HUMUS

Humus merupakan salah satu jenis pupuk organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan, baik itu berupa daun, ranting, batang, maupun cabang, yang terurai secara alami. Dilihat dari bahan-bahannya, humus sama hampir sama dengan pupuk kompos, hanya saja pada pupuk kompos, proses dekomposisi dilakukan oleh mikroorganisme (dekomposer) yang ditambahkan oleh manusia. Jadi, pada pembuatan pupuk kompos campur tangan manusia sangat vital.

Mengenal Humus

Terbentuknya humus secara alami di dalam tanah dilakukan oleh mikroorganisme (jasad renik) dan bantuan cuaca. Humus banyak dijumpai di hutan-hutan. Terutama lapisan bagian atas tanah di hutan banyak terbentuk humus. Hal ini dikarenakan bahan-bahan organik dari jatuhnya daun, ranting, maupun batang tanaman yang telah mati terurai secara alami oleh mikroorganisme. Selain itu, rindangnya pepohonan membantu mempercepat proses penguraian. Sama seperti proses pengomposan, mikroorganisme pengurai mengubah senyawa yang sukar larut menjadi senyawa organik tersedia bagi tanaman sehingga mudah diserap oleh akar tanaman. Hanya saja, terbentuknya humus membutuhkan waktu yang sangat lama.

Ciri Humus




Secara kasat mata, bentuk fisik humus dan kompos adalah sama, yang dicirikan dengan warnanya yang hitam atau coklat tua. Sifat humus yang mudah mengikat air dan gembur menjadikan pupuk humus sangat membantu memperbaiki struktur tanah yang rusak. Meskipun untuk lahan pertanian, humus tidaklah cukup mengimbangi aktivitas pertanian yang begitu tinggi. Cara yang baik untuk tetap memanfaatkan pupuk humus adalah dengan seringnya membenamkan pupuk hijau ke dalam tanah. Meskipun sedikit dan lama, paling tidak upaya ini juga berperan dalam pertanian organik berkelanjutan.

Pemanfaatan Pupuk Humus

Pupuk humus kini banyak diperjualbelikan di pasaran. Karena proses penguraian yang sangat lama menjadikan pupuk humus banyak dijual dengan harga yang lumayan mahal. Biasanya pupuk humus hanya dikemas dalam kantong plastik, bukan karung seperti pada kemasan pupuk organik lain maupun pupuk anorganik. Mahalnya harga pupuk humus inilah sehingga pemanfaatannya tidak dijumpai pada petani, apalagi dengan area budidaya yang sangat luas. Pupuk humus kebanyakan dimanfaatkan oleh para pemulia tanaman dan para ibu rumah tangga. Mereka menambahkan pupuk humus ke dalam media terbatas, seperti pot, ataupun polybag. Meskipun tetap diimbangi dengan penambahan pupuk majemuk seperti N,P,K untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Dewasa ini, ada juga pupuk humus yang diperjualbelikan dengan penambahan unsur makro, meskipun jumlahnya juga kurang signifikan dibandingkan dengan pupuk makro tunggal atau majemuk, seperti pupuk urea, pupuk NPK, dll. Namun upaya penambahan tersebut tentunya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara makro, sedangkan unsur mikronya telah tersedia pada humus.

Aplikasi Pupuk Humus

Aplikasi pupuk humus sebetulnya juga hampir sama dengan pupuk kompos maupun pupuk kandang, hanya saja pada pupuk humus yang diaplikasikan berupa bahan-bahan organik mentah, sedang pupuk kompos maupun pupuk kandang berupa pupuk yang sudah jadi (sudah difermentasi). Aplikasi humus untuk sekala luas dengan cara membenamkan ke dalam tanah. Bagi para petani, tanpa terasa sebetulnya mereka juga banyak yang memanfaatkan pupuk humus, terutama saat melakukan pembubunan pada budidaya tanaman hortikultura. Pembalikan tanah saat pembumbunan menggunakan cangkul menyebabkan rumput tertimbun di dalam tanah. Selama proses tertentu bahan-bahan ini akan terurai menjadi tersedia bagi tanaman dan terbentuk humus. Karena proses terjadinya humus alamiah (tidak menambahkan dekomposer dalam jumlah besar) dan pada permukaan tanah, proses penguraian bahan humus tidak menimbulkan panas tinggi sehingga reralif lebih aman dan tidak berbahaya bagi tanaman.

PUPUK KOMPOS

Pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik akibat campur tangan manusia. Pupuk kompos merupakan hasil pelapukan bahan organik, baik yang berasal dari bahan tanaman maupun limbah pabrik. Kompos dan humus sebetulnya memiliki bentuk fisik yang sama, hanya saja yang membedakannya hanyalah pada proses pembutannya. Kompos terbuat akibat campur tangan manusia, sedangkan humus merupakan pelapukan bahan-bahan organik secara alami.

Mengenal Kompos

Kompos dapat terbuat dari bahan-bahan tanaman seperti dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, dll, maupun limbah, baik limbah rumah tangga maupun limbah pabrik. Selama proses pembuatan pupuk kompos, mikroorganisme menguraikan bahan-bahan organik menjadi senyawa organik yang tersedia bagi tanaman. Senyawa organik ini sebelumnya sukar larut dan berikatan dengan unsur lain. Adanya campur tangan manusia (dengan penambahan dekomposer) akan mempercepat proses penguraian senyawa tersebut menjadi senyawa tersedia dan mudah diserap oleh tanaman. Menjadikan unsur hara yang mutlak diperlukan tanaman, baik unsur hara makro maupun mikro, siap dimanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya.

Jenis Kompos




Berdasarkan jenisnya, kompos dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kompos padat dan kompos cair. Perbedaan kedua jenis pupuk ini ada pada cara pembuatannya. Biasanya pupuk kompos cair lebih banyak memanfaatkan limbah rumah tangga. Adapun artikel cara membuat pupuk kompos cair sudah pernah kami ulas sebelumnya.

Tujuan Membuat Kompos Padat

Tujuan utama dalam pembuatan pupuk kompos adalah menurunkan rasio C/N. Pada bahan-bahan organik segar, C/N rasio masih sangat tinggi. Jika kondisi ini dipaksakan, artinya mengaplikasikan bahan kompos mentah langsung ke dalam tanah, dapat menghambat pertumbuhan tanaman, akibat terburuk menyebabkan kematian. Hal ini terjadi karena selama proses penguraian bahan kompos mengakibatkan peningkatan CO2 dan suhu (panas) dalam tanah. Peningkatan tersebut dikarenakan kandungan air dan udaranya cukup, sehingga proses penguraian bahan organik segar oleh mikroorganisme di dalam tanah berlangsung dengan cepat. Bahkan jika terjadi pada tanah ringan, justru dapat berakibat menurunkan daya ikat tanah terhadap air serta struktur tanahnya berserat dan kasar. Proses dekomposisi untuk pembuatan pupuk kompos membutuhkan suhu sekitar 60°C.

C/N rasio adalah perbandingan C (Karbon) dan N (Nitrogen). Pupuk kompos yang telah difermentasi akan memiliki suhu mendekati suhu lingkungan dan C/N rasio mendekati C/N rasio tanah, berkisar antara 12-15. Pentingnya informasi tentang C/N rasio pada kemasan pupuk kompos, menjadikan pupuk kompos yang dijual di pasaran menjadi perhatian utama sebelum melakukan pembelian. Biasanya, pupuk kompos dengan C/N rasio mendekati 15 lebih diminati konsumen.

Selain C/N rasio, kadar hara pupuk kompos juga tergantung dari bahan-bahan organik yang digunakan, cara pengomposan, cara penyimpanan kompos maupun cara penyimpanan bahan kompos. Meskipun tidak bisa kita pungkiri, kandungan unsur hara pada kompos relatif sedikit. Untuk itulah, bagi sebagian besar petani modern memanfaatkan kompos hanya untuk pembenah tanah. Kebutuhan tanaman akan unsur hara lain yang sangat penting dicukupi dengan penambahan pupuk makro maupun pupuk mikro, terutama pupuk makro, baik itu pupuk makro primer berkandungan N,P,K maupun pupuk makro sekunder seperti Ca, Mg, dan S.

Pemanfaatan Kompos

Kompos dewasa ini sudah banyak dimanfaatkan para petani, (terutama kompos padat) meskipun jika dilihat dari kadar haranya, pupuk kompos masih kalah jauh daripada pupuk kandang. Akan tetapi, penggunaan pupuk kompos lebih praktis, terutama dalam hal pengangkutan. Selain itu, mereka jarang membuat kompos sendiri, biasanya pupuk kompos diperoleh dengan cara membeli di kios-kios pertanian terdekat.
Sama seperti pupuk kandang dan pupuk organik jenis lain, kompos banyak dimanfaatkan untuk tujuan pembenah tanah. Bersadarkan tujuan itulah, petani rela mengeluarkan biaya lebih tinggi karena seperti kita ketahui, pemupukan menggunakan kompos jauh lebih mahal. Biasanya, pemanfaatan pupuk kompos dikarenakan petani kesulitan mencari pupuk kandang maupun pupuk hijau. Kompos cair lebih banyak dimanfaatkan oleh pemulia tanaman maupun ibu rumah tangga, karena cara aplikasi pupuk yang mudah dan dapat membuatnya sendiri, serta memanfaatkan limbah rumah tangga.

Aplikasi Kompos

Aplikasi kompos pada dasarnya sama dengan pupuk kandang, untuk kompos padat dengan cara membenamkan kompos ke dalam tanah atau hanya pada larikan. Pembenaman kompos bertujuan mengurangi penguapan tinggi akibat panas matahari. Sedangkan aplikasi kompos cair juga dengan cara pengocoran.

PUPUK KANDANG

Salah satu peran penting pupuk kandang bagi para petani selain menyuburkan tanah adalah dalam hal memperbaiki struktur tanah. Pupuk kandang merupakan salah satu jenis pupuk organik yang terbuat dari hasil fermentasi kotoran hewan.

Mengenal Pupuk Kandang

Hasil fermentasi kotoran hewan dapat berupa cairan (urine) maupun feses (kotoran padat). Baik kotoran cair maupun padat dari berbagai jenis hewan dapat kita manfaatkan sebagai pupuk kandang. Meskipun demikian, jumlah kotoran yang dihasilkan oleh masing-masing hewan ternak tidaklah sama. Tidak hanya itu, kandungan unsur haranya pun berbeda-beda. Jumlah dan kandungan unsur hara pada kotoran hewan ternak dalam satu jenis pun tidak sama, hal ini sangat tergantung pada jenis makanan maupun cara perawatan. Namun, sebagai seorang petani perbedaan tersebut tidaklah signifikan, sehingga tidak perlu mendapatkan perhatian serius karena selisih kandungan unsur hara dalam kotoran hewan ternak sangat tipis.

Kelebihan pupuk kandang salah satunya adalah mengandung unsur hara lengkap. Unsur hara lengkap ini sangat dibutuhkan tanaman untuk melangsungkan pertumbuhannya. Kandungan unsur hara lengkap pada pupuk kandang berupa unsur makro maupun mikro. Unsur makro merupakan unsur hara tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah besar selama pertumbuhan tanaman, sedangkan unsur mikro hanyalah sedikit. Namun, meskipun unsur mikro dibutuhkan tanaman hanya sedikit, tetapi unsur ini mutlak harus tetap tersedia di dalam tanah. Sehingga pemanfaatan pupuk kandang sangatlah bagus di bidang pertanian karena kebutuhan tanaman akan unsur hara semuanya terpenuhi pada pupuk ini.

Meskipun pupuk kandang mengandung hara lengkap, tetapi kandungan unsur haranya dapat hilang karena disebabkan oleh penguapan tinggi, penyerapan, penyimpanan, maupun proses dekomposisi.
Pembuatan pupuk kandang pada lantai ubin dapat mengurangi hilangnya unsur hara akibat peyerapan, sedangkan kehilangan akibat penguapan dapat diminimalisir dengan pembuatan naungan dan meminimalkan pembalikkan pupuk ketika fermentasi sedang berlangsung.

Berdasarkan proses dekomposisinya, pupuk kandang dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu pupuk dingin dan pupuk panas. Pupuk dingin adalah pupuk yang terjadi karena selama proses dekomposisi atau penguraian oleh mikroorganisme berlangsung perlahan. Karena proses penguraian yang lambat sehingga pupuk ini tidak menimbulkan panas. Pupuk panas merupakan pupuk yang terjadi karena selama proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung dengan cepat, sehingga menimbulkan panas. Pupuk panas apabila diaplikasikan ke dalam tanah dalam keadaan belum matang (belum difermentasi) sangat berbahaya, karena dapat merusak tanaman bahkan menyebabkan kematian. Namun, meskipun pupuk kandang dingin tidak menyebabkan panas, pupuk ini harus tetap difermentasi terlebih dahulu sebelum digunakan agar mikroorganisme yang merugikan tanaman tidak berkembang biak dengan baik. Contoh pupuk kandang panas adalah pupuk dari kotoran ayam, bebek, kuda, dll. Contoh pupuk kandang dingin seperti pupuk dari kotoran kerbau, sapi, dll.

Manfaat Pupuk Kandang




- Mampu menyediakan unsur hara makro, baik makro primer maupun makro sekunder seperti Nitrogen (N), Phospor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S).
- Mampu menyediakan unsur hara mikro, seperti Besi (Fe), Molibdenum (Mo), Boron (B), Mangan (Mn), Seng (Zn), Tembaga (Cu), dll.
- Memiliki daya ikat ion yang tinggi. Hal ini mampu mengefektifkan pemakaian pupuk anorgnaik yang ditambahkan. Kehilangan pupuk anorganik akibat pencucian oleh air hujan maupun penguapan ketika suhu tinggi dapat diminimalisir.
- Pupuk kandang mampu memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat pengolahan lahan yang tidak berimbang, yaitu pemakaian pupuk anorganik dengan tidak diimbangi pupuk organik dan berlangsung dalam kurun waktu lama.

Pupuk Kandang Padat

Aplikasi pupuk kandang dalam dunia pertanian sangat perlu dilakukan oleh pelaku usahatani, mengingat penggunaan pupuk padat ini mampu memperbaiki struktur tanah rusak dan mengembalikan tingkat kesuburan tanah. Sebelum diaplikasikan ke dalam tanah, pupuk kandang harus difermentasi terlebih dahulu sampai matang. Secara fisik, pupuk padat yang telah matang terjadi perubahan warna, selain itu pupuk lebih kering, serta tidak berbau. Meskipun terkadang sulit membedakan pupuk dari kotoran kambing, karena secara fisik pupuk matang dan belum difermentasi tidak terlihat secara signifikan. Bagi para pemula tentu saja akan mengalami kesulitan.

Aplikasi pupuk kandang dapat dibenamkan ke dalam tanah maupun hanya pada larikan, tergantung tingkat kebutuhan petani dan daya beli mereka. Bagi para petani peternak kemungkinan tidak mengalami kendala biaya pembelian sehingga pemanfaatan pupuk kandang lebih optimal. Namun, bagi petani saja, biaya pembelian dan pengangkutan terkadang menjadi kendala utama, terlebih jika lokasi lahan dengan jalan agak jauh. Hal ini tentu saja mengakibatkan pembengkakan biaya produksi. Karena faktor inilah kebanyakan petani enggan menggunakan pupuk kandang untuk budidaya pertanian. Bahkan para petani sekaligus peternak terkadang juga enggan memanfaatkan pupuk kandang jika lokasi budidaya jauh dari jangkauan sarana transportasi. Padahal pemanfaatan pupuk kandang di dunia pertanian sangat penting sekali.

Pupuk Kandang Cair

Pupuk kandang jenis ini berupa cairan urine yang dikeluarkan oleh hewan ternak. Kandungan unsur hara nitrogen pada pupuk kandang cair lebih tinggi jika dibandingkan dengan pupuk padat, sehingga pada pupuk cair (urine) baunya sangat menyengat.
Aplikasi pupuk kandang cair juga harus difermentasi terlebih dahulu. Selain itu, cara aplikasinya juga harus diencerkan menggunakan air. Hal ini dilakukan agar terhindar dari plasmolisis dan mengurangi resiko kematian pada tanaman.
Panas yang tinggi akan mempercepat kehilangan unsur nitrogen dalam pupuk. Aplikasi yang baik dilakukan ketika cuaca lembab, sebaiknya pada sore hari. Selain panas sinar matahari, hujan dan kondisi banyak angin juga menyebabkan penguapan.
Kandungan nitrogen pada pupuk cair lebih mudah dan langsung diserap oleh tanaman jika dibandingkan dengan pupuk kandang padat. Meskipun peyerapannya hanya sebagian, sedangkan sebagiannya lagi masih harus diuraikan. Untuk itulah aplikasi pupuk cair kandang ini lebih efektif dilakukan setelah tanaman tumbuh dengan cara pengocoran.

Pembungaan Dan Pembentukan Buah Pada Tanaman Mangga

Pembungaan dan pembentukan buah pada tanaman mangga tidak terjadi sepanjang tahun. Waktu pembentukan bunga juga berbeda-beda antar daerah. Di daerah selatan khatulistiwa, pembungaan biasanya terjadi pada bulan Juni sampai dengan Agustus. Sedangkan di utara khatulistiwa, masa berbunga biasanya terjadi pada bulan Januari hingga Maret.

Masa berbunga berlangsung selama 11-29 hari semenjak kuncup hingga mekar. Pada umumnya, bunga akan mekar pada pagi hari dan layu pada siang hari, antara jam 08.00-12.00. Namun, beberapa jenis tanaman mangga terkadang pembukaan bunga terjadi pada malam hari, dan pagi harinya sudah mekar penuh. Mahkota bunga akan berubah warna menjadi kebiruan, dan kepala putik akan membuka, siap untuk diserbuki, pada saat bunga telah mekar. Perubahan warna terjadi karena adanya proses penyerbukan, yaitu jatuhnya tepung sari ke kepala putik. Jika suhu udara di bawah 16 derajat Celcius, tepung sari tidak bisa berkecambah, sehingga penyerbukan akan mengalami kegagalan. Pada umumnya tepung sari akan menyerbuki kepala putik setelah enam jam bunga mekar. Daya hidup optimal tepung sari kurang lebih 15 menit setelah bunga membuka, dan daya hidup tertinggi antara jam 08.00-10.00. Tepung sari akan berkecambah selama 1,5 jam setelah penyerbukan.

Penyerbukan Bunga

Pada umumnya tanaman mangga melakukan penyerbukan sendiri, yaitu tepung sari berasal dari satu bunga, dengan kata lain, pada umumnya prosentasi terjadinya penyerbukan paling banyak pada bunga hermaprodit. Proses terjadinya penyerbukan biasanya dibantu oleh serangga penghisap madu dan lebah, yang berusaha untuk menghisap madu dari cawan bunga. Serangga dan lebah penghisap madu secara tidak sengaja akan membantu proses penyerbukan. Jika pembungaan terjadi pada musim hujan, maka kemungkinan terjadinya kegagalan penyerbukan akan lebih tingi, karena kelembaban udara yang relatif tinggi.



Peluang terjadinya penyerbukan pada bunga hermaprodit sekitar 15-30 persen, dan hanya 0,1-0,25 saja yang mampu menjadi buah masak atau siap panen. Waktu yang dibutuhkan dari penyerbukan hingga buah siap panen antara 2-5 bulan, dan sangat diperngaruhi oleh varietas.

Faktor Penyebab Kegagalan Penyerbukan atau Pembentukan Buah

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadikan kegagalan penyerbukan antara lain:
  • Kepala putik dalam keadaan tidak siap diserbuki
  • Daya hidup tepung sari sangat rendah atau tepung sari sudah tidak pada fase produktif
  • Suhu dan kelembaban terlalu rendah atau terlalu tinggi
  • Serangan hama yang mengakibatkan kerusakan pada kepala putik
  • Serangan hama/penyakit yang mengakibatkan kerusakan bakal buah, sehingga mengakibatkan banyak buah yang rontok sebelum masak
  • Kurangnya unsur hara untuk pembentukan buah, sehingga perkembangan bakal buah menjadi terhambat, dan banyak buah rontok sebelum masak

Mencegah Kegagalan Pembentukan Buah

Untuk mencegah terjadinya kegagalan penyerbukan bunga atau pembentukan buah, dapat dilakukan upaya pemberian hormon. Misalnya, pemberian 200 ppm hormon NNA (beta Naphthoxy Acetic Acid) untuk meningkatkan terbentuknya bunga normal, dan pembentukan buah tiga hingga lima kalli lebih banyak. Dapat juga dengan pemberian 25 ppm 2,4 D untuk mencegah kerontokan bunga.

Morfologi Tanaman Mangga

Sebelum melakukan budidaya mangga, tidak ada salahnya untuk mengetahui bagaimana morfologi tanaman mangga. Tanaman Mangga tumbuh berbentuk pohon berbatang tegak, bercabang banyak, bertajuk rindang, dan hijau sepanjang tahun. Tinggi tanaman berkisar antara 10 hingga 40 meter. Umur tanaman mangga bisa mencapai lebih dari 100 tahun. Morfologi tanaman mangga yang akan kami uraikan di sini terdiri dari akar, batang, daun, dan bunga.

Taksonomi Tanaman Mangga

Sebelum membahas lebih jauh tentang morfologi tanaman mangga, mari kita lihat sejenak taksonomi tanaman mangga.

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Sapindales
Famili : Anacardiaceae
Genus : Mangifera
Species : Mangifera indica L.

Morfologi Tanaman Mangga




Akar

Akar tanaman mangga terdiri dari akar tunggang dan akar cabang. Akar tunggang berukuran sangat panjang, bisa mencapai kedalaman 6 meter. Pemanjangan akar tunggang pada tanaman mangga akan berhenti apabila akar tersebut telah mencapai permukaan air tanah, dan selanjutnya akan membentuk akar cabang di dalam tanah. Semakin kedalam, jumlah akar cabang yang terbentuk semakin sedikit. Tanaman mangga akan membentuk akar cabang paling banyak pada kedalaman 30-60 cm di bawah permukaan tanah.

Batang

Batang tumbuh tegak dengan percabangan dan ranting banyak. Cabang dan rangting ditumbuhi daun lebat dengan tajuk berbentuk kubah, oval, atau memanjang. Kulit batang pohon mangga tebal dan kasar, banyak celah-celah kecil dan bersisik bekas tangkai daun. Warna kulit batang biasanya cokelat tua hingga abu-abu kehitaman. Tanaman yang berasal dari biji biasanya tumbuh tegak, kuat dan meninggi. Sedangkan tanaman yang berasal dari bibit sambung atau okulasi biasanya berbatang pendek dengan percabangan membentang. Umur tanaman mangga yang berasal dari biji bisa lebih dari 100 tahun, sedangkan tanaman dari bibit okulasi atau sambung biasanya hanya mencapai 80 tahun.

Daun

Tanaman mangga memiliki daun tunggal tanpa anak dan penumpu. Letak dan posisi daun bergantian mengelilingi ranting. Panjang tangkai daun 1,25-12,50 cm. Bagian pangkal tangkai daun membesar, dengan sisi atasnya membentuk alur. Panjang daun 8-40 cm dengan lebar 2-12,5 cm. Tulang daun berjumlah 18-30 buah. Aturan letak daun pada batang (phyllotaxy) biasanya 3/8, tetapi semakin mendekati ujung, letaknya biasanya semakin berdekatan, sehingga tampak seperti dalam lingkaran. Bentuk daun bervariasi, ada yang seperti mata tombok, lonjong, segi empat dengan ujung runcing, dan bulat telur dengan ujung runcing. Tepi daun halus, terkadang sedikit bergelombang. Daun muda berwarna kemerahan, sedangkan daun tua pada permukaan bagian atas berwarna hijau tua dan permukaan bagian bawah hijau muda. Umur daun dapat mencapai satu tahun.

Bunga

Bunga mangga tumbuh dari tunas ujung, terangkai dalam tandan sebagai bunga majemuk, rangkaian bunga berbentuk kerucut. Jumlah bunga pada setiap tandan berkisar antara 1.000-6.000 kuntum, berukuran kecil dengan diameter antara 6-8 mm. Dalam setiap rangkaian bunga, terdapat bunga jantan dan hermaprodit, dengan jumlah bunga jantan lebih banyak. Diperkirakan dalam satu tandan hanya terdapat 1,25-77,9% bunga hermaprodit. Kelopak dan mahkota berjumlah lima lembar. Panjang daun mahkota dua kali panjang kelopak. Warna bunga kekuningan, warna bagian tepi mahkota putih. Ketika akan layu, warna mahkota berubah menjadi kecokelatan hingga kemerahan. Bakal buah tidak bertangkai, pada bagian ujungnya terdapat kepala putik. Dalam satu bunga hermaprodit, kadang-kadang terdapat tiga bakal buah.

Sejarah Tanaman Mangga

Tanaman mangga berasal dari daerah India, bahkan di negera tersebut beredar cerita rakyat, yang menceritakan bahwa buah mangga merupakan penjelmaan dari Dewa Prajapati. Tanaman mangga pertama kali ditemukan oleh Alexander Agung di daerah lembah Indus, India. Pada tahun 632-645 SM, Huien T'Sang menulis tentang tanaman mangga di India. Dari lembah Indus, India, tanaman mangga kemudian menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Dan di Indonesia saat ini telah memiliki berbagai varietas tanaman mangga, dengan keunggulan dan kelemahannya masing-masing.

Seorang ahli botani, Rumphius, pada tahun 1741 menyimpulkan bahwa penanaman mangga di bagian timur India telah dilakukan hampir empat ribu tahun silam, bahkan mungkin lebih dari enam ribu tahun silam. Dalam kesimpulannya tersebut, ia juga menyatakan bahwa penaman mangga di beberapa daerah di Asia baru dilakukan beberapa abad yang lalu. Oleh karena itu, ahli botani tersebut berpendapat bahwa tanaman mangga berasal dari daerah India timur, perbatasan dengan Birma. Kata mangga sendiri berasal dari bahasa Tamil, yakni man-gas atau man-kay. Dalam bahasa botani, tanaman ini disebut dengan istilah Mangifera indica L. yang berarti tanaman mangga berasal dari India.



Penyebaran Tanaman Mangga

Sekitar abad ke-4 atau ke-5 SM, tanaman mangga menyebar ke berbagai negara melalui para pedagang yang menjelajah ke arah timur hingga ke Semenanjung Malaka. Pada tahun 1400, tanaman mangga mulai di tanam di daerah Kepulauan Sulu, dan tahun 1450 tanaman ini menyebar ke daerah Mindanau, Filipina. Sekitar tahun 1665 tananam yang menghasilkan buah beraroma wangi ini baru di tanam di Kepulauan Maluku. Dan pada saat itulah tanaman mangga mulai menyebar ke seluruh Nusantara. Pada tahun 1690, tanaman mangga sudah dibudidayakan di Inggris, di dalam rumah kaca. Sekitar tahun 1779, bangsa Spanyol membawa bibit mangga dari Filipina ke Mexico. Pada pertengahan abad ke-18, orang Portugis mulai menyebarkan tanaman mangga ke daerah Lisabon dan Brazil. Kemudian pada abad ke-19, bangsa Portugis menyebarkan tanaman mangga dari Goa, India ke daerah Afrika Timur, yang akhirnya menyebar hingga ke Afrika Barat dan Kepulauan Canari. Di negara Paman Sam, Amerika Serikat, tanaman mangga pertama kali dibudidayakan pada tahun 1833, di Florida, dan bibit yang ditanam berasal dari daerah Mexico. Kemudian pada tahun 1885, Amerika Serikat senganja mendatangkan bibit hasil okulasi dari India, dan hingga kini, Florida dikenal sebagai daerah penghasil mangga terbesar di Amerika Serikat. Sekitar tahun 1870, tanaman mangga baru dibudidayakan di daerah Queensland, dan pada tahun 1905, tanaman ini baru mulai ditanam di negara Italia.

Kegiatan Pembumbunan Pada Budidaya Jahe

Pembumbunan merupakan kegiatan menguruk pangkal batang tanaman jahe yang bertujuan untuk menimbun rimpang yang menyembul keluar. Waktu pembumbunan dilakukan pada saat tanaman jahe membentuk rumpun. Kegiatan pembumbunan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan sekaligus pemupukan susulan.

Fungsi Pembumbunan Pada Tanaman Jahe

Pada budidaya jahe, pembumbunan memiliki beberapa fungsi, yaitu:

  • Menggemburkan tanah, sehingga dapat mempermudah pembesaran rimpang dan penetrasi akar.
  • Menutup dan melindungi rimpang jahe yang menyembul ke permukaan tanah.
  • Menambah kandungan oksigen dalam tanah.
  • Memperkuat tanaman jahe.
  • Memperluas area perakaran, sehingga unsur hara yang terserap lebih banyak.
  • Mencegah rimpang terkena sinar matahari yang dapat mengakibatkan rimpang mengeras dan berwarna hijau seperti batang.



Waktu Pembumbunan

Kegiatan pembumbunan ini dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, biasanya setelah tanaman jahe membentuk rumpun atau setelah tanah pada bedengan tempat menaman jahe mulai longsor karena hujan. Pembumbunan dapat dilakukan berulang kali, tergantung pada jenis tanah dan curah hujan. Pembumbunan akan lebih sering dilakukan pada tanah-tanah yang remah dan curah hujan tinggi. Kegiatan pembumbunan ini juga bisa dimulai pada saat tanaman jahe membentuk rumpun, sebanya 4-5 anakan. Pembumbunan dilakukan sebelum pemupukan susulan. Biasanya, dalam satu musim, kegiatan pembumbunan dapat dilakukan sebanya 3-6 kali, tergantung kondisi.

Cara Melakukan Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan dengan cara menyiangi gulma terlebih dahulu, kemudian mencangkul tanah tipis-tipis di sekitar tanaman jahe atau sekitar parit (orang Jawa biasa menyebut proses ini dengan istilah "dangir"). Tanah yang telah dicangkul tipis-tipis ini digunakan untuk menimbun pangkal batang tanaman jahe membentuk guludan atau bedengan kecil. Setelah kegiatan pembumbunan, pembudidaya dapat langsung melakukan pemupukan susulan.

Persiapan Media Semai Pada Budidaya Cabai dan Tomat

Untuk menghasilkan kualitas bibit tanaman berkualitas, maka perlu dipersiapkan media semai yang baik. Pada dasarnya, media semai dari tanah di sekitar pohon bambu sangat baik dignakan untuk persemaian. Disamping kandungan phospornya tinggi, humus daun bambu juga menjadi media yang baik untuk trichoderma, sehingga bisa mengurangi tingkat serangan patogen saat di persemaian. Selain itu, tanah di sekitar pohon bambu juga biasanya remah dan gembur.

Jika tanah sekitar pohon bambu sulit di dapat, maka bisa menggunakan tanah gembur lain. Pada musim kemarau, persiapan tanah sebagai media semai tidak mengalami kendala yang berarti. Namun, pada saat musim hujan, sebaiknya tanah dipersiapkan satu bulan sebelum penyemaian benih. Hal ini perlu dilakukan agar tanah lebih kering, sehingga lebih mudah untuk dimasukkan dalam kantong plastik. Tanah sebanyak 1 m³, bisa digunakan untuk mengisi polibag atau kantong plastik berukuran 8 x 10 cm sebanyak 300 buah.

Sebelum digunakan sebagai media semai, tanah sebaiknya diayak dengan saringan pasir terlebih dahulu, agar benar-benar halus sehingga memudahkan petumbuhan dan perkembangan perakaran bibit.

Komposisi media semai




Komposisi media semai adalah 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang fermentasi, dan 150 gram pupuk NPK 16-16-16 yang dihaluskan. Pencampuran dilakukan secara merata, pastikan bahwa tepung NPK sudah bercampur ke seluruh media. Pastikan tanah yang digunakan benar-benar kering dan halus, sehingga mudah untuk dimasukkan dalam polibag. Setelah itu, media dimasukkan ke dalam kantong pembibitan. Selain menggunakan polybag, tempat persemaian juga bisa menggunakan pot atau tray. Pengisian media semai jangan terlalu penuh, sekitar 90% dari permukaan atas kantong atau pot. Untuk mengurangi resiko serangan patogen, sebaiknya tambahkan jamur trichoderma sebagai agensia hayati atau perstisida biologi.

Setelah media semai siap, segera siram dengan air secukupnya. Jangan terlalu basah, karena dapat memicu tumbuhnya penyakit, seperti phytium debarianum, phytophtora capsici, atau rhyzoctonia solani. Sebelum benih dimasukkan, permukaan bagian tengah media semai diberi lubang tanam sedalam kurang lebih 8 cm. Pembuatan lubang tanam ini bisa menggunakan bambu berukuran pensil. Bambu ditusukkan ke media, kemudian diangkat pelan-pelan sambil sedikit diputar.

Perlakuan Benih Pada Tanaman Cabai, Tomat, dan Tanaman Hortikultura Lain

Perlakuan benih bertujuan untuk menghasilkan bibit tanaman berkualitas, mempercepat perkecambahan, dan membunuh bibit penyakit yang terbawa benih. Perlakuan benih dilakukan sebelum persemaian atau penanaman ke polibag. Pada artikel ini, kami akan menjelaskan 3 teknik perlakuan benih secara sederhana.

Perendaman dengan air hangat

Perlakuan ini bertujuan untuk mempermudah serta mempercepat perkecambahan benih. Benih direndam dalam air hangat selama 4-6 jam. Setelah itu, benih dibungkus dengan handuk atau kertas koran yang dibasahi. Kemudian diperam dalam kaleng atau kotak biskuit, di dalam kaleng tersebut diberi penerangan dengan lampu 15 watt. Penerangan tersebut bertujuan untuk meningkatkan suhu di dalam kaleng. Perlu diperhatikan, bahwa handuk atau kertas koran pembungkus benih harus selalu dijaga kelembabannya. Setelah muncul kecambah atau bakal akar, benih siap untuk ditanam di persemaian. Pada tanaman cabai atau tomat, benih biasanya berkecambah dalam waktu 3-4 hari.

Perendaman dalam larutan fungisida dan bakterisida




Sebelum disemai, benih terlebih dahulu direndam dalam larutan fungisida berbahan aktif benomil dan bakterisida berbahan aktif streptomicyn sulfat. Konsentrasi larutan adalah 2 gram benomil dan 1 gram streptomicyn sulfat per liter air. Perendaman dilakukan selama 4-6 jam, kemudian benih diperam seperti pada perlakuan dengan air hangat.

Pengadukan benih dengan fungisida dan bakterisida dalam formulasi tepung

Karena perendaman dan pemeraman menyulitkan petani saat melakukan penyemaian, maka cara yang lebih praktis untuk perlakuan benih adalah dengan pengadukan dalam fungisida dan bakterisida dalam formulasi tepung. Cara ini lebih sering dilakukan oleh petani karena lebih efisien waktu dan memudahkan pekerjaan. Benih yang masih berada dalam kemasan dibuka dengan cara digunting pada bagian atasnya. Kemudian masukkan fungisida berbahan aktif benomil dan bakterisida berbahan aktif streptomicyn sulfat secukupnya. Kemudian kemasan yang telah digunting dilipat kembali, dan dikocok-kocok hingga seluruh permukaan benih dalam kemasan terlapisi oleh fungisida dan bakterisida yang telah dimasukkan. Setelah itu, benih siap ditanam di media persemaian.

Berdasarkan pengalaman penulis, perlakuan benih dengan cara kering atau pengadukan bukan hanya lebih efisien, tetapi juga lebih efektif untuk kesehatan tanaman selama dalam persemaian. Selain itu, penggunaan dua jenis pestisida yang bekerja secara sistemik tersebut dapat mengurangi tingkat serangan penyakit di persemaian.

Iklim Ideal Untuk Tanaman Cabai

Dalam kegiatan budidaya cabai, sebaiknya petani memperhatikan faktor iklim agar kegiatan budidaya yang dilakukan dapat berhasil dengan baik. Tanaman cabai akan tumbuh baik dan lebih produktif pada iklim-iklim tertentu. Dengan mengetahui faktor iklim, kita dapat membuat perencanaan produksi yang lebih tepat, sehingga dapat memperkecil resiko yang kemungkinan timbul. Faktor iklim yang perlu diperhatikan sebelum budidaya cabai dilaksanakan antara lain angin, curah hujan, cahaya matahari, suhu, dan kelembaban udara. Berikut ini penjelasan singkat mengenai faktor iklim tersebut.

Angin

Kondisi angin ideal untuk budidaya cabai adalah angin yang bertiup sepoi-sepoi. Angin sepoi-sepoi ini akan melindungi tanaman cabai dari terik sinar matahari, karena membawa uap air, sehingga penguapan tanaman lebih rendah dan berkurang. Pada musim hujan, dimana lebah penyerbuk tidak begitu banyak yang datang ke areal pertanaman, angin dapat membantu proses penyerbukan. Namun, angin yang bertiup terlalu kencang justru dapat merugikan tanaman cabai, ranting-ranting banyak yang rusak, bunga banyak yang rontok, atau bahkan dapat merobohkan tanaman. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk mengantisipasi konsisi iklim yang disebabkan oleh angin ini, seperti dengan memasang ajir, dan penanaman tanaman pagar untuk menghambat kecepatan angin. Tanaman pagar yang biasa digunakan untuk budidaya cabai diantaranya adalah kacang panjang, buncis, atau jagung, yang ditanaman mengelilingi araeal budidaya.

Curah Hujan




Secara umum, tanaman cabai memerlukan curah hujan antara 1.500-2.500 mm/tahun. Berdasarkan tipe iklim menurut Schimidt dan Fergusson, tanaman cabai dapat tumbuh dan berproduksi baik pada iklim dengan kriteria:

1. Daerah sangat basah, dengan 0-1.5 bulan kering.
2. Daerah basah, dengan 1,5-3 bulan kering.
3. Daerah agak basah, dengan 3-4,5 bulan kering.
4. Daerah sedang, dengan 4,5-6 bulan kering.

Curah hujan yang terlalu tinggi berpotensi mengakibatkan areal pertanaman tergenang, sehingga perakaran cabai akan kesulitan bernafas dan memicu serangan penyakit. Selain itu, juga dapat meningkatkan kelembaban udara di sekitar pertanaman. Hujan yang terlalu keras juga dapat membuat rontok bunga cabai sebelum diserbuki.

Untuk mengantisipasi resiko yang mungkin timbul akibat curah hujan terlalu tinggi diantaranya adalah:

1. Membuat parit
2. Menggunakan mulsa PHP
3. Bedengan lebih tinggi
4. Pengaturan jarak tanam

Cahaya Matahari

Bagi tanaman, cahaya matahari merupakan faktor yang sangat penting untuk proses fotosintesis, pembentukan bunga, pembentukan buah, dan pemasakan buah. Bagi tanaman cabai, kebutuhan akan intensitas sinar matahari sangat tinggi agar pembungaan dapat berlangsung dengan normal. Apabila kekurangan sinar matahari, tanaman cabai akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang tidak normal, tanaman cenderung meninggi, bunga yang dihasilkan tidak banyak, batang sukulen (berair) sehingga mudah terserang penyakit, umut panen lebih lama, sehingga kualitas dan kuantitas produksi akan berkurang. Tanaman cabai membutuhkan intensitas sinar matahari dengan lama penyinaran (fotoperiodisitas) optimal 10-12 jam sehari.

Suhu dan Kelembaban Udara

Untuk keberhasilan budidaya cabai, petani harus menentukan lokasi yang benar-benar tepat, sehingga suhu dan kelembaban optimal untuk perkembangan tanaman cabai dapat terpenuhi. Pada umumnya, tanaman cabai akan tumbuh dan berkembang baik pada suhu antara 25-30 derajat celcius, dengan suhu optimal untuk pertumbuhan antara 25-28 derajat celcius.

Suhu udara yang terlalu rendah akan menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, pembentukan kurang sempurna, pemasakan buah lebih lama, sehingga umur panen akan lebih panjang. Oleh sebab itu, lokasi budidaya cabai idealnya dilakukan di daerah dengan ketinggian di bawah 1.400 mdpl.

Sebaliknya, jika suhu udara terlalu tinggi, apalagi dengan pengairan yang kurang, maka akan menghambat suplai unsur hara, dan menyebabkan transpirasi (penguapan) pada tanaman terlalu tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan rontoknya bunga dan buah, atau buah yang terbentuk akan kecil-kecil tidak sempurna, serta pertumbuhan tanaman yang terhambat dan merana. Oleh sebab itu, jika budidaya dilakukan pada musim kemarau, sebaiknya dilakukan penyiraman atau penggenangan yang cukup dan penyemprotan tanaman secara rutin. Selain itu, suhu udara yang terlalu tinggi akan merangsang perkembangbiakan hama tanaman, sehingga interval penyemprotan insektisida juga harus dilakukan lebih pendek.

Untuk mendukung pertumbuhan yang optimal, tanaman cabai memerlukan kelembaban relatif 80% dengan sirkulasi udara yang lancar. Curah hujan yang terlalu tinggi akan meningkatkan kelembamban di sekitar tanaman, sehingga pertumbuhan penyakit akan jauh lebih tinggi.

ARTIKEL POPULER