Erythricium salmonicolor (Cendawan Upas)

Erythricium salmonicolor atau lebih dikenal dengan istilah cendawan upas (jamur upas) sering menyerang tanaman-tanaman keras, seperti karet, mimosa hias, albasia, dll. Tingkat kerusakan yang ditimbulkan serangan cendawan ini tergolong sedang hingga berat. Pada serangan berat, bisa mengakibatkan tanaman mati. Selain dikenal dengan istilah cendawan upas, Erythricium salmonicolor juga dikenal dengan sebutan pink fungus desease. Hampir semua jenis tanaman berkayu dapat terserang oleh cendawan ini, termasuk kopi dan kakao. Bagian tanaman yang biasa terserang adalah batang, cabang, dan ranting. Cendawan ini mampu bertahan hidup dan berkembang pada daerah tropis hingga subtropis. Biasanya Erythricium salmonicolor menyerang tanaman pada kondisi lembab, dan kurang sinar matahari.

Klasifikasi Erythricium salmonicolor

Kingdom: Fungi
Phylum: Basidiomycota
Class: Basidiomycetes
Subclass: Agaricomycetidae
Order: Corticiales
Family: Corticiaceae
Genus: Erythricium
Species: Erythricium salmonicolor
Erythricium salmonicolor (Cendawan Upas)

Gejala Serangan

Gejala serangan Cendawan upas ditandai dengan munculnya bercak putih, terutama pada bagian batang yang lembab dan tidak terkena serangan matahari. Pada serangan awal, cendawan ini mengeluarkan miselium yang menyerupai benang-benang halus berwarna putih seperti sarang laba-laba. Lama-kelamaan miselium akan menyebar dan tumbuh menjadi kerak berwarna merah muda. Pada stadium ini, cendawan juga memproduksi spora tidak sempurna, dan permukaan kayu yang tertutup akan membusuk. Pada tanaman karet, lateks akan keluar menetes pada daerah yang terinfeksi, namun pada bagian kering akan memunculkan tunas-tunas baru. Cendawan yang berwarna merah muda lama kelamaan akan memucat dan berubah menjadi keputihan. Pada stadium lanjut, batang/dahan/ranting yang terserang akan mati. Jika serangan terjadi di pangkal batang, maka seluruh tanaman akan mati.

Penyebab

Kelembaban merupakan pemicu utama serangan cendawan upas (Erythricium salmonicolor), terutama jika kelembaban melebihi 80%. Hembusan angin dan percikan air dapat berperan membawa spora cendawan, dan menular kebagian lain pada tanaman.

Mengatasi Serangan Cendawan Upas

Secara teknis dapat mengurangi resiko serangan dengan menjaga kelembaban di sekitar tanaman, terutama jika tajuk terlalu rindang, maka perlu dilakukan pemangkasan agar sinar matahari bisa masuk dan sirkulasi udara lancar. Selain itu, jarak tanam juga harus dijaga, jangan terlalu rapat. Pada tanaman perkebunan, usahakan untuk menanam varietas yang tahan terhadap cendawan upas. Bagian tanaman yang sudah terlanjur terserang dipangkas dan buang dari area pertanaman, kemudian olesi bekas pangkasan tersebut menggunakan fungisida.

Secara kimiawi dapat dilakukan dengan mengoleskan bubur bordeaux, yaitu bubur yang dibuat dari campuran tembaga sulfat dan kapur. Cara membuat bubur bordeaux cukup mudah, campurkan 1 kg tembaga sulfat dan 1,25 kg kapur, kemudian tambahkan air sebanyak 100 liter, aduk hingga rata. Oleskan bubur tersebut pada permukaan batang yang terserang. Sebaiknya batang dikerok terlebih dahulu sebelum pengolesan. Untuk tanaman karet, sebaiknya bubur bordeaux digunakan pada 6 bulan sebelum masa sadap, karena kandungan tembaga yang tinggi dapat merusak lateks. Jika sudah memasuki masa sadap, sebaiknya gunakan fungisida lain, misalnya fungisida berbahan aktif tridemorf. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.

CARA MENANAM CABE DALAM POT

Bagaimana cara menanam cabe dalam pot? Bagi anda para ibu rumah tangga yang kreatif, pertanyaan ini akan muncul di benak Anda. Bagaimana memanfaatkan lahan sempit di rumah agar lebih berdaya guna? Menanam cabe dalam pot selain bertujuan memanfaatkan lahan terbatas, secara ekonomi juga dapat menghasilkan keuntungan tinggi. Budidaya cabe secara intensif juga diperlukan ketika kita berorientasi profit, sehingga cara menanam cabe dengan benar, mulai dari penanaman cabe, pemeliharaan tanaman cabe hingga pengendalian hama dan penyakit cabe perlu dipelajari. Seperti saat kita menanam cabe di lahan, keberhasilan budidaya cabe dalam pot dipengaruhi bagaimana cara menanam cabe yang benar, selain harga jual cabe tentunya. Menanam cabe dalam pot umumnya dilakukan untuk mengoptimalkan lahan sempit, seperti di pekarangan rumah maupun green house dengan lahan terbatas. Namun, sebenarnya jika budidaya cabe dilakukan di area pertanian, menanam cabe dalam pot ini justru dapat menghasilkan keuntungan tinggi asalkan kita dapat melakukan perawatan tanaman cabe dengan benar.

Ada beberapa keuntungan yang didapatkan saat kita menanam cabe dalam pot untuk skala besar, antara lain:
1. Menanam cabe dalam pot dapat mingkatkan nilai manfaat lahan. Lahan dapat ditumpangsari dengan tanaman pendek yang berumur pendek juga, seperti buncis bayi (baby bean), caisim, bayam cabut, kangkung, kubis, bunga kol, dll.
2. Menanam cabe dalam pot dapat meningkatkan kesehatan lahan. Lahan utama diberakan hingga minimal 3 bulan jika menanam cabe dalam pot dilakukan menggunakan sistem tumpangsari, dan 5 bulan jika tidak dilakukan tumpangsari. Hal ini dapat mengembalikan tingkat kesehatan tanah.
3. Jika menanam cabe dalam pot dilakukan di bekas bedengan, kemungkinan tergenangnya pangkal akar tanaman cabe relatif kecil, karena secara otomatis posisi tanaman cabe menjadi lebih tinggi.
4. Menanam cabe dalam pot dapat mengoptimalkan produksi cabe. Media tanam cabe lebih gembur karena komposisi media tanam dapat diatur. Tanah gembur mampu meningkatkan perkembangan akar tanaman cabe, sehingga penyerapan unsur hara menjadi lebih baik yang berakibat pada peningkatan hasil produksi cabe.

Bagi para petani cabe dengan modal kecil, pot yang dipakai untuk menanam cabe dapat menggunakan polybag, tas plastik (kresek=jawa) ukuran besar, maupun karung (bagor). Bagi yang memilih menanam cabe menggunakan tas kresek, usahakan menanam cabe menggunakan kresek warna hitam, atau minimal doreng hitam putih. Menanam cabe menggunakan media warna hitam bertujuan untuk menekan pertumbuhan gulma (gulma tidak mendapatkan sinar matahari).

TEKNIK DAN CARA MENANAM CABE DALAM POT

Pemahaman tentang iklim ideal untuk tanaman cabe, cara memilih bibit cabe unggul, persiapan media semai, perlakuan benih tanaman cabe, serta cara pengendalian hama dan penyakit tanaman cabe tidak akan kami bahas disini. Anda bisa melihat pada artikel kami lainnya yang membahas secara khusus malasah tersebut. Sebagai tambahan referensi, bisa juga dibaca artikel tentang budidaya cabe.



Syarat tumbuh tanaman cabe dalam pot sama seperti cara menanam cabe di lahan. Tanaman cabe membutuhkan tanah gembur supaya dapat berproduksi dengan baik, dengan kisaran pH 6,5-6,8.

Persiapan Media Tanam Cabe dalam Pot

Cara menanam cabe dalam pot atau polybag secara sederhana dapat dimulai dengan mempersiapkan media tanam, adalah sebagai berikut:
  • Pengadaan tempat media tanam cabe, bisa berupa pot, tas plastik warna hitam, maupun polybag.
  • Pengadaan pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik bisa berupa pupuk kandang, humus, maupun pupuk kompos. Sedangkan pupuk anorganiknya menggunakan pupuk NPK.
  • Pengadaan kapur pertanian untuk tanah masam. Cara mudah untuk mengetahui apakah jenis tanah yang dipakai terlalu masam atau tidak adalah dengan cara mengamati pertumbuhan alang-alang di areal lahan yang akan diambil tanahnya. Salah satu ciri tanah masam yaitu banyak ditumbuhi rumput alang-alang.
  • Cara pencampuran media tanah dan pupuk kandang untuk menanam cabe dalam pot perlu diperhatikan, terutama komposisinya. Perbandingan tanah dan pupuk kandang ideal 2:1 (Tetapi bisa juga 1:1 bagi petani peternak yang banyak memiliki pupuk kandang, atau mudah mendapatkan pupuk kandang dengan harga murah). Tambahkan kapur pertanian dan pupuk NPK sebanyak 100g. Aduk-aduk biar rata, lalu masukkan ke dalam pot.
  • Untuk menanam cabe dalam pot skala luas, letakkan pot dengan jarak 60x60 cm di atas tanah atau bedengan bekas budidaya tomat, budidaya terong, atau budidaya tanaman lainnya yang menggunakan bedengan. Jika menginginkan menanam cabe dengan sistem tumpangsari, pada lahan dapat ditanami tanaman pendek (sebaiknya berumur pendek juga). Kalau lahan yang digunakan untuk menanam cabe dalam pot adalah bekas budidaya tanaman hortikultura, tanaman penyela bisa langsung ditanam di lahan, tetapi jika pada lahan baru, sebaiknya dilakukan olah tanah dan pemupukan dasar sesuai jenis komoditas yang akan ditanam.
  • Buat lubang tanam seperti pada cara menanam cabe di lahan.

Cara Mempersiapkan Bibit dan Menanam Cabe dalam Pot

  • Sebelumnya buat rumah pembibitan, bisa menggunakan sungkup plastik untuk menghemat biaya.
  • Cara pembuatan media semai untuk tanaman cabe komposisinya sama seperti budidaya tanaman hotikultura, terutama yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Komposisi media semai cabe terbuat dari campuran 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g pupuk NPK yang sudah dihaluskan.
  • Penyemaian benih cabe. Cara menanam benih cabe ke dalam plastik semai agar efisien cukup menggunakan tangan kering, usahakan media untuk menanam benih cabe dalam keadaan lembab saja, jangan terlalu basah. Masukkan benih cabe satu per satu lalu tutup lagi menggunakan tanah tipis-tipis.
  • Pemeliharaan bibit cabe. Cara memelihara bibit cabe juga sama untuk bibit lainnya. Sungkup dibuka pukul 07.00-09.00, dan 15.00-17.00. Penguatan tanaman penting untuk diperhatikan agar bibit cabe lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru setelah pindah tanam, cara penguatan tanaman cabe dengan membiarkan bibit cabe terkena sinar matahari penuh selama 5 hari menjelang waktu menanam. Tetapi saat malam hari, sungkup harus ditutup lagi agar terhindar dari serangan hama dan penyakit cabe, terutama hama ulat. Siram bibit cabe setiap pagi hingga basah agar saat sore hari bibit cabe tidak kekurangan air. Namun, jika terik matahari terlalu panas, sore hari bisa disiram lagi, tetapi jangan terlalu basah. Cara ini penting diperhatikan untuk mengurangi tingkat kelembaban di malam hari. Penyemprotan pestisida pada bibit cabe dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai) dengan dosis cukup ½ dari dosis dewasa.
  • Pindah tanam. Bibit cabe yang telah memiliki 4 helai daun sejati siap dipindah tanam ke dalam pot atau polybag. Cara menanam bibit cabe sama seperti menanam cabe di lahan.
  • Setelah bibit cabe dipindah tanam ke dalam pot, segera lakukan pemasangan ajir. Cara memasang ajir sedini mungkin bertujuan untuk menghindari kerusakan akar cabe, sehingga diharapkan tidak ada luka akar yang dapat menyebabkan infeksi sekunder (terhindar dari penyakit akar).

Cara Memelihara Tanaman Cabe dalam Pot

Cara memelihara tanaman cabe dalam pot sebetulnya sama seperti cara menanam cabe di lahan, kecuali sanitasi lahan. Secara garis besarnya sebagai berikut:

Cara Menyulam Tanaman Cabe

Seperti pada cara menanam cabe di lahan, penyulaman dilakukan sampai umur tanaman cabe 3 minggu. Jika tanaman cabe mati karena penyakit akar, seperti misalnya rebah semai, usahakan tanah di sekitar lubang tempat menanam cabe dibuang secukupnya.

Cara Merempel dan Mengikat Tanaman Cabe

Cara melakukan perempelan dilakukan pada daun cabe tua dan tunas samping. Cara merempel daun cabe dan tunas samping sama seperti cara menanam cabe di lahan. Perempelan daun cabe tua dan terserang hama penyakit ini dilakukan ketika tanaman cabe memasuki umur 80 hst (hari setelah tanam).

Sanitasi Lahan

Cara melakukan sanitasi lahan untuk budidaya cabe dalam pot lebih mudah dilakukan, yaitu dengan cara mencabut gulma yang tumbuh di dalam pot. Untuk budidaya cabe sistem tumpangsari, cara membersihkan gulma tanaman penyelang sesuai dengan cara pemeliharaan untuk tanaman yang ditumpangsarikan.

Cara Mengairi Tanaman Cabe

Cara mengairi tanaman cabe dalam pot tidak sama seperti saat menanam cabe di lahan. Pengairan tanaman cabe ini dengan cara menyiram tanaman setiap 2-3 hari sekali saat tidak turun hujan. Pada budidaya cabe skala luas, cara mengairi tanaman cabe bisa dilakukan pengeleban untuk memudahkan mendapatkan air. Saat pengeleban tersebut, air dapat disiramkan ke dalam pot. Hindari pengeleban dan penyiraman tanaman cabe pada waktu siang hari untuk menghindari penguapan tinggi.

Cara Melakukan Pemupukan Susulan

Pupuk Akar diberikan dengan cara pengocoran setiap 5 hari sekali, mulai tanaman cabe berumur 5 hst sampai 105 hst. Saat umur tanaman cabe 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 hst dikocor menggunakan pupuk NPK dengan dosis 1kg NPK 15-15-15 yang dilarutkan ke dalam 200 lt air. Larutan ini untuk 1000 tanaman, masing-masing tanaman cabe mendapatkan kocoran sebanyak 200 ml. Saat tanaman cabe berumur 35 hingga 60 hst (interval 5 hari) dikocor menggunakan pupuk NPK dengan dosis 2kg NPK 15-15-15 yang dilarutkan ke dalam 200 lt air. cara ini untuk 1000 tanaman, masing-masing tanaman cabe 200 ml. Selanjutnya, memasuki usia 65 hingga 105 hst juga dikocor menggunakan pupuk NPK, dengan cara dan interval yang sama larutkan 3kg NPK 15-15-15 ke dalam 200 lt air.
Selain pupuk akar, untuk mempercepat pertumbuhan dan pembuahan tanaman cabe, perlu juga diaplikasikan pupuk daun. Cara aplikasi pupuk daun ini melalui penyemprotan, bisa bersamaan pada waktu melakukan penyemprotan pestisida. Tanaman cabe dalam pot membutuhkan nitrogen tinggi untuk pertumbuhan saat tanaman cabe berumur 14 dan 21 hst. Sedangkan saat pembuahan, tanaman cabe membutuhkan pupuk kandungan phospat, kalium dan pupuk mikro tinggi. Cara aplikasinya juga bisa bersamaan saat penyemprotan pestisida, diberikan ketika tanaman cabe berumur 35 dan 75 hst.

CARA MENGENDALIKAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN CABE DALAM POT

Cara pengendalian hama dan penyakit tanaman cabe dalam pot bisa mengadopsi cara pengendalian hama dan penyakit tanaman cabe pada budidaya cabe di lahan.

PANEN CABE DALAM POT

Cara memanen Cabe di pot sama seperti menanam cabe di lahan, buah cabe dipanen saat umur tanaman cabe antara 90-110 hst. Buah cabe yang dipanen adalah buah cabe 80% masak.

HAMA ULAT TANAH (Agrotis sp.) DAN CARA PENGENDALIANNYA

Hama Ulat Tanah (Agrotis sp.) merupakan salah satu jenis hama ulat perusak tanaman yang banyak dikeluhkan para petani, terutama petani hortikultura. Hama ulat tanah seringkali menyerang batang tanaman muda, baik di persemaian maupun setelah pindah tanam. Ulat tanah (Agrotis sp.) bersembunyi di dalam tanah, pada bongkahan tanah, dan terkadang juga dijumpai di balik mulsa PHP (plastik hitam perak) pada budidaya tanaman secara intensif, sehingga ulat tanah dengan mudah merusak akar dan pangkal batang tanaman. Tanaman yang terserang ulat tanah keesokan harinya akan rebah, terkadang hanya tersisa batang bawahnya saja. Seperti halnya jenis hama ulat lainnya, hama ulat tanah menyerang tanaman pada malam hari. Ulat tanah (Agrotis sp.) menyerang tanaman budidaya dengan cara memotong batang, sehingga hama ulat tanah juga dikenal dengan nama ulat pemotong (cut worm). Selain menyerang batang muda, ulat tanah juga menyerang bagian tanaman lain, seperti bagian akar, dan daun tanaman.
Hama ulat tanah banyak dijumpai pada tanaman budidaya, seperti saat kita sedang budidaya cabe, budidaya kentang, budidaya terong, budidaya bawang putih, budidaya bawang merah, budidaya tomat, budidaya melon, budidaya jagung, dan budidaya tanaman hortikultura lainnya. Tingkat serangan hama ulat tanah (Agrotis sp.) tergolong tinggi, bahkan jika hal ini tidak diantisipasi, kemungkinan serangan ulat tanah bisa mencapai 50% dari total tanaman budidaya. Alhasil, pertumbuhan tanaman tidak seragam karena banyak tanaman sulaman. Apalagi jika tanaman lebih dari 2 minggu masih disulam, dapat meningkatkan tingkat kesulitan pengendalian hama dan penyakit tanaman. Untuk ini, pengetahuan tentang hama ulat tanah (Agrotis sp.) maupun cara pengendalian yang tepat guna perlu diketahui oleh seorang petani, terutama petani hortikultura. Hal ini bertujuan untuk mengurangi resiko kegagalan produksi, diharapkan produksi yang dihasilkan tinggi sesuai tingkat produktifitas masing-masing komoditas pertanian.

Klasifikasi Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Family : Noctuidae
Genus : Agrotis
Organisme pengganggu tanaman dari spesies Agrotis sp. adalah Agrotis ipsilon, Agrotis segetum dan Agrotis interjectionis.

Siklus Hidup Ulat Tanah (Agrotis sp.)




Siklus hidup ulat tanah sama dengan jenis hama ulat lainnya. Dalam satu generasi, diselesaikan dalam waktu antara 28-42 hari. Ngengat dewasa meletakkan telurnya di permukaan daun tanaman, tangkai daun, maupun tangkai batang. Kemudian telur menetas dan berubah menjadi larva. Saat malam hari, larva memakan tanaman muda untuk melangsungkan hidupnya, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah, dibalik mulsa, maupun pada bongkahan tanah. Selanjutnya ulat besar akan berubah menjadi kepompong, dan keluar menjadi ngengat dewasa yang akan segera bertelur lagi, demikian seterusnya.

Gejala Serangan Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Gejala serangan hama ulat tanah ditandai dengan terpotongnya batang tanaman, terutama tanaman muda di persemaian. Tanaman yang baru saja pindah tanam terpotong hingga putus dan menyisakan pangkal batangnya saja.

Pengendalian Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Seperti halnya jenis hama ulat bulu, ulat grayak, ulat kubis dan jenis hama ulat lainnya, hama ulat tanah Agrotis sp. dapat dikendalikan dengan beberapa cara juga, yaitu bisa secara teknis, mekanis maupun kimiawi.

Pengendalian Secara Teknis

Pengendalian secara teknis untuk ulat tanah dapat dengan penggenangan lahan selama sehari penuh. Hal ini bertujuan untuk membunuh hama ulat tanah maupun pupa yang masih bersembunyi di dalam tanah. Penggunaan mulsa PHP juga dianjurkan, terutama untuk budidaya intensif karena mulsa plastik ini mampu meningkatkan suhu di dalam tanah sehingga ulat tanah maupun pupa yang tersisa di dalam tanah akan musnah.

Pengendalian Secara Mekanis

Pengendalian mekanis untuk ulat tanah dilakukan dengan cara memusnahkan seluruh tanaman terserang dengan mencabut sampai ke bagian akarnya, sehingga telur-telur yang masih menempel segera dimusnahkan.

Pengendalian Secara Kimiawi

Pembuatan lubang tanam pada tanah dilakukan 1 minggu sebelum tanam, kemudian masukkan 1 sendok makan pestisida berbahan aktif karbofuran ke dalam lubang tanam. Setelah itu, ditutup dengan tanah tipis-tipis. Aplikasi pestisida ini dapat dilakukan bersamaan dengan pemupukan dasar maupun aplikasi lainnya pada lubang tanam.
Jika setelah tanaman tumbuh dan serangan ulat tanah belum melebihi ambang batas pengendalian, maka diupayakan untuk melakukan pengendalian mekanis. Hal ini bertujuan mengurangi tingkat resistensi hama ulat tanah terhadap jenis bahan aktif pestisida. Namun jika serangan cukup tinggi, bisa dilakukan penyemprotan menggunakan bahan aktif pestisida, seperti klorpirifos, sipermetrin, lamda sihalotrin, deltametrin, profenofos, tiodikarb, klorantraniliprol, amamektin benzoat, metomil, betasiflutrin, kartophidroklorida, atau dimehipo sesuai petunjuk pada kemasan.
Pilih beberapa bahan aktif tersebut untuk penyelingan saat penyemprotan. Yang perlu diperhatikan saat mengendalikan ulat tanah adalah jangan menggunakan hanya 1 bahan aktif saja, minimal 2 bahan aktif, namun lebih banyak lebih baik. Gunakan dosis terendah seperti yang tertera di kemasannya terlebih dahulu, baru ditingkatkan jika tidak ada perubahan signifikan. Hal ini bertujuan mengurangi resistensi hama ulat tanah (Agrotis sp.) terhadap jenis bahan aktif tertentu.

Penyebaran Dan Habitan Ikan Nila

Penyebaran Dan Habitan Ikan Nila - Ikan Nila berasal dari daerah Afrika bagian timur, terutama di Sungai Nil dan perairan yang terhubung dengan sungai tersebut, seperti Danau Tanganyika. Oleh karena itulah ikan nila memiliki nama latin sesuai dengan nama asal habitatnya, Orechromis Niloticus. Ikan tersebut kemudian mulai menyebar ke daerah Timur Tengah, Amerika, Eropa dan negara-negara Asia, setelah dibawa oleh bangsa Eropa. Saat ini, ikan nila telah dibudidayakan di semua propinsi di Indonesia.

Habitat atau lingkungan tempat tumbuh dan berkembang biak ikan nila sangat bervariasi. Memang, ikan ini dikenal memiliki daya adaptasi yang sangat bagus terhadap perubahan lingkungan hidup. Oleh karena itu, ikan nila dapat dibudidayakan di berbagai tempat dengan kondisi perairan yang bervariasi, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Kondisi perairan yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk pemeliharaan ikan nila adalah air tawar, air payau, bahkan masih mampu bertahan hidup di air asin, dengan nilai pH air berkisar antara 6-8,5. Kadar garam yang ideal untuk pertumbuhannya antara 0-35 permil. Ikan nila air tawar dapat dipindahkan ke air asin dengan adaptasi yang bertahap, dengan kadar garam yang ditingkatkan sedikit demi sedikit. Jika pemindahan dilakukan secara mendadak, dari air tawar ke air asin dengan kadar garam tinggi, dapat mengakibatkan stress, bahkan berpotensi menimbulkan kematian dalam jumlah besar.

Ikan nilai kecil relatif lebih mudah beradaptasi dibanding dengan ikan nila dewasa, oleh sebab itu, pemindahan ikan nila ke habitat lain sebaiknya dilakukan saat masih anakan. Ikan ini juga mampu bertahan hidup baik di perairan dangkal maupun dalam. Oleh sebab itu, ikan ini juga sering dibudidayakan di waduk-waduk yang memiliki perairan relatif dalam, dengan sistem budidaya Karamba Jaring Apung. Bahkan akhir-akhir ini, budidaya ikan nila sudah dilakukan dengan sistem Karamba Jaring Apung di laut.

Suhu optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya antara 25-30 derajat Celcius, sehingga budidaya ikan nila akan lebih efisien jika dilakukan di dataran rendah hingga menengah. Untuk mengetahui bagaimana cara budidaya ikan nila yang efektif, silahkan baca pada artikel Budidaya Ikan Nila.

Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila

Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila – Ikan Nila memiliki nama ilmiah Oreochromis niloticus, merupakan ikan yang berasal dari Afrika bagian timur, seperti Sungai Nil, Danau Tanganyika, Nigeria, dan Kenya. Ikan Nila mulai menyebar ke berbagai negara, seperti Amerika, negara-negara Timur Tengah, dan Asia, setelah disebarkan oleh orang-orang Eropa. Ikan ini memiliki sifat unik setelah memijah, induk betina akan mengerami telur-telur yang telah dibuahi dalam rongga mulutnya. Perilaku semacam itu dikenal dengan sebutan mouth breeder.

Klasifikasi terbaru ikan nila yang masuk dalam genus Oreochromis dipelopori oleh seorang ilmuwan bernama Dr. Trewavas, pada tahun 1982. Sebelumnya, ikan nila masuk dalam genus Tilapia, namun, pada tahun 1980, Dr. Trewavas mencetuskan ide untuk membagi genus Tilapia menjadi tiga kelompok, yaitu genus Oreochromis, Sarotherodon, dan Tilapia.

Ikan nila tergolong jenis ikan yang cukup digemari baik untuk dibudidayakan maupun dikonsumsi. Potensi pertumbuhannya yang cepat, bersifat omnivora, dan mudah berkembang biak membuat ikan ini menjadi salah satu primadona para pembudidaya ikan. Kecepatan pertumbuhan dan bersifat omnivora membuat ikan nila lebih efisien dalam penggunaan pakan, sehingga lebih menguntungkan untuk dibudidayakan.

Ikan nila memiliki ciri khas sendiri, berupa garis vertikal di bagian ekor sebanyak enam hingga delapan buah. Garis-gari vertikal ini juga terdapat di sirip dubur dan sirip punggung, dan garis inilah yang membedakan antara ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan ikan mujahir (Oreochromis mossambicus).

Klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) berdasarkan rumusan Dr. Trewavas.

Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Keunggulan ikan nila dalam pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan membuat ikan ini lebih disukai untuk dibudidayakan di berbagai negara. Para ilmuwan berusaha untuk memuliakan ikan nila ini dengan teknologi hibridasi agar menghasilkan bibit yang lebih unggul dibanding jenis aslinya. Taiwan dan Philipina merupakan dua negara yang cukup intensif dalam memuliakan ikan nila. Tak mengherankan jika bibit-bibit unggul yang didatangkan ke Indonesia berasal dari dua negara tersebut. Saat ini, kegiatan Budidaya Ikan Nila telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, baik skala rumah tangga maupun bisnis.

Hama Ulat Bulu Lymantriidae dan Cara Pengendaliannya

Hama Ulat Bulu Lymantriidae merupakan salah satu jenis hama perusak tanaman yang akhir-akhir ini menjadi masalah besar di dunia pertanian, terutama dari jenis tanaman keras. Hama Lymantriidae disebut dengan ulat bulu karena seluruh tubuh jenis ulat ini ditutupi oleh bulu-bulu. Bulu dari famili ulat Lymantriidae merupakan senjata untuk bertahan dari serangan predator. Jika bulu tersentuh kulit akan timbul rasa panas yang sangat menyengat, dan seringkali mengakibatkan bentol-bentol pada kulit, terutama kulit manusia. Ulat dari famili Lymantriidae bersifat polifag, yaitu memiliki banyak inang (ulat dapat berkembangbiak dengan baik pada semua jenis tanaman).

Tingkat serangan hama ulat bulu sangat tinggi, bahkan jika populasi pada tanaman terserang tinggi, tanaman seperti meranggas tidak memiliki satu helai daunpun, hanya tersisa tulang daun dan ranting saja. Bahkan dalam waktu singkat, hanya semalam saja, serangan ulat mampu menghabisi seluruh daun tanaman. Apabila jumlah daun tidak mencukupi kebutuhan ulat, ulat bulu akan turun dari pohon untuk mencari makanan. Jika lokasi tanaman terserang dekat dengan pemukiman, atau mungkin di depan rumah kita, maka ulat bisa masuk ke dalam rumah dengan jumlah yang tidak sedikit.

Serangan parah biasanya terjadi saat musim kemarau tiba. Pada musim ini, ngengat terangsang berkembangbiak dengan tingkat populasi sangat tinggi, sehingga serangan ulat bulu seringkali melampaui ambang ekonomi. Meskipun bersifat polifag, hama ulat ini jarang ditemukan pada tanaman berbatang lunak maupun rerumputan. Ulat bulu lebih banyak menyerang pepohonan dan tanaman menyemak berkayu.

Klasifikasi Ulat Bulu Lymantriidae

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Superfamily : Noctuidae
Family : Lymantriidae
Lymantriidae memiliki banyak spesies, bahkan mencapai 2500 spesies. Namun organismepengganggu yang banyak dijumpai adalah Orgyia postica, Dasychira inclusa, D. mendosa, D. pennatula, Psalis pennatula, Laelia suffusa, Euproctis virguncula, dll.

Siklus Hidup Ulat Bulu Lymantriidae




Ngengat dewasa mampu bertelur antara 50-200 butir. Telur-telur ini diletakkan di permukaan daun tanaman, tangkai daun, maupun pada retakan kulit batang. Setelah menetas, telur berubah menjadi larva dan segera mencari tempat untuk melangsungkan hidup. Larva ulat bulu berganti kulit antara 3-4 kali dan semakin membesar. Kemudian ulat besar berubah menjadi kepompong, selanjutnya dari kepompong keluar ngengat dewasa yang hanya dalam waktu beberapa hari akan segera bertelur.

Gejala Serangan Ulat Bulu Lymantriidae

Ulat menyerang daun tanaman dengan meninggalkan tanda bergerigi pada tepi daun akibat gigitan ulat. Namun, jika serangan tinggi daun tanaman dimakan sampai tidak tersisa sedikitpun, tinggal tulangnya saja.

Pengendalian Ulat Bulu Lymantriidae

Ulat Bulu Lymantriidae dapat dikendalikan dengan beberapa cara tergantung dari tingkat serangan terhadap tanaman. Pengendalian dapat dilakukan secara teknis, mekanis maupun kimiawi. Pengendalian teknis terutama bertujuan untuk mencegah atau mengurangi serangan tinggi. Sedangkan jika populasi ulat bulu sangat tinggi dengan serangan telah melebihi ambang ekonomi, maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida untuk mengurangi resiko kegagalan produksi.

1. Pengendalian Secara Teknis

Seperti halnya saat mengendalian hama ulat lain, pengendalian ulat bulu untuk tanaman budidaya dilakukan dengan melakukan teknis budidaya yang benar, diantaranya menjaga sanitasi kebun, melakukan penggiliran tanaman, maupun dengan pengolahan tanah (pencangkulan dan penggaruan).

2. Pengendalian Secara Mekanis

Secara manual, dilakukan penangkapan terhadap ulat, telur, maupun kepompong, lalu dimusnahkan. Cara ini lebih efektif dilakukan pada malam hari dengan menempatkan perangkap lampu di area penanaman untuk menjebak ngengat.

3. Pengendalian Secara Kimiawi

Pengendalian ulat bulu secara kimiawi harus dilakukan secara tepat. Penggunaan pestisida yang melebihi dosis penggunaan justru dapat meningkatkan resistensi atau tingkat kekebalan ulat terhadap suatu jenis bahan aktif tertentu. Oleh sebab itulah, setiap kali melakukan penyemprotan pestisida harus dilakukan penggiliran bahan aktif. Tujuan dari penggantian bahan aktif pestisida ini adalah agar tingkat resistensi ulat bulu terhadap bahan aktif tertentu dapat diputus.
Gunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, klorantraniliprol, profenofos, klorpirifos, tiodikarb, amamektin benzoat, metomil, kartophidroklorida, betasiflutrin, atau dimehipo sesuai petunjuk pada kemasan. Pilih beberapa bahan aktif tersebut untuk penyelingan saat penyemprotan. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.

Mengenal Ikan Nila

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sebenarnya bukanlah ikan asli Indonesia. Ikan ini merupakan hasi introduksi dari luar negeri. Ikan Nila secara resmi dikembangkan di Indonesia pada tahun 1969 oleh Balai Penelitian Perikanan Ari Tawar. Setelah melalui proses adaptasi dan pengembangan, barulah ikan nila di sebarkan ke masyarakat.

Nama ikan nila merupakan nama khas Indonesia yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan. Nama ini diambil dari nama latinnya (Oreochromis niloticus), yang memang merupakan habitat asli ikan nila, yaitu di Sungai Nil dan perairan yang berhubungan dengan sungai itu.

Dalam perkembangannya, ikan nila menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari masyarakat, karena memang tekstur dagingnya tebal seperti daging ikan kakap merah, dan cita rasanya yang lezat. Selain itu, struktur tulang ikan nila juga tidak serumit ikan-ikan lain, sehingga lebih mudah dimakan. Saat ini, ikan nila telah tersebar di seluruh benua, terutama di negara-negara yang beriklim tropis maupun subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan ini sulit untuk beradaptasi.

Pemerintah Indonesia telah beberapa kali mendatangkan bibit ikan nila dari berbagai negara. Pertama kali mendatangkan, pemerintah mengambil bibit dari Taiwan. Ikan nila dari Taiwan ini berwarna hitam, dengan garis-garis vertikal di bagian ekornya yang berjumlah antara 6-8 garis. Pada perkembangan selanjutnya, pemerintah mendatangkan bibit ikan nila berwarna merah dari Philipina. Hingga saat ini, bibit ikan nila yang memiliki galur murni masih didatangkan dari luar negeri, karena memang sistem pembibitan di Indonesia masih kurang efektif dalam menjaga kemurnian galur. Upaya pengadaan bibit dari luar negeri bertujuan untuk menjaga persediaan dan kualitas induk, agar keunggulan genetiknya tidak menurun setelah bercampur dengan varietas lain.

Daya adaptasinya yang sangat tinggi, membuat ikan nila banyak dibudidayakan di berbagai daerah. Memang, ikan nila mampu hidup di air tawar, payau, bahkan air laut. Ikan ini juga tahan terhadap perubahan lingkungan, bersifat omnivora, sehingga mampu mencerna berbagai jenis makanan secara efisien. Keunggulan lain ikan nila adalah ketahanan terhadap penyakit yang cukup tinggi.

Daging pada bagian tubuh ikan nila sangat tebal, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai fillet atau sayatan daging tanpa tulang. Daging ikan dalam bentuk fillet ini sangat disukai di luar negeri, dan biasanya dimasak dengan berbagai bumbu atau saus, dan dijadikan isi sandwhich.

Para pakar pembudidaya ikan dari FAO menganjurkan kapada penduduk berpenghasilan rendah untuk membudidayakan ikan nila, sehingga dapat memperbaiki gizi keluarga. Memang, anjuran tersebut sangat beralasan, mengingat ikan ini mudah dibudidayakan, cepat berkembang biak, dan dapat dibudidayakan di kolam sempit bahkan comberan. Untuk mengetahui cara membudidayakan ikan nila, lihat pada artikel Budidaya Ikan Nila.

Saat ini, ikan nila yang dibudidayakan di Indonesia terdiri dari berbagai varietas, baik nila hitam, merah, maupun putih. Pembudidayaan ikan nila di Indonesia dilakukan di berbagai daerah dengan kondisi lingkungan berbeda-beda, baik di kolam pekarangan, dengan sistem karamba di sungai-sungai, kolam air deras, dan sistem karamba jaring apung, seperti di waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, Gajahmungkur, Kedungombo, dan Wadaslintang.

Daftar Pestisida Terlarang

Daftar Pestisida Terlarang - Rusaknya ekosistem memang berdampak sangat signifikan bagi sektor pertanian, terutama subsektor budidaya tanaman, baik tanaman pangan, perkebunan, maupun hortikultura. Salah satu dampak yang ditimbulkan akibat kerusakan ekosistem adalah serangan hama penyakit pada tanaman yang semakin tidak terkendali dari waktu ke waktu. Tak mengherankan, jika petani berupaya untuk menyelamatkan kegiatan produksinya dengan menggunakan bahan-bahan kimia untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, atau sering disebut dengan Pestisida. Memang, penggunaan pestisida semakin meningkat, terutama sejak revolusi hijau, terlebih lagi akhir-akhir ini, petani hampir selalu menggantungkan keberhasilan budidaya pada penggunaan pestisida.

Namun, penggunaan pestisida yang berlebihan dan tidak terkontrol tentu berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, sebagai petani, sebaiknya kita harus mengetahui prinsip-prinsip penggunaan pestisida. Baca PETUNJUK APLIKASI PESTISIDA dan EFEKTIFITAS PEMAKAIAN PESTISIDA. Selain memahami bagaimana cara penggunaan pestisida yang tepat, kita juga harus menghindari penggunaan pestisida yang dilarang, terlalu berbahaya untuk lingkungan, dan berdampak besar terhadap kelangsungan ekosistem.

Daftar Pestisida Terlarang

Pestisida merupakan bahan aktif yang beracun dan berbahaya, baik terhadap lingkungan maupun mahluk hidup, tak terkecuali manusia. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan negara-negera industri lainnya, telah menetapkan larangan untuk penggunaan pestisida tertentu karena terlalu berbahaya, terutama bagi manusia. Beberapa jenis pestisida tersebut diantaranya adalah:
  • Aldrin, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, kerusakan atau cacat pada janin, dan kelainan.
  • BHC, dampak penggunaan pestisida BHC terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • Chlordane, dampak penggunaan pestisida terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • DBCP, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, dan kemandulan pada pria.
  • DDT, bahaya pestisida DDT terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, dan kelainan syarat.
  • Heptachlor, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • Kepone, dampak penggunaan pestisida Kepone terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, dan kelainan syaraf.
  • Parathion, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain cacat vetus, dan kelainan syaraf.
  • Paraquet, dampak penggunaan pestisida terhadap kesehatan antara lain cacat vetus, dan kelainan pernapasan.
  • Nitrofen, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • Toxaphene, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • 2.5.5 T, dampak penggunaan pestisida terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, dan kelainan bawaan.
Oleh karena itu, sebagai petani atau pembudidaya tanaman, sebaiknya kita harus tetap bijak dalam penggunaan pestisida. Pegang prinsip-prinsip aplikasi pestisida, dan hindari penggunaan pestisida yang dilarang atau terlalu berbahaya, baik terhadap lingkungan maupun manusia.

SEGUDANG MANFAAT MINYAK ZAITUN UNTUK TUBUH

Segudang Manfaat Minyak Zaitun untuk Tubuh – Zaitun (Olea europaea), si pohon hijau abadi ternyata memiliki segudang manfaat bagi tubuh. Selama ini, zaitun lebih banyak dimanfaatkan dalam bentuk olahan minyak, meskipun sebetulnya buah zaitun dapat dikonsumsi dalam bentuk buah segar. Pada artikel kali ini, kami hanya akan mengulas manfaat dari ekstrak zaitun yang lebih dikenal dengan nama minyak zaitun.

Jenis buah zaitun ada beberapa macam, namun secara umum semua jenis zaitun memiliki khasiat dan manfaat yang besar untuk rambut (terutama menghambat pertumbuhan uban dan kerontokan) maupun menjaga kecantikan, seperti menghaluskan kulit. Minyak zaitun memiliki sifat yang dingin sekaligus lembab, sehingga minyak ini dikenal memiliki manfaat untuk menjaga kelembaban wajah, terutama minyak yang diekstrak dari buah zaitun masak. Minyak zaitun yang dihasilkan dari buah zaitun mentah memiliki sifat dingin dan cenderung kering, sehingga untuk kualitas minyak terbaik adalah minyak yang dihasilkan dari buah matang. Selain berkualitas lebih baik, minyak dari buah zaitun matang juga lebih stabil, apalagi yang diekstrak dari zaitun hitam. Sedangkan minyak zaitun dari buah zaitun merah hanya berkualitas sedang.

Minyak zaitun juga mengandung serat, dalam setiap 100 gram minyak mengandung serat sebanyak 1,7 gram. Selain serat, minyak ini juga kaya akan asam lemak essensial, berbagai macam vitamin, kalsium, dll yang memiliki manfaat besar untuk menjaga kesehatan tubuh, seperti meredakan rasa nyeri, mengobati penyakit kanker, jantung, diabetes, osteoporosis (keropos tulang), dll. Selain itu, minyak zaitun juga diyakini memiliki manfaat penting untuk membantu penderita hiv dalam melawan suatu penyakit.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Penyakit Kanker

Manfaat ekstrak zaitun dalam hal ini ternyata banyak sekali, selain dapat megurangi serangan akibat kanker, minyak zaitun juga dapat mencegah timbulnya kanker dalam tubuh. Komsumsi minyak zaitun mampu mencegah berbagai penyakit kanker, seperti kanker rahim, kanker colon, kanker payudra, dll.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kanker Rahim



Sebuah studi mengulas manfaat minyak zaitun dalam mencegah kanker rahim, studi ini dilakukan terhadap 145 wanita Yunani yang terserang penyakit kanker rahim. Peneliti mengkorelasikan antara wanita yang rutin mengkonsumsi minyak zaitun dengan mereka yang terserang kanker rahim. Hasilnya, serangan kanker rahim lebih banyak menyerang wanita yang tidak mengkonsumsi minyak zaitun, sedangkan bagi mereka yang rutin mengkonsumsi minyak ini kemungkinan serangan kanker turun hingga 26%.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kanker Payud4ra

Selain kanker rahim, manfaat yang besar juga ditemui pada kanker payud4ra. Sebuah studi mengatakan bahwa konsumsi minyak zaitun sebanyak satu sendok makan setiap hari mampu mengurangi bahaya terjadinya kanker patudara hingga kadar 45%. Selain kanker, manfaat minyak zaitun juga dapat menjaga bentuk maupun kekencangan payud4ra pada wanita.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kanker Kulit (Melanoma)

Kanker kulit atau malanoma dapat dicegah dengan mengoleskan minyak zaitun pada kulit tubuh. Manfaat minyak ini diketahui mempu melindungi kulit tubuh saat terkena matahari. Terlebih lagi memanfaatkan minyak zaitun setelah berenang sebagai krim dan berjemur dapat melindungi kulit dari serangan kanker (melanoma).

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kanker Lambung

Manfaat zaitun selain menjegah berbagai penyakit kanker seperti telah disebutkan di atas, juga dapat mengurangi terjadinya kanker lambung. Sebuah studi modern pernah dilakukan untuk masalah ini. Konsumsi minyak zaitun secara rutin dapat membantu mencegah serangan kanker lambung.

Manfaat Minyak Zaitun Melancarkan BAB

Konsumsi minyak zaitun juga dapat membantu melancarkan buang air besar karena adanya kandungan serat dalam minyak ini.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Menjaga Kesehatan Jantung

Adanya kandungan mono unsaturated fat, terutama asam oleat dalam minyak zaitun menjadikan minyak ini mampu menjaga kesehatan pembuluh darah jantung, sehingga mampu menurunkan resiko serangan penyakit jantung koroner.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Mencegah Stroke

Studi tentang manfaat zaitun berkaitan dengan pencegahan stroke ini melibatkan warga senior Perancis. Peneliti menyatakan bahwa konsumsi rutin minyak zaitun mampu menurunkan serangan stroke hingga 41% dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mengkonsumsi minyak ini. Penelitian ini dilakukan selama lima tahun.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Mengurangi Peradangan Sendi

Manfaat zaitun juga dapat dirasakan bagi mereka yang mengkonsumsi minyak ini secara rutin. Minyak zaitun mampu melindungi tubuh kita dari serangan peradangan sendi.

Manfaat Minyak Zaitun Mampu Mengurangi Penyumbatan (Trombosit) dan Penebalan (Arteriosklerosis) Pembuluh Darah

Penelitian mengenai hal ini pernah dipublukasi oleh majalah AMJ CLIN NUTRL. Para peneliti menyimpulkan bahwa nutrisi yang kaya akan kandungan minyak zaitun menurunkan pengaruh negatif lemak dalam makanan terhadap pembekuan darah, sehingga mampu mengurangi penebalan pembuluh darah.

Manfaat Minyak Zaitun Bagi Bayi

Manfaat zaitun dalam hal ini berfungsi seperti ASI. Minyak zaitun mengandung lemak berantai tunggal seperti terdapat dalam kandungan ASI, lemak tersebut merupakan lemak terbaik untuk konsumsi manusia.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Wajah

Sifat minyak zaitun yang lembab dapat dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban kulit, terutama kulit wajah. Selain dijadikan krim, pembersih wajah maupun alas bedak, minyak zaitun juga dapat dicampur dengan masker untuk perawatan kulit wajah terutama untuk kulit wajah berminyak. Penggunaan minyak zaitun sebagai masker juga dapat mencegah penuaan dini. Tidak hanya menjaga kelembaban kulit saja, minyak zaitun juga berfungsi untuk menguatkan kuku.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Rambut

Perawatan rambut menggunakan minyak zaitun dapat dipakai terutama untuk rambut kering dan rusak. Kandungan kutikula pada minyak ini dapat menjaga kelembaban rambut dan memperbaiki rambut bercabang, sehingga rambut menjadi lebih indah, sehat dan berkilau. Manfaat minyak zaitun untuk rambut lainnya yaitu dapat digunakan untuk mencegah ketombe, mencegah rontok dan gatal-gatal pada kulit kepala. Selain itu, minyak zaitun juga dapat membunuh kutu kepala hanya dalam beberapa jam saja.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kulit Tubuh

Selain baik untuk merawat kulit wajah, minyak zaitun juga memiliki manfaat yang besar dalam membantu perawatan kulit tubuh, bagian kulit seperti siku, lutut, tumit, telapak tangan, dan bagian tubuh lainnya yang terasa kaku menjadi lebih sehat dan segar. Selain dioles, minyak ini dapat dicampur dengan air untuk mandi. Penggunaan minyak zaitun untuk mandi menjadikan seluruh tubuh terasa lebih segar.

Peran Mikroba Pengurai (Mikroba Dekomposer) Dalam Pembuatan Kompos

Mikroba pengurai atau dikenal juga dengan nama mikroba dekomposer atau mikroba selulolitik, adalah sejenis mikroba yang berperan terutama dalam proses pengomposan, terutama dalam mengurai atau memecah material organik. Dalam proses pembuatan kompos, peran mikroba dekomposer sangat penting, terutama untuk memecah dinding selulose tanaman atau bahan organik yang akan dikompos. Selolose merupakan penyusun utama dinding sel tanaman, yang tersedia dalam bentuk terikat dengan plisakarida lain, seperti hemiselulose, pektin, dan lignin.

Di dalam tanah, banyak terdapat mikroba dekomposer yang berperan dalam penguraian selulose secara alami, baik dari jenis jamur (fungi), actinomycetes, dan bakteri, baik aerob maupun anaerob. Beberapa jenis fungi yang termasuk dalam mikroba selulolitik antara lain Trichoderma sp., Penicillium sp., Aspergillus sp., Myrothecium sp., dan Alternaria sp. Sedangkan dari kelompok actinomycetes antara lain, Micromonospora, Streptomyces, Thermoacinomycetes, Thermopolyspora, dan Thermonospora. Jenis bakteri aerob yang berperan dalam penguraian selulose tanaman antara lain Bacillus sp., Cyptopharga sp., Pseudomonas sp., dan Sporocyptopharga sp. Sedangkan bakteri dekomposer dalam kelompok anaerob seperti Clostridium sp. dan Ruminococcus sp.


Dalam proses penguraian bahan-bahan organik (bahan baku kompos), mikroba selulolitik mengeluarkan enzim selulose yang berperan dalam mempercepat proses hidrolisis selulosa dan polisakarida lain. Penguraian bahan-bahan tersebut akan merombak sifat fisik materi, dan akan melepaskan beberapa unsur hara, seperti Nitrogen, Phosphat, Kalium, dan Sulfur. Unsur hara yang dihasilkan dari proses penguraian ini akan dimanfaatkan oleh mikroorganisme untuk mendukung metabolisme tubuhnya. Dengan demikian, aktivitas mikroorganisme akan meningkat, sehingga proses penguraian dan perombakan bahan-bahan organik akan berlangsung semakin cepat. Proses penguraian ini akan menghasilkan karbon, yang sebagian dilepas dalam bentuk gula sederhana, sementara sisa karbon dilepas ke udara dalam bentuk CO2. Dengan demikian, kandungan C (karbon) dalam bahan organik menjadi berkurang, dan kondisi tersebut secara otomatis akan menurunkan C/N rasio.

Dalam perombakan bahan-bahan organik, selulose yang tidak berlignin, seperti jaringan tanaman akuatik tidak berkayu, limbah pabrik kerta, atau serat kapas akan lebih cepat diurai oleh mikroba dekomposer, dibanding dengan tanaman berlignin, terutama tanaman berkayu. Hal ini disebabkan pada tanaman berkayu, selulose dan lignin akan membentuk lignose-lulose, yang tahan terhadap aktivitas mikroba. Oleh karena itu, untuk pengomposan bahan-bahan dari jaringan tanaman berkayu diperlukan peran mikroba penghasil enzim pengurai lignin, seperti Paecilomyces sp., Allezcheria sp., Chaetomium sp., Poria sp., Nocardia sp., Streptomyces sp., Pseudomonas sp., dan Flarocacterium sp.

Di pasaran, telah banyak dijual pupuk mikroba dekomposer, yang dapat digunakan untuk mempercepat proses pengomposan, seperti EM-4, Starbio Plant, Harmoni BS, Temban, Orgadec, dan masih banyak lagi.

ARTIKEL POPULER