Tampilkan postingan dengan label JAHE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAHE. Tampilkan semua postingan

Kegiatan Pembumbunan Pada Budidaya Jahe

Pembumbunan merupakan kegiatan menguruk pangkal batang tanaman jahe yang bertujuan untuk menimbun rimpang yang menyembul keluar. Waktu pembumbunan dilakukan pada saat tanaman jahe membentuk rumpun. Kegiatan pembumbunan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan sekaligus pemupukan susulan.

Fungsi Pembumbunan Pada Tanaman Jahe

Pada budidaya jahe, pembumbunan memiliki beberapa fungsi, yaitu:

  • Menggemburkan tanah, sehingga dapat mempermudah pembesaran rimpang dan penetrasi akar.
  • Menutup dan melindungi rimpang jahe yang menyembul ke permukaan tanah.
  • Menambah kandungan oksigen dalam tanah.
  • Memperkuat tanaman jahe.
  • Memperluas area perakaran, sehingga unsur hara yang terserap lebih banyak.
  • Mencegah rimpang terkena sinar matahari yang dapat mengakibatkan rimpang mengeras dan berwarna hijau seperti batang.



Waktu Pembumbunan

Kegiatan pembumbunan ini dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, biasanya setelah tanaman jahe membentuk rumpun atau setelah tanah pada bedengan tempat menaman jahe mulai longsor karena hujan. Pembumbunan dapat dilakukan berulang kali, tergantung pada jenis tanah dan curah hujan. Pembumbunan akan lebih sering dilakukan pada tanah-tanah yang remah dan curah hujan tinggi. Kegiatan pembumbunan ini juga bisa dimulai pada saat tanaman jahe membentuk rumpun, sebanya 4-5 anakan. Pembumbunan dilakukan sebelum pemupukan susulan. Biasanya, dalam satu musim, kegiatan pembumbunan dapat dilakukan sebanya 3-6 kali, tergantung kondisi.

Cara Melakukan Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan dengan cara menyiangi gulma terlebih dahulu, kemudian mencangkul tanah tipis-tipis di sekitar tanaman jahe atau sekitar parit (orang Jawa biasa menyebut proses ini dengan istilah "dangir"). Tanah yang telah dicangkul tipis-tipis ini digunakan untuk menimbun pangkal batang tanaman jahe membentuk guludan atau bedengan kecil. Setelah kegiatan pembumbunan, pembudidaya dapat langsung melakukan pemupukan susulan.

RESEP MINUMAN SIRUP POKAK JAHE

Resep Minuman Sirup Pokak Jahe – Selain dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, bahan baku obat-obatan, atau minuman jahe instant, jahe juga dapat diolah dan dijadikan sirup pokak. Jahe memiliki nilai gizi dan nutrisi yang sangat tinggi, serta mengandung zat-zat kimia yang berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Membuat sirup pokak dengan bahan dasar jahe, akan menambah variasi berbagai olahan dari jahe, sehingga khasiat jahe dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk.

Resep Minuman Sirup Pokak Jahe

Resep minuman sirup pokak jahe sangat sederhana. Bahan tambahan dan perlalatan yang diperlukan juga cukup murah dan mudah didapat. Selain sebagai disimpan sebagai bahan pembuat minuman di rumah, sirup pokak jahe juga dapat diperdagangkan untuk mendapatkan keuntungan. Bagi yang sudah terbiasa dalam olahan makanan, membuat minuman sirup pokak jahe merupakan sesuatu yang mudah. Di bawah ini akan kami uraikan mengenai cara membauat sirup pokak jahe.

Peralatan Yang Diperlukan Untuk Membuat Sirup Pokak Jahe

Beralatan yang harus disediakan untuk membuat sirup pokak jahe sangat sederhana. Biasanya peralatan tersebut sudah tersedia dirumah sebagai peralatan dapur yang digunakan sehari-hari. Oleh karena itu, untuk membuat sirup pokak jahe cukup dengan memanfaatkan peralatan yang sudah ada. Anda tidak perlu membeli peralatan-peralatan khusus atau peralatan-peralatan memasak yang sudah modern. Berikut ini beberapa peralatan yang diperlukan untuk membuat sirup pokak jahe.



  1. Timba atau alat lain yang digunakan untuk mencuci bahan-bahan.
  2. Pisau atau alat pemotong lain.
  3. Talenan atau alat lain yang dapat digunakan sebagai tempat untuk mengeprak rimpang jahe.
  4. Ulekan atau dalam bahasa jawa sering disebut muthu.
  5. Blender untuk menghalusan rimpang jahe.
  6. Gelas takar atau alat pengukur lain.
  7. Ember atau alat lain untuk tempat bahan baku yang telah ducuci.
  8. Panci atau alat lain yang digunakan untuk merebus.
  9. Centong atau alat pengaduk lainnya.
  10. Kompor atau alat lain untuk pemanasan.
  11. Saringan atau alat lain untuk menyaring sirup pokak jahe setelah jadi.
  12. Botol atau alat lain untuk menyimpan sirup pokak jahe setelah jadi.

Bahan Yang Diperlukan Untuk Membuat Sirup Pokak Jahe

5 ons jahe yang sudah tua, 1 kilogram gula pasir, 1 kilogram gual merah, 10 batang serai, 15 butir cengkeh, 8 helai daun pandan, 6 ruas jari kayu manis atau keningar, dan 1.200 mililiter air bersih.

Cara Membuat Sirup Pokak Jahe

Rimpang jahe dikupas hingga bersih, kemudian potong kecil-kecil agar mudah diblender. Setelah itu, potongan rimpang jahe tersebut dikeprak menggunakan muthu atau alat pemukul lain di atas talenan. Kemudian diulek-uleng agar lebih mudah diblender, kemudian haluskan rimpang jahe tersebut menggunakan blender.

Cuci hingga bersih bahan-bahan lain, seperti daun pandan, serai, cengkeh, dan keningar. Gula merah disisir menggunakan pisau, agar mudah larut pada saat perebusan. Masukkan semua bahan dalam 1.200 mililiter air.

Rebus menggunakan api sedang sambil terus diaduk hingga matang. Pengadukan saat sirup hampir matang harus dilakukan lebih cepat agar tidak lengket atau gosong. Perebusan dihentikan saat sirup pokak jahe sudah berwarna merah kehitaman. Kemudian diamkan hingga dingin.

Setelah sirup dingin, kemudian disaring menggunakan saringan halus, agar material padat tidak ikut terbawa. Sirum pokak jahe sudah jadi, masukkan ke dalam botol untuk disimpan atau jika akan dijual, maka pilihlah botol yang menarik.

Demikian informasi terbaik kami sajikan, semoga artikel Resep Minuman Sirup Pokak Jahe, bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

PENYAKIT TANAMAN JAHE

Penyakit yang menyerang tanaman jahe perlu diwaspadai, karena berpotensi menimbulkan kerugian sangat besar bagi kegiatan usaha budidaya jahe. Tanaman jahe termasuk tanaman temu-temuan bernilai ekonomis tinggi sehingga perlu mendapat perhatian serius saat melakukan budidaya agar produksi yang dihasilkan optimal. Meskipun penyebab kegagalan budidaya jahe tidak hanya disebabkan oleh serangan penyakit, namun faktor serangan hama dan penyakit tanaman menjadi faktor dominan dalam budidaya pertanian. Pada artikel kali ini, kami akan mengulas mengenai penyakit tanaman jahe secara lebih rinci, sedangkan masalah hama pengganggu tanaman jahe kami uraikan pada artikel terpisah. Penjelasan mengenai hama pengganggu dapat Anda lihat diHama Tanaman Jahe

Penyakit Tanaman Jahe

Penyakit tanaman jahe adalah organisme pengganggu yang dapat merugikan atau bahkan menggagalkan kegiatan budidaya jahe. Penyakit tanaman jahe bisa disebabkan karena infeksi bakteri maupun fungi (cendawan). Berikut ini beberapa jenis penyakit yang biasa menyerang tanaman jahe.

Penyakit busuk rimpang pada tanaman jahe

Penyakit busuk rimpang pada tanaman jahe disebabkan oleh serangan cendawan atau fungi dan bakteri. Cendawan yang biasa menyerang tanaman jahe dan mengakibatkan busuk timpang adalah Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani. Sementara itu, bakteri yang menyebabkan penyakit busuk rimpang pada tanaman jahe adalah Pseudomonas sp.

Penyakit busuk rimpang pada tanaman yang diakibatkan infeksi cendawan Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani




Cendawan ini akan menyerang dengan ganas pada kondisi suhu udara 20-25°C. Patogen ini akan berembang dengan baik dan menyerang parah jika jarak penanam jahe terlalu rapat. Penularan dari satu tanaman yang terinfeksi ke tanaman lain sangat cepat. Penularan penyakit ini bisa melalui tanah atau bibit dari rimpang jahe yang sebelumnya telah terserang.

Gejala serangan penyakit Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani pada tanaman jahe

Gejala serangan ditandai adanya daun tanaman jahe yang menguning pada bagian tepinya, kemudian layu dan tanaman jahe akan mati. Bagian batang tanaman yang mati masih cukup kuat menempel pada rimpang jahe, sedangkan tunas akan mudah dicabut. Bagian dalam batang semu berwarna kecokelatan membentu cincin. Rimpang jahe yang terserang akan mengerut dengan bagian dalam yang berwarna gelam kecokelatan atau kehitaman. Penyakit ini mampu menggagalkan areal pertanaman hingga 50%. Cendawan Fusarium oxysporium tidak hanya menyerang di areal pertanaman, tetapi juga menyerang selama dalam penyimpanan dan mengakibatkan busuk kering pada rimpang jahe.

Pengendalian penyakit Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani pada tanaman jahe

Penyakit ini sangat sulit dikendalikan, dan menjadi patogen yang sangat ditakuti oleh petani. Selain menyerang tanaman jahe, Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani juga menyerang beberapa tanaman lain, seperti tomat, cabai, kentang, dan tembakau. Aplikasi pestisida kimia hampir tidak bisa mengendalikan serangan penyakit ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi serangan Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani adalah dengan pengendalian secara organik, yaitu dengan aplikasi agensia hayati dari golongan fungi, Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. yang dicampurkan dalam pupuk organik. Perendaman bibit dengan kedua agensia hayati tersebut sebelum ditanam di lahan. Jika terjadi serangan di lahan, dapat diaplikasikan pestisida organik dengan cara pengocoran. Pestisida organik yang bisa digunakan adalah wonderfat. Dapat juga dilakukan pengocoran menggunakan kedua agensi hayati tersebut dengan interval 14 hari sekali.

Penyakit busuk rimpang pada tanaman yang diakibatkan infeksi bakteri Pseudomonas sp. pada tanaman jahe

Bakteri Pseudomonas sp. merupakan patogen dengan tingkat keganasan serangan menyerupai penyakit Fusarium oxysporium. Penyakit ini juga sangat sulit dikendalikan. Penularan penyakit bakteri Pseudomonas sp. bisa melalui tanaha atau bibit dari rimpang yang sebelumnya terserang. Bakteri Pseudomonas sp. memiliki banyak tanaman inang, sama seperti Fusarium oxysporium. Penyakit ini juga mampu menggagalkan areal pertanaman hingga 50%. Jadi, jika serangan bakteri ini diberengi dengan serangan Fusarium oxysporium, sudah bisa dibayangkan bagaimana kerugian yang akan dialami oleh petani atau pembudidaya jahe.

Genjala bakteri Pseudomonas sp. pada tanaman jahe

Tanaman jahe yang terserang bakteri Pseudomonas sp. ditunjukkan dengan gejala berupa daun tanaman yang melipat atau menggulung. Warna daun akan menguning, kemudian berubah menjadi kecokelatan dan akhirnya mengering. Gejala tersebut biasanya didahului dari daun-daun yang sudah tua. Tunas dan batang semu akan membusuk kemudian tanaman mati. Rimpang jahe akan berwarna gelap dan membusuk dan terdapat cairan atau lendir yang berwarna putih atau cokelat susu. Bakteri Pseudomonas sp. tidak hanya menyerang di areal pertanaman, tetapi juga menyerang selama dalam penyimpanan dan mengakibatkan busuk basah pada rimpang jahe.

Pengendalian penyakit bakteri Pseudomonas sp. pada tanaman jahe

Bakteri Pseudomonas sp. merupakan salah satu penyakit yang sangat sulit dikendalikan. Penyakit ini akan menyerang parah jika kelembaban di areal peranaman sangat tinggi, terutama jika terjadi genangan air di sekitar penanaman. Upaya pengendalian penyakit ini sama seperti pengendalian penyakit yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporium.

Penyakit bercak daun pada tanaman jahe

Penyakit bercak daun pada tanaman jahe disebabkan oleh infeksi cendawan Phyllostica zingiberi. Penularan penyakit ini dapat diakibatkan oleh tiupan angin, yaitu dengan menyebarkan spora cendawan.

Gejala serangan penyakit bercak daun Phyllostica zingiberi pada tanaman jahe

Tanaman jahe yang terserang penyakit bercak daun Phyllostica zingiberi ditunjukkan dengan gejala adanya bercak-bercak kuning pada permukaan daun yang berdiameter antara 3-5 mm yang lama-kelamaan bercak tersebut akan berubah menjadi cokelat dan mengering. Pada serangan parah dan tidak terkendali, warna bercak akan berubah menjadi abu-abu dengan titik-titik hitam pada bagin tengahnya yang merupakan koloni dari miselium cendawan. Daun akan berubah mengecil, dan daun muda tampak klorosis. Pada serangan yang berat, tanaman akan mati.

Pengendalian serangan penyakit bercak daun Phyllostica zingiberi pada tanaman jahe

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan merendam benih dengan agensia hayati Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. seperti penanganan pada penyakit busuk rimpang. Penanganan terhadap tanaman yang terserang di lahan menggunakan pestisida kimia. Sejauh ini belum ada pestisida organik yang cukup efektif mengendalikan penyakit ini. Penyemprotan menggunakan pestisida fungisida berbahan aktif benomil, metil tiofanat, klorotalonil, dan mankozeb, secara berseling dengan interval 14 hari sekali. Dosis atau konsentrasi larutan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan.

HAMA TANAMAN JAHE

Hama penyakit jahe merupakan organisme pengganggu yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi kegiatan usaha budidaya jahe. Kerugian yang ditimbulkan akibat serangan hama penyakit ini bisa dalam skala kecil maupun besar, bahkan tidak jarang yang mengakibatkan kegagalan budidaya. Oleh karena itu, untuk menunjang keberhasilan budidaya, hama penyakit tanaman jahe harus dikendalikan dengan serius. Pada artikel ini kami hanya mengulas tentang hama tanaman jahe, sedangkan penyakit pengganggu tanaman jahe dapat Anda lihat pada artikel kami lainnya yang berjudul Penyakit Tanaman Jahe. Berikut ini uraian mengenai hama yang biasa menyerang pada tanaman jahe.

Hama Tanaman Jahe

Hama merupakan binatang pengganggu atau perusak tanaman jahe yang pada periode atau musim tertentu dapat menimbulkan kerugian sangat besar. Hama yang biasa menyerang tanaman jahe diantaranya adalah kepik, ulat, kumbang, nematoda, dan kutu daun. Berikut ini cara pengendalian hama pengganggu tanaman jahe:

Hama kepik pada tanaman jahe

Hama kepik yang biasa menyerang tanaman jahe adalah Epilahre sp. Kepik merupakan hama utama pada tanaman jahe yang menyerang pada bagian daun. Daun yang terserang akan berlubang-lubang.

Hama kepik dapat dikendalikan dengan insektisida organi, yaitu dengan penyemprotan air tuba. Ambil kurang lebih satu 20 cm batang tuba yang sudah tua. Kemudian ditumbuk dan dicampur dengan satu tangki air selama semalam. Pagi harinya air disaring kemudian digunakan untuk menyemprot tanaman. Jika insektisida organik sudah tidak mampu mengendalikan, maka bisa mengendalikan dengan penyemprotan pestisida kimia. Bahan aktif yang bisa digunakan untuk mengendalikan hama kepik ini adalah profenofos, klorpirifos, deltametrin, sipermetrin, atau betasiflutrin. Dosis atau konsentrasi yang digunakan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan.

Hama ulat pada tanaman jahe




Hama ulat yang biasa menyerang tanaman jahe adalah ulat penggerek akar yang memiliki nama latin Dichorcrosis puntiferalis. Hama ini cukup ganas menyerang tanaman jahe. Akar tanaman jahe yang terserang akan mengering dan akhirnya tanaman mati.

Hama ulat penggerek akar dapat dikendalikan dengan cara seperti pada pengendalian kepik. Insektisida organik dari tuba atau umbi gadung bisa digunakan untuk menyiram di sekitar titik tanam. Jika serangan parah, pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida nematisida berbahan aktif karbofuran dengan dosis 1 gram per titik tanam.

Hama kumbang pada tanaman jahe

Hama kumbang yang biasa menyerang tanaman jahe adalah Araeceras fascicularis dan Lasioderma serricorae. Hama kumbang jahe ini menyerang rimpang, yaitu kumbang betina meletakkan telur pada rimpang jahe menggunakan ovipositornya.

Pengendalian hama kumbang ini sama seperti pengendalian ulat. Untuk menghidari kumbang betina memasukkan telurnya ke dalam rimpang jahe, bisa dilakukan pengocoran menggunakan larutan air tuba seperti yang dilakukan untuk mengendalikan hama ulat penggerek akar. Penyemprotan pestisida kimia bisa dilakukan seperti pada pengendalian hama kepik.

Hama lalat rimpang pada tanaman jahe

Lalat rimpang merupakan hama yang sangat merugikan petani atau pembudidaya jahe. Jenis hama lalat rimpang yang sering tanaman jahe adalah Mimegrala coeruleifrons dan Eumerus figurans. Beberapa ahli menyebutkan bahwa serangan lalat rimpang ini berpotensi menimbulkan serangan busuk rimpang yang diakibatkan oleh bakteri. Namun, pengamatan lain menyebutkan bahwa hama lalat rimpang lebih berpotensi menyerang jika rimpang jahe sudah terinfeksi oleh bakteri. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, yang jelas hingga saat ini lalat rimpang merupakan salah satu hama yang harus diperhatian dengan serius.

Pengendalian hama lalat rimpang perlu mendapatkan perhatian serius oleh petani atau pembudidaya jahe. Pada prinsipnya, pengendalian lalat rimpang ini bisa dilakukan seperti pada pengendalian lalat buah. Lihat LALAT BUAH (Bactrocera sp.). Untuk menghindari serangan pada rimpang, bisa dilakukan pembumbunan secara teratur terhadap rimpang jahe yang menyembul ke permukaan tanah. Selain itu, penyiraman dengan pestisida organik dan pemberian pestisida kimia seperti pada pengendalian hama ulat penggerek akar juga bisa dilakukan.

Hama nematoda pada tanaman jahe

Hama nematoda yang biasa menyerang tanaman jahe adalah Meloidogyne sp.. Hama ini menyerang tanaman jahe pada jaringan akar dan rimpang, sehingga mengakibatkan rimpang menjadi busuk. Akar yang terserang akan membentuk akan terbentuk bintil-bintil kecil akibat pembuluh kayu dan jaringan parenkim menjadi tidak normal. Oleh karena itu, hama ini juga sering disebut dengan hama bintil akar atau puru akar. Rimpang jahe yang terserang nematoda akan berwarna kecokelatan pada bagian permukaannya. Sudut antar tunas akan menunjukkan gejala water soak.

Pengendalian hama nematoda pada tanaman jahe bisa dilakukan menggunakan larutan air tubah, kemudian disiramkan di sekitar titik tanam. Selain itu, bisa juga dilakukan pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan insektisida nematisida berbahan aktif karbofuran dengan dosis 1 gram/titik tanam.

Hama kutu daun pada tanaman jahe

Hama kutu daun menyerang tanaman jahe dengan cara menghisap cairan tanaman baik pada bagian daun maupun cairan rimpang jahe pada saat awal penanaman. Hama kutu daun yang biasa menyerang tanaman jahe adalah Aspidiella hartii.

Pengendalian hama kutu daun pada tanaman jahe sama seperti pengendalian hama kepik. Hal yang perlu diperhatikan pada saat aplikasi pestisida kimia adalah penggunaan dosis yang terukur sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida

Demikian informasi ini kami sajikan, semoga artikel Hama Tanaman Jahe ini dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

ANALISA USAHA BISNIS BUDIDAYA JAHE

Usaha bisnis budidaya jahe memiliki peluang yang sangat besar. Hal ini disebabkan permintaan pasar terhadap komoditas jahe semakin hari semakin meningkat. Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap jahe dipengaruhi oleh peran dan manfaat jahe dalam kehidupan, baik sebagai bumbu masakan, bahan makanan, maupun sebagai bahan obat-obatan, terutama obat tradisional. Salah satu hal yang mempengaruhi tingginya permintaan konsumen terhadap produk jahe ini adalah kandungan minyak atsiri pada rimpang jahe yang sangat tinggi.
Bagaimana kelayakan usaha bisnis budidaya tanaman jahe di negara kita? Di bawah ini kami sajikan analisa usaha bisnis budidaya tanaman jahe yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum Anda memutuskan untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan kegiatan usaha budidaya jahe.

Analisa Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe Putih Kecil atau Jahe Emprit dan Jahe Merah

Dalam analisa usaha bisnis ini, kami akan menyajikan studi kelayakan sebuah usaha bisnis, dalam hal ini adalah budidaya tanaman jahe, dengan asumsi harga, variable produksi, produktivitas, hingga harga jual berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi dalam kegiatan budidaya selama tahun 2012.

Biaya Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe Dalam Satu Musim Tanam (12 Bulan)




Sewa Lahan: Rp 10.000.000,-
Benih: 1.000 kg X Rp 6.000,- = Rp 6.000.000,-
pupuk kandang: 40 ton X Rp 250.000,- = Rp 10.000.000,-
NPK: 1.500 kg X Rp 2.300,- = Rp 3.450.000,-
Pengendalian Hama Terpadu: Rp 450.000,-
Tenaga Kerja
Pembuatan Bedengan: 60 HOK X Rp 25.000,- = Rp 1.500.000,-
Penanaman: 60 HOK X Rp 25.000,- = Rp 1.500.000,-
Pemeliharaan: 300 HOK X Rp 25.000,- = Rp 7.500.000,-
Sortasi dan Seleksi: 100 HOK X Rp 25.000,- = Rp 2.500.000,-
Panen dan Pasca Panen: 100 HOK X Rp 25.000,- = Rp 2.500.000,-
JUMLAH= Rp 45.400.000,-

Pendapatan Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe

Panen = 13.000 kg
Penjualan = 13.000 kg X Rp 6.000,- = Rp 78.000.000,-
Pengeluaran = Rp 45.400.000,-
Laba Kotor = Rp 78.000.000,- – Rp 45.400.000,- = Rp 32.600.000,-
Bunga Bank = 12%/thn X Rp 45.400.000,- = Rp 5.448.000,-
Laba Bersih = Rp 27.152.000,-

Analisa Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe Gajah atau Jahe Gajah

Sebagai pembanding untuk menentukan varietas yang akan dibudidayakan, dibawah ini kami sajikan analisa usaha bisnis budidaya tanaman jahe gajah.

Biaya Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe Dalam Satu Musim Tanam (12 Bulan)

Sewa Lahan: Rp 10.000.000,-
Benih: 2000 kg X Rp 6.000,- = Rp 12.000.000,-
Pupuk Kandang: 40 ton X Rp 250.000,- = Rp 10.000.000,-
Pupuk NPK: 1.500 kg X Rp 2.300,- = Rp 3.450.000,-
Pengendalian Hama Terpadu: Rp 450.000,-
Tenaga Kerja
Pembuatan Bedengan: 60 HOK X Rp 25.000,- = Rp 1.500.000,-
Penanaman: 60 HOK X Rp 25.000,- = Rp 1.500.000,-
Pemeliharaan: 300 HOK X Rp 25.000,- = Rp 7.500.000,-
Sortasi dan Seleksi: 100 HOK X Rp 25.000,- = Rp 2.500.000,-
Panen dan Pasca Panen: 100 HOK X Rp 25.000,- = Rp 2.500.000,-
JUMLAH = Rp 51.400.000,-

Pendapatan Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe

Panen = 18.000 kg
Penjualan = 18.000 kg X Rp 5.000,- = Rp 90.000.000,-
Pengeluaran = Rp 51.400.000,-
Laba Kotor = Rp 90.000.000,- – Rp 51.400.000,- = Rp 38.600.000,-
Bunga Bank = 12%/thn X Rp 51.400.000,- = Rp 6.168.000,-
Laba Bersih = Rp 32.432.000,-

Demikian informasi ini kami sajikan, semoga artikel Analisa Usaha Bisnis Budidaya Jahe ini dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

KANDUNGAN DAN MANFAAT JAHE

Selain memiliki nilai jual yang cukup tinggi, jahe sebagai tanaman rimpang dan rempah-rempah juga memiliki kandungan dan manfaat yang sangat bersar dalam kehidupan manusia. Tidak mengherankan, jika permintaan jahe semakin hari semakin meningkat, dikarenakan banyak konsumen yang bisa merasakan banyaknya manfaat jahe. Pemanfaat terbesar jahe adalah sebagai bahan minuman dan tanaman obat. Jahe mengandung banyak minyak atsiri yang sangat berguna dalam kehidupan manusia. Berikut ini kami uraikan secara rinci mengenai kandungan dan manfaat jahe bagi manusia.

Kandungan Jahe

Kandungan utama yang biasa dimanfaatkan dalam rimpang jahe adalah minyak atsiri. Secara umum, rimpang jahe yang diambil minyak atsirinya adalah rimpang yang telah berumur 10-11 bulan atau bahkan lebih. Secara fisik, dengan umur 10-11 bulan, rimpang jahe sudah terlihat agak kemerahan atau kebiruan. Di bawah ini kami sajikan kandungan yang terdapat dalam rimpang jahe untuk jenis jahe putih besar atau jahe gajah, jahe putih kecil atau jahe emprit, dan jahe merah atau jahe wulung.

Kandungan jahe putih besar atau jahe gajah

Karakter rimpang : Berukuran besar, berwarna putih kekuningan, tidak banyak akar, mata tunas besar.
Minyak atsiri : 1,62-2,29%
Pati : 55,10%
Serat : 6,89%
Abu : 6.60-7,57%

Kandungan jahe putih kecil atau jahe emprit




Karakter rimpang : Berukuran kecil dengan ruas yang kecil, berwarna putih kebiruan, banyak akar, mata tunas kecil.
Minyak atsiri : 3,05-3,48%
Pati : 54,70%
Serat : 6,59%
Abu : 7,39-8,90%

Kandungan jahe merah atau jahe wulung

Karakter rimpang : Berukuran kecil dengan ruas yang kecil, berwarna merah kebiruan, banyak akar, mata tunas kecil.
Minyak atsiri : 3,90%
Pati : 44,99%
Serat :
Abu : 7,46%

Dari data tersebut menunjukkan bahwa jahe memiliki kandungan minyak atsiri yang sagat besar. Kandungan minyak atsiri pada rimpang jahe banyak digunakan untuk keperluan industri makanan, kosmetik, dan obat-obatan.

Selain kandungan tersebut, secara umum rimpang jahe juga mengandung vitamin A, B, C, protein, dammar, lemak, asam organik, zingeron, zingerol, zingeberol, zingiberin, borneol, feladren, sineol, oleoresin atau gingerin.

Pemanfataan Jahe

Jahe sebagai rempah-rempah yang banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia ini sering dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya adalah sebagai bumbu masak, keperluan pembuatan industri jamu dan obat-obatan, terutama obat-obatan herbal. Untuk keperluan obat-obatan ini jahe memang dikenal memiliki khasiat yang luar biasa dan sudah banyak dibuktikan, seperti untuk mengobati masuk angin dan sakit perut. Hal ini membuktikan bahwa jahe memiliki efek farmakologis yang cukup ampuh. Selain untuk pemanfaatan di atas, rimpang jahe juga sering dimanfaatkan sebagai bahan utama pembuat kue, asinan, serbuk jahe, bahkan dimanfaatkan untuk membuat sirup jahe. Pemanfaatan jahe sebagai bahan minuman ini cukup tinggi, terbukti dengan permintaan industri-industri pembuatan serbuk jahe yang terus meningkat. Animo masyarakat terhadap minuman jahe ini cukup tinggi.

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa rimpang jahe memiliki kandungan yang sangat bagus bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, pemanfaatan jahe semakin hari semakin berkembang dengan pesat. Hal ini tentu akan mengakibatkan tingginya permintaan masyarakat terhadap jahe. Dengan demikian, akan memberikan peluang usaha baru baik dalam bidang produksi atau budidaya, pemasaran dan pengolahan jahe. Pengolahan jahe untuk diambil minyak atsirinya juga memiliki peluang usaha yang cukup bagus, mengingat penggunaan minyak atsiri rimpang jahe ini semakin berkembang. Inovasi dan kreativitas memang sangat diperlukan untuk untuk membidik peluang tersebut.

Demikian informasi yang kami sajikan mengenai Kandungan Dan Manfaat Jahe, semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

MENGENAL TANAMAN JAHE

Mengenal Tanaman Jahe - Jahe merupakan salah satu jenis tanaman rempah-rempah yang ada di Indonesia. Komoditas ini dikenal sejak jaman panjajahan Belanda, konon alasan negeri Belanda datang ke Indonesia karena tanaman jahe. Rimpang jahe banyak dicari karena memiliki kelebihan dalam hal kesehatan, kesegaran, dan campuran untuk membuat masakan.

Indonesia sebagai negara tropis merupakan daerah yang cocok untuk tanaman jahe. Namun pada kenyataannya tidak mudah untuk mendapatkan jahe dengan kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan, baik kebutuhan dalam negeri maupun ekspor.

MENGENAL TANAMAN JAHE

Jahe (Zingiber officinale Rosc) merupakan tanaman rempah yang dimanfaatkan sebagai minuman atau campuran pada berbagai bahan pangan. Rasa jahe yang pedas bila dibuat minuman bisa memberikan sensasi sebagai pelega dan penyegar tenggorokan, juga bisa memberikan rasa hangat pada tubuh.

Selain sebagai penyedap makanan dan minuman, rimpang jahe juga berkhasiat sebagai obat-obatan. Dewasa ini jahe banyak dimanfaatkan untuk asupan makanan, industri makanan/minuman, atau bahan obat. Oleh karena itu, rimpang jahe juga banyak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Jahe (Zingiber officinale Rosc) termasuk kedalam kelas Monocotyledon yaitu tanaman berkeping satu dan famili Zingiberaceae atau famili temu-temuan. tanaman ini merupakan salah satu jenis tanaman rempah-rempah yang telah lama tumbuh di Indonesia. Bahkan bangsa asing mencoba mencari dan mendatangi negara Indonesia beberapa abad silam karena tanaman ini.

Asal Tanaman Jahe




Nama Zingiber merupakan nama latin yang berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu singibera, yang mempunyai makna berbentuk tanduk. Hal itu dikarenakan percabangan rimpang jahe memiliki bentuk yang menyerupai tanduk rusa. Biasanya tanaman ini banyak tumbuh di pekarangan rumah maupun di kebun. Bahkan sekarang tanaman jahe banyak dibudidayakan di daerah tegalan.

Sejak jaman dahulu, tanaman jahe sudah dikenal dan dibutuhkan banyak orang. Namun sayangnya pada saat itu merka belum mengenal cara budidaya jahe yang baik dan benar sehingga hasil panen waktu itu tidak maksimal. Tanaman jahe diperkirakan berasal dari India dan Cina yang terkenal sebagai negara yang memanfaatkan jahe untuk obat-obatan. Bangsa Yunani dan Romawi memperoleh jahe dari para pedagang Arab yang membawa jahe dari India. Sementara itu orang-orang Jamaica mulai mengenal jahe sekitar tahun 1952 yang kemudian dibawa oleh orang-orang Karibia.

Klasifikasi Jahe

Jahe adalah tanaman rimpang yang sudah sangat dikenal sebagai rempah-rempah dan bahan obat. Rimpang jahe ada yang berbentuk seperti jemari. Adanya rasa pedas yang sangat dominan dalam rimpang jahe disebabkan oleh senyawa keton zingeron. Klasifikasi tanaman jahe digolongkan sebagai berikut :

Filum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale

Deskripsi Tanaman Jahe

Akar tanaman jahe keluar dari garis lingkaran sisik rimpang, berwarna putih sampai cokelat, berbentuk bulat ramping serta berserat. Akar tumbuh mendatar dekat perpukaan tanan dan bercabang. Jahe merupakan tanaman berbatang semu, berbentuk silindris dengan tinggi tanaman berkisar antara 30-100 cm. tanaman jahe memiliki rimpang berwarna putih, putih kekuningan, dan jingga.

Daun berpasangan berbentuk menyerupai pedang, dan tersusun berseling-seling secara teratur dengan panjang 15 – 23 cm, lebar 1– 3 cm, dengan panjang tangkai daun berkisar 2–4 mm. Tulang daun tersusun sejajar serta permukaan daun bagian atas berbulu putih. Ujung daun berbentuk runcing yang membulat pada bagian pangkal. Daun terdiri atas upih dan helaian, pada setiap buku terdapat dua daun.

Bunga tanaman jahe tersusun dalam rangkaian malai atau bulir yang berbentuk silinder seperti jagung. Bunga tersebut tumbuh dari rimpang yang keluar dari permukaan tanah diantara batang tanaman dan terpisah dari batang dan daunnya. Bunga tersebut berbentuk seperti tongkat, tetapi kadang-kadang keluar juga bunga dengan bentuk bulat telur. Panjang malai sekitar 4-7 cm dengan lebar 1,5–2,5 cm. Setiap bunga dilindungi oleh daun pelindung (bractea) berwarna hijau cerah berbentuk bulat telur (ovatus) atau jorong(elliptic). Di dalam daun pelindung terdapat 1-8 bunga jahe yang memiliki mahkota berbentuk tabung dengan helaian agak sempit berwarna kuning kehijauan. Bibir mahkota bunga berwarna ungu gelap dan berbintik-bintik putih kekuningan. Bunga tanaman jahe memiliki benang sari semu (staminodium) yang menyerupai mahkota bunga. Tangkai putiknya berjumlah dua buah dengan kepala sari berwarna ungu berkukuran 9 mm. Kepala putik berada di atas kepala sari sehingga kecil kemungkinan untuk terjadi penyerbukan sendiri. Namun peluang untuk terjadi penyerbukan buatan masih terbuka.

Jenis Tanaman Jahe

Secara umum terdapat tiga jenis tanaman jahe yang dapat dibedakan dari aroma, warna, bentuk, dan besar rimpang. Ketiga jenis tanaman jahe tersebut adalah jahe putih besar, jahe putih kecil, dan jahe merah. Jahe putih besar biasa disebut juga dengan jahe gajah atau jahe badak, hal itu dikarenakan jahe putih besar memiliki ukuran rimpang yang lebih besar dengan bentuk yang gemuk.

Jahe Putih Besar

Jahe putih besar memiliki rimpangnya lebih besar dan gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Rimpang jahe ini berwarna putih kekuningan. Jahe putih besar bisa dikonsumsi dalam bentuk oalah maupun jahe segar, baik berumur muda ataupun tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan. Rasa rimpang jahe gajah tidak begitu pedas dibanding jahe merah ataupun jahe putih kecil. Jahe ini memiliki kandungan minyak atsiri sekitar 0,18-1,66% dari berat kering.

Jahe Putih Kecil

Jahe putih kecil atau disebut juga jahe emprit memiliki ruas kecil dengan warna rimpang putih. Bentuknya agak pipih dan berserat lembut. Saat ini telah diciptakan varietas unggul jahe putih kecil atau jahe emprit, yaitu JPK 3 dan JPK 6 yang mampu berproduksi hingga 16 ton/ha. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Minyak atsirinya lebih tinggi jika dibandingkan jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan dan memiliki kandungan minyak atsiri yang tinggi yaitu 1,7-3,8% berat kering dan kadar oleoresin 2,39-8,87%.

Jahe Merah

Jahe merah yang memiliki nama latin Zingiber offocinale var. rubrum biasa disebut juga dengan nama jahe sunti. Jahe merah memiliki rasa yang sangat pedas dengan aroma yang sangat tajam sehingga sering dimanfaatkan untuk pembuatan minyak jahe dan bahan obat-obatan. Jahe merah memiliki rimpang yang berwarna kemerahan dan lebih kecil jika dibandingkan dengan jahe putih kecil atau sama dengan jahe kecil dengan serat yang kasar. Jahe ini memiliki kandungan minyak atsiri sekitar 2,58-3,90% dari berat kering.

Kebutuhan Jahe

Kebutuhan permintaan jahe dari Indonesia ke negara pengimpor jahe beberapa tahun terakhir ini cukup meningkat. Volume permintaan dalam negeri juga terus meningkat seiring dengan semakin berkembangnya industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku jahe. Sayangnya, adanya peningkatan permintaan jahe belum dapat diimbangi dengan peningkatan produksi jahe.

Adapun negara tujuan jahe dari Indonesia antara lain Jepang, Arab Saudi, serta Malaysia dalam bentuk jahe segar, jahe kering, dan jahe olahan. Komoditas ekspor olahan seperti asinan (jahe putih besar), jahe kering (jahe putih besar, jahe putih kecil, dan jahe merah), maupun minyak atsiri dari jahe merah dan jahe putih kecil.

Berdasarkan hal tersebut di atas, jahe layak dijadikan sebagai salah satu komoditas unggulan dalam usaha mengembangan agribisnis dan agroindustri. Selain itu, jahe juga memiliki peluang cukup besar untuk dikembangkan. Hal itu dikarenakan selain iklim, kondisi tanah, dan letak geografis, Indonesia sangat cocok untuk bertanam jahe. Dengan demikian Indonesia bisa menjadi salah satu negara penyuplai jahe terbesar di dunia.

CARA MEMBUAT JAHE INSTAN

Membuat Jahe Instan - Jahe memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan manusia. Tanaman Jahe mengandung minyak atsiri dan oleoresin yang bisa digunakan untuk bahan kecantikan maupun obat-obatan. Selain itu, jahe juga dapat berfungsi sebagai peluruh lambung, mengobati sakit pinggang dan ecok yang sering menyerang otot, mengobati demam, nyeri, dan muntah-muntah, serta bermanfaat untuk menambah stamina agar tubuh tetap bugar. Oleh karena itu, mengkonsumsi jahe secara ruting sangat baik pengaruhnya bagi kesehatan dan kebugaran tubuh.

JAHE INSTAN

Jahe selain dapat digunakan untuk bumbu masakan, juga sering dikonsumsi sebagai wedang jahe, terutama di daerah dingin untuk menghangatkan tubuh. Di daerah bersuhu dingin, meminum wedang jahe hangat memiliki kenikmatan tersendiri. Namun, kadang kala kita sedikit malas untuk membuat wedang jahe karena memang sediki rumit, apalagi harus membersihkan rimpang terlebih dahulu, kemudian dibakar, sebelum akhirnya jahe direbus. Untuk mengatasi kemalasan itu, salah satu upaya pengolahan jahe adalah dengan membuat jahe instan. Sehingga jahe bisa dibuat minuman dengan mudah sewaktu-waktu membutuhkan.

Jahe Instan merupakan salah satu produk yang dihasilkan dari subsektor pengolahan hasil pertanian. Selain yang mudah dalam pembuatannya, jahe instan juga memiliki peluang usaha yang cukup besar. Pergeseran pola hidup masyarakat yang cenderung memilih segala sesuatu yang bersifat instan, akan memberi peluang tersendiri untuk pemasaran produk jahe instan. Selain itu, kebutuhan masyarakat terhadap jahe instan juga sangat tinggi, hal ini terbukti dari peningkatan kebutuhan bahan baku jahe dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi jahe instan. Disamping itu, pembuatan jahe instan ini juga bertujuan memberikan nilai tambah terhadap produk pertanian terutama pada pelaku usaha budidaya jahe ketika harga jahe sedang jatuh. Dengan teknik pengolahan jahe instan ini, diharapkan petani memiliki peluang untuk meningkatkan penghasilan, dan merupakan kegiatan subsektor pertanian yang dapat dikerjakan oleh ibu-ibu yang notabenenya berasal dari keluarga petani. Namun, sebetulnya usaha pengolahan hasil ini juga bisa dilakukan secara profesional oleh setiap orang yang mau dan berkeinginan untuk terjun di bidang ini dan memiliki peluang pemasaran yang besar.

BAHAN MEMBUAT JAHE INSTAN




Jahe 1 kilogram
Gula Pasir 1 kilogram
Serai 5 batang
Cengkeh 10 butir
Daun Pandan 5 helai
Kayu Manis 3 ruas jari
Air 1 gelas ukuran sedang

CARA MEMBUAT JAHE INSTAN

  1. Kupas rimpang jahe hingga bersih, kemudian rimpang tersebut dipotong-potong dengan ukuran agak besar agar mudah dibersihkan. Cuci rimpang tersebut hingga bersih.
  2. Rimpang jahe yang sudah dibersihkan lalu dipotong kecil-kecil.
  3. Campur potongan jahe yang telah dipotong kecil-kecil tersebut dengan air, kemudian blender sampai halus.
  4. Jahe halus yang sudah diblender kemudian diperas menggunakan saringan halus. Air perasan jahe tersebut digunakan sebagai bahan pokok.
  5. Cuci hingga bersih semua bahan lain.
  6. Masukkan air perasan jahe, daun pandan, kayu manis, cengkeh, gula pasir ke dalam panci, kemudian tambahkan 1 gelas air, lalu aduk hingga rata.
  7. Campuran bahan yang telah diaduk kemudian direbus. Api yang digunakan untuk merebus jangan terlalu besar. Aduk terus agar tidak lengket/gosong.
  8. Jika bahan yang direbus sudah mulai masak, tandanya telah mengkristal dan berwarna putih agak coklat muda, segera angkat lalu biarkan hingga dingin.
  9. Ayaklah jahe instan hingga kristalnya halus dan rata. Kristal jahe yang masih kasar dihaluskan lalu diayak lagi sampai halus dan rata.
  10. Jahe instan siap disajikan atau dikemas.
Demikian, semoga sajian cara membuat jahe ini bisa bermanfaat terutama bagi pelaku budidaya jahe. Salam Tani Indonesia !

BUDIDAYA JAHE

Budidaya Jahe - Jahe dengan nama ilmiah Zingiberaceae merupakan keluarga temu-temuan, sama halnya dengan temu-temuan lainnya seperti temu hitam (Curcuma aeruginosa), temu lawak (Cucuma xanthorrizha), kencur (Kaempferia galanga), kunyit (Curcuma domestica), lengkuas atau laos (Languas galanga) dan lain-lain. Pada artikel pendek ini kami akan membahas beberapa hal tentang jahe, diantaranya adalah klasifikasi tanaman jahe, deskripsi jahe, jenis jahe, manfaat jahe, serta budidaya jahe.

KLASIFIKASI TANAMAN JAHE

Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale

DESKRIPSI TANAMAN JAHE

Tanaman Jahe merupakan salah satu jenis tanaman berbatang semu, tanaman ini memiliki bentuk daun memanjang dan berpasangan dengan panjang berkisar antara 15-25 cm, panjang tangkai daunnya antara 2-4 cm, tangkai daun tanaman jahe memiliki bulu halus, sedangkan lidah daunnya tidak berbulu, berbentuk memanjang kurang lebih 7,5-10 cm, seludang agak berbulu. Tinggi tanaman jahe dapat mencapai 30 cm, bahkan hingga 1 m jika ditanam di tempat yang subur dengan unsur hara yang memenuhi kebutuhan tanaman. Rimpang jahe berwarna coklat muda, dengan daging berwarna kuning muda atau jingga tergantung varietasnya.

Bunga jahe berupa malai berbentuk bulat telur yang sempit atau terkadang menyerupai tongkat dengan panjang 2,75–3 kali lebarnya. Malai ini keluar langsung di permukaan tanah, sangat tajam dan memiliki panjang 3,5–5 cm, lebar 1,5–1,75 cm, sedangkan tangkai bunganya memiliki panjang 25 cm sedikit berbulu, rahis berbulu jarang, pada tangkai bunga terdapat sisik dengan panjang 3–5 cm, berjumlah 5–7 buah saling berdekatan, berbentuk lanset, hampir tidak berbulu, daun pelindung memiliki panjang 2,5 cm, lebar 1–1,75 cm, berbentuk bundar telur terbalik dan bundar pada ujungnya, tidak berbulu, mahkota bunga berbentuk tabung 2-2,5 cm, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, helainya agak sempit, panjang 1,5-2,5 mm, lebar 3-3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12-15 mm, kepala sari berwarna ungu dengan panjang 9 mm, tangkai putik berjumlah 2.

JENIS JAHE




Jahe gajah atau jahe badak

Jahe gajah atau sering juga dikenal dengan naman jahe badak ini memiliki rimpang yang lebih besar dan gemuk dari jenis jahe lainnya. Tanaman ini lebih disukai para petani karena cara pemanenannya lebih mudah meskipun seringkali harga jahe gajah jauh lebih murah jika dibandingkan dengan jahe emprit atau jahe merah. Karena produktivitasnya lebih tinggi biasanya mampu menutup selisih harga dari keduanya. Jahe gajah dapat dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.

Jahe putih atau jahe emprit

Jenis jahe putih atau jahe emprit biasanya memiliki harga yang lebih baik di pasaran, namun karena ruas rimpangnya kecil menjadi kurang disukai oleh para pengusaha pertanian, apalagi jahe putih atau jahe emprit ini selalu dipanen setelah berumur tua sehingga waktu pemanenannya lebih lama. Jahe emprit lebih banyak dimanfaatkan sebagai ramuan obat tradisional karena kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga memiliki rasa lebih pedas. Selain itu, kandungan seratnya pun lebih tinggi. Jahe putih kecil atau jahe emprit ini juga sering diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya oleh para industri jamu.

Jahe merah atau jahe wulung

Jahe merah atau lebih dikenal dengan nama jahe wulung oleh orang jawa, memiliki bentuk rimpang yang hampir sama dengan jahe putih atau jahe emprit. Namun warnanya berbeda, rimpang dan daging jahe merah berwarna merah. Sama halnya dengan jahe emprit, jahe merah pun selalu dipanen setelah tua sehingga waktu panennya lebih lama. Kandungan minyak atsiri jahe merah setara dengan jahe kecil atau jahe emprit, sehingga sangat cocok untuk ramuan obat-obatan.

MANFAAT TANAMAN JAHE

Jahe dengan berbagai varietasnya seringkali dimanfaatkan sebagai bumbu masak oleh para ibu rumah tangga, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai minuman. Selain itu, tanaman jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi jahe instan, asinan, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup. Dewasa ini para petani cabe memanfaatkan jahe sebagai pestisida alami untuk menglangsungkan budidaya pertanian, tentunya ketika harganya sedang murah di pasaran sehingga dapat menekan input yang dikeluarkan. Dalam sektor perdagangan, jahe juga dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk maupun awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain.

Manfaat lain dari jahe ini secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), antimuntah, pereda kejang, antipengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, antiinflamasi, antimikroba dan parasit, antipiretik, antirematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.

SENTRA BUDIDAYA JAHE

Budidaya tanaman jahe dibudidayakan di seluruh Indonesia, ditanam di kebun dan di pekarangan. Pada saat ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia.

CARA BUDIDAYA JAHE

Syarat Tumbuh Tanaman Jahe

Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan intensitas cahaya matahari 70-100%. Dengan kata lain budidaya tanaman jahe sebaiknya dilakukan di tempat terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari. Suhu udara optimum budidaya jahe antara 20-35°C. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah subur, gembur dan banyak mengandung humus. Tekstur tanah yang baik adalah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik. Tanaman dapat tumbuh pada pH Tanah sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum untuk jahe gajah adalah 6,8-7,0. Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian 0-2.000 mdpl. Di Indonesia, pada umumnya budidaya jahe dilakukan pada ketinggian 200-600 mdpl.

Pembibitan Jahe

Persyaratan Bibit Jahe

Bibit berkualitas adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh tinggi), dan mutu fisik. Mutu fisik adalah bibit bebas hama dan penyakit. Rimpang untuk dijadikan benih, sebaiknya mempunyai 2-3 bakal mata tunas dengan bobot sekitar 25-60 g untuk jahe putih besar, 20-40 g untuk jahe putih kecil atau jahe emprit dan jahe merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe putih besar (panen tua) adalah 15 ton/ha, dan 7,5 ton/ha untuk jahe putih besar panen muda. Sedangkan jahe merah dan jahe emprit 5 ton.

Teknik Penyemaian Bibit Jahe

Pada budidaya tanaman jahe, untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman yang seragam, bibit jahe sebaiknya jangan langsung ditanam, tetapi terlebih dahulu harus dikecambahkan. Penyemaian bibit jahe dapat dilakukan dengan peti kayu atau ditaruh di atas bedengan.

Penyemaian Jahe pada Peti Kayu

Rimpang jahe yang baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit jahe tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu bibit jahe dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian diatasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yang paling atas adalah abu gosok atau sekam padi. Setelah 2-4 minggu, bibit jahe siap disemai.

Penyemaian Jahe pada Bedengan

Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m untuk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Buat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit jahe disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, diatasnya diberi rimpang tutup dengan jerami, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit jahe pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari dan sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit jahe berkualitas rendah. Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan dan setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan beratnya 40-60 gram.

Penyiapan Bibit Jahe

Pada budidaya jahe, sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara dimasukkan ke dalam karung dan dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit jahe dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.

Persiapan Lahan Budidaya Jahe

Pembukaan Lahan

Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit dan hama akan mati terkena sinar matahari.

Pembentukan Bedengan dan Pemupukan Dasar

Pada budidaya tanaman jahe, untuk memudahkan pemeliharan sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan dengan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Budidaya tanaman jahe dengan sistem bedengan juga bertujuan untuk memudahkan serangan patogen, karena kelembaban tanah bisa dijaga dengan membuat pari-parit. Pemupukan dasar diberikan bersamaan dengan pembuatan bedengan menggunakan pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 40 ton/ha dan NPK 15-15-15 sebanyak 1,5 ton/ha. Akan lebih baik bila ditambahkan dengan agensia hayati seperti Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. untuk mencegah serangan bakteri maupun cendawan patogen. Pemberian humat dan fulvat akan berfungsi sebagai pembenah tanah, sehingga serapan unsur hara oleh tanaman bisa optimal.

Pengapuran

Pengapuran dilakukan pada saat pembentukan bedengan. Pada tanah dengan pH tanah rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, terutama fosfor (p) dan kalsium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau terikat oleh ion-ion tanah. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp dan pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman jahe untuk mengeraskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.

Teknik Budidaya Jahe

Penentuan Pola Tanam

Budidaya tanaman jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, mengingat nilai ekonomis jahe yang cukup tinggi, sehingga dengan teknis budidaya jahe monokultur diharapkan mampu memberikan produksi tinggi. Namun di daerah, budidaya tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Budidaya tanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut :
  • Mengurangi kerugian yang disebabkan naik turunnya harga.
  • Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
  • Meningkatkan produktivitas lahan.
  • Memperbaiki sifat fisik dan mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu).
Pada praktek penanaman jahe di lapangan, petani biasa menanam jahe yang ditumpangsarikan dengan sayur-sayuran, seperti timun, bawang merah, cabe rawit, buncis, dll. Ada juga yang ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah dan beberapa kacang-kacangan lainnya.

Pembuatan Lubang Tanam

Pada budidaya tanaman jahe, untuk menghindari pertumbuhan jahe yang jelek, karena kondisi air tanah yang buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk penanaman bibit jahe. Pembuatan bedengan memiliki tujuan utama untuk menghindari genangan air di sekitar area budidaya pada saat musim hujan. Genangan air di sekitar area budidaya dapat memicu timbulnya penyakit, baik penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri maupun penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur atau fungi.

Cara Menanam Jahe

Cara menanam jahe dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan. Jarak tanam yang digunakan untuk menanam jahe putih besar yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.

Perioda Tanam

Budidaya tanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Jahe yang ditanam pada musim kemarau akan meningkatkan biaya produksi yang besar, terutama biaya pengairan. Kalaupun lahan budidaya memiliki sumber air yang memadai, namun pertumbuhan tanaman jahe akan sedikit terhambat, karena suhu udara yang terlalu tinggi akan menghambat pertumbuhan tanaman muda.

Pemeliharaan Tanaman Jahe

Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada umur 2–3 minggu setelah tanam. Jika penyulaman dilakukan terlalu tua, maka pertumbuhan tanaman jahe tidak akan seragam. Pertumbuhan yang tidak seragam akan menambah tingkat kesulitan dalam pemeliharaan, terutama dalam pengendalian hama penyakit tanaman.

Penyiangan

Penyiangan pertama pada budidaya tanaman jahe dilakukan ketika tanaman berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu (gulma) yang tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.

Pembubunan

Tanaman jahe memerlukan tanah yang peredaran udara dan air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan untuk menimbun rimpang jahe yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-5 anakan, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung pada kondisi tanah dan banyaknya curah hujan.

Pemupukan Susulan

Tanaman jahe merupakan tanaman yang berumur panjang dibandingkan dengan tanaman cabe maupun tomat. Pada dasarnya pupuk dasar yang diberikan sudah mencukupi untuk menopang pertumbuhan tanaman tersebut. Akan tetapi dalam budidaya jahe secara intensif perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan hasil produksi yang signifikan. Oleh karena itu, pupuk susulan perlu diberikan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan, 4-6 bulan, dan 8-10 bulan menggunakan pupuk NPK 15-15-15 dengan dosis 20 gram per tanaman ditambah dengan pembenah tanah, seperti asam humat dan asam fulvat untuk membantu serapan unsur hara oleh akar sehingga pertumbuhan tanaman jahe bisa optimal.

Pengairan dan Penyiraman

Pada budidaya tanaman jahe, tanaman tidak memerlukan air yang terlalu banyak untuk pertumbuhan, akan tetapi pada awal petumbuhannya, tanaman jahe membutuhkan air yang cukup, sehingga saat memulai budidaya tanaman jahe diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September.

ARTIKEL POPULER