Tampilkan postingan dengan label PUPUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUPUK. Tampilkan semua postingan

Peran Mikroba Pengurai (Mikroba Dekomposer) Dalam Pembuatan Kompos

Mikroba pengurai atau dikenal juga dengan nama mikroba dekomposer atau mikroba selulolitik, adalah sejenis mikroba yang berperan terutama dalam proses pengomposan, terutama dalam mengurai atau memecah material organik. Dalam proses pembuatan kompos, peran mikroba dekomposer sangat penting, terutama untuk memecah dinding selulose tanaman atau bahan organik yang akan dikompos. Selolose merupakan penyusun utama dinding sel tanaman, yang tersedia dalam bentuk terikat dengan plisakarida lain, seperti hemiselulose, pektin, dan lignin.

Di dalam tanah, banyak terdapat mikroba dekomposer yang berperan dalam penguraian selulose secara alami, baik dari jenis jamur (fungi), actinomycetes, dan bakteri, baik aerob maupun anaerob. Beberapa jenis fungi yang termasuk dalam mikroba selulolitik antara lain Trichoderma sp., Penicillium sp., Aspergillus sp., Myrothecium sp., dan Alternaria sp. Sedangkan dari kelompok actinomycetes antara lain, Micromonospora, Streptomyces, Thermoacinomycetes, Thermopolyspora, dan Thermonospora. Jenis bakteri aerob yang berperan dalam penguraian selulose tanaman antara lain Bacillus sp., Cyptopharga sp., Pseudomonas sp., dan Sporocyptopharga sp. Sedangkan bakteri dekomposer dalam kelompok anaerob seperti Clostridium sp. dan Ruminococcus sp.


Dalam proses penguraian bahan-bahan organik (bahan baku kompos), mikroba selulolitik mengeluarkan enzim selulose yang berperan dalam mempercepat proses hidrolisis selulosa dan polisakarida lain. Penguraian bahan-bahan tersebut akan merombak sifat fisik materi, dan akan melepaskan beberapa unsur hara, seperti Nitrogen, Phosphat, Kalium, dan Sulfur. Unsur hara yang dihasilkan dari proses penguraian ini akan dimanfaatkan oleh mikroorganisme untuk mendukung metabolisme tubuhnya. Dengan demikian, aktivitas mikroorganisme akan meningkat, sehingga proses penguraian dan perombakan bahan-bahan organik akan berlangsung semakin cepat. Proses penguraian ini akan menghasilkan karbon, yang sebagian dilepas dalam bentuk gula sederhana, sementara sisa karbon dilepas ke udara dalam bentuk CO2. Dengan demikian, kandungan C (karbon) dalam bahan organik menjadi berkurang, dan kondisi tersebut secara otomatis akan menurunkan C/N rasio.

Dalam perombakan bahan-bahan organik, selulose yang tidak berlignin, seperti jaringan tanaman akuatik tidak berkayu, limbah pabrik kerta, atau serat kapas akan lebih cepat diurai oleh mikroba dekomposer, dibanding dengan tanaman berlignin, terutama tanaman berkayu. Hal ini disebabkan pada tanaman berkayu, selulose dan lignin akan membentuk lignose-lulose, yang tahan terhadap aktivitas mikroba. Oleh karena itu, untuk pengomposan bahan-bahan dari jaringan tanaman berkayu diperlukan peran mikroba penghasil enzim pengurai lignin, seperti Paecilomyces sp., Allezcheria sp., Chaetomium sp., Poria sp., Nocardia sp., Streptomyces sp., Pseudomonas sp., dan Flarocacterium sp.

Di pasaran, telah banyak dijual pupuk mikroba dekomposer, yang dapat digunakan untuk mempercepat proses pengomposan, seperti EM-4, Starbio Plant, Harmoni BS, Temban, Orgadec, dan masih banyak lagi.

PUPUK NPK

Pupuk NPK merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang kandungan unsur utamanya terdiri dari tiga unsur hara sekaligus. Pupuk ini merupakan unsur makro yang sangat mutlak dibutuhkan tanaman. Sesuai dengan namanya, unsur-unsur tersebut terdiri dari unsur N (nitrogen), P (fosfor) dan K (kalium). Unsur NPK ini adalah unsur penting yang membantu tanaman melangsungkan serangkaian proses pertumbuhan. Jika tanaman kekurangan salah satu unsur hara, maka dapat dipastikan pertumbuhan tanaman akan terhambat. Sebagai contoh, jika tanaman kekurangan unsur N, sementara kebutuhan unsur P dan K masih terpenuhi, maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, warna hijau daun memudar hingga menguning. Pada kondisi demikian, tumbuhan akan kesulitan bereproduksi, pembentukan bunga dan buah akan terhambat, bahkan jika kekurangan unsur N sangat signifikan, maka lama-kelamaan tanaman menjadi kerdil bahkan akhirnya mati. Begitu juga sebaliknya, jika unsur P tidak terpenuhi, maka tanaman juga tidak dapat tumbuh dengan baik, akar tidak terbentuk sempurna sehingga menghambat proses pengangkutan zat-zat makanan oleh akar. Selain itu, pembentukan bunga juga kurang sempurna, tanaman kesulitan menghasilkan bunga. Demikian juga jika unsur K tidak tersedia, maka pembungaan banyak terjadi kerontokan, jika akhirnya mau berbuah, buah yang terbentuk juga kurang sempurna, bahkan kualitas buah sangat rendah. Selain itu tanaman kurang tahan terhadap serangan hama penyakit maupun kekeringan.

Manfaat Pupuk NPK

Pemberian pupuk NPK sangat banyak manfaatnya bagi tumbuhan. Pupuk ini mampu memenuhi kebutuhan vital untuk pertumbuhan, dimana seperti telah diuraikan di atas, bahwa unsur NPK mutlak harus tersedia di dalam tanah. Pemberian pupuk NPK mampu menyediakan kebutuhan tanaman akan ketiga unsur makro sekaligus, yaitu N, P dan K. Selain manyediakan unsur NPK sekaligus, biasanya pupuk jenis NPK juga dilengkapi dengan kandungan unsur lain, baik itu unsur makro sekunder maupun unsur mikro. Seperti misalnya pupuk Phonska, selain mengandung unsur makro primer N, P dan K juga mengandung unsur makro sekunder S (Sulfur) sehingga pupuk ini sangat disukai oleh sebagian besar petani. Biasanya pupuk majemuk jenis NPK mudah larut dalam air, sehingga mudah diserap oleh akar. Pemberian pupuk NPK juga mampu meningkatkan jumlah akar di dalam tanah, memacu pertumbuhan bunga, serta pemanenan tepat pada waktunya. Pemupukan NPK secara kasat mata juga meningkatkan kualitas tanaman dan buah, tanaman tumbuh segar dengan daun berwarna hijau. Untuk buah berasa manis, buah masak akan terasa lebih manis, berkilat dan bentuk buah sempurna. Selain itu juga mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan maupun adanya serangan hama penyakit.

Kekurangan Pupuk NPK



Meskipun pemberian pupuk NPK banyak sekali manfaatnya, tetapi pupuk jenis NPK ini juga memiliki kekurangan jika tidak diantisipasi dengan baik. Pemupukan NPK secara berlebihan melebihi kapasitas justru dapat merugikan tumbuhan itu sendiri. Bunga yang terbentuk sangat banyak tetapi tidak mampu membentuk buah, bunga akhirnya rontok berguguran, atau jika sudah terbentuk buah, muah muda banyak yang rontok. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ketidakseimbangan antara pemberian pupuk makro primer NPK dengan pupuk lainnya (seperti pupuk makro sekunder berkandungan S (sulfur), Ca (kalsium), dan Mg (magnesium)) maupun pupuk mikro (pupuk berkandungan Mo (molibdenum), Cu (tembaga), Fe (besi), B (boron), dan unsur mikro lainnya).
Dengan demikian pemberian pupuk sebaiknya dilakukan secara berimbang, semua unsur yang dibutuhkan tanaman harus tersedia untuk mengurangi resiko kegagalan, terutama untuk tanaman hortikultura. Penambahan NPK harus diimbangi dengan pemberian pupuk makro sekunder (S, Ca, Mg) dan pupuk mikro.

Jenis Pupuk NPK

Pupuk jenis NPK dapat berupa padat (granule) maupun cair. Baik NPK padat maupun NPK cair, kandungan unsur haranya tetap mengutamakan unsur N, P dan K. NPK padat biasanya lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk akar, yaitu diplikasikan ke dalam tanah agar pupuk diserap oleh akar. Sedangkan NPK cair lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk daun, aplikasinya dilakukan dengan cara penyemprotan melalui stomata. Namun, NPK cair yang dijual di pasaran kebanyakan berupa pupuk organik sehingga pemberiannya harus dalam jumlah banyak. NPK cair organik lebih cocok untuk pertanian organik. Meskipun demikian, baik NPK padat maupun NPK cair keduanya sama-sama penting bagi tumbuhan.

Beberapa Contoh Merk Dagang Pupuk NPK

Di pasaran, banyak sekali merk dagang untuk pupuk majemuk NPK, baik yang bersubsidi maupun tidak. NPK bersubsidi untuk saat ini adalah bermerk dagang Phonska, pupuk ini diproduksi oleh PT. Petrokimia Gresik. NPK Phonska berkandungan N 15%, P 15%, K 15%, dan S 10%. Biasanya pupuk phonska dikenal oleh para petani dengan pupuk phonska 15-15-15 atau pupuk NPK 15-15-15 saja. Selain pupuk phonska, pupuk berjenis NPK lain yang tidak bersubsidi juga banyak dijumpai di kios-kios pertanian, seperti pupuk NPK BASF 15-15-15, NPK Holland 15-15-15, NPK Mutiara 16-16-16, NPK Kebomas 16-16-16, NPK Pak Tani 16-16-16, NPK Sawit 13-6-27, NPK Kujang 30-6-8, NPK Gramafix, NPK Sundag, NPK fertilizer dan masih banyak lagi.

HUMUS

Humus merupakan salah satu jenis pupuk organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan, baik itu berupa daun, ranting, batang, maupun cabang, yang terurai secara alami. Dilihat dari bahan-bahannya, humus sama hampir sama dengan pupuk kompos, hanya saja pada pupuk kompos, proses dekomposisi dilakukan oleh mikroorganisme (dekomposer) yang ditambahkan oleh manusia. Jadi, pada pembuatan pupuk kompos campur tangan manusia sangat vital.

Mengenal Humus

Terbentuknya humus secara alami di dalam tanah dilakukan oleh mikroorganisme (jasad renik) dan bantuan cuaca. Humus banyak dijumpai di hutan-hutan. Terutama lapisan bagian atas tanah di hutan banyak terbentuk humus. Hal ini dikarenakan bahan-bahan organik dari jatuhnya daun, ranting, maupun batang tanaman yang telah mati terurai secara alami oleh mikroorganisme. Selain itu, rindangnya pepohonan membantu mempercepat proses penguraian. Sama seperti proses pengomposan, mikroorganisme pengurai mengubah senyawa yang sukar larut menjadi senyawa organik tersedia bagi tanaman sehingga mudah diserap oleh akar tanaman. Hanya saja, terbentuknya humus membutuhkan waktu yang sangat lama.

Ciri Humus




Secara kasat mata, bentuk fisik humus dan kompos adalah sama, yang dicirikan dengan warnanya yang hitam atau coklat tua. Sifat humus yang mudah mengikat air dan gembur menjadikan pupuk humus sangat membantu memperbaiki struktur tanah yang rusak. Meskipun untuk lahan pertanian, humus tidaklah cukup mengimbangi aktivitas pertanian yang begitu tinggi. Cara yang baik untuk tetap memanfaatkan pupuk humus adalah dengan seringnya membenamkan pupuk hijau ke dalam tanah. Meskipun sedikit dan lama, paling tidak upaya ini juga berperan dalam pertanian organik berkelanjutan.

Pemanfaatan Pupuk Humus

Pupuk humus kini banyak diperjualbelikan di pasaran. Karena proses penguraian yang sangat lama menjadikan pupuk humus banyak dijual dengan harga yang lumayan mahal. Biasanya pupuk humus hanya dikemas dalam kantong plastik, bukan karung seperti pada kemasan pupuk organik lain maupun pupuk anorganik. Mahalnya harga pupuk humus inilah sehingga pemanfaatannya tidak dijumpai pada petani, apalagi dengan area budidaya yang sangat luas. Pupuk humus kebanyakan dimanfaatkan oleh para pemulia tanaman dan para ibu rumah tangga. Mereka menambahkan pupuk humus ke dalam media terbatas, seperti pot, ataupun polybag. Meskipun tetap diimbangi dengan penambahan pupuk majemuk seperti N,P,K untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Dewasa ini, ada juga pupuk humus yang diperjualbelikan dengan penambahan unsur makro, meskipun jumlahnya juga kurang signifikan dibandingkan dengan pupuk makro tunggal atau majemuk, seperti pupuk urea, pupuk NPK, dll. Namun upaya penambahan tersebut tentunya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara makro, sedangkan unsur mikronya telah tersedia pada humus.

Aplikasi Pupuk Humus

Aplikasi pupuk humus sebetulnya juga hampir sama dengan pupuk kompos maupun pupuk kandang, hanya saja pada pupuk humus yang diaplikasikan berupa bahan-bahan organik mentah, sedang pupuk kompos maupun pupuk kandang berupa pupuk yang sudah jadi (sudah difermentasi). Aplikasi humus untuk sekala luas dengan cara membenamkan ke dalam tanah. Bagi para petani, tanpa terasa sebetulnya mereka juga banyak yang memanfaatkan pupuk humus, terutama saat melakukan pembubunan pada budidaya tanaman hortikultura. Pembalikan tanah saat pembumbunan menggunakan cangkul menyebabkan rumput tertimbun di dalam tanah. Selama proses tertentu bahan-bahan ini akan terurai menjadi tersedia bagi tanaman dan terbentuk humus. Karena proses terjadinya humus alamiah (tidak menambahkan dekomposer dalam jumlah besar) dan pada permukaan tanah, proses penguraian bahan humus tidak menimbulkan panas tinggi sehingga reralif lebih aman dan tidak berbahaya bagi tanaman.

PUPUK KOMPOS

Pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik akibat campur tangan manusia. Pupuk kompos merupakan hasil pelapukan bahan organik, baik yang berasal dari bahan tanaman maupun limbah pabrik. Kompos dan humus sebetulnya memiliki bentuk fisik yang sama, hanya saja yang membedakannya hanyalah pada proses pembutannya. Kompos terbuat akibat campur tangan manusia, sedangkan humus merupakan pelapukan bahan-bahan organik secara alami.

Mengenal Kompos

Kompos dapat terbuat dari bahan-bahan tanaman seperti dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, dll, maupun limbah, baik limbah rumah tangga maupun limbah pabrik. Selama proses pembuatan pupuk kompos, mikroorganisme menguraikan bahan-bahan organik menjadi senyawa organik yang tersedia bagi tanaman. Senyawa organik ini sebelumnya sukar larut dan berikatan dengan unsur lain. Adanya campur tangan manusia (dengan penambahan dekomposer) akan mempercepat proses penguraian senyawa tersebut menjadi senyawa tersedia dan mudah diserap oleh tanaman. Menjadikan unsur hara yang mutlak diperlukan tanaman, baik unsur hara makro maupun mikro, siap dimanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya.

Jenis Kompos




Berdasarkan jenisnya, kompos dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kompos padat dan kompos cair. Perbedaan kedua jenis pupuk ini ada pada cara pembuatannya. Biasanya pupuk kompos cair lebih banyak memanfaatkan limbah rumah tangga. Adapun artikel cara membuat pupuk kompos cair sudah pernah kami ulas sebelumnya.

Tujuan Membuat Kompos Padat

Tujuan utama dalam pembuatan pupuk kompos adalah menurunkan rasio C/N. Pada bahan-bahan organik segar, C/N rasio masih sangat tinggi. Jika kondisi ini dipaksakan, artinya mengaplikasikan bahan kompos mentah langsung ke dalam tanah, dapat menghambat pertumbuhan tanaman, akibat terburuk menyebabkan kematian. Hal ini terjadi karena selama proses penguraian bahan kompos mengakibatkan peningkatan CO2 dan suhu (panas) dalam tanah. Peningkatan tersebut dikarenakan kandungan air dan udaranya cukup, sehingga proses penguraian bahan organik segar oleh mikroorganisme di dalam tanah berlangsung dengan cepat. Bahkan jika terjadi pada tanah ringan, justru dapat berakibat menurunkan daya ikat tanah terhadap air serta struktur tanahnya berserat dan kasar. Proses dekomposisi untuk pembuatan pupuk kompos membutuhkan suhu sekitar 60°C.

C/N rasio adalah perbandingan C (Karbon) dan N (Nitrogen). Pupuk kompos yang telah difermentasi akan memiliki suhu mendekati suhu lingkungan dan C/N rasio mendekati C/N rasio tanah, berkisar antara 12-15. Pentingnya informasi tentang C/N rasio pada kemasan pupuk kompos, menjadikan pupuk kompos yang dijual di pasaran menjadi perhatian utama sebelum melakukan pembelian. Biasanya, pupuk kompos dengan C/N rasio mendekati 15 lebih diminati konsumen.

Selain C/N rasio, kadar hara pupuk kompos juga tergantung dari bahan-bahan organik yang digunakan, cara pengomposan, cara penyimpanan kompos maupun cara penyimpanan bahan kompos. Meskipun tidak bisa kita pungkiri, kandungan unsur hara pada kompos relatif sedikit. Untuk itulah, bagi sebagian besar petani modern memanfaatkan kompos hanya untuk pembenah tanah. Kebutuhan tanaman akan unsur hara lain yang sangat penting dicukupi dengan penambahan pupuk makro maupun pupuk mikro, terutama pupuk makro, baik itu pupuk makro primer berkandungan N,P,K maupun pupuk makro sekunder seperti Ca, Mg, dan S.

Pemanfaatan Kompos

Kompos dewasa ini sudah banyak dimanfaatkan para petani, (terutama kompos padat) meskipun jika dilihat dari kadar haranya, pupuk kompos masih kalah jauh daripada pupuk kandang. Akan tetapi, penggunaan pupuk kompos lebih praktis, terutama dalam hal pengangkutan. Selain itu, mereka jarang membuat kompos sendiri, biasanya pupuk kompos diperoleh dengan cara membeli di kios-kios pertanian terdekat.
Sama seperti pupuk kandang dan pupuk organik jenis lain, kompos banyak dimanfaatkan untuk tujuan pembenah tanah. Bersadarkan tujuan itulah, petani rela mengeluarkan biaya lebih tinggi karena seperti kita ketahui, pemupukan menggunakan kompos jauh lebih mahal. Biasanya, pemanfaatan pupuk kompos dikarenakan petani kesulitan mencari pupuk kandang maupun pupuk hijau. Kompos cair lebih banyak dimanfaatkan oleh pemulia tanaman maupun ibu rumah tangga, karena cara aplikasi pupuk yang mudah dan dapat membuatnya sendiri, serta memanfaatkan limbah rumah tangga.

Aplikasi Kompos

Aplikasi kompos pada dasarnya sama dengan pupuk kandang, untuk kompos padat dengan cara membenamkan kompos ke dalam tanah atau hanya pada larikan. Pembenaman kompos bertujuan mengurangi penguapan tinggi akibat panas matahari. Sedangkan aplikasi kompos cair juga dengan cara pengocoran.

PUPUK KANDANG

Salah satu peran penting pupuk kandang bagi para petani selain menyuburkan tanah adalah dalam hal memperbaiki struktur tanah. Pupuk kandang merupakan salah satu jenis pupuk organik yang terbuat dari hasil fermentasi kotoran hewan.

Mengenal Pupuk Kandang

Hasil fermentasi kotoran hewan dapat berupa cairan (urine) maupun feses (kotoran padat). Baik kotoran cair maupun padat dari berbagai jenis hewan dapat kita manfaatkan sebagai pupuk kandang. Meskipun demikian, jumlah kotoran yang dihasilkan oleh masing-masing hewan ternak tidaklah sama. Tidak hanya itu, kandungan unsur haranya pun berbeda-beda. Jumlah dan kandungan unsur hara pada kotoran hewan ternak dalam satu jenis pun tidak sama, hal ini sangat tergantung pada jenis makanan maupun cara perawatan. Namun, sebagai seorang petani perbedaan tersebut tidaklah signifikan, sehingga tidak perlu mendapatkan perhatian serius karena selisih kandungan unsur hara dalam kotoran hewan ternak sangat tipis.

Kelebihan pupuk kandang salah satunya adalah mengandung unsur hara lengkap. Unsur hara lengkap ini sangat dibutuhkan tanaman untuk melangsungkan pertumbuhannya. Kandungan unsur hara lengkap pada pupuk kandang berupa unsur makro maupun mikro. Unsur makro merupakan unsur hara tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah besar selama pertumbuhan tanaman, sedangkan unsur mikro hanyalah sedikit. Namun, meskipun unsur mikro dibutuhkan tanaman hanya sedikit, tetapi unsur ini mutlak harus tetap tersedia di dalam tanah. Sehingga pemanfaatan pupuk kandang sangatlah bagus di bidang pertanian karena kebutuhan tanaman akan unsur hara semuanya terpenuhi pada pupuk ini.

Meskipun pupuk kandang mengandung hara lengkap, tetapi kandungan unsur haranya dapat hilang karena disebabkan oleh penguapan tinggi, penyerapan, penyimpanan, maupun proses dekomposisi.
Pembuatan pupuk kandang pada lantai ubin dapat mengurangi hilangnya unsur hara akibat peyerapan, sedangkan kehilangan akibat penguapan dapat diminimalisir dengan pembuatan naungan dan meminimalkan pembalikkan pupuk ketika fermentasi sedang berlangsung.

Berdasarkan proses dekomposisinya, pupuk kandang dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu pupuk dingin dan pupuk panas. Pupuk dingin adalah pupuk yang terjadi karena selama proses dekomposisi atau penguraian oleh mikroorganisme berlangsung perlahan. Karena proses penguraian yang lambat sehingga pupuk ini tidak menimbulkan panas. Pupuk panas merupakan pupuk yang terjadi karena selama proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung dengan cepat, sehingga menimbulkan panas. Pupuk panas apabila diaplikasikan ke dalam tanah dalam keadaan belum matang (belum difermentasi) sangat berbahaya, karena dapat merusak tanaman bahkan menyebabkan kematian. Namun, meskipun pupuk kandang dingin tidak menyebabkan panas, pupuk ini harus tetap difermentasi terlebih dahulu sebelum digunakan agar mikroorganisme yang merugikan tanaman tidak berkembang biak dengan baik. Contoh pupuk kandang panas adalah pupuk dari kotoran ayam, bebek, kuda, dll. Contoh pupuk kandang dingin seperti pupuk dari kotoran kerbau, sapi, dll.

Manfaat Pupuk Kandang




- Mampu menyediakan unsur hara makro, baik makro primer maupun makro sekunder seperti Nitrogen (N), Phospor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S).
- Mampu menyediakan unsur hara mikro, seperti Besi (Fe), Molibdenum (Mo), Boron (B), Mangan (Mn), Seng (Zn), Tembaga (Cu), dll.
- Memiliki daya ikat ion yang tinggi. Hal ini mampu mengefektifkan pemakaian pupuk anorgnaik yang ditambahkan. Kehilangan pupuk anorganik akibat pencucian oleh air hujan maupun penguapan ketika suhu tinggi dapat diminimalisir.
- Pupuk kandang mampu memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat pengolahan lahan yang tidak berimbang, yaitu pemakaian pupuk anorganik dengan tidak diimbangi pupuk organik dan berlangsung dalam kurun waktu lama.

Pupuk Kandang Padat

Aplikasi pupuk kandang dalam dunia pertanian sangat perlu dilakukan oleh pelaku usahatani, mengingat penggunaan pupuk padat ini mampu memperbaiki struktur tanah rusak dan mengembalikan tingkat kesuburan tanah. Sebelum diaplikasikan ke dalam tanah, pupuk kandang harus difermentasi terlebih dahulu sampai matang. Secara fisik, pupuk padat yang telah matang terjadi perubahan warna, selain itu pupuk lebih kering, serta tidak berbau. Meskipun terkadang sulit membedakan pupuk dari kotoran kambing, karena secara fisik pupuk matang dan belum difermentasi tidak terlihat secara signifikan. Bagi para pemula tentu saja akan mengalami kesulitan.

Aplikasi pupuk kandang dapat dibenamkan ke dalam tanah maupun hanya pada larikan, tergantung tingkat kebutuhan petani dan daya beli mereka. Bagi para petani peternak kemungkinan tidak mengalami kendala biaya pembelian sehingga pemanfaatan pupuk kandang lebih optimal. Namun, bagi petani saja, biaya pembelian dan pengangkutan terkadang menjadi kendala utama, terlebih jika lokasi lahan dengan jalan agak jauh. Hal ini tentu saja mengakibatkan pembengkakan biaya produksi. Karena faktor inilah kebanyakan petani enggan menggunakan pupuk kandang untuk budidaya pertanian. Bahkan para petani sekaligus peternak terkadang juga enggan memanfaatkan pupuk kandang jika lokasi budidaya jauh dari jangkauan sarana transportasi. Padahal pemanfaatan pupuk kandang di dunia pertanian sangat penting sekali.

Pupuk Kandang Cair

Pupuk kandang jenis ini berupa cairan urine yang dikeluarkan oleh hewan ternak. Kandungan unsur hara nitrogen pada pupuk kandang cair lebih tinggi jika dibandingkan dengan pupuk padat, sehingga pada pupuk cair (urine) baunya sangat menyengat.
Aplikasi pupuk kandang cair juga harus difermentasi terlebih dahulu. Selain itu, cara aplikasinya juga harus diencerkan menggunakan air. Hal ini dilakukan agar terhindar dari plasmolisis dan mengurangi resiko kematian pada tanaman.
Panas yang tinggi akan mempercepat kehilangan unsur nitrogen dalam pupuk. Aplikasi yang baik dilakukan ketika cuaca lembab, sebaiknya pada sore hari. Selain panas sinar matahari, hujan dan kondisi banyak angin juga menyebabkan penguapan.
Kandungan nitrogen pada pupuk cair lebih mudah dan langsung diserap oleh tanaman jika dibandingkan dengan pupuk kandang padat. Meskipun peyerapannya hanya sebagian, sedangkan sebagiannya lagi masih harus diuraikan. Untuk itulah aplikasi pupuk cair kandang ini lebih efektif dilakukan setelah tanaman tumbuh dengan cara pengocoran.

Pupuk Nitrogen Dan Pengaruhnya Pada Tanaman

Nitrogen adalah unsur kimia, dalam tabel periodik disimbolkan lambang N. Nitrogen biasa ditemukan dalam bentuk gas tanpa warna, tanpa bau, dan tanpa rasa. Unsur kimia ini mengisi kurang lebih 78.08% atmosfer bumi.

Dalam biologi, nitrogen merupakan salah satu unsur utama dalam pembentukan asam amino dan asam nukleat. Asam amino merupakan senyawa pembentuk protein, sedangkan asam nukleat berperan sebagai komponen pembentuk RNA dan DNA.

Pupuk nitrogen adalah pupuk kimia yang mengandung unsur N, baik dalam bentuk tunggal maupun majemuk, yang umumnya berupa senyawa nitrat, amonium, amin, sianida.

Beberapa contoh pupuk nitrogen adalah pupuk urea (NH2CONH2), Amonium nitrat (NH4NO3), Kalium nitrat (KNO3), kalsium sianida (CaCN2), amonium fosfat [(NH4)3PO4], dan Amonium sulfat (ZA) [(NH4)2SO4].

Keluarga kacang-kacangan, seperti kedelai, kacang tanah, kacang panjang, mampu menangkap nitrogen secara langsung dari atmosfer karena tanaman tersebut bersimbiosis dengan bakteri bintil akar, yaitu jenis bakteri menguntungkan yang mampu mengikat nitrogen bebas sehingga tersedia di dalam tanah.



Pada tanaman, nitrogen berperan dalam pembentukan zat hijau daun atau biasa disebut dengan klorofil, protein, dan lemak. Klorofil sangat membantu dalam proses pemasakan zat makan yang diserap oleh akar atau fotosintesis. Pemberian pupuk nitrogen pada tanaman akan membantu dan merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman, sehingga dapat mempercepat proses pembentukan daun, pembesaran batang, dan penambahan tinggi tanaman.

Gejala kekurangan nitrogen pada tanaman ditunjukkan dengan menguningnya daun (warna daun berubah menjadi kekuningan, yang selanjutnya menjadi kuning sempurna), jaringan daun mati biasanya ditandai dengan warna merah kecokelatan. Pada tanaman cabai, buah yang terbentuk akan kecil-kecil dan tidak sempurna.

Pemberian pupuk nitrogen yang berlebihan, atau tidak berimbang, juga akan berdampak buruk bagi tanaman. Tanaman memang tampak subur, tetapi sebenarnya tanaman yang mengalami kelebihan nitrogen akan sukulen, berair, dan mudah terserang hama/penyakit. Meskipun menjadi unsur hara penting dan sangat dibutuhkan tanaman, tetapi pemberian pupuk nitrogen harus terukur, tidak boleh berlebihan.

PUPUK UREA

Pupuk Urea adalah pupuk anorganik tunggal berkandungan unsur N (nitogen) tinggi. Pupuk anorganik adalah pupuk buatan pabrik, dibuat dari bahan-bahan kimia berkadar hara tinggi. Jadi pupuk urea merupakan pupuk sintetis dari senyawa anorganik yang diproduksi oleh pabrik menggunakan bahan-bahan kimia berkadar hara nitrogen (N) tinggi.

Pupuk ini termasuk salah salah satu jenis pupuk higroskopis terutama bentuk prill sehingga lebih mudah menguap di udara. Bahkan pada kelembaban 73%, urea sudah dapat menarik uap air dari udara sehingga mudah larut dalam air serta mudah diserap oleh tanaman. Penyimpanannya juga harus lebih hati-hati dibandingkan dengan pupuk lain. Simpan di tempat kering tertutup rapat agar lebih tahan lama serta tidak mudah menguap. Urea lebih mudah berubah menjadi amoniak dan karbondioksida di dalam tanah. Selain itu juga mudah terbakar oleh sinar matahari. Untuk menghindari penguapan tinggi pemakaian pupuk ini sebenarnya lebih efektif jika disemprotkan melalui daun namun penggunaannya harus hati-hati. Pemberian berlebih tanpa dosis dapat menyebabkan daun tanaman terbakar (hangus), untuk itu saat melakukan penyemprotan hendaknya menggunakan bentuk tetesan besar (tidak telalu mengkabut).

Kandungan

Urea merupakan salah satu jenis pupuk nitrogen tunggal. Kandungan nitrogennya dapat mencapai 46%, maksudnya setiap 100 kg urea mengandung unsur N sebanyak 46 kg. Pupuk ini terbuat dari gas asam arang dan gas amoniak, persenyawaan keduanya itulah menghasilkan pupuk berkandungan nitrogen sebanyak 46%.

Manfaat




Manfaat pupuk nitrogen bagi tumbuhan sangat besar, karena unsur nitrogen berperan penting terhadap pertumbuhan tanaman. Tanaman yang kekurangan unsur nitrogen tidak dapat tumbuh dengan optimal sehingga proses pertumbuhan akan terhambat. Jika pertumbuhan tanaman terhambat sudah pasti akan menghambat proses pembungaan maupun pembuahan juga (proses reproduksi). Produksi bunga kurang optimal akan berakibat pada produksi buahnya juga, akhirnya produk pertanian yang dihasilkan sangat rendah atau bahkan tidak mampu menghasilkan buah sama sekali. Dalam hal ini menjadikan tingkat urgensi pupuk nitrogen bagi tanaman sangat tinggi. Di samping fase pertumbuhan (fase vegetatif), unsur nitrogen juga diperlukan saat fase generatif (pembuahan) bersama unsur lainnya seperti unsur makro P (fosfor) dan K (kalium), meskipun kebutuhannya tidak sebanyak pada fase vegetatif. Jadi unsur nitrogen (N) mutlak diperlukan selama berlangsungnya proses pertumbuhan tanaman. Tanaman dengan pertumbuhan defisiensi unsur nitrogen membutuhkan tambahan pupuk berkandungan nitrogen tinggi sehingga penambahan urea dapat digunakan untuk memenuhi kekurangan tersebut. Jadi, manfaat urea sebagai pupuk nitrogen bagi tanaman adalah untuk melangsungkan proses pertumbuhan di semua fase. Sebenarnya masih banyak jenis pupuk nitrogen yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tanaman, seperti misalnya Amonium Sulfat, pupuk ZA (Zwavelzure Amoniak), chilisalpeter, ASN (Amonium Sulfat Nitrat), amoniumnitrat, amoniumklorida, dll. Namun hingga saat ini urea merupakan salah satu jenis pupuk berkandungan nitrogen paling tinggi dibandingkan jenis pupuk lainnya.

Secara kasat mata, pemberian urea pada tanaman menunjukkan pertumbuhan dengan ciri-ciri tanaman subur, kokoh, warna daun hijau segar kaya akan pigmen berwarna hijau (klorofil). Selain itu manfaat urea juga menambah kandungan protein tanaman.

Defisiensi Unsur Nitrogen

Daun memucat, warna hijau daun memudar berwarna kekuning-kuningan, jaringan daun mati kemudian mengering berwarna merah kecoklatan, pertumbuhan tanaman lambat akhirnya mengerdil merupakan ciri-ciri gejala defisiensi unsur nitrogen. Selain itu, gejala lainnya juga ditandai adanya pembentukan buah tidak sempurna saat terjadi pembuahan (fase generatif), serta masak sebelum waktunya.

Fungsi

Fungsi utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan nitrogen tanaman. Seperti telah diuraikan di atas, manfaat nitrogen sangat besar untuk melangsungkan proses pertumbuhan tanaman, dalam hal ini adalah nitrogen yang terkandung dalam urea.

Jenis

Berdasarkan bentuknya, dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu urea prill dan nonprill. Urea prill lebih banyak dikenal oleh masyarakat dibandingkan nonprill.
Urea Prill. Bentuk urea prill adalah berupa butiran kecil serta halus. Urea prill bersifat higroskopis (mudah menyerap air di udara), berwarna putih maupun berwarna merah muda (pink). Penggunaan urea prill dapat ditebar langsung ke tanah atau dilarutkan terlebih dahulu menggunakan air. Selain itu urea prill juga mudah ditemui di kio-kios pertanian terdekat. Namun, karena memiliki sifat higoskopis, pupuk ini harus disimpan di tempat kering serta tertutup rapat agar tidak mudah menguap. Jika pupuk ini sudah mencair karena penguapan berarti pupuk tersebut sudah rusak sehingga kandungan utamanya nitrogen sudah terlepas sehingga pupuk sudah tidak dapat dimanfaatkan untuk melakukan pemupukan. Selain itu, karena bentuknya kecil memudahkan pupuk ini mengalami pelarutan, penguapan, maupun pencucian oleh air hujan dibandingkan dengan jenis lain.
Urea Nonprill. Urea nonprill terdiri dari berbagai macam, antara lain urea tablet, urea ball fertilizer, urea super granule (USG), serta urea briket. Urea Tablet adalah urea prill yang sudah mengalami proses pengempaan bertekanan tinggi sehingga berubah menjadi bentuk tablet. Setelah urea prill berubah menjadi urea tablet, memiliki efisiensi penggunaan hingga dua kali lipat dibandingkan ketika masih berbentuk prill, baik efisiensi tenaga kerja maupun efisiensi biaya pemupukan. Pemakaian urea tablet langsung diserap oleh tanaman utama karena pupuk berada di bawah permukaan tanah sehingga menghambat pertumbuhan gulma. Dengan demikian akan meningkatkan produktifitas tanaman. Urea Ball Fertilizer merupakan urea berbentuk bola-bola kecil. Urea ball fertilizer memiliki respon tinggi terhadap tanaman, unsur nitrogennya terlepas secara lambat (slow) kemudian diikat kuat oleh partikel tanah yang nantinya akan terserap oleh akar tanaman. Pupuk jenis ini lebih cocok untuk pemupukan susulan. Urea Super Granule (USG) merupakan pupuk yang memiliki kemiripan dengan urea prill, namun berukuran lebih besar sehingga penguapannya lebih lambat dibandingkan dengan bentuk prill. Urea Briket berbentuk cakram pipih, lengket, bersifat rapuh serta mudah pecah. Urea briket merupakan proses lanjut dari urea prill yang dipadatkan serta merupakan penyempurnaan dari urea super granule (USG).

Urea nonprill kurang familiar di kalangan petani dikarenakan harga di pasaran lebih mahal daripada urea prill sehingga petani lebih memilih bentuk prill sebagai upaya penekanan biaya produksi meskipun sebetulnya penggunaan urea nonprill untuk pemupukan lebih efisien.

Produsen Pupuk Urea

Di Indonesia, atas kepedulian pemerintah akan pentingnya kebutuhan urea bagi tanaman kemudian menjadikan pupuk ini sebagai pupuk bersubsidi serta menunjuk PT Pusri Palembang (Pupuk Sriwijaya), PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Kalimantan Timur, Tbk, PT Pupuk Iskandar Muda dan PT Petrokimia Gresik sebagai produsen untuk memenuhi kebutuhan petani.

Komposisi

Nama lain dari urea adalah carbamide, carbamide resin, isourea, carbonyl diamide, carbonyldiamine. Namun, di kawasan Eopa lebih dikenal dengan nama carbamide. Urea terbuat dari gas amoniak maupun gas asam arang, persenyawaan dari keduanya menghasilkan pupuk berkandungan unsur nitrogen (N) sebesar 46%. Selain unsur N, unsur penyusun urea adalah karbon (C), oksigen (O), dan hidrogen (H) dengan rumus NH2 CONH2 atau (NH2)2CO atau CON2H4.
Urea yang banyak dikenal oleh petani berbentuk prill berupa butir-butir kristal, berwarna putih maupun merah muda (pink). Urea pink bersubsidi, diproduksi dengan tujuan mengamankan serta menghindari penyalahgunaan oleh pihak tidak bertanggung jawab untuk penyaluran pupuk bersubsidi, sedangkan urea putih diproduksi untuk nonsubsidi. Komposisi urea bersubsidi adalah mengandung unsur hara N sebesar 46%, moisture 0,5%, kadar biuret 1%, ukuran 1-3,35MM 90% Min serta berbentuk Prill.

Harga

Harga pupuk urea bersubsidi menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 69/Permentan/SR.130/11/2012 Tentang Kebutuhan dan Harga Eceran Tertinggi (HET) Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2013 adalah sebesar Rp. 1800 per kg, kemasan 50 kg. Sehingga harga persaknya (50 kg) sebesar Rp. 90.000,-

Distributor

Jika Anda ingin mengetahui distributor resmi, Anda dapat mengunjungi website PT Pusri Palembang (Pupuk Sriwijaya) dengan alamat di bawah ini :
http://www.pusri.co.id/ina/distributor-alamat/

CARA MEMBUAT PUPUK ORGANIK PADAT

Bagaimana cara membuat pupuk organik padat? Pupuk organik padat adalah pupuk organik yang secara fisik berbentuk padat. Untuk mendukung konsep pertanian organik, maka dibutuhkan salah satu komponen pendukung agar kegiatan budidaya secara organik dapat berlangsung dengan baik. Salah satu komponen pendukung tersebut adalah pupuk organik padat. Organik padat memiliki peran yang sangat bersar dalam mengembalikan kesuburan tanah, terutama berkaitan dengan sifat fisik tanah, sifat kimia tanah, dan sifat biologi tanah.

Aplikasi organik padat akan memberikan tambahan unsur-unsur kimia dalam tanah baik makro maupun mikro, yang sangat dibutuhkan tanaman. Selain itu, daya serap tanaman terhadap unsur hara juga meningkat, karena pupuk organik mampu menjaga kelembaban tanah, sehingga pelarutan unsur hara dapat berjalan dengan baik. Pertumbuhan akar juga menjadi sempurna. Pemberian pupuk organik akan meningkatkan kegemburan tanah, sehingga perakaran tanaman akan mudah menembus struktur tanah yang remah. Dari segi keragaman biologi, pupuk padat juga mampu menyediakan material organik yang sangat dibutuhkan sebagai sumber energi bagi aktivitas mikroorganisme tanah. Di bawah ini akan kami uraikan secara singkat mengenai cara membuatnya, sehingga petani dapat menerapkan konsep pertanian organik dengan baik.

Bahan Yang Diperlukan




Bahan-bahan yang diperlukan dalam pembuatan pupuk organik padat adalah bahan-bahan organik baik dari kotoran hewan maupun sisa-sisa tanaman yang tidak terpakai. Beberapa bahan utama yang dibutuhkan adalah kotoran ternak atau kotoran unggas, jerami padi, sekam atau merang, dan dedak. Sekam padi sebaiknya dibuat arang sekam terlebih dahulu agar kualitas pupuk organik yang dihasilkan cukup bagus. Bahan tambahan atau pendukung yang diperlukan adalah bahan organik yang mengandung unsur NPK tinggi, misalnya daun bambu jika mudah didapat sebagai pendambah unsur phosphor (P), batang atau pelepah pisang sebagai penambah unsur kalium (K), daun pegagan sebagai penambah unsur nitrogen (N), tanaman kacang-kacangan sebagai penambah unsur nitrogen (N), azolla atau paku air sebagai penambah unsur NPK, blotong sebagai penambah unsur phosphor (P), daun gamal sebagai penamah unsur nitrogen (N) dan kalium (K), daun lamtoro sebagai penambah unsur nitrogen (N) dan kalium (K), dan bahan organik lain, misalnya sisa-sisa rumah tangga.

Bahan-bahan lain untuk mempercepat proses pengomposan adalahmikroba dekomposer yang banyak tersedia di pasaran, misalnya dengan merk dagang EM4 atau harmoni BS. Sebagai penambah energi mikroba tersebut sediakan molase atau tetes tebu atau bisa juga menggunakan gula pasir.

Komposisi bahan

Komposisi bahan-bahan organik adalah kotoran ternak atau unggas sebanyak 40%, jerami padi 30%, bahan organik lain 10%, sekam bakar 10%, dedak 10%. Untuk membuat 1 ton pupuk organik padat, maka dibutuhkan campuran berupa kotoran ternak atau unggas 400 kg, jerami padi 300 kg, bahan organik lain 100 kg, sekam bakar 100 kg, dedak 100 kg. Sehingga jumlah keseluruhan bahan 1.000 kg. Untuk membuat pupuk dengan campuran bahan sebanyak 1 ton, maka dibutuhkan mikroba atau bakteri dekomposer sekitar 1 liter dan tetes tebu atau molase 1 liter. Jika molase susah didapat, bisa digantikan menggunakan gula pasir sebesar 250 g. Kemudian tambahkan air 50-100 liter agar tercapai kadar air 30-40%.

Cara Membuat Pupuk Organik

Potong semua bahan yang berkuran besar dengan ukuran potongan kurang lebih 15 cm. Jika memiliki mesin pemotong, akan mempercepat pekerjaan. Campur semua bahan hingga merata. Campurkan mikroba dekomposer dengan molase atau gula pasir, kemudian larutkan dalam 50-100 liter air. Siramkan larutan mikroba tersebut pada campuran bahan yang sudah disiapkan hingga merata. Kemudian bahan organik yang sudah disiapkan digelar diatas lantai ubin atau tanah kering yang beratap. Tinggi gundukan bahan organik sebaiknya tidak lebih dari 35 cm, kemudian gundukan ditutup menggunakan karung goni atau terpal. Pertahankan suhu selama proses fermentasi stabil pada angka 50°C. Pengecekan suhu dilakukan setiap hari. Jika terlalu tinggi, bukalah karung goni tersebut kemudian gundukan diaduk. Jika suhu terlalu tinggi, maka proses pengomposan tidak akan berhasil dan mengakibatkan bahan organik rusak atau membusuk. Setelah 10-15 hari, pupuk telah jadi dan siap digunakan.

Demikian informasi singkat yang kami sajikan mengenai Cara Pembuatan Pupuk Organik Padat, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

KANDUNGAN DAN MANFAAT AZOLA DALAM KONSEP PERTANIAN ORGANIK

Kandungan dan manfaat Azolla dalam konsep pertanian organik sangat besar, terutama dalam menyediakan unsur hara penting bagi tanaman. Azoll atau Azolla sp. merupakan jenis tanaman paku air yang berperan besar dalam penambatan atau fiksasi nitrogen (N) yang tersebar di udara bebas yang dilakukan melalui proses hubungan simbiosis dengan ganggang hijau biru atau Annabaena azollae. Pemanfaatan azolla dalam konsep pertanian organik banyak dilakukan pada budidaya padi, baik dimanfaatkan dalam bentuk terdokomposisi maupun dalam kondisi yang masih segar.

Selain berperan sebagai penambat nitrogen (N), kompos Azolla juga mengandung unsur hara lain yang cukup tinggi dan lengkap, dengan C/N rasio rata-rata 15-18%. Berikut ini beberapa kandungan unsur hara yang terdapat dalam kompos Azolla.

Nitrogen (N) 0.50-0.90%, Phosphor (P) 4.00-5.00%, Kalium (K) 2.00-4.50%, Kalsium (Ca) 0.40-1.00%. Magnesium (Mg) 0.50-0.60%, Mangan (Mn) 0.11-0.16%, Ferum (Fe) 0.16-0.50%, dan C/N rasio 15-18%.

Tingginya kandungan unsur hara dalam kompos Azolla tersebut menjadikan tanaman paku air ini layak dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan bisa diandalkan untuk menopang konsep pertanian organik. Pemberian azolla pada budidaya tanaman padi sawah sebelum penanaman dapat meningkatkan hasil produksi padi 35-58%. Menurut beberapa hasil penelitian, penanaman atau penumbuhan Azolla selama satu periode dapat menghasilkan penambatan nitrogen (N) sebesar 90-120 kg per hektar. Angka ini menunjukkan hasil yang sangat tinggi yang diasumsikan dapat menekan atau menghemat pemberian pupuk urea sebanyak 260 kg per hektar.



Jika pemanfaatan Azolla ini dibarengi dengan pemberian pemberian bakteri rhizobium, maka kandungan nitrogen dalam tanah akan meningkat signifikan, sehingga tidak diperlukan lagi pemberian pupuk nitrogen (N) dalam budidaya pertanian. Kendala yang dibutuhkan untuk memanfaatkan Azolla sebagai egensia hayati penambat nitrogen (N) adalah waktu yang dibutuhkan untuk menumbuhkan Azolla tersebut, sehingga petani harus menyediakan jeda waktu dan selama masa penumbuhan Azolla, berarti lahan pertanian menjadi tidak produktif. Oleh karena itu, perlu penanganan dan perhatian yang lebih serius, terutama dari pihak pemerintah jika ingin memanfaatkan Azolla dalam konsep pertanian organik. Paling tidak selama waktu penumbuhannya, ada sebuah alternatif aktivitas pertanian agar lahan tetap bisa berproduksi.

Pembuatan kompos Azolla dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap perbanyakan dan tahap pengomposan. Tahap perbanyakan bisa dilakukan di lahan-lahan persawahan yang memiliki kondisi lingkungan sesuai untuk pertumbuhan Azolla. Setelah proses perbanyakan, kemudian dilakukan proses pengomposan atau proses penguraian sehingga menjadi bahan organik yang siap digunakan. Proses pengomposan dilakukan dengan pemberian mikroba dekomposer dan biasanya berlangsung selama 2-4 minggu.

Pemanfaatan Azolla tidak hanya digunakan sebagai pupuk organik dalam pertanian. Azolla juga mengandung beberapa nutrisi penting yang sangat baik digunakan untuk pakan ternak atau ikan. Namun pemanfaatan Azolla di sektor peternakan dan perikanan ini belum banyak dilakukan. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh ketersediaan biomass yang belum begitu banyak. Memang, usaha menumbuhkan atau membudidayakan Azolla masih belum banyak dilakukan baik oleh petani, peternak, maupun pembudidaya ikan. Hal ini disebabkan nilai ekonomis Azolla belum begitu tinggi. Namun seiring berjalannya waktu, apabila pemanfaatan Azolla baik di sektor pertanian, peternakan, maupun perikanan sudah tinggi, kemungkinan tanaman paku air ini juga akan memiliki nilai jual yang signifikan, sehingga menciptakan sebuah peluang usaha baru, yaitu perbanyakan atau pembudidayaan Azolla.

Pemanfaatan Azolla sebagai pakan ternak, unggas, maupun ikan membutuhkan penanganan yang berbeda dengan pemanfaatan sebagai pupuk organik. Untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak, unggas, atau ikan, terlebih dahulu tanaman paku air ini harus dikeringkan, kemudian dibuat tepung. Pemberian dalam bentuk tepung sebagai campuran pakan lebih disukai oleh ternak, unggas, maupun ikan. Di bawah ini kandungan nutrisi berat kering Azolla yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan.

Lemak 3.00-3.30%, Pati 6.50%, Gula terlarut 3.50%, dan Protein 24.00-30.00%.

Demikian informasi yang kami sajikan mengenai Kandungan Dan Manfaat Azolla Dalam Konsep Pertanian Organik. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

PERAN BAKTERI RHIZOBIUM DALAM PERTANIAN ORGANIK

Bakteri Rhizobium merupakan salah satu jenis bakteri penambat nitrogen yang mampu bersimbiosis dengan tanaman, terutama pada tanaman leguminosae. Untuk memanfaatkan simbiosis bakteri rhizobium dengan tanaman leguminosae dalam konsep pertanian organik berkelanjutan, dibutuhkan pemahaman mengenai proses asosiasi antara rhizobium dengan tanaman inang.

Kebanyakan bakteri rhizobium hidup dalam akar tanaman, terutama tanaman leguminosae yang menjadikan hubungan ini sebagai bentuk simbiosis mutualisme. Bakteri melakukan penetrasi ke dalam akar tanaman melalui akar serabut dan kulit akar-akar halus, kemudian melakukan fiksasi atau penambatan terhadap nitrogen bebas di udara dan membentuk bintil akar. Karena itulah, bakteri ini dalam dunia pertanian disebut juga sebagai bakteri bintil akar. Nitrogen bebas di udara yang telah diikat oleh bakteri tersebut kemudian dilepas menjadi bentuk tersedia di dalam tanah.

Tanaman inang akan mendapatkan tambahan nitrogen yang dihasilkan dari proses fiksasi tersebut sehingga dapat dimanfaatkan untuk menopang pertumbuhannya. Pada saat yang sama, tanaman inang juga akan memberikan karbohidrat yang merupakan sumber energi utama bagi bakteri rhizobium.



Secara umum, dalam kondisi yang optimal, potensi penambatan nitrogen oleh rhizobium berkisar antara 90-100 kg per hektar. Namun, dalam beberapa penelitian, potensi penambatan nitrogen dapat mencapai 160 kg per hektar. Angka ini tergolong sangat tinggi, mengingat pemupukan nitrogen yang dibutuhkan oleh tanaman secara umum berkisar antara 120-180 kg nitrogen per hektar.

Dengan potensi tersebut, penggunaan bakteri rhizobium dalam konsep pertanian organik mampu mencukupi kebutuhan nitrogen setara dengan 217 kg pupuk urea. Efektifitas penambatan nitrogen oleh rhizobium dalam pertanian organik dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah strain bakteri, jumlah tanaman kalsium aktif, kondisi tanaman inang, kelembaban, suhu, dan kondisi lingkungan lain.

Bakteri rhizobium dapat dikenali secara visual dengan adanya bintil akar pada tanaman kacang-kacangan. Jika bintil akar tersebut dibelah, terdapat warna kemerahan, dan jika dijepit atau ditekan, akan keluar cairan berwarna kemerahan.

Fiksasi nitrogen terbesar oleh bakteri yang bersimbiosis dengan tanaman leguminosae terjadi pada fase generatif, yaitu sekitar 88%, sedangkan sisanya terjadi pada vase vegetatif. Bakteri ini juga akan melakukan penambatan nitrogen secara optimal jika kondisi tanah di areal pertanaman miskin kandungan nitrogen. Sehingga pemupukan nitrogen justru akan mengurangi efektifitas serapan nitrogen oleh bakteri rhizobium.

Bakteri dapat bertahan di dalam tanah selama beberapa tahun, sehingga pola penanaman berseling dengan tanaman kacang-kacangan dapat meningkatkan penambatan nitrogen dari waktu ke waktu. Aplikasi rhizobium untuk menunjang program pertanian organik perkelanjutan dapat dilakukan dengan menggunakan produk-produk inokulasi bakteri rhizobium yang sudah banyak beredar di pasaran.

Untuk meningkatkan peran bakteri, maka bibit kacang-kacangan yang akan ditanam terlebih dahulu dicampur dengan inokulasi rhizobium. Agar lebih efektif, pencampuran dapat dilakukan dengan merendam bibit kacang-kacangan, ke dalam air bersih (bukan air PDAM), kemudian ditiriskan beberapa saat. Setelah tuntas, bibit kacang-kacangan tersebut bisa dicampur dengan tepung inokulasi rhizobium. Bibit yang telah dicampur dengan inokulasi rhizobium sebaiknya segera ditanam di lahan.

Kendala yang sering dialami dalam pemanfaatan rhizobium melakukan fiksasi nitrogen adalah kondisi pH tanah yang terlalu rendah. pH tanah yang rendah, atau asam, tidak cocok sebagai lingkungan hidup bakteri. Untuk mengatasi kendala tersebut, harus dilakukan pengapuran pada lahan pertanian yang akan ditanami kacang-kacangan.

Demikian artikel pendek tentang Peran Bakteri Rhizobium Dalam Pertanian Organik, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

MENGENAL PUPUK MIKROBA

Pupuk mikroba merupakan salah satu jenis pupuk untuk memperbaiki struktur tanah yang diformulasikan dari inokulum mikroba-mikroba yang menguntungkan. Kehadiran pupuk ini dalam dunia pertanian memiliki peran yang strategis dalam konsep pertanian organik berkelanjutan. Terdapat beberapa jenis formulasi yang sudah diproduksi untuk mendukung konsep pertanian organik, diantaranya adalah mikroba penambat Nitrogen, mikroba pelepas atau pelarut Phosphat, kombinasi mikroba penambat Nitrogen dan pelepas atau pelarut Phosphat, serta mikroba dekomposer. Masing-masing formulasi memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda, sehingga dalam aplikasinya pemanfaatan formulasi tersebut juga tidak sama.

Pupuk Mikroba Penambat Nitrogen

Pupuk jenis ini sudah banyak dimanfaatkan, terutama ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Nitrogen pada tanaman, sehingga pemberian pupuk urea maupun ZA dapat dikurangi. Beberapa inokulum yang sering digunakan sebagai mikroba penambat Nitrogen antara lain bakteri Rhizobium dan azola.

Pupuk Mikroba Pelepas Atau Pelarut Phosphat




Phosphat merupakan unsur hara makro yang banyak dibutuhkan tanaman. Keberadaan phosphat dalam tanah dibedakan menjadi dua, yaitu phosphat organik dan anorganik. Phosphat organik tersedia di dalam tanah dalam bentuk humus dan bahan-bahan organik lain. Sedangkan phosphat anorganik tersedia dalam bentuk ion. Ion phosphat dalam tanah biasanya terikat oleh ion-ion yang lain, seperti kalsium, magnesium, besi dan almunium. Pada tanah-tanah asam (nilai pH tanah kurang dari 7), ion phosphat banyak terikat oleh unsur besi dan almunium. Sementara pada tanah-tanah basa, ion phosphat banyak terikat oleh unsur kalsium dan magnesium.

Pemberian pupuk pelepas atau pelarut phosphat ini bertujuan untuk melepaskan ikatan-ikatan ion tersebut dan melarutkan phosphat ke dalam tanah menjadi phosphat tersedia. Phosphat tersedia ini yang nantinya akan diserap oleh akar tanaman. Pemupukan mikroba pelepas atau pelarut phosphat dapat menghemat pemberian pupuk phosphat sekaligus akan meningkatkan efektifitas pemberian pupuk phosphat. Beberapa inokulum yang biasanya digunakan dalam formulasi pupuk pelepas atau pelarut phosphat adalah bakteri pelepas atau pelarut phosphat dan cendawan mikoriza. Bakteri pelepas dan pelarut phosphat bersifat nonsimbiosis sedangkan cendawan mikoriza berifat simbiosis.

Kombinasi Mikroba Penambat Nitrogen Dan Pelepas Atau Pelarut Phosphat

Kombinasi kedua jenis mikroba tersebut merupakan langkah maju dalam dunia pertanian. Hal ini memberikan harapan baru bagi perkembangan konsep pertanian organik. Beberapa formulasi pupuk kombinasi yang beredar di pasaran antara lain, bakteri rhozobium dengan cendawan mikoriza, dan bakteri rhizobium dengan bakteri pelepas atau pelarut phosphat.

Dekomposer

Pemanfaatan mikroba jenis ini terutama bertujuan untuk meningkatkan aktivitas penguraian bahan-bahan organik, baik di dalam tanah maupun digunakan untuk proses pengomposan atau pematangan pupuk organik. Bahan-bahan organik, terutama yang berasal dari tanaman, pada dinding-dinding selnya tersusun atas selulose. Dengan kata lain, selulose merupakan penyusun utama dinding sel tanaman. Dekomposer dimanfaatkan untuk mengurai selulose tersebut. Sehingga mikroba jenis ini juga sering disebut dengan mikroba selulolitik. Beberapa jenis mikroba selulolitik yang sering dimanfaatkan sebagai inokulum dalam formulasi dekomposer antara lain fungi, antinomycetes, dan bakteri.

Jenis mikroba selulolitik dari golongan fungi antara lain Trichoderma sp., Penicillium sp., Myrothecium sp., dan Alternaria sp. Sementara itu, mikroba dekomposer dari jenis Actinomycetes antara lain, Micromonospora, Streptomyces, Thermoactinomycetes, Thermopolyspora, dan Thermonospora. Sedangakan dari golongan bakteri terbagi menjadi dua jenis, yaitu bakteri aerob, seperti Bacillus sp., Cellulomonas sp., Pseudomonas sp., dan Sporocyptophaga sp. dan bakteri anaerob, seperti Clostridium sp. dan Ruminococcus sp.

Demikian infomasi singkat mengenai pupuk mikroba yang dapat kami sajikan, semoga dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian. Salam Tanijogonegoro.

PEMANFAATAN PUPUK HIJAU SEBAGAI POHON PELINDUNG

Pupuk hijau sebagai pohon pelindung banyak diterapkan pada perkebunan-perkebunan yang tanaman utamanya membutuhkan perlindungan dari pohon pelindung tersebut, baik dalam bentuk naungan maupun perlindungan dari terpaan angin. Pemanfaatan pupuk hijau memiliki tujuan yang berbeda-beda. Pertimbangan yang biasanya digunakan untuk menerapkan pohon pelindung antara lain, ketinggian lokasi perkebunan, kemiringan lahan, arah sinar matahari, dan tingkat kekencangan hembusan angin. Beberapa perkebuanan yang sering menerapkan pupuk hijau sebagai pohon pelindung antara lain perkebunan kopi, perkebunan teh, dan perkebunan panili.

Berikut ini adalah beberapa contoh tujuan pemanfaatan pupuk hijau:

Jika perkebunan dilakukan di daerah berketinggian di bawah 300 mdpl, tujuan penanaman pohon pelindung ini adalah untuk mengurangi teriknya sinar matahari dan memperbaiki struktur tanah. Sementara itu, jika perkebunan dilakukan di daerah berketinggian antara 800-1000 mdpl biasanya memiliki tujuan utama untuk mencegah erosi pada lapisan tanah atas dan mengurangi intensitas sinar matahari. Sedangkan perkebunan yang dilakukan di daerah berketinggian di atas 1200 mdpl, memiliki tujuan untuk mengurangi tinggkat kekeringan pada saat musim kemarau serta mencegah erosi yang lebih besar.

Peran dan fungsi pupuk hijau sebagai pohon pelindung




Pada kenyataannya di lapangan, peran dan fungsi pupuk hijau sebagai pohon pelindung sangat banyak, tetapi secara garis besar peran dan fungsi tersebut diantaranya adalah:
  1. Pada musim kemarau dapat mengurangi intensitas sinar matahari yang sangat tinggi, sehingga dapat menjaga kestabilan kelembaban dan suhu di sekitar areal pertanaman.
  2. Mencegah erosi dan pencucian unsur hara oleh air hujan.
  3. Melindungi tanaman dari hempasan angin yang kencang
  4. Daun-daun yang gugur berperan sebagai bahan organik yang dapat memperbaiki kesuburan dan struktur tanah.
  5. Bila menggunakan tanaman pelindung dari famili leguminosae dapat menambah unsur nitrogen dalam tanah, hal ini disebabkan tanaman leguminosae merupakan jenis tanaman yang mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium sehingga dapat mengikat nitrogen bebas di udara kemudian dilepaskan di dalam tanah.
  6. Perakaran yang dalam pada pohon pelindung dapat menyerap unsur hara di lapisan tanah bawah, kemudian melepaskan hara tersebut dalam bentuk bahan organik.
  7. Pohon yang daunnya lebat dapat menekan pertumbuhan gulma atau tanaman pengganggu.

Bila musim hujan dan kelembaban areal pertanaman terlalu tinggi, maka harus dilakukan pemangkasan terhadap pohon pelindung. Selain itu, pohon pelindung juga perlu dijaga dari serangan hama penyakit, misalnya penggerek batang, agar tidak menular ke tanaman utama.

Jenis tanaman pupuk hijau yang biasa digunakan sebagai pohon pelindung

Tanaman leguminosae yang biasa digunakan sebagai pohon pelindung adalah Dadap (Erythrina subumbrans). Kelebihan pohon dadap (Erythrina subumbrans) sebagai tanaman pelindung adalah layaknya keluarga leguminosae lain, tanaman ini juga bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium. Namun, pohon dadap (Erythrina subumbrans) juga memiliki kelamahan, antara lain mudah terserang hama penggerek batang dan mudah menggugurkan daun saat musim kemarau, saat dimana tanaman utama sebetulnya membutuhkan naungan.

Tanaman lain yang juga biasa digunakan sebagai pohon pelindung adalah sengon laut (Albizzia falcata). Namun tanaman ini juga mudah terserang hama penggerek polong dan juga mudah patah saat diterpa angin kencang. Selain itu tanaman ini juga tidak cepat tumbuh, biasanya sekitar 2-4 tahun ditanam sebelum penanaman tanaman utama. Waktu yang sangat lama untuk memanfaatkannya sebagai tanaman pelindung. Sehingga pemanfaatan pohon ini sekarang mulai banyak ditinggalkan.

Salah satu jenis tanaman pohon pelindung yang kini sedang ngetren adalah lamtoro atau petai cina (Leucaena Glauca). Pohon ini memiliki kayu yang sangat keras, sehingga tidak mudah patah, dan cukup tahan terhadap serangan penggerek batang. Selain itu, daun pohon lamtoro juga mudah terurai, sehingga sangat baik untuk menambah bahan organik dan kesuburan tanah.

PERAN PUPUK HIJAU SEBAGAI TANAMAN PENUTUP TANAH

Peran pupuk hijau sebagai tanaman penutup tanah adalah untuk melindungi tanah permukaan atas dari air hujan dapat mengakibatkan tercucinya unsur hara atau bahan organik. Pupuk hijau sebagai penutup tanah juga berperan untuk melindungi bahan organik dari terik sinar matahari langsung, sehingga fungsi bahan organik sebagai pembenah tanah akan lebih optimal. Selain itu, pupuk hijau juga dapat menurunkan suhu tanah, terutama saat musim kemarau. Tanaman penutup tanah yang cepat pertumbuhannya juga dapat menekan laju pertumbuhan gulma atau tanaman pengganggu, sehingga dapat menekan biaya untuk pembersihan atau penyiangan gulma.

Pemanfaatan pupuk hijau sebagai tanaman penutup tanah terutama banyak diterapkan pada perkebunan-perkebunan besar, seperti perkebunan kelapa, perkebunan kelapa sawit, dan perkebunan karet. Manfaat yang diperoleh dengan memanfaatkan pupuk hijau sebagai tanaman penutup tanah sangat banyak. Selain peran tersebut di atas, pupuk hijau juga dapat memberikan tambahan unsur hara dan bahan organik cukup signifikan. Daun-daun yang gugur serta batang tanaman yang sudah mati pada tanaman penutup tanah banyak mengandung nitrogen, juga menjadi bahan organik yang baik untuk tanah. Selain itu, perakaran tanaman penutup tanah dari keluarga leguminosae biasanya bersimbiosis dengan bakteri-bakteri penambat nitrogen, seperti Rhizobium sp.. Perakaran tanaman penutup tanah juga dapat menyerap unsur hara yang berada pada lapisan tanah bawah, dan akan melepaskannya pada lapisan tanah atas dalam bentuk bahan organik.

Perkiraan penambahan unsur hara yang diperoleh dari penanaman tanaman penutup tanah dari famili leguminosae yang telah ditanam selama kurang lebih lima tahun adalah Nitrogen 226-253 kg/ha, Phosphat 18-27 kg/ha, Kalium 85-131 kg/ha, dan Magnesium 15-27 kg/ha. (sumber : Musnamar, Ismawati, Effi, pupuk organik, (Jakarta 2006). Angka tersebut menunjukkan bahwa kontribusi tanaman penutup tanah dari famili leguminosae terhadap penambahan unsur hara sangat besar.

Kriteria pupuk hijau sebagai tanaman penutup tanah




  1. Mudah diperbanyak.
  2. Perakaran dangkal, tidak bersaing dalam perebutan hara maupun dalam memperoleh intensitas sinar matahari dengan tanaman utama, serta mampu menghasilkan bahan organik dalam jumlah cukup besar dengan laju penguraian yang cepat.
  3. Tanaman memiliki pertumbuhan yang cepat dan sukulen dengan daun-daun lebat, sehingga dapat menutup tanah dengan cepat dan mampu memberikan tambahan unsur hara melalui pelapukan daun-daunnya.
  4. Bisa ditanam di bawah naungan dan tumbuh merambat, serta tidak berperan sebagai inang dari hama dan penyakit yang berpotensi menular pada tanaman utama.
Tanaman penutup tanah dari keluarga leguminosae biasa disebut dengan istilah Legum Corp Cover (LCC). Berdasarkan cara tumbuhnya tanaman legum corp cover dibedakan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
  1. Tanaman yang tumbuh merayap dan melebar, seperti Centrosema pubescens, Centrosema plumeri, Calopogonium mucunoides, Calopogonium caeruleum, Pueraria javanica, dan Pueraria palustris.
  2. Tanaman yang tumbuh dengan cara berdiri dan merambat, seperti Moghania macrophylla, Cajanus cajan, dan Mimosa invisia.
  3. Tanaman yang tumbuh berdiri tegak, seperti Crotalaria usaramoensis.

Diantara jenis-jenis tanaman legum corp cover tersebut di atas, yang paling sering digunakan sebagai tanaman penutup tanah dan bibitnya banyak tersedia di pasaran adalah Centrosema pubescens, Peuraria javanica, Calopogonium caeruleum, dan Calopogonium mucunoides.

Untuk meningkatkan simbiosis antara tanaman penutup tanah dengan bakteri Rhizobium, sebelum penanaman sebaiknya biji tanaman tersebut dicampur dengan inokulum bakteri Rhizobium. Cara pencampuran dapat dilakukan dengan merendam biji dalam air, kemudian ditiriskan dan dicampur dengan inokulum, sehingga inokulum dapat menempel pada biji. Hindarkan biji yang sudah dicampur dengan inokulum dari sinar matahari langsung, dan segera ditanam di lahan.

Demikian informasi mengenai peran pupuk hijau sebagai tanaman penutup tanah, semoga dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian. Salam Tanijogonegoro.

CARA APLIKASI PUPUK HIJAU SEBAGAI PUPUK ORGANIK

Pada artikel ini kami akan membahas cara aplikasi pupuk hijau sebagai pupuk organik. Pemanfaatan pupuk hijau sebagai pupuk organik pada dasarnya bertujuan untuk mengembalikan atau memperbaik struktur tanah. Sehingga dengan struktur tanah yang baik, maka penyerapan unsur hara oleh akar tanaman bisa lebih optimal. Selain itu, pemanfaatan pupuk hijau sebagai pupuk organik juga bertujuan untuk menambah unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Pemanfaatan pupuk hijau terutama dilakukan pada daerah yang memiliki kelembaban tinggi agar proses penguraian bahan-bahan organik dari pupuk hijau tersebut bisa berlangsung cepat.

Jenis tanaman leguminosae yang biasa digunakan sebagai pupuk hijau

Pada umumnya, pembudidaya yang sudah memanfaatkan pupuk hijau dalam teknologi budidaya menggunakan jenis tanaman leguminosae yang cepat terurai. Beberapa jenis tanaman leguminosae yang biasa digunakan sebagai pupuk hijau antara lain Crotalaria juncea, Crotalaria usaramoensis, Tephrosia vogelli, Tephroosia candida, dan Desmodium gyroides.

Pengaruh aplikasi pupuk hijau pada tanaman




Aplikasi pupuk hijau tentu saja akan memberikan pengaruh yang positif terhadap tanaman utama, terutama dalam menopang pertumbuhannya. Tambahan unsur hara yang disediakan melalui pemberian pupuk hijau dan pembenahan struktur tanah tentu akan meberikan pengaruh positif. Pertumbuhan tanaman akan lebih cepat dan tanaman akan lebih sehat. Apalagi peran pupuk hijau yang dapat meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah, hal ini tentu akan menambah kecukupan zat-zat yang dibutuhkan oleh tanaman. Selain itu, pengaruh mikroorganisme yang menguntungkan juga dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit. Namun, perlu diperhatikan juga penggunaan atau aplikasi pupuk hijau sebagai pupuk organik harus dilakukan dengan hati-hati. Jangan dilakukan secara sembarangan, karena proses dekomposisi dalam tanah dapat merugikan tanaman utama. Proses dekomposisi akan membutuhkan air dalam jumlah banyak dan akan menghasilkan panas yang dapat menimbulkan resiko bagi pertumbuhan tanaman.

Hal yang harus diperhatikan dalam aplikasi pupuk hijau sebagai pupuk organik

  1. Aplikasi pupuk hijau sebaiknya tidak dilakukan di daerah kering, karena air yang tersedia pada tanah bisa digunakan untuk proses perombakan pupuk hijau tersebut, sehingga berpotensi mengurangi jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman. Hal ini dapat merugikan pertumbuhan tanaman.
  2. Aplikasi pupuk hijau sebaiknya dilakukan saat tanaman masih dalam keadaan sukulen atau setengah umur. Pada saat ini, kandungan lignin dan senyawa lain pada jaringan tanaman yang akan digunakan sebagai pupuk hijau masih rendah, sehingga akan mempercepat proses dekomposisi dengan perbandingan karbon dan nitrogen atau C/N rasio masih rendah. Aplikasi pupuk hijau dilakukan saat kondisi air tersedia cukup, sehingga akan mempermudah proses penguraian oleh mikroorganisme, biasanya dilakukan saat musim hujan.
  3. Beri jarak atau waktu antara aplikasi pupuk hijau dengan penanaman tanaman utama, sehingga dapat menghindari pengaruh proses dekomposisi terhadap tanaman utama. Biasanya jarak pemberian pupuk hijau dengan penanaman dilakukan dalam jangka waktu 14 hari atau dua minggu.

Cara aplikasi pupuk hijau

Aplikasi pupuk hijau dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan dibenamkan ke dalam tanah disekitar titik tanam atau ditebar langsung sebagai penutup tanah atau istilah lain adalah pemulsaan. Pembenaman pupuk hijau dapat dilakukan melalui dua cara, pembenaman dengan pencabutan dan pembenaman langsung atau tanpa pencabutan. Pada umumnya, aplikasi dengan cara ditebarkan atau teknik pemulsaan lebih sering dilakukan petani atau pembudidaya, karena proses aplikasinya mudah, sehingga dapat menekan biaya tenaga kerja.

Demikian informasi yang dapat kami sajikan mengenai cara aplikasi pupuk hijau sebagai pupuk organik. Mudah-mudahan informasi ini akan memberi manfaat kepada pembaca sekalian. Salam Tanijogonegoro.

MENGENAL PUPUK HIJAU

Sering sekali kita mendengar istilah pupuk hijau. Namun, banyak diantara kita yang ternyata memiliki persepsi yang keliru terhadap pupuk hijau. Apa definisi pupuk hijau? Bagaimana peranan pupuk hijau sebagai pupuk? Bagaimana peranan pupuk hijau sebagai penutup tanah? Dan bagaimana peranan pupuk hijau sebagai Pohon pelindung? Pada artikel kali ini kami akan mengupas tentang definisi, peranan serta jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk hijau. Sementara itu, untuk pembahasan masing-masing peran pupuk hijau akan kami bahas pada artikel lain.

Definisi pupuk hijau

Pupuk hijau merupakan pupuk yang terbuat dari jaringan tanaman hijau, atau dengan kata lain, pupuk hijau adalah pupuk yang memanfaatkan jaringan tanaman hidup. Dalam hal ini, untuk memanfaatkan pupuk hijau, berarti harus menyediakan sarana berupa tanaman hidup terutama yang bersifat tidak mengganggu terhadap kelangsungan hidup atau pertumbuhan dan perkembangan tanaman utama. Oleh karena itu, tidak semua jenis tanaman bisa dimanfaatkan sebagai pupuk hijau. Beberapa kriteria yang harus terpenuhi untuk memanfaatkan jenis tanaman tertentu sebagai pupuk hijau diantaranya adalah memiliki pertumbuhan yang cepat, memiliki perakaran yang dangkal dengan bagian atas tanaman rimbun atau sukulen, tanaman tersebut tahan terhadap kekeringan, dan mampu bertahan hidup jika ditanam di daerah yang miskin kandungan unsur hara.

Tanaman dengan laju pertumbuhan cepat dan pertumbuhan sukulen sangat baik digunakan untuk memperbaiki struktur tanah. Kandungan air dan kelembaban yang terdapat pada tanaman tersebut akan mempercepat penguraian oleh mikroba-mikroba dekomposer. Selain itu, jenis tanaman ini dapat berperan sebagai penutup tanah, sehingga mampu mengurangi penguapan atau menghambat kekeringan pada saat musim kemarau.

Peranan pupuk hijau




Secara umum, tujuan dari pemanfaatan pupuk hijau dalam budidaya pertanian dapat dikelompokan menjadi tiga, yaitu pemanfaatan pupuk hijau sebagai pupuk organik, pemanfaatan pupuk hijau sebagai tanaman penutup tanah, dan pemanfaatan pupuk hijau sebagai pohon pelindung.

Pemanfaatan pupuk hijau sebagai pupuk organik bertujuan untuk mengembalikan atau memperbaik struktur tanah dan memberikan tambahan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Dengan kembalinya kesuburan tanah diharapkan penyerapan unsur hara oleh akar tanaman lebih optimal, sehingga dapat meningkatkan produktifitas tanaman budidaya dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Sementara itu, pemanfaatan pupuk hijau sebagai tanaman penutup tanah bertujuan untuk mengurangi penguapan air dalam tanah pada saat musim kemarau dan mengurangi terjadinya pengikisan lapisan tanah atas pada lahan pertanian, terutama saat musim hujan.

Selain itu, pemanfaatan pupuk hijau sebagai tanaman penutup tanah juga bertujuan untuk mengurangi laju pertumbuhan gulma atau tanaman pengganggu di sekitar areal penanaman tanaman budidaya. Sedangkan pemanfaatan pupuk hijau sebagai pohon pelindung tertutama bertujuan untuk mengurangi erosi tanah, penahan tiupan angin, agar angin yang masuk ke areal budidaya tidak begitu besar, menekan intensitas sinar matahari yang masuk areal pertanaman, terutama saat musim kemarau dan terik sinar matahari tinggi. Fungsi lain dari pemanfaatan pupuk hijau sebagai pohon pelindung adalah untuk menaikkan kandungan unsur hara pada lapisan tanah atas yang tercuci air hujan. Hal ini disebabkan perakaran pupuk hijau yang digunakan sebagai pohon pelindung sangat dalam, sehingga mampu menaikkan unsur hara yang terdapat pada lapisan tanah bawah ke lapisan tanah atas.

Jenis tanaman yang dapat digunakan sebagai pupuk hijau

Berdasarkan karakter dan sifatnya, jenis tanaman yang paling cocok digunakan sebagai pupuk hijau adalah tanaman leguminosae. Oleh karena itu, jenis tanaman leguminosae biasanya banyak dimanfaatkan oleh para pembudidaya, terutama di perkebunan-perkebunan. Penggunaan tanaman leguminosae sebagai pupuk hijau didasarkan pada beberapa pertimbangan, diantaranya adalah tanaman leguminosae mampu mengikat nitrogen bebas di udara sehingga tersedia dalam tanah. Hal ini disebabkan tanaman leguminosae bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium sp. Secara umum, tanaman leguminosae juga mampu meningkatkan aktivitas mikroorganisme dalam tanah, sehingga akan mempercepat perbaikan struktur tanah supaya menjadi gembur. Pertimbangan lain adalah, tanaman leguminosae dapat bekerja sebagai pelindung erosi tanah.

MEMBUAT PUPUK ORGANIK (KOMPOS) CAIR DARI LIMBAH RUMAH TANGGA

Membuat kompos dari limbah atau sampah rumah tangga merupakan suatu upaya untuk mengurangi menumpuknya sampah yang dapat mencemari lingkungan. Teknologi yang diterapkan untuk membuatnya sangat mudah, yaitu dengan menggunakan suatu alat yang dapat mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik dan memanfaatkan aktivitas dan peran mikroba dekomposer, sehingga dapat dihasilkan produk akhir yang bermanfaat. Dengan demikian, upaya pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang lebih berdayaguna dapat direalisasikan.

MEMBUAT PUPUK ORGANIK (KOMPOS) CAIR

Setiap orang tidak menginginkan tinggal di tempat yang banyak sampahnya, karena bau yang menyengat dari sampah membuat kita tidak merasa terganggu. Apalagi jika kesadaran masyarakat untuk mengurangi produksi sampah masih sangat rendah. Tentu saja hal ini membutuhkan suatu penanganan serta pembinaan yang serius.

Produksi sampah yang sangat tinggi merupakan suatu keniscayaan akibat pola konsumsi masyarakat yang cenderung untuk memilih produk-produk yang menghasilkan sampah. Pada saat yang sama juga diikuti dengan sitem penawaran barang dalam kemasan, sehingga berpotensi untuk menimbulkan sampah. Belum adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemisahan antara sampah organik dan sampah anorganik membuat pengelolaan sampah mengalami suatu kendala yang berarti. Sangat jarang warga yang menggunakan tempat sampah berbeda untuk memisahkan >sampah organik dan anorganik.

Pengelolaan sampah tidak bisa hanya menggantungkan peran pemerintah, tetapi juga dibutuhkan partisipasi masyarakat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pengololaan sampah ini harus mulai ditumbuhkan. Dimulai dengan kesadaran untuk memisahkan sampah organik dan anorganik, sehingga dapat mengurangi dampak pencemaran sampah terhadap lingkungan. Selain untuk mengurangi resiko pencemaran lingkungan, pengelolaan sampah juga bertujuan untuk mengasilkan sesuatu yang lebih berdayaguna. Sampah-sampah anorganik bisa dikelola dengan teknologi daur ulang sehingg dapat menghasilkan berbagai macam barang yang bermanfaat. Sementara itu, sampah basah atau sampah organik bisa dikelola dan dimanfaatkan sebagai pupuk, bioetanol, biogas, maupun biodiesel.

Untuk mengelola sampah rumah tangga menjadi pupuk organik, maka pada artikel ini akan diuraikan bagaimana teknologi sederhana yang dapat diterapkan oleh masyarakat. Terutama mengenai teknik pengolahan sampah atau limbah rumah tangga menjadi kompos cair.

Peralatan yang Dibutuhkan untuk Membuat Kompos Cair




Peralatan utama yang dibuthkan untuk membuat kompos cari dengan bahan dasar sampah atau limbah rumah tangga ini sering disebut dengan istilah komposter. Komposter ini merupakan tempat dilakukannya proses dekomposisi yang biasanya terbuat dari tong sampah plastik atau kotak semen yang telah dimodifikasi sedemikian rupa dan dapat diletakkan baik di dalam maupun di luar ruangan. Jika komposter tersebut diletakkan di dalam ruangan, maka lubang udara yang dibuat sebaiknya disambung dengan pipa yang mengarah ke luar, sehingga bau menyengat yang ditimbulkan selama proses dekomposisi tidak menyebar ke dalam ruangan.

Komposter sebagai tempat melakukan proses dekomposisi bahan-bahan organik yang dimasukkan ke dalamnya, dengan bantuan mikroba aktifator kompos atau sering disebut sebagai mikroba dekomposer, dapat mengubah sampah atau limbah rumah tangga menjadi kompos hanya dalam waktu 10-12 hari. Mikroba dekomposer tersebut banyak dijual di pasaran, dengan berbagai merk, baik dalam bentuk ragi, bakteri, maupun fungi.

Komposter yang dibuat dengan dilengkapi instalasi udara di dalamnya akan mempercepat proses penguraian sampah atau limbah-limbah organik dengan suatu proses dekomposisi yang dilakukan secara aerob. Instalasi udara di dalam komposter selain berfungsi sebagai penyuplai oksigen, juga berfungsi sebagai pengatur kelembaban dan suhu di dalam komposter, sehingga aktivitas mikroba dekomposer yang dimasukkan ke dalamnya dapat bekerja dengan baik. Dengan teknik dekomposisi menggunakan komposter ini, proses pengambilan lindi atau air sampah dapat dilakukan dengan mudah, karena komposter didesain agar dapat memisahkan antara kompos pada dan kompos cair. Bagaimana membuat komposter yang dapat berfungsi sebagai wadah pengomposan ini? Berikut ini kami uraikan secara sederhana langkah-langkah pembuatn komposter.

Alat Dan Baham Pembuatan Komposter

  1. Tong plastik bekas ukuran 20 liter, 1 buah
  2. Pipa paralon ukuran panjang 13 cm dengan diameteri 1 inchi, 2 buah
  3. Pipa paralon ukuran panjang 10 cm dengan diameteri 1 inchi, 1 buah
  4. Pipa paralon ukuran panjang 9 cm dengan diameteri 1 inchi, 1 buah
  5. Sambungan pipa berbentuk T, 1 buah
  6. Sambungan pipa berbentuk L, 1 buah
  7. Kran plastik, 1 buah
  8. Kasa Plastik>
  9. Lem PVC
  10. Meteran
  11. Bor
  12. Pemotong pipa, bisa menggunakan gergaji>
  13. Pipa besi berukuran 1 inchi

Cara Membuat Kompos Cair

  1. Buat dua lubang udara menggunakan pipa besi yang dipanaskan di sisi kanan dan kiri tong plastik, atau pada sisi yang berseberangan, dengan diameter disesuaikan dengan diameter pipa paralon.
  2. Buat satu lubang lagi yang terletak kurang lebih 10 cm di bawah lubang pertama menggunakan pipa besi yang dipanaskan. Diameter lubang disesuaikan dengan diameter pipa paralon, sedangkan posisi lubang bisa terletak pada sisi diantara dua lubang di atas.
  3. Buat lubang-lubang kecil menggunakan bor di badan pipa paralon berukuran 13 cm dan 10 cm. Bungkus lubang-lubang kecil tersebut menggunakan kasa plastik dengan rapi.
  4. Langkah selanjutnya adalah pemasangan instalasi udara di dalam komposter, dimulai dengan memasang kedua pipa paralon berukuran 13 cm pada lubang kanan dan kiri tong plastik. Kedua pipa paralon tersebut dimasukkan dari arah dalam tong plastik hingga keluar sekitar 3 cm dari dinding tong plastik sehingga panjang pipa paralon di bagian dalam sekitar 10 cm.
  5. Kedua ujung pipa paralon yang mencuat keluar tong plasting ditutup dengan kasa plastik. Cara penutupannya dengan memberikan lem PVC di ujung pipa dan tempelkan kasa plastik tersebut dengan rapi.
  6. Kedua pipa berukuran 13 cm yang berada pada sisi bagian dalam tong plastik disambung dengan sambungan pipa berbentuk T dengan salah satu kaki sambungan pipa menghadap ke bawah.
  7. Dari kaki sambungan pipa berbentuk T yang menghadap ke bawah tersebut disambung dengan pipa paralon berukuran 10 cm.
  8. Kemudian pada ujung bagian bawah pipa paralon berukuran 10 cm tersebut disambung dengan sambungan pipa berbentuk L dengan salah satu ujung sambungan pipa berbentuk L tersebut menghadap ke lubang ketiga.
  9. Dari sambungan pipa berbentuk L disambung pipa paralon berukuran 9 cm mengarah ke lubang ketiga, kemudian sambungkan dengan kran plastik dari bagian luar.
Demikian pembuatan komposter telah selesai dan siap digunakan. Teknik tersebut bisa diaplikasikan untuk pembuatan komposter kapasitas besar, tinggal ukuran pipa paralon untuk instalasi udara yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Teknik Pengomposan

Seperti diuraikan di atas, alat yang dibutuhkan untuk membuat pupuk organik cair adalah komposter. Komposter ini merupakan alat yang bisa digunakan untuk mengolah semua jenis limbah organik rumah tangga menjadi kompos baik dalam bentuk padat maupun cair. Jadi semua sampah yang tergolong limbah organik bisa digunakan sebagai bahan, seperti sisa sayur, buah, sisa makanan, sisa dapur, bahkan limbah organik dari kebun.

Semua bahan dirajang atau dicincang terlebih dahulu agar proses dekomposisinya lebih cepat dan sempurna. Selain itu potongan yang kecil-kecil bisa memaksimalkan kapasitas atau daya tampung komposter. Siapkan bio aktivator atau mikroba dekomposer untuk membantu proses penguraian bahan-bahan organik, sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat. Agar mikroba dekomposer dapat bekerja lebih optimal, sebaiknya ditambahkan air cucian beras dan gula merah untuk menambah energi mikroba dekomposer tersebut. Larutkan mikroba dekomposer dengan 1 liter air. Konsentrasi larutan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan produk mikroba dekomposer yang digunakan. Setiap merk dagang memiliki rujukan yang berbeda-beda dalam penetapan standar larutan. Masukkan semua bahan ke dalam komposter yang sudah disiapkan sedikit demi sedikit sambil disiram larutan mikroba dekomposer, sehingga pemberian aktivator bisa merata keseluruh bahan. Setelah semua bahan dimasukkan lalu tutup rapat-rapat komposter tersebut.

Pada awal pemakaian komposter baru bisa menghasilkan air lindi atau kompos cair dalam waktu dua minggu. Selanjutnya pengambilan lindi dapat dilakukan dalam waktu 2-3 hari sesuai kebutuhan. Pengambilan air lindi hanya sebatas kran, karena air lindi di bawah kran dibiarkan saja untuk membantu proses dekomposisi. Air lindi tersebut sudah banyak mengandung mikroba aktivator sehingga dapat digunakan untuk melakukan pengomposan.

Air lindi yang sudah diambil sebaiknya dicampur lagi dengan mikroba dekomposer agar kandungan mikrobanya lebih banyak. Berikan 10 ml mikroba dekomposer per liter air lindi. Diamkan selama 2-3 hari, setelah itu pupuk organik cair siap untuk diaplikasikan. Pupuk organik cair tersebut bisa disimpan selama 1-2 bulan.

Setelah proses pengomposan awal berjalan, selanjutnya sampah atau limbah organik bisa dimasukkan setiap hari ke dalam komposter. Jika komposter sudah penuh, maka kompos padat, merupakan pupuk organik padat, yang berada di dalam komposter bisa diambil sesuai dengan jumlah sampah atau limbah organik yang akan dimasukkan. Selamat mencoba!

PUPUK ORGANIK

Pupuk organik sangat diperlukan dalam pertanian modern. Ekploitasi lahan secara terus menerus menggunakan pupuk kimia ternyata justru mengakibatkan berkurangnya tingkat kesuburan tanah. Pemberian pupuk kimia atau pupuk sintesis yang berlebisan telah membuat lahan pertanian menjadi kurang produktif akibat menurunnya kesuburan tanah. Salah satu cara untuk mengembalikan kesuburan tanah adalah dengan pemberian bahan-bahan organik ke dalam tanah. Dewasa ini, propaganda dan sosialisasi pemupukan organik telah dilakukan secara simultan, baik oleh pemerintah, lembaga sosial, maupun lembaga swasta.

Pengertian

Merupakan pupuk yang terbuat dari bahan dasar yang diambil dari alam dengan kandungan unsur hara alamiah. Pupuk organik merupakan bahan yang sangat penting dalam upaya memperbaiki kesuburan tanah. Dalam pemberian pupuk untuk tanaman, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu seberapa besar pengaruh terhadap perkembangan sifat tanah, baik fisik, kimia maupun biologi, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif yang bersifat merugikan. Pertimbangan lain yang harus diperhatikan adalah keseimbangan unsur hara dalam tanah. Keseimbangan unsur hara yang tidak ideal justru akan mempengaruhi penyerapan unsur hara tertentu oleh tanaman, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal.

Terbentuknya Pupuk Organik




Di dalam tanah banyak terdapat organisme pengurai baik organisme makro maupun mikro. Pupuk ini terbentuk karena kerjasama organisme pengurai dengan cuaca serta perlakuan manusia dalam mengolah bahan-bahan organik. Sisa bahan organik dihancurkan oleh organisme dan unsur-unsur terurai diikat menjadi senyawa. Senyawa tersebut harus larut dalam air sehingga memudahkan absorbsi oleh akar tanaman. Makro organisme berperan dalam mentranslokasikan sisa bahan organik dari bentuk kasar menjadi lebih halus. Sementara mikroorganisme berperan dalam penguraian bahan organik menjadi unsur hara sehingga mudah diserap tanaman setelah menjadi senyawa. Beberapa mikroorganisme penting antara lain, ganggang, fungi, actinomycetes, serta bakteri.

Fungsi dan Peran di dalam Tanah

Salah satu pembentuk tanah adalah bahan organik, sehingga penambahan bahan organik ke dalam tanah sangat penting. Pemupukan organik berpengaruh positif terhadap tanaman. Dengan bantuan jasad renik dalam tanah maka bahan organik akan berubah menjadi humus. Humus merupakan perekat bagi butir-butir tanah saat membentuk gumpalan. Akibatnya susunan tanah akan menjadi lebih baik terhadap gaya-gaya perusak dari luar, seperti hayutan air (erosi). Selain itu pemupukan organik akan menambah unsur hara sekalipun dalam jumlah kecil.

Penambahan hara, humus, serta bahan organik dalam tanah menimbulkan efek residual, yaitu berpengaruh dalam jangka panjang.
Pemupukan secara organik menyebabkan terjadinya perbaikan struktur tanah. Sehingga sifat fisik dan kimia tanah ikut diperbaiki. Pemberian pada tanah berpasir mengakibatkan daya ikat tanah meningkat. Pemberian pada tanah berlempung akan menjadi ringan, daya ikat air menjadi tinggi, daya ikat tanah terhadap unsur hara meningkat, serta drainase dan tata udara tanah dapat diperbaiki. Tata udara yang baik dengan kandungan air cukup akan menyebabkan suhu tanah lebih stabil serta aliran air dan aliran udara tanah lebih baik.

Sifat biologi tanah dapat diperbaiki, sehingga mekanisme jasad renik menjadi hidup. Pendapat beberapa ahli menyebutkan bahwa pemupukan organik akan meningkatkan populasi musuh alami patogen sehingga akan menekan aktivitas saprofitik patogen. Pemupukan organik tidak merugikan kesehatan ataupun mencemari lingkungan.

Kelemahan

Ada beberapa kelemahan dari pemupukan secara organik, antara lain :
  • Pemupukan organik menggunakan pupuk kandang terkadanag masih sering mengandung biji-bijian tanaman pengganggu. Biji-bijian yang termakan ternak tidak akan tercerna sehingga dapat tumbuh mengganggu tanaman.
  • Sering menjadi faktor pembawa hama penyakit karena mengandung larva atau telur serangga sehingga tanaman dapat diserang.
  • Kandungan unsur haranya sulit diprediksi.
  • Kandungan unsur haranya jauh lebih rendah dibanding pupuk anorganik sehingga dosis penggunaannya jauh lebih tinggi. Akibatnya biaya transportasi, gudang, serta tenaga kerja meningkat.
  • Respon tanaman lebih lambat, karena sifatnya yang slow release.
  • Penerapan hasil bioteknologi, seperti pupuk mikroba, masih jarang digunakan. Sehingga penambahan jumlah mikroorganisme dalam tanah kurang optimal.

Bentuk Pupuk Organik

Dilihat dari bentuknya ada dua jenis pupuk, yaitu pupuk padat dan cair. Pupuk padat sudah lazim digunakan petani. Aplikasi pemupukan organik padat dapat dengan cara ditabur atau dibenamkan dalam tanah. Sementara organik cair berbentuk cairan. Pada umumnya, organik cair merupakan ekstrak bahan organik yang sudah dilarutkan dengan pelarut seperti air, alkohol, atau minyak. Senyawa organik yang mengandung unsur karbon, vitamin, atau metabolit sekunder dapat berasal dari ekstrak tanaman, tepung ikan, tepung tulang, atau enzim. Pengaplikasian organik cair umumnya dengan cara disemprotkan ke tanaman atau dikocorkan ke tanah.

Pupuk Kandang

Pupuk kandang merupakan pupuk dari hasil fermentasi kotoran hewan ternak baik dalam bentuk padat maupun cair. Jumlah serta kandungan unsur hara baik kotoran padat maupun cair masing-masing ternak berbeda-beda. Perbedaan itu detentukan kondisi dan jenis hewan serta jumlah dan jenis pakan hewan tersebut. Akan tetapi selisih dari kandungan hara tersebut juga sangat tipis, sehingga tidak perlu menjadi pertimbangan untuk menentukan pupuk kandang yang akan digunakan. Pupuk kandang mengandung unsur hara lengkap, baik makro maupun mikro. Dilihat dari proses dekomposisinya pupuk kandang dibedakan menjadi dua, yaitu pupuk panas dan pupuk dingin. Pupuk panas merupakan pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung cepat sehingga menghasilkan panas. Contoh puuk kandang panas antara lain kotoran ayam dan kuda. Sedangkan pupuk dingin merupakan pupuk yang terbentuk karena proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung sangat pelan sehingga tidak menghasilkan panas. Contoh pupuk kandang dingin antara lain, kotoran sapi, kerbau, dan babi.

Kompos

Kompos merupakan pupuk hasil pelapukan bahan-bahan tanaman atau limbah organik, seperti jerami, sekam, daun-daunan, rumput-rumputan, limbah organik pengolahan pabrik, serta sampah organik. Pemrosesan atau daur ulang limbah industri organik merupakan cara tepat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Hasilnya dapat digunakan untuk mengembalikan kesuburan tanah. Pengomposan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu, pengaturan kondisi mikroklimat, seperti suhu atau kelembaban, dan menambahan mikroorganisme pengurai atau dekomposer sebagai aktivator. Pengomposan berarti merangsang perkembangan bakteri (jasad renik) untuk menguraikan bahan-bahan yang dikomposkan agar terurai menjadi senyawa lain. Dalam proses penguraian tersebut mengubah unsur hara yang terikat dalam senyawa organik sukar larut menjadi senyawa organik larut (tersedia) sehingga langsung bisa diserap tanaman. Pengomposan juga bertujuan menurunkan rasio C/N. Jika bahan organik yang memiliki rasio C/N tinggi tidak dikomposkan dan langsung diberikan ke dalam tanah maka proses penguraiannya akan terjadi di tanah, mengakibatkan CO2 dalam tanah meningkat sehingga mengganggu pertumbuhan tanaman, bahkan pada tanah ringan mengakibatkan daya ikat terhadap air rendah serta struktur tanahnya berserat dan kasar.

Pupuk Hijau

Pupuk hijau adalah pupuk yang memanfaatkan jaringan tanaman hijau. Jenis tanaman yang sering digunakan sebagai pupuk hijau adalah tanaman leguminose. Secara umum ciri-ciri tanaman yang dapat digunakan sebagai pupuk hijau adalah : pertumbuhannya cepat, perakarannya dangkal, bagian atas lebat dan sukulen, tanaman tahan terhadap kekeringan dan mampu tumbuh baik di tanah miskin hara. Beberapa keuntungan memanfaatkan tanaman leguminose sebagai pupuk hijau antara lain : - Leguminose mampu menambat N dari udara, sehingga dapat menambah unsur N dalam tanah. - Leguminose mampu mendorong aktivitas mikroorganisme. - Leguminose mampu mendorong struktur tanah menjadi lebih remah. - Leguminose dapat bekerja sebagai pelindung erosi tanah. Cara aplikasi pupuk hijau dapat dengan membenamkannya ke dalam tanah atau sebagai mulsa penutup tanah.

Pupuk Mikroba

Pupuk mikroba merupakan formulasi inokulan strain-strain mikroba unggul untuk meningkatkan atau menambah unsur hara dalam tanah. Keberadaannya sangat berperan bagi pertanian organik berkelanjutan. Ada beberapa jenis pupuk mikroba di pasaran, antara lain mikroba penambat N, mikroba pelepas (pelarut) fosfat, serta mikroba dekomposer.

DEFISIENSI UNSUR HARA

Unsur hara merupakan elemen penting untuk menopang pertumbuhan tanaman. Tanpanya, mustahil tanaman dapat tumbuh optimal, bahkan besar kemungkinan tanaman akan mengalami kematian. Bisa dibilang nutrisi tanaman ini merupakan bahan makanan utama bagi tanaman. Dengan unsur-unsur tersebut tanaman mampu mencukupi kebutuhan hidupnya.

KEKURANGAN UNSUR HARA PADA TANAMAN

Defisiensi atau kahat unsur hara adalah kekurangan meterial (bahan) yang berupa makanan bagi tanaman untuk melangsungkan hidupnya. Kebutuhan tanaman akan nutrisi berbeda-beda tergantung dari jenis tanamannya, ada jenis tanaman yang rakus makanan dan adapula yang biasa saja. Jika unsur-unsur dalam tanah tidak tersedia maka pertumbuhan tanaman akan terhambat dan produksinya pun menurun. Kita sebagai petani tidak mungkin mengecek kandungan hara tanah setiap saat untuk mengetahui ketersediaan unsur yang terkandung didalamnya, salah satu upayanya adalah dengan mengetahui gejala defisiensi pada tanaman.

Gejala Defisiensi Unsur Hara Pada Tanaman




Nitrogen (N)

Gejala kekurangan nitrogen ditandai dengan warna daun berubah menjadi hijau muda kemudian menjadi kuning sempurna, jaringan daun mati dan mengering berwarna merah kecoklatan. Pembentukan buah tidak sempurna, kecil-kecil, kekuningan, dan masak sebelum waktunya.

Cara penanganan kekurangan unsur nitrogen adalah dengan menambahkan pupuk kimia berupa pupuk urea (N=46%), ZA (N=21%), KNO3, NPK serta pupuk daun kandungan N tinggi.

Fosfor (P)

Gejala kekurangan fosfor ditandai dengan warna bagian bawah daun terutama tulang daun merah keunguan, daun melengkung, dan terpelintir (distorsi). Tepi daun, cabang dan batang juga berwarna ungu. Kekurangan unsur ini menyebabkan terhambatnya sistem perakaran dan pembuahan.

Cara penanganan kekurangan unsur fosfor adalah dengan menambahkan pupuk kimia SP36 (P=36%), pupuk NPK, MKP serta pupuk daun kandungan P tinggi.

Kalium (K)

Gejala kekurangan kalium ditandai dengan mengerutnya daun terutama daun tua meski tidak merata, tepi dan ujung daun menguning yang kemudian menjadi bercak coklat. Bercak daun ini akhirnya gugur, sehingga daun tampak bergerigi dan akhirnya mati. Buah yang terbentuk tidak sempurna, kecil, kualitas jelek dan tidak tahan simpan.

Cara penanganan kekurangan unsur kalium adalah dengan menambahkan pupuk kimia KCl (K=52%), NPK, MKP, serta pupuk daun kandungan K tinggi.

Sulfur (S)

Gejala kekurangan sulfur ditandai dengan warna daun muda memudar (klorosis), berubah menjadi hijau muda, kadang-kadang tampak tidak merata, menguning atau keputih-putihan. Pertumbuhan tanaman terhambat, kerdil, berbatang pendek, dan kurus.

Cara penanganan kekurangan unsur sulfur adalah dengan menambahkan pupuk kimia ZA (S=20%), Phonska (S=10%), serta pupuk daun yang mengandung unsur S.

Kalsium (Ca)

Gejala kekurangan kalsium ditandai dengan pertumbuhan kuncup yang terhenti dan mati, pertumbuhan tanaman lemah dan merana, tepi daun muda mengalami klorosis, buah muda banyak yang rontok dan masak sebelum waktunya, warna buah kurang sempurna.

Cara penanganan kekurangan unsur kalsium adalah dengan menambahkan kapur dolomite (Ca=38%), kalsium karbonat (Ca=90%), serta pupuk kalsium kandungan Ca 80-99%.

Magnesium (Mg)

Gejala kekurangan magnesium ditandai dengan daun tua yang semula hijau segar berubah menjadi kekuningan dan tampak pucat. Diantara tulang-tulang daun terjadi klorosis, warna berubah menguning dan terdapat bercak-bercak berwarna kecoklatan, sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau.

Cara penanganan kekurangan unsur magnesium adalah dengan menambahkan pupuk kimia kieserite, kapur dolomite (Mg=18%), serta pupuk daun yang mengandung unsur Mg.

Unsur Mikro

Besi (Fe). Gejala kekurangan besi ditandai dengan warna kuning pada daun-daun muda, pertumbuhan tanaman terhambat, daun berguguran dan mati pucuk, tulang daun yang berwarna hijau berubah kekuningan kemudian memutih, pertumbuhan tanaman seolah terhenti.
Boron (B). Gejala kekurangan boron ditandai dengan tepi daun mengalami klorosis mulai dari bawah daun kemudian mengering dan akhirnya mati. Pada tanaman bercabang, ruas tanaman memendek, batang keropos, pembentukan cabang tumbuh sejajar berdampingan.
Tembaga (Cu). Gejala kekurangan tembaga ditandai dengan daun berwarna hijau kebiru-biruan, ujung daun secara tidak merata ditemukan layu, terkadang terjadi klorosis meski jaringannya tidak mati, pertumbuhan tanaman kerdil dan gagal membentuk bunga.
Mangan (Mn). Gejala kekurangan mangan ditandai dengan pertumbuhan tanaman kerdil, daun berwarna kekuningan atau kemerahan, jaringan daun di beberapa tempat mati, serta biji yang terbentuk tidak sempurna.
Seng (Zn). Gejala kekurangan seng ditandai dengan daun tua berwarna kekuningan atau kemerahan, daun berlubang, mengering dan akhirnya mati.
Molibedenum (Mo). Gejala kekurangan molibdenum ditandai dengan warna daun memudar, keriput dan mengering, pertumbuhan tanaman seolah terhenti dan akhirnya mati.

Cara penanganan kekurangan unsur mikro adalah dengan menambahkan pupuk organik yang tinggi, pemberian pupuk organik cair untuk pemupukan susulan, serta penyemprotan pupuk daun dengan kandungan mikro lengkap.

ARTIKEL POPULER