Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila

Klasifikasi Dan Morfologi Ikan Nila – Ikan Nila memiliki nama ilmiah Oreochromis niloticus, merupakan ikan yang berasal dari Afrika bagian timur, seperti Sungai Nil, Danau Tanganyika, Nigeria, dan Kenya. Ikan Nila mulai menyebar ke berbagai negara, seperti Amerika, negara-negara Timur Tengah, dan Asia, setelah disebarkan oleh orang-orang Eropa. Ikan ini memiliki sifat unik setelah memijah, induk betina akan mengerami telur-telur yang telah dibuahi dalam rongga mulutnya. Perilaku semacam itu dikenal dengan sebutan mouth breeder.

Klasifikasi terbaru ikan nila yang masuk dalam genus Oreochromis dipelopori oleh seorang ilmuwan bernama Dr. Trewavas, pada tahun 1982. Sebelumnya, ikan nila masuk dalam genus Tilapia, namun, pada tahun 1980, Dr. Trewavas mencetuskan ide untuk membagi genus Tilapia menjadi tiga kelompok, yaitu genus Oreochromis, Sarotherodon, dan Tilapia.

Ikan nila tergolong jenis ikan yang cukup digemari baik untuk dibudidayakan maupun dikonsumsi. Potensi pertumbuhannya yang cepat, bersifat omnivora, dan mudah berkembang biak membuat ikan ini menjadi salah satu primadona para pembudidaya ikan. Kecepatan pertumbuhan dan bersifat omnivora membuat ikan nila lebih efisien dalam penggunaan pakan, sehingga lebih menguntungkan untuk dibudidayakan.

Ikan nila memiliki ciri khas sendiri, berupa garis vertikal di bagian ekor sebanyak enam hingga delapan buah. Garis-gari vertikal ini juga terdapat di sirip dubur dan sirip punggung, dan garis inilah yang membedakan antara ikan nila (Oreochromis niloticus) dengan ikan mujahir (Oreochromis mossambicus).

Klasifikasi ikan nila (Oreochromis niloticus) berdasarkan rumusan Dr. Trewavas.

Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Acanthoptherigii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

Keunggulan ikan nila dalam pertumbuhan dan efisiensi penggunaan pakan membuat ikan ini lebih disukai untuk dibudidayakan di berbagai negara. Para ilmuwan berusaha untuk memuliakan ikan nila ini dengan teknologi hibridasi agar menghasilkan bibit yang lebih unggul dibanding jenis aslinya. Taiwan dan Philipina merupakan dua negara yang cukup intensif dalam memuliakan ikan nila. Tak mengherankan jika bibit-bibit unggul yang didatangkan ke Indonesia berasal dari dua negara tersebut. Saat ini, kegiatan Budidaya Ikan Nila telah dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, baik skala rumah tangga maupun bisnis.

Hama Ulat Bulu Lymantriidae dan Cara Pengendaliannya

Hama Ulat Bulu Lymantriidae merupakan salah satu jenis hama perusak tanaman yang akhir-akhir ini menjadi masalah besar di dunia pertanian, terutama dari jenis tanaman keras. Hama Lymantriidae disebut dengan ulat bulu karena seluruh tubuh jenis ulat ini ditutupi oleh bulu-bulu. Bulu dari famili ulat Lymantriidae merupakan senjata untuk bertahan dari serangan predator. Jika bulu tersentuh kulit akan timbul rasa panas yang sangat menyengat, dan seringkali mengakibatkan bentol-bentol pada kulit, terutama kulit manusia. Ulat dari famili Lymantriidae bersifat polifag, yaitu memiliki banyak inang (ulat dapat berkembangbiak dengan baik pada semua jenis tanaman).

Tingkat serangan hama ulat bulu sangat tinggi, bahkan jika populasi pada tanaman terserang tinggi, tanaman seperti meranggas tidak memiliki satu helai daunpun, hanya tersisa tulang daun dan ranting saja. Bahkan dalam waktu singkat, hanya semalam saja, serangan ulat mampu menghabisi seluruh daun tanaman. Apabila jumlah daun tidak mencukupi kebutuhan ulat, ulat bulu akan turun dari pohon untuk mencari makanan. Jika lokasi tanaman terserang dekat dengan pemukiman, atau mungkin di depan rumah kita, maka ulat bisa masuk ke dalam rumah dengan jumlah yang tidak sedikit.

Serangan parah biasanya terjadi saat musim kemarau tiba. Pada musim ini, ngengat terangsang berkembangbiak dengan tingkat populasi sangat tinggi, sehingga serangan ulat bulu seringkali melampaui ambang ekonomi. Meskipun bersifat polifag, hama ulat ini jarang ditemukan pada tanaman berbatang lunak maupun rerumputan. Ulat bulu lebih banyak menyerang pepohonan dan tanaman menyemak berkayu.

Klasifikasi Ulat Bulu Lymantriidae

Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insekta
Ordo : Lepidoptera
Superfamily : Noctuidae
Family : Lymantriidae
Lymantriidae memiliki banyak spesies, bahkan mencapai 2500 spesies. Namun organismepengganggu yang banyak dijumpai adalah Orgyia postica, Dasychira inclusa, D. mendosa, D. pennatula, Psalis pennatula, Laelia suffusa, Euproctis virguncula, dll.

Siklus Hidup Ulat Bulu Lymantriidae




Ngengat dewasa mampu bertelur antara 50-200 butir. Telur-telur ini diletakkan di permukaan daun tanaman, tangkai daun, maupun pada retakan kulit batang. Setelah menetas, telur berubah menjadi larva dan segera mencari tempat untuk melangsungkan hidup. Larva ulat bulu berganti kulit antara 3-4 kali dan semakin membesar. Kemudian ulat besar berubah menjadi kepompong, selanjutnya dari kepompong keluar ngengat dewasa yang hanya dalam waktu beberapa hari akan segera bertelur.

Gejala Serangan Ulat Bulu Lymantriidae

Ulat menyerang daun tanaman dengan meninggalkan tanda bergerigi pada tepi daun akibat gigitan ulat. Namun, jika serangan tinggi daun tanaman dimakan sampai tidak tersisa sedikitpun, tinggal tulangnya saja.

Pengendalian Ulat Bulu Lymantriidae

Ulat Bulu Lymantriidae dapat dikendalikan dengan beberapa cara tergantung dari tingkat serangan terhadap tanaman. Pengendalian dapat dilakukan secara teknis, mekanis maupun kimiawi. Pengendalian teknis terutama bertujuan untuk mencegah atau mengurangi serangan tinggi. Sedangkan jika populasi ulat bulu sangat tinggi dengan serangan telah melebihi ambang ekonomi, maka perlu dilakukan penyemprotan pestisida untuk mengurangi resiko kegagalan produksi.

1. Pengendalian Secara Teknis

Seperti halnya saat mengendalian hama ulat lain, pengendalian ulat bulu untuk tanaman budidaya dilakukan dengan melakukan teknis budidaya yang benar, diantaranya menjaga sanitasi kebun, melakukan penggiliran tanaman, maupun dengan pengolahan tanah (pencangkulan dan penggaruan).

2. Pengendalian Secara Mekanis

Secara manual, dilakukan penangkapan terhadap ulat, telur, maupun kepompong, lalu dimusnahkan. Cara ini lebih efektif dilakukan pada malam hari dengan menempatkan perangkap lampu di area penanaman untuk menjebak ngengat.

3. Pengendalian Secara Kimiawi

Pengendalian ulat bulu secara kimiawi harus dilakukan secara tepat. Penggunaan pestisida yang melebihi dosis penggunaan justru dapat meningkatkan resistensi atau tingkat kekebalan ulat terhadap suatu jenis bahan aktif tertentu. Oleh sebab itulah, setiap kali melakukan penyemprotan pestisida harus dilakukan penggiliran bahan aktif. Tujuan dari penggantian bahan aktif pestisida ini adalah agar tingkat resistensi ulat bulu terhadap bahan aktif tertentu dapat diputus.
Gunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, klorantraniliprol, profenofos, klorpirifos, tiodikarb, amamektin benzoat, metomil, kartophidroklorida, betasiflutrin, atau dimehipo sesuai petunjuk pada kemasan. Pilih beberapa bahan aktif tersebut untuk penyelingan saat penyemprotan. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida dan Daftar Bahan Aktif Pestisida.

Mengenal Ikan Nila

Ikan Nila (Oreochromis niloticus) sebenarnya bukanlah ikan asli Indonesia. Ikan ini merupakan hasi introduksi dari luar negeri. Ikan Nila secara resmi dikembangkan di Indonesia pada tahun 1969 oleh Balai Penelitian Perikanan Ari Tawar. Setelah melalui proses adaptasi dan pengembangan, barulah ikan nila di sebarkan ke masyarakat.

Nama ikan nila merupakan nama khas Indonesia yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan. Nama ini diambil dari nama latinnya (Oreochromis niloticus), yang memang merupakan habitat asli ikan nila, yaitu di Sungai Nil dan perairan yang berhubungan dengan sungai itu.

Dalam perkembangannya, ikan nila menjadi salah satu komoditas yang banyak dicari masyarakat, karena memang tekstur dagingnya tebal seperti daging ikan kakap merah, dan cita rasanya yang lezat. Selain itu, struktur tulang ikan nila juga tidak serumit ikan-ikan lain, sehingga lebih mudah dimakan. Saat ini, ikan nila telah tersebar di seluruh benua, terutama di negara-negara yang beriklim tropis maupun subtropis. Sedangkan di wilayah yang beriklim dingin, ikan ini sulit untuk beradaptasi.

Pemerintah Indonesia telah beberapa kali mendatangkan bibit ikan nila dari berbagai negara. Pertama kali mendatangkan, pemerintah mengambil bibit dari Taiwan. Ikan nila dari Taiwan ini berwarna hitam, dengan garis-garis vertikal di bagian ekornya yang berjumlah antara 6-8 garis. Pada perkembangan selanjutnya, pemerintah mendatangkan bibit ikan nila berwarna merah dari Philipina. Hingga saat ini, bibit ikan nila yang memiliki galur murni masih didatangkan dari luar negeri, karena memang sistem pembibitan di Indonesia masih kurang efektif dalam menjaga kemurnian galur. Upaya pengadaan bibit dari luar negeri bertujuan untuk menjaga persediaan dan kualitas induk, agar keunggulan genetiknya tidak menurun setelah bercampur dengan varietas lain.

Daya adaptasinya yang sangat tinggi, membuat ikan nila banyak dibudidayakan di berbagai daerah. Memang, ikan nila mampu hidup di air tawar, payau, bahkan air laut. Ikan ini juga tahan terhadap perubahan lingkungan, bersifat omnivora, sehingga mampu mencerna berbagai jenis makanan secara efisien. Keunggulan lain ikan nila adalah ketahanan terhadap penyakit yang cukup tinggi.

Daging pada bagian tubuh ikan nila sangat tebal, sehingga cocok untuk dijadikan sebagai fillet atau sayatan daging tanpa tulang. Daging ikan dalam bentuk fillet ini sangat disukai di luar negeri, dan biasanya dimasak dengan berbagai bumbu atau saus, dan dijadikan isi sandwhich.

Para pakar pembudidaya ikan dari FAO menganjurkan kapada penduduk berpenghasilan rendah untuk membudidayakan ikan nila, sehingga dapat memperbaiki gizi keluarga. Memang, anjuran tersebut sangat beralasan, mengingat ikan ini mudah dibudidayakan, cepat berkembang biak, dan dapat dibudidayakan di kolam sempit bahkan comberan. Untuk mengetahui cara membudidayakan ikan nila, lihat pada artikel Budidaya Ikan Nila.

Saat ini, ikan nila yang dibudidayakan di Indonesia terdiri dari berbagai varietas, baik nila hitam, merah, maupun putih. Pembudidayaan ikan nila di Indonesia dilakukan di berbagai daerah dengan kondisi lingkungan berbeda-beda, baik di kolam pekarangan, dengan sistem karamba di sungai-sungai, kolam air deras, dan sistem karamba jaring apung, seperti di waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, Gajahmungkur, Kedungombo, dan Wadaslintang.

Daftar Pestisida Terlarang

Daftar Pestisida Terlarang - Rusaknya ekosistem memang berdampak sangat signifikan bagi sektor pertanian, terutama subsektor budidaya tanaman, baik tanaman pangan, perkebunan, maupun hortikultura. Salah satu dampak yang ditimbulkan akibat kerusakan ekosistem adalah serangan hama penyakit pada tanaman yang semakin tidak terkendali dari waktu ke waktu. Tak mengherankan, jika petani berupaya untuk menyelamatkan kegiatan produksinya dengan menggunakan bahan-bahan kimia untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman, atau sering disebut dengan Pestisida. Memang, penggunaan pestisida semakin meningkat, terutama sejak revolusi hijau, terlebih lagi akhir-akhir ini, petani hampir selalu menggantungkan keberhasilan budidaya pada penggunaan pestisida.

Namun, penggunaan pestisida yang berlebihan dan tidak terkontrol tentu berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, sebagai petani, sebaiknya kita harus mengetahui prinsip-prinsip penggunaan pestisida. Baca PETUNJUK APLIKASI PESTISIDA dan EFEKTIFITAS PEMAKAIAN PESTISIDA. Selain memahami bagaimana cara penggunaan pestisida yang tepat, kita juga harus menghindari penggunaan pestisida yang dilarang, terlalu berbahaya untuk lingkungan, dan berdampak besar terhadap kelangsungan ekosistem.

Daftar Pestisida Terlarang

Pestisida merupakan bahan aktif yang beracun dan berbahaya, baik terhadap lingkungan maupun mahluk hidup, tak terkecuali manusia. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan negara-negera industri lainnya, telah menetapkan larangan untuk penggunaan pestisida tertentu karena terlalu berbahaya, terutama bagi manusia. Beberapa jenis pestisida tersebut diantaranya adalah:
  • Aldrin, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, kerusakan atau cacat pada janin, dan kelainan.
  • BHC, dampak penggunaan pestisida BHC terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • Chlordane, dampak penggunaan pestisida terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • DBCP, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, dan kemandulan pada pria.
  • DDT, bahaya pestisida DDT terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, dan kelainan syarat.
  • Heptachlor, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • Kepone, dampak penggunaan pestisida Kepone terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, dan kelainan syaraf.
  • Parathion, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain cacat vetus, dan kelainan syaraf.
  • Paraquet, dampak penggunaan pestisida terhadap kesehatan antara lain cacat vetus, dan kelainan pernapasan.
  • Nitrofen, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • Toxaphene, dampak penggunaan pestisida ini terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker.
  • 2.5.5 T, dampak penggunaan pestisida terhadap kesehatan antara lain penyakit kanker, dan kelainan bawaan.
Oleh karena itu, sebagai petani atau pembudidaya tanaman, sebaiknya kita harus tetap bijak dalam penggunaan pestisida. Pegang prinsip-prinsip aplikasi pestisida, dan hindari penggunaan pestisida yang dilarang atau terlalu berbahaya, baik terhadap lingkungan maupun manusia.

SEGUDANG MANFAAT MINYAK ZAITUN UNTUK TUBUH

Segudang Manfaat Minyak Zaitun untuk Tubuh – Zaitun (Olea europaea), si pohon hijau abadi ternyata memiliki segudang manfaat bagi tubuh. Selama ini, zaitun lebih banyak dimanfaatkan dalam bentuk olahan minyak, meskipun sebetulnya buah zaitun dapat dikonsumsi dalam bentuk buah segar. Pada artikel kali ini, kami hanya akan mengulas manfaat dari ekstrak zaitun yang lebih dikenal dengan nama minyak zaitun.

Jenis buah zaitun ada beberapa macam, namun secara umum semua jenis zaitun memiliki khasiat dan manfaat yang besar untuk rambut (terutama menghambat pertumbuhan uban dan kerontokan) maupun menjaga kecantikan, seperti menghaluskan kulit. Minyak zaitun memiliki sifat yang dingin sekaligus lembab, sehingga minyak ini dikenal memiliki manfaat untuk menjaga kelembaban wajah, terutama minyak yang diekstrak dari buah zaitun masak. Minyak zaitun yang dihasilkan dari buah zaitun mentah memiliki sifat dingin dan cenderung kering, sehingga untuk kualitas minyak terbaik adalah minyak yang dihasilkan dari buah matang. Selain berkualitas lebih baik, minyak dari buah zaitun matang juga lebih stabil, apalagi yang diekstrak dari zaitun hitam. Sedangkan minyak zaitun dari buah zaitun merah hanya berkualitas sedang.

Minyak zaitun juga mengandung serat, dalam setiap 100 gram minyak mengandung serat sebanyak 1,7 gram. Selain serat, minyak ini juga kaya akan asam lemak essensial, berbagai macam vitamin, kalsium, dll yang memiliki manfaat besar untuk menjaga kesehatan tubuh, seperti meredakan rasa nyeri, mengobati penyakit kanker, jantung, diabetes, osteoporosis (keropos tulang), dll. Selain itu, minyak zaitun juga diyakini memiliki manfaat penting untuk membantu penderita hiv dalam melawan suatu penyakit.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Penyakit Kanker

Manfaat ekstrak zaitun dalam hal ini ternyata banyak sekali, selain dapat megurangi serangan akibat kanker, minyak zaitun juga dapat mencegah timbulnya kanker dalam tubuh. Komsumsi minyak zaitun mampu mencegah berbagai penyakit kanker, seperti kanker rahim, kanker colon, kanker payudra, dll.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kanker Rahim



Sebuah studi mengulas manfaat minyak zaitun dalam mencegah kanker rahim, studi ini dilakukan terhadap 145 wanita Yunani yang terserang penyakit kanker rahim. Peneliti mengkorelasikan antara wanita yang rutin mengkonsumsi minyak zaitun dengan mereka yang terserang kanker rahim. Hasilnya, serangan kanker rahim lebih banyak menyerang wanita yang tidak mengkonsumsi minyak zaitun, sedangkan bagi mereka yang rutin mengkonsumsi minyak ini kemungkinan serangan kanker turun hingga 26%.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kanker Payud4ra

Selain kanker rahim, manfaat yang besar juga ditemui pada kanker payud4ra. Sebuah studi mengatakan bahwa konsumsi minyak zaitun sebanyak satu sendok makan setiap hari mampu mengurangi bahaya terjadinya kanker patudara hingga kadar 45%. Selain kanker, manfaat minyak zaitun juga dapat menjaga bentuk maupun kekencangan payud4ra pada wanita.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kanker Kulit (Melanoma)

Kanker kulit atau malanoma dapat dicegah dengan mengoleskan minyak zaitun pada kulit tubuh. Manfaat minyak ini diketahui mempu melindungi kulit tubuh saat terkena matahari. Terlebih lagi memanfaatkan minyak zaitun setelah berenang sebagai krim dan berjemur dapat melindungi kulit dari serangan kanker (melanoma).

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kanker Lambung

Manfaat zaitun selain menjegah berbagai penyakit kanker seperti telah disebutkan di atas, juga dapat mengurangi terjadinya kanker lambung. Sebuah studi modern pernah dilakukan untuk masalah ini. Konsumsi minyak zaitun secara rutin dapat membantu mencegah serangan kanker lambung.

Manfaat Minyak Zaitun Melancarkan BAB

Konsumsi minyak zaitun juga dapat membantu melancarkan buang air besar karena adanya kandungan serat dalam minyak ini.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Menjaga Kesehatan Jantung

Adanya kandungan mono unsaturated fat, terutama asam oleat dalam minyak zaitun menjadikan minyak ini mampu menjaga kesehatan pembuluh darah jantung, sehingga mampu menurunkan resiko serangan penyakit jantung koroner.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Mencegah Stroke

Studi tentang manfaat zaitun berkaitan dengan pencegahan stroke ini melibatkan warga senior Perancis. Peneliti menyatakan bahwa konsumsi rutin minyak zaitun mampu menurunkan serangan stroke hingga 41% dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mengkonsumsi minyak ini. Penelitian ini dilakukan selama lima tahun.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Mengurangi Peradangan Sendi

Manfaat zaitun juga dapat dirasakan bagi mereka yang mengkonsumsi minyak ini secara rutin. Minyak zaitun mampu melindungi tubuh kita dari serangan peradangan sendi.

Manfaat Minyak Zaitun Mampu Mengurangi Penyumbatan (Trombosit) dan Penebalan (Arteriosklerosis) Pembuluh Darah

Penelitian mengenai hal ini pernah dipublukasi oleh majalah AMJ CLIN NUTRL. Para peneliti menyimpulkan bahwa nutrisi yang kaya akan kandungan minyak zaitun menurunkan pengaruh negatif lemak dalam makanan terhadap pembekuan darah, sehingga mampu mengurangi penebalan pembuluh darah.

Manfaat Minyak Zaitun Bagi Bayi

Manfaat zaitun dalam hal ini berfungsi seperti ASI. Minyak zaitun mengandung lemak berantai tunggal seperti terdapat dalam kandungan ASI, lemak tersebut merupakan lemak terbaik untuk konsumsi manusia.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Wajah

Sifat minyak zaitun yang lembab dapat dimanfaatkan untuk menjaga kelembaban kulit, terutama kulit wajah. Selain dijadikan krim, pembersih wajah maupun alas bedak, minyak zaitun juga dapat dicampur dengan masker untuk perawatan kulit wajah terutama untuk kulit wajah berminyak. Penggunaan minyak zaitun sebagai masker juga dapat mencegah penuaan dini. Tidak hanya menjaga kelembaban kulit saja, minyak zaitun juga berfungsi untuk menguatkan kuku.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Rambut

Perawatan rambut menggunakan minyak zaitun dapat dipakai terutama untuk rambut kering dan rusak. Kandungan kutikula pada minyak ini dapat menjaga kelembaban rambut dan memperbaiki rambut bercabang, sehingga rambut menjadi lebih indah, sehat dan berkilau. Manfaat minyak zaitun untuk rambut lainnya yaitu dapat digunakan untuk mencegah ketombe, mencegah rontok dan gatal-gatal pada kulit kepala. Selain itu, minyak zaitun juga dapat membunuh kutu kepala hanya dalam beberapa jam saja.

Manfaat Minyak Zaitun untuk Kulit Tubuh

Selain baik untuk merawat kulit wajah, minyak zaitun juga memiliki manfaat yang besar dalam membantu perawatan kulit tubuh, bagian kulit seperti siku, lutut, tumit, telapak tangan, dan bagian tubuh lainnya yang terasa kaku menjadi lebih sehat dan segar. Selain dioles, minyak ini dapat dicampur dengan air untuk mandi. Penggunaan minyak zaitun untuk mandi menjadikan seluruh tubuh terasa lebih segar.

Peran Mikroba Pengurai (Mikroba Dekomposer) Dalam Pembuatan Kompos

Mikroba pengurai atau dikenal juga dengan nama mikroba dekomposer atau mikroba selulolitik, adalah sejenis mikroba yang berperan terutama dalam proses pengomposan, terutama dalam mengurai atau memecah material organik. Dalam proses pembuatan kompos, peran mikroba dekomposer sangat penting, terutama untuk memecah dinding selulose tanaman atau bahan organik yang akan dikompos. Selolose merupakan penyusun utama dinding sel tanaman, yang tersedia dalam bentuk terikat dengan plisakarida lain, seperti hemiselulose, pektin, dan lignin.

Di dalam tanah, banyak terdapat mikroba dekomposer yang berperan dalam penguraian selulose secara alami, baik dari jenis jamur (fungi), actinomycetes, dan bakteri, baik aerob maupun anaerob. Beberapa jenis fungi yang termasuk dalam mikroba selulolitik antara lain Trichoderma sp., Penicillium sp., Aspergillus sp., Myrothecium sp., dan Alternaria sp. Sedangkan dari kelompok actinomycetes antara lain, Micromonospora, Streptomyces, Thermoacinomycetes, Thermopolyspora, dan Thermonospora. Jenis bakteri aerob yang berperan dalam penguraian selulose tanaman antara lain Bacillus sp., Cyptopharga sp., Pseudomonas sp., dan Sporocyptopharga sp. Sedangkan bakteri dekomposer dalam kelompok anaerob seperti Clostridium sp. dan Ruminococcus sp.


Dalam proses penguraian bahan-bahan organik (bahan baku kompos), mikroba selulolitik mengeluarkan enzim selulose yang berperan dalam mempercepat proses hidrolisis selulosa dan polisakarida lain. Penguraian bahan-bahan tersebut akan merombak sifat fisik materi, dan akan melepaskan beberapa unsur hara, seperti Nitrogen, Phosphat, Kalium, dan Sulfur. Unsur hara yang dihasilkan dari proses penguraian ini akan dimanfaatkan oleh mikroorganisme untuk mendukung metabolisme tubuhnya. Dengan demikian, aktivitas mikroorganisme akan meningkat, sehingga proses penguraian dan perombakan bahan-bahan organik akan berlangsung semakin cepat. Proses penguraian ini akan menghasilkan karbon, yang sebagian dilepas dalam bentuk gula sederhana, sementara sisa karbon dilepas ke udara dalam bentuk CO2. Dengan demikian, kandungan C (karbon) dalam bahan organik menjadi berkurang, dan kondisi tersebut secara otomatis akan menurunkan C/N rasio.

Dalam perombakan bahan-bahan organik, selulose yang tidak berlignin, seperti jaringan tanaman akuatik tidak berkayu, limbah pabrik kerta, atau serat kapas akan lebih cepat diurai oleh mikroba dekomposer, dibanding dengan tanaman berlignin, terutama tanaman berkayu. Hal ini disebabkan pada tanaman berkayu, selulose dan lignin akan membentuk lignose-lulose, yang tahan terhadap aktivitas mikroba. Oleh karena itu, untuk pengomposan bahan-bahan dari jaringan tanaman berkayu diperlukan peran mikroba penghasil enzim pengurai lignin, seperti Paecilomyces sp., Allezcheria sp., Chaetomium sp., Poria sp., Nocardia sp., Streptomyces sp., Pseudomonas sp., dan Flarocacterium sp.

Di pasaran, telah banyak dijual pupuk mikroba dekomposer, yang dapat digunakan untuk mempercepat proses pengomposan, seperti EM-4, Starbio Plant, Harmoni BS, Temban, Orgadec, dan masih banyak lagi.

Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Alternatif

Mahalnya harga bensin sebagai bahan bakar menjadikan bioetanol memiliki peluang lebih besar sebagai bahan bakar alternatif sekaligus bahan bakar masa depan. Memang, penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar telah dilakukan oleh beberapa negara di berbagai belahan dunia semenjak abad 20, seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Swedia, Brazil, dan India. Negara-negara tersebut telah menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan, sebagai alternatif penggunaan petrolium. Hal tersebut didorong oleh munculnya kesadaran akan dampak negatif penggunaan BBM, yang berkontribusi besar terhadap berbagai polusi di muka bumi. Harus diakui bahwa penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama turut berperan dalam menimbulkan kerusakan lingkungan, gangguan terhadap kelestarian alam, dan membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena alasan itulah perlu kiranya bagi kita semua untuk mencari alternatif sumber energi. Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar alternatif tentu saja menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan energi.

Namun sayangnya, kesadaran masyarakat Indonesia untuk menggunakan bioetanol memang belum tinggi. Hal tersebut disebabkan harga petrolium beberapa waktu yang lalu masih sangat murah. Namun, seiring dengan meningkatnya harga BBM yang selama ini menjadi bahan bakar utama, tentu akan memberikan ruang lebih besar bagi bioetanol untuk menjadi bahan bakar pengganti. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Henry Ford, sebuah perusahaan produsen mobil berkelas internasional, yang memandang bahwa bioetanol merupakan salah satu bahan bakar masa depan. Salah satu keunggulan menggunakan bioetanol sebagai bahan bakar yaitu ramah lingkungan. Selain itu, bioetanol juga menjadi sumber bahan bakar terbarukan, tidak seperti bahan bakar fosil. Apalagi didukung dengan proses pembuatan bioetanol yang relatif sederhana, tentu semakin memperbesar peluang sumber energi alternatif ini menjadi bahan bakar utama. Tak hanya itu, kesadaran masyarakat akan dampak negatif penggunaan BBM juga menjadi salah satu faktor yang membuat bioetanol semakin populer.

Bioetanol sebagai bahan bakar ramah lingkungan



Penggunaan bioetanol yang makin luas, terutama bagi para pengguna mesin otomotif, salah satunya dipengaruhi oleh dampak negatif penggunaan BBM sebagai bahan bakar utama terhadap lingkungan. Sudah diakui oleh dunia, bahwa bioetanol merupakan bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Penggunaanya sebagai bahan bakar utama kendaraan, dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh penggunaan BBM. Karena faktor itulah beberapa negara di dunia telah mensosialisasikan penggunaan etanol sebagai bahan bakar untuk berbagai jenis kendaraan. Pemakaian bioetanol di negara Brazil pemakaian bioetanol sudah digunakan pada seluruh jenis kendaraan bermotor, dengan mencampurkan 20% bioetanol pada bahan bakar yang digunakan. Bahkan pada pertengahan tahun 1980, lebih dari 90% mobil baru di negara tersebut sudah dirancang menggunakan bioetanol murni.

Sekilas Tentang Etanol?

Etanol atau lebih akrab dikenal dengan sebutan alkohol, pada dasarnya telah dibuat oleh manusia semenjak ribuan tahun silam. Namun, masyarakat pada waktu itu tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah memproduksi etanol atau alkohol dalam makan atau minuman yang mereka buat melalui proses fermentasi dengan pemberian ragi. Hal itu terjadi lantaran tujuan utamanya adalah pembuatan makanan atau minuman. Cara pembuatan etanol pada waktu itu memang sangat sederhanan, hanya dengan memberikan ragi pada bahan makanan. Misalnya, buah anggur difermentasi menjadi khomar/arak/minuman keras lain, gandum difermentasi menjadi bir, beras difermentasi menjadi sake, dan ketan hitam difermentasi menjadi tape ketan. Di Amerika, Jepang, atau negara-negara Eropa, pembuatan etanol biasanya dalam bentuk minuman keras, seperti bir, sake, vodka, dan lain-lain.

Pada perkembangan selanjutnya, pembuatan etanol saat ini tidak hanya bersumber dari bahan makanan, tetapi juga berasal dari bagian-bagian tanaman yang lain. Teknik pembuatan yang sederhana, dan bahan baku yang relatif murah, menjadikan etanol berpotensi sebagai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin besar. Semenjak awal abad ke 21, penggunaan etanol sebagai bahan dasar kendaraan sudah mencapai lebih dari 2/3 produksi kendaraan dunia. Hingga saat ini, pemakaian etanol di Brazil sudah mencapai angka 40-45%. Di Amerika Serikat, penjualan etanol mencapai 1,2% dari seluruh pasaran bensin. Khusus untuk Indonesia, penggunaan etanol sebagai bahan bakar kendaraan bisa untuk mengatasi krisis bahan bakar. Selain itu, juga mampu untuk mendongkrak peningkatan tenaga kerja.

PUPUK NPK

Pupuk NPK merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang kandungan unsur utamanya terdiri dari tiga unsur hara sekaligus. Pupuk ini merupakan unsur makro yang sangat mutlak dibutuhkan tanaman. Sesuai dengan namanya, unsur-unsur tersebut terdiri dari unsur N (nitrogen), P (fosfor) dan K (kalium). Unsur NPK ini adalah unsur penting yang membantu tanaman melangsungkan serangkaian proses pertumbuhan. Jika tanaman kekurangan salah satu unsur hara, maka dapat dipastikan pertumbuhan tanaman akan terhambat. Sebagai contoh, jika tanaman kekurangan unsur N, sementara kebutuhan unsur P dan K masih terpenuhi, maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, warna hijau daun memudar hingga menguning. Pada kondisi demikian, tumbuhan akan kesulitan bereproduksi, pembentukan bunga dan buah akan terhambat, bahkan jika kekurangan unsur N sangat signifikan, maka lama-kelamaan tanaman menjadi kerdil bahkan akhirnya mati. Begitu juga sebaliknya, jika unsur P tidak terpenuhi, maka tanaman juga tidak dapat tumbuh dengan baik, akar tidak terbentuk sempurna sehingga menghambat proses pengangkutan zat-zat makanan oleh akar. Selain itu, pembentukan bunga juga kurang sempurna, tanaman kesulitan menghasilkan bunga. Demikian juga jika unsur K tidak tersedia, maka pembungaan banyak terjadi kerontokan, jika akhirnya mau berbuah, buah yang terbentuk juga kurang sempurna, bahkan kualitas buah sangat rendah. Selain itu tanaman kurang tahan terhadap serangan hama penyakit maupun kekeringan.

Manfaat Pupuk NPK

Pemberian pupuk NPK sangat banyak manfaatnya bagi tumbuhan. Pupuk ini mampu memenuhi kebutuhan vital untuk pertumbuhan, dimana seperti telah diuraikan di atas, bahwa unsur NPK mutlak harus tersedia di dalam tanah. Pemberian pupuk NPK mampu menyediakan kebutuhan tanaman akan ketiga unsur makro sekaligus, yaitu N, P dan K. Selain manyediakan unsur NPK sekaligus, biasanya pupuk jenis NPK juga dilengkapi dengan kandungan unsur lain, baik itu unsur makro sekunder maupun unsur mikro. Seperti misalnya pupuk Phonska, selain mengandung unsur makro primer N, P dan K juga mengandung unsur makro sekunder S (Sulfur) sehingga pupuk ini sangat disukai oleh sebagian besar petani. Biasanya pupuk majemuk jenis NPK mudah larut dalam air, sehingga mudah diserap oleh akar. Pemberian pupuk NPK juga mampu meningkatkan jumlah akar di dalam tanah, memacu pertumbuhan bunga, serta pemanenan tepat pada waktunya. Pemupukan NPK secara kasat mata juga meningkatkan kualitas tanaman dan buah, tanaman tumbuh segar dengan daun berwarna hijau. Untuk buah berasa manis, buah masak akan terasa lebih manis, berkilat dan bentuk buah sempurna. Selain itu juga mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan maupun adanya serangan hama penyakit.

Kekurangan Pupuk NPK



Meskipun pemberian pupuk NPK banyak sekali manfaatnya, tetapi pupuk jenis NPK ini juga memiliki kekurangan jika tidak diantisipasi dengan baik. Pemupukan NPK secara berlebihan melebihi kapasitas justru dapat merugikan tumbuhan itu sendiri. Bunga yang terbentuk sangat banyak tetapi tidak mampu membentuk buah, bunga akhirnya rontok berguguran, atau jika sudah terbentuk buah, muah muda banyak yang rontok. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ketidakseimbangan antara pemberian pupuk makro primer NPK dengan pupuk lainnya (seperti pupuk makro sekunder berkandungan S (sulfur), Ca (kalsium), dan Mg (magnesium)) maupun pupuk mikro (pupuk berkandungan Mo (molibdenum), Cu (tembaga), Fe (besi), B (boron), dan unsur mikro lainnya).
Dengan demikian pemberian pupuk sebaiknya dilakukan secara berimbang, semua unsur yang dibutuhkan tanaman harus tersedia untuk mengurangi resiko kegagalan, terutama untuk tanaman hortikultura. Penambahan NPK harus diimbangi dengan pemberian pupuk makro sekunder (S, Ca, Mg) dan pupuk mikro.

Jenis Pupuk NPK

Pupuk jenis NPK dapat berupa padat (granule) maupun cair. Baik NPK padat maupun NPK cair, kandungan unsur haranya tetap mengutamakan unsur N, P dan K. NPK padat biasanya lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk akar, yaitu diplikasikan ke dalam tanah agar pupuk diserap oleh akar. Sedangkan NPK cair lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk daun, aplikasinya dilakukan dengan cara penyemprotan melalui stomata. Namun, NPK cair yang dijual di pasaran kebanyakan berupa pupuk organik sehingga pemberiannya harus dalam jumlah banyak. NPK cair organik lebih cocok untuk pertanian organik. Meskipun demikian, baik NPK padat maupun NPK cair keduanya sama-sama penting bagi tumbuhan.

Beberapa Contoh Merk Dagang Pupuk NPK

Di pasaran, banyak sekali merk dagang untuk pupuk majemuk NPK, baik yang bersubsidi maupun tidak. NPK bersubsidi untuk saat ini adalah bermerk dagang Phonska, pupuk ini diproduksi oleh PT. Petrokimia Gresik. NPK Phonska berkandungan N 15%, P 15%, K 15%, dan S 10%. Biasanya pupuk phonska dikenal oleh para petani dengan pupuk phonska 15-15-15 atau pupuk NPK 15-15-15 saja. Selain pupuk phonska, pupuk berjenis NPK lain yang tidak bersubsidi juga banyak dijumpai di kios-kios pertanian, seperti pupuk NPK BASF 15-15-15, NPK Holland 15-15-15, NPK Mutiara 16-16-16, NPK Kebomas 16-16-16, NPK Pak Tani 16-16-16, NPK Sawit 13-6-27, NPK Kujang 30-6-8, NPK Gramafix, NPK Sundag, NPK fertilizer dan masih banyak lagi.

Jenis Dan Varietas Buah Mangga

Di Indonesia, ada beberapa jenis dan varietas buah mangga yang memiliki nilai jual cukup bagus dan sudah cukup dikenal oleh masyarakat karena kualitasnya. Perbanyakan tanaman mangga pada umumnya dilakukan secara vegetatif, sehingga sifat asli dan keunggulan pohon induk tetap terjaga. Berikut ini beberapa jenis mangga yang sudah cukup populer di Indonesia.

Mangga Golek

Pohon tidak begitu besar, dengan tinggi kurang lebih 9 meter dan tajuk membulat. Daun berbentuk lonjong, dengan pangkal meruncing dan ujung berbentuk mata tombak. Panjang daun 24 cm, lebar 6 cm. Tepi daun bergelombang, memiliki tulang daun berjumlah 24 pasang. Buah berujung runcing, panjang sekitar 17 cm, dengan berat mencapai 500 gram. Permukaan kulit buah terdapat bintik-bintik kelenjar berwarna putih kehijauan, dan akan berubah warna menjadi kecokelatan setelah masak. Daging buah tebal, agak lunak, berwarna kuning tua setelah masak, tidak berserat, tidak banyak mengandung air, memiliki aroma cukup harum, dan rasa manis. Pelok atau biji buah berserat pendek, panjang sekitar 14 cm dengan bentuk pipih memanjang.

Mangga Arumanis

Maangga arumanis memiliki aroma cukup harum dan rasa manis. Tinggi pohon sekitar 9 meter, berdaun lebat, dan memiliki mahkota pohon menyerupai kerucut. Daun berukuran cukup besar, dapat mencapai panjang kurang lebih 45 cm, berbentuk lonjong dengan ujung meruncing. Kulit buah berwarna hijau, tertutup lapisan lilin, sehingga warnanya seolah-olah tampak kelabu. Pangkal buah sertelah matang berwarna kekuningan, dan pada permukaan kulit terdapat bintik-bintik kelenjar berwarna putih kehijauan. Berat buah rata-rata 450 gram, berbentuk bulat memanjang, dengan panjang mencapai 15 cm. Pada ujung buah terdapat paruh dan sinus atau lekukan, dan terlihat cukup jelas. Daging buah tebal, lunak, berwarna kuning, dan tidak berserat atau sedikit serat. Biji buah berbentuk pipih, berserat pendek, dengan panjang sekitar 13 cm.

Mangga Manalagi



Rasa buah mangga manalagi cukup enak, seperti perpaduan antara mangga arumanis dan golek. Tinggi pohon pohon hanya sekitar 8 meter, dengan mahkota agak bulat berdiameter sekitar 12 meter. Panjang daun 25 cm, lebar 7,5 cm, berbentuk lonjong dengan ujung runcing, pada bagian pangkal daun lebih besar dan tidak begitu meruncing. Permukaan daun sedikit berombak. Buah yang sudah masak berwarna hijau tua, tertutup lapisan lilin berwarna kelabu. Saat masak, pangkal buah akan berwarna kekuningan. Kulit buah relatif tebal, dengan bintik-bintik kelenjar berwarna putih dan berubah menjadi cokelat pada bagian tengahnya setelah masak. Berat mencapai 500 gram dengan panjang sekitar 16 cm. Daging buah tergolong tebal, berserat sangat halus, hanya sedikit mengandung air, berwarna kuning, dan lunak. Rasa buah manis, segar, dan beraroma harum. Buah yang belum masak dan menjelang tua, rasanya sudah manis, sehingga mangga manalagi sering dimakan dalam kondisi masih keras, tetapi daging buah sudah menguning. Biji buah agak besar, dengan panjang sekitar 14 cm, dan berserat pendek.

Mangga Endog

Bentuk bunganya lonjong, bagian pangkal dan ujungnya meruncing. Panjang daun sekitar 19 cm dengan lebar 5 cm. Bunga berbentuk kerucut dengan panjang tandang bunga mencapat 24 cm. Buah berbentuk bulat kecil menyerupai telur, dengan berat sekitar 200 gram. Panjang buah sekitar 7 cm, dengan diameter antara 5-6 cm. Pangkal buah membulat dengan ujung sedikit berparuh dan tidak memiliki lekuk. Permukaan kulit pada buah tua halus berlilin, dan terdapat bintik-bintik kelenjar berwarna putih kehijauan. Setelah masak bagian pangkal buah berwarna kuning. Daging buah berserat agak kasar, dan sedikit mengandung air, dan beraroma kurang harum tetapi tetap memiliki rasa manis.

Mangga Lalijiwo

Tinggi pohon mangga lalijiwo sekitar 8 meter, dengan lebar tajuk mencapai 9 meter. Daun cukup lebat dengan percabangan banyak, dan buah setiap pohon juga banyak. Daun berwarna hijau tua, berbentuk lonjong dan meruncing pada pangkal dan ujungnya. Panjang daun sekitar 20 cm. Ukuran buah tidak terlalu besar, seperti mangga endog, rata-rata hanya 200 gram. Bentuk buah agak membulat pada bagian ujungnya, dengan panjang 7 cm, berparuh dan berlekuk sedikit. Kulit buah tua berwarka hijau dengan bintik-bintik kelenjar berwarna putih kehijauan. Jika sudah tua, daging buah berwarna kuning tua, berkadar air sedikit, beraroma kurang harum, dan memiliki rasa yang manis.

Mangga Madu

Tinggi pohon sekitar 10 meter dengan lebar tajuk mencapai 13 meter. Daun dan percabangan relatif sedikit dan cenderung jarang berbuah. Daun agak lonjong berbentuk melipat dan berujung rucing, panjang 22,5 cm dan lebar 6,5 cm. Berat buah sekitar 375 gram, panjang sekitar 10 cm, berbentuk bulat panjang dengan ujung buah membulat, paruh dan lekukan pada ujung buah tidak begitu jelas terlihat. Kulit halus dilapisi lilin, terdapat bintik-bintik kelejar putih kehijauan. Pangkal buah tua berwarna kuning kemerahan meskipun ujung buah masih berwarna hijau. Daging buahnya berwarna kuning dengan bagian dalam berwarna kuning tua seperti madu. Berserat sedikit, kadar air sedang, beraroma cukup harum, dan rasanya sangat manis, semanis madu. Biji buah berserat pendek, dengan panjang sekitar 9 cm.

Mangga Kemang

Mangga kemang memiliki nama yang cukup beragam, misalnya di Lampung dikenal dengan nama binjai atau belu. Tinggi pohon 20-40 meter dengan pertumbuhan tegak, berbatang bulat dengan diameter 80-100 cm, berwarna kelabu. Daun berbentuk lanset atau lengkung meruncing, panjang 10-15 cm, dan lebar 3-15 cm. Permukaan atas daun berwarna hijau tua, memiliki tulang daun antara 18-30 pasang. Buah berbentuk elips dengan panjang antara 12-16 cm, diameter 6-10 cm. Warna kuning kecokelatan setelah masak, berbau seperti terpentin, dan rasanya cukup beragam, manis, sepet, dan asam. Peloknya berukuran cukup besar. Mangga jenis ini sering dimakan sebagai rujak atau asinan.

Mangga Kweni

Tinggi pohon mangga kweni antara 20-30 meter. Permukaan daun bergelombang, meruncing pada bagian pangkal dan ujungnya, panjang 25 cm, dan lebar 6 cm. Bentuk buah lonjong, dengan ujung membulat, tidak berlekuk dan berparuh. Berat buah rata-rata 350 gram, panjang sekitar 11 cm. Kulit halus berlilin, dilengkapi bintik-bintik putih kehijauan. Pada buah yang sudah masak, pangkal dan ujungnya berwarna hijau. Daging buah berwarna kuning, berair dan berserat kasar, beraroma khas kweni. Rasa daging buah cukup manis dengan sedikit rasa terpentin.

Mangga Pakel

Tinggi pohon antara 20-25 meter dengan tajuk membulat berdiameter sekitar 10 meter, dan berdaun lebat. Permukaan daun bergelombang, panjang mencapai 42 cm, lebar 17 cm, serta meruncing pada bagian pangkal dan ujungnya. Bobot buah mencapai 500 gram, berbentuk bulat sedikit lonjong, panjang antara 12-15 cm, berwarna hijau kelabu, dengan permukaan kulit terdapat bercak-bercak cokelat, dan bergetah. Daging buah berserat kasar, berasa asam sedikit rasa manis bercampur rasa terpentin. Memiliki aroma khas yang cukup kuat. Biasanya buah ini dikonsumsi sebagai jus atau es campur.

Kandungan Vitamin Dan Mineral Pada Buah Mangga

Kandungan Vitamin Dan Mineral Pada Buah Mangga - Daging buah mangga memiliki kandungan air dan karbohidrat sangat tinggi. Selain itu, juga mengandung protein, lemak, berbagai macam asam, vitamin, mineral, tanin, zat warna, serta zat yang mudah menguap dan menimbulkan aroma khas buah mangga.

Karbohidrat dalam buah mangga terdiri dari gula sederhana, tepung, dan selulosa. Gula sederhana dalam mangga terdiri dari sukrosa, glukosa, dan fruktosa, yang memberikan rasa manis dan bermanfaat dalam pemulihan energi pada tubuh manusia. Selolosa dan pektin yang terkandung dalam buah mangga dapat melancarkan saluran pencernaan, sehingga mempermudah proses buang air besar.

Selain itu, rasa manis pada buah mangga juga dipengaruhi oleh kandungan tanin dan campuran asam. Tanin akan menyebabkan rasa kelat atau sepet, dan menyebabkan daging buah berwana hitam beberapa saat setelah diiris. Terkadang, kandungan tanin yang terlalu tinggi juga bisa menyebabkan rasa daging buah mangga menjadi agak pahit.

Sedangkan rasa asam yang terkadang cukup dominan pada varietas tertentu atau pada mangga muda, disebabkan oleh kandungan asam sitrat. Rasa asam pada buah mangga dipercaya mampu meningkatkan nafsu makan. Selain disebabkan oleh kandungan asam sitrat, rasa asam juga disebabkan oleh kandungan vitamin C yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Komposisi Kimia dan Nilai Gizi Buah Mangga



Buah Mangga Mentah

Air : 90%
Protein : 0,70%
Lemak : 0,1%
Gula : 8,80%
Serat : -
Mineral : 0,4
Kapur : 0,03%
Fosfor : 0,02%
Besi : 4,5 mg/g
Vitamin A : 150 I.U
Vitamin B1 : -
Vitamin B2 : 0,03 mg/100g
Vitamin C : 3 mg/100g
Asam Nicotinat :
Nilai Kalori : 39 per 100 g

Buah Mangga Matang

Air : 86,10%
Protein : 0,60%
Lemak : 0,1%
Gula : 11,80%
Serat : 1,1%
Mineral : 0,3
Kapur : 0,01%
Fosfor : 0,02%
Besi : 0,3 mg/g
Vitamin A : 4.800 I.U
Vitamin B1 : 0,04 mg/100g
Vitamin B2 : 0,05 mg/100g
Vitamin C : 13 mg/100g
Asam Nicotinat : 0,3 mg/100g
Nilai Kalori : 50-60 per 100 g

ARTIKEL POPULER