terlebih dahulu sebagaimana yang dilakukan pada budidaya ikan lele karamba jaring.

Pemeliharaan Benih

Kegiatan pemeliharaan budidaya ikan lele pendederan di kolam meliputi pemeliharaan atau pengontrolan dinding kolam, menjaga kualitas air, memberikan pakan tambahan, serta pengendalian hama penyakit pengganggu yang dapat merugiakan usaha agribisnis budidaya ikan lele.
Dinding kolam perlu dikontrol seminggu sekali untuk menghindari terjadinya kebocoran kolam. Pengontrolan bisa dilakukan dengan cara berkeliling serta mengamati dinding kolam bagian luar. Jika ada aliran air yang diperkirakan berasal dari dalam kolam, maka harus segera dilakukan perbaikan.
Pada budidaya ikan lele pendederan ini kualitas air kolam tidak cepat menurun. Akan tetapi menjaga kualitas air kolam juga tetap penting. Cara paling efektif untuk menjaga kualitas air kolam adalah menjaga aliran air tetap stabil dimana debit air tidak terlalu besar. Aliran air ini dibuat menggunakan sistem paralon.
Untuk menopang dan mempercepat pertumbuhan, maka benih ikan lele perlu diberi pakan tambahan. Pemberian pakan tambahan berupa pellet dalam bentuk tepung. Pemberian pakan tambahan ini dilakukan tiga kali sehari, yaitu setiap pagi, sore, serta malam hari. Volume pemberian pakan adalah 3-5% dari berat total benih lele peliharaan setiap harinya. Agar pakan lebih efisien dan efektif, sebaiknya pemberian pakan dilakukan dengan cara membiasakan di satu atau dua tempat saja, misalnya di bagian pojok kolam.

Pemanenan Benih

Benih ikan pada budidaya ikan lele pendederan tahap pertama dapat dipanen setelah berumur 2-3 minggu semenjak penebaran. Untuk mengurangi tingkat stress akibat pemanenan, sebaiknya kegiatan pemanenan dilakukan saat pagi atau sore hari ketika cuaca tidak terlalu panas. Benih lele yang dipanen saat cuaca sedang terik akan sangat bersiko mengalami kematian ketika dipindahkan ke kolam pendederan tahap kedua. Hal ini tentu saja akan mengakibatkan kerugian besar dalam usaha agribisnis budidaya ikan lele.
Sebelum melakukan pemanenan perlu dipersiapkan beberapa peralatan panen terlebih dahulu, sehingga saat benih ikan lele sedang dipanen tidak ada kendala akibat peralatan belum siap. Beberapa peralatan yang harus dipersiapkan adalah :
  • Seser, yaitu alat tangkap untuk mengambil dan menangkap benih lele dari jaring atau kolam.
  • Ember atau wadah penampung, yaitu tempat untuk menampung benih lele setelah ditangkap menggunakan seser.
  • Ember seleksi, yaitu alat untuk melakukan seleksi benih lele. Biasanya ember ini diberi lubang-lubang yang besarnya sesuai dengan sasaran benih ikan yang dikehendaki.
  • Jaring penampung, yaitu jaring untuk menampung benih lele setelah dilakukan penangkapan seleksi
  • Plastik, yaitu wadah untuk menampung benih ikan lele jika benih tersebut akan dipindahkan ke tempat pemeliharaan lain yang jarak tempuhnya jauh.
  • Oksigen, yaitu gas untuk membantu pernafasan benih lele saat lele diangkut menuju tampat pemeliharan lain yang jarak tempuhnya jauh.
Setelah semua peralatan siap, kegiatan pemanenan bisa dilaksanakan. Pemanenan benih ikan lele di kolam dilakukan dengan cara meyurutkan atau mengeringkan air kolam terlebih dahulu. Pengeringan dilakukan secara pelan-pelan agar benih lele peliharaan tidak mengalami stress hingga air tersisa di kobakan atau kemalir. Setelah benih lele berkumpul di kemalir, segera tangkap menggunakan seser, kemudian benih ikan lele tersebut ditempatkan pada wadah penampung yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Langkah selanjutnya adalah melakukan sortasi benih lele. Benih ikan lele dalam wadah penampung dimasukkan ke dalam ember sortasi yang diletakkan pada jaring penampung. Benih lele berukuran lebih kecil dari lubang-lubang yang dibuat pada ember sortasi akan keluar dengan sendirinya dari ember tersebut. Sedangkan benih ikan yang tidak keluar dari ember sortasi adalah benih lele berukuran sesuai kriteria seleksi peternak. Benih tersebut ditempatkan secara terpisah, yaitu dengan cara membagi dua jaring penampung yang disiapkan dengan mengangkat bagian tengah jaring tersebut menggunakan bambu, kayu, atau benda lain yang bisa digunakan untuk penopang. Pemisahan bisa juga dilakukan dengan mempersiapkan dua jaring penampung.
Ukuran benih ikan rata-rata yang dihasilkan telah mencapai 5-8cm dengan tingkat kematian atau tingkat kehilangan kurang lebih sebesar 25-30% dari jumlah penebaran awal. Benih lele dapat di budidaya ke kolam pendederan tahap kedua atau langsung dijual kepada petani atau peternak lain.

BUDIDAYA LELE PENDEDERAN TAHAP KEDUA

Kegiatan budidaya ikan lele pendederan tahap kedua tidak berbeda jauh dengan kegiatan budidaya ikan lele tahap pertama. Perbedaannya utama kedua fase pendederan tersebut terletak pada luas lahan budidaya atau pemeliharaan serta kepadatan penebaran benih ikan lele. Pada budidaya ikan lele pendederan tahap kedua ini kepadatan penebarannya hanya 250-300 ekor/m². Waktu pemeliharaan seperti telah dibahas di muka yaitu sekitar 30 hari dengan ukuran panen benih lele 8-12 cm. Selain itu, volume pemberian pakan pada tahap ini juga lebih banyak, karena baik ukuran maupun tingkat pertumbuhan benih ikan juga berbeda.

BUDIDAYA IKAN LELE PEMBENIHAN SEMIINTENSIF

Budidaya ikan lele pembenihan semiintensif dilakukan tidak hanya dengan mengandalkan manipulasi lingkungan. Tetapi campur tangan manusia lebih banyak terlibat di dalamnya untuk mencapai hasil yang optimal melalui beberapa sentuhan teknologi budidaya.

Budidaya lele pembenihan semiintensif ini memiliki beberapa keuntungan antara lain, petani atau peternak lele dapat memperkirakan jumlah telur yang dihasilkan, dapat diperkirakan waktu atau saat telur ikan lele akan menetas, pemijahan dapat dilakukan diluar musim memijah, artinya dengan memiliki peluang untuk melakukan pemijahan sewaktu-waktu, maka petani pembudidaya ikan lele dapat menghasilkan keuntungan lebih banyak. Kegiatan utama dari budidaya ikan lele pembenihan semi intensif ini memang difokuskan pada manipulasi teknik pemijahan. Dengan demikian, petani atau pembenih dapat memenuhi permintaan pasar setiap saat. Manipulasi tersebut dilakukan dengan cara memberikan perangsang pada induk ikan lele jantan dan betina menggunakan kelenjar hipofisa melalui penyuntikan. Dengan kata lain, teknik pemijahan yang dilakukan dalam budidaya ikan lele pembenihan semi intensif ini tidak terjadi secara alami, melainkan melalui rekaya petani pembudidaya.

a. Pemeliharaan Induk - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Pemeliharaan induk ikan lele dilakukan secara terpisah antara induk ikan lele jantan dan induk ikan lele betina. Pemisahan induk ikan lele tersebut bertujuan untuk memudahkan pengontrolan, pengelolaan, dan yang paling utama adalah untuk menghindari terjadinya pemijahan liar atau diluar kehendak pembudidaya. Dengan demikian, tingakt kematangan kelamin induk ikan lele sudah bisa dipastikan benar-benar siap untuk memijah.

Kolam yang digunakan untuk pemeliharaan induk ikan lele bisa berupa kolam tanah, kolam tembok, atau kolam tanah dengan dinding tembok. Ukuran dan bentuk kolam pemeliharaan induk disesuaikan dengan ukuran dan bentuk lahan. Hal yang perlu dipertimbangkan saat membuat kolam pemeliharaan induk ini adalah biaya pembuatan, teknis pemeliharaan dan penanganannya. Sehingga ukuran dan bentuk kolam harus disesuaikan dengan teknis pemeliharaan yang paling mudah dengan biaya yang paling murah.

Misalnya, untuk memudahkan pengelolaan dan efisiensi penggunaan kolam, luas kolam pemeliharaan induk ikan lele jantan dan betina dibuat masing-masing 3x5 m. Pada salah satu sisi kolam dibuat saluran atau pintu masuk air (inlet) pada sisi yang lain secara bersebrangan dibuat saluran pembuangan atau outlet. Pada pintu masuk air dan saluran pembuangan dipasang penyaring agar ikan lele tidak keluar dari kolam.

Kepadatan penebaran induk ikan lele di kolam pemeliharaan ini antara 4-5 kg/ m². Ketinggian air kolam juga diatur sedemikian rupa hingga bisa dicapai ketinggian stabil 60-75 cm. Untuk menjaga kualitas air, sebaiknya gunakan air bersih dan tidak tercemar oleh limbah rumah tangga maupun limbah lain. Usahakan agar debit air yang masuk cukup stabil yaitu 20-20 liter/menit sehingga supplay oksigen terlarut dalam air tetap optimal.

Agar diperoleh kematangan induk yang memadai, setiap hari induk diberi pakan bergizi. Jenis pakan yang diberikan berupa pakan buatan berupa pelet sebanyak 3-5% per hari dari bobot induk yang dipelihara. Pakan diberikan dua sampai tiga kali sehari pada pagi, sore, dan malam hari.

b. Pemilihan Induk - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif




Pemilihan atau seleksi induk ikan lele perlu dilakukan untuk memastikan bahwa induk ikan lele yang akan dipijahkan telah benar-benar siap. Tidak semua induk yang kita pelihara akan mengalami pertumbuhan yang seragam, sehingga akan menghasilkan keragaman tingkat kesiapan induk yang akan dipelihara. Salah satu persyaratan utama yang harus dipenuhi untuk memijahkan induk ikan lele dengan teknik pemijahan secara semiintensif ini adalah induk ikan lele baik jantan maupun betina telah mencapai umur 12 bulan atau satu tahun. Saat melakukan seleksi induk ikan lele, penangkapan harus dilakukan dengan hati-hati. Cara penangkapan induk ikan lele yang dapat dilakukan adalah dengan menyurutkan air kolam, hingga induk-induk ikan lele tersebut berkumpul di kemalir atau kobakan. Kemudian induk ikan lele tersebut ditangkap menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam ember atau wadah yang telah dipersiapkan. Induk yang lolos seleksi atau masuk kriteria telah siap memijah dimasukkan dalam kolam pemijahan. Beberapa ciri-ciri umum induk ikan lele yang siap memijah antara lain:

Ciri-ciri induk ikan lele betina yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.
  1. Bagian perut tampak membesar ke arah anus dan jika diraba terasa lembek.
  2. Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
  3. Jika bagian perut secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna kekuning-kuningan dan ukurannya relatif besar.
  4. Pergerakannya lamban dan jinak.
Ciri-ciri induk ikan lele jantan yang telah siap untuk dipijahkan sebagai berikut.
  1. Alat kelamin tampak jelas dan lebih runcing.
  2. Warna tubuh agak kemerah-merahan.
  3. Tubuh ramping dan gerakannya lincah.
Jumlah induk ikan lele yang akan dipijahkan disesuaikan dengan ketersediaan kolam pemijahan, kolam penetasan, dan rencana produksi atau target produksi yang ingin dicapai.

c. Pemijahan - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Setelah selesai seleksi induk ikan lele yang akan dipijahkan, maka langkah selanjutnya adalah pemijahan atau perkawinan. Kolam pemijahan harus telah dibuat dan dipersiapkan sebelum melakukan seleksi induk, sehingga pada saat melakukan seleksi induk, maka induk ikan lele yang telah lolos seleksi atau telah memenuhi kriteria siap memijah bisa langsung dimasukkan ke dalam kolam pemijahan. Untuk setiap pasang induk dengan berat induk jantan 500 g dan induk betina 500 g diperlukan satu buah kolam pemijahan, dengan ukuran 1 x 2 x 0,5 m. Bak atau kolam pemijahan harus dipastikan kebersihannya sebelum digunakan untuk pemijahan. Kebersihan kolam pemijahan ini sangat diutamakan untuk menghindarkan induk ikan lele terserang penyakit. Setelah dipastikan bersih, kolam atau bak pemijahan diisi dengan air bersi setinggi 50-60 cm. Bagian bawah atau dasar kolam diberi kakaban yang terbuat dari ijuk. Pastikan seluruh dasar kolam tertutup oleh kakaban, sehingga telur yang diahasilkan bisa tertampun dan menempel pada kakaban. Untuk mengindari induk ikan lele melompat keluar pada saat melakukan pemijahan, maka bagian atas kolam diberi penutup, misalnya dari triplek atau papan kayu.

Kawin Suntik - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Agar dapat memijah sesuai dengan target produksi yang ditetapkan, induk ikan lele harus dirangsang terlebih dahulu dengan menggunakan zat perangsang. Zat perangsang yang bisa digunakan adalah kelenjar hipofisa. Kelenjar hipofisa bisa diambil dari donor ikan lele lain atau menggunakan kelenjar hipofisa dari ikan mas yang telah berumur 12 bulan dan sudah matang kelamin. Ikan yang akan digunakan untuk diambil kelenjar hipofisanya harus dalam keadaan sehat.

Jika menggunakan ikan lele lain yang akan digunakan untuk donor kelenjar hipofisa cara pengambilannya adalah:
  1. Pilih dan timbang ikan lele donor sesuai dengan berat induk ikan lele yang akan disuntik.
  2. Ikan lele donor dipotong tepat pada batas bagian kepala dengan badan.
  3. Belah kepala lele dari arah bukaan mulut, ambil dan bersihkan dari bercak darah dan lendir.
  4. Ambil kelenjar menggunakan pinset atau penjepit. Sebelumnya gunakan tang penjepit untuk mengangkat tulang penutup hipofisa.
  5. Gerus atau hancurkan menggunakan alat penggerus. Alat penggerus dapat dibeli di toko alat-alat laboratorium atau kimia. Sambil digerus, tambahkan pelarut akuabides sebanyak 1-2 cc.
  6. Diamkan larutan kelenjar beberapa saat (tidak sampai 1 menit), selanjutnya ambil menggunakan spuit (alat injeksi atau alat suntik) dan kelenjar siap untuk disuntikkan.
Jika penyuntikan menggunakan kelenjar hipofisa yang berasal dari donor ikan mas, cara penyiapan kelenjar hipofisanya sebagai berikut.
  1. Pilih dan timbang ikan mas donor seberat induk ikan lele yang akan disuntik.
  2. Ikan mas donor dipotong tepat pada bagian atas antara kepala dan badan.
  3. Ambil kepalanya, kemudian belah bagian atasnya, dari batas lubang hidung ke arah belakang.
  4. Angkat bagian otak besar menggunakan pinset, lalu bersihkan darah dan lendir menggunakan kapas atau tisu.
  5. Secara perlahan ambil kelenjar hipofisa yang berwarna putih menggunakan pinset.
  6. Hancurkan atau haluskan (gerus) sambil menambahkan pelarut berupa akuabides sebanyak 1-2 cc.
  7. Ambil kelenjar hipofisa separuhnya, kemudian suntikkan kepada induk ikan lele betina dan separuhnya lagi suntikkan kepada induk jantan.
Selain menggunakan kelenjar hipofisa, perangsangan induk ikan lele juga bisa menggunakan HCG (human chlorionic gonadotropin). HCG banyak tersedia di pasaran, dengan merk dagang Ovaprim.

Penyuntikan menggunakan kelenjar hipofisa cukup 1 dosis. Artinya, ikan donor yang akan diambil kelenjar hipofisanya, beratnya sama dengan induk ikan lele yang akan disuntik. Namun, jika menggunakan Ovaprim, dosisnya sebanyak 0,5 cc/kg induk yang akan dipijahkan. Penyuntikan harus dilakukan pada pagi atau sore hari. Penyuntikan dilakukan pada bagian punggung atau bagian daging ikan lele yang paling tebal dengan kemiringan kurang lebih sedalam 2 cm.

Pemijahan Alami - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Setelah selesai penyuntikan, maka induk ikan lele dimasukkan ke dalam bak atau kolam pemijahan. Induk-induk ikan lele akan melakukan pemijahan secara alami 8-12 jam setelah dilakukan penyuntkan. Biasanya pemijahan akan berlangsung pada malam hari. Selama proses pemijahan, lakukan pengontrolan terhadap kolam pemijahan agar induk-induk ikan lele tidak melompat keluar saat memijah.

d. Penetasan Telur dan Perawatan Larva - Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif

Kolam penetasan dibuat dan dipersiapkan bersamaan dengan persiapan kolam pemijahan. Kolam penetasan bisa terbat dari plastik terpal maupun kolam tembok. Kolam penetasan telur ikan lele diisi dengan air jernih setinggi 10 cm. Air yang digunakan untuk mengisi kolam penetasan telur ikan lele berasal dari air yang tidak mengandung kaporit maupun bahan kimia lain yang dapat membahayakan keselamatan telur atau benih ikan lele setelah menetas. Jika menggunakan air PDAM, maka harus diendapkan terlebih dahulu selama tiga hari. Kaporit dalam air PDAM dipastikan sudah hilang atau tidak berpengaruh terhadap keselamatan telur dan benih ikan lele setelah diendapkan selama tiga hari.

Setelah selesai memijah, induk ikan lele dikembalikan ke dalam kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dikembalikan kedalam kolam pemeliharan induk jantan. Begitu pula untuk induk betina. Sementara itu, kakaban tempan menempel telur-telur ikan lele dipindahkan ke dalam kolam penetasan yang sudah dipersiapkan.

Seluruh kakaban tempat menempelnya telur ikan lele yang ditetaskan harus terendam air. Oleh karena itu, kakaban tersebut harus dipasang di dasar kolam dengan pemberat. Telur yang dibuahi dan berpotensi untuk menetas berwarna kuning cerah kecokelatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Penetasan telur ikan lele dipengaruhi oleh suhu air dan suhu udara. Suhu udara yang tinggi akan membantu mempercepat penetasan telur. Di daerah dataran rendah, dengan suhu tinggi, telur ikan lele akan menetas dalam waktu 20-24 jam setelah terjadi pemijahan. Demikian pula sebaliknya, jika suhu udara rendah atau dingin, maka telur ikan lele tersebut akan semakin lama menetas.

Setelah dipastikan hampir semua telur menetas, bak penetasan harus sering dikontrol atau diamati. Larva yang baru menetas akan berkumpul di dasar bak. Selanjutnya, kakaban diangkat untuk menghindari penurunan kualitas air akibat adanya pembusukan dari telur-telur yang tidak menetas.

Benih atau larva ikan lele yang baru menetas biasanya berwarna kehijauan, kecokelatan, hingga kehitaman. Benih atau larva ikan lele tersebut terlihat berkumpul di dasar kolam atau bak penetasan. Benih akan mulai bergerak menyebar setelah berumur dua hari. Hingga hari ketiga, benih ikan lele tidak perlu diberi pakan, karena masih memiliki cadangan pakan yang menempel pada tubuhnya, berupa kuning telur.

Pada hari keempat, larva atau benih ikan lele baru diberi pakan, disamping ukurannya yang suda bertambah besar, cadangan pakan berupa telur yang menempel pada tubuhnya juga sudah habis atau tidak mencukupi. Pakan tambahan yang sesuai untuk benih ikan lele tersebut adalah pakan alami yang ukurannya sangat kecil karena bukaan mulut benih ikan lele juga masih kecil. Pakan alami yang biasa diberikan untuk benih ikan lele berupa mahluk hidup misalnya, kutu air (Daphnia sp., Moina sp.) atau cacing sutera.

Usahakan untuk tidak memberikan pakan tambahan berupa pakan buatan, karena pakan buatan kurang baik untuk benih ikan lele karena jika tidak pakan tersebut diberikan berlebihan dan tidak habis dimakan benih ikan lele maka sisa pakan tersebut akan membusuk, sehingga menurunkan kualitas air. Pakan alami diberikan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari sesuai dengan kebutuhan makan benih ikan lele. Pemberian pakan alami pun tidak boleh berlebihan, karena jika pemberiannya berlebihan dan pakan alami tersebut tidak habis, maka akan terjadi persaingan kebutuhan oksigen di dalam air antara sisa pakan alami dengan benih ikan lele. Kekurangan posokan oksigen di dalam air akan menggangu pertumbuhan dan perkembangan ikan lele, bahkan bisa memicu kematian benih ikan lele.

Faktor lain yang perlu diperhatikan selama pemeliharaan larva adalah kualitas air. Penggantian air dilakukan setiap 2-3 hari sekali atau tergantung dari kebutuhan. Jumlah air yang diganti sebanyak 50-70% dengan cara menyifon (mengeluarkan air secara selektif dengan selang) sambil membuang kotoran. Selang yang digunakan adalah selang plastik yang lentur dan biasa digunakan sebagai selang air.

Setelah berumur 2-3 minggu dan mencapai ukuran 1-3 cm, benih sudah siap untuk dipanen. Agar benih lele tidak mengalami stres, pemanenan harus dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu masih rendah. Caranva, air di dalam bak atau kolam disurutkan secara perlahan, selanjutnya benih akan berkumpul di tempat yang paling dalam. Benih tersebut kemudian ditangkap secara hati-hati menggunakan sair (serok) yang halus untuk didederkan di tempat lain atau dapat pula dipasarkan (dijual) langsung kepada pembeli yang akan mendederkannya di tempat lain.

Produksi benih yang dihasilkan dengan teknik pemijahan semiintensif ini sangat bergantung pada ukuran dan tingkat kematangan kelamin induk ikan lele yang dipijahkan. Sebagai gambaran, untuk pemijahan ikan lele yang berasal dari seekor induk ikan lele betina dengan berat 0,5-1 kg maka produksi benih ikan lele yang dihasilkan berkisar antara 40-50 ribu ekor.

BUDIDAYA IKAN LELE PEMBENIHAN SECARA TRADISIONAL

Budidaya Ikan Lele Pembenihan Secara Tradisional - Budidaya lele pembenihan merupakan kegiatan awal dalam usaha ternak lele. Tanpa kegiatan pembenihan, maka kegiatan lain seperti, pendederan dan pembesaran lele tidak mungkin terlaksana. Kegiatan pembenihan ikan lele yang akan diuraikan disini merupakan kegiatan budidaya yang biasa dilakukan oleh para pelaku usaha pembenihan lele baik secara semiintensif maupun intensif. Secara garis besar, kegiatan pembenihan pada budidaya lele secara tradisional ini meliputi pemeliharaan induk, pemilihan induk lele siap pijah, pemijahan, serta perawatan larva ikan atau benih lele.

Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan dalam Budidaya Ikan Lele Pembenihan Secara Tradisional

Kegiatan budidaya pembenihan lele saat ini telah berkembang pesat, terutama di pulau Jawa. Kebanyakan kegiatan budidaya pembenihan lele oleh peternak masih dilakukan menggunakan peralatan dan cara sangat sederhana. Biasanya mereka hanya memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat maupun harga terjangkau. Disamping itu, penggunaan tenaga kerjanya pun cukup memanfaatkan tenaga kerja dari dalam anggota keluarga peternak ikan bersangkutan. Umumnya pemanfaatan tenaga kerja kaluarga ini bertujuan untuk menghemat biaya produksi.

Budidaya lele seperti kebiasaan peternak ikan ini berkembang terutama di daerah dataran rendah sepanjang pantai utara Jawa (pantura) dari Bekasi, Indramayu, hingga sekitar Cirebon. Meskipun sebetulnya peternak lele di dataran menengah pun tidak sedikit juga yang melakukan usaha budidaya lele ini.



Cara atau kebiasaan budidaya peternak ikan lele seperti tersebut di atas tentu saja memiliki kelebihan maupun kekurangan. Kelebihannya adalah budidaya dapat dilakukan secara sederhana di belakang rumah dengan biaya terjangkau, serta memanfaatkan lahan sempit. Sementara itu, kelemahannya adalah hasil produksi lele belum sesuai harapan, karena penerapan teknologi budidaya belum intensif. Kadang-kadang keuntungannya pun sangat kecil, bahkan tidak jarang mereka mengalami kerugian. Namun, jika dibekali pengetahuan tentang budidaya lele secara benar niscaya hal ini dapat diminimalisir.

Karakteristik budidaya lele pembenihan secara tradisional yang dilakukan peternak lele tersebut sebagai berikut :

a. Kolam Pemeliharaan Induk Pada Budidaya Lele Pembenihan Tradisional

Pada budidaya ikan sistem ini, kolam untuk memelihara induk lele tidak disediakan secara khusus. Kolam-kolam tersebut bisa memanfaatkan kolam di pekarangan rumah. Luas kolam ikan juga tidak ditentukan, biasanya hanya menyesuaikan dengan luas maupun bentuk pekarangan. Dalam budidaya pembenihan lele secara tradisional ini, tetap diperlukan adanya pemisahan antara induk jantan dan induk betina, sehingga untuk kolam ikan pemeliharaan induk minimal dibutuhkan dua buah kolam. Pembuatan sistem pengairannya pun cukup sederhana. Biasanya hanya terdiri dari saluran pemasukan air atau inlet serta saluran pembuangan atau outlet. Kolam ikan ini sebetulnya mirip comberan, air untuk mengairi kolam bisa memanfaatkan pembuangan dari rumah tangga dan air hujan. Biasanya pengairan dari pembuangan rumah tangga berasal dari air tempat cucian dan pembuangan air dari kamar mandi. Pengairan pada saat musim hujan dengan memanfaatkan suplay air dari hujan secara langsung. Induk ikan peliharaan juga tidak terlalu banyak. Kepadatan penebaran lele hanya 1-2 kg/m² dengan memanfaatkan pakan ikan dari sisa-sisa dapur maupun limbah peternakan ayam, seperti jika ada ayam mati, mereka gunakan sebagai pakan ikan dengan cara membakarnya terlebih dahulu. Ada juga yang memberikan pakan tambahan berupa keong mas, bekicot, cicak, tikus, maupun pakan alami ikan lain yang bisa didapat di lingkungaan tempat tinggalnya atau di areal persawahan tanpa harus mengeluarkan biaya.

Induk lele yang akan dipijahkan pada budidaya pembenihan ini harus memenuhi persyaratan pemijahan. Kriteria pemenuhannya adalah sudah berumur minimal 1 tahun. Tidak hanya itu, syarat terpenting dan harus terpenuhi adalah baik induk ikan betina maupun induk ikan jantan, kondisinya telah matang kelamin.

b. Pemijahan Lele Pada Budidaya Lele Pembenihan Tradisional

Kegiatan pemijahan lele pada budidaya secara tradisional akan diuraikan di bawah ini, namun sebelumnya ada hal penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan pemijahan, yaitu mengenai pembuatan kolam ikan. Hal ini penting karena keberhasilan pemijahan juga ditentukan oleh bentuk maupun luas kolam ikan untuk pemijahan.

Pembuatan Kolam Pemijahan Lele

Dalam budidaya pembenihan lele tradisional, pemijahan dapat dilakukan dalam bak atau kolam tembok maupun kolam terpal. Pemijahan ikan dalam kolam tembok harus dibuat secara khusus, biasanya menghabiskan biaya banyak. Pembuatan kolam terpal jauh lebih murah, cukup memanfaatkan plastik terpal yang disusun atau dibentuk hingga seperti kolam ikan. Pembuatan kolam terpal ini dapat dilakukan dengan menyusun batu bata atau batako berbentuk persegi empat, dibuat seolah-olah seperti tanggul kolam. Plastik terpal tersebut kemudian ditempatkan diantara pasangan batu bata atau batako tersebut. Cara lain dapat dilakukan menggunakan papan untuk membuat tanggul atau dinding kolam ikan. Untuk memijahkan sepasang induk lele, maka dibutuhkan kolam pemijahan seluas 2 m².
Sebelum digunakan, kolam pemijahan harus dibersihkan serta dikeringkan terlebih dahulu beberapa hari. Maksudnya untuk mempercepat terjadinva proses pemijahan. Selanjutnya, bak diisi air jernih dan bersih setinggi 50-60 cm. Jika air tersebut kotor atau keruh dapat menyebabkan kegagalan budidaya, telur-telur ikan akan tertutup oleh lapisan lumpur sehingga tidak bisa menetas.
Untuk tempat penempelan telur, di dalam kolam ikan pemijahan harus disediakan kakaban terbuat dari ijuk. Ukuran kakaban disesuaikan dengan ukuran kolam pemijahan. Namun, ukuran yang biasa digunakan panjangnva 75-100 cm, lebar 30-40 cm. Sebagai patokan, untuk 1 pasang induk lele dengan berat induk betina 500 gram, dibutuhkan kakaban sebanyak 4 buah. Jika kurang, dikhawatirkan telur yang dikeluarkan ketika pemijahan tidak tertampung seluruhnya atau menumpuk di kakaban, sehingga mudah membusuk dan tidak menetas.
Selanjutnya, kakaban dipasang rata menutupi seluruh permukaan dasar kolam ikan pemijahan. Cara pemasangannya adalah dengan menindihkan batu pada kakaban sebagai pemberat. Hal ini dimaksudkan agar telur-telur ikan hasil pemijahan dapat tertampung di kakaban dan seluruh bagiannya tetap dalam kondisi terendam air.

Pelepasan Induk Lele

Setelah tempat pemijahan dipersiapkan, induk lele jantan dan lele betina ditangkap dari kolam induk menggunakan waring (jaring bermata kecil). Penangkapan induk ikan tersebut harus dilakukan secara hati-hati agar ikan tidak stress. Induk lele hasil tangkapan kemudian dimasukkan ke dalam kolam ikan pemijahan. Untuk satu kolam pemijahan lele berukuran 2 m², jumlah induk ikan yang dipijahkan cukup 1 pasang. Jika lebih dari 1 pasang, dikhawatirkan selama proses pemijahan berlangsung akan terjadi perkelahian antara induk-induk lele tersebut, sehingga proses pemijahan tidak dapat berlangsung sempurna. Di samping itu, kerugian lainnya adalah induk ikan yang terlibat perkelahian akan mengalami luka-luka serta kondisinya lemah.
Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah kondisi tubuh induk-induk ikan yang akan dipijahkan harus telah memenuhi persyaratan standar. Persyaratan tersebut di antaranya adalah harus matang kelamin dan berumur tidak kurang dari 1 tahun.
Ciri-ciri induk lele betina siap dipijahkan adalah sebagai berikut :
  1. Bagian perut ikan tampak membesar ke arah anus, jika diraba terasa lembek.
  2. Lubang kelamin berwarna kemerahan dan tampak agak membesar.
  3. Jika bagian perut lele secara perlahan diurut ke arah anus, akan keluar beberapa butir telur berwarna kekuning-kuningan berukuran relatif besar.
  4. Pergerakannya lamban dan jinak.
Ciri-ciri induk lele jantan siap dipijahkan adalah sebagai berikut :
  1. Alat kelamin tampak jelas dan lebih runcing.
  2. Warna tubuh ikan agak kemerah-merahan.
  3. Tubuh lele ramping, gerakannya lincah.
Kedua ekor induk lele jantan dan betina yang telah matang kelamin atau matang gonad tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kolam pemijahan ikan. Untuk memberikan waktu penyesuaian dengan keadaan di kolam ikan pemijahan, pelepasan induk lele sebaiknya dilakukan sebelum pukul 10.00 pagi. Demikian juga untuk menghindari agar induk ikan yang sedang dipijahkan tidak meloncat keluar, maka bagian atas kolam pemijahan lele harus diberi penghalang, misalnya menggunakan papan, triplek, atau bilah bambu. Pemasangan penghalang tersebut jangan terlalu dekat dengan permukaan air kolam ikan, karena dapat mengganggu proses pemijahan. Pemijahan biasanya akan terjadi pada malam hari menjelang pagi, yaitu sekitar pukul 24.00-04.00.
Pada budidaya lele secara tradisional ini, proses pemijahan ikan terjadi secara alami. Induk ikan betina akan melepaskan telurnya pada kakaban yang sudah disiapkan. Pada saat yang sama induk lele jantan akan melepaskan sperma untuk membuahi telur ikan betina tersebut. Pembuahan tersebut terjadi di luar tubuh ikan. Pemijahan lele secara tradisional memiliki beberapa kendala, diantaranya adalah ketidakpastian induk lele tersebut akan memijah. Pemijahan dengan cara ini bisa berlangsung dalam satu malam, tetapi juga bisa berlangsung pada malam kedua, bahkan kadang-kadang induk ikan tidak memijah sama sekali selama beberapa malam. Ketidakpastian tersebut biasanya dipengaruhi oleh tingkat kematangan kelamin induk ikan yang tidak sempurna atau manipulasi kondisi lingkungannya kurang tepat sehingga penyesuaian induk lele terhadap tempat pemijahan menjadi terhambat.

c. Penetasan Telur Budidaya Lele Pembenihan Tradisional

Seperti halnya pada kegiatan pemijahan di atas, sebelum melakukan kegiatan penetasan lele pada budidaya lele tradisional perlu diperhatikan mengenai pembuatan kolam untuk penetasan telur ikan. Pembuatan kolam ikan ini dilakukan bersamaan saat membuat kolam ikan untuk pemijahan.

Pembuatan Kolam Penetasan Telur Lele

Seperti telah disebutkan, kolam penetasan telur ikan dibuat serta dipersiapkan bersamaan dengan pembuatan dan persiapan kolam pemijahan lele. Setelah proses pemijahan selesai, telur-telur ikan tersebut (menempel pada kakaban), harus segera dipindahkan agar tidak dimakan kembali oleh induk lele. Pada saat kedua induk lele telah kehabisan energi selama melakukan pemijahan seringkali mereka justru memakan hasil telur-telurnya sendiri, untuk menghindarinya maka segeralah memindahkan telur ikan ke dalam kolam penetasan telur ikan yang disudah dibuat sebelumnya.
Sesuai caranya yaitu tradisional, untuk menghemat biaya, biasanya para petani atau pelaku usaha budidaya lele membuat kolam penetasan menggunakan plastik terpal seperti pada kolam pemijahan ikan di atas. Kolam penetasan lele harus berukuran lebih besar daripada kolam pemijahan ikan, karena kolam penetasan lele ini sekaligus digunakan sebagai kolam pemeliharaan benih atau larva lele tersebut. Luas kolam penetasan telur ikan pada budidaya lele cara ini dari seekor induk lele betina dengan berat 500 gram adalah 2 x 3 x 0,25 m.
Kolam penetasan ikan sebaiknya dibuat dan ditempatkan di tempat teduh, tidak terkena sinar matahari langsung maupun air hujan. Jika kolam penetasan lele dibuat di tempat terbuka dikhawatirkan akan terjadi perbedaan suhu cukup tajam antara siang-malam, apalagi jika turun hujan. Perbedaan suhu secara signifikan akan mengakibatkan benih atau larva ikan mengalami stress sehingga tingkat kematian benih atau larva lele tersebut menjadi sangat tinggi.
Pembuatan kolam penetasan telur pada budidaya lele sistem ini tidak terlalu sulit, bahkan biayanya pun tidak terlalu besar. Pembuatan kolam penetasan telur ikan ini dapat dilakukan dengan cara :
  1. Buatlah denah atau gambar kolam penetasan dengan ukuran disesuaikan dengan jumlah induk ikan betina yang dipijahkan dan berbentuk persegi empat.
  2. Tancapkan tiang atau patok bambu atau kayu sedikit lebih tinggi daripada tinggi kolam ikan, kurang lebih sekitar 30 cm dari permukaan tanah.
  3. Buat kerangka kolam, kerangka ini dihubungkan ke setiap tiang yang telah ditancapkan. Agar lebih kuat, kerangka tersebut sebaiknya dipaku ke setiap tiang.
  4. Setelah kerangka kolam ikan siap, maka langkah selanjutnya adalah memasang plastik terpal sebagai tempat penampung air. Ukuran plastik terpal disesuaikan dengan ukuran kolam ikan. Jika menggunakan plastik terpal terlalu lebar maka akan menghabiskan banyak biaya. Plastik terpal tersebut dipasang di bagian dalam kerangka lalu diikatkan ke kerangka yang sudah dipasang. Agar lebih kuat, ikatan dibuat berjarak tidak lebih dari 20 cm, sehingga plastik terpal yang sudah terpasang dapat menahan beban air yang mendesak keluar kolam.
  5. Ketinggian air dalam kolam penetasan ikan antara 15-20 cm. Ketinggian tersebut dengan pertimbangan bahwa benih atau larva ikan masih berukuran sangat kecil. Sehingga diperkirakan cukup untuk menopang pertumbuhan benih atau larva lele hingga tahan budidaya pendederan. Selain itu, jika ketinggian air kolam penetasan lele terlalu tinggi, dikhawatirkan akan terjadi perbedaan atau perubahan suhu secara signifikan, sehingga benih atau larva lele banyak yang mati.

Perawatan Telur Ikan

Seperti telah dibahas sebelumnya, bahwa telur ikan pada kakaban harus segera diangkat, untuk menghindari telur tersebut dimakan oleh induknya saat kehabisan energi pasca pemijahan. Pengangkatan telur ikan pada kakaban harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak banyak telur terbuang. Kakaban dimasukkan pada kolam penetasan lele dengan posisi rata. Perhatikan bahwa saat meletakkan kakaban ke dalam kolam penetasan lele, seluruh permukaan kakaban harus terendam air sehingga seluruh telur ikan juga terendam dalam air. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya telur ikan yang tidak menetas karena berada di permukaan.
Selama proses penetasan telur ikan dan benih atau larva lele, harus dilakukan pengontrolan terhadap kolam agar binatang atau predator tidak masuk ke dalam kolam ikan. Predator pemangsa telur atau benih lele antara lain ular dan kodok. Jika predator tersebut masuk ke dalam kolam penetasan lele, bisa dipastikan akan banyak kehilangan telur atau benih lele.
Telur-telur ikan tersebut akan menetas dalam waktu 22-124 jam setelah pemijahan. Untuk mencukupi kebutuhan oksigen, usahakan ada sedikit aliran air, misalnya menggunakan selang aerator yang biasa digunakan pada aquarium. Selain untuk mencukupi kebutuhan oksigen, aliran air tersebut dimaksudkan untuk menjaga kualitas air agar tidak menimbulkan bau, karena kualitas air jelek serta berbau tidak sedap akan mengakibatkan benih lele mengalami kematian tinggi.
Benih lele yang baru menetas biasanya akan berkumpul di dasar kolam. Benih-benih ikan tampak berwarna kehijauan, kecokelatan, atau kehitaman. Setelah diperkirakan telur-telur lele sehat sudah menetas, kakaban harus segera diangkat, agar telur lele yang tidak menetas tidak membusuk dan mencemari air kolam. Jika air kolam ikan tercemar dan kualitasnya menurun maka hal tersebut dapat membahayakan keselamatan benih atau larva lele yang baru saja menetas.

d. Pemeliharaan Larva Lele Pada Budidaya Lele Pembenihan Tradisional

Dalam budidaya pembenihan lele secara tradisional ini, benih atau larva lele akan dipelihara pada kolam penetasan lele sekaligus sebagai kolam perawatan benih ikan. Benih-benih lele tersebut harus dirawat dan dipelihara dengan baik. Perawatan dan pemeliharaan benih lele terutama dilakukan dengan cara menjaga kualitas air agar tetap baik dan mencukupi kebutuhan pakan ikan.
Pada budidaya lele tradisional ini, untuk menjaga kualitas air, maka perlu dilakukan penggantian air kolam setiap dua hari sekali, atau dengan mempertimbangkan tingkat penurunan kualitas air. Penggantian dilakukan dengan cara membuang seperempat bagian air kolam ikam, kemudian diisi kembali mengunakan air baru.
Pemberian pakan ikan pada benih atau larva lele dilakukan setelah benih tersebut berumur tiga hari setelah menetas. Selama tiga hari pertama, benih lele masih mengandalkan cadangan makanan berupa kuning telur (terdapat pada tubuhnya). Pemberian pakan ikan tambahan setelah benih lele berumur tiga hari disesuaikan dengan ukuran mulut benih. Pakan ikan tambahan paling sesuai diberikan pada fase ini adalah pakan alami, yaitu berupa pakan hidup dan plankton. Salah satu pakan hidup yang disukai benih atau larva lele adalah kutu air atau lebih dikenal dengan sebutan (Daphnia sp.). Di samping kutu air, pakan alami lain yang cocok untuk benih lele adalah cacing sutera.
Pemberian pakan ikan tambahan tersebut harus dilakukan secara terukur, tidak berlebihan, dan diberikan sebanyak dua kali sehari pada pagi dan sore hari. Pemberian pakan ikan secara terukur akan menjaga kualitas air tetap baik. Pakan ikan tambahan untuk benih lele kecil lebih diutamakan berupa pakan alami. Kelebihan pakan alami ini adalah memiliki nutrisi cukup lengkap jika dibanding dengan pakan ikan buatan.
Pakan alami benih lele berupa kutu air (Daphnia sp.) dapat diperoleh dari comberan atau genangan air. Penangkapan kutu air (Daphnia sp.) menggunakan scopnet berukuran kecil. Sebelum diberikan, kutu air (Daphnia sp.) harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran atau lumpur yang menempel. Sementara itu, pakan alami benih lele berupa cacing sutera dapat diperoleh dengan cara melakukan penangkapan cacing sutera tersebut pada saluran pembuangan air yang banyak mengandung bahan organik, seperti sisa makanan rumah tangga. Saluran air atau comberan biasanya banyak terdapat cacing sutera.
Pada budidaya lele tradisional ini, benih lele dipelihara selama 2-3 minggu dalam kolam penetasan ikan, dan selanjutnya benih-benih ikan tersebut dipindahkan dan didederkan di kolam pendederan lele. Kolam pendederan lele ini bisa menggunakan kolam tembok atau jaring apung (japung). Pemanenan benih ikan dilakukan pada pagi atau sore hari saat suhu masih rendah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya stres pada benih. Benih lele yang ditetaskan menggunakan kolam plastik, cara pemanenannya cukup praktis, yakni hanya cukup mengangkat beberapa sudut dari plastik tersebut. Dengan cara ini, secara perlahan-lahan air di dalam kolam pemeliharaan benih ikan akan terbuang atau berkurang dan benih lele akan berkumpul di salah satu sudut. Di sudut pembuangan dipasang scop net, dimana scop net ini berfungsi untuk menampung benih ikan yang terbawa aliran air. Selanjutnya scop net diangkat dengan hati-hati dan benih ikan dipindahkan pada budidaya tahap pendederan. Untuk setiap ekor induk dengan berat sekitar 500 gram akan diperoleh benih lele sebanyak 10.000-15.000 ekor.

BUDIDAYA LELE (TERNAK LELE)

Budidaya Lele (Ternak Lele) - Ikan lele merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki potensi serta peluang bisnis cukup menjanjikan. Disamping cara budidaya lele cukup mudah, komoditas perikanan ini juga sangat digemari oleh berbagai kalangan. Seperti kita ketahui bersama, bahwa hampir semua kios-kios penjual pecel lele selalu dipadati oleh pengunjung. Hal ini membuktikan bahwa cita rasa masyarakat terhadap komoditas ikan lele cukup tinggi. Selain harganya murah, tekstur daging maupun kelezatannya secara umum cukup istimewa.

PELUANG BUDIDAYA LELE

Berternak ikan lele mempunyai peluang usaha cukup menjanjikan mengingat selera konsumen sangat tinggi akan jenis ikan ini. Beberapa kelebihan dari komoditas ikan lele diantaranya adalah tekstur dagingnya cukup kenyal, tidak banyak tulang diantara dagingnya sehingga memudahkan orang saat sedang mengkonsumsinya, ikan lele juga memiliki kandungan protein cukup tinggi (bisa dijadikan sebagai salah satu sumber protein alternatif). Disamping harganya terjangkau, juga memiliki cita rasa cukup enak, sehingga banyak digemari masyarakat. Dengan berbagai kelebihan tersebut, tidak mengherankan jika semakin hari permintaan ikan lele semakin meningkat. Apalagi sekarang banyak dijual produk-produk makanan olahan berbahan dasar lele, hal tersebut tentunya akan semakin meningkatkan konsumsi masyarakat akan ikan lele.
Tingginya permintaan konsumen, baik lokal maupun internasional, menjadikan potensi agribisnis budidaya ikan lele semakin terbuka lebar dari hari ke hari. Melihat fenomena ini, tidak mengherankan jika masyarakat berbondong-bondong mulai mencoba menjalankan bisnis ternak ikan lele. Disamping peluang pasar cukup besar, kegiatan budidaya juga dapat dilakukan oleh setiap orang, karena teknik budidaya lele yang diterapkan cukup mudah serta kebutuhan modal selama proses budidaya juga tidak begitu tinggi.
Usaha budidaya ikan lele selain dapat dilakukan sebagai salah satu usaha utama, juga dapat dijadikan sebagai usaha sampingan. Salah satu faktor paling menentukan keberhasilan usaha budidaya lele ini adalah kedisiplinan. Oleh karena itu, jika kegiatan budidaya lele akan dijadikan sebagai usaha sampingan, sebaiknya peternak lele harus mencari tenaga kerja berkedisiplinan tinggi. Jika tidak, dikhawatirkan usaha budidaya akan terbengkelai sehingga berakibat terhadap kemungkinan terjadinya kegagalan dalam berternak. Selain disiplin, penguasaan teknik dan cara budidaya lele yang benar juga menjadi faktor penting selama proses budidaya, terutama harus dikuasai oleh peternak lele. Jika kedua faktor telah dipenuhi maka besar kemungkinan usaha ternak ikan lele akan menuai hasil tinggi.

LINGKUP KEGIATAN BUDIDAYA LELE




Ternak ikan lele merupakan kegiatan agribisnis perikanan (pertanian dalam arti sempit) yang menitikberatkan pada usaha produksi ikan lele mulai dari pembenihan hingga masa panen. Berdasarkan bentuk kegiatannya, budidaya ikan lele dibagi beberapa subsektor, yaitu budidaya lele subsektor pembenihan, pendederan, maupun subsektor pembesaran lele. Pada budidaya subsektor pembenihan ikan lele, orientasi kegiatan budidaya terutama bertujuan menghasilkan benih yang akan dipelihara di subsektor pendederan lele. Sedangkan budidaya lele subsektor pendederan berorientasi menyediakan benih lele siap dipelihara di kolam pembesaran. Sementara itu, budidaya lele subsektor pembesaran memiliki orientasi kegiatan menghasilkan produk siap konsumsi.
Artikel ini akan membahas mengenai cara berternak lele secara umum, mulai dari teknik budidaya lele pembenihan sampai pembesaran ikan lele. Seperti telah dikatakan bahwa berternak ikan lele merupakan salah satu kegiatan budidaya perikanan yang perlu mendapat perhatian serius. Selain karena permintaan pasar sangat tinggi, baik konsumsi nasional maupun ekspor, kegiatan usaha budidaya lele juga bisa dilakukan di lahan sempit sehingga dapat mengoptimalkan lahan sempit di sekitar kita. Sebelum berternak ikan lele, sebaiknya perlu dipahami terlebih dahulu mengenai ikan lele itu sendiri. Hal tersebut terutama difokuskan pada karakteristik, morfologi, maupun kebiasaan hidup ikan, baik di dalam kolam pemeliharaan maupun di alam bebas. Namun, pada artikel ini kami tidak membahasnya lebih lanjut. Mengenai informasi seputar morfologi, syarat hidup, maupun kebiasaan hidup ikan, bisa dilihat pada artikel Mengenal Ikan Lele

BUDIDAYA LELE TAHAP PEMBENIHAN

Kegiatan ini memfokuskan kegiatan budidaya lele pada pengadaan benih atau larva ikan. Adapun faktor utama penentu keberhasilan adalah kualitas induk ikan. Oleh karena itu, sebelum melakukan kegiatan ternak ikan lele subsektor pembenihan ini, terlebih dahulu harus melakukan survey untuk menyediakan induk ikan lele berkualitas. Indukan berkualitas akan menghasilkan benih atau larva ikan berkualitas pula sehingga perolehan keuntungan menjadi lebih optimal.
Secara teknis, kegiatan budidaya lele subsektor pembenihan dapat dilakukan dengan menerapkan beberapa teknik atau sistem budidaya, yaitu secara tradisional, semiintensif, maupun intensif. Budidaya lele pembenihan secara tradisional pada dasarnya merupakan teknik budidaya lele dengan memanfaatkan potensi maupun sumberdaya apa adanya, selain itu teknologi budidaya yang diterapkan biasanya berdasarkan pengalaman peternak ikan secara turun temurun. Mengenai teknik budidaya pembenihan ikan lele tradisional juga telah kami ulas lebih terperinci dalam artikel lain, bisa Anda kunjungi artikel Budidaya Ikan Lele Pembenihan Secara Tradisional.
Sementara itu, pembenihan ikan lele secara semiintensif merupakan perpaduan dari teknik budidaya pembenihan lele secara modern atau intensif dengan teknik budidaya pembenihan lele tradisional. Pada kegiatan ini, peternak lele memanfaatkan potensi maupun sumberdaya seperti pada budidaya pembenihan ikan lele tradisional, tetapi teknik pelaksanaan kegiatan budidaya lele pembenihan sudah dilakukan secara intensif, terutama dalam hal proses pematangan gonad dari induk-induk ikan. Pada teknik budidaya pembenihan ikan lele semiintensif ini, peternak lele telah memanfaatkan kemajuan teknologi dengan cara penyuntikan kelenjar hipofisa pada induk-induk ikan. Untuk lebih jelasnya, telah kami ulas lebih terperinci dalam artikel lain, silahkan baca kunjungi Budidaya Ikan Lele Pembenihan Semiintensif.
Sedangkan teknik budidaya pembenihan ikan lele secara intensif merupakan kegiatan pembenihan lele yang dilakukan sepenuhnya memanfaatkan kemajuan teknologi, baik sumberdaya maupun teknik budidaya lele yang diterapkan. Berhubung kami belum bisa mengumpulkan referensi secara lengkap mengenai teknologi budidaya pembenihan ikan lele secara intensif, maka kami belum bisa menyajikan informasi tentang hal itu. Selain itu, dengan mempertimbangkan faktor kecukupan modal peternak, akan lebih rasional untuk menerapkan teknologi budidaya pembenihan ikan lele secara tradisional maupun semiintensif.

KEGIATAN BUDIDAYA LELE PENDEDERAN

Usaha ternak ikan lele tahap pendederan pada intinya merupakan kegiatan pemeliharaan lele mulai dari memelihara benih atau larva ikan berukuran 1-3 cm, yang dihasilkan dari kegiatan budidaya subsektor pembenihan ikan lele hingga mencapai ukuran 3-5 cm. Biasanya kegiatan budidaya lele tahap ini memerlukan waktu kurang lebih 2-3 minggu. Selain itu, teknik ternak ikan lele tahap pendederan biasanya meliputi beberapa kegiatan, diantaranya penebaran benih lele, pengaturan air, pemberian pakan tambahan, pengendalian hama dan penyakit ikan lele, serta kegiatan panen. Hasil panen tahap pendederan lele selanjutnya dipelihara lagi pada tahap pembesaran, proses ini bisa dilakukan baik di kolam terpal, kolam tanah, maupun kolam tembok (semen).

Penebaran Bibit Lele

Penebaran bibit lele tahap pendederan sangat rentan terhadap kematian, terutama diakibatkan stress maupun luka saat penangkapan atau pengangkutan ikan. Padat penebaran lele antara 500-700 ekor/m2. Sehingga untuk kolam seluas 10 m2 bisa ditebar bibit ikan sebanyak 5.000-7.000 ekor. Penebaran bibit lele harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar resiko dapat diminimalisir, berikut cara penebaran bibit ikan lele untuk mengurangi resiko stres maupun luka akibat pemanenan dan pengangkutan :
  • Pemindahan bibit lele sebaiknya dilakukan pagi hari atau sore hari saat suhu air belum terlalu tinggi. Tujuannya adalah untuk mempercepat proses adaptasi bibit lele tebaran di lingkungan barunya. Jika pemindahan bibit dilakukan saat siang hari, apalagi jika terik matahari tinggi, bisa dipastikan bibit ikan banyak mengalami stress yang mengakibatkan tingkat kematian sangat tinggi.
  • Pengambilan bibit lele dilakukan menggunakan jaring dengan ukuran net rapat serta lembut. Tujuannya adalah agar bibit ikan lele tidak banyak mengalami kerusakan sehingga menimbulkan stress saat dilakukan penangkapan. Penangkapan menggunakan jaring kasar dikhawatirkan akan melukai tubuh bibit. Jika tubuh atau kulit ikan mengalami gesekan dengan benda kasar bahkan sampai terjadi luka atau lecet, akan mempengaruhi daya hidup saat dipindahkan ke kolam pemeliharan lain.
  • Bibit ikan lele hasil tangkapan kemudian ditempatkan di wadah yang sudah diisi air dari kolam yang akan digunakan sebagai tempat penebaran larva atau benih. Penggunaan air pada kolam penebaran larva lele bertujuan meningkatkan daya adaptasi benih di tempat barunya. Jika jarak kolam pendederan tersebut tidak cukup jauh, maka bisa menggunakan wadah berupa ember. Namun bila jaraknya lumayan jauh, sebaiknya bibit ikan hasil tangkapan terlebih dahulu dikumpulkan dalam hapa agar sirkulasi oksigen tetap terjamin. Sedangkan pemindahannya bisa menggunakan kantong plastik berisi oksigen.
  • Setelah wadah cukup penuh, bibit lele segera dipindah ke kolam penebaran secara hati-hati. Cara penebarannya adalah, wadah dimasukkan dalam kolam pendederan perlahan-lahan sampai air kolam masuk ke dalam wadah. Dengan cara demikian bibit lele yang baru dipindahkan akan berenang keluar dari wadah dengan sendirinya. Cara tersebut cukup efektif untuk mengurangi resiko bibit ikan lele mengalami stres di lingkungan perairan barunya.

Cara Pengaturan Air

Kualitas air kolam pendederan ikan lele perlu dijaga, cara paling efektif adalah penggunaan air mengalir sistem paralon secara kontinyu dengan debit air tidak terlalu besar. Debit air terlalu besar justru kurang baik untuk pertumbuhan maupun perkembangan ikan lele.
Pada ternak ikan lele pendederan, kualitas air tidak terlalu cepat menurun. Hal ini dikarenakan ukuran ikan masih sangat kecil, sehingga kotoran dari ikan belum begitu banyak. Pakan tambahan diberikan sebanyak 3-5% dari jumlah total berat benih lele peliharaan. Pakan ikan tambahan diberikan dalam bentuk tepung. Pemberiannya sebanyak tiga kali, yaitu setiap pagi, siang serta sore hari. Pemberian pakan lele jangan sampai berlebihan, agar sisa pakan tidak mengendap. Pengendapan pakan ikan di dasar kolam dapat menurunkan kualitas air kolam.

Pemberian Pakan Tambahan

Bibit ikan berukuran 1-3 cm belum dapat makan pelet dalam bentuk butiran sehingga di minggu pertama tidak perlu diberikan pakan ikan tambahan. Bibit lele akan memakan pakan alami yang telah tersedia di kolam, seperti plankton, kutu air (Daphnia sp.) ataupun cacing sutra (Tubifex sp.) Untuk itu, usahakan agar kolam ikan mengandung banyak pakan alami, misalnya dapat memberikan pupuk kandang fermentasi saat pembuatan kolam ikan. Setelah ikan lele memasuki minggu kedua sampai ketiga perlu diberi pakan tambahan dalam bentuk tepung. Pakan ikan diberikan sebanyak tiga kali, tiap pagi, menjelang sore serta malam hari. Pemberian pakan tambahan dilakukan sedikit demi sedikit, sampai tidak ada lagi bibit ikan yang mengejar pakan (sekitar 3-5% dari berat total).

Pengendalian Hama dan Penyakit Lele

Pada tahap ini, peternak lele harus betul-betul memperhatikan kesehatan ikan dari ancaman hama dan penyakit pengganggu selama budidaya lele. Jika tidak diperhatikan, bisa jadi usaha budidaya lele kita tidak akan mencapai hasil optimal seperti harapan. Larva atau benih lele yang masih kecil belum memiliki daya tahan sebaik ikan remaja atau dewasa. Pada ukuran ini, benih sangat rentan baik terhadap perubahan lingkungan maupun serangan hama dan penyakit lele. Serangan hama ikan lele sebetulnya kurang signifikan, namun tetap memerlukan perhatian. Sebaliknya serangan penyakit baik disebabkan karena faktor eksternal maupun internal justru sangat perlu mendapat perhatian serius agar hasil produksi mencapai titik optimal.
Hama pengganggu selama berternak lele pendederan meliputi ular, burung, kadal, serta katak. Usahakan pencegahan terhadap serangan hama-hama tersebut supaya tidak mudah masuk ke dalam kolam ikan. Pencegahan dapat dilakukan menggunakan anyaman bambu untuk menutup permukaan kolam. Selain itu juga harus dilakukan sanitasi lingkungan di areal kolam, agar kehadirannya dapat ditekan. Bila hama telah terlanjur masuk, harus segera dikeluarkan dari kolam ikan.
Pencegahan penyakit selama budidaya lele bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan air serta pengaturan pH air. Kebersihan air perlu mendapat perhatian serius, karena jika air kolam kondisinya kotor, baik akibat pemberian pakan ikan secara berlebihan maupun sisa-sisa kotoran ikan, akan berpotensi menimbulkan serangan penyakit. Selain itu, usahakan nilai pH air tetap dalam kondisi optimal untuk menopang pertumbuhan benih atau larva lele, yaitu berkisar antara 6,5-6,8. Jika nilai pH air terlalu rendah, bisa ditambahkan kapur pertanian sesuai tingkat kebutuhan. Pengukuran nilai pH air bisa menggunakan kertas lakmus ataupun pH tester.
Apabila bibit lele menunjukan tanda-tanda terserang penyakit (terutama jamur), bisa diberikan malachite green oxalite 1-5 ml atau methylene blue 10 ml per 1 meter kubik air.

Seleksi Bibit Lele Hasil Panen

Setelah berumur 18 hari bibit ikan lele diseleksi menggunakan ayakan bibit berukuran 3-5 cm. Ayakan bibit dapat berupa ember atau alat lain yang diberi lubang berukuran sebesar lingkaran tubuh bibit. Bibit ikan yang terlepas dari ember menunjukkan bahwa bibit tersebut tidak lolos seleksi, karena ukurannya masih terlalu kecil. Selanjutnya bibit lele tersebut kembali dimasukkan ke dalam kolam pemeliharaan agar mencapai ukuran sesuai kehendak. Sedangkan bibit lele yang tersisa di ember merupakan bibit lolos seleksi atau telah mencapai ukuran 3-5 cm. Bibit-bibit ikan berukuran 3-5 cm dapat dipanen untuk selanjutnya dibesarkan pada budidaya lele pendederan tahap kedua, atau bisa juga dapat langsung dijual di pasar. Bibit tersebut merupakan bibit ikan lele berkualitas tinggi karena memiliki kecepatan pertumbuhan tinggi. Oleh karena itu, bibit lele hasil seleksi pertama biasanya dijual oleh peternak lele dengan harga lebih mahal. Selain kecepatan pertumbuhannya, menggunakan bibit lele berkualitas juga dapat meningkatkan daya hidup selama masa pemeliharaan lele tahap berikutnya.
Seleksi kedua dilakukan saat bibit ikan lele telah dipelihara selama 21 hari. Kualitas bibit sedikit di bawah bibit ikan lele hasil seleksi pertama. Bibit ikan yang tidak lolos seleksi pertama maupun kedua merupakan bibit sisa. Bibit sisa ini dapat terus dibesarkan hingga mencapai ukuran 3-5 cm. Akan tetapi kualitas bibit ikan sisa tentunya tidak begitu baik.
Kegiatan berternak lele pendederan tahap kedua tidak berbeda jauh dengan ternak ikan lele pendederan tahap pertama, hanya kepadatan penebaran harus dikurangi menjadi 250-300 ekor/m2. Pemeliharaan bibit lele tahap ini dilakukan sampai bibit ikan telah mencapai ukuran 8-12 cm.

BUDIDAYA LELE TAHAP PEMBESARAN

Pada budidaya lele tahap pembesaran dapat dilakukan baik di kolam terpal maupun permanen. Secara umum, teknik pemeliharaan pada kegiatan budidaya ini, baik di kolam terpal, permanen atau semipermanen tidak jauh berbeda. Hal paling mendasar penyebab perbedaan tersebut adalah pembuatan kolam pemeliharaan. Teknik membuat kolam ikan secara permanen dapat dilihat lebih lengkap pada artikel kami Cara Membuat Kolam Ikan. Sedangkan cara pembuatan kolam terpal secara sederhana akan sedikit kami uraikan di bawah ini.

Budidaya Lele Pembesaran Kolam Terpal

Berternak lele tahap pembesaran merupakan upaya budidaya lele sampai ukuran layak konsumsi. Biasanya dari berat 1 ons sampai 1 kg per ekor. Pada dasarnya metode budidaya lele tahap ini merupakan solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan sempit, modal kecil, serta daerah minim air. Ikan lele merupakan ikan yang memiliki beberapa keistimewaan dan banyak diminati orang. Salah satunya adalah kemampuannya bertahan hidup meskipun di perairan kurang baik. Oleh karena itu, ternak ikan lele menjadi salah satu solusi bagi daerah-daerah dengan irigasi kurang baik.
Secara teknis, berternak lele kolam terpal tergolong mudah. Selain tidak memerlukan air dalam jumlah banyak, ikan juga relatif tahan terhadap serangan penyakit. Pengaturan suhu air maupun pemberian pakan ikan dalam jumlah cukup merupakan kunci keberhasilan budidaya. Selain lebih mudah dipelihara, lele juga memiliki pertumbuhan lebih cepat. Meskipun hidup dalam kondisi air “buruk” masih mampu bertahan hidup bahkan berkembang baik sehingga solusi berternak ikan lele kolam terpal menjadi alternatif pilihan. Ternak ikan lele dumbo sistem kolam terpal mendatangkan peluang usaha cukup menjanjikan serta tidak memerlukan modal besar. Analisis usahatani ikan lele dapat dilakukan dalam berbagai model baik untuk konsumsi maupun pembibitan.
Persiapan Pembuatan Kolam Terpal
Persiapan yang dapat dilakukan untuk budidaya lele kolam terpal meliputi persiapan lahan kolam, material terpal, serta perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan disesuaikan dengan keadaan maupun kapasitasnya. Untuk budidaya lele tahap pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 2 x 1 x 0.6 meter. Model pembuatan kolam dapat dilakukan dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau membuat rangka dari kayu kemudian diberi terpal. Cara pertama membuat terpal tahan lebih lama.
Penebaran Bibit Lele untuk Kolam Terpal
Pengisian air kolam dilakukan secara bertahap. Saat penebaran, pengisian air hanya setinggi 40 cm agar bibit lele tidak terlalu sulit saat mengambil oksigen. Penebaran bibit ikan untuk kolam terpal adalah bibit berukuran 5-7 cm dengan kepadatan 40 ekor/m2. Waktu pemeliharaan antara 2-4 bulan, tergantung ukuran panen yang dikehendaki.

Pemeliharaan Ikan Lele

Secara teknis, pemeliharaan ikan pada budidaya lele tahap pembesaran meliputi beberapa kegiatan, diantaranya pengaturan air, pemberian pakan ikan, serta pengendalian hama dan penyakit ikan lele. Saat ikan berumur tujuh hari, ketinggian air perlu ditambah menjadi 50 cm. Ada baiknya disediakan rumpon atau semacam perlindungan karena ikan lele merupakan jenis ikan yang senang bersembunyi di daerah tertutup.
Pemberian pakan ikan dilakukan sehari tiga kali, tiap pagi, siang, maupun sore hari. Pakan ikan tambahan diberikan sedikit demi sedikit sampai tidak ada lagi ikan yang mengejar pakan. Jika di lingkungan tersedia pakan alami seperti bekicot, kerang, keong emas, rayap dll, bisa diberikan makanan alami tersebut. Makanan alami selain bisa menghemat pengeluaran juga memiliki kandungan protein tinggi untuk membantu mempercepat pertumbuhan ikan.

Pemberian Pakan Alternatif Ikan Lele

Pakan merupakan salah satu faktor input terbesar yang akan meningkatkan biaya produksi agribisnis ternak ikan lele. Mengandalkan pakan ikan dari pabrik saja, tentu akan mengakibatkan pembengkakan biaya. Hal ini sangat terkait dengan peran pakan sebagai salah satu faktor utama penentu keberhasilan budidaya. Oleh karena itu, sebagai petani atau peternak lele yang berorientasi mendapatkan keuntungan besar di setiap kegiatan budidaya, maka dibutuhkan kreatifitas dalam menekan biaya pemeliharaan. Salah satu upaya penekanan ini adalah menekan biaya pembelian pakan ikan. Oleh karena itu, pemberian pakan alternatif harga murah serta mudah didapat perlu dilakukan selama berternak lele.
Pakan ikan alternatif harus memiliki nilai gizi yang cukup tinggi agar mampu menopang pertumbuhan ikan selama masa pemeliharaan. Di lingkungan sekitar lokasi budidaya lele, biasanya terdapat berbagai jenis pakan alternatif berkualitas, tidak kalah dibanding pakan ikan hasil industri. Oleh karena itu, ada baiknya ketika menentukan lokasi budidaya juga mempertimbangkan kebutuhan pakan alternatif di lingkungan setempat. Jika di lingkungan sekitar tersedia berbagai sumber pakan alternatif melimpah, bisa dipastikan peternak lele akan mendapatkan keuntungan lebih besar. Apalagi jika nutrisinya mampu mengimbangi pakan ikan industri, maka biaya pemeliharaan untuk pembelian pakan ikan bisa dipangkas habis.

Pertimbangkan Nutrisi Ikan

Pemberian pakan ikan akan menjadi faktor utama dalam menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan. Bagi peternak lele profesional, tentu saja harus mempertimbangkan nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan lele peliharaannya, sehingga baik pertumbuhan maupun perkembangannya dapat seoptimal mungkin agar mencapai kesuksesan dalam berternak lele. Oleh karena itu, saat melakukan pemberian pakan ikan juga harus mempertimbangkan kecukupan nutrisi ikan.
Beberapa hal terkadang diabaikan oleh peternak lele, padahal penting diketahui yaitu mengenai kebutuhan nutrisi ikan ini. Apalagi jika kegiatan budidaya lele mengandalkan pemberian pakan alternatif untuk menopang pertumbuhan maupun perkembangan ikan, bisa jadi pakan alternatif tidak mempertimbangkan kecukupan nutrisi. Oleh karena itu, pengetahuan tentang nutrisi ikan menjadi sangat penting selama berternak lele, bahkan sebaiknya dikuasai peternak lele profesional.
Meskipun ikan lele mampu bertahan hidup dalam kondisi air kurang baik, namun pada kegiatan ternak ikan lele intensif perlu adanya kegiatan menjaga kualitas air agar kondisinya tetap optimal untuk pertumbuhan. Penggantian air dilakukan seminggu sekali, kurang lebih 10-30% dari volume air kolam, agar kolam tidak terlalu kotor serta untuk mengurangi serangan penyakit. Penyakit ikan lele mudah menyerang ketika kondisi air terlalu kotor.
Seleksi ikan dilakukan saat lele berumur satu bulan. Biasanya ikan ini mengalami pertumbuhan tidak sama, sehingga harus segera dipisahkan. Jika dibiarkan, ikan berukuran kecil akan kalah bersaing berebut makanan. Selain itu, pemisahan juga dilakukan terhadap ikan lele yang terindikasi terserang penyakit agar mencegah penularan. Dengan perlakuan serta penanganan tepat dan disiplin, maka tingkat keberhasilan usaha budidaya lele semakin besar.

Pemanenan

Panen merupakan kegiatan akhir yang dinanti-nantikan oleh para peternak lele. Kegiatan panen adalah kegiatan memetik hasil setelah melalui serangkaian proses usaha budidaya panjang. Pada kegiatan ini, peternak lele akan menantikan hasil jerih payahnya selama proses budidaya lele. Keberhasilan usaha ternak ikan lele yang dijalankan dapat diukur dari seberapa besar perolehan hasil panennya.
Ikan lele dapat dipanen saat berumur dua bulan. Pada umur ini, ikan lele telah siap untuk dikonsumsi. Panen saat berusia dua bulan akan menghasilkan ukuran ikan ideal untuk memenuhi permintaan pasar terutama warung pecel lele. Tetapi jika menghendaki ukuran lebih besar, maka proses budidaya lele bisa dilanjutkan lebih lama lagi, yaitu hingga 3-4 bulan.
Meskipun demikian, sebaiknya ukuran panen disesuaikan permintaan pasar, sehingga peternak lele tidak kesulitan ketika memasarkan hasil panennya. Jangan sampai hasil panen lele mengalami kesulitan pemasaran hanya karena ukuran ikan tidak dikehendaki konsumen, sehingga akan mempengaruhi harga jual. Hal ini tentunya dapat berakibat terhadap penurunan keuntungan usahatani lele secara signifikan karena ukuran sesuai permintaan biasanya memiliki nilai ekonomis lebih tinggi.

Demikian informasi terbaik yang dapat kami sajikan, semoga artikel budidaya lele (ternak lele), bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro!

ARTIKEL POPULER