Tampilkan postingan dengan label CABE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CABE. Tampilkan semua postingan

CARA MENANAM CABE DALAM POT

Bagaimana cara menanam cabe dalam pot? Bagi anda para ibu rumah tangga yang kreatif, pertanyaan ini akan muncul di benak Anda. Bagaimana memanfaatkan lahan sempit di rumah agar lebih berdaya guna? Menanam cabe dalam pot selain bertujuan memanfaatkan lahan terbatas, secara ekonomi juga dapat menghasilkan keuntungan tinggi. Budidaya cabe secara intensif juga diperlukan ketika kita berorientasi profit, sehingga cara menanam cabe dengan benar, mulai dari penanaman cabe, pemeliharaan tanaman cabe hingga pengendalian hama dan penyakit cabe perlu dipelajari. Seperti saat kita menanam cabe di lahan, keberhasilan budidaya cabe dalam pot dipengaruhi bagaimana cara menanam cabe yang benar, selain harga jual cabe tentunya. Menanam cabe dalam pot umumnya dilakukan untuk mengoptimalkan lahan sempit, seperti di pekarangan rumah maupun green house dengan lahan terbatas. Namun, sebenarnya jika budidaya cabe dilakukan di area pertanian, menanam cabe dalam pot ini justru dapat menghasilkan keuntungan tinggi asalkan kita dapat melakukan perawatan tanaman cabe dengan benar.

Ada beberapa keuntungan yang didapatkan saat kita menanam cabe dalam pot untuk skala besar, antara lain:
1. Menanam cabe dalam pot dapat mingkatkan nilai manfaat lahan. Lahan dapat ditumpangsari dengan tanaman pendek yang berumur pendek juga, seperti buncis bayi (baby bean), caisim, bayam cabut, kangkung, kubis, bunga kol, dll.
2. Menanam cabe dalam pot dapat meningkatkan kesehatan lahan. Lahan utama diberakan hingga minimal 3 bulan jika menanam cabe dalam pot dilakukan menggunakan sistem tumpangsari, dan 5 bulan jika tidak dilakukan tumpangsari. Hal ini dapat mengembalikan tingkat kesehatan tanah.
3. Jika menanam cabe dalam pot dilakukan di bekas bedengan, kemungkinan tergenangnya pangkal akar tanaman cabe relatif kecil, karena secara otomatis posisi tanaman cabe menjadi lebih tinggi.
4. Menanam cabe dalam pot dapat mengoptimalkan produksi cabe. Media tanam cabe lebih gembur karena komposisi media tanam dapat diatur. Tanah gembur mampu meningkatkan perkembangan akar tanaman cabe, sehingga penyerapan unsur hara menjadi lebih baik yang berakibat pada peningkatan hasil produksi cabe.

Bagi para petani cabe dengan modal kecil, pot yang dipakai untuk menanam cabe dapat menggunakan polybag, tas plastik (kresek=jawa) ukuran besar, maupun karung (bagor). Bagi yang memilih menanam cabe menggunakan tas kresek, usahakan menanam cabe menggunakan kresek warna hitam, atau minimal doreng hitam putih. Menanam cabe menggunakan media warna hitam bertujuan untuk menekan pertumbuhan gulma (gulma tidak mendapatkan sinar matahari).

TEKNIK DAN CARA MENANAM CABE DALAM POT

Pemahaman tentang iklim ideal untuk tanaman cabe, cara memilih bibit cabe unggul, persiapan media semai, perlakuan benih tanaman cabe, serta cara pengendalian hama dan penyakit tanaman cabe tidak akan kami bahas disini. Anda bisa melihat pada artikel kami lainnya yang membahas secara khusus malasah tersebut. Sebagai tambahan referensi, bisa juga dibaca artikel tentang budidaya cabe.



Syarat tumbuh tanaman cabe dalam pot sama seperti cara menanam cabe di lahan. Tanaman cabe membutuhkan tanah gembur supaya dapat berproduksi dengan baik, dengan kisaran pH 6,5-6,8.

Persiapan Media Tanam Cabe dalam Pot

Cara menanam cabe dalam pot atau polybag secara sederhana dapat dimulai dengan mempersiapkan media tanam, adalah sebagai berikut:
  • Pengadaan tempat media tanam cabe, bisa berupa pot, tas plastik warna hitam, maupun polybag.
  • Pengadaan pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik bisa berupa pupuk kandang, humus, maupun pupuk kompos. Sedangkan pupuk anorganiknya menggunakan pupuk NPK.
  • Pengadaan kapur pertanian untuk tanah masam. Cara mudah untuk mengetahui apakah jenis tanah yang dipakai terlalu masam atau tidak adalah dengan cara mengamati pertumbuhan alang-alang di areal lahan yang akan diambil tanahnya. Salah satu ciri tanah masam yaitu banyak ditumbuhi rumput alang-alang.
  • Cara pencampuran media tanah dan pupuk kandang untuk menanam cabe dalam pot perlu diperhatikan, terutama komposisinya. Perbandingan tanah dan pupuk kandang ideal 2:1 (Tetapi bisa juga 1:1 bagi petani peternak yang banyak memiliki pupuk kandang, atau mudah mendapatkan pupuk kandang dengan harga murah). Tambahkan kapur pertanian dan pupuk NPK sebanyak 100g. Aduk-aduk biar rata, lalu masukkan ke dalam pot.
  • Untuk menanam cabe dalam pot skala luas, letakkan pot dengan jarak 60x60 cm di atas tanah atau bedengan bekas budidaya tomat, budidaya terong, atau budidaya tanaman lainnya yang menggunakan bedengan. Jika menginginkan menanam cabe dengan sistem tumpangsari, pada lahan dapat ditanami tanaman pendek (sebaiknya berumur pendek juga). Kalau lahan yang digunakan untuk menanam cabe dalam pot adalah bekas budidaya tanaman hortikultura, tanaman penyela bisa langsung ditanam di lahan, tetapi jika pada lahan baru, sebaiknya dilakukan olah tanah dan pemupukan dasar sesuai jenis komoditas yang akan ditanam.
  • Buat lubang tanam seperti pada cara menanam cabe di lahan.

Cara Mempersiapkan Bibit dan Menanam Cabe dalam Pot

  • Sebelumnya buat rumah pembibitan, bisa menggunakan sungkup plastik untuk menghemat biaya.
  • Cara pembuatan media semai untuk tanaman cabe komposisinya sama seperti budidaya tanaman hotikultura, terutama yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Komposisi media semai cabe terbuat dari campuran 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g pupuk NPK yang sudah dihaluskan.
  • Penyemaian benih cabe. Cara menanam benih cabe ke dalam plastik semai agar efisien cukup menggunakan tangan kering, usahakan media untuk menanam benih cabe dalam keadaan lembab saja, jangan terlalu basah. Masukkan benih cabe satu per satu lalu tutup lagi menggunakan tanah tipis-tipis.
  • Pemeliharaan bibit cabe. Cara memelihara bibit cabe juga sama untuk bibit lainnya. Sungkup dibuka pukul 07.00-09.00, dan 15.00-17.00. Penguatan tanaman penting untuk diperhatikan agar bibit cabe lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru setelah pindah tanam, cara penguatan tanaman cabe dengan membiarkan bibit cabe terkena sinar matahari penuh selama 5 hari menjelang waktu menanam. Tetapi saat malam hari, sungkup harus ditutup lagi agar terhindar dari serangan hama dan penyakit cabe, terutama hama ulat. Siram bibit cabe setiap pagi hingga basah agar saat sore hari bibit cabe tidak kekurangan air. Namun, jika terik matahari terlalu panas, sore hari bisa disiram lagi, tetapi jangan terlalu basah. Cara ini penting diperhatikan untuk mengurangi tingkat kelembaban di malam hari. Penyemprotan pestisida pada bibit cabe dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai) dengan dosis cukup ½ dari dosis dewasa.
  • Pindah tanam. Bibit cabe yang telah memiliki 4 helai daun sejati siap dipindah tanam ke dalam pot atau polybag. Cara menanam bibit cabe sama seperti menanam cabe di lahan.
  • Setelah bibit cabe dipindah tanam ke dalam pot, segera lakukan pemasangan ajir. Cara memasang ajir sedini mungkin bertujuan untuk menghindari kerusakan akar cabe, sehingga diharapkan tidak ada luka akar yang dapat menyebabkan infeksi sekunder (terhindar dari penyakit akar).

Cara Memelihara Tanaman Cabe dalam Pot

Cara memelihara tanaman cabe dalam pot sebetulnya sama seperti cara menanam cabe di lahan, kecuali sanitasi lahan. Secara garis besarnya sebagai berikut:

Cara Menyulam Tanaman Cabe

Seperti pada cara menanam cabe di lahan, penyulaman dilakukan sampai umur tanaman cabe 3 minggu. Jika tanaman cabe mati karena penyakit akar, seperti misalnya rebah semai, usahakan tanah di sekitar lubang tempat menanam cabe dibuang secukupnya.

Cara Merempel dan Mengikat Tanaman Cabe

Cara melakukan perempelan dilakukan pada daun cabe tua dan tunas samping. Cara merempel daun cabe dan tunas samping sama seperti cara menanam cabe di lahan. Perempelan daun cabe tua dan terserang hama penyakit ini dilakukan ketika tanaman cabe memasuki umur 80 hst (hari setelah tanam).

Sanitasi Lahan

Cara melakukan sanitasi lahan untuk budidaya cabe dalam pot lebih mudah dilakukan, yaitu dengan cara mencabut gulma yang tumbuh di dalam pot. Untuk budidaya cabe sistem tumpangsari, cara membersihkan gulma tanaman penyelang sesuai dengan cara pemeliharaan untuk tanaman yang ditumpangsarikan.

Cara Mengairi Tanaman Cabe

Cara mengairi tanaman cabe dalam pot tidak sama seperti saat menanam cabe di lahan. Pengairan tanaman cabe ini dengan cara menyiram tanaman setiap 2-3 hari sekali saat tidak turun hujan. Pada budidaya cabe skala luas, cara mengairi tanaman cabe bisa dilakukan pengeleban untuk memudahkan mendapatkan air. Saat pengeleban tersebut, air dapat disiramkan ke dalam pot. Hindari pengeleban dan penyiraman tanaman cabe pada waktu siang hari untuk menghindari penguapan tinggi.

Cara Melakukan Pemupukan Susulan

Pupuk Akar diberikan dengan cara pengocoran setiap 5 hari sekali, mulai tanaman cabe berumur 5 hst sampai 105 hst. Saat umur tanaman cabe 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 hst dikocor menggunakan pupuk NPK dengan dosis 1kg NPK 15-15-15 yang dilarutkan ke dalam 200 lt air. Larutan ini untuk 1000 tanaman, masing-masing tanaman cabe mendapatkan kocoran sebanyak 200 ml. Saat tanaman cabe berumur 35 hingga 60 hst (interval 5 hari) dikocor menggunakan pupuk NPK dengan dosis 2kg NPK 15-15-15 yang dilarutkan ke dalam 200 lt air. cara ini untuk 1000 tanaman, masing-masing tanaman cabe 200 ml. Selanjutnya, memasuki usia 65 hingga 105 hst juga dikocor menggunakan pupuk NPK, dengan cara dan interval yang sama larutkan 3kg NPK 15-15-15 ke dalam 200 lt air.
Selain pupuk akar, untuk mempercepat pertumbuhan dan pembuahan tanaman cabe, perlu juga diaplikasikan pupuk daun. Cara aplikasi pupuk daun ini melalui penyemprotan, bisa bersamaan pada waktu melakukan penyemprotan pestisida. Tanaman cabe dalam pot membutuhkan nitrogen tinggi untuk pertumbuhan saat tanaman cabe berumur 14 dan 21 hst. Sedangkan saat pembuahan, tanaman cabe membutuhkan pupuk kandungan phospat, kalium dan pupuk mikro tinggi. Cara aplikasinya juga bisa bersamaan saat penyemprotan pestisida, diberikan ketika tanaman cabe berumur 35 dan 75 hst.

CARA MENGENDALIKAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN CABE DALAM POT

Cara pengendalian hama dan penyakit tanaman cabe dalam pot bisa mengadopsi cara pengendalian hama dan penyakit tanaman cabe pada budidaya cabe di lahan.

PANEN CABE DALAM POT

Cara memanen Cabe di pot sama seperti menanam cabe di lahan, buah cabe dipanen saat umur tanaman cabe antara 90-110 hst. Buah cabe yang dipanen adalah buah cabe 80% masak.

Persiapan Media Semai Pada Budidaya Cabai dan Tomat

Untuk menghasilkan kualitas bibit tanaman berkualitas, maka perlu dipersiapkan media semai yang baik. Pada dasarnya, media semai dari tanah di sekitar pohon bambu sangat baik dignakan untuk persemaian. Disamping kandungan phospornya tinggi, humus daun bambu juga menjadi media yang baik untuk trichoderma, sehingga bisa mengurangi tingkat serangan patogen saat di persemaian. Selain itu, tanah di sekitar pohon bambu juga biasanya remah dan gembur.

Jika tanah sekitar pohon bambu sulit di dapat, maka bisa menggunakan tanah gembur lain. Pada musim kemarau, persiapan tanah sebagai media semai tidak mengalami kendala yang berarti. Namun, pada saat musim hujan, sebaiknya tanah dipersiapkan satu bulan sebelum penyemaian benih. Hal ini perlu dilakukan agar tanah lebih kering, sehingga lebih mudah untuk dimasukkan dalam kantong plastik. Tanah sebanyak 1 m³, bisa digunakan untuk mengisi polibag atau kantong plastik berukuran 8 x 10 cm sebanyak 300 buah.

Sebelum digunakan sebagai media semai, tanah sebaiknya diayak dengan saringan pasir terlebih dahulu, agar benar-benar halus sehingga memudahkan petumbuhan dan perkembangan perakaran bibit.

Komposisi media semai




Komposisi media semai adalah 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang fermentasi, dan 150 gram pupuk NPK 16-16-16 yang dihaluskan. Pencampuran dilakukan secara merata, pastikan bahwa tepung NPK sudah bercampur ke seluruh media. Pastikan tanah yang digunakan benar-benar kering dan halus, sehingga mudah untuk dimasukkan dalam polibag. Setelah itu, media dimasukkan ke dalam kantong pembibitan. Selain menggunakan polybag, tempat persemaian juga bisa menggunakan pot atau tray. Pengisian media semai jangan terlalu penuh, sekitar 90% dari permukaan atas kantong atau pot. Untuk mengurangi resiko serangan patogen, sebaiknya tambahkan jamur trichoderma sebagai agensia hayati atau perstisida biologi.

Setelah media semai siap, segera siram dengan air secukupnya. Jangan terlalu basah, karena dapat memicu tumbuhnya penyakit, seperti phytium debarianum, phytophtora capsici, atau rhyzoctonia solani. Sebelum benih dimasukkan, permukaan bagian tengah media semai diberi lubang tanam sedalam kurang lebih 8 cm. Pembuatan lubang tanam ini bisa menggunakan bambu berukuran pensil. Bambu ditusukkan ke media, kemudian diangkat pelan-pelan sambil sedikit diputar.

Perlakuan Benih Pada Tanaman Cabai, Tomat, dan Tanaman Hortikultura Lain

Perlakuan benih bertujuan untuk menghasilkan bibit tanaman berkualitas, mempercepat perkecambahan, dan membunuh bibit penyakit yang terbawa benih. Perlakuan benih dilakukan sebelum persemaian atau penanaman ke polibag. Pada artikel ini, kami akan menjelaskan 3 teknik perlakuan benih secara sederhana.

Perendaman dengan air hangat

Perlakuan ini bertujuan untuk mempermudah serta mempercepat perkecambahan benih. Benih direndam dalam air hangat selama 4-6 jam. Setelah itu, benih dibungkus dengan handuk atau kertas koran yang dibasahi. Kemudian diperam dalam kaleng atau kotak biskuit, di dalam kaleng tersebut diberi penerangan dengan lampu 15 watt. Penerangan tersebut bertujuan untuk meningkatkan suhu di dalam kaleng. Perlu diperhatikan, bahwa handuk atau kertas koran pembungkus benih harus selalu dijaga kelembabannya. Setelah muncul kecambah atau bakal akar, benih siap untuk ditanam di persemaian. Pada tanaman cabai atau tomat, benih biasanya berkecambah dalam waktu 3-4 hari.

Perendaman dalam larutan fungisida dan bakterisida




Sebelum disemai, benih terlebih dahulu direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif benomil dan bakterisida berbahan aktif streptomicyn sulfat. Konsentrasi larutan adalah 2 gram benomil dan 1 gram streptomicyn sulfat per liter air. Perendaman dilakukan selama 4-6 jam, kemudian benih diperam seperti pada perlakuan dengan air hangat.

Pengadukan benih dengan fungisida dan bakterisida dalam formulasi tepung

Karena perendaman dan pemeraman menyulitkan petani saat melakukan penyemaian, maka cara yang lebih praktis untuk perlakuan benih adalah dengan pengadukan dalam fungisida dan bakterisida dalam formulasi tepung. Cara ini lebih sering dilakukan oleh petani karena lebih efisien waktu dan memudahkan pekerjaan. Benih yang masih berada dalam kemasan dibuka dengan cara digunting pada bagian atasnya. Kemudian masukkan fungisida berbahan aktif benomil dan bakterisida berbahan aktif streptomicyn sulfat secukupnya. Kemudian kemasan yang telah digunting dilipat kembali, dan dikocok-kocok hingga seluruh permukaan benih dalam kemasan terlapisi oleh fungisida dan bakterisida yang telah dimasukkan. Setelah itu, benih siap ditanam di media persemaian.

Berdasarkan pengalaman penulis, perlakuan benih dengan cara kering atau pengadukan bukan hanya lebih efisien, tetapi juga lebih efektif untuk kesehatan tanaman selama dalam persemaian. Selain itu, penggunaan dua jenis pestisida yang bekerja secara sistemik tersebut dapat mengurangi tingkat serangan penyakit di persemaian.

Iklim Ideal Untuk Tanaman Cabai

Dalam kegiatan budidaya cabai, sebaiknya petani memperhatikan faktor iklim agar kegiatan budidaya yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Tanaman cabai akan tumbuh baik dan lebih produktif pada iklim-iklim tertentu. Dengan mengetahui faktor iklim, kita dapat membuat perencanaan produksi yang lebih tepat, sehingga dapat memperkecil resiko yang kemungkinan timbul. Faktor iklim yang perlu diperhatikan sebelum budidaya cabai dilaksanakan antara lain angin, curah hujan, cahaya matahari, suhu, dan kelembaban udara. Berikut ini penjelasan singkat mengenai faktor iklim tersebut.

Angin

Kondisi angin ideal untuk budidaya cabai adalah angin yang bertiup sepoi-sepoi. Angin sepoi-sepoi ini akan melindungi tanaman cabai dari terik sinar matahari, karena membawa uap air, sehingga penguapan tanaman lebih rendah dan berkurang. Pada musim hujan, dimana lebah penyerbuk tidak begitu banyak yang datang ke areal pertanaman, angin dapat membantu proses penyerbukan. Namun, angin yang bertiup terlalu kencang justru dapat merugikan tanaman cabai, ranting-ranting banyak yang rusak, bunga banyak yang rontok, atau bahkan dapat merobohkan tanaman. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk mengantisipasi konsisi iklim yang disebabkan oleh angin ini, seperti dengan memasang ajir, dan penanaman tanaman pagar untuk menghambat kecepatan angin. Tanaman pagar yang biasa digunakan untuk budidaya cabai diantaranya adalah kacang panjang, buncis, atau jagung, yang ditanaman mengelilingi araeal budidaya.

Curah Hujan




Secara umum, tanaman cabai memerlukan curah hujan antara 1.500-2.500 mm/tahun. Berdasarkan tipe iklim menurut Schimidt dan Fergusson, tanaman cabai dapat tumbuh dan berproduksi baik pada iklim dengan kriteria:

1. Daerah sangat basah, dengan 0-1.5 bulan kering.
2. Daerah basah, dengan 1,5-3 bulan kering.
3. Daerah agak basah, dengan 3-4,5 bulan kering.
4. Daerah sedang, dengan 4,5-6 bulan kering.

Curah hujan yang terlalu tinggi berpotensi mengakibatkan areal pertanaman tergenang, sehingga perakaran cabai akan kesulitan bernafas dan memicu serangan penyakit. Selain itu, juga dapat meningkatkan kelembaban udara di sekitar pertanaman. Hujan yang terlalu keras juga dapat membuat rontok bunga cabai sebelum diserbuki.

Untuk mengantisipasi resiko yang mungkin timbul akibat curah hujan terlalu tinggi diantaranya adalah:

1. Membuat parit
2. Menggunakan mulsa PHP
3. Bedengan lebih tinggi
4. Pengaturan jarak tanam

Cahaya Matahari

Bagi tanaman, cahaya matahari merupakan faktor yang sangat penting untuk proses fotosintesis, pembentukan bunga, pembentukan buah, dan pemasakan buah. Bagi tanaman cabai, kebutuhan akan intensitas sinar matahari sangat tinggi agar pembungaan dapat berlangsung dengan normal. Apabila kekurangan sinar matahari, tanaman cabai akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang tidak normal, tanaman cenderung meninggi, bunga yang dihasilkan tidak banyak, batang sukulen (berair) sehingga mudah terserang penyakit, umut panen lebih lama, sehingga kualitas dan kuantitas produksi akan berkurang. Tanaman cabai membutuhkan intensitas sinar matahari dengan lama penyinaran (fotoperiodisitas) optimal 10-12 jam sehari.

Suhu dan Kelembaban Udara

Untuk keberhasilan budidaya cabai, petani harus menentukan lokasi yang benar-benar tepat, sehingga suhu dan kelembaban optimal untuk perkembangan tanaman cabai dapat terpenuhi. Pada umumnya, tanaman cabai akan tumbuh dan berkembang baik pada suhu antara 25-30 derajat celcius, dengan suhu optimal untuk pertumbuhan antara 25-28 derajat celcius.

Suhu udara yang terlalu rendah akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, pembentukan kurang sempurna, pemasakan buah lebih lama, sehingga umur panen akan lebih panjang. Oleh sebab itu, lokasi budidaya cabai idealnya dilakukan di daerah dengan ketinggian di bawah 1.400 mdpl.

Sebaliknya, jika suhu udara terlalu tinggi, apalagi dengan pengairan yang kurang, maka akan menghambat suplai unsur hara, dan menyebabkan transpirasi (penguapan) pada tanaman terlalu tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan rontoknya bunga dan buah, atau buah yang terbentuk akan kecil-kecil tidak sempurna, serta pertumbuhan tanaman yang terhambat dan merana. Oleh sebab itu, jika budidaya dilakukan pada musim kemarau, sebaiknya dilakukan penyiraman atau penggenangan yang cukup dan penyemprotan tanaman secara rutin. Selain itu, suhu udara yang terlalu tinggi akan merangsang perkembangbiakan hama tanaman, sehingga interval penyemprotan insektisida juga harus dilakukan lebih pendek.

Untuk mendukung pertumbuhan yang optimal, tanaman cabai memerlukan kelembaban relatif 80% dengan sirkulasi udara yang lancar. Curah hujan yang terlalu tinggi akan meningkatkan kelembamban di sekitar tanaman, sehingga pertumbuhan penyakit akan jauh lebih tinggi.

Morfologi Cabai

Sebelum kita memutuskan untuk budidaya cabai, ada baiknya untuk terlebih dahulu mengetahui morfologi cabai, sehingga referensi kita terhadap tanaman perdu ini lebih lengkap. Cabai merupakan tanaman semusim (annual) yang berasal dari benua Amerika, tanaman berbentuk perdu, dengan batang berkayu dan berdiri tegak. Tinggi tanaman sangat bervariasi, tergantung pada varietas atau jenisnya, pada umumnya antara 65-170 cm, dengan lebar tajuk antara 50-100 cm.

Dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Plantarum), tanaman cabai tergolong jenis tanaman yang menghasilkan biji (Spermatophyta), dengan biji tertutup oleh bakal buah, sehingga tanaman ini digolongkan dalam tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae).

Tanaman cabai memiliki dua daun lembaga yang berarti tanaman ini memiliki biji belah, sehingga digolongkan dalam kelas dicotyledoneae. Bunga memiliki hiasan yang lengkap, yaitu kelopak dan mahkota, dengan daun-daun mahkota yang saling berdekatan satu sama lain, sehingga tanaman cabai masuk dalam subkelas Sympetalae. Termasuk dalam keluarga terung-terungan (Solanaceae) serta genus Capsicum.



Berikut ini adalah klasifikasi tanaman cabai:

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : icotyledoneae
Subkelas : Sympetalae
Ordo : Tubiflorae (Solanales)
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annum L.

Cara Memilih Bibit Cabai Unggul

Bibit cabai unggul akan sangat menentukan keberhasilan proses produksi. Bukan hanya pemupukan atau cara pengendalian hama penyakit saja yang dapat memberikan kontribusi kesuksesan pada usaha budidaya cabai, tetapi petani atau pembudidaya juga harus memilih bibit berkualitas.

Bibit cabai unggul dapat dilihat dari karakteristik induk dan pertumbuhannya. Bibit harus dihasilkan dari tanaman induk berkualitas, tahan serangan hama penyakit, dan mampu berproduksi tinggi. Tanaman induk juga harus sudah memiliki galur murni, sehingga bibit yang dihasilkan tidak bervariasi.

Bibit cabai unggul harus memiliki kriteria seperti yang dimiliki induknya, tingkat pertumbuhan cepat selama dalam persemaian. Bibit yang dihasilkan dari tanaman yang memiliki laju pertumbuhan cepat, akan menghasilkan tanaman cabai yang produktif. Tentu saja akan mempengaruhi keberhasilan agribisnis yang dijalankan.

Cara Memilih Bibit Cabai Unggul




  • Carilah bibit yang berasal dari tanaman induk berkualitas. Sebelum membuat bibit cabai, sebaiknya menentukan tanaman yang akan dijadikan sebagai induk. Tanaman induk harus memiliki kriteria sebagai tanaman unggul, seperti pertumbuhan cepat, vigor, mampu beradaptasi di berbagai lingkungan, memiliki daya tahan yang baik terhadap serangan hama penyakit, responsif terhadap pemupukan, mampu berproduksi tinggi, serta menghasilkan buah dengan kriteria yang dikehendaki.
  • Bibit harus dihasilkan dari buah yang benar-benar sudah tua, sehingga akan diperoleh biji yang benar-benar bernas.
  • Memiliki daya kecambah yang bagus.
  • Bibit harus memiliki pertumbuhan yang bagus selama dalam persemaian. Bibit dengan pertumbuhan bagus akan menghasilkan tanaman yang subur, sedangkan bibit yang mengalami keterlambatan pertumbuhan selama dalam persemaian, maka laju pertumbuhan setelah penanaman di lahan akan mengalami keterlambatan.
  • Pilih bibit yang sehat, tidak terserang hama penyakit.

Dengan menerapkan cara tersebut di atas, petani atau pembudidaya akan mendapatkan bibit yang mampu mendukung keberhasilan usaha budidaya cabai.

KRITERIA BIBIT CABAI UNGGUL

Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas produksi yang tinggi dalam usaha budidaya cabai, maka salah satu upaya perbaikan dalam teknik budidaya adalah dengan pemilihan varietas unggul. Bibit cabai yang memenuhi kriteria sebagai bibit unggul akan menghasilkan produksi lebih baik dibanding dengan menggunakan bibit cabai dari varietas biasa. Tanaman cabai yang memiliki sifat unggul adalah tanaman yang produktifitasnya tinggi, tahan serangan hama penyakit, masa berbuah cepat, frekuensi pemanenan lebih tinggi, memiliki bentuk seragam, dan memiliki daya simpan yang lama.

Lihat Mengenal Tanaman Cabai


Bibit cabai unggul memiliki produktifitas tinggi

Untuk memenuhi kebutuhan konsumen terhadap buah cabai yang terus meningkat, serta untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, maka dibutuhkan teknik budidaya cabe secara intensif, salah satunya adalah dengan penggunaan bibit cabai unggul yang memiliki produktifitas tinggi. Dengan pendekatan ini, diharapkan dalam areal budidaya yang sempit bisa dihasilkan produksi buah cabai yang tinggi. Hal ini tentu saja bisa diterapkan pada penanaman cabai yang dilakukan di pekarangan-pekarangan rumah, meskipun hanya bersifat hobi, atau hanya bersifat untuk memenuhi skala kebutuhan rumah tangga, namun jika menggunakan bibit cabai unggul dengan produktifitas tinggi maka hasil yang akan diperoleh juga tinggi.

Bibit cabai unggul memiliki daya tahan yang baik terhadap serangan OPT




Tanaman cabai merupakan tanaman rentan terhadap serangan hama penyakit atau organisme pengganggu tanaman (OPT). Bahkan tidak sedikit areal pertanaman cabai hancur terserang hama maupun penyakit. Oleh karena itu, penggunaan bibit cabai unggul yang memiliki daya tahan tinggi terhadap serangan hama penyakit akan memperkecil biaya produksi, terutama biaya terhadap kebutuhan pestisida, dan akan lebih berpeluang menghasilkan tanaman sehat, sehingga produktifitas tanaman akan tetap stabil.

Bibit cabai unggul memiliki umur panen pendek

Selain ketahanan terhadap serangan hama maupun penyakit, keberhasilan budidaya cabai juga bisa dipengaruhi oleh faktor umur panen. Tanaman cabai dengan umur panen lebih panjang akan memiliki resiko terserang hama dan penyakit lebih besar dibanding dengan tanaman cabai yang memiliki umur panen pendek (genjah). Selain itu, tanaman cabai dengan umur panen panjang juga akan lebih banyak membutuhkan pemeliharaan, sehingga biaya pemeliharaan semakin meningkat. Umur panen tanaman cabai selain dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, juga dipengaruhi oleh faktor genetik bibit cabai yang digunakan. Tanaman cabai yang ditanam di dataran rendah memiliki umur panen lebih pendek dibanding dengan tanaman cabai yang ditanam di dataran tinggi. Penggunaan bibit cabai unggul dengan umur panen pendek atau genjah, dapat meningkatkan peluang keberhasilan budidaya.

Bibit cabai unggul memiliki frekuensi pemanenan lebih tinggi

Jika frekuensi pemanenan bisa lebih tinggi maka peluang petani untuk mendapatkan hasil tinggi samakin terbuka. Faktor yang mempengaruhi frekuensi pemanenan diantaranya adalah keseragaman tingkat pemasakan buah, lokasi penanaman, perlakuan pemupukan atau penggunaan hormon tumbuhan (ZPT), dan pengendalian hama penyakit tanaman cabe. Bibit cabai unggul yang memiliki ketahanan terhadap serangan hama penyakit akan memiliki peluang untuk dipanen lebih lama. Dengan demikian produktifitas tanaman cabai tetap tinggi.

Bibit cabai unggul memiliki keseragaman bentuk tinggi

Keseragaman bentuk akan mempengaruhi permintaan konsumen terhadap buah cabai yang bersangkutan. Cabai yang memiliki keseragaman bentuk bervariasi biasanya lebih tidak disukai konsumen. Sehingga penggunaan bibit cabai unggul dengan keseragaman bentuk tinggi akan meningkatkan daya serap konsumen terhadap buah cabai. Dengan demikian, peluang untuk meningkatkan harga jual akan lebih terbuka.

Bibit cabai unggul memiliki daya simpan lebih lama

Buah cabai yang memiliki daya simpan lama akan lebih digemari konsumen dari pada buah cabai berdaya simpan pendek. Selain itu, penggunaan bibit cabai unggul dengan daya simpan lebih lama akan berpengaruh pada peningkatan harga jual buah cabai hasil panen. Dengan demikian, peluang petani untuk mendapatkan tambahan keuntungan juga lebih tinggi.

HAMA PENYAKIT TANAMAN CABAI

Artikel kali ini, kami akan mengulas Hama dan Penyakit Tanaman Cabai secara khusus, karena budidaya cabe berpotensi mencapai nilai ekonomis sangat tinggi. Sehingga pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai secara terpadu sangat diperlukan untuk mengurangi resiko kerugian yang lebih besar.

HAMA TANAMAN CABAI

Hama Gangsir (Brachytrypes portentosus)

Hama ini menyerang tanaman cabai muda saat malam hari. Serangannya dilakukan pada awal penanaman cabe ketika baru pidah tanam, Pada siang harinya, hama bersembunyi di dalam tanah. Gangsir membuat liang di dalam tanah sampai kedalaman 90 cm. Hama gangsir merusak tanaman cabai muda dengan cara memotong pangkal batang tapi tidak memakannya.
Upaya pengendalian : Taburkan insektisida berbahan aktif karbofuran pada lubang tanam sebanyak 1 gram.

Hama Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)




Hama ulat tanah menyerang tanaman cabai muda saat malam hari, ketika siang harinya ia akan bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Hama ulat tanah menyerang tanaman cabai dengan cara memotongnya, terutama pada batang cabai muda. Hama ulat ini juga dikenal dengan nama ulat pemotong karena kebiasaannya memakan batang cabai hingga terputus.
Upaya pengendalian : Taburkan insektisida berbahan aktif karbofuran pada lubang tanam sebanyak 1 gram, atau pemberian umpan beracun, yaitu dedak yang diberi insektisida berbahan aktif metomil, kemudian diberikan pada lubang tanam ketika sore hari. Pemberian umpan beracun cukup efektif untuk mengendalikan Agrotis ipsilon.

Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Hama ini menyerang bagian daun tanaman cabai secara bergerombol. Daun cabai yang terserang berlubang dan meranggas. Pada serangan parah, daun tanaman cabai hanya tinggal epidermisnya saja. Hama ulat grayak disebut juga dengan nama ulat tentara. Seperti halnya jenis hama ulat lain, hama ini menyerang tanaman cabai saat malam hari, sedang siang harinya beresembunyi di balik mulsa atau di dalam tanah. Hama ulat grayak bersifat polifag.
Upaya pengendalian : Penyemprotan pestisida insektisida berbahan aktif deltametrin, dimehipo, kartophidroklorida, klorpirifos, metomil, profenofos, atau sipermetrin.
Dosis : Lihat di kemasan.

Hama Ulat Buah (Helicoverpa sp)

Hama ulat buah yang menyerang tanaman cabai berasal dari spesies Helicoverpa sp. Hama ini menyerang buah cabai muda maupun tua dengan cara membuat lubang dan memakannya. Hama ulat Helicoverpa sp bersifat polifag.
Upaya pengendalian : Pengendalian hama ini dengan penyemprotan pestisida insektisida bahan aktif profenofos, metomil, klorpirifos, sipermetrin, kartophidroklorida, deltametrin, atau dimehipo.
Dosis : Lihat di kemasan.

Hama Thrips (Thrips parvispinus)

Thrips merupakan hama utama tanaman cabai. Serangannya ditandai adanya bercak keperak-perakanan di balik daun cabai. Daun tanaman cabai muda lebih disenangi hama ini, serangannya dengan cara menghisap cairan daun, akhirnya menyebabkan tanaman cabai menjadi keriting dan kerdil. Hama thrips berkembangbiak secara partenogenesis (tak kawin) sehingga populasinya berkembang sangat cepat. Selain bersifat polifag, hama thrips juga merupakan serangga vektor penular berbagai macam virus tanaman.
Upaya pengendalian : Pengendalian hama ini dengan penyemprotan pestisida insektisida bahan aktif abamektin, asetamiprid, imidakloprid, klorfenapir, lamdasihalotrin, sipermetrin, atau tiametoksam.
Dosis : Lihat di kemasan.

Hama Kutu Daun

Hama kutu daun pada tanaman cabai berasal dari spesies Myzus persiceae. Hama ini mengisap cairan tanaman cabai terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis sehingga mengundang semut. Serangan parah menyebabkan daun tanaman cabai mengalami klorosis (kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman cabai menjadi kerdil.
Upaya pengendalian : Pengendalian hama ini dengan penyemprotan pestisida insektisida bahan aktif abamektin, asetamiprid, imidakloprid, klorfenapir, lamdasihalotrin, sipermetrin, atau tiametoksam.
Dosis : Lihat di kemasan.

Hama Kutu Kebul

Hama kutu kebul pada tanaman cabai berasal dari spesies Bemisia tabaci. Hama memiliki sayap dan tubuh yang diselimuti serbuk berwana putih menyerupai lilih. Serangan kutu kebul pada tanaman cabai juga dengan cara menghisap cairan daunnya, yang akhirnya menyebabkan sel-sel dan jaringan daun cabe menjadi rusak.
Upaya pengendalian : Pengendalian hama ini dengan penyemprotan pestisida insektisida bahan aktif abamektin, asetamiprid, imidakloprid, klorfenapir, lamdasihalotrin, sipermetrin, atau tiametoksam.
Dosis : Lihat di kemasan.

Hama Tungau (Polyphagotarsonemus lotus) dan (Tetranychus cinnabarinus)

Hama tungau yang menyerang tanaman cabe ada dua jenis, yaitu tungau merah (Tetranychus cinnabarinus) dan tungau kuning (Polyphagotarsonemus lotus). Sama seperti halnya hama thrips, hama tungau juga menyerang dengan cara menghisap cairan daun, bahkan hama ini senang bersembunyi pada daun cabe bagian bawah. Daun tanaman cabai akhirnya berubah menjadi kecoklatan dan terpelintir. Jika daun dibalik, maka tampak diselimuti benang halus kemerahan atau kekuningan.
Upaya pengendalian : Pengendalian hama tungau dengan penyemprotan pestisida akarisida bahan aktif abamektin, amitraz, dikofol, fenpropatrin, klofentezin, piridaben, propargit, atau tetradifon.
Dosis : Lihat di kemasan.

Hama Lalat Buah

Hama lalat buah yang menyerang cabe adalah Dacus dorsalis. Lalat betina dewasa menyerang buah cabai dengan cara menyuntikkan telurnya, setelah menetas, telur-telur ini berubah menjadi larva yang memakan buah cabai, akhirnya buah cabai membusuk dan berjatuhan.
Upaya pengendalian : Pengendalian hama ini dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : masukkan metil eugenol ke dalam botol. Ikat dengan posisi horisontal botol aqua pada bambu, atau gunakan buah-buahan seperti nangka, timun yang aromanya disenangi lalat buah, campur dengan insektisida bahan aktif metomil. Atau semprot tanaman cabe menggunakan pestisida insektisida berbahan aktif deltametrin, dimehipo, kartophidroklorida, klorpirifos, metomil, profenofos, atau sipermetrin. Penyemprotan efektif dilakukan ketika pagi hari saat masih banyak embun sehingga sayap lalat masih basah tidak memungkinkan untuk terbang lepas.
Dosis : Lihat di kemasan.

Hama Nematoda (Meloidogyne incognita)

Serangan hama nematoda ditandai adanya daun tanaman cabai menguning, pertumbuhan tanaman terhambat, tanaman layu, serta ujung tanaman mati. Apabila tanaman cabai dicabut terdapat bintil-bintil pada akar tanaman cabai. Hama nematoda merupakan cacing parasit yang menyerang bagian akar tanaman cabe, berupa cacing yang sangat kecil. Luka akibat gigitan nematoda inilah yang akhirnya menyebabkan serangan penyakit sekunder penyebab layu, baik penyakit layu bakteri, layu fusarium, penyakit busuk phytopthora atau cendawan lain penyerang akar.
Upaya pengendalian : Taburkan insektisida berbahan aktif karbofuran di setiap lubang tanam (1 gr per tanaman).

PENYAKIT TANAMAN CABAI

Penyakit Rebah semai

Penyakit rebah semai menyerang tanaman cabai disebabkan oleh cendawan Pythium debarianum dan Rhizoctonia Solani. Serangannya biasanya dilakukan di fase pembibitan dan tanaman cabai muda setelah pindah tanam. Cendawan ini tergolong patogen tular tanah. Serangan penyakit rebah semai banyak terjadi ketika suhu rendah serta tanah masam. Serangan penyakit rebah semai di persemaian bisa mengakibatkan bibit tidak berkecambah atau tanaman cabai tiba-tiba rebah. Pada pangkal batang terdapat infeksi cendawan berwarna cokelat hitam kebasah-basahan.
Upaya pengendalian : Penyemprotan pestisida fungisida sistemik berbahan aktif asam fosfit, dimetomorf, kasugamisin, propamokarb hidroklorida, atau simoksanil, dan fungisida kontak berbahan aktif mankozeb, propineb, tembaga, tiram atau ziram.
Dosis : ½ dari dosis terendah di kemasan.

Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas sp)

Serangan penyakit layu bakteri disebabkan oleh bakteri Pseudomonas sp. Penyakit ini sering menggagalkan budidaya cabe. Penyakit layu bakteri banyak ditemukan di areal budidaya cabai dataran rendah. Tanaman cabai terserang mengalami kelayuan pada daun yang diawali dari daun-daun cabai muda. Bila batang, cabang atau pangkal batang tanaman cabai dibelah maka akan terlihat berkas pembuluh pengangkut berwarna cokelat tua dan membusuk. Umumnya sulit membedakan antara penyakit layu bakteri dan layu fusarium. Cara untuk membedakan sebagai berikut, ambil air jernih, potong secara melintang bagian tanaman cabai terserang, masukkan potongan tersebut ke dalam air. Tunggu beberapa menit, bila dari potongan tersebut keluar cairan berwarna putih, menyerupai asap, dapat dipastikan tanaman cabai terserang penyakit layu bakteri.
Upaya pengendalian : Pengendalian penyakit Pseudomonas sp. diantaranya meningkatkan pH tanah, penggiliran tanaman, memusnahkan tanaman cabai terserang, saluran pembuangan air harus betul-betul rapi, pastikan tidak ada air menggenang di areal pertanaman cabai, serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif asam oksolinik, kasugamisin, oksitetrasiklin, streptomisin sulfat, atau validamisin. Sebagai pencegahan, saat persiapan lahan berikan trichoderma dan lanjutkan pengocoran pestisida organik (misal wonderfat, super glio) saat tanaman cabe berumur 25, 40 dan 70 hst.
Dosis : Lihat di kemasan.

Penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum)

Cendawan ini berasal dari spesies Fusarium oxysporum. Tanaman cabai terserang mengalami kelayuan dimulai dari daun-daun tua, kemudian menyebar ke daun-daun muda dan menguning. Secara umum penyakit layu fusarimun mirip dengan penyakit layu bakteri.
Upaya pengendalian : Pengendalian penyakit Fusarium oxysporum diantaranya meningkatkan pH tanah, penggiliran tanaman, memusnahkan tanaman cabai terserang, saluran pembuangan air harus betul-betul rapi, pastikan tidak ada air menggenang di areal pertanaman cabai, serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Sebagai pencegahan, saat persiapan lahan berikan trichoderma dan lanjutkan pengocoran pestisida organik (misal wonderfat, super glio) saat tanaman cabe berumur 25, 40 dan 70 hst.
Dosis : Lihat di kemasan.

Penyakit Busuk Phytophtora (Phytopthora infestans)

Cendawan ini berasal dari spesies Phytopthora infestans. Serangan penyakit phytophtora dapat dijumpai pada seluruh bagian tanaman cabai, dan menimbulkan layu jika terjadi serangan akut. Serangan penyakit busuk phytophtora pada batang cabai ditandai adanya bercak kebasah-basahan berwarna coklat kehitaman, sedangkan serangan pada bagian daunnya terlihat seperti tersiram air panas. Buah cabai terserang ditandai adanya bercak coklat kehitaman, kebasah-basahan serta lunak.
Upaya pengendalian : Secara kimiawi semprotkan fungisida sistemik, contoh bahan aktifnya seperti asam fosfit, dimetomorf, kasugamisin, metalaksil, propamokarb hidrokloroda, atau simoksanil, dan fungisida kontak, bahan aktif mankozeb, propineb, tembaga, tiram, atau ziram.
Dosis : Lihat di kemasan.

Penyakit Busuk kuncup

Serangan penyakit busuk kuncup diakibatkan oleh cendawan Choanephora cucurbitarum. Penyakit ini menyerang bunga, tangkai bunga, pucuk dan ranting tanaman cabai. Ranting cabai terserang penyakit busuk kuncup ini akan berwarna coklat kehitaman, cepat menyebar sehingga mematikan ujung tanaman cabai, sedangkan bagian tanaman lainnya masih tegar.
Upaya pengendalian : Secara kimiawi semprotkan fungisida sistemik, contoh bahan aktifnya seperti asam fosfit, dimetomorf, kasugamisin, metalaksil, propamokarb hidrokloroda, atau simoksanil, dan fungisida kontak bahan aktif mankozeb, propineb, tembaga, tiram, atau ziram.
Dosis : Lihat di kemasan.

Penyakit Bercak Cercospora

Cendawan penyebabnya adalah Cercospora capsici. Penyakit ini menyerang daun, tangkai buah batang dan cabang tanaman cabai. Gejala serangannya ditandai adanya bercak bulat kecil kebasah-basah, bercak dapat meluas dengan diameter 0,5 cm, pusat bercak berwarna pucat sampai putih dengan tepi berwarna lebih tua. Serangan parah pada daun cabe menyebabkan daun tanaman menguning dan gugur.
Upaya pengendalian : Secara kimiawi semprotkan fungisida sistemik, contoh bahan aktifnya seperti benomil, difenokonazol, karbendazim, metil tiofanat, atau tebukonazol, dan fungisida kontak bahan aktif azoksistrobin, klorotalonil, atau mankozeb.
Dosis : Lihat di kemasan.

Penyakit Bercak Bakteri (Xanthomonas campestris)

Penyakit ini menyerang daun, buah dan batang tanaman cabai. Penyakit bercak bakteri dikenal juga dengan sebutan Bacterial spot. Serangan pada daun tanaman cabai terdapat bercak kecil kebasah-basahan kemudian menjadi nekrotis kecoklatan di bagian tengahnya. Serangan parah akan mengakibatkan daun tanaman cabai gugur. Serangan penyakit bercak bakteri pada buah cabai terdapat bercak putih dikelilingi warna cokelat kehitaman. Pengendalian penyakit Xanthomonas campestris secara kimiawi dapat dilakukan dengan aplikasi fungisida berbahan aktif tembaga atau bakterisida golongan antibiotik.
Dosis : Lihat di kemasan.

Penyakit Antraknosa (Patek)

Penyakit antraknosa disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici dan Gloeosporium piperatum. Di kalangan petani, penyakit ini lebih familiar disebut patek. Penyakit Colletotrichum capsici menginfeksi buah cabai dengan membentuk bercak cokelat hitam kemudian meluas menjadi busuk lunak. Serangan berat menyebabkan buah cabai mengering keriput. Pada bagian tengah bercak terdapat kumpulan titik-titik hitam dari koloni cendawan. Penyakit Gloeosporium piperatum menyerang tanaman cabai mulai buah cabai masih hijau. Biasanya mengakibatkan mati ujung. Pada buah cabai terserang terlihat bintik-bintik kecil kehitaman dan berlekuk. Bintik-bintik ini pada bagian tepi berwarna kuning, membesar serta memanjang. Ketika kondisi lembab, cendawan Gloeosporium piperatum membentuk lingkaran memusat berwarna merah jambu. Buah cabai terserang harus dimusnahkan dari area penanaman cabe. Pengamatan terhadap tanaman cabai harus dilakukan setiap hari, terutama saat musim hujan.
Upaya pengendalian : Secara kimiawi semprotkan fungisida sistemik, contoh bahan aktifnya seperti benomil, difenokonazol, karbendazim, metil tiofanat, atau tebukonazol, dan fungisida kontak bahan aktif azoksistrobin, klorotalonil, atau mankozeb.
Dosis : Lihat di kemasan.

Penyakit Virus

Penyebab kegagalan pada budidaya cabe disebabkan oleh virus jenis TMV, TRV, CTV, CMV, TEV, TRSV dan PVY. Serangan penyakit ini parah biasanya terjadi di musim kemarau, dan hingga kini sebetulnya belum ada penangkalnya. Serangan penyakit virus ditularkan oleh vektor (penular), bisa melalui serangga ataupun manusia. Gejala serangan penyakit ditandai daun cabai mengeriting, tanaman cabai menjadi kerdil, timbul bercak berwarna kuning kebasah-basahan pada daun. Serangga penular penyakit virus di lapangan diantaranya adalah jenis kutu-kutuan seperti kutu kebul, kutu daun, thrips, maupun tungau. Penularan oleh manusia biasanya terjadi saat melakukan perempelan daun cabai, meskipun terkadang dapat juga melalui alat-alat pertanian.
Upaya penanganan : Beberapa cara penangan penyakit virus adalah dengan mengendalikan serangga vektor, sanitasi lingkungan, mencabut dan memusnahkan tanaman cabai terserang, sterilisasi alat-alat pertanian, serta tidak ceroboh saat melakukan penangan terhadap tanaman, terutama saat perempelan daun dan buah cabe.

LIHAT FOTO HAMA PENYAKIT TANAMAN CABE DI fototanijogonegoro.blogspot.com

KANDUNGAN DAN MANFAAT CABAI

Kandungan dan manfaat Cabai - Cabai merupakan salah satu komoditas pertanian yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Komoditas ini mengandung senyawa-senyawa serta gizi yang memiliki manfaat besar bagi tubuh. Kandungan senyawa cabai meliputi: kapsaikin, flavenoid, kapsisidin, kapsikol, dan minyak esensial, sedangkan kandungan gizinya seperti tertera di bawah ini:

Kandungan Gizi Cabai per 100 gram

Kalori : 31,0 kal
Protein : 1,0 g
Lemak : 0,3 g
Karbohidrat : 7,3 g
Kalsium : 29,0 mg
Fosfor : 24,0 mg
Serat : 0,3 g
Besi : 0,5 mg
Vitamin A : 470 SI
Vitamin B1 : 0,05 mg
Vitamin B2 : 0,03 mg
Vitamin C : 18,0 mg
Niasin : 0,2 mg
Dari berbagai sumber, diolah.

Manfaat Cabai Bagi Kesehatan Manusia




Cabai selain mengandung gizi seperti tersebut di atas, juga memiliki manfaat besar bagi mahluk hidup. Bagi manusia, selain sebagai penyedap masakan, penggugah selera makan, cabai juga sangat bermanfaat bagi kesehatan. Bagi hewan, Zat kapsaikinya mampu merangsang burung ocehan untuk gemar bernyanyi (mengoceh). Cabai kering dapat merangsang ayam maupun itik untuk bertelur.

Sebagai penyedap masakan, cabai banyak dimanfaatkan untuk memasak berbagai jenis masakan, bahkan sebagian daerah di Indonesia, seperti Sumatera Barat (Padang) buah cabai merupakan bumbu wajib untuk setiap masakan. Umumnya selain sebagai bumbu masakan, cabai juga dimanfaatkan dalam bentuk sambal serta bentuk olahan, seperti cabai kering, saos, pasta cabai, dll.

Buah cabai dipanaskan, diambil bijinya kemudian diberi air jeruk nipis+garam, dapat dimanfaatkan untuk menggugah selera makan. Gabungan rasa panas serta pedas yang disebabkan alkaloid kapsaikin, dihasilkan kelenjar dalam plasenta di pangkal buah, membuat orang yang memakannya berkeringat bahkan bercucuran air mata, namun beberapa saat kemudian akan timbul rasa nyaman. Khasiat penggugah selera makan tersebut sebenarnya dirangsang oleh minyak atsiri (ditimbulkan cabai saat dikunyah), atau oleh aromanya yang terhirup hidung sebelum disantap. Kapsaikin berfungsi merangsang keluarnya air liur di mulut, juga merangsang kerja lambung sehingga pencernaan menjadi lancar.

Manfaat cabai bagi kesehatan sangat besar. Disamping memperlancar sirkulasi darah ke jantung, sifatnya yang analgesik mampu mengobati kejang otot ataupun rematik. Kandungan utama kapsaikin berfungsi sebagai antialergi, karena mampu menumpulkan kepekaan saraf tepi. Selain itu kapsaikin juga berkhasiat mengurangi atau mengeluarkan lendir dari paru-paru sehingga dapat menyembuhkan bronkitis, influensa, sinusitis, maupun asma. Kapsaikin juga berfungsi menstimulir detektor panas dalam kelenjar hipotalamus sehingga menghasilkan perasaan sejuk meskipun di udara panas. Selain itu, kapsaikin memiliki manfaat untuk menghalangi bahaya pada sel trachea, bronchial, maupun bronchoconstiction akibat asap rokok dan polutan lainnya. Kandungan flavonoid dan antioksidan pada cabai bermanfaat melindungi tubuh dari kanker. Cabai mampu memperlancar sekresi asam lambung serta mencegah infeksi sistem pencernaan karena adanya kandungan kapsisidin. Sementara kandungan kapsikolnya dapat bermanfaat untuk mengurangi pegal-pegal, sakit gigi, sesak napas, ataupun gatal-gatal. Oleh karena itu cabai banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat-obatan koyo. Kandungan kalium dan fosfor tinggi pada buah ini dapat membantu pertumbuhan tulang serta pembentukan sel baru.

Mengkonsumsi cabai secara teratur juga dapat menunda kerentaan tubuh. Akan tetapi bagi mereka yang sangat sensitif terhadap buah cabai, apabila dipaksakan dapat mengalami kejang perut bahkan menyebabkan diare. Meskipun kondisi tubuh cukup kuat menerima masakan pedas, tapi jika berlebihan dapat berakibat fatal bagi kesehatan. Konsumsilah cabai dalam jumlah terukur, sesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing.

Setelah mengetahui Kandungan dan manfaat cabai, kini Anda dapat memanfaatkan cabai untuk menjaga kesehatan tubuh Anda segera.

MENGENAL TANAMAN CABAI

Masyarakat Indonesia secara umum sudah tidak asing lagi dengan tanaman cabai. Buah dari tanaman ini biasa dipergunakan sebagai bumbu masak maupun dimakan segar bersama makanan ringan. Tanaman ini memiliki beragam varietas, mulai dari cabai rawit, cabai keriting, cabai besar, hingga cabai paprika yang merupakan jenis cabai termahal saat ini.

Jenis Cabai

Cabai pada dasarnya terbagi atas dua golongan utama, yaitu cabai besar (Capsicum annum L.) dan cabai rawit (Capsicum frutescens L.) Cabai besar terbagi menjadi dua golongan, yaitu cabai pedas (hot pepper) dan cabai paprika (sweet pepper). Pada artikel ini kami akan mengulas cabai besar pedas (Capsicum annum var. longum L.)

Asal Usul dan Perkembangan Tanaman Cabe

Tanaman cabai (hot pepper) berasal dari daratan Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Tanaman tumbuh kira-kira sejak 2500 tahun sebelum Masehi. Masyarakat yang pertama kali memanfaatkan dan mengembangkan cabai adalah orang Inca di Amerika Selatan, orang Maya di Amerika Tengah, dan orang Aztek di Meksiko. Mereka memanfaatkan cabai sebagai bumbu masakan. Christopher Colombus yang mendarat di pantai San Salvador pada tanggal 12 Oktober 1492 menemukan penduduk setempat banyak yang menggunakan buah merah menyala berasa pedas sebagai bumbu masakan. Kemudian Columbus membawa cabai dari benua Amerika ke Spanyol untuk dipersembahkan kepada Ratu Isabella sebagai hasil temuannya di benua Amerika. Pada tahun 1500-an, bangsa Portugis mulai memperdagangkan cabai ke Makao dan Goa, kemudian masuk ke India, Cina, dan Thailand. Sekitar tahun 1513 kerajaan Turki menduduki wilayah Portugis di Hormuz, teluk Persia. Saat Turki menduduki Hongaria, cabai pun dibudidayakan di Hongaria.

Hingga sekarang belum ada data yang pasti mengenai kapan tanaman ini dibawa masuk ke Indonesia. Menurut dugaan, kemungkinan komoditas cabe dibawa oleh saudagar-saudagar dari Persia ketika singgah di Aceh. Sumber lain menyebutkan bahwa cabai masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis.

Morfologi Tanaman Cabe




Cabai termasuk tanaman semusim (annual) yang berbentuk perdu, tumbuh tegak dengan batang berkayu dan bercabang banyak. Tinggi tanaman dewasa antara 65–170 cm dan lebar tajuk 50–100 cm.

Dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Plantarum), tanaman ini tergolong dalam tumbuhan yang menghasilkan biji (Spermatophyta). Biji cabai tertutup oleh kulit buah sehingga termasuk dalam golongan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Lembaga pada bijinya terbagi dalam dua daun lembaga, sehingga dimasukkan dalam kelas tumbuhan berbiji belah (Dicotyledoneae). Hiasan bunga cabai termasuk lengkap, yaitu terdiri atas kelopak dan mahkota, dengan daun-daun mahkota yang berlekatan menjadi satu, sehingga dimasukkan dalam sub-kelas Sympetalae. Cabai termasuk dalam keluarga terung-terungan (Solanaceae).

Klasifikasi Tanaman Cabe

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas  : icotyledoneae
Subkelas : Sympetalae
Ordo : Tubiflorae (Solanales)
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annum L.

Anantomi Cabe

Akar Cabe

Perakaran cabai merupakan akar tunggang yang terdiri atas akar utama (primer) dan akar laterl (sekunder). Dari akar lateral keluar serabut-serabut akar (akar tersier). Panjang akar primer tanaman berkisar 35–50 cm. Akar lateral menyebar dengan panjang berkisar 35–45 cm.

Batang Cabe

Batang utama tanaman tegak lurus dan kokoh, tinggi sekitar 30–40 cm, dan diameter batang sekitar 1,5–3,0 cm. Batang utama tanaman berkayu dan berwarna cokelat kehijauan. Pada budidaya cabai intensif pembentukan kayu pada batang utama mulai terjadi pada umur 30–40 hari setelah tanam (HST). Pada setiap ketiak daun cabai akan tumbuh tunas baru yang dimulai pada umur 10–15 HST. Namun pada budidaya cabai intensif, tunas-tunas baru itu harus dirempel. (Lihat artikel BUDIDAYA CABAI).

Dilihat dari pertumbuhan tanaman, pertambahan panjang tanaman cabe diakibatkan oleh pertumbuhan kuncup secara terus-menerus. Pertumbuhan tanaman seperti ini disebut pertumbuhan simpodial. Cabang primer akan membentuk percabangan sekunder dan cabang sekunder membentuk percabangan tersier terus- menerus. Pada budidaya cabai secara intensif akan terbentuk sekitar 11–17 percabangan pada satu periode pembungaan.

Daun Cabe

Daun cabai berwarna hijau muda sampai gelap. Daun ditopang oleh tangkai daun. Tulang daun cabe berbentuk menyirip. Secara keseluruhan bentuk daun cabai besar adalah lonjong dengan ujung daun tanaman meruncing.

Bunga dan Buah Cabe

Seperti umumnya famili Solanaceae, bunga cabai berbentuk terompet (hyporcrateriformis). Bunga cabe tergolong bunga yang lengkap (completus) karena terdiri dari kelopak bunga (calyx), mahkota bunga (corrola), benang sari (stamen), dan putik (pistillium). Alat kelamin jantan (benang sari) dan alat kelamin betina (putik) cabe terletak dalam satu bunga sehingga disebut berkelamin dua (hermaphroditus). Bunga cabai tumbuh di percabangan (ketiak daun), terdiri dari 6 helai kelopak bunga berwarna hijau dan 5 helai mahkota bunga berwarna putih.

Tangkai putik berwarna putih dengan kepala putik berwarna kuning kehijauan. Dalam satu bunga cabai terdapat satu putik dan enam benang sari. Tangkai sari berwarna putih dengan kepala sari berwarna biru keunguan. Setelah penyerbukan akan terjadi pembuahan. Pada saat pembentukan buah cabe, mahkota bunga rontok tetapi kelopak bunga tetap menempel pada buah cabai.

Bentuk buah cabe bervariasi, tergantung pada varietasnya.

BUDIDAYA CABAI

Budidaya Cabai merupakan pilihan agribisnis bernilai ekonomis tinggi, untuk itu cara menanam cabai yang tepat, baik cara pengendalian hama penyakit maupun teknik budidaya cabe, sangat menentukan keberhasilan budidaya. Cara menanam cabai yang saya uraikan di sini sudah disesuaikan dengan kondisi di lapangan pada saat ini. Saya rangkai sedemikian rupa sehingga cara budidaya ini sangat praktis dan mudah diterapkan terutama bagi petani cabe pemula.

TEKNIK DAN CARA MENANAM CABAI YANG BAIK

Demi menunjang keberhasilan budidaya tanaman, petani cabe harus memperhatikan teknik menanam cabai yang baik. Pemahaman tentang iklim, tanaman, maupun hal-hal yang berhubungan dengan proses budidaya, juga perlu diperhatikan sehingga memudahkan petani cabai untuk melakukan proses penanganan, terutama ketika di lapangan banyak dijumpai permasalahan-permasalah yang membutuhkan penangangan segera dan serius.

SYARAT TUMBUH TANAMAN CABAI

Selama budidaya, tanaman cabai membutuhkan syarat-syarat untuk menunjang keberhasilan usahatani, pertumbuhan tanaman yang vigor dan sehat merupakan harapan petani cabai. Untuk itu pengetahuan tentang syarat tumbuh tanaman cabai perlu diketahui, seperti berikut:

Tanah




Tanah tempat penanaman cabai harus gembur dengan kisaran pH 6,5-6,8.

Air

Tanaman cabai memerlukan air cukup untuk menopang pertumbuhan tanaman. Air berfungsi sebagai pelarut unsur hara, pengangkut unsur hara ke organ tanaman, pengisi cairan tanaman cabai, serta membantu proses fotosintesis dan respirasi selama proses budidaya berlangsung. Tetapi pemberian air tidak boleh berlebihan.

Iklim

Angin sepoi-sepoi cocok untuk menanam cabai. Curah hujan tinggi berpengaruh terhadap kelebihan air. Intensitas sinar matahari sangat dibutuhkan tanaman cabai, berkisar antara 10–12 jam per hari. Sedangkan suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman cabai 24°C- 28°C.

PERSIAPAN TEKNIS BUDIDAYA CABAI

Setelah mengetahui syarat tumbuh tanaman cabai, sebelum mulai menjalankan budidaya, terlebih dulu dilakukan persiapan teknis seperti pemilihan lokasi maupun persiapan sarana dan prasarana.

Pemilihan Lokasi Budidaya

Lokasi budidaya sebaiknya dipilih yang strategis, transportasi mudah, dekat sumber air, jauh dari area penanaman cabai lain/tanaman sefamili. Sejarah lahan sangat penting untuk diperhatikan, paling baik lahan tidak ditanami tanaman cabe selama minimal 2 tahun terakhir agar diperoleh hasil optimal.

Pengukuran pH Tanah

Pengukuran pH tanah untuk menunjang keberhasilan budidaya sangat diperlukan agar diketahui nilai pH-nya, sehingga kita dapat menentukan aplikasi kapur pertanian, terutama pada tanah masam atau nilai pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.

Persiapan Sarana Prasarana

Persiapan sarana dan prasarana selama budidaya cabe meliputi:
  • Pengadaan tanah untuk media semai.
  • Pengadaan pupuk kandang, pupuk kimia, dan kapur pertanian.
  • Pengadaan benih dan mulsa PHP (Plastik Hitam Perak).
  • Pengadaan Pestisida.
  • Pengadaan ajir, bambu penjepit mulsa PHP, dan tali pertanian.
  • Pengadaan peralatan.
  • Persiapan tenaga kerja.

PELAKSANAAN BUDIDAYA

Budidaya secara intensif harus dilakukan selama proses budidaya, karena budidaya intensif berpeluang mendatangkan keuntungan besar. Diperlukan persiapan-persiapan matang serta pengetahuan tentang cara menanam cabai, baik deskripsi tanaman cabe maupun pengendalian hama dan penyakit cabai.

Persiapan Lahan

Sebelum menjalan usaha budidaya, diperlukan persiapan-persiapan dasar, seperti :
  • Pembajakan dan penggaruan.
  • Pembuatan bedengan kasar selebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm, lebar parit 50-70 cm.
  • Pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP untuk tanah dengan pH di bawah 6,5.
  • Pemberian pupuk kandang fermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP.
  • Pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah. Rapikan bedengan.
  • Pemasangan mulsa PHP.
  • Pembuatan lubang tanam.
  • Jarak tanam ideal musim kemarau 60 cm x 60 cm dan musim penghujan bisa diperlebar 70 cm x 70 cm. Tujuannya untuk menjaga kelembaban udara di sekitar pertanaman cabe.
  • Pemasangan ajir.

Persiapan Pembibitan dan Penanaman Cabai

  • Rumah atau sungkup pembibitan.
  • Pembuatan media semai. Komposisi media semai adalah 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media semai dimasukkan ke dalam polibag semai.
  • Penyemaian benih cabai.
  • Pemeliharaan bibit cabe. Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 - 09.00, kemudian sungkup dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka penuh untuk penguatan tanaman cabe. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan pestisida dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai). Dosis ½ dari dosis dewasa.
  • Pindah tanam. Bibit cabai (cabe) berdaun sejati 4 helai siap pindah tanam ke lahan.

PEMELIHARAAN TANAMAN CABAI

Penyulaman Tanaman Cabai

Penyulaman tanaman dilakukan sampai umur cabe 3 minggu. Apabila umur tanaman cabai sudah terlalu tua dan masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tanaman cabe tidak seragam. Berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit tanaman cabe.

Perempelan dan Pengikatan Tanaman Cabai

Perempelan tunas samping. Perempelan tunas samping dilakukan pada tunas yang keluar di ketiak daun. Bertujuan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman, agar tanaman cabe tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembaban saat tanaman cabai sudah dewasa. Dilakukan sampai pembentukan cabang utama, ditandai munculnya bunga pertama.
Perempelan daun. Perempelan daun cabe dilakukan ketika tanaman cabai memasuki umur 80 hst (hari setelah tanam). Perempelan dilakukan pada daun-daun cabai di bawah cabang utama dan daun tua/terserang penyakit.

Sanitasi Lahan

Sanitasi lahan selama budidaya meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, tanaman cabe terserang hama penyakit disingkirkan dari area penanaman cabai.

Pengairan

Pengairan selama proses budidaya berlangsung diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan

Pupuk Akar
Diberikan dengan cara pengocoran :
  • Umur 15 hst dan 30 hst, dosis 3kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai 200ml.
  • Umur 45 hst dan 60 hst, dosis 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai 200ml.
  • Umur 75 hst, 90 hst dan 105 hst, dosis 5kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman cabai 200ml.
Pupuk Daun
  • Kandungan Nitrogen tinggi diberikan saat tanaman cabai berumur 14 hst dan 21 hst.
  • Kandungan Phospat, Kalium dan Mikro tinggi diberikan saat tanaman cabai berumur 35 hst dan 75 hst.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN CABAI

HAMA TANAMAN CABAI

Gangsir

Hama gangsir yang menyerang tanaman cabai adalah Brachytrypes portentosus.
Pengendalian kimiawi selama budidaya menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Ulat Tanah

Ulat tanah yang sering menyerang tanaman cabai adalah spesies Agrotis ipsilon.
Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Ulat Grayak

Serangan ulat grayak pada tanaman cabai berasal dari spesies Spodoptera litura.
Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ulat Buah

Ulat buah tanaman cabai adalah Helicoverpa sp.
Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Thrips

Thrips tanaman cabai adalah Thrips parvispinus.
Pengendalian kimiawi selama budidaya menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Kutu Daun

Kutu daun tanaman cabai adalah Myzus persiceae.
Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Kutu Kebul

Kutu kebul tanaman cabai adalah Bemisia tabaci.
Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Tungau

Hama tungau pengganggu tanaman cabai adalah tungau kuning (Pol Polphagotarsonemus lotus) dan tungau merah (Tetranychus cinnabarinus).
Pengendalian kimiawi pada budidaya tanaman ini menggunakan insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Lalat Buah

Lalat buah tanaman cabai adalah Dacus dorsalis.
Pengendalian lalat buah pada tanaman cabe salah satunya dengan memanfaatkan sexpheromone (perangkap lalat) dimana lalat dibiarkan terperangkap ke dalam botol aqua yang didalamnya diberi metil eugenol, botol aqua ini diikat dengan bambu atau lanjaran pada posisi horisontal. Atau dapat juga memanfaatkan buah-buahan beraroma yang disukai lalat buah, seperti buah timun atau nangka yang telah dicampur metomil (insektisida). Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan pada seluruh bagian tanaman cabe, menggunakan insektisida berbahan aktif deltametrin, sipermetrin, profenofos, metomil, kartophidroklorida, klorpirifos, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Nematoda

Serangan hama nematoda pada tanaman cabai disebabkan oleh Meloidogyne incognita.
Cara pengendalian hama ini dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Lihat PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN CABAI
Untuk informasi lebih detailnya.

PENYAKIT TANAMAN CABAI

Rebah Semai

Rebah semai tanaman cabai adalah Pythium debarianum.
Cara pengendalian pada cabe dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis ½ dari dosis terendah yang tertera pada kemasan.

Layu Bakteri

Bakteri penyebab layu tanaman cabai adalah Pseudomonas sp.
Upaya pengendalian selama budidaya antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman cabai terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada saat persiapan lahan. Umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Layu Fusarium

Cendawan penyebab layu tanaman cabai adalah Fusarium oxysporum.
Upaya pengendalian pada cabe antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman cabai terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma pada saat persiapan lahan. Umur 25 hst, 40 hst dan 70 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Busuk Phytophtora

Cendawan penyebab busuk phytophtora pada tanaman cabai adalah Phytopthora infestans.
Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Busuk Kuncup

Penyakit busuk kuncup tanaman cabe disebabkan oleh cendawan Choanephora cucurbitarum.
Pengendalian kimiawi selama budidaya menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya metalaksil, propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf, dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Bercak Cercospora

Cendawan penyebab bercak cercospora tanaman cabe adalah Cercospora capsici.
Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Antraknosa (Patek)

Cendawan penyebab penyakit antraknosa pada tanaman cabe adalah Colletotrichum capsici dan Gloesporium piperatum.
Pengendalian kimiawi pada budidaya tanaman ini menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan diantaranya benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Virus

Virus yang menyerang tanaman cabe diantaranya TMV, TEV, TRV, CMV, TRSV, CTV dan PVY. Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan budidaya tanaman terutama musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhan tanaman cabai mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman cabai ke tanaman cabai lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi penular virus diantaranya adalah thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama saat perempelan. Beberapa upaya penanganan virus selama budidaya tanaman ini antara lain : membersihkan gulma (gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman cabai terserang, menjaga kebersihan alat pertanian dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan selama proses budidaya.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Cabai

Pengendalian hama gangsir, ulat tanah, serta nematoda selama budidaya dilakukan secara bersamaan cukup satu kali pemberian insektisida, yaitu 1gram per lubang tanam.

Pengendalian hama ulat grayak, ulat buah, kutu daun, kutu kebul, thrips, tungau, lalat buah dan penyakit pada budidaya cabe menggunakan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan (jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut).

PANEN CABE

Cabai merah dapat dipanen pada umur 90-110 hst. Buah cabe dipanen adalah buah 80% masak.

ANALISA USAHA TANI BUDIDAYA CABAI
CARA MENANAM CABE DALAM POT

ANALISA USAHA BUDIDAYA CABAI

Analisa usaha penting diketahui oleh para pengusahatani sebelum memutuskan untuk berbudidaya. Seberapa besar perkiraan keuntungan yang akan diperoleh setiap kali melakukan usahatani cabe, sehingga diharapkan kerugian selama melakukan budidaya tidak dialami, atau setidaknya sekalipun terjadi kerugian masih dapat diminimalisir. Dengan mengetahui variabel-variabel yang ada dalam analisa usaha budidaya cabe ini, para petani dapat memperkirakan waktu penanaman yang tepat sehingga keuntungan yang diperoleh diharapkan setinggi-tingginya, yang disesuaikan dengan prediksi harga jual tentunya.
Bagi para petani (bukan pengusaha tani), penekanan variabel-variabel tertentu dapat dilakukan disesuaikan dengan kondisi dan persediaan yang ada, seperti misalnya sewa lahan, pestida ataupun pupuk yang dimiliki. Misalnya dengan mengurangi biaya pupuk bagi mereka yang memiliki ternak, biaya pupuk kandang tidak ikut diperhitungkan sekalipun dimasukkan dalam analisa (hal ini hanya bertujuan menekan biaya produksi saja) sedangkan saat menghitung laba tetap harus diperhitungkan karena berkaitan dengan kelayakan usaha. Atau misalnya dengan tidak memperhitungkan biaya sewa bagi petani pemilik meskipun saat perhitungan laba harus dimasukkan dalam biaya sewa juga. Demikian juga dengan variabel lainnya yang mungkin dapat ditekan sehingga modal awal tidak terlalu besar atau dapat disesuaikan.
Berikut ini analisa usaha budidaya cabe dalam satu hektar lahan dengan harga jual cabe Rp. 10.000,- per kilogram di tingkat petani, titik tanam 16.000 tanaman. Sewa lahan diperhitungkan selama satu musim tanam (6 bulan) dengan biaya tenaga kerja disesuaikan dengan biaya tenaga kerja saat ini (tahun 2013) untuk harga tenaga kerja di Kabupaten Wonosobo yaitu sebesar Rp. 30.000,-



Sewa lahan 6 bln




10.000.000
Pembuatan gubug




600.000

Persiapan Lahan





Pupuk Kandang
40000
kg
@
200
8.000.000
Kapur Pertanian
1000
kg
@
300
300.000
Pupuk Kimia
1000
kg
@
2.300
2.300.000
TK Pemupukan Dasar
22
HKP
@
30.000
660.000
Mulsa
10
rol
@
500.000
5.000.000
Ajir/Lanjaran
16000
btg
@
300
4.800.000
TK Buat Bedengan
10
rol
@
750.000
7.500.000
TK Pemasangan Mulsa
20
HKP
@
30.000
600.000

Persemaian





Sungkup Persemaian




100.000
Media Semai
21000
bks
@
100
2.100.000
Benih
11
pack
@
110.000
1.210.000
TK Penyemaian
10
HKP
@
30.000
300.000
TK Pemeliharaan bibit
1
HKP
@
30.000
30.000

Penanaman





TK Penanaman
23
HKP
@
30.000
690.000
TK Penyulaman
3,5
HKP
@
30.000
105.000

Pemeliharaan





TK Pemasangan Ajir
28
HKP
@
30.000
840.000
TK Perempelan
28
HKP
@
30.000
840.000
TK Ikat Tanaman
7
HKP
@
30.000
210.000
Pupuk Susulan 1
48
Kg
@
2.300
110.400
Pupuk Susulan 2
48
Kg
@
2.300
110.400
Pupuk Susulan 3
64
Kg
@
2.300
147.200
Pupuk Susulan 4
64
Kg
@
2.300
147.200
Pupuk Susulan 5
80
Kg
@
2.300
184.000
Pupuk Susulan 6
80
Kg
@
2.300
184.000
Pupuk Susulan 7
80
Kg
@
2.300
184.000
TK Pemupukn Susulan
42
HKP
@
30.000
1.260.000
Pestisida




12.000.000
Pupuk Daun (MKP)
10
kg
@
27.000
270.000
TK Penyemprotan
75
HKP
@
30.000
2.250.000
Tali Gelagar
8
rol
@
25.000
200.000
TK Pemasangan Tali
12
HKP
@
30.000
360.000
Panen
306
HKW
@
25.000
7.650.000
Penyusutan Peralatan
6
bln
@
389.000
2.334.000
Sub Total




73.576.200
Biaya Tak Terduga (10%)




7.357.620
Total




80.933.820







Penerimaan





Estimasi Produksi
0,9
Kg/tnmn
X
16.000
14.400
Resiko Budidaya
15%



2.160
Produksi Bersih




12.240
Estimasi Harga
10.000
/kg



Pendapatan




122.400.000
Laba




41.466.180






BEP Harga Jual




6.612

ARTIKEL POPULER