Tampilkan postingan dengan label Budidaya Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Pertanian. Tampilkan semua postingan

BUDIDAYA TANAMAN BUAH

Budidaya Tanaman Buah - Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki aneka tanaman buah yang sangat beragam. Akan tetapi keragaman tanaman buah di Indonesia tidak didukung dengan produksi buah yang baik. Hal ini terutama untuk tanaman buah yang berumur panjang atau tahunan, seperti durian, mangga, rambutan, kedondong, dan sebagainya.

Rendahnya produksi buah di Indonesia mengakibatkan kekurangan pasokan buah. Untuk mengatasi hal tersebut, maka Indonesia harus mengimpor beberapa jenis buah dari luar negeri, seperti anggur, apel, durian, jeruk, dll.

Jika dilihat dari posisi strategis Indonesia yang berada di daerah tropis, sebetulnya kekurangan kebutuhan buah dalam negeri tersebut bisa diatasi dengan meningkatkan produksi buah nasional. Tentu saja para petani harus mengetahui tatalaksana pemeliharaan yang benar sehingga bisa meningkatkan produksi tanaman buah.

Fungsi Tanaman Buah

Fungsi utama tanaman buah adalah untuk menghasilkan buah, sebagai tanaman pelindung, untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis, serta untuk mencegah erosi. Selain itu, tanaman buah yang ditanam di pekarangan rumah juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai tanaman hias, tanaman pelindung atau peneduh, dan tanaman penahan angin.

Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Buah

Fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman buah seperti tanaman pada umumnya. Fase tersebut dibedakan menjadi dua fase, yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Sekalipun kedua fase tersebut berbeda, akan tetapi kedua fase tersebut berjalan bersama tetapi lebih dominan pada salah satu fase.

Fase generatif merupakan fase pertumbuhan dimana tanaman menimbun karbohidrat untuk pembentukan bunga, buah, biji, serta pemasakan buah. Sedangkan fase vegetatif adalah fase dimana tanaman menggunakan sebagian besar karbohidrat untuk membentuk akar, batang, daun, pucuk tanaman, dan pembesaran tanaman.

Syarat Agar Tanaman Buah Lebih Produktif




Agar tanaman mampu berbuah dengan baik dan sesuai dengan waktu yang ditentukan, maka dibutuhkan beberapa syarat yang mendukung kondisi tanaman untuk berbuah. Berikut ini syarat-syarat tanaman untuk berbuah :
  1. Lingkungan tempat tumbuh tanaman harus memenuhi syarat-syarat pertumbuhan tanaman bersangkutan, baik suhu, kelembaban, cuaca, ketinggian tempat, curah hujan, maupun intensitas sinar matahari yang masuk. Suatu tanaman tidak akan tumbuh dengan baik apabila kondidi lingkungan yang cocok untuk tanaman tersebut tidak terpenuhi. Sebagai contoh, tanaman yang cocok ditanam di dataran tinggi tidak akan tumbuh dengan baik jika ditanam di dataran rendah. Begitu pula tanaman yang cenderung berbuah pada musim kemarau maka tidak akan menghasilkan buah pada musim hujan. Kondisi lingkungan tersebut dikenal dengan istilah kondisi makroklimat
  2. Selain kondisi makroklimat, pertumbuhan dan perkembangan tanaman juga dipengaruhi oleh kondisi mikroklimat, yaitu lingkungan tanah tempat tumbuh tanaman tersebut. Kondisi mikroklimat juga harus memenuhi syarat masing-masing jenis tanaman, sehingga tanaman tersebut bisa tumbuh optimal dan berbuah sesuai dengan target kita. Kondisi mikroklimat diantaranya adalah pH tanah, kelembaban tanah, struktur tanah, keadaan air tanah, kandungan unsur hara dalam tanah, kandungan bahan organik dalam tanah, dan banyaknya mikroorganisme dalam tanah.
  3. Faktor lain yang mempengaruhi tanaman untuk berbuah adalah sifat tanaman. Sifat tanaman sangat terkait dengan genetika tanaman. Sifat tanaman tersebut harus betul-betul merupakan tanaman unggul. Sekalipun semua kondisi atau persyaratan sudah terpenuhi, tetapi jika tanaman buah yang kita tanaman ternyata memiliki sifat mandul, maka jangan berharap banyak tanaman kita mampu berbuah sesuai dengan harapan. Bahkan bisa jadi tidak berbuah sama sekali.
  4. Syarat lain yang mempengaruhi kecepatan tanaman berbuah adalah kesehatan tanaman. Pastikan bahwa tanaman buah tersebut tidak terserang hama atau penyakit. Selain itu juga harus dihindari penyakit fisiolongis akibat ketidakseimbangan unsur hara yang diberikan
Jika persyaratan atau kondisi di atas bisa dipenuhi, maka langkah selanjutnya adalah mempercepat tanaman untuk memasuki fase generatif atau fase pembuahan. Manipulasi tersebut bisa dilakukan dengan cara pemangkasan, pelukaan batang, pemupukan, pengaturan pemberian air, atau dengan pemberian Hormon Tumbuhan.

Faktor Yang Menyebabkan Kegagalan Tanaman Berbuah

Jika semua faktor tersebut di atas sudah bisa dipenuhi dan tanaman kita belum juga berbuah, kemungkinan ada beberapa faktor yang menyebabkan tanaman tersebut gagal membentuk buah. Faktor-faktor yang menyebabkan tanaman gagal membentuk buah antara lain:
  1. Tanaman tersebut merupakan jenis pohon yang membutuhkan tanaman jantan untuk berbuah. Jika tanaman buah kita termasuk jenis tanaman seperti ini, maka harus ada tanaman jantan yang berada disekitar tanaman buah tersebut. Salah satu contoh tanaman yang membutuhkan tanaman jantan untuk membentuk buah adalah kelengkeng.
  2. Bisa juga tanaman mengalami mutasi gen yang mengakibatkan tanaman tersebut mandul.
  3. Munculnya bunga jantan dan bunga betina tidak bersamaan dan sebelum penyerbukan terjadi, salah satu bunga tersebut sudah gugur terlebih dahulu.
  4. Pemupukan nitrogen (N) yang berlebihan sehingga tanaman cenderung melakukan pertumbuhan vegetatif. Tanaman tersebut terlau subur sehingga karbohidrat yang dihasilkan dari proses fotosintesis hanya digunakan untuk pertumbuhan, akibatnya tanaman bisa tidak membentuk buah sama sekali.
  5. Tanaman belum mencapai batas umur untuk berbuah. Batas umur tanaman untuk berbuah tergantung pada jenis dan varietas tanaman tersebut. Selain itu, bibit tanaman juga akan mempengaruhi batas umur untuk berbuah. Menggunakan bibit yang dihasilkan dari perbanyakan generatif (menggunakan biji) pasti akan memiliki batas umur yang lebih panjang dibanding dengan menggunakan bibit tanaman yang dihasilkan dari berbanyakan vegetatif (misalnya, stek, cangkok, dll.). Bibit tanaman yang dihasilkan dari perbanyakan generatif harus memulai pertumbuhan dari awal. Biji yang tumbuh menjadi tanaman baru harus membentuk akar, batang, tajuk, daun, sehingga awal produksi bunga atau buah lebih lembat.
  6. Jika tanaman tersebut berbunga lebat, tetapi bunga tersebut akhirnya gugur atau rontok sebelum membentuk buah, penyebabnya adalah sebagai berikut:
    1. Tanaman kekurangan nitrogen (N) dan pemberian kalsium (Ca) yang berlebihan.
    2. Ketersediaan air yang kurang mencukupi, biasanya terjadi pada musim kemarau.
    3. Jika bibit yang digunakan merupakan bibit dari perbanyakan dengan cara okulasi, atau menyambung (grafting) kemungkinan kualitas batang bawah yang digunakan kurang bagus.
    4. Serangan hama dan penyakit yang mengakibatkan tanaman tidak mampu membentuk buah. Bunga yang terserang biasanya membusuk sebelum menjadi buah atau saat buah masih kecil.
    5. Hujan yang terlalu deras, angin yang terlalu kencang, dan kemarau yang terlalu panjang.
    6. Penyemprotan menggunakan bahan kimia yang berlebihan pada saat tanaman sedang membentuk bunga. Pada saat tanaman sedang membentuk bunga, sebaiknya penyemprotan menggunakan bahan kimi harus dilakukan dengan dosis yang terukur, bahkan kalau tidak memaksa, sebaiknya penyemprotan harus dihindari saat tanaman sedang berbunga. Bunga tersebut bisa rontok karena terkena paparan bahan kimia yang berlebihan.

Penanggulangan Terhadap Kegagalan Tanaman Berbuah

Setelah mengetahui faktor-faktor pendukung atau syarat-syarat tanaman untuk berbuah dan faktor-faktor yang menyebabkan tanaman gagal membentuk buah, sebaiknya kita melakukan hal sebagai berikut sebagai langkah untuk membuat tanaman buah kita lebih produktif:
  1. Pastikan bahwa tanaman buah yang kita tanaman sesuai dengan kondisi lingkungan, iklim, curah hujan, dan persyaratan-persyaratan lain yang dibutuhkan. Cabut dan ganti dengan tanaman lain jika tanaman tersebut tidak sesuai dengan syarat tumbuhnya.
  2. Untuk tanaman-tanaman yang tidak membutuhkan air dalam jumlah banyak, sebaiknya dibuat saluran drainase atau pembuangan air agar tidak terjadi kelebihan air di lahan. Pengaturan terhadap kelebihan air terutama dilakukan saat musim hujan. Sebaliknya, untuk tanaman yang membutuhkan air dalam jumlah banyak, terutama pada musim kemarau, harus dilakukan penyiraman atau penggenangan yang cukup.
  3. Lakukan pemangkasan secara rutin agar tanaman buah tidak terlalu rimbun. Pemangkasan juga bertujuan untuk merangsang tanaman memasuki fase generatif. Pemangkasan dilakukan dengan memotong ranting yang tumbuh kearah batang utama, ranting yang bersilangan, dan ranting yang tumbuh ke atas atau vertikal.
  4. Untuk mengurangi kerimbunan daun, juga bisa dilakukan dengan membuang kulit batang sekitar 1 cm di sekeliling batang. Selain itu, bisa juga dengan memangkas sebagian akar. Ujung-ujung akar dipotong menggunakan singkup atau cangkul seperlunya. Pemotongan akar jangan terlalu banyak, agar tanaman tidak mati.
  5. Jika batang bawah yang digunakan untuk okulasi atau grafting kurang bagus maka harus segera diganti. Batang bawah yang kurang bagus akan menghasilkan tanaman yang tidak berkualitas, sehingga perlu dilakukan penggantian tanaman atau melakukan okulasi, atau grafting ulang. Kombinasi adalah perpaduan antara bibit generatif (asal biji) sebagai batang bawah dengan bibit vegetatif (asal pucuk, mata tunas cabang atau ranting) dari tanaman yang memiliki kualitas buah yang bagus.
  6. Dengan demikian, untuk memperoleh hasil yang lebih baik, maka bibit tanaman kombinasi tetap harus dibongkar atau diganti bagian atas bibit kombinasi tersebut dengan tanaman yang pengarus kombinasinya lebih sesuai.
  7. Sebagai contoh, jika kita melakukan penanaman pohon durian dengan bibit kombinasi dan ternyata hasil produksinya kurang baik, maka batang atas tanaman sambungan tersebut sebaiknya dipotong. Setelah batang atas mengeluarkan tunas baru, maka segera disambung dengan tunas tanaman durian dari varietas lain. Hal ini akan menjadikan tanaman tersebut sebagai tanaman sambungan rangkap dua. Dengan perlakuan ini, pengaruh kombinasi akan lebih baik bahkan bisa menghasilkan tanaman dengan kualitas atau mutu buah yang tinggi. Sosok tanaman lebih pendek, dan cepat berbuah.
  8. Tanaman yang terserang hama dan penyakit biasanya gagal membentuk buah. Kalaupun terbentuk buah, maka buah yang dihasilkan akan kecil-kecil atau bahkan busuk. Pengendalian hama dan penyakit tanaman bisa dilakukan dengan aplikasi pestisida, baik pestisida organik maupun kimia. Cara aplikasi pestisida bisa dilakukan dengan penyemprotan atau bisa juga melalui penyuntikan pada pangkal batang menggunakan pestisida sistemik.

Perbanyakan (Pembibitan) Tanaman Buah

PERBANYAKAN tanaman buah-buahan terdiri dari dua cara, yakni perbanyakan generatif dan vegetatif. Perbanyakan tanaman menggunakan biji (bagian tanaman yang dibuahi) disebut pembibitan secara generatif atau 5eksual. Disebut demikian, karena biji berasal dari pertumbuhan embrio basil penyerbukan (perkawinan, pembuahan) antara putik dengan serbuk sari. Perbanyakan tanaman yang tidak menggunakan biji disebut perbanyakan vegetatif atau a5eksual. Bagian tanaman buah yang dapat digunakan untuk perbanyakan ini adalah akar dan batang atau tunas. Perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan teknologi kultur jaringan termasuk perbanyakan tanaman secara vegetatif, karena bibit itu ditumbuhkan dari bagian sel tanaman yang tidak dibuahi.

Bibit Tanaman Buah Generatif

Bibit tanaman buah yang dihasilkan secara generatif bisa berasal dari biji yang sengaja dibenihkan atau yang tumbuh secara alamiah di alam. Perbanyakan pohon buah-buahan secara genaratif sudah sejak dahulu kala dilakukan orang, dan sampai sekarang masih digunakan.

Kelemahan perbanyakan tanaman buah dengan cara generatif: memerlukan waktu yang lama untuk berbuah; kualitas buah baru bisa diketahui setelah tanaman berbuah; sifat-sifat baik yang dimiliki pohon induknya sulit diperoleh, kemungkinan bisa muncul sifat-sifat jelek pada bibit yang dihasilkan bahakan tanaman bisa tidak menghasilkan buah selama hidupnya, karena hanya berbunga jantan.

Kelebihan perbanyakan tanaman buah dengan cara generatif: pembibitan dapat dilakukan dengan mudah dan murah; kemungkinan menghasilkan varietas baru yang lebih baik; tanaman tumbuh sehat, kekar, kuat dan berumur panjang; kalau kebetulan biji bersifat poliembrional, sifat-sifat tanaman baru bisa persis sama dengan pohon induknya.

Bibit tanaman buah Vegetatif

Keistimewaan bibit tanaman buah yang diperoleh secara vegetatif adalah sifat-sifat unggul dari pohon induk dapat diwarisi oleh keturunan berikutnya. Tanaman cepat berbunga dan berbuah karena masa pertumbuhan vegetatifnya lebih pendek jika dibanding dengan tanaman yang dihaslikan dari perbanyakan generatif. Tanaman ini dapat tumbuh baik di lahan yang permukaan air tanahnya dangkal.

Kelemahan bibit yang dihasilkan secara vegetatif diantaranya yaitu jumlah bibit yang dapat diperoleh dari satu pohon induk sedikit. Perakarannya yang dangkal mengakibatkan tanaman dari hasil perbanyakan vegetatif ini mudah tumbang atau roboh dan tidak tahan kekeringan pada musim kemarau. Selain itu, sifat-sifat jelek dari pohon induk tetap diwariskan pada keturunannya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghasilkan bibit tanaman secara vegetatif yaitu stek, cangkok, merunduk, dan pemisahan anakan.

Bibit Kombinasi Vegetatif-Generatif

Bibit kombinasi ini merupakan gabuangan antara bibt vegetatif dan bibit generatif. Bibit vegetatif memanfaatkan tanaman bagian atas, diambil dari tanaman berkualitas super yang memiliki banyak keunggulan (sifat-sifat unggul), sedangkan bibit generatif memanfaatkan tanaman bagian bawah, diambil dari tanaman dengan perakaran kuat dan tahan terhadap serangan hama penyakit akar, serta memiliki perakaran yang dalam. Kombinasi keduanya diharapkan mempu menghasilkan bibit unggul yang tahan serangan hama penyakit. Cara penggabungan bibit kombinasi vegetatif-generatif ini diantaranya dengan okulasi, sambungan, dan susuan.

BUDIDAYA SEMANGKA

Bagi petani, budidaya semangka mampu memberikan keuntungan cukup besar karena produktivitas tanaman semangka tinggi, apalagi masa budidaya buah semangka juga singkat. Semangka merupakan salah satu jenis buah berkadar air tinggi serta banyak digemari oleh masyarakat karena buah semangka memiliki cita rasa khas serta cara penyajiannya juga mudah. Kemajuan teknologi yang semakin berkembang pesat membuat kualitas dan daya adaptasi tanaman semangka terus meningkat. Disamping bentuk buah beragam, baik warna maupun ukuran buah semangka juga semakin bervariasi. Selain itu, sekarang bahkan sudah banyak dibudidayakan varietas semangka nonbiji, harganya pun relatif terjangkau sehingga membuat buah semangka semakin digemari oleh semua lapisan masyarakat.

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA SEMANGKA

Teknik dan cara menanam semangka yang baik merupakan kunci utama keberhasilan budidaya, untuk itu sebagai seorang petani tentunya petunjuk mengenai teknik dan cara budidaya tanaman terutama tanaman hortikultura menjadi syarat dasar yang harus dipenuhi. Penguasaan teknik budidaya semangka menentukan tingkat keberhasilan petani selama proses penanaman semangka berlangsung, meskipun faktor harga juga berperan dominan. Setidaknya keberhasilan budidaya mampu meninimalkan tingkat kerugian saat harga jual sedang jatuh di pasaran.

SYARAT TUMBUH TANAMAN SEMANGKA

Tanaman semangka memerlukan curah hujan antara 40-50 mm/bulan, ketinggian tempat optimal 300 mdpl. Selain itu, tanaman semangka membutuhkan intensitas sinar matahari penuh sepanjang hari tanpa naungan untuk membantu proses fotosintesis. Agar diperoleh kualitas buah tinggi, penanaman semangka membutuhkan suhu optimal berkisar 25-30 derajat C. Kelembaban udara terlalu tinggi akan mendorong perkembangan penyakit, terutama cendawan patogen.

Sebelum budidaya semangka berlangsung, juga perlu diperhatikan jenis tanahnya, tanaman semangka membutuhkan tanah gembur serta subur untuk menopang pertumbuhan serta berproduksi optimum, seperti tanah bertekstur lempung berpasir serta kaya akan kandungan bahan organik. Oleh karena itu, pengolahan tanah secara intensif disertai penambahan pupuk organik dalam jumlah cukup merupakan faktor penting dalam menentukan keberhasilan budidaya semangka. Jika budidaya semangka dilakukan di tanah berat, maka akan menekan laju pertumbuhan, kualitas buahnya pun rendah, buah semangka pecah-pecah. Usahatani semangka membutuhkan air dalam pemeliharaannya karena 90% kandungan buah semangka terdiri dari air.

Lokasi budidaya semangka sebaiknya dipilih bukan bekas lahan penanaman semangka atau tanaman sefamili. Usahakan lahan telah diberakan (tidak ditanami tanaman sefamili) selama 2 tahun agar diperoleh hasil optimal.

PERSIAPAN TEKNIS

Pengukuran pH tanah diperlukan dalam menentukan pengapuran, terutama pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran nilai pH ini dapat berbagai cara, yaitu dengan pH meter, kertas lakmus, atau cairan pH tester. Penentuan titik sampel dilakukan secara zigzag dan diusahakan sudah mewakili keseluruhan lokasi budidaya semangka.

PELAKSANAAN BUDIDAYA SEMANGKA




Persiapan Lahan

Persiapan lahan sebelum melakukan budidaya semangka, diantaranya pembajakan tanah dilanjutkan penggaruan, pembuatan bedengan, pemberian kapur pertanian sebanyak 1,5 ton/ha untuk pH tanah di bawah 6, pemberian pupuk kandang fermentasi 40 ton/ha serta pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 1,5 ton/ha. Kemudian dilakukan pengadukan/pencacakan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah.

Pembuatan bedengan pada saat budidaya semangka dilakukan dengan cara mencangkul tanah di bagian parit kemudian menaikkan tanah tersebut ke bagian atas bedengan sehingga permukaan bedengan menjadi lebih tinggi. Bedengan dibuat selebar 5 meter, jarak antar bedengan 60 cm serta tinggi bedengan 40-60 cm. Langkah selanjutnya, tanah di bagian tengah bedengan dibagi menjadi dua bagian lalu diangkat ke masing-masing tepi bedengan sehingga kedua tepi bedengan akan membentuk bedengan tanam dengan lebar 1 meter. Cara budidaya sistem ini, dalam satu bedengan selebar 5 meter terdapat dua bedengan tanam selebar 1 meter. Kedua bedengan tanam tersebut dibuat miring ke arah tengah, pada titik tengah pertemuan kedua bedengan dibuat saluran air selebar 20 cm, kedalaman 10 cm.
Setelah bedengan siap, persiapan selanjutnya adalah pemasangan mulsa PHP (Plastik Hitam Perak). Mulsa PHP dipasang pada bedengan tanam yang berada di masing-masing tepi bedengan, sedangkan pada bagian yang miring ke arah tengah bedengan ditutup rapat menggunakan jerami. Maksud dari perlakuan ini untuk menekan pertumbuhan gulma. Mulsa PHP berukuran lebar 120 cm, sisi berwarna perak menghadap ke atas, sedangkan sisi berwarna hitam menghadap ke tanah. Pemasangan mulsa dilakukan saat terik matahari agar mulsa PHP mudah ditarik serta lebih hemat pemakaian. Setelah mulsa terpasang dilakukan pembuatan lubang tanam di bagian tepi luar bedengan, jarak antartanaman 60 cm. Masing-masing bedengan tanam terdapat satu baris lubang tanam.

Persiapan Pembibitan dan Penanaman Semangka

Persiapan pembibitan untuk budidaya tanaman semangka membutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 10 ltr pupuk kandang, 20 ltr tanah, 150 g NPK halus. Setelah itu masukkan media campuran tersebut ke dalam polibag semai.
Benih semangka yang akan ditanam harus dipersiapkan secara benar sehingga setelah ditanam di lahan, tanaman semangka memiliki pertumbuhan optimal dan menghasilkan buah semangka berkualitas. Jumlah bibit semangka dengan cara budidaya seperti ini kurang lebih 8.000 tanaman/ha termasuk cadangan bibit penyulam. Kebutuhan benih kurang lebih 500-600 gram. Sebelum penyemaian, benih semangka direndam dalam larutan simokanil atau metalaksil, dosis/konsentrasi ½ dari dosis terendah sesuai anjuran di kemasan selama 6 jam. Untuk mempercepat perkecambahan benih, tutup permukaan media dengan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP) serta usahakan kondisi tanahnya tetap dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup kain goni atau mulsa dilakukan ketika terlihat benih sudah mulai berkecambah, kemudian diganti dengan sungkup plastik transparan. Buka sungkup setiap pagi hari, pukul 07.00 dan ditutup pukul 09.00, dibuka sore harinya pukul 15.00 dan ditutup pukul 17.00. Buka sungkup secara penuh menjelang tanam, kira-kira 5-7 hari sebelum penanaman. Selama di pembibitan, bibit perlu disiram setiap hari agar kelembaban tanahnya tetap terjaga, tetapi penyiraman jangan terlalu basah. Penyiraman yang baik dilakukan setiap pagi saja, perkirakan kelembabannya selalu terjaga sampai keesokan harinya. Jika sore hari tanah terlihat kering, bisa disiram lagi secukupnya. Tetapi jika kondisi tanahnya masih lembab, penyiraman cukup satu kali saja. Pada umur 8 hss (hari setelah semai) semprot bibit semangka menggunakan bahan aktif simoksanil (fungisida) dan berbahan aktif imidakloprid untuk insektisidanya. Penyemprotan jangan terlalu pekat, cukup setengah dosis terendah sesuai anjuran kemasann.
Bibit berdaun sejati 4 helai siap dipindah tanam ke lahan. Penanaman sebaiknya dilakukan saat pagi hari sebelum jam 10.00 atau sore hari setelah jam 15.00 untuk menghindari tanaman mengalami stress tinggi akibat sengatan terik matahari. Cara penanamannya mula-mula lepaskan bibit semangka beserta medianya dari polybag semai. Lakukan secara hati-hati agar media tidak pecah, setelah itu masukkan bibit ke dalam lubang tanam yang sudah dipersiapkan hingga leher akar tertutup tanah. Kemudian tanah di sekitar bibit sedikit dipadatkan menggunakan tangan. Usahakan posisi bibit setelah ditanam dalam keadaan tegak supaya tidak ada bagian bibit tanaman semangka yang menyentuh mulsa. Untuk memudahkan pemeliharaan, pastikan bibit semangka berukuran sama ditanam pada satu lokasi tertentu.

PEMELIHARAAN TANAMAN SEMANGKA

Perawatan tanaman harus dilakukan secara rutin semenjak setelah selesai penanaman hingga buah semangka dipanen. Upaya pemeliharaannya antara lain penyulaman, pemangkasan dan pembentukan tajuk, sanitasi lahan dan pengairan, pemupukan susulan, pemeliharaan buah, serta pengendalian hama penyakit tanaman.

Penyulaman Tanaman Semangka

Penyulaman tanaman semangka paling lambat dilakukan umur 3 hari setelah tanam (HST) sampai umur tanaman 10 hari. Tanaman semangka yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhannya menjadi tidak seragam, hal ini akan berpengaruh terhadap perawatan tanaman semangka serta pengendalian hama penyakit ketika berumur dewasa.

Pemangkasan dan Pembentukan Tajuk

Pemangkasan merupakan kegiatan membuang cabang tidak produktif untuk membentuk percabangan optimum. Kegiatan ini bertujuan menyeragamkan pertumbuhan tanaman semangka, menjamin proses produksi berlangsung maksimal, menekan resiko serangan hama penyakit, serta merangsang tumbuhnya tunas-tunas produktif.
Umur 10-12 HST tanaman semangka mulai membentuk 5-6 helai daun sejati. Tahap ini merupakan waktu paling baik untuk melakukan pemangkasan bentuk. Pemotongan titik tumbuh dilakukan dengan menggunting sekitar 2 cm bagian paling pucuk menggunakan gunting, sebelumnya gunting dicelupkan ke dalam larutan fungisida. Tujuan pencelupan gunting ke dalam larutan fungisida untuk menghindari infeksi penyakit setelah pemotongan, terutama serangan cendawan. Sisa pemotongan jangan sampai berserakan di lahan karena berpotensi menjadi penular penyakit, sisa potongan tersebut harus dikumpulkan dan dimusnahkan segera setelah kegiatan pemangkasan selesai. Pemangkasan pucuk atau titik tumbuh jangan sampai terlambat karena akan berdampak terhadap produktivitas.
Tunas baru akan muncul 4-5 hari setelah pemotongan pucuk. Setelah tunas baru membentuk 4-5 ruas, lakukan pemilihan 3 tunas dengan pertumbuhan cepat dan seragam, tunas-tunas ini terus dipelihara menjadi tunas produktif. Ketiga tunas produktif tersebut diatur membentuk huruf W berjarak antarcabang 15-20 cm. Arahkan menjalar sesuai arah kemiringan bedengan. Tunas atau cabang yang tidak terpilih dipotong menggunakan gunting, gunting potong sebelumnya dicelupkan terlebih dahulu ke dalam larutan fungisida. Sisa potongan tunas tersebut dikumpulkan lalu segera dimusnahkan.
Agar hasil fotosintesis tidak digunakan untuk membentuk tunas tidak produktif, maka seluruh cabang sekunder di bawah ruas atau daun ke-14 dipotong, sebaiknya proses pemotongan dilakukan secara periodik.

Sanitasi Lahan dan Pengairan

Sanitasi lahan merupakan kegiatan membersihkan areal budidaya semangka, meliputi : pengendalian air genangan saat terjadi hujan, penyiangan gulma/rumput, pemusnahan ranting atau cabang bekas pemangkasan, serta pencabutan dan pemangkasan bagian tanaman semangka terserang hama penyakit. Kegiatan sanitasi lahan pada budidaya semangka bertujuan menjamin proses produksi berlangsung secara maksimal dengan menekan resiko serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) serta menekan persaingan dengan gulma untuk mendapatkan sinar matahari dan unsur hara.
Budidaya semangka pada dasarnya tidak membutuhkan air yang terlalu banyak. Walaupun demikian proses fotosintesis sangat membutuhkan air. Oleh karena itu, pemberian air yang tepat seefisien mungkin akan membantu menekan biaya sekaligus menghasilkan produksi optimal. Pengairan atau irigasi adalah kegiatan memberi air sesuai kebutuhan tanaman di daerah perakaran dengan air yang memenuhi standar. Proses pengairan dilakukan pada waktu, cara, dan jumlah yang tepat untuk menjamin kebutuhan air bagi tanaman sehingga pertumbuhan dan proses produksinya berjalan dengan baik.
Saat sebelum tanam dan setelah tanam, bibit semangka disiram cukup basah agar bibit tidak stress kekeringan sehingga dapat segera beradaptasi dengan kondisi di lahan. Tiga hari setelah tanam lakukan pengontrolan, jika terjadi kekeringan maka tanaman semangka yang baru dipindah ke lahan harus segera diairi. Hal ini perlu diperhatikan karena fase-fase ini akar tanaman semangka belum tumbuh dan masih dalam tahap penyesuaian diri dengan lingkungan barunya. Ketika musim kemarau pengairan dilakukan dua hari sekali sampai menjelang berbunga, atau sekitar 21 HST. Menjelang pembungaan atau sebelum bunga mekar perlu dilakukan penggenangan lahan setiap hari, hal ini bertujuan menjaga kerontokan bunga. Setelah memasuki proses pembungaan sebaiknya lahan tidak diairi dulu agar pembentukan buah semangka tidak terganggu serta buahnya tidak mudah pecah.
Sewaktu buah semangka sudah sebesar telur ayam perlu dilakukan pengairan, hal ini bertujuan menjaga kelembaban lahan agar tetap stabil serta ukuran buah bisa optimal. Setelah dilakukan seleksi buah semangka, kelembaban lahan perlu dijaga sampai sekitar 23 hari dari bunga mekar. Fase ini merupakan fase pembentukan buah, apabila kekurangan air maka kulit buah semangka akan mengeras, kemudian setelah diairi kembali buah semangka akan banyak yang pecah kemudian membusuk. Setelah 24 hari semenjak pembungaan, pengairan sedikit demi sedikit harus dikurangi. Hingga 10 hari menjelang panen, pengairan dihentikan agar lahan menjadi kering, hal ini dimaksudkan untuk memperoleh kadar gula tinggi dalam buah semangka, serta memudahkan pemanenan semangka.

Pemupukan Susulan

Tanaman semangka merupakan tanaman berumur pendek. Disamping itu, pertumbuhan tanaman semangka juga sangat cepat. Pemberian pupuk dasar saat persiapan lahan masih belum mencukupi untuk pencapaian produksi optimal. Oleh karena itu, pemupukan susulan selama budidaya semangka perlu dilakukan, bertujuan memberikan unsur hara tambahan pada tanaman semangka agar nutrisi tanaman terpenuhi sehingga menjamin pertumbuhan secara optimal serta menghasilkan produksi semangka bermutu sesuai standar kualitas produk.
Pupuk akar diberikan dengan cara pengocoran. Pupuk susulan pertama diberikan umur 5 hst menggunakan pupuk NPK 15-15-15 dan ZK, dosis 3 kg NPK dan 1 kg ZK dilarutkan ke dalam air sebanyak 1 drum (200lt air), larutan ini untuk 1000 tanaman, tiap tanaman dikocor 200 ml.
Pupuk susulan kedua diberikan umur 15 hst menggunakan pupuk NPK 15-15-15, dosis 4kg NPK 15-15-15, 2kg ZK dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml.
Pupuk susulan ketiga diberikan setelah seleksi buah (25-30 hst) menggunakan pupuk NPK 15-15-15, dosis 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml.
Pupuk susulan keempat diberikan 7-10 hari setelah pemupukan ketiga menggunakan pupuk NPK 15-15-15, dosis 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml.

Pemeliharaan Buah Semangka

Buah semangka yang sudah terbentuk perlu diseleksi dan dipelihara agar pertumbuhan ukurannya maksimal sesuai deskripsi varietas serta mencapai standar mutu yang ditetapkan oleh pasar tujuan. Langkah pemeliharan buah semangka mencakup seleksi buah dan pembalikan buah. Seleksi buah semangka ditunjukan untuk mendapatkan buah semangka dengan pertumbuhan paling optimum dan berbentuk sempurna. Untuk tujuan memilih buah semangka berukuran besar, sebaiknya dipilih 1 buah semangka yang memiliki pertumbuhan paling baik. Seleksi buah dilakukan ketika buah semangka yang terbentuk sudah berukuran sebesar telur ayam. Pilih satu diantara buah semangka yang terbentuk pada 3 cabang. Kriteria buah semangka pilihan adalah buah yang memiliki pertumbuhan paling bagus. Bila pertumbuhan buah semangka seragam, pilih dari cabang yang paling vigor. Untuk varietas berbobot buah kecil (kurang dari 2 kg), pada satu tanaman dapat dibesarkan 2-3 buah. Buah semangka dipelihara dipilih yang berada di cabang yang berbeda dengan posisi ruas yang seragam, yaitu pada ruas 13-15 agar keseragaman buah semangka dapat terpenuhi.
Pemotongan terhadap buah semangka yang tidak lolos seleksi dilakukan saat cuaca panas setelah pukul 09.00. Hal ini dimaksudkan agar menghindari infeksi penyakit pada bekas potongan buah. Buah semangka yang tidak dipilih dipotong menggunakan gunting, sebelumnya gunting direndam terlebih dahulu dalam larutan fungisida. Buah semangka hasil potongan dikumpulkan untuk segera dimusnahkan.
Pembalikan buah semangka merupakan kegiatan membalik buah agar bagian buah semangka di bawah bertukar posisi dengan bagian buah yang berada di atas. Hal ini bertujuan mengurangi kelembaban berlebihan pada salah satu sisi buah semangka serta memberikan penyinaran berimbang di seluruh bagian buah.

CARA PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA SEMANGKA

PENGENDALIAN HAMA TANAMAN SEMANGKA

Hama Gangsir

Hama menyerang bagian batang tanaman muda terutama tanaman semangka baru saja ditanam. Serangan hama gangsir dilakukan di malam hari, dengan cara memotong batang tanaman semangka tetapi tidak memakannya. Hama ini bersembunyi di dalam tanah dengan membuat liang dalam tanah, keberadaan gangsir dicirikan terdapat onggokan tanah pada muka liang. Cara pengendalian hama gangsir adalah dengan pemberian pestisida insektisida karbofuran sebanyak 1 gram per tanaman.

Hama Ulat Tanah

Hama ulat tanah jenis ini juga menyerang tanaman semangka di malam hari, siang harinya bersembunyi dalam tanah atau di balik mulsa PHP. hama ulat ini senag sekali memakan batang tanaman muda hingga terputus, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendalian hama ulat tanah dalam budidaya semangka adalah dengan pemberian pestisida insektisida karbofuran sebanyak 1 gram per tanaman.

Hama Ulat Grayak

Hama ulat grayak menyerang daun tanaman semangka bersama-sama dalam jumlah sangat banyak, hama ulat jenis ini biasanya menyerang tanaman semangka di malam hari. Pengendalian serangan ulat grayak selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin, metomil, profenofos, sipermetrin, klorpirifos, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Jengkal

Gejala serangan ulat jengkal ditandai di bagian tepi daun muda ada bekas gigitan serangga, namun semakin lama semakin ke tengah dan hanya tersisa tulang daunnya. Pengendalian serangan hama ulat jengkal selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin, metomil, profenofos, sipermetrin, klorpirifos, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Thrips

Serangan thrips pada daun tanaman semangka ditandai adanya bercak keperakan, terutama di permukaan bawah daun. Hama thrips memakan dengan cara menghisap cairan daun semangka muda, yang akhirnya menyebabkan daun mengeriting dan kerdil. Pengendalian hama thrips selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Daun

Kutu daun juga menyerang dengan menghisap cairan tanaman, terutama daun semangka muda. Kotoran dari hama kutu jenis ini rasanya manis sehingga disukai semut. Daun semangka terserang mengalami klorosis (warna hijau daun memudar), menggulung, mengeriting, akhirnya tanaman semangka menjadi kerdil. Pengendalian serangan hama kutu daun selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Kebul

Kutu kebul memiliki warna putih, bersayap, serta seluruh tubuhnya berselimut serbuk putih seperti lilin. Hama kutu kebul menyerang dengan cara menghisap cairan daun semangka sehingga mengakibatkan kerusakan pada jaringan maupun sel-selnya. Pengendalian serangan hama kutu kebul selama budidaya semangka dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif tiametoksam, abamektin, sipermetrin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Tungau

Tungau seringkali bersembunyi di balik daun semangka kemudian menghisap cairan daunnya. Daun semangka terserang terpelintir, berwarna coklat, pada permukaan bawah daun terlihat benang halus biasanya berwarna merah atau kuning. Pengendalian serangan hama tungau dilakukan penyemprotan insektisida akarisida berbahan aktif dikofol, propargit, tetradifon, klofentezin, piridaben, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kumbang Daun

Hama kumbang daun dikenal dengan nama oteng-oteng. Serangan oteng-oteng membentuk guratan memusat pada daun semangka, selain itu juga ditandai adanya bekas gigitan serangga. Selain merusak daun tanaman, kumbang daun juga merusak bunga semangka sehingga menyebabkan kerontokan bunga. Pengendalian serangan hama kumbang daun adalah dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif deltametrin, metomil, profenofos, sipermetrin, klorpirifos, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Lalat Buah

Lalat buah betina dewasa menyerang semangka dengan cara meletakkan telur-telurnya ke dalam daging buah, selanjutnya telur berubah menjadi larva dan memakan bagian dalam buah semangka, akibat lebih lanjut menyebabkan busuk buah. Cara mengendalikan lalat buah adalah menggunakan perangkap (sexpheromone), yaitu dengan memasang perangkap yang telah diberi metil eugenol. Metil eugenol dimasukkan pada botol aqua, kemudian diikat kuat pada ajir atau bambu. Atau dapat juga menggunakan buah-buahan dicampur metomil seperti buah nangka atau timun yang aromanya lebih disukai lalat buah. Jika serangan tidak terkendali, semprot insektisida berbahan aktif deltametrin, sipermetrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Tikus

Serangan hama tikus terjadi sewaktu malam hari, sedangkan saat siang hari bersembunyi dalam sarang. Cara pengendalian serangan tikus dapat dengan memberikan umpan tikus. Umpan dicampur rodentisida, ditaruh pada lubang tikus aktif. Lubang aktif ditandai masih jelas terlihat bekas dilalui tikus atau terkadang ada sisa-sisa makanan baru. Cara lainnya, beri karbit pada lubang aktif, lalu siram air secukupnya, tutup lubang tikus dengan tanah untuk mengantisipasi gas yang ditimbulkan tidak keluar.

Hama Nematoda

Hama nematoda menyerang bagian akar tanaman. serangannya ditandai adanya bintil-bintil. Nematoda bersifat parasit, berupa cacing tanah yang sangat kecil. Cacing tanah menggigit bagian akar tanaman, sehingga berpotensi munculnya penyakit sekunder, seperti penyakit busuk phytopthora, layu fusarium, layu bakteri, ataupun cendawan lainnya. Cara pengendalian serangan hama nematoda dengan pemberian pestisida insektisida karbofuran sebanyak 1 gram per tanaman.

CARA MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA SEMANGKA

Penyakit Rebah Semai

Penyakit rebah semai biasa menyerang tanaman semangka pada fase pembibitan. Cara pengendalian serangan penyakit ini menggunakan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif simoksanil, propamokarb hidroklorida, asam fosfit, kasugamisin, atau dimetomorf. Dosis/konsentrasi ½ dari dosis terendah sesuai anjuran di kemasan.

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit layu bakteri sering menggagalkan budidaya semangka, serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian layu bakteri antara lain melakukan penggiliran tanaman, memusnahkan tanaman terserang, meningkatkan pH tanah, serta penyemprotan secara kimiawi dengan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif asam oksolinik, streptomisin sulfat, validamisin, kasugamisin, atau oksitetrasiklin, dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma saat persiapan lahan, ketika tanaman semangka berumur 20 hst dan 35 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Layu Fusarium

Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit layu fusarium hampir sama dengan penyakit layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Penyakit layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian serangan penyakit layu fusarium antara lain sedini mungkin memusnahkan tanaman terserang, meningkatkan nilai pH, penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif metalaksil, benomil, atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan. Sebagai pencegahan, secara biologi berikan trichoderma ketika sedang persiapan lahan, dilanjutkan kocoran pada tanah saat semangka berumur 20 hst dan 35 hst. Pengocoran menggunakan pestisida organik seperti wonderfat, super glio, dll. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Busuk Phytopthora

Serangan hama ini dapat terjadi di semua bagian tanaman semangka dan dapat mengakibatkan tanaman layu jika serangannya mengganas, terutama di musim hujan. Batang tanaman terserang berwarna coklat kehitaman serta kebasah-basahan. Serangan pada daun tampak perubahan warna dan bentuk seperti tersiram air panas. Buah semangka yang busuk berwarna coklat kehitam-hitaman melunak. Pengendalian serangan penyakit busuk phytopthora secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Gummy Stem Blight

Penyakit ini bermula dari bagian bawah batang tanaman semangka nampak seperti tercelup minyak, selanjutnya mengeluarkan cairan berwarna merah cokelat, akhirnya tanaman semangka mati. Daun terserang ditandai bercak bundar melekuk ke dalam berwarna cokelat kehitaman lama kelamaan daun semangka akan mengering. Pengendalian serangan penyakit gummy stem blight secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, metil tiofanat, karbendazim, tridemorf, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai prtunjuk di kemasan.

Penyakit Powdery Mildew

Gejala penyakit powdery mildew diawali adanya bercak bulat kecil berwarna keputihan pada permukaan bagian bawah daun semangka. Kemudian bercak akan menyatu dan berkembang ke permukaan daun bagian atas sehingga daun seperti diselimuti tepung. Pengendalian penyakit powdery mildew secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, karbendazim, difenokonazol, metil tiofanat, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, mankozeb atau azoksistrobin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Downy Mildew

Terdapat bercak berwana kuning muda pada permukaan daun semangka yang dibatasi oleh tulang daun, sedangkan permukaan bagian bawahnya terdapat massa spora berwarna kehitaman. Serangan parah menyebabkan pembusukan tulang daun, akhirnya menyebabkan tanaman semangka mati. Pengendalian penyakit downy mildew secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, karbendazim, difenokonazol, metil tiofanat, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, mankozeb atau azoksistrobin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Patek (Antraknosa)

Penyakit antraknosa atau patek merupakan salah satu jenis penyakit serius yang dapat menyerang semua bagian tanaman semangka. Serangannya ditandai adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar, menyatu akhirnya daun semangka mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah semangka terserang akan nampak bercak agak bulat serta berlekuk berwarna cokelat tua, di sini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian serangan penyakit patek secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif benomil, karbendazim, difenokonazol, metil tiofanat, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, mankozeb atau azoksistrobin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Bercak Daun

Penyakit bercak daun selama budidaya tanaman semangka disebabkan oleh serangan bakteri, bakteri berkembang pesat terutama saat musim hujan. Serangan penyakit bercak daun ditandai adanya bercak putih dan bersudut karena dibatasi tulang daun. Kemudian bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun semangka mengeluarkan cairan, akhirnya daun semangka mengering. Pengendalian serangan penyakit bercak daun dengan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif asam oksolinik, streptomisin sulfat, validamisin, kasugamisin, atau oksitetrasiklin, atau golongan anorganik tembaga. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Virus

Penyakit momok ini merupakan penyakit yang sering mengakibatkan gagal panen ketika musim kemarau. Gejala serangan umumnya menunjukkan pertumbuhan yang mengerdil, daun semangka menjadi keriting serta terdapat bercak kebasah-basahan berwarna kuning. Penyakit virus ditularkan oleh penular atau vektor, baik serangga maupun manusia. Ada banyak jenis hama yang berpotensi menjadi penular virus jika tidak dikendalikan, diantaranya hama kutu daun, thrips, kutu kebul, maupun tungau. Penularan virus melalui perantara manusia seringkali terjadi melalui alat-alat pertanian ataupun penanganan pada tanaman, terutama ketika sedang melakukan pemangkasan tajuk atau pengurangan buah semangka. Meskipun hingga saat ini penyakit virus belum juga ditemukan vaksinnya, namun ada upaya untuk meninimalisir serangan, diantaranya selalu melakukan sanitasi lahan, mengendalikan serangga perantara, mencabut tanaman yang terinfeksi virus sedini mungkin, menjaga kebersihan alat-alat budidaya serta berhati-hati saat melakukan penanganan tanaman, terutama jika terjadi pelukaan.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama gangsir, hama ulat tanah, maupun nematoda dilakukan bersamaan, cukup sekali saja, yaitu 1 gram per lubang tanam satu minggu sebelum penanaman.

Pengendalian hama ulat grayak, ulat jengkal, thrips, kutu daun, kutu kebul, tungau, kumbang daun, lalat buah dan penyakit secara kimiawi dengan penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap kali melakukan penyemprotan (jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut).

PENYAKIT FISIOLOGIS YANG SERING DIJUMPAI PADA BUDIDAYA SEMANGKA

Penyebab dari penyakit fisiologis adalah iklim yang ekstrim, ketidakseimbangan unsur hara, serta kandungan mineral berbahaya. Beberapa penyakit fisiologis yang sering dialami budidaya semangka antara lain seperti di bawah ini:

Busuk Ujung Buah (blossom-end rot)

Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan kalsium. Serangan penyakit akan lebih berat apabila budidaya semangka dilakukan di daerah berudara panas, kering, serta berangin yaitu ketika terjadi kondisi kekurangan air. Gejala akibat kekurangan kalsium ditandai adanya gugur buah maupun terdapat busuk berwarna cokelat di ujung buah semangka. Pengendalian masalah busuk ujung buah dapat dilakukan dengan pemberian pupuk berkandungan kalsium tinggi.

Pecah Daging Buah

Masalah ini disebut juga internal cracking, disebabkan oleh pertumbuhan labil (tidak stabil), yaitu pertumbuhan terlalu cepat pada satu fase serta terlalu lambat pada fase selanjutnya atau sebaliknya. Gejala serangan ditandai adanya buah semangka berbentuk tidak normal serta berasa hambar, daging buah tidak sempurna bahkan sampai retak-retak. Pengendalian masalah pecah daging buah dilakukan dengan perlakukan tanaman secara tepat sesuai teknik budidaya (telah diuraikan di atas, mulai dari pengairan, pemangkasan, pemupukan, sampai pengendalian hama dan penyakit tanaman).

Rasa Buah Tidak Manis

Pada kondisi tertentu buah semangka berasa hambar. Hal ini biasanya terjadi karena kekurangan berbagai unsur hara, terutama unsur kalium, magnesium, maupun boron. Pengendalian masalah ini dapat dilakukan dengan pemupukan berimbang sesuai cara pemupukan di atas.

Tanaman Kerdil

Jika selama proses budidaya semangka menemui masalah seperti antara lain tanaman semangka tampak kerdil beruas pendek, batang tanaman menjadi kaku, terdapat beberapa luka/retakan yang mengeluarkan lendir berwarna cokelat kekuningan, batang semangka mudah patah, menunjukkan pertumbuhan tanaman semangka tidak normal, kemungkinan besar kandungan unsur boron di dalam tanah kurang tersedia atau tidak dapat diserap dengan baik oleh akar tanaman. Jika serangan berlanjut hingga tanaman dewasa, tanaman semangka sulit akan menghasilkan buah, kalaupun berbuah bentuknya menjadi kurang sempurna. Pengendalian masalah ini dilakukan dengan memberikan pupuk mikro berkandungan boron tinggi, seperti pupuk borate. Dosis/konsentrasi 2 g/tanaman.

Daun Menguning Dimulai dari Bagian Tepi

Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan unsur kalium. Gejala penyakit fisiologis akibat kekurangan unsur kalium ditandai terjadinya perubahan warna daun semangka menjadi kuning muda dimulai dari bagian tepi daun. Semakin lama warna kuning berubah menjadi cokelat serta salah satu sisinya robek sehingga daun nampak bergerigi. Tanaman kekurangan unsur kalium memiliki daya tahan rendah terhadap serangan hama dan penyakit maupun kekeringan. Selain itu, rasa buah semangka juga kurang manis. Pengendalian masalah ini dapat dilakukan dengan pemupukan berimbang seperti cara pemupukan di atas, bila perlu tambahkan pupuk berkandungan kalium tinggi, seperti KNO3 saat melakukan pemupukan susulan.

Klorosis pada Tulang Daun

Penyebab penyakit ini adalah kekurang unsur hara magnesium. Unsur magnesium berfungsi dalam membentuk klorofil (zat hijau daun) serta mengaktifkan enzim-enzim dalam proses metabolisme. Gejala kekuarangan unsur magnesium ditandai adanya klorosis diantara tulang daun semangka, warna daun menguning, terdapat bercak merah kecoklatan, sedangkan tulang daun semangka tetap berwarna hijau. Untuk mengatasi kekurangan unsur magnesium dapat dilakukan pengapuran ataupun penyemprotan pupuk daun berkandungan magnesiun tinggi, misal magnesium sulfat.

PANEN SEMANGKA

Panen merupakan kegiatan memetik buah semangka siap panen atau mencapai kematangan optimal sesuai standar permintaan pasar. Tujuan pemanenan adalah untuk memperoleh hasil sesuai tingkat kematangan buah. Umumnya produk hortikultura merupakan produk yang cepat sekali rusak. Meskipun kualitasnya bagus, namun jika pemanenan dilakukan secara tidak benar maka dapat menurunkan kualitas buah semangka secara signifikan. Penentuan saat panen didasarkan pada umur ketika terjadi penyerbukan. Panen buah semangka dilakukan sekitar 27-30 hari setelah penyerbukan. Selain itu, panen juga dapat ditentukan dengan melihat ciri-ciri fisik buah sebagai berikut :
  • Warna maupun tekstur kulit buah semangka terlihat bersih, jelas, serta mengkilap.
  • Sulur kecil di belakang tangkai buah telah berubah warna menjadi cokelat tua serta mengering.
  • Bila buah semangka diketuk menggunakan jari terdengar suara agak berat.
  • Tangkai buah semangka mengecil hingga terlihat tidak sebanding dengan ukuran buah itu sendiri.
  • Bagian buah semangka yang terletak di atas landasan berubah warna dari putih menjadi kuning tua.
Untuk menjaga kualitas buah semangka yang dicapai selama masa produksi, buah siap panen harus segera dipetik tepat waktu. Hal-hal di bawah ini perlu diperhatikan antara lain :
  • Panen sebaiknya dilakukan di pagi hari agar buah semangka berasa lebih manis serta tahan penyimpanan. Panen saat sore hari juga dapat dilakukan asal tidak hujan atau sehabis hujan.
  • Tangkai buah semangka dipotong sekitar 3-5 cm dari pangkal buah.
  • Buah semangka hasil pemanenan dikumpulkan dalam keranjang, diberi alas lalu diletakkan di tempat teduh. Hindari terkena sinar matahari langsung.

BUDIDAYA BAWANG MERAH DARI BIJI

Bawang merah merupakan salah satu jenis sayuran bernilai ekonomis tinggi. Tanaman ini dapat diandalkan sebagai sumber penghasilan petani, pendapatan negara, penyumbang keanekaragaman bahan pangan serta kecukupan gizi. Salah satu upaya meningkatkan produktifitas dan kualitas bawang merah yang sesuai dengan permintaan konsumen adalah penggunaan bibit berupa benih atau biji (true shallot seed = TSS). Keuntungan usahatani bawang merah dengan biji ini antara lain dapat menurunkan biaya produksi, penyimpanan serta distribusinya lebih mudah, disamping itu juga dapat menciptakan varietas unggul baru. Budidaya bawang merah memerlukan air yang cukup terutama saat pembentukan umbi. Tanaman bawang merah yang kekurangan air pada fase pembentukan umbi dapat mengakibatkan penurunan produksi secara signifikan. Hal utama dalam budidaya bawang merah adalah menjaga tanah dalam keadaan cukup lembab.

CARA MENANAM BAWANG MERAH

SYARAT TUMBUH TANAMAN BAWANG MERAH

Tanaman bawang merah memerlukan curah hujan antara 100-200 mm/bulan dengan ketinggian tempat optimal 10-200 mdpl. Meskipun demikian, bawang merah masih dapat tumbuh dan berproduksi di ketinggian sampai dengan 800 mdpl. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman bawang merah 20-30°C. Intensitas sinar matahari penuh tanpa naungan, lama penyinaran 12 jam. Tanaman bawang merah dapat beradaptasi pada kelembaban udara (rH 80-90%). Kelembaban udara dan kelembaban tanah yang relatif tinggi (> 90%) dapat merangsang terjadinya serangan penyakit. Angin sepoi-sepoi berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan pembentukan umbi bawang merah. Tanaman bawang merah membutuhkan tanah gembur, subur, banyak mengandung bahan organik, serta mudah menyediakan air dengan aerasi udara baik dan tidak becek. Budidaya bawang merah dapat dilakukan pada lahan sawah maupun lahan kering.

PELAKSANAAN TEKNIS BUDIDAYA BAWANG MERAH

Pengukuran pH tanah diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.

PELAKSANAAN BUDIDAYA BAWANG MERAH




Persiapan Lahan Budidaya Bawang Merah

Persiapan lahan meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, pencangkulan sedalam 30 cm (dikeringanginkan selama 15 hari), pembuatan bedengan dengan lebar 80-100 cm serta tinggi 30 cm (lahan kering) dan 60 cm (lahan sawah) dengan lebar parit 30-40 cm, pemberian pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 1,2 ton/ha, persiapan selanjutnya melakukan pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, kemudian dilakukan penugalan untuk pembuatan lubang tanam.

Persiapan Bibit dan Penanaman Budidaya Bawang Merah

Persiapan pembibitan bawang merah membutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kebutuhan benih bawang merah sebanyak 3 kg/ha. Pilih lokasi persemaian yang tanahnya subur dan intensitas cahaya matahari sempurna. Cangkul tanah sedalam 30 cm hingga gembur, kemudian keringanginkan selama 2 minggu. Buat bedengan dengan ukuran lebar 80-100 cm dan tinggi 30 cm. Berikan pupuk kandang yang telah difermentasi sebanyak 2 kg/m2, NPK 15-15-15 sebanyak 10 gram/m2. Buat alur-alur dangkal dengan arah alur memotong panjang bedengan. Jarak antaralur 5-10 cm. Tebar biji bawang merah secara merata pada alur kemudian tutup tipis dengan tanah. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup menggunakan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP), dijaga dalam keadaan lembab.

Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 - 09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 7 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai). Dosis/konsentrasi ½ dosis terendah.

Bibit bawang merah berumur 30 hari siap untuk di tanam. Sebelum ditanam, bibit yang telah dicabut direndam dalam larutan karbofuran (konsentrasi 1 gr/ liter selama 2 jam). Penanaman berjumlah satu tanaman per titik tanam, usahakan posisi berdiri tegak. Jarak tanam ideal untuk musim kemarau 10 cm x 5 cm sedangkan untuk musim penghujan bisa diperlebar 10 cm x 10 cm. Padatkan tanah dekat pangkal batang secara pelan.

KEGIATAN PEMELIHARAAN PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH

Penyulaman Budidaya Bawang Merah

Penyulaman dilakukan sampai umur tanaman 2 minggu. Tanaman bawang merah yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Hal ini akan berpengaruh terhadap keseragaman pemanenan.

Sanitasi Lahan dan Pengairan Budidaya Bawang Merah

Sanitasi lahan budidaya bawang merah meliputi : pengendalian gulma/rumput (penyiangan), pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan serta pencabutan tanaman bawang merah yang terserang hama penyakit. Penyiangan dilakukan sebelum melakukan pemupukan susulan baik pemupukan susulan pertama maupun kedua. Penyiangan gulma dapat dicabut secara manual atau menggunakan alat gosrok/landak.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban dua hari sekali selama 15-30 menit tergantung kondisi kelembaban tanah.

Pemupukan Susulan Budidaya Bawang Merah

Pemupukan susulan budidaya bawang merah meliputi pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar diberikan secara larikan, dibenamkan dalam tanah sedalam 10 cm sebanyak 2 kali. Pemupukan pertama dilakukan umur 10 hari setelah tanam (HST) menggunakan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/ha dan pupuk urea sebanyak 50 kg/ha. Pemupukan kedua dilakukan umur 30 HST menggunakan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 200 kg/ha.
Pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 14 hst dengan konsentrasi 2 gr/liter, sedangkan pupuk daun kandungan Phospat serta kalium tinggi diberikan umur 30 hst dan 45 hst. Pemupukan phospat dan kalium tinggi menggunakan pupuk MKP dengan konsentrasi 2 gr/liter pada umur 30 hst, dan konsentrasi 4 gr/lliter pada umur 45 hst.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH

HAMA TANAMAN BAWANG MERAH

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)

Larva ulat tanah aktif menyerang tanaman bawang merah pada malam hari dengan cara memotong pangkal batang tanaman muda. Sedangkan siang harinya larva ulat bersembunyi di dalam celah-celah tanah, biasanya dengan posisi tubuh melingkar. Pengendalian hama ini secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Hama Putih (Thrips tabaci Lind.)

Siklus hidup thrips berlangsung selama 3 minggu. Di daerah tropis, siklus hidup Thrips hanya berlangsung selama 7-12 hari, sehingga dalam satu tahun dapat mencapai 5-10 generasi. Setiap ekor Thrips betina dapat menghasilkan telur sebanyak 80-120 butir selama hidupnya. Gejala serangan dapat diamati pada daun muda atau pucuk daun. Nimfa dan imago menyerang tanaman bawang merah dengan cara menghisap cairan daun. Bagian tanaman terserang akan ternoda berwarna putih mengkilap seperti perak, kemudian berubah menjadi kecoklatan berbintik hitam. Serangan berat menyebabkan tanaman mati serta umbi yang dihasilkan berukuran kecil bermutu rendah. Pengendalian hama Thrips menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ulat Bawang

Ulat bawang tanaman bawang merah adalah Spodoptera exiqua. Larva ulat bawang menyerang tanaman bawang merah dengan cara membuat lubang pada daun bagian ujung, kemudian masuk ke dalam daun dan memakan daun bagian dalam tetapi epidermis bagian luar tetap dibiarkan, akibatnya daun tersebut tampak bercak-bercak berwarna putih, apabila diterawang tembus cahaya. Jika populasi ulat bawang sangat banyak dapat menyerang umbi bawang merah. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH

Layu Fusarium

Layu Fusarium menyerang tanaman bawang merah pada bagian dasar umbi lapis, sehingga pertumbuhan akar dan umbi bawang merah terganggu. Gejala serangan dapat diamati secara visual, yaitu daun menguning cenderung terpelintir, tanaman mudah dicabut karena akar membusuk. Pada dasar umbi terlihat cendawan putih, sedangkan pada umbi lapis jika dipotong membujur terlihat pembusukan yang berawal dari dasar umbi kemudian meluas ke atas maupun ke samping. Tanaman mati mulai dari ujung daun kemudian menjalar hingga ke pangkal daun. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman bawang merah yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ngelumpruk

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Stemhylium vesicarium (Wallr Simmons). Gejala serangan penyakit ngelumpruk pada tanaman bawang merah adalah terdapat bercak kekuningan yang tumbuh sangat banyak pada seluruh bagian tanaman. Penyebaran penyakit berlangsung sangat cepat sesuai dengan arah bertiupnya angin di areal pertanaman. Cendawan Stemhylium vesicarium mampu mematikan tanaman secara serentak. Kumpulan tanaman yang mati serentak terlihat seperti tersiram air panas. Pada kondisi kelembaban udara tinggi dan berangin, maka infeksi dapat secara tunggal maupun berasosiasi dengan cendawan Alternaria porri. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Bercak Cercospora

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora duddidae (Walles). Gejala serangan penyakit bercak Cercospora pada tanaman bawang merah adalah terjadinya bercak klorosis pada ujung daun dan sering tampak terpisah dengan infeksi pada pangkal batang. Daun tampak belang-belang. Bercak klorosis berbentuk bulat berwarna pucat dan bergaris tengah 3-5 mm. Pusat bercak berwarna cokelat serta terdapat bintik-bintik yang merupakan konidiofora jamur. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Bercak Alternaria

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Alternaria porri (Ell.) Cif. Gejala serangan penyakit bercak Alternaria pada tanaman bawang merah adalah adanya bercak pada daun dengan pusat bercak berwarna ungu atau lebih gelap. Pada daerah tersebut dapat ditemukan konidiofor yang mampu berkecambah membentuk konidiospora. Infeksi awal pada tanaman bawang merah ditandai adanya bercak berukuran kecil, melekuk ke dalam, berwarna putih dengan pusat bercak berwarna ungu atau abu-abu. Apabila cuaca lembab, bercak berkembang hingga menyerupai cincin, bagian tengahnya berwarna ungu dan tepinya kemerahan serta dikelilingi warna kuning yang dapat meluas. Ujung daun mengering atau bahkan patah. Permukaan bercak pada akhirnya berwarna cokelat kehitaman. Serangan parah berlanjut ke umbi, menyebabkan umbi membusuk berwarna kuning lalu menjadi merah kecokelatan. Umbi membusuk dan berair dimulai dari bagian leher, kemudian jaringan umbi yang terinfeksi mengering serta berwarna gelap. Penyakit bercak daun Alternaria porri dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Embun Bulu

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Peronospora destructor (Berk) Casp. Serangan cendawan Peronospora destructor bersifat sistemik dan lokal. Gejala serangan penyakit embun bulu pada tanaman bawang merah terjadi pada awal pertumbuhan. Infeksi terlihat terutama saat daun basah terkena embuh, terlihat warna putih menyerupai bulu-bulu halus. Apabila tanaman mampu bertahan hidup, maka pertumbuhannya akan terhambat, daun berwarna hijau pucat. Infeksi pada daun mampu menyebar ke bawah mencapai umbi lapis, kemudian menjalar ke seluruh lapisan hingga berwarna cokelat. Penyakit embun bulu dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Antraknosa

Antraknosa pada tanaman bawang merah adalah cendawan Colletrotichum gloespoiroides Penz. Kerusakan tanaman bawang merah akibar serangan penyakit antraknosa bisa mencapai 50-100%. Penyakit ini sangat berpotensi menimbulkan kegagalan. Gejala serangan dapat dilihat secara fisiologis, tanaman mati serentak secara cepat. Serangan awal ditandai adanya gejala bercak putih pada daun, selanjutnya akan terbentuk lekukan ke dalam (invag1nasi), berlubang dan patah karena terkuai tepat pada bercak tersebut. Jika serangan berlanjut akan membentuk koloni konidia berwarna merah muda, lalu berubah menjadi cokelat tua, dan akhirnya menjadi kehitaman. Umbi akan membusuk serta daun mengering. Penyakit antraknosa dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

PANEN

Tanaman bawang merah dapat dipanen pada umur 60-70 hss di dataran rendah, 80-100 hss di dataran tinggi. Tanaman bawang merah siap panen ditandai sebagai berikut:
  1. Pangkal daun jika dipegan sudah lemah.
  2. 70-80% daun berwarna kuning.
  3. Daun bagian atas mulai rebah.
  4. Umbi bawang merah kelihatan tersembul di atas permukaan tanah
  5. Sudah terjadi pembentukan pigmen merah dan timbulnya bau bawang merah yang khas, serta terlihat warna merah tua atau merah keunguan pada umbi bawang merah.

Panen sebaiknya dilakukan dalam keadaan kering dan cuaca cerah. Untuk menghindari umbi tertinggal dalam tanah, 1-2 hari sebelum panen dilakukan penyiraman terlebih dahulu menggunakan air. Panen dilakukan dengan mencabut seluruh tanaman secara hati-hati, kemudian setiap satu genggam diikat dengan 1/3 daun bagian atas. Pengikatan bertujuan untuk memudahkan penanganan berikutnya.

BUDIDAYA DURIAN

Durian adalah tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Nama ini diambil dari ciri khas kulit buahnya yang berbentuk menyerupai duri. Sentra produksi durian di Indonesia adalah Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat. Pulau Kalimantan merupakan pusat keanekaragaman varietas durian. Varietas durian yang direkomendasikan untuk dibudidayakan adalah Sunan, Sukun, Petruk, Sitokong, Mas, Kane, Matahari dan Hepe.

CARA MENANAM DURIAN

Klasifikasi Ilmiah Tanaman Durian

Kingdom : Plantae - Plants
Subkingdom : Tracheobionta - Vascular plants
Superdivision : Sperrnatophyta - Seed plants
Division (phylum) : Magnoliophyta - Flowering plants
Kelas : Magnoliopsida - Dicotyledons
Subkelas : Dilleniidae
Order : Malvales
Keluarga : Bombacaceae - Kapok-tree family
Genus : Durio Adanson - durio
Spesies : Durio zibethinus Murray – durian

MORFOLOGI POHON DURIAN




Durian merupakan tanaman tahunan, tetapi tunas-tunas baru hanya tumbuh pada waktu tertentu (periode flushing atau peronaan) yang terjadi setelah masa berbuah selesai. Pohon durian tumbuh tegak dengan ketinggian dapat mencapai 30–40 m tergantung spesiesnya. Kulit batang berwarna coklat kemerahan, mengelupas tak beraturan dengan tajuk tanaman yang lebar.

Daun tanaman durian berbentuk lonjong 10-17 cm × 3-4,5 cm dengan tulang daun menyirip, terletak berseling dan bertangkai dengan ujung daun meruncing. Bagian atas daun berwarna hijau terang sampai gelap serta bagian bawahnya tertutup sisik berwarna perak atau keemasan dengan bulu-bulu halus.

Bunga tumbuh di batang (cauliflorous) atau di pangkal percabangan yang sudah tua (proximal), berkelompok membentuk rangkaian yang berisi 3-10 helai. Kuncup bunganya membulat, sekitar dengan diameternya 2 cm dan bertangkai panjang. Kelopak bunga bentuk tabung dengan panjang 3 cm, daun kelopak tambahan terpecah menjadi 2-3 bagian berbentuk bulat telur. Mahkota berjumlah 5 helai, berwarkan keputih-putihan sampai merah muda. Benang sarinya terbagi ke dalam 5 berkas, kepala putik berbentuk kapsul, dengan tangkai berbulu. Bunga muncul dari kuncup dorman, mekar pada sore hari dan bertahan hingga beberapa hari. Pada siang hari bunga menutup. Bunga ini menyebarkan aroma wangi yang berasal dari kelenjar nektar di bagian pangkalnya untuk menarik perhatian kelelawar sebagai penyerbuk utamanya. Kajian di Malaysia pada tahun 1970-an menunjukkan bahwa penyerbuk durian adalah kelelawar Eonycteris spelaea. Penelitian tahun 1996 lebih jauh menunjukkan bahwa hewan lain, seperti burung madu Nectariniidae dan lebah turut serta dalam penyerbukan tiga kerabat durian lainnya.

Buah durian berbentuk bulat, bulat telur hingga lonjong, dengan panjang dapat mencapai 25 cm dan diameter hingga 20 cm. Kulit buahnya tebal, permukaannya bersudut tajam ("berduri", karena itu disebut "durian", walaupun ini bukan duri dalam pengertian botani), berwarna hijau kekuning-kuningan, kecoklatan, hingga keabu-abuan.

Buah berkembang setelah terjadi penyerbukan dan memerlukan 4-6 bulan untuk pemasakan. Pada masa pemasakan terjadi persaingan antarbuah pada satu kelompok, sehingga hanya satu atau beberapa buah saja yang akan mencapai kemasakan, dan sisanya gugur. Buah akan jatuh sendiri setelah masak. Pada umumnya berat buah durian dapat mencapai 1,5 hingga 5 kilogram, sehingga kebun durian menjadi kawasan yang berbahaya pada masa musim durian. Apabila jatuh di atas kepala seseorang, buah durian dapat menyebabkan cedera berat atau bahkan kematian.

Setiap buah memiliki lima ruang, yang menunjukkan banyaknya daun buah yang dimiliki. Masing-masing ruangan terisi oleh beberapa biji yang berbentuk lonjong, berwarna merah muda kecoklatan dan mengkilap. Biji terbungkus oleh arilus yang biasa disebut sebagai "daging buah" durian berwarna putih hingga kuning terang dengan ketebalan yang bervariasi, namun pada kultivar unggul ketebalan arilus ini dapat mencapai 3 cm. Biji dengan durian disebut juga ponggè. Pemuliaan durian diarahkan untuk menghasilkan biji yang kecil dengan daging buah tebal, karena daging buah inilah bagian yang dimakan. Beberapa varietas unggul menghasilkan buah dengan biji yang tidak berkembang namun dengan daging buah tebal.

MANFAAT BUAH DURIAN

Buah durian memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh. Tidak hanya pada daging buahnya, tetapi juga pada kulit dan daunnya. Namun perlu di ingat juga bahwa makan buah durian dapat meningkatkan tekanan darah. Selain itu kadar kolesterol dalam durian juga cukup tinggi.

Disisi lain buah durian merupakan makanan sehat yang baik untuk tubuh. Buah durian mengandung banyak sekali zat gizi, di antaranya adalah karbohidrat, lemak, protein, serat, kalsium (Ca), fosfor (P), asam folat, magnesium (Mg), potasium/kalium (K), zat besi (Fe), zinc, mangaan (Mn), tembaga (Cu), karoten, vitamin C, thiamin, niacin, dan riboflavin. Durian juga mengandung gula yang cukup banyak serta sifatnya panas sehingga penderita diabetes dan ibu hamil sebaiknya tidak mengkonsumsi durian.

Buah durian mengandung mineral alamiah yang mudah dicerna oleh tubuh kita. Durian juga mengandung fosfor dan zat besi 10 kali lebih banyak dari buah pisang (mas, ambon, dan beranga). Tapi karena kandungan mineralnya yang tinggi, terutama kalsium dan zat besi, durian dapat menjadi penyebab masalah pada pergerakan usus besar. Bagi yang memiliki riwayat darah tinggi, disarankan untuk tidak mengkonsumsi buah ini bersama dengan alkohol karena dapat menyebabkan stroke. Selain itu, disarankan untuk banyak minum air putih sebelum dan sesudah makan durian untuk menghindari dehidrasi.

Nilai nurtrisi per 100 g (3.5 oz) Durian (Durio zibethinus)
Energi : 615 kJ (147 kcal)
Karbohidrat : 27.09 g
Lemak : 5.33 g
Protein : 1.47 g
Air : 65g
Vitamin C : 19.7 mg (33%)
Potassium : 436 mg (9%)

CARA BUDIDAYA DURIAN

Pemilihan Lokasi Budidaya Durian

Tanaman durian akan tumbuh optimal pada ketinggian 50 - 600 mdpl dengan intensitas cahaya 40-50 %, suhu 22-30 0C, dan curah hujan ideal 1.500 - 2.500 mm per-tahun dan tersebar merata sepanjang tahun. Lama bulan basah 9-10 bulan pertahun. Musim kering lebih dari 3 bulan akan menggangu pematangan buah durian. Akan tetapi, musim kering 1-2 bulan saja justru akan merangsang pembungaan lebih baik. Tanah yang cocok adalah lempung berpasir subur dan banyak kandungan bahan organik, dan pH 6 - 7. Selain itu tanaman durian memerlukan tanah yang dalam dengan drainase baik karena akar durian peka terhadap rendaman air.

Perbanyakan Tanaman Durian

Perbanyakan durian di desa-desa pada umumnya dengan menggunakan biji (perbanyakan generatif). Perbanyakan dengan biji juga biasa dilakukan untuk memperoleh batang bawah dalam perbanyakan vegetatif. Biji durian bersifat recalcitrant, hanya dapat hidup dengan kadar air tinggi (di atas 30% berat) dan tanpa perlakuan tertentu hanya sanggup bertahan seminggu sebelum akhirnya bakal kecambah mati. Dengan demikian biji durian harus segera disemaikan setelah buah dibuka.

Pohon durian mulai berbuah setelah 4-5 tahun, namun pada budidaya durian secara intensif pembuahan dapat dipercepat jika menggunakan bahan tanam hasil perbanyakan vegetatif. Teknik-teknik yang biasa digunakan adalah pencangkokan, penyusuan, penyambungan samping (inarching), penyambungan celah (cleft grafting), atau okulasi (budding). Teknik okulasi merupakan teknik yang paling sering dilakukan untuk perbanyakan vegetatif. Saat ini beberapa penangkar durian sudah mencoba menerapkan penyambungan mikro (micrografting). Teknik ini dilakukan pada saat batang bawah masih berusia muda. Tercatat bahwa durian hasil perbanyakan vegetatif mampu berbunga setelah 2-3 tahun. Selain itu durian juga memungkinkan untuk diperbanyak secara in vitro (kultur jaringan).

Pengolahan Tanah Budidaya Durian

Tanah dibersihkan dari sisa-sisa batang serta kayu tanaman sebelumnya. Pembersihan gulma juga harus dilakukan agar tanaman yang baru ditanam tidak terganggu oleh gulma tersebut. Setelah itu dilakukan pembajakan dan pencangkulan agar tanah menjadi gembur. Bila drainainase kurang baik, perlu dibuat parit-parit di sekitar kebun. Penanaman bibit durian dilakukan menjelang musim hujan. Apabila tanah areal pertanaman terlalu asam, maka perlu dilakukan pengapuran. Jika penanaman dilakukan pada skala luas di tempat terbuka, maka diperlukan tanaman pelindung seperti lamtoro, turi, gamal, sengon atau pepaya. Tanaman pelindung ditanam setelah penyiapan lahan.

Pembuatan Lubang Tanam Pada Budidaya Durian

Buat lubang tanam ukuran 70 x 70 x 60 cm. Pisahkan tanah bagian atas dengan bagian bawah dan biarkan selama 2 minggu. Tanah bagian atas dicampur dengan pupuk kandang fermentasi sebanyak 40 kg kemudian masukkan campuran tersebut ke dalam lubang tanam setelah itu tanah bagian bawah dimasukkan kedalam lubang tanan (di atas tanah bagian atas) dan biarkan 1 minggu sebelum bibit ditanam.

Penanaman Bibit Durian

Penanaman yang ideal dilakukan pada awal musim hujan dengan cara menggali lubang tanam yang berisi campuran media tanam sesuai ukuran bibit. Ambil bibit dan buka plastik atau keranjang pembungkus tanah dengan hati-hati. Tanam bibit sebatas leher akar tanpa mengikutkan batangnya. Siram air secukupnya setelah selesai tanam. Akan lebih baik ditambah pupuk organik cair atau agensia hayati untuk menopang pertumbuhannya. Jarak tanam 10 X 10 m atau 12 X 12 m. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, pada waktu penanaman bibit sebaiknya kita beri naungan untuk menghindari sengatan matahari, guyuran hujan yang lebat juga untuk melindungi tanaman muda dari terjangan angin kencang. Tanah di sekitar tanaman sebaiknya ditutupi dengan dengan jerami kering agar kelembaban tanah tetap stabil. Naungan bisa dibongkar setelah tanaman berumur 3-5 bulan.

Pemeliharaan Tanaman Durian

Penyiraman Pada Budidaya Durian

Pada awal pertumbuhan dilakukan setiap hari saat musim kemarau. Pada saat tanaman berbuah penyiraman dilakukan 1 – 3 kali seminggu di musim kemarau. Kekurangan air akan mengakibatkan kerontokan buah. Penyiraman paling baik dilakukan pada pagi hari.

Penyiangan Pada Budidaya Durian

Penyiangan dilakukan untuk menghindari perebutan unsur hara dan cahaya matahari antara tanaman utama dengan gulma atau tanaman pengganggu. Selain itu penyiangan juga bertujuan untuk menjaga kelembaban areal budidaya durian sekaligus untuk mengurangi inang hama dan penyakit yang berpotensi menyerang tanaman durian. Penyiangan pada tanaman muda harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kerusakan pada akar tanaman.

Pemupukan Pada Budidaya Durian

Pemupukan dilakukan dengan cara menggali tanah sebagai tempat pemupukan di bawah tajuk tanaman. Penggalian tanah jangan terlalu dalam karena dapat merusak perakaran. Pupuk ditabur merata di bawah tajuk tanaman dan ditutup kembali dengan tanah. Pemupukan pada fase awal pertumbuhan sampai tahun ke-3 dengan menggunakan pupuk NPK dengan kadar Nitrogen tinggi. Waktu pemupukan sekali setahun pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau. Dosis pemupukan per-tanaman yaitu, umur 1 tahun 500 g NPK + 100 g pupuk urea, umur 2 tahun 1 kg NPK + 200 g urea, umur 3 tahun 1,5 kg NPK + 300 g urea, umur 4 tahun 2,5 kg NPK. Pupuk organik padat perlu ditambahkan sebanyak 20 – 40 kg/tanaman setiap tahun. Pemberian pupuk kandang bisa dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk kimia. Untuk menghindari kerontokan buah, pemupukan juga perlu dilakukan pada saat tanaman berbunga dengan dosis 3 kg NPK 15-15-15 + 500 g kalsium per-tanaman.

Pemangkasan Pada Budidaya Durian

Pemangkasan dilakukan pada tunas-tunas air, cabang atau ranting yang sudah mati dan terserang hama penyakit, cabang atau ranting yang tumbuh vertikal, cabang atau ranting yang tumbuh ke arah batang utama, serta ranting-ranting yang tidak terkena sinar matahari. Ketika tanaman mencapai ketinggian 4-5 m, pucuk tanaman dipangkas.

Penyerbukan Pada Budidaya Durian

Bungan durian mekar pada sore sampai malam hari sehingga sangat sedikit serangga yang dapat menyerbuki. Jadi tidak mengherankan jika tidak semua bunga bisa menjadi buah. Oleh karena itu untuk mengoptimalkan pembuahan perlu dilakukan penyerbukan buatan dengan cara menyapukan kuas halus pada bunga yang telah mekar pada malam hari. Untuk memaksimalkan kualitas dan kuantitas, sebaiknya dalam satu areal penanaman tidak hanya ditanami satu jenis varietas tertentu, tetapi dicampur dengan beberapa varietas lain.

Perawatan Buah Durian

Penyeleksian buah dilakukan setelah buah durian berdiameter 5 cm. Sisakan dua buah terbaik dengan jarak ideal antara buah satu dengan yang lain sekitar 30 cm. Tanaman durian yang baru pertama kali berbuah sebaiknya dipelihara satu atau dua butir buah. Buah yang sudah mencapai ukuran optimal harus diikat menggunakan tali rafia, agar buah yang telah mencapai matang sempurna tidak jatuh ke tanah, tetapi menggantung pada tali yang sudah dipasang.

Pemanenan Buah Durian

Buah durian mengalami tingkat kematangan sempurna 4 – 5 bulan setelah bunga mekar. Waktu petik berdasar tanda-tanda fisik, misal ujung duri coklat tua, garis-garis di antara duri lebih jelas, tangkai buah lunak dan mudah dibengkokkan, ruas-ruas tangkai buah membesar, baunya harum, terdengar bunyi kasar dan bergema jika buah dipukul. Panen dilakukan dengan menunggu buah yang sudah matang jatuh dan menggantung pada tali yang sudah dipasang. Cara lain penen buah durian yaitu dengan memetik atau memotong buah di pohon menggunakan pisau atau galah berpisau. Bagian yang dipotong adalah tangkai buah dekat pangkal batang dan usahakan buah durian tidak sampai terjatuh karena mengurangi kualitas buah. Buah yang dipetik langsung, dianginkan 1-2 hari, kemudian diperam.

Hama Penyakit Durian

BUDIDAYA TANAMAN PADI SAWAH

Budidaya Tanaman Padi Sawah - Cara menanam padi yang baik akan menentukan keberhasilan budidaya. Sekalipun cara menanam padi sawah dianggap budidaya mudah akan tetapi kegagalan panen masih sering terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia, apalagi ketika tanaman padi terserang hama tikus, sudah bisa dipastikan hasil panen menurun sangat signifikan bahkan seringkali menyebabkan puso. Sekalipun mudah, jika kita menguasai teknik menanam padi dengan baik niscaya akan meningkatkan produktivitas pertanaman. Berikut ini akan dibahas mengenai bagaimana cara menanam padi sawah beserta cara pengendalian hama dan penyakit pengganggu tanaman.

BAGAIMANA CARA MENANAM PADI YANG BAIK?

Dalam budidaya ini, perlu diperhatikan faktor-faktor penentu keberhasilan, diantaranya syarat tumbuh, pH tanah, bibit tanaman, serta cara mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi. Pemahaman mengenai hal-hal tersebut membantu para petani dalam melakukan proses budidaya padi, khususnya padi sawah.

SYARAT TUMBUH

Lokasi budidaya dan syarat tumbuh tanaman perlu diketahui untuk menentukan varietas maupun pengendalian hama dan penyakit. Tanaman padi sawah memerlukan curah hujan antara 200 mm/bulan atau 1500-2000 mm/tahun, ketinggian tempat optimal 0-1500 mdpl dengan suhu optimal sekitar 23°C. Budidaya padi sawah dapat dilakukan di segala musim. Intensitas sinar matahari penuh tanpa naungan. Air sangat dibutuhkan oleh tanaman padi. Saat musim kemarau, air harus tersedia untuk meningkatkan produksi. Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah mengandung pasir, debu, maupun lempung.

PELAKSANAAN BUDIDAYA PADI SAWAH




Pengukuran pH Tanah

Meskipun tanaman padi dapat tumbuh baik pada pH rendah, pengukuran pH sebaik tetap harus dilakukan agar penyerapan akar akan unsur hara dalam tanah berjalan dengan baik. Tanah dengan pH mendekati netral atau bahkan netral (nilai 7) untuk pertumbuhan tanaman padi memungkinkan hasil panen signifikan. Untuk itu pengukuran pH tanah diperlukan agar tingkat keasaman tanah di lahan masing-masing dapat diketahui.

Persiapan Lahan

Persiapan lahan dalam budidaya tanaman padi sawah meliputi pembersihan jerami atau sisa tanaman lain, pencangkulan pematang sawah untuk memperbaiki pematang-pematang rusak, pemberian kapur pertanian disesuaikan dengan pH tanah, Pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang sebanyak 4 ton/ha (pupuk kandang harus sudah matang/difermentasi), pembajakan serta penggaruan tanah. Saat melakukan penggaruan sebaiknya saluran pembuangan air ditutup, agar pupuk yang sudah diberikan tidak hanyut terbawa oleh air.

Persiapan Bibit Padi dan Penanaman

Membuat persemaian merupakan langkah awal dalam budidaya. Pembuatan persemaian memerlukan persiapan sebaik-baiknya, sebab benih di persemaian akan menentukan pertumbuhan tanaman, oleh karena itu persemian harus benar-benar mendapat perhatian, agar harapan untuk mendapatkan bibit padi sehat sekaligus subur dapat tercapai. Hal yang perlu diperhatikan adalah penggunaan benih padi unggul bersertifikat, dengan kebutuhan benih 25-30 kg/ha. Lokasi persemaian diusahakan pada tanah subur dengan intensitas cahaya matahari sempurna. Buat bedengan berukuran lebar 1 m, panjang 4 m, tinggi 20-30 cm. Pada lahan seluas 1 hektar dibutuhkan 4 bedengan. Untuk menghindari serangan hama tikus, sebaiknya tempat persemaian dikelilingi pagar plastik. Berikan pupuk NPK sebanyak 1 kg untuk 4 bedengan. Benih padi yang telah direndam selama 1 malam siap ditebar.
Bibit padi siap pindah tanam saat berumur 18 hari. Sebelum ditanam, rendam bibit yang telah dicabut dalam larutan insektisida berbahan aktif karbofuran selama 2 jam dengan konsentrasi 1 gr/liter air. Daun bibit dibiarkan utuh, tidak dipotong seperti kebiasaan petani. Saat melakukan penanaman, lahan dalam kondisi macak-macak, tidak perlu tergenang air. Penanaman padi dilakukan dengan jumlah satu tanaman per titik tanam, menggunakan sistem jajar legowo 2-1, jarak 15 x 25 cm, lebar barisan legowo 50 cm. Keuntungan cara menanam padi sawah menggunakan sistem ini adalah memberikan ruang cukup untuk pengaturan air, mengoptimalkan cahaya matahari, pengendalian hama dan penyakit juga lebih mudah, serta pemupukan lebih berdaya guna.

PEMELIHARAAN TANAMAN PADI SAWAH

Penyulaman

Penyulaman dilakukan sampai tanaman berumur 2 minggu. Penyulaman jangan terlalu tua karena mengakibatkan pertumbuhan tanaman padi nantinya menjadi tidak seragam, sehingga pemanenan kurang serempak.

Sanitasi Lahan dan Pengairan

Sanitasi lahan pada budidaya meliputi : penyiangan (pengendalian rumput/gulma), pencabutan tanaman padi terserang hama dan penyakit. Penyiangan dalam budidaya ini dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu sebelum pemupukan kedua dan ketiga dengan cara mencabut gulma atau menggunakan alat gosrok/landak. Bila pertumbuhan gulma cukup cepat, maka penyiangan bisa dilakukan hingga 3 kali.
Hal utama yang perlu diperhatikan dalam pengairan adalah pengaturan air agar tetap dalam kondisi macak-macak. Tinggi air tidak lebih dari 1 cm. Pengaturan air terus dilakukan sampai 10 hari menjelang panen.

Pemupukan Susulan

Melakukan pemupukan susulan selama budidaya merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius, karena nutrisi tanaman padi harus tetap tersedia sepanjang masa untuk menghasilkan produksi optimal. Pupuk susulan dapat diberikan melalui daun maupun akar tanaman. Pupuk akar diberikan sebanyak 3 kali. Pemupukan pertama diberikan saat tanaman padi berumur 7 HST sebanyak 150 kg/ha NPK (15-15-15), dan 50 kg/ha pupuk urea. Pemupukan kedua dilakukan saat tanaman padi berumur 20 HST, menggunakan urea sebanyak 50 kg/ha, NPK 15-15-15 150 kg/ha. Selanjutnya, pemupukan ketiga dilakukan saat tanaman berumur 35 HST menggunakan NPK 250 kg/ha.
Pupuk daun diberikan melalui penyemprotan, agar lebih hemat waktu maupun tenaga kerja, pemberian pupuk daun dapat bersamaan saat melakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Saat tanaman padi berumur 14 hst, berikan pupuk daun nitrogen tinggi dengan konsentrasi 2 gr/liter. Pupuk daun P dan K tinggi diberikan saat umur 30 dan 45 hst. Pemupukan phospat dan kalium saat umur 30 hst menggunakan pupuk MKP (2 gr/liter), sedangkan saat berumur 45 hst berikan 4 gr/liter.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI SAWAH

HAMA TANAMAN PADI

Orong-Orong

Hama ini berasal dari spesies Gryllotalpa orientalis Burmeister. Sebetulnya, hama orong-orong jarang menjadi masalah serius dalam budidaya, tapi sering ditemukan di lahan pasang surut serta biasanya hanya terdapat di sawah kering tidak digenangi. Penggenangan lahan menyebabkan orong-orong pindah ke pematang. Stadia tanaman rentan terhadap serangan hama ini adalah fase pembibitan sampai anakan. Benih di pembibitan juga dapat dimakannya. Oorong-orong merusak akar muda dengan cara memotong tanaman padi di pangkal batang yang berada di bawah tanah. Gejala kerusakan demikian terkadang sering dikira petani disebabkan oleh penggerek batang (sundep). Tanaman padi muda yang diserangnya mati sehingga terlihat adanya spot-spot kosong di sawah.
Pengendalian hama orong-orong untuk budidaya ini dilakukan dengan penggenangan sawah 3-4 hari untuk membunuh telur orong-orong di tanah. Penggunaan umpan sekam dicampur insektisida berbahan aktif metomil, jika diperlukan bisa mengaplikasikan insektisida berbahan aktif fipronil atau karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Ulat Grayak

Ulat grayak yang menyerang selama budidaya adalah Spodoptera litura. Ulat menyerang daun tanaman padi secara bergerombol dalam jumlah sangat banyak, serangannya dilakukan di malam hari dengan cara memakan daun tanaman padi. Gejala serangan daun berupa bercak-bercak putih berlubang, bahkan hanya meninggalkan tulang daun. Larva hama ulat grayak menyerang tanaman padi sejak di persemaian sampai fase pengisian. Serangan parah terjadi saat musim kemarau maupun ketika tanaman padi kekurangan air.
Pengendalian hama ulat grayak adalah dengan penyemprotan insektisida dengan bahan aktif deltametrin, sipermetrin, sipermetrin, klorpirifos, sipermetrin, kartophidroklorida, metomil, atau dimehipo. Konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penggerek Batang

Hama penggerek batang yang menyerang selama proses budidaya di Indonesia terdiri dari beberapa spesies, diantaranya:
  1. Scirpophaga incertulas
  2. Scirpophaga innotata
  3. Chilo suppressalis
  4. Chilo polychrysus Meyrick
  5. Chilo auricilius Dudgeon
  6. Sesamia inferens
  7. Tryporiza innota
  8. Tryporiza incertulas
Serangan fase vegetatif tidak terlalu mempengaruhi hasil panen karena tanaman padi masih dapat mengkompensasi dengan membentuk anakan baru. Gejala serangan berupa daun tengah atau pucuk tanaman mati karena titik tumbuh dimakan larva penggerek batang. Pucuk tanaman padi yang mati akan berwarna coklat serta mudah dicabut (gejala ini biasa disebut Sundep).
Serangan penggerek batang fase generatif ditandai adanya larva penggerek batang memakan pangkal batang tanaman padi tempat malai berada. Malai akan mati, berwarna abu-abu, serta bulirnya kosong/hampa. Malai mudah dicabut, bagian pangkal batang terdapat bekas gerekan larva hama penggerek batang (gejala ini biasa disebut Beluk).
Pengendalian kimiawi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan aplikasi insektisida berbahan aktif fipronil, monosultap, bisultap, bensultap, dimehipo, karbosulfan, karbofuran atau amitraz. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Hama Putih

Hama putih yang menyerang tanaman padi berasal dari spesies Nymphula depunctalis. Hama putih menyerang tanaman padi mulai fase vegetatif di persemaian sampai tanaman padi berumur kurang lebih satu bulan. Hama putih akan memakan jaringan permukaan bawah daun sehingga tampak garis-garis memanjang berwarna putih. Tanda adanya serangan hama ditandai adanya larva kecil maupun ngengat (larva ini menyelesaikan hidupnya selama 35 hari).
Stadia hama putih yang merusak adalah stadia larva. Serangan daun ditandai daun terpotong seperti digunting. Daun terpotong tersebut dibuat menyerupai tabung (tabung digunakan larva untuk membungkus dirinya, terbungkus oleh benang-benang sutranya).
Pengendalian kimiawi hama putih selama budidaya dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, karbosulfan, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Hama Putih Palsu

Hama ini berasal dari spesies Chanaphalocrosis medinalis. Hama putih palsu menyerang bagian daun tanaman padi, larva akan memakan jaringan hijau daun dari dalam lipatan daun, permukaan bawah daun berwarna putih. Ngengat berwarna kuning coklat, bagian sayap depannya ada tanda pita hitam sebanyak tiga buah yang garisnya lengkap atau terputus. Saat diam, ngengat berbentuk segitiga.
Pengendalian hama putih palsu untuk budidaya padi tidak diperkenankan melakukan penyemprotan insektisida sebelum tanaman padi berumur 30 hst atau 40 hari setelah sebar benih. Tanaman padi yang terserang pada fase ini, dapat pulih apabila air maupun pupuk dikelola dengan baik. Selain itu dapat juga mencegahnya melalui penggenangan lahan secara terus menerus, atau dapat juga melakukan pengeringan sawah selama beberapa hari untuk membunuh larvanya. Jika tanaman padi telah berumur lebih dari 30 hst namun serangan tidak terkendali, bisa disemprot menggunakan insektisida berbahan aktif indoksakarb, bensultap, BPMC, MIPC, tiakloprid, fipronil, atau karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Wereng Coklat

Nilaparvata lugens Stal adalah jenis hama wereng yang menyerang tanaman padi. Wereng coklat merupakan hama dari golongan insekta tergolong sangat merugikan pertanaman padi di Indonesia. Akibat serangan hama ini menyebabkan tanaman padi mati kering, tampak seperti terbakar, serta dapat menularkan beberapa jenis penyakit. Pemupukan kandungan N tinggi tanpa diimbangi P,K tinggi serta penanaman dengan jarak tanam rapat sangat rentan terserang wereng coklat. Hama wereng coklat menyerang tanaman padi mulai dari pembibitan hingga fase masak susu. Gejala serangan ditandai terdapatnya imago, menghisap cairan tanaman di pangkal batang, kemudian tanaman padi menguning, akhirnya mengering.
Pengendalian hama wereng coklat diantaranya melakukan pengaturan jarak tanam, menanam varietas tahan wereng (bisa meminta informasi ke dinas pertanian terdekat), penggunaan lampu perangkap, serta memanfaatkan musuh alami (contoh : laba-laba Ophione nigrofasciata, Paederus fuscifes, Coccinella, kepik Cyrtorhinus lividipennis). Apabila serangan di luar ambang kendali, aplikasikan insektisida berbahan aktif imidakloprid, bensultap, BPMC, betasiflutrin, buprofezin, dimehipo, tiametoksam, atau karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Wereng Hijau

Hama pengganggu tanaman padi jenis ini adalah Nephotettix virescens. Hama wereng hijau merupakan hama penyebar (vektor) virus tungro penyebab penyakit tungro. Fase persemaian sampai pembentukan anakan maksimum merupakan fase paling rentan serangan wereng hijau. Gejala kerusakan ditandai tanaman kerdil, anakan berkurang, daun berubah menjadi kuning sampai kuning oranye. Pengendalian hama wereng hijau selama budidaya ini sama seperti pengendalian hama wereng coklat.

Walang Sangit

Spesies walang sangit yang menyerang tanaman padi adalah Leptcorisa oratorius. Hama Walang sangit adalah hama tanaman padi setelah berbunga, menghisap cairan bulir padi bahkan mengakibatkan bulir menjadi hampa atau pengisiannya tidak sempurna, berubah warna serta mengapur. Fase tanaman padi mulai keluar malai sampai masak susu merupakan fase paling rentan. Walang sangit selain menurunkan produksi juga menurunkan kualitas gabah. Hama ini menyebabkan meningkatnya Grain dis-coloration.
Pengendalian kimiawi selama budidaya ini dapat dilakukan dengan mengaplikasikan insektisida berbahan aktif alfametrin, bensultap, BPMC, MIPC, tiakloprid, fipronil, atau betasiflutrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Keong Mas

Biasanya keong mas banyak dijumpai di areal persawahan, mereka merupakan hama pengganggu tanaman padi. Hama ini merusak tanaman padi dengan cara memarut jaringan tanaman lalu memakannya, menyebabkan adanya bibit hilang per tanaman. Keong mas menyenangi tempat-tempat genangan air. Pomacea canaliculata adalah spesies yang menyerang selama proses budidaya.
Pengendalian yang dapat dilakukan diantarnya dengan melakukan pengamatan di lapangan, waktu kritis untuk mengendalikan serangan hama keong mas adalah saat tanaman berumur 10 hst atau 21 hari setelah sebar benih (benih basah). Jika di sawah ditemukan telur berwarna merah muda maupun keong mas dengan berbagai ukuran maupun warna, perlu dilakukan pengaturan air. Ketika tanaman padi berumur 15 hst, perlu dilakukan pengeringan kemudian digenangi lagi secara bergantian (flash flood=intermitten irrigation). Bila petani menanam menggunakan sistem tabela (tanam benih secara langsung), selama 21 hari setelah sebar benih sawah perlu dikeringkan kemudian digenangi secara bergantian. Apabila serangan di luar ambang kendali bisa mengaplikasikan moluskisida berbahan aktif niclosamida atau saponin. Dosis/konsentrasi lihat saja petunjuk yang ada di kemasannya.

Hama Tikus Sawah

Hama tikus sawah penyebab kegagalan budidaya berasal dari spesies Rattus argentiventer Rob Kloss. Tikus sawah merupakan hama utama budidaya padi dari golongan mamalia (binatang menyusui). Pengendalian hama tikus memerlukan pendekatan sangat spesifik.
Tikus sawah menyebabkan kerusakan tanaman padi mulai dari persemaian hingga padi siap dipanen, bahkan menyerang padi dalam gudang penyimpanan. Kerusakan akibat serangan hama tikus bisa mengakibatkan puso dengan nilai kerugian jauh lebih tinggi dibanding serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) lain.
Pengendalian Hama Tikus
Pengendalian hama tikus akan dijelaskan lebih lanjut, mengingat serangannya mampu menggagalkan panen hingga 100% (puso). Berikut cara pengendalian hama tikus:
Sanitasi Lingkungan
Sanitasi lingkungan bertujuan menjadikan lingkungan sawah menjadi tidak menguntungkan bagi kehidupan maupun perkembangbiakan tikus. Kegiatan sanitasi dengan pembersihan gulma di areal pertanaman mulai dari pematang sampai saluran irigasi, terutama pada tanggul tinggi (bertujuan agar hama tikus tidak bersarang di tempat tersebut).
Kultur Teknis
Pengaturan pola tanam bertujuan membatasi perkembangbiakan tikus sawah, karena hama tikus sawah hanya berkembangbiak saat tanaman padi pada fase generatif. Pengaturan pola tanam dapat membatasi perkembangbiakan hama ini. Pengaturan jarak tanam lebih lebar dari biasanya, seperti cara tanam legowo, bertujuan membuat lingkungan lebih terbuka sehingga kurang disukai hama tikus.
Pengendalian Fisik
Tujuan pengendalian untuk mengubah faktor lingkungan fisik menjadi tidak sesuai untuk kehidupan tikus sawah. Hama tikus mempunyai batas toleransi terhadap beberapa faktor fisik seperti suhu, cahaya, air, maupun suara. Beberapa cara pengendalian dapat menggunakan alat penyembur api (brender) yang disemprotkan ke sarang tikus, memompa air ke dalam sarang tikus, mengusir hama tikus dengan suara ultrasonik, pemerangkapan (trapping), gropyokan massal (community actions), sistem bubu perangkap linier (linier trap barrier system atau LTBS), serta Sistem bubu perangkap (trap barrier system atau TBS). Informasi LTBS maupun TBS dapat meminta menjelasan ke instansi pertanian terdekat.
Pemanfaatan Musuh Alami
Musuh alami berasal dari kelompok burung, mamalia maupun reptilia. Pemangsa dari kelompok burung antara lain Tito alba javanica (burung hantu putih), Bubo ketupu (burung hantu cokelat) dan Nyctitorac nyctitorac (burung kowak maling). Pemangsa dari kelompok mamalia antara lain Verricula malaccensis (musang bulan atau rase), Herpestes javanicus (garangan), Felis catus (kucing) atau Canis familiaris (anjing). Pemangsa dari kelompok reptilia antara lain Ptyas koros (ular tikus), Naja naja (ular kobra), Trimeresurus hagleri (ular hijau), Phyton reticulatus (ular sanca).
Pemangsa terbaik hama tikus sawah adalah burung hantu, karena burung hantu mempunyai laju fisiologis besar sehingga mampu mengkonsumsi tikus dalam jumlah banyak. Pemangsa jenis burung juga mempunyai kemampuan mencari mangsanya lebih baik dibandingkan jenis pemangsa lain. Walaupun demikian, burung hantu memerlukan habitat yang sesuai seperti daerah perkebunan, pegunungan atau perkampungan. Sedangkan di daerah sawah irigasi yang luas bahkan terbuka, burung hantu kurang cocok berdomisili di daerah tersebut. Oleh karena itu, sangat perlu menciptakan lingkungan kondusif untuk melindungi predator tikus. Tubuh hama tikus terinfeksi berbagai jenis cacing, sehingga memberikan umpan tikus menggunakan patogen seperti bakteri salmonella dapat dilakukan, tetapi umpan rodentisida tersebut juga membahayakan kesehatan manusia.
Pengendalian Kimiawi
Rodentisida. Rodentisida di pasaran umumnya dalam bentuk siap pakai, atau mencampur sendiri dengan bahan umpan. Rodentisida digolongkan menjadi racun akut maupun antikoagulan. Racun akut dapat membunuh hama tikus langsung di tempat setelah makan umpan, sehingga dapat menyebabkan hama menjadi jera. Sedangkan rodentisida antikoagulan akan menyebabkan hama mati setelah lima hari memakan umpan (dosis cukup agar tidak menyebabkan jera umpan). Namun demikian jenis rodentisida antikoagulan mempunyai efek sekunder negatif terhadap predator tikus.
Fumigasi. Fumigasi merupakan teknik yang ditujukan langsung ke sarang tikus, teknik ini merupakan teknik efektif membunuh hama tikus di dalam sarang.
Antifertilitas
Adalah cara pemandulan hama tikus baik tikus jantan maupun betina. Cara ini lebih efektif karena hama tikus sawah berkembangbiak sangat cepat. Beberapa jenis bahan kimia untuk pemandulan manusia juga dapat digunakan untuk memandulkan tikus sawah.

PENYAKIT TANAMAN PADI

Hawar Daun Bakteri

Hawar daun bakteri yang menyerang tanaman padi adalah bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf blight = BLB) menyerang di semua musim, baik musim kemarau maupun musim hujan serta di semua tempat baik pertanaman padi di dataran rendah maupun dataran tinggi. Ketika musim hujan penyakit ini biasanya berkembang lebih baik. Kerugian hasil akibat serangan penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 60%.
Pengendalian dilakukan dengan rotasi tanaman, pengaturan jarak tanam, penggunaan varietas tahan serangan BLB, serta pemupukan berimbang. Pengendalian secara kimiawi dapat menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik, bahan aktif yang bisa digunakan antara lain streptomisin sulfat, oksitetrasiklin, asam oksolinik, atau kasugamisin hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Hawar Daun Jingga

Hawar daun jingga yang menyerang tanaman padi sawah disebabkan oleh cendawan Pseudomonas sp. Penyakit hawar daun jingga (Bacterial Red Stripe/BRS) tersebar di hampir seluruh Pulau Jawa-Sumatera, terutama di dataran rendah (<100 m dpl). Saat musim kemarau, serangan terjadi pada fase generatif. Di Jalur Pantura Jawa Barat penyakit ini dijumpai merata di kabupaten Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon. Varietas tahan hawar daun jingga sampai saat ini belum tersedia. Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa perkembangan penyakit HDJ sangat dipengaruhi oleh perlakuan selama proses budidaya seperti pemupukan, jarak tanam, serta pengairan.
Pengendalian penyakit hawar daun jingga selama budidaya dilakukan dengan pemupukan berimbang, jarak tanam lebar, serta pengeringan secara berkala. Pengendalian kimiawi bakterisida dari golongan antibiotik, bahan aktif yang bisa digunakan antara lain streptomisin sulfat, oksitetrasiklin, asam oksolinik, atau kasugamisin hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasannya.

Hawar Pelepah

Serangan ini disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani kuhn. Penyakit hawar menyerang tanaman padi baik di dataran tinggi maupun dataran rendah. Gejala penyakit dimulai dari bagian pelepah dekat permukaan air, berupa bercak-bercak besar berbentuk jorong, tepi tidak teratur berwarna coklat sedangkan bagian tengah berwarna putih pucat. Hawar pelepah muncul sejak dikembangkan varietas padi beranakan banyak, didukung oleh pemberian pupuk kandungan nitrogen tinggi secara berlebihan, serta cara tanam berjarak rapat. Kehilangan hasil produksi akibat serangan penyakit hawar pelepah dapat mencapai 30%.
Cara pengendalian penyakit ini adalah dengan pengaturan jarak tanam, pemupukan berimbang, serta aplikasi trichoderma. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil, propamokarb hidroklorida, asam fosfit, kasugamisin, atau dimetomorf dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk yang tertera di kemasan.

Penyakit Busuk Batang

Penyakit busuk batang yang menyerang tanaman padi sawah adalah candawan Helminthosporium sigmoideum. Penyakit busuk batang merupakan salah satu penyakit utama tanaman padi di Indonesia. Penyakit ini selalu ditemukan di setiap musim tanam mulai dari kategori infeksi ringan sampai sedang. Saat musim hujan, lebih dari 60% tanaman padi di jalur pantura Jawa Barat mengalami kerebahan akibat terinveksi cendawan H. Sigmoideum. Kerebahan menyebabkan prosentase gabah hampa meningkat. Kehilangan hasil produksi akibat serangan penyakit ini mencapai 25-30%. Busuk batang ditemukan lebih parah pada varietas padi beranakan banyak, terutama ditanam di lokasi kahat kalium serta berdrainase jelek.
Cara pengendaliannya adalah dengan pengaturan jarak tanam, pemupukan berimbang, pengapuran lahan untuk mencapai pH ideal, serta pengeringan sawah secara berkala. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, difenokonazol, tebukonazol, atau dimetomorf dengan dosis/konsentrasi sesuai petunjuk yang tertera di kemasan.

Penyakit Blas

Penyakit blas yang menyerang tanaman padi disebabkan oleh cendawan Pyricularia grisea. Blas merupakan penyakit penting terutama padi gogo. Daerah endemik penyakit blas di Indonesia diantaranya Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Sulawesi Tangah, Sulawesi Tenggara, serta Jawa Barat bagian selatan (Sukabumi dan Garut). Akhir-akhir ini penyakit blas khususnya blas leher menjadi tantangan serius karena banyak ditemukan di beberapa varietas di Jalur Pantura Jawa Barat. Penyakit blas menginfeksi tanaman di semua stadium, disamping itu juga menyebabkan tanaman puso. Saat tanaman memasuki fase vegetatif serangan biasanya menginfeksi bagian daun, disebut blas daun (leaf blast). Sedangkan saat memasuki fase generatif selain menginfeksi daun juga menginfeksi leher malai, disebut blas leher (neck blast). Pemupukan tidak berimbang, terutama kandungan nitrogen tinggi disertai kondisi kekurangan air sangat disenangi oleh penyakit ini. Artinya makin tinggi pupuk nitrogen keparahan penyakit akan semakin tinggi.
Pengendalian penyakit blas selama budidaya antara lain dengan pengaturan jarak tanam, penggunaan benih bebas infeksi patogen, pemupukan berimbang, pengapuran lahan untuk mencapai pH ideal, serta pengeringan sawah secara berkala. Pengendalian kimiawi dengan aplikasi fungisida berbahan aktif karbendazim, metil tiofanat, difenokonazol, mankozeb, atau klorotalonil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasannya.

Bercak Daun Cercospora

Bercak daun cercospora selama budidaya disebabkan oleh cendawan Cercospora leaf spot. Penyakit ini sering disebut bercak coklat sempit (narrow brown leaf spot), disebabkan oleh jamur Cercospora oryzae Miyake. Bercak daun cercospora merupakan salah satu jenis penyakit merugikan terutama budidaya untuk padi sawah tadah hujan yang kahat (kekurangan) kalium. Penurunan hasil akibat serangan penyakit ini disebabkan oleh keringnya daun sebelum waktunya serta keringnya pelepah daun (menyebabkan tanaman rebah). Gejala serangan ditandai adanya bercak-bercak sempit memanjang pada daun, berwarna coklat kemerahan, sejajar dengan ibu tulang daun, berukuran panjang kurang lebih 5 mm, lebar 1-1,5 mm. Saat tanaman padi membentuk anakan, bercak ini semakin meningkat. Infeksi batang dan pelepah meyebabkan batang maupun pelepah daun busuk sehingga tanaman menjadi rebah.
Cara pengendaliannya dengan pemberian pupuk NPK berimbang, pengaturan jarak tanam, serta melakukan pengapuran lahan untuk meningkatkan pH tanah. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif karbendazim, metil tiofanat, difenokonazol, mankozeb, atau klorotalonil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasannya.

Bercak Daun Coklat

Penyakit daun coklat yang menyerang tanaman padi adalah cendawan Helminthosporium oryzae. Gajala serangan ditandai bercak coklat pada daun berbentuk oval merata di permukaan daun dengan titik tengah berwarna abu-abu atau putih. Titik abu-abu di tengah bercak merupakan gejala khas penyakit bercak daun coklat di lapangan. Bercak masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. Serangan berat menyebabkan jamur menginfeksi gabah, gejalanya bercak berwarna hitam atau coklat gelap).
Cara mengendaliak penyakit bercak daun coklat selama budidaya diantaranya dengan pemberian pupuk NPK berimbang, pengaturan jarak tanam, serta pengapuran lahan untuk meningkatkan pH tanah. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif azoxistrobin, belerang, difenokonazol, tebukonazol, karbendazim, metil tiofanat, atau klorotalonil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasannya.

Penyakit Tungro

Penyakit tungro pada tanaman padi adalah virus batang tungro padi (rice tungro bacilliform virus, RTBV) maupun virus bulat tungro padi (rice tungro spherical virus, RTSV). Penyakit tungro merupakan penyakit padi yang kompleks, kedua virus ditularkan secara semipersisten oleh beberapa spesies hama wereng hijau maupun hama wereng daun lainnya. Infeksi virus tungro menyebabkan tanaman kerdil, daun muda berwarna kuning dari ujung daun, daun kuning nampak sedikit melintir serta jumlah anakan lebih sedikit dari tanaman sehat. Secara umum hamparan tanaman padi terlihat berwarna kuning disertai tinggi tanaman tidak merata, serta terlihat spot-spot tanaman kerdil.
Virus tugro dapat dikendalikan dengan cara mengendalikan serangga vektor penular virus, terutama pengendalian hama wereng hijau. Aplikasi insektisida untuk mematikan secara cepat hama wereng hijau agar efisien dengan memperhatikan dampak pestisida terhadap lingkungan, sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil pengamatan tentang kondisi ancaman tungro.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit

Lakukan penyemprotan pestisida secara berseling atau ganti bahan aktif (bahan aktif seperti yang telah disebutkan di atas) setiap kali melakukan penyemprotan, hindari penggunaan bahan aktif yang sama secara berturut-turut agar tidak hama dan penyakit tidak resisten (kebal).

PANEN

Buah padi dapat dipanen saat 95% malai menguning. Ketepatan waktu panen sangat mempengaruhi kualitas bulir padi maupun kualitas beras. Panen terlalu cepat menyebabkan prosentase butir hijau tinggi, berakibat sebagian biji tidak terisi atau rusak saat digiling. Sedangkan pemanenan terlambat menyebabkan hasil berkurang karena butir mudah lepas dari malai serta beras pecah saat digiling.
Perontokan padi dilakukan segera setelah tanaman padi dipotong menggunakan sabit, agar kualitas gabah maupun beras giling tinggi. Perontokan lebih dari 2 hari menyebabkan kerusakan beras. Selain itu beras menjadi kurang bersih.

ARTIKEL POPULER