BUDIDAYA BAWANG MERAH DARI BIJI

Bawang merah merupakan salah satu jenis sayuran bernilai ekonomis tinggi. Tanaman ini dapat diandalkan sebagai sumber penghasilan petani, pendapatan negara, penyumbang keanekaragaman bahan pangan serta kecukupan gizi. Salah satu upaya meningkatkan produktifitas dan kualitas bawang merah yang sesuai dengan permintaan konsumen adalah penggunaan bibit berupa benih atau biji (true shallot seed = TSS). Keuntungan usahatani bawang merah dengan biji ini antara lain dapat menurunkan biaya produksi, penyimpanan serta distribusinya lebih mudah, disamping itu juga dapat menciptakan varietas unggul baru. Budidaya bawang merah memerlukan air yang cukup terutama saat pembentukan umbi. Tanaman bawang merah yang kekurangan air pada fase pembentukan umbi dapat mengakibatkan penurunan produksi secara signifikan. Hal utama dalam budidaya bawang merah adalah menjaga tanah dalam keadaan cukup lembab.

CARA MENANAM BAWANG MERAH

SYARAT TUMBUH TANAMAN BAWANG MERAH

Tanaman bawang merah memerlukan curah hujan antara 100-200 mm/bulan dengan ketinggian tempat optimal 10-200 mdpl. Meskipun demikian, bawang merah masih dapat tumbuh dan berproduksi di ketinggian sampai dengan 800 mdpl. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman bawang merah 20-30°C. Intensitas sinar matahari penuh tanpa naungan, lama penyinaran 12 jam. Tanaman bawang merah dapat beradaptasi pada kelembaban udara (rH 80-90%). Kelembaban udara dan kelembaban tanah yang relatif tinggi (> 90%) dapat merangsang terjadinya serangan penyakit. Angin sepoi-sepoi berpengaruh baik terhadap pertumbuhan dan pembentukan umbi bawang merah. Tanaman bawang merah membutuhkan tanah gembur, subur, banyak mengandung bahan organik, serta mudah menyediakan air dengan aerasi udara baik dan tidak becek. Budidaya bawang merah dapat dilakukan pada lahan sawah maupun lahan kering.

PELAKSANAAN TEKNIS BUDIDAYA BAWANG MERAH

Pengukuran pH tanah diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pengukuran bisa menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.

PELAKSANAAN BUDIDAYA BAWANG MERAH




Persiapan Lahan Budidaya Bawang Merah

Persiapan lahan meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, pencangkulan sedalam 30 cm (dikeringanginkan selama 15 hari), pembuatan bedengan dengan lebar 80-100 cm serta tinggi 30 cm (lahan kering) dan 60 cm (lahan sawah) dengan lebar parit 30-40 cm, pemberian pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 1,2 ton/ha, persiapan selanjutnya melakukan pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, kemudian dilakukan penugalan untuk pembuatan lubang tanam.

Persiapan Bibit dan Penanaman Budidaya Bawang Merah

Persiapan pembibitan bawang merah membutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kebutuhan benih bawang merah sebanyak 3 kg/ha. Pilih lokasi persemaian yang tanahnya subur dan intensitas cahaya matahari sempurna. Cangkul tanah sedalam 30 cm hingga gembur, kemudian keringanginkan selama 2 minggu. Buat bedengan dengan ukuran lebar 80-100 cm dan tinggi 30 cm. Berikan pupuk kandang yang telah difermentasi sebanyak 2 kg/m2, NPK 15-15-15 sebanyak 10 gram/m2. Buat alur-alur dangkal dengan arah alur memotong panjang bedengan. Jarak antaralur 5-10 cm. Tebar biji bawang merah secara merata pada alur kemudian tutup tipis dengan tanah. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup menggunakan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP), dijaga dalam keadaan lembab.

Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 - 09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 7 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai). Dosis/konsentrasi ½ dosis terendah.

Bibit bawang merah berumur 30 hari siap untuk di tanam. Sebelum ditanam, bibit yang telah dicabut direndam dalam larutan karbofuran (konsentrasi 1 gr/ liter selama 2 jam). Penanaman berjumlah satu tanaman per titik tanam, usahakan posisi berdiri tegak. Jarak tanam ideal untuk musim kemarau 10 cm x 5 cm sedangkan untuk musim penghujan bisa diperlebar 10 cm x 10 cm. Padatkan tanah dekat pangkal batang secara pelan.

KEGIATAN PEMELIHARAAN PADA BUDIDAYA BAWANG MERAH

Penyulaman Budidaya Bawang Merah

Penyulaman dilakukan sampai umur tanaman 2 minggu. Tanaman bawang merah yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Hal ini akan berpengaruh terhadap keseragaman pemanenan.

Sanitasi Lahan dan Pengairan Budidaya Bawang Merah

Sanitasi lahan budidaya bawang merah meliputi : pengendalian gulma/rumput (penyiangan), pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan serta pencabutan tanaman bawang merah yang terserang hama penyakit. Penyiangan dilakukan sebelum melakukan pemupukan susulan baik pemupukan susulan pertama maupun kedua. Penyiangan gulma dapat dicabut secara manual atau menggunakan alat gosrok/landak.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban dua hari sekali selama 15-30 menit tergantung kondisi kelembaban tanah.

Pemupukan Susulan Budidaya Bawang Merah

Pemupukan susulan budidaya bawang merah meliputi pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar diberikan secara larikan, dibenamkan dalam tanah sedalam 10 cm sebanyak 2 kali. Pemupukan pertama dilakukan umur 10 hari setelah tanam (HST) menggunakan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/ha dan pupuk urea sebanyak 50 kg/ha. Pemupukan kedua dilakukan umur 30 HST menggunakan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 200 kg/ha.
Pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 14 hst dengan konsentrasi 2 gr/liter, sedangkan pupuk daun kandungan Phospat serta kalium tinggi diberikan umur 30 hst dan 45 hst. Pemupukan phospat dan kalium tinggi menggunakan pupuk MKP dengan konsentrasi 2 gr/liter pada umur 30 hst, dan konsentrasi 4 gr/lliter pada umur 45 hst.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH

HAMA TANAMAN BAWANG MERAH

Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)

Larva ulat tanah aktif menyerang tanaman bawang merah pada malam hari dengan cara memotong pangkal batang tanaman muda. Sedangkan siang harinya larva ulat bersembunyi di dalam celah-celah tanah, biasanya dengan posisi tubuh melingkar. Pengendalian hama ini secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Hama Putih (Thrips tabaci Lind.)

Siklus hidup thrips berlangsung selama 3 minggu. Di daerah tropis, siklus hidup Thrips hanya berlangsung selama 7-12 hari, sehingga dalam satu tahun dapat mencapai 5-10 generasi. Setiap ekor Thrips betina dapat menghasilkan telur sebanyak 80-120 butir selama hidupnya. Gejala serangan dapat diamati pada daun muda atau pucuk daun. Nimfa dan imago menyerang tanaman bawang merah dengan cara menghisap cairan daun. Bagian tanaman terserang akan ternoda berwarna putih mengkilap seperti perak, kemudian berubah menjadi kecoklatan berbintik hitam. Serangan berat menyebabkan tanaman mati serta umbi yang dihasilkan berukuran kecil bermutu rendah. Pengendalian hama Thrips menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ulat Bawang

Ulat bawang tanaman bawang merah adalah Spodoptera exiqua. Larva ulat bawang menyerang tanaman bawang merah dengan cara membuat lubang pada daun bagian ujung, kemudian masuk ke dalam daun dan memakan daun bagian dalam tetapi epidermis bagian luar tetap dibiarkan, akibatnya daun tersebut tampak bercak-bercak berwarna putih, apabila diterawang tembus cahaya. Jika populasi ulat bawang sangat banyak dapat menyerang umbi bawang merah. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH

Layu Fusarium

Layu Fusarium menyerang tanaman bawang merah pada bagian dasar umbi lapis, sehingga pertumbuhan akar dan umbi bawang merah terganggu. Gejala serangan dapat diamati secara visual, yaitu daun menguning cenderung terpelintir, tanaman mudah dicabut karena akar membusuk. Pada dasar umbi terlihat cendawan putih, sedangkan pada umbi lapis jika dipotong membujur terlihat pembusukan yang berawal dari dasar umbi kemudian meluas ke atas maupun ke samping. Tanaman mati mulai dari ujung daun kemudian menjalar hingga ke pangkal daun. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman bawang merah yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Ngelumpruk

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Stemhylium vesicarium (Wallr Simmons). Gejala serangan penyakit ngelumpruk pada tanaman bawang merah adalah terdapat bercak kekuningan yang tumbuh sangat banyak pada seluruh bagian tanaman. Penyebaran penyakit berlangsung sangat cepat sesuai dengan arah bertiupnya angin di areal pertanaman. Cendawan Stemhylium vesicarium mampu mematikan tanaman secara serentak. Kumpulan tanaman yang mati serentak terlihat seperti tersiram air panas. Pada kondisi kelembaban udara tinggi dan berangin, maka infeksi dapat secara tunggal maupun berasosiasi dengan cendawan Alternaria porri. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Bercak Cercospora

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora duddidae (Walles). Gejala serangan penyakit bercak Cercospora pada tanaman bawang merah adalah terjadinya bercak klorosis pada ujung daun dan sering tampak terpisah dengan infeksi pada pangkal batang. Daun tampak belang-belang. Bercak klorosis berbentuk bulat berwarna pucat dan bergaris tengah 3-5 mm. Pusat bercak berwarna cokelat serta terdapat bintik-bintik yang merupakan konidiofora jamur. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Bercak Alternaria

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Alternaria porri (Ell.) Cif. Gejala serangan penyakit bercak Alternaria pada tanaman bawang merah adalah adanya bercak pada daun dengan pusat bercak berwarna ungu atau lebih gelap. Pada daerah tersebut dapat ditemukan konidiofor yang mampu berkecambah membentuk konidiospora. Infeksi awal pada tanaman bawang merah ditandai adanya bercak berukuran kecil, melekuk ke dalam, berwarna putih dengan pusat bercak berwarna ungu atau abu-abu. Apabila cuaca lembab, bercak berkembang hingga menyerupai cincin, bagian tengahnya berwarna ungu dan tepinya kemerahan serta dikelilingi warna kuning yang dapat meluas. Ujung daun mengering atau bahkan patah. Permukaan bercak pada akhirnya berwarna cokelat kehitaman. Serangan parah berlanjut ke umbi, menyebabkan umbi membusuk berwarna kuning lalu menjadi merah kecokelatan. Umbi membusuk dan berair dimulai dari bagian leher, kemudian jaringan umbi yang terinfeksi mengering serta berwarna gelap. Penyakit bercak daun Alternaria porri dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Embun Bulu

Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Peronospora destructor (Berk) Casp. Serangan cendawan Peronospora destructor bersifat sistemik dan lokal. Gejala serangan penyakit embun bulu pada tanaman bawang merah terjadi pada awal pertumbuhan. Infeksi terlihat terutama saat daun basah terkena embuh, terlihat warna putih menyerupai bulu-bulu halus. Apabila tanaman mampu bertahan hidup, maka pertumbuhannya akan terhambat, daun berwarna hijau pucat. Infeksi pada daun mampu menyebar ke bawah mencapai umbi lapis, kemudian menjalar ke seluruh lapisan hingga berwarna cokelat. Penyakit embun bulu dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Antraknosa

Antraknosa pada tanaman bawang merah adalah cendawan Colletrotichum gloespoiroides Penz. Kerusakan tanaman bawang merah akibar serangan penyakit antraknosa bisa mencapai 50-100%. Penyakit ini sangat berpotensi menimbulkan kegagalan. Gejala serangan dapat dilihat secara fisiologis, tanaman mati serentak secara cepat. Serangan awal ditandai adanya gejala bercak putih pada daun, selanjutnya akan terbentuk lekukan ke dalam (invag1nasi), berlubang dan patah karena terkuai tepat pada bercak tersebut. Jika serangan berlanjut akan membentuk koloni konidia berwarna merah muda, lalu berubah menjadi cokelat tua, dan akhirnya menjadi kehitaman. Umbi akan membusuk serta daun mengering. Penyakit antraknosa dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

PANEN

Tanaman bawang merah dapat dipanen pada umur 60-70 hss di dataran rendah, 80-100 hss di dataran tinggi. Tanaman bawang merah siap panen ditandai sebagai berikut:
  1. Pangkal daun jika dipegan sudah lemah.
  2. 70-80% daun berwarna kuning.
  3. Daun bagian atas mulai rebah.
  4. Umbi bawang merah kelihatan tersembul di atas permukaan tanah
  5. Sudah terjadi pembentukan pigmen merah dan timbulnya bau bawang merah yang khas, serta terlihat warna merah tua atau merah keunguan pada umbi bawang merah.

Panen sebaiknya dilakukan dalam keadaan kering dan cuaca cerah. Untuk menghindari umbi tertinggal dalam tanah, 1-2 hari sebelum panen dilakukan penyiraman terlebih dahulu menggunakan air. Panen dilakukan dengan mencabut seluruh tanaman secara hati-hati, kemudian setiap satu genggam diikat dengan 1/3 daun bagian atas. Pengikatan bertujuan untuk memudahkan penanganan berikutnya.

KANDUNGAN DAN MANFAAT JERUK

Kandungan dan Manfaat Jeruk - Buah jeruk merupakan buah yang paling banyak dijumpai di seluruh kota. Buah ini sudah sangat dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat. Selain enak, buah jeruk juga memiliki banyak manfaat. Namun, dari berbagai jenis jeruk masing-masing mempunyai manfaat yang berbeda-beda.

Jeruk Nipis (Citrus auranfolia)

Jeruk nipis selain mengandung vitamin juga mengandung senyawa kimia antara lain limonen, linalin asetat, geranil asetat, fellandren, sitral, dan asam sitrat. Kandungan dalam 100 gram buah jeruk nipis adalah vitamin C 27 mg, Ca 40 mg, fosfor 22 mg, hidrat arang 12,4 g, vitamin B1 0,04 mg, zat besi 0,6 mg, lemat 0,1 g, kalori 37 kkal, protein 0,8 g, dan air 86 g.

Jeruk nipis bermanfaat menghambat pembentukan kristal oksalat yang merupakan penyebab penyakit batu ginjal. Jeruk nipis juga dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti amandel, sesak napas, influensa, sembelit, batuk, ambien, malaria, demam, disentri, perut mulas saat haid, terlambat haid, bahkan keriput wajah.

Jeruk Lemon (Citrus medica Linn)

Jeruk lemon mengandung bioflavanoid yang berperan sebagai antioksidan pencegah kanker. Flavanoid jeruk lemon berfungsi menghalangi oksidasi LDL sehingga aterosklerosis penyebab penyakit jantung dan stroke bisa dihindari. Jeruk lemon juga kaya akan kandungan serat yang berupa pektin. Pektin ini bermanfaat baik untuk menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida. Selain kandungan flavanoid dan serat, jeruk lemon juga mengandung vitamin C, vitamin B, vitamin E, natrium, dan beberapa mineral mikro yang dibutuhkan tubuh untuk sistem imunitas serta mencegah virus penyebab influenza.

Jeruk Bali (Citrus maxima)




Banyak manfaat yang dapat diperoleh dari mengkonsumsi jeruk bali. Bentuk buahnya yang besar dengan cita rasa yang manis, asam dan segar mampu mengundang selera konsumen untuk mengkomsumsi buah ini. Jeruk bali mengandung flavonoid, pektin dan lycopene yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Kandungan senyawa ini menjadikan jeruk bali mampu mencegah kanker, menurunkan kolesterol, menurunkan resiko penyakit jantung, mencegah anemia, mencegah konstipasi, melancarkan saluran pencernaan serta menjaga kesehatan kulit. Selain kandungan senyawa kimia  tersebut, jeruk bali juga mengandung provitamin A, vitamin B, vitamin B1, vitamin B2 dan asam folat.

Jeruk Manis/Orange (Citrus aurantium)

Jeruk manis/orange mengandung betakaroten dan bioflavanoid yang dapat memperkuat dinding pembuluh darah kapiler. Kandungan flavanoidnya seperti flavanpis berfungsi sebagai antioksidan penangkal radikal bebas penyebab kanker. Falavanoid juga menghalangi reaksi oksidasi LDL yang menyebabkan darah mengental dan mencegah pengendapan lemak pada dinding pembuluh darah. Kandungan pektin jeruk banyak terdapat pada buah dan kulit jeruk. Pektin bermanfaat untuk membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL). Selain itu, jeruk juga kaya akan kandungan gula buah dan serat. Kandungan buahnya bermanfaat untuk memulihkan energi dengan cepat, sedangkan kandungan seratnya membantu memperlancar proses pencernaan dan berfungsi mengikat zat karsinogen dalam saluran pencernaan sehingga mampu membantu menyembuhkan kanker kolon, wasir serta sembelit.

Tiap 100 gram jeruk manis mengandung energi 51 kkal, protein 0,9 g, lemak 0,2 g, karbohidrat 11,4 g, kalsium 33 mg, fosfor 23 mg, besi 0,4 mg, retinol 57 mcg dan asam askorbat 49 mg.

MANFAAT BUAH DAN KULIT MANGGIS

Manfaat Buah dan Kulit Manggis - Queen of fruits – ratu dari segala buah – itulah julukan buah manggis. Buah ini sangat bermanfaat bagi kesehatan maupun kecantikan, terutama bagian buah dan kulit manggis. Apalagi didukung dengan rasa buah manggis yang manis, lezat, serta lembut, membuat buah manggis banyak disukai orang. Semua bagian dari buah manggis kaya akan manfaat, mulai dari daging buah, kulit bahkan biji buah sekalipun, kecuali bagi wanita hamil. Konsumsi buah manggis setiap hari sangat dianjurkan untuk menjaga kesegaran tubuh kita.

Manfaat buah maupun kulit manggis dalam pengobatan ternyata banyak sekali, buah ini diyakini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit mulai dari penyakit ringan seperti mengurangi rasa sakit sampai penyakit berbahaya bahkan mematikan seperti diabetes, kanker, jantung atau arteriosclerosis, alzheimer. Selain itu, manfaat buah maupun kulit manggis juga mampu melawan radikal bebas, menurunkan darah tinggi atau hipertensi, gangguan pencernaan, ginjal, asma, menurunkan kolesterol, gangguan penglihatan, memulihkan stamina, bahkan mencegah penurunan mental.

Manfaat Kulit Manggis Bagi Kesehatan

Bagian utama buah manggis yang paling kaya akan manfaat ternyata terdapat pada kulit buahnya. Dalam kulit manggis mengandung antioksidan, dimana antioksidan ini mampu mencegah timbulnya penyakit. Kulit manggis mengandung xanthone yang bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit kanker p4yud4ra, kanker paru-paru, kanker perut, leukimia, dll. Kadar antioksidan ini mencapai 123,97 mg/ml. Xanthone dapat menangkap radikal bebas serta mencegah kerusakan sel sehingga proses degenerasi sel terhambat. Radikal bebas masuk melalui makanan yang kita konsumsi dan merupakan penyebab utama penyakit kanker, stroke, jantung, dll. Dengan kata lain xanthone selain memiliki manfaat sebagai antioksidan juga bermanfaat sebagai antikanker.
Adanya kandungan antioksidan sangat tinggi pada kulit manggis ini juga menyebabkan buah manggis tidak mudah busuk walaupun diletakkan di atas tanah dalam jangka waktu sangat lama.



Ekstrak kulit manggis selain bersifat antiproliferasi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker seperti pada kanker hati, kanker paru-paru, maupun kanker usus, juga bersifat apoptosis penghancur sel kanker. Xanthone dalam kulit manggis juga memiliki manfaat dalam menyembuhkan penyakit asma, TBC, serta antiinflamasi. Kelebihan bakteri di dalam perut ketika sedang diare dapat diatasi dengan xanthone sehingga kerja perut menjadi seimbang.

Menurut dr. Berna Elya, peneliti Departemen Farmasi Unibersitas Indonesia, antikanker dan antioksidan mujarab mengatasi jantung koroner serta mengatasi HIV, semua itu hanya sebagian kecil dari manfaat kulit manggis yang sering kali tidak dimanfaatkan oleh kebanyakan orang.

Manfaat Manggis Bagi Kesehatan

Buah manggis sangat baik untuk para wanita, kecuali wanita hamil tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi buah ini. Konsumsi buah manggis secara rutin dapat membuat awet muda. Hal ini disebabkan karena adanya kandungan antioksidan yang memiliki manfaat besar dalam menjaga serta memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak karena buah manggis mampu menghancurkan semua penyakit yang menyerang tubuh kita bahkan memperbaiki sistem antibody. Seseorang yang masih muda ketika sedang menderita penyakit degeneratif akan terlihat sangat tua seperti berusia 60 tahunan. Tetapi ketika mengkonsumsi buah manggis secara rutin sampai sembuh wajahnya akan terlihat seperti berumur 30 tahunan. Manfaat buah manggis lainnya adalah sebagai antijamur maupun antibakteri penyebab jerawat. Selain itu, buah manggis juga memiliki manfaat besar untuk mengurangi berat badan, karena kandungan xanthone pada buah manggis mampu melunakkan kembali membran sel yang membesar serta mengeras dalam tubuh kita, serta mengubah zat makanan menjadi energi.

Kandungan lain buah manggis adalah catechins. Catechins mampu melawan radikal bebas dalam tubuh. Catechins ini ternyata lebih efektif melawan radikal bebas dibandingkan dengan vitamin C maupun vitamin E. Xanthone buah manggis juga bersifat sebagai antibakteri sehingga mampu mengatasi gangguan penapasan.

TEKNIK DAN CARA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Teknik dan Cara Budidaya Jamur Tiram - Usaha budidaya jamur tiram seringkali mengalami kegagalan karena teknik dan cara budidaya yang kurang benar. Meskipun gampang, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti lingkungan, kebersihan, serta konsistensi selama perawatan. Jika faktor-faktor tersebut tidak bisa dipenuhi dengan baik maka hasilnya pun kurang optimal bahkan besar kemungkinan berpotensi mendatangkan kegagalan budidaya.

JAMUR TIRAM

Jamur tiram putih berwarna putih agak krem dengan diameter tubuh 3-14 cm. Jamur tiram memiliki miselium. Tubuh buah jamur inilah yang bernilai ekonomis tinggi serta menjadi tujuan dari budidaya. Teknik budidaya jamur tiram mulai dari persiapan hingga pasca panen sangat perlu diperhatikan agar pelaku usaha budidaya benar-benar memahami sehingga lebih menguasai dalam pemeliharaan maupun pengendalian hama jamur tiram.

PERSIAPAN PENANAMAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Hal-hal yang menunjang budidaya jamur tiram harus diperhatikan sebelum melakukan penanaman. Persiapan matang membantu menciptakan suasana kondusif bagi pertumbuhan jamur tiram sehingga menunjang keberhasilan budidaya. Langkah-langkah yang harus dilakukan diantaranya membuat rumah kumbung baglog, rak baglog, menyediakan bibit, serta menyediakan peralatan budidaya. (Bisa Anda lihat di artikel Persiapan Usaha Budidaya Jamur Tiram).
Usahakan selama budidaya menggunakan bibit bersertifikat yang dapat dibeli dari petani lain atau dinas pertanian setempat. Peralatan budidaya untuk jamur tiram cukup sederhana, harga terjangkau, bahkan kita bisa memanfaatkan peralatan dapur.

Pada dataran rendah, modifikasi bahan media jamur tiram serta takarannya dapat mengoptimalkan hasil, caranya yakni mengurangi atau menambah takaran tiap-tiap bahan dari standar umumnya. Pada usaha budidaya skala kecil, perlu juga dilakukan eksperimen atau percobaan dalam menentukan takaran bahan media agar takarannya tepat. Hal ini perlu dilakukan mengingat jamur tiram yang dibudidayakan di lingkungan tumbuh yang berbeda tentu membutuhkan nutrisi maupun media yang berbeda pula tergantung kondisi lingkungan setempat. Hingga saat ini belum ada standar komposisi media untuk budidaya jamur tiram di dataran rendah, sehingga petani memodifikasi media serta lingkungan berdasarkan pengalaman dan kondisi masing-masing.

NUTRISI DAN MEDIA TANAM JAMUR TIRAM




Nutrisi sangat dibutuhkan oleh setiap makhluk hidup untuk melangsungkan setiap proses kehidupannya, tak terkecuali jamur tiram. Pada budidaya jamur tiram, jamur memperoleh nutrisi dari serbuk gergaji, dimana serbuk gergaji ini berfungsi sebagai media tempat tumbuh. Bahan serbuk gergaji yang baik dapat diperoleh dari bahan kayu keras karena serbuk gergaji kayu jenis tersebut sangat berpotensi dalam meningkatkan hasil panen. Dalam kayu keras mengandung selulose dalam jumlah banyak dimana solusose ini sangat dibutuhkan oleh jamur tiram. Beberapa jenis kayu keras yang bisa dimanfaatkan sebagai media tanam antara lain dari kayu sengon, kayu kampung, atau kayu mahoni. Serbuk gergaji sebagai media tumbuh jamur tiram dapat diperoleh dari tempat penggergajian kayu. Sebelum digunakan sebagai media, perlu dilakukan pengomposan terlebih dahulu pada serbuk gergaji agar dapat terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga tersedia serta mudah dicerna oleh jamur tiram. Proses pengomposan serbuk gergaji kayu ini dapat dilakukan dengan cara menutup serbuk gergaji kayu menggunakan plastik atau terpal selama kurang lebih 1 sampai 2 hari. Jika terjadi kenaikan suhu sekitar 50°C berarti pengomposan telah berlangsung baik.

Media tanam jamur tiram sebenarnya tidak hanya berasal dari serbuk gergaji kayu saja, melainkan ada berbagai alternatif pilihan bahan sebagai pengganti serbuk kayu, antara lainnya dapat berasal dari berbagai macam ampas, seperti misalnya ampas kopi, ampas kertas, ampas tebu, atau ampas teh. Meskipun demikian, media yang baik untuk budidaya jamur tiram adalah serbuk gergaji kayu.

Selain serbuk gergaji kayu, media tempat tumbuh juga terdiri dari bekatul (dedak) halus, tepung jagung, kompos, kapur dan air. Media berupa dedak/bekatul dan tepung jagung berfungsi sebagai substrat serta penghasil kalori untuk pertumbuhan jamur. Pastikan bekatul atau dedak maupun tepung jagung masih baru agar media dalam keadaan steril. Penggunaan bahan media yang sudah lama dikhawatirkan pada bahan tersebut sudah terjadi fermentasi yang dapat berakibat tumbuhnya jenis jamur lain yang tidak dikehendaki (terkontaminasi). Substrat dedak/bekatul atau tepung jagung sebenarnya berfungsi sama sehingga jika bahan yang dibutuhkan sulit diperoleh dapat dipilih salah satunya saja. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan dedak maupun tepung jagung memberikan kualitas hasil jamur tiram yang sama karena kandungan nutrisi kedua bahan tersebut hampir sama. Akan tetapi penggunaan dedak dirasa lebih efisien. Penggunaan dedak (bekatul) dapat menekan biaya produksi, selain harganya lebih murah juga mudah didapat karena selama ini dedak masih banyak dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Pemberian kapur (CaCo3) pada media selain berfungsi untuk mengatur keasaman media tanam juga berfungsi sebagai sumber mineral. Keasaman yang sebabkan oleh miselium jamur ini dapat dinetralisir oleh kalsium dalam kapur, sehingga pemberian kapur pada media tanam sangat diperlukan untuk mengoptimalkan hasil panen. Adapun komposisi media semai jamur tiram terdiri dari serbuk gergaji 100 kg; tepung jagung 10 kg; dedak halus atau bekatul 10kg; kompos 0,5kg; kapur (CaCo3) 0,5kg; serta air 50-60%. Media tanam kemudian diletakkan dalam kantong plastik bening tanah panas (PE 0,002) berukuran 20cm x 30cm.

Setelah media tanam siap diisi media, langkah selanjutnya sebelum melakukan penanaman bibit jamur tiram, perlu dilakukan sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog. Mengingat budidaya jamur tiram sangat rentan akan serangan hama penyakit sehingga sterilisasi mutlak diperhatikan oleh pelaku usaha budidaya jamur. Hal terburuk, serangan hama penyakit yang tidak terkendali dapat menggagalkan panen.

STERILISASI BAHAN DAN BAGLOG BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Proses sterilisasi media tanam penting dilakukan mengingat budidaya jamur disamping membutuhkan lingkungan budidaya yang selalu bersih juga media tanam yang benar-benar steril agar hasil panen dapat mencapai optimal serta proses budidaya jamur tiram menghasilkan keuntungan tinggi. Proses sterilisasi media tanam ini meliputi sterilisasi bahan dan sterilisasi baglog. Sterilisasi bahan dilakukan menggunakan oven dengan suhu 100°C. Sterilisasi ini berlangsung selama 6-8 jam untuk diperoleh hasil lebih baik, dengan melakukan pemanasan diharapkan mikroorganisme pengganggu dapat ditekan, selain itu juga bertujuan mengurangi kadar air. Bahan-bahan yang disterilisai berupa serbuk gergaji kayu dan dedak (bekatul). Sebelum dimasukkan ke dalam oven, serbuk gergaji kayu dan dedak ini di campur menjadi satu terlebih dahulu kemudian ditambahkan air bersih sekitar 50-60%, campur bahan hingga benar-benar rata serta kalis agar mudah dikepal. Penambahan air ini berfungsi membantu proses penyerapan nutrisi oleh miselium.

Kemudian bahan-bahan steril tadi dimasukkan ke dalam plastik sambil ditekan-tekan sedikit demi sedikit, perlu diperhatikan bahwa bahan-bahan yang dimasukkan harus sepadat mungkin untuk mengoptimalkan hasil. Semakin padat bahan dalam kantong plastik maka semakin banyak pula hasil produksi jamur tiram, untuk itu pastikan bahwa pemasukan bahan-bahan harus benar-benar padat. Tambahkan cincin paralon atau potongan bambu pada bagian atas kantong plastik terlebih dahulu sebelum akhirnya ditutup menggunakan sumbat kapas dan diikat dengan karet tahan panas. Cara pemasangan cincin paralon atau potongan bambu pada budidaya ini yaitu dengan memasang paralon atau potongan bambu pada bagian atas plastik, lalu masukkan seluruh bagian ujung plastik ke dalam lubang peralon atau potongan bambu, tarik kuat-kuat kemudian lipatlah ujung plastik yang telah masuk ke dalam lubang paralon atau potongan bambu ini ke arah sisi luar. Setelah itu baru ikatlah plastik dengan kuat. Sebagai gambaran, hasil akhir dari proses cara pemasangan paralon atau potongan bambu ini adalah bagian ujung baglog terdapat lubang peralon atau potongan bambu sebagai tempat munculnya jamur tiram.

Setelah dilakukan sterilisasi bahan, proses sterilisasi media tanam selanjutnya adalah sterilisasi baglog. Sterilisasi baglog pada budidaya ini dapat dilakukan dengan dua metode yaitu sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/Steamer dan sterilisasi menggunakan drum minyak. Cara sterilisasi dapat disesuaikan kondisi masing-masing, masing-masing metode memiliki kelebihan maupun kelemahan sendiri-sendiri. Secara prinsip, kedua cara ini dapat menciptakan lingkungan kondusif untuk pertumbuhan jamur tiram.

Sterilisasi Baglog Menggunakan Autoclave atau Pemanas/Steamer
Sterilisasi baglog menggunakan autoclave atau pemanas/steamer membutuhkan waktu relatif sebentar, cukup selama 15 menit saja. Pemanasan cara ini dilakukan pada suhu 121°C. Caranya pun cukup mudah, baglog yang sudah siap serta sudah disteril bahan terlebih dahulu tentunya tinggal dimasukkan saja ke dalam autoclave. Keuntungan sterilisasi baglog menggunakan cara ini adalah dapat menghemat waktu, namun membutuhkan biaya tinggi untuk investasi alat. Meskipun demikian untuk budidaya jangka panjang serta berskinambungan justru akan lebih menguntungkan.

Sterilisasi Baglog Menggunakan Drum Minyak
Sterilisasi baglog menggunakan drum memiliki keuntungan lebih murah jika dibandingkan dengan sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer sehingga dapat menekan biaya produksi. Namun membutuhkan waktu lama dalam proses sterilisasinya. Selain itu, drum minyak pun harus berkapasitas besar agar dapat menampung kurang lebih 50 baglog agar lebih menghemat waktu sehingga juga dapat menekan biaya produksi. Cara sterilisasi baglog menggunakan cara ini sebenarnya juga cukup mudah, yaitu cukup memanaskannya di atas kompor minyak atau api. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk proses pemanasan sekitar 8 jam.

PENDINGINAN

Setelah melakukan proses sterilisasi, baik sterilisasi bahan maupun sterilisasi baglog, langkah selanjutnya adalah proses pendinginan. Pada poses ini, baglog yang sudah disterilisasi tadi, yaitu selama 15 menit untuk sterilisasi menggunakan autoclave atau pemanas/steamer dan 8 jam untuk sterilisasi menggunakan drum, baglog harus didinginkan sebelum dilakukan penanaman. Pastikan baglog sudah menjadi dingin terlebih dahulu sebelum melakukan penanaman, baru setelah benar-benar dingin kemudian dilakukan penanaman bibit jamur tiram.

PERSIAPAN PENANAMAN JAMUR TIRAM

Steril merupakan kunci utama keberhasilan budidaya, untuk itu kebersihan harus tetap terus dijaga serta lebih ditingkatkan. Persiapan sebelum melakukan penanaman jamur tiram terutama sekali adalah dalam hal kebersihan ini, baik kebersihan alat, tempat, maupun tenaga kerja. Tempat penanaman jamur tiram harus disterilisasi terlebih dahulu menggunakan disinfektan untuk mengurangi terjadinya kontaminasi yang tidak diinginkan sehingga budidaya jamur tiram semakin optimal. Alat yang akan digunakan untuk menanam juga harus disterilisasi menggunakan alkohol serta dipanaskan terlebih dahulu. Selain itu, tanaga kerja juga dianjurkan untuk memakai masker penutup terutama penutup hidung dan mulut sehingga kemungkinan terkontaminasi oleh bakteri (mikroorganisme pengganggu) melalui mulut maupun hidung tenaga kerja dapat diminimalisir.

PENANAMAN JAMUR TIRAM

Penanaman jamur tiram dilakukan setelah semuanya dipastikan steril. Selama proses ini perlu diperhatikan suhu serta kelembaban udaranya. Suhu udara kondusif sangat diperlukan untuk menunjang pertumbuhan miselium jamur tiram, suhu yang dibutuhkan berkisar antara 23-28°C, dengan suhu udara optimun pada 25°C. Siram lantai menggunakan air atau semprot lokasi menggunakan tangki sprayer jika cuaca terlalu terik dan berangin. Hal ini dilakukan untuk menurunkan suhu udara pada kisaran suhu ideal. Atur juga sirkulasi udara pada tempat budidaya jamur agar jamur tiram tetap mendapatkan udara segar. Tutup sebagian lubang sirkulasi udara jika angin sedang bertiup kencang. Pastikan kondisi lingkungan tetap kondusif untuk menopang pertumbuhan jamur tiram.

PEMELIHARAAN JAMUR TIRAM

Seperti halnya dalam budidaya lain, pemeliharaan tanaman merupakan faktor penting. Dalam hal ini, pemeliharaan selama budidaya adalah mengenai pengendalian hama penyakit jamur tiram. Hal ini penting sekali mengingat hama penyakit pasti selalu menyerang pada setiap budidaya apa saja terutama di bidang pertanian. Meskipun saat pembuatan baglog sampai penanaman semua media maupun tempat sudah disterilisisai, namun hama penyakit pasti selalu datang di setiap fase. Untuk mengoptimalkan hasil produksi, meminimalisir resiko serta mengendalikan hama penyakit adalah langkah-langkah paling tepat.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Serangan hama dan penyakit antara tempat satu dengan tempat lainnya pada budidaya jamur tiram berbeda-beda, cara pengendalian hama dan penyakit ini pun tentunya tidak sama, tergantung jenis hama maupun penyakit apa yang sedang menyerang. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan yang berbeda-beda pula antara satu tempat dengan lainnya serta kebersihan lokasi budidaya atau rumah kumbung. Selain faktor lingkungan, serangan hama penyakit dapat bersumber dari jamur tiram itu sendiri terutama saat melakukan proses sterilisasi baik saat melakukan sterilisasi bahan media tanam maupun sterilisasi baglog. Dimungkinkan terjadi kesalahan saat melakukan sterilisasi ini sehingga mudah terkontaminasi oleh kondisi lingkungan setempat.

HAMA JAMUR TIRAM

Hama pengganggu selama proses budidaya jamur tiram meliputi hama ulat, kleket, semut, serta laba-laba. Pengamatan setiap hari di lapangan perlu dilakukan agar serangan hama dapat terdeteksi lebih dini sehingga mengurangi resiko kegagalam panen. Berikut ini deskripsi singkat mengenai hama pengganggu berikut cara pengendaliannya:

Ulat

Hama utama jamur tiram adalah hama ulat. Hama ini muncul ketika kelembaban udara tinggi, kebersihan lingkungan tidak terjaga, serta akibat kotoran dari sisa pangkal/bonggol atau tangkai jamur maupun jamur yang tidak terpanen. Pencegahan hama ulat dilakukan dengan mengatur sirkulasi udara untuk mengatur kelembaban, pemanenan lebih hati-hati sehingga tidak banyak pangkal atau batang maupun jamur tiram yang tidak terpanen, serta menjaga kebersihan lokasi kumbung. Pengendalian secara kimiawi dengan melakukan penyemprotan formalin di sekitar lokasi rumah kumbung.

Kleket (sejenis moluska), Semut dan Laba-laba

Pengendalian hama kleket, semut dan laba-laba dapat dilakukan dengan dua cara, baik secara mekanis maupun kimiawi. Secara mekanis, pengendalian hama semut dan laba-laba dapat dengan melakukan pembongkaran pada sarangnya, kemudian disiram menggunakan minyak tanah. Sedangkan hama kleket seringkali dijumpai pada mulut baglog cukup diambing menggunakan tangan. Secara kimiawi, hama tersebut dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida untuk semut dan laba-laba serta pemberian molustisida untuk hama kleket. Namun, pengendalian kimiawi hendaknya dijadikan alternatif terakhir karena produk jamur tiram merupakan produk organik. Selain ramah lingkungan, pengendalian hama kleket, semut maupun laba-laba secara mekanis juga menekan biaya produksi.

PENYAKIT JAMUR TIRAM

Penyakit pengganggu selama budidaya jamur tiram meliputi jamur parasit dan tangkai jamur memanjang. Seperti halnya pada cara pengendaian hama, pengamatan setiap hari di lapangan juga perlu dilakukan agar hasil panen optimal. Berikut ini deskripsi singkat mengenai penyakit beserta cara pengendaliannya:

Jamur Parasit

Seperti telah berulangkali dibahas sebelumnya, bahwa kebersihan merupakan kunci utama keberhasilan budidaya. Rumah kumbung maupun peralatan yang digunakan selama proses produksi harus selalu dalam keadaan steril untuk mengurangi kontaminasi mikroorganisme pengganggu yang tidak diinginkan, bahkan dapat menggagalkan budidaya jamur. Jika kebersihan maupun faktor lingkungan (suhu, kelembaban, dll) kurang mendukung, biasanya sering terjadi pada baglog banyak ditumbuhi penyakit cendawan maupun jamur lain yang tumbuh seiring pertumbuhannya. Missellium cendawan atau jamur parasit tersebut saling berebut untuk melakukan pertumbuhan sehingga sering mengakibatkan pertumbuhan menjadi terhambat, bahkan terkadang menyebabkan tidak tumbuh. Jamur parasit ini berisifat patogen, gejalanya ditandai munculnya miselium berwarna kuning, hijau, hitam, disertai lendir pada substrat. Jamur parasit yang biasa menyerang selama proses budidaya adalah Penicillium sp., Rhizopus sp., Aspergillus sp., serta Mucor sp.. Jamur ini menyerang substrat atau baglog dengan cara tumbuh bersaing dengan tanaman pokok. Penyakit ini menyerang baglog tertutup maupun terbuka. Pengendalian jamur penganggu dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan yang berhubungan dengan proses budidaya (baik kumbung, baglog, peralatan, maupun tenaga kerja), musnahkan baglog terserang jamur parasit dengan cara dibakar, serta mengatur kelembanan udara di sekitar lokasi kumbung.

Tangkai Jamur Memanjang

Penyakit tangkai jamur memanjang merupakan penyakit fisiologis yang sering dijumpai selama prses budidaya, ditandai tangkai jamur tiram memanjang dengan tubuh jamur kecil tidak dapat berkembang maksimal. Penyakit tangkai memanjang disebabkan karena kelebihan CO2 akibat ventilasi udara kurang sempurna. Pencegahan penyakit tangkai memanjang adalah mengatur ventilasi seoptimal mungkin pada rumah kumbung sehingga sirkulasi udara berjalan sempurna sesuai kebutuhan pertumbuhannya.

PANEN JAMUR TIRAM

Kegiatan ini merupakan hasil akhir dari proses budidaya yang sangat dinanti-nantikan oleh para petani. Mereka bisa tersenyum senang manakala hasil budidaya jamur tiram menuai keberhasilan, sebaliknya bahkan bisa menangis penuh kesedihan manakala hasil panen jamur tiram tak sesuai harapan. Pemanenan jamur tiram ini dilakukan secara bertahap. Pada prinsipnya, jamur tiram siap panen sudah berukuran cukup besar dengan tepi meruncing tetapi belum mekar penuh (belum pecah). Namun, dapat juga disesuaikan dengan permintaan pasar. Panen biasanya dilakukan saat berumur 40 hari setelah pembibitan. Pada kondisi ini, tubuh jamur tiram sudah berkembang maksimal, berkisar antara 3 mingguan dari saat buah jamur terbentuk.

PENANGANAN PASCA PANEN JAMUR TIRAM

Setelah pemanenan selesai dilakukan, masih memerlukan proses penangan lebih lanjut untuk meningkatkan keuntungan. Penanganan ini disesuaikan dengan permintaan pasar tujuan. Upaya penanganan pascapanen biasanya meningkatkan hasil antara 25%-100% tergantung kesepakatan maupun pasar tujuan. Untuk mendapatkan produk berkualitas baik serta memenuhi kriteria permintaan pasar modern, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti di bawah ini:

Pencucian

Penggunaan pestisida dalam budidaya jamur tiram mungkin belum bisa dihindari oleh para petani baik petani hortikultura maupun petani jamur tiram. Hal ini sangat dimaklumi karena kesadaran masyarakat kita masih sangat rendah baik di tingkat konsumen maupun petani, ditambah perekonomian masyarakat juga masih sangat rendah. Mayoritas konsumen di Indonesia menginginkan produksi pertanian berkualitas super bahkan organik tetapi dengan harga murah, sedangkan para petani menginginkan produktivitas tinggi dengan sedikit resiko karena harga jualnya juga rendah sehingga mereka tetap berorientasi mencari laba atau keuntungan. Suatu masalah yang sangat bertolak belakang, dan perlu dicarikan titik temu. Namun, bagi para petani jamur tiram, ada cara untuk meminimalisir hasil panen dari residu pestisida, yaitu melakukan pencucian menggunakan air bersih sehabis panen, kemudian pangkal jamur dipisahkan dari tubuhnya. Biasanya residu pestisida mengendap pada pangkal batang ini, sedangkan pada tubuh buah jamur tiram residu pestisida diminimalisir oleh pencucian tersebut.

Sortasi Hasil Panen

Setelah dilakukan pencucian, langkah selanjutnya pada proses pascapanen adalah penyortiran atau sortasi. Keseragaman hasil merupakan syarat utama untuk pemasaran agribisnis modern, baik keperluan ekspor maupun supermarket. Sortasi atau penyortiran dilakukan dengan memisahkan bentuk maupun ukuran tertentu. Biasanya masing-masing pasar menentukan standar ukuran berbeda-beda, disesuaikan tingkat kebutuhan konsumen setempat.

Pengemasan dan Transportasi

Masalah penting dalam penangan pascapanen adalah pengemasan (packing) maupun transportasi, karena model pengemasan merupakan salah satu bagian penting untuk mendongkrak keuntungan. Pada pasar modern masalah pengemasan bahkan mampu meningkatkan harga jual hingga 100% tergantung permintaan konsumen. Untuk keperluan ini, jamur tiram segar dikemas menggunakan plastik kedap udara. Pengemasan semacam ini bertujuan meminimalisir resiko kerusakan, semakin sedikit udara di dalam plastik, maka semakin tahan lama untuk disimpan. Tidak hanya itu, penggunaan plastik kedap udara bahkan dapat mempertahankan kesegaran jamur tiram selama 2 sampai 4 hari. Sedangkan untuk pengangkutan jarak jauh, alat transportasi sebaiknya menggunakan ruangan pendingin agar kestabilan kesegarannya tetap terjaga sehingga meminimalisir resiko.

Demikian artikel mengenai teknik dan cara budidaya jamur tiram, semoga dapat membantu menyelesaikan masalah-masalah para petani atau pelaku usaha budidaya jamur. Dapatkan dukungan teknis dari partner kami, semoga bermanfaat. Salam Tanijogonegoro!

Dukungan Teknis: Rois Efendi - 0852 3875 5088 - PIN BB 76339A3D


Budidaya Jamur

Budidaya Jamur memang sedang marak akhir-akhir ini. Disamping teknik budidayanya mudah, kegiatan budidaya jamur juga dapat dilakukan di rumah, misalnya di salah satu ruangan. Oleh karena itulah budidaya jamur menjadi berkembang begitu pesat. Tak mengherankan jika budaya jamur, terutama jamur tiram terus mengalami pertumbuhan, bahkan bukan tidak mungkin jika di kemudian hari kegiatan budidaya jamur mampu memberikan sumbangsih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pertimbangan fenomena tersebut, maka pemerintah melalui instansi terkai, terus melakukan pembinaan dan penyuluhan kepada para petani budidaya jamur. Banyak pilihan varietas jamur yang bisa dibudidayakan, seperti jamur tiram, jamur kuping, dll. Diantara varietas-varietas tersebut, jamur tiram merupakan komoditas yang paling banyak dibudidayakan. Disamping lebih mudah dan tahan penyakit, cita rasa jamur tiram juga banyak digemari di berbagai kalangan.

Budidaya Jamur Tiram

Merebaknya kegiatan budidaya jamur tiram membuat sektor usaha ini banyak dibicarakan oleh berbagai kalangan. Bahkan di dunia online sendiri artikel-artikel tentang budidaya jamur tiram sangat banyak, bertebaran di mana-mana. Jamur tiram memiliki beberapa varietas, seperti jamur tiram putih dan jamur tiram merah. Kegiatan budidaya jamur tiram memang cukup mudah dilakukan, sehingga masyarakat mulai berbondong-bondong untuk mencari tambahan penghasilan dengan melakukan budidaya jamur tiram. Demikian merebaknya kegiatan budidaya jamur tiram, sehingga membuat banyak pihak ikut terlibat, tak terkecuali lembaga keuangan. Ya,, lembaga keuangan memang mulai melirik sektor usaha budidaya jamur tiram, dengan menyelenggarakan fasilitas permodalan bagi para pengusaha budidaya jamur tiram. Hal ini tentu saja memberikan angin segar bagi tumbuhkan kegiatan usaha budidaya jamur tiram. Terlebih lagi pemasaran hasil produksi juga cukup mudah,, baik di pasar-pasar tradisional maupun pasar modern.

Cara Menanam Jamur

Artikel ini berisi tentang teknik atau cara untuk menanam jamur. Lengkap dengan berbagai hama/penyakit yang biasa menyerang jamur. Kunjungan Anda ke tanijogonegoro.com memang sangat tepat. Disamping menemukan informasi yang dibutuhkan, juga akan mendapatkan tambahan informasi lain, terutama tentang bagaimana cara menanam jamur tiram. Ya, telah dibahas sebelumnya, bahwa jamur tiram merupakan salah satu spesies jamur yang paling banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Dengan pertimbangan itulah, kami menyusun secara detail bagaimana cara menanam jamur tiram.

Kegiatan Budidaya Jamur Tiram

Kegiatan budidaya jamur tiram menyangkut berbagai aspek, mulai dari persiapan pembuatan rumah jamur atau yang disebut dengan kumbung, perisapan media tanam atau sering disebut baglog, persiapan benih dan bibit jamur, persiapan peralatan budidaya, proses pelaksanaan kegiatan budidaya, pemeliharaan jamur tiram, pemanenan jamur tiram, hingga penanganan pasca panen dan tentu saja pemasaran jamur tiram. Secara umum, kegiatan budidaya jamur tiram bisa didefinisikan sebagai upaya untuk mengelola, memelihara, dan memperbanyak jamur tiram dengan tujuan untuk mencari keuntungan atau laba usaha. Tidak mungkin suatu kegiatan budidaya yang dilakukan baik oleh petani maupun pengusaha, dapat berjalan sesuai dengan rencana dan target yang telah ditetapkan, jika teknik dan cara budidaya yang dilakukan tidak tepat.

Jamur Tiram

Seperti telah dibahan di muka, bahwa jamur tiram merupakan jenis jamur yang sangat populer, baik di kalangan pembudidaya maupun konsumen. Cita rasa jamur tiram yang lezat memang menjadi salah satu faktor sehingga jamur tiram lebih disukai dibanding jenis jamur lain. Selain itu, jamur tiram juga mudah dibudidayakan, sehingga pasokan pasar tersedia dan tidak terbatas. Banyaknya pasokan jamur tiram tentu menjadikan harga komoditas ini semakin terjangau. Dengan permintaan yang tinggi, sehingga bisa dikatakan bahwa harga jamur tiram sangat stabil. Oleh karena itulah para pembudidaya jamur banyak yang memilih jenis jamur tiram sebagai komoditas utamanya.

Jamur Tiram Putih

Jamur Tiram Putih merupakan varietas jamur tiram yang paling banyak ditemukan, terutama di Indonesia. Jamur Tiram Putih umum dibudidayakan oleh para pelaku usaha karena memang varietas ini mudah ditemukan di Indonesia. Bibit jamur tiram putih juga banyak dibudidayakan oleh para penyedia bibit. Untuk mencari bibit jamur tiram putih, Anda bisa menghubungi tim teknis kami. Jamur Tiram Putih secara fisik memang lebih menarik dibanding dengan jamur tiram merah, oleh karena itulah jamur tiram putih lebih banyak dibudidayakan, karena pangsa pasarnya luas.

Cara Budidaya Jamur Tiram

Kupas Tuntas Tentang Teknik Budidaya Jamur Tiram

Tak salah lagi jika Anda berkunjung ke tanijogonegoro untuk mencari referensi tentang budidaya jamur tiram. Artikel ini secara detil membahas tentang berbagai aspek yang perlu dilakukan dalam kegiatan budidaya jamur tiram. Kami akan merinci secara sistematis setiap kegiatan, sehingga Anda bisa memperoleh informasi yang jelas tentang teknik budidaya jamur tiram. Setiap pokok bahasan kami uraikan secara detail, mulai dari persiapan, pelaksanaan budidaya, hingga pemasaran hasil produksi jamur tiram. Tanijogonegoro akan mengupas secara tuntas setiap proses dalam kegiatan budidaya jamur tiram.

PERSIAPAN USAHA BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Persiapan Usaha Budidaya Jamur Tiram pada dasarnya merupakan faktor penting yang berperan dalam menunjang kesuksesan usaha budidaya jamur tiram. Tanpa persiapan matang, bisa jadi usaha agribisnis budidaya jamur yang kita kembangkan menjadi berantakan. Salah satu cara mengantisipasi kemungkinan timbulnya resiko kegagalan budidaya, alangkah baiknya jika sebelum pelaksanaan usaha budidaya ini, terlebih dahulu petani atau pelaku usaha jamur tiram melakukan beberapa langkah persiapan matang.

LANGKAH-LANGKAH PENTING SEBELUM BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Seperti telah diuraikan di atas, langkah-langkah ini dimaksudnya agar proses budidaya berjalan lancar tanpa kendala berarti di lapangan. Bagaimanapun juga peluang bisnis usaha budidaya jamur saat ini masih terbuka lebar, sehingga diharapkan hasil produksi mencapai titik optimal. Berikut langkah-langkah awal sebelum melakukan proses produksi:

Pemilihan Lokasi Budidaya Jamur Tiram

Usaha budidaya jamur sebenarnya sangat mudah, hanya saja terkadang penyebab utama kegagalan ada pada kebersihan lingkungan. Kebersihan lingkungan menjadi syarat utama harus diperhatikan, mengingat budidaya jamur baik budidaya jamur kuping, tiram maupun lainnya sangat rentan terhadap kelembaban tinggi. Langkah pertama sebelum memulai usaha budidaya jamur tiram, kita perlu memperhatikan lokasi usaha, diusahakan lokasi usaha tidak dekat kandang ternak, tempat pembuangan sampah maupun tempat-tempat lain yang berpotensi mendatangkan hama penyakit. Pilih tempat-tempat bersih serta strategis supaya memudahkan pengangkutan saat panen sehingga dapat menghemat biaya transportasi.

Bagi usaha budidaya jamur tiram skala rumah tangga, lingkungan rumah juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat usaha, asalkan kebersihannya harus tetap terjaga. Kunci utama usaha ini hanyalah faktor kebersihan lingkungan serta menjaga suhu udara konstan agar produksi optimal dapat tercapai.

Rumah atau Kumbung Jamur Tiram




Jika memilih lokasi di luar rumah maka harus dibuatkan rumah khusus untuk budidaya jamur, biasa disebut kumbung. Bentuk maupun bangunan kumbung disesuaikan kondisi lahan, biaya, daya tampung baglog. Sebagai contoh dalam menentukan ukuran rumah atau kumbung, untuk kapasitas baglog sebanyak 500-1500 diperlukan rumah kumbung berukuran 6 x 4 m. Mengingat faktor terpenting penunjang keberhasilan usaha budidaya jamur tiram adalah kelembaban maupun kebersihan. Rumah atau kumbung idealnya harus memenuhi kelembaban optimal bagi pertumbuhan jamur, sedangkan kebersihan menjadi syarat mutlak dalam mencegah serangan hama penyakit pengganggu.

Pembuatan Rak Baglog Budidaya Jamur Tiram

Untuk mempermudah pekerjaan, baik saat pemeliharaan maupun pemanenan, serta menaruh media jamur, pada rumah kumbung dibuatkan rak tempat meletakkan baglog. Rak-rak ini bisa terbuat dari bambu semua atau kombinasi bambu-kayu. Pembuatan rak baglog disesuaikan kondisi usaha saja, bagi skala rumah tangga cukup menggunakan rak dari bambu agar biaya produksi dapat ditekan, sedangkan usaha budidaya jamur dalam skala besar berjangka panjang, pembuatan rak baglog menggunakan kombinasi bambu kayu juga akan menghemat biaya. Buat lapisan-lapisan rak paling banyak 5 lapis untuk satu unit rak. Hal ini bermaksud agar memudahkan pemeliharaan, jika terlalu tinggi justru para pekerja akan kesulitan menjangkaunya, menyebabkan pekerjaan menjadi semakin lama (berakibat terhadap pembengkakan biaya pemeliharaan). Satu lapis rak dibuat panjang 300 cm, lebar 40 cm, serta tinggi 40 cm. Pada ukuran ini mampu menampung kurang lebih 60 baglog. Jadi, satu unit rak (terdiri dari 5 lapis), mampu menampung sebanyak 300 baglog.

Lapisan rak paling bawah jaraknya diperlebar menjadi 30-35 cm dari permukaan tanah. Hal ini bertujuan menjaga kelembaban udara pada lapisan rak paling bawah, sirkulasi udara menjadi lancar sehingga perkembangbiakan hama penyakit dapat ditekan, terutama jika lantai dasarnya masih berupa lantai tanah. Jarak antarrak baglog 1 m juga agar memudahkan saat melakukan pemeliharaan serta pemanenan.

Persiapan Media Budidaya Jamur Tiram

Media tanam budidaya jamur banyak sekali jenisnya, tergantung bagaimana mudahnya kita memperoleh bahannya saja. Media dapat berupa substrat kayu, serbuk gergaji, ampas tebu, maupun sekam. Pembuatan media tanam berisi campuran dari media ditambahkan nutrisi berupa tepung jagung, air, dedak halus, air, gips atau kapur (CaCo3). Media tanam kemudian dimasukkan dalam kantong plastik sampai penuh, lalu dimasukkan pralon atau bambu berdiameter 3 cm kemuadian baru diikat dengan kuat. Media jadi tersebut dinamakan baglog. Namun, kebanyakan para pelaku usaha jamur tiram membeli baglog siap pakai dikarenakan butuh ketrampilan, kebiasaan serta ketelitian tinggi dalam membuat baglog sendiri.

Bibit Jamur Tiram

Pada umunya para petani kesulitan membuat bibit sendiri sehingga banyak diantara mereka memperoleh bibit dengan cara membeli bersama baglognya. Selain membeli bibit bersama baglog, bibit dapat diperoleh melalui berbagai cara, diantaranya melalui pembuatan kultur murni, pembuatan bibit induk, serta bibit semai. Pembuatan kultur murni membutuhkan teknik khusus karena cara pembuatan bibit jamur tiram kultur murni rawan terkontaminasi, biasanya pembuatan bibit kultur murni dilakukan oleh para peneliti atau petani jamur profesional yang memang telah memahami teknik pengkulturan/isolasi. Pembuatan kultur murni menggunakan media khusus berupa PDA (potatoes dextrose algae) serta pembuatannya dilakukan dalam kotak inokulasi. Pembuatan kultur murni membutuhkan lingkungan kondusif serta sangat steril.

Pembuatan bibit dengan cara pembuatan bibit induk pada dasarnya sama dengan pembuatan bibit semai, perbedaannya hanyalah pada komposisi media maupun inokulannya. Pada pembuatan bibit induk, inokulan menggunakan kultur murni, sedangkan inokulan untuk bibit semai adalah bibit induk.

Saat ini para petani tidak perlu khawatir lagi dalam memperoleh bibit, karena kini telah banyak pengusaha jamur mulai menjual bibit sudah dalam kemasan baglog siap pakai, bahkan kebanyakan sudah disertifikasi. Jadi bibit sudah ditanam di dalam baglog bahkan sudah siap dilanjutkan dalam proses budidaya jamur hingga panen. Kebanyakan para petani memperoleh bibit dengan cara ini meskipun biaya produksinya menjadi lebih mahal.

Meskipun demikian, cara ini ada baiknya dilakukan untuk petani pemula atau pelaku usaha jamur skala rumah tangga. Jika sudah menguasai teknik budidaya serta usaha budidaya jamurnya sudah tergolong besar, lebih baik mengupayakan penekanan biaya produksi dengan pembuatan bibit sendiri.

Faktor Lingkungan yang Mempengaruhi Pertumbuhan Jamur Tiram

Budidaya jamur tiram membutuhkan lingkungan spesifik agar menghasilkan produksi optimal. Ada banyak faktor keberhasilan budidaya, salah satunya adalah lingkungan pertumbuhan harus kondusif. Pertumbuhan diawali munculnya pertumbuhan miselium, miselium kemudian membentuk tunas atau calon tubuh buah jamur (pin head), lebih lanjut akan berkembang menjadi tubuh buah (jamur). Untuk menciptakan lingkungan kondusif bagi pertumbuhan miselium maupun tubuh jamur ini, perlu diperhatikan faktor-faktor seperti suhu, intensitas cahaya matahari, keasaman (pH), kelembaban maupun oksigen.

Suhu udara kondusif untuk menunjang pertumbuhan miselium maupun tubuh jamur tiram berkisar antara 23-28°C dengan suhu optimum 25°C. Meskipun demikian, dengan modifikasi komposisi media maupun penyesuaian lingkungan, saat sekarang telah banyak budidaya jamur tiram yang dikembangkan di dataran rendah dengan kisaran suhu di atas 28°C, di daerah ini tubuh jamur dapat tumbuh baik pada suhu 30°C. Bahkan hasil panennya pun tidak kalah dengan budidaya di dataran menengah maupun tinggi, dengan kualitas tubuh buah berdaya adaptasi lebih baik, jamur telihat lebih segar, serta saat panen berbau lebih harum. Intensitas cahaya matahari diperlukan selama proses budidaya jamur tiram, khususnya saat pembentukan tubuh. Pada dasarnya penyinaran cahaya matahari tidak secara langsung dan menyebar merupakan cahaya yang baik bagi pertumbuhan jamur. Penyinaran cahaya matahari langsung bisa mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan miselium atau merusak tubuh buah yang sudah terbentuk. Derajat keasaman (pH) yang tepat memungkinkan jamur tumbuh optimal. Untuk budidaya ini membutuhkan kisaran pH 5-7. Lingkungan terlalu asam atau terlalu basa justru akan menghambat pertumbuhannya.

Selain faktor suhu, intensitas cahaya matahari, serta keasaman (pH), faktor lain seperti kelembaban dan oksigen sangat mempengaruhi keberhasilan budidaya jamur. Substrat harus tetap terjaga dalam kondisi lembab bahkan jangan sampai mengering karena akan berpengaruh terhadap hasil produksi. Kelembaban udara selama pertumbuhan bibit maupun pertumbuhan tubuh jamur tiram ideal adalah 90%. Salah satu cara untuk menjaga agar kelembaban tetap terjaga adalah melakukan penyiraman lantai ruangan budidaya menggunakan air bersih di saat pagi maupun sore hari, atau dengan cara penyemprotan air menggunakan tangki sprayer. Jamur merupakan tanaman saprofit semiaerob sehingga membutuhkan asupan oksigen dalam jumlah cukup untuk menopang pertumbuhannya. Jika oksigen tersedia dalam jumlah terbatas bisa menyebabkannya menjadi layu, akibat lebih lanjut akhirnya mati.

Sarana Pendukung Budidaya Jamur Tiram

Sarana pendukung dalam melakukan usaha budidaya jamur berupa peralatan dan bahan untuk membantu selama proses produksi, mulai dari penanaman hingga pascapanen. Peralatan atau bahan pendukung tersebut antara lain plastik (PE 0,002) berukuran 20 cm x 30 cm, cincin paralon, alkohol, pembakar bunsen, alat sterilisasi baglog berupa drum/oven/autoclave, termometer, barometer, sprinkle bernozle halus, fungisida (bila menggunakan plastik pengemas), serta vacuum sealer.

MEMBUAT PUPUK ORGANIK (KOMPOS) CAIR DARI LIMBAH RUMAH TANGGA

Membuat kompos dari limbah atau sampah rumah tangga merupakan suatu upaya untuk mengurangi menumpuknya sampah yang dapat mencemari lingkungan. Teknologi yang diterapkan untuk membuatnya sangat mudah, yaitu dengan menggunakan suatu alat yang dapat mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan organik dan memanfaatkan aktivitas dan peran mikroba dekomposer, sehingga dapat dihasilkan produk akhir yang bermanfaat. Dengan demikian, upaya pengelolaan sampah menjadi sesuatu yang lebih berdayaguna dapat direalisasikan.

MEMBUAT PUPUK ORGANIK (KOMPOS) CAIR

Setiap orang tidak menginginkan tinggal di tempat yang banyak sampahnya, karena bau yang menyengat dari sampah membuat kita tidak merasa terganggu. Apalagi jika kesadaran masyarakat untuk mengurangi produksi sampah masih sangat rendah. Tentu saja hal ini membutuhkan suatu penanganan serta pembinaan yang serius.

Produksi sampah yang sangat tinggi merupakan suatu keniscayaan akibat pola konsumsi masyarakat yang cenderung untuk memilih produk-produk yang menghasilkan sampah. Pada saat yang sama juga diikuti dengan sitem penawaran barang dalam kemasan, sehingga berpotensi untuk menimbulkan sampah. Belum adanya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemisahan antara sampah organik dan sampah anorganik membuat pengelolaan sampah mengalami suatu kendala yang berarti. Sangat jarang warga yang menggunakan tempat sampah berbeda untuk memisahkan >sampah organik dan anorganik.

Pengelolaan sampah tidak bisa hanya menggantungkan peran pemerintah, tetapi juga dibutuhkan partisipasi masyarakat. Kesadaran masyarakat akan pentingnya pengololaan sampah ini harus mulai ditumbuhkan. Dimulai dengan kesadaran untuk memisahkan sampah organik dan anorganik, sehingga dapat mengurangi dampak pencemaran sampah terhadap lingkungan. Selain untuk mengurangi resiko pencemaran lingkungan, pengelolaan sampah juga bertujuan untuk mengasilkan sesuatu yang lebih berdayaguna. Sampah-sampah anorganik bisa dikelola dengan teknologi daur ulang sehingg dapat menghasilkan berbagai macam barang yang bermanfaat. Sementara itu, sampah basah atau sampah organik bisa dikelola dan dimanfaatkan sebagai pupuk, bioetanol, biogas, maupun biodiesel.

Untuk mengelola sampah rumah tangga menjadi pupuk organik, maka pada artikel ini akan diuraikan bagaimana teknologi sederhana yang dapat diterapkan oleh masyarakat. Terutama mengenai teknik pengolahan sampah atau limbah rumah tangga menjadi kompos cair.

Peralatan yang Dibutuhkan untuk Membuat Kompos Cair




Peralatan utama yang dibuthkan untuk membuat kompos cari dengan bahan dasar sampah atau limbah rumah tangga ini sering disebut dengan istilah komposter. Komposter ini merupakan tempat dilakukannya proses dekomposisi yang biasanya terbuat dari tong sampah plastik atau kotak semen yang telah dimodifikasi sedemikian rupa dan dapat diletakkan baik di dalam maupun di luar ruangan. Jika komposter tersebut diletakkan di dalam ruangan, maka lubang udara yang dibuat sebaiknya disambung dengan pipa yang mengarah ke luar, sehingga bau menyengat yang ditimbulkan selama proses dekomposisi tidak menyebar ke dalam ruangan.

Komposter sebagai tempat melakukan proses dekomposisi bahan-bahan organik yang dimasukkan ke dalamnya, dengan bantuan mikroba aktifator kompos atau sering disebut sebagai mikroba dekomposer, dapat mengubah sampah atau limbah rumah tangga menjadi kompos hanya dalam waktu 10-12 hari. Mikroba dekomposer tersebut banyak dijual di pasaran, dengan berbagai merk, baik dalam bentuk ragi, bakteri, maupun fungi.

Komposter yang dibuat dengan dilengkapi instalasi udara di dalamnya akan mempercepat proses penguraian sampah atau limbah-limbah organik dengan suatu proses dekomposisi yang dilakukan secara aerob. Instalasi udara di dalam komposter selain berfungsi sebagai penyuplai oksigen, juga berfungsi sebagai pengatur kelembaban dan suhu di dalam komposter, sehingga aktivitas mikroba dekomposer yang dimasukkan ke dalamnya dapat bekerja dengan baik. Dengan teknik dekomposisi menggunakan komposter ini, proses pengambilan lindi atau air sampah dapat dilakukan dengan mudah, karena komposter didesain agar dapat memisahkan antara kompos pada dan kompos cair. Bagaimana membuat komposter yang dapat berfungsi sebagai wadah pengomposan ini? Berikut ini kami uraikan secara sederhana langkah-langkah pembuatn komposter.

Alat Dan Baham Pembuatan Komposter

  1. Tong plastik bekas ukuran 20 liter, 1 buah
  2. Pipa paralon ukuran panjang 13 cm dengan diameteri 1 inchi, 2 buah
  3. Pipa paralon ukuran panjang 10 cm dengan diameteri 1 inchi, 1 buah
  4. Pipa paralon ukuran panjang 9 cm dengan diameteri 1 inchi, 1 buah
  5. Sambungan pipa berbentuk T, 1 buah
  6. Sambungan pipa berbentuk L, 1 buah
  7. Kran plastik, 1 buah
  8. Kasa Plastik>
  9. Lem PVC
  10. Meteran
  11. Bor
  12. Pemotong pipa, bisa menggunakan gergaji>
  13. Pipa besi berukuran 1 inchi

Cara Membuat Kompos Cair

  1. Buat dua lubang udara menggunakan pipa besi yang dipanaskan di sisi kanan dan kiri tong plastik, atau pada sisi yang berseberangan, dengan diameter disesuaikan dengan diameter pipa paralon.
  2. Buat satu lubang lagi yang terletak kurang lebih 10 cm di bawah lubang pertama menggunakan pipa besi yang dipanaskan. Diameter lubang disesuaikan dengan diameter pipa paralon, sedangkan posisi lubang bisa terletak pada sisi diantara dua lubang di atas.
  3. Buat lubang-lubang kecil menggunakan bor di badan pipa paralon berukuran 13 cm dan 10 cm. Bungkus lubang-lubang kecil tersebut menggunakan kasa plastik dengan rapi.
  4. Langkah selanjutnya adalah pemasangan instalasi udara di dalam komposter, dimulai dengan memasang kedua pipa paralon berukuran 13 cm pada lubang kanan dan kiri tong plastik. Kedua pipa paralon tersebut dimasukkan dari arah dalam tong plastik hingga keluar sekitar 3 cm dari dinding tong plastik sehingga panjang pipa paralon di bagian dalam sekitar 10 cm.
  5. Kedua ujung pipa paralon yang mencuat keluar tong plasting ditutup dengan kasa plastik. Cara penutupannya dengan memberikan lem PVC di ujung pipa dan tempelkan kasa plastik tersebut dengan rapi.
  6. Kedua pipa berukuran 13 cm yang berada pada sisi bagian dalam tong plastik disambung dengan sambungan pipa berbentuk T dengan salah satu kaki sambungan pipa menghadap ke bawah.
  7. Dari kaki sambungan pipa berbentuk T yang menghadap ke bawah tersebut disambung dengan pipa paralon berukuran 10 cm.
  8. Kemudian pada ujung bagian bawah pipa paralon berukuran 10 cm tersebut disambung dengan sambungan pipa berbentuk L dengan salah satu ujung sambungan pipa berbentuk L tersebut menghadap ke lubang ketiga.
  9. Dari sambungan pipa berbentuk L disambung pipa paralon berukuran 9 cm mengarah ke lubang ketiga, kemudian sambungkan dengan kran plastik dari bagian luar.
Demikian pembuatan komposter telah selesai dan siap digunakan. Teknik tersebut bisa diaplikasikan untuk pembuatan komposter kapasitas besar, tinggal ukuran pipa paralon untuk instalasi udara yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Teknik Pengomposan

Seperti diuraikan di atas, alat yang dibutuhkan untuk membuat pupuk organik cair adalah komposter. Komposter ini merupakan alat yang bisa digunakan untuk mengolah semua jenis limbah organik rumah tangga menjadi kompos baik dalam bentuk padat maupun cair. Jadi semua sampah yang tergolong limbah organik bisa digunakan sebagai bahan, seperti sisa sayur, buah, sisa makanan, sisa dapur, bahkan limbah organik dari kebun.

Semua bahan dirajang atau dicincang terlebih dahulu agar proses dekomposisinya lebih cepat dan sempurna. Selain itu potongan yang kecil-kecil bisa memaksimalkan kapasitas atau daya tampung komposter. Siapkan bio aktivator atau mikroba dekomposer untuk membantu proses penguraian bahan-bahan organik, sehingga proses dekomposisi dapat berlangsung lebih cepat. Agar mikroba dekomposer dapat bekerja lebih optimal, sebaiknya ditambahkan air cucian beras dan gula merah untuk menambah energi mikroba dekomposer tersebut. Larutkan mikroba dekomposer dengan 1 liter air. Konsentrasi larutan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan produk mikroba dekomposer yang digunakan. Setiap merk dagang memiliki rujukan yang berbeda-beda dalam penetapan standar larutan. Masukkan semua bahan ke dalam komposter yang sudah disiapkan sedikit demi sedikit sambil disiram larutan mikroba dekomposer, sehingga pemberian aktivator bisa merata keseluruh bahan. Setelah semua bahan dimasukkan lalu tutup rapat-rapat komposter tersebut.

Pada awal pemakaian komposter baru bisa menghasilkan air lindi atau kompos cair dalam waktu dua minggu. Selanjutnya pengambilan lindi dapat dilakukan dalam waktu 2-3 hari sesuai kebutuhan. Pengambilan air lindi hanya sebatas kran, karena air lindi di bawah kran dibiarkan saja untuk membantu proses dekomposisi. Air lindi tersebut sudah banyak mengandung mikroba aktivator sehingga dapat digunakan untuk melakukan pengomposan.

Air lindi yang sudah diambil sebaiknya dicampur lagi dengan mikroba dekomposer agar kandungan mikrobanya lebih banyak. Berikan 10 ml mikroba dekomposer per liter air lindi. Diamkan selama 2-3 hari, setelah itu pupuk organik cair siap untuk diaplikasikan. Pupuk organik cair tersebut bisa disimpan selama 1-2 bulan.

Setelah proses pengomposan awal berjalan, selanjutnya sampah atau limbah organik bisa dimasukkan setiap hari ke dalam komposter. Jika komposter sudah penuh, maka kompos padat, merupakan pupuk organik padat, yang berada di dalam komposter bisa diambil sesuai dengan jumlah sampah atau limbah organik yang akan dimasukkan. Selamat mencoba!

BUDIDAYA CACING TANAH

Cacing tanah bukanlah hewan asing bagi kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Hewan yang tampak lemah dan menjijikkan ini seolah tidak ada manfaatnya sama sekali. Namun hewan ini memiliki potensi sangat menakjubkan bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia.

CARA TERNAK CACING TANAH

Dalam hubungannya dengan sejarah kelestarian lingkungan hidup dan peningkatan pangan dunia, peranan cacing tanah telah diketahui sejak dahulu kala. Seorang ahli filsarat Yunani, Aristoteles, banyak menaruh perhatian terhadap cacing tanah. Ia menyebut cacing tanah adalah perutnya bumi. Pada tahun 69-30 SM, ratu cantik Cleopatra yang saat itu berkuasa di Mesir melarang bangsa mesir memindahkan cacing tanah keluar dari Mesir. Bahkan petaninya dilarang menyentuh cacing, sebab pada waktu itu cacing tanah dianggap sebagai Dewa Kesuburan.

Dalam catatan klasik Tiongkok, cacing tanah disebut Tilung atau Naga Tanah. Cacing tanah ini sudah sejak dahulu kala mereka gunakan dalam berbagai ramuan untuk menyembuhkan macam-macam penyakit. Seorang cendekiawan terkenal, Charles Darwin, telah menghabiskan waktunya selama hampir 40 tahun untuk mengamati kehidupan cacing tanah. Ia menyebut cacing tanah sebagai mahluk penentu keindahan alam dan pemikat bumi.

Para petani juga telah mengetahui secara turun temurun bahwa tanah yang banyak cacing tanahnya kesuburannya meningkat. Luar biasa peranan serta sumbangan cacing tanah terhadap kehidupan manusia.

Manfaat Cacing Tanah




Dibandingkan dengan negara-negara lain,, seperti Amerika Serikat, Philipina, Jepang, Taiwan, Australia, serta beberapa negara Eropa, budidaya cacing tanah di Indonesia masih merupakan hal baru. Penggunaannya juga masih sangat terbatas. Tidak seperti negara-negara lain yang memanfaatkan cacing tanah selain sebagai pakan ternak atau ikan, juga untuk bahan obat, bahan kosmetika, pengurai sampah, bahkan sebagai makanan manusia, bahkan di Perancis cacing tanah dipergunakan sebagai campuran bahan makan di restoran-restoran terkemuka yang dikenal sebagai verne de terre, artinya makanan dari cacing tanah.

Budidaya Cacing Tanah Monokultur

Pemilihan Lokasi dan Pembuatan Kandang

Lokasi budidaya cacing tanah tidak boleh terkena sinar matahari langsung. Dalam skala budidaya besar, dapat disediakan ruangan khusus yang atapnya tidak terbuat dari bahan-bahan yang dapat meneruskan sinar atau menyimpan panas. Sinar matahari langsung atau suhu tinggi dapat mengakibatkan pertukaran udara dalam wadah, sehingga media budidaya cacing tanah cepat kering.

Pembuatan kandang sebaiknya menggunakan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat di lingkungan kita, antara lain, bambu, rumbia, genteng, ijuk, papan bekas, dll. Di dalam kandang dibuat rak-rak bertingkat sebagai tempat menaruh wadah pemeliharaan.

Pembuatan Wadah Pemeliharaan

Wadah pemeliharaan adalah tempat sarang cacing tanah, sehingga dapat memanfaatkan barang-barang bekas yang murah, seperti ember, kaleng, drum, karung, peti, plastik, dll. Ukuran wadah disesuaikan dengan kenyamanan saat perawatan.

Bahan-Bahan Sarang

Sarang merupakan tempat hidup sekaligus sebagai makanan cacing tanah. Untuk itu bahan sarang harus memenuhi syarat sebagai tempat hidup dan makanan. Bila bahan sarang lebih lengkap maka pakan tambahan yang harus diberikan lebih sedikit. Sehingga dapat dikatakan bahwa mutu sarang merupakan kunci keberhasilan budidaya cacing tanah.

Bahan-bahan untuk sarang sebaiknya digunakan bahan yang murah. Bahan-bahan dimaksud antara lain kotoran ternak, serbuk gergaji, serutan kayu, sekam, dedak, rumput, dedaunan, lumpur selokan, kertas/karton yang tidak terpakai, kompos sampah, eceng gondok, ampas singkong, dan berbagai sisa-sisa hasil pertanian. Semua kotoran ternak terutama yang sudah dingin langsung dapat dipakai sebagai sarang budidaya cacing tanah.

Untuk membuat sarang, kita tidak perlu menggunakan semua bahan, tetapi yang terpenting harus memenuhi syarat-syarat antara lain mempunyai daya serap tinggi untuk menahan air, harus selalu gembur dan tidak menjadi padat, harus mudah terdekomposisi atau terurai, jangan mengandung tanah permukaan, dan jika diharapkan sebagai sumber pakan jangan terlalu tinggi proteinnya.

Sarang bisa bervariasi susunannya tergantung dari bahan yang ada, temperatur lingkungan, dan tujuan budidaya cacing tanah. Hal ini mungkin karena cacing tanah berdaya adaptasi tinggi terhadap lingkungannya.

Cara Membuat Sarang

Bahan-bahan yang tersedia terlebih dahulu dipotong-potong sepanjang 2-3 cm. Jika bahan tercemar zat-zat beracun, misal pestisida, sebaiknya direndam dulu dalam air selama 24 jam. Berbagai bahan, kecuali kotoran ternak, diaduk dan ditambah air. Pada minggu pertama dan kedua dilakukan pengadukan sebanyak dua kali dalam seminggu. Selanjutnya pada minggu ketiga dan keempat hanya dilakukan sekali pengadukan. Air selalu ditambahkan secukupnya supaya tetap basah, tetapi jangan sampai tergenang.

Kotoran ternak secara terpisah juga harus selalu diaduk dan diberi air. Pengadukan dilakukan cukup sekali dalam seminggu. Biasanya dalam empat minggu sudah cukup baik untuk digunakan.

Kemudian bahan campuran dan kotoran ternak itu dijadikan satu dengan perbandingan 70% bahan campuran dan 30% kotoran ternak. Seluruh campuran diaduk rata dan ditempatkan dalam lubang atau bak yang kemudian di atasnya ditutupi dengan plastik. Biarkan adukan itu selama 24 jam dan jangan sampai kekeringan.

Yang perlu diperhatikan adalah tingkat keasaman dan temperatur dari adukan tersebut harus sesuai dengan media hidup cacing tanah. Temperatur diukur dengan termometer biasa, sedangkan tingkat keasaman (pH) dapat digunakan kertas lakmus.

Setelah cacing tanah dimasukkan ke dalam bak, sebaiknya bak ditutup dengan daun pisang, pelepah pisang, atau dedaunan lain. Bisa juga menggunakan kertas koran, karung goni atau barang lain yang dapat digunakan sebagai tutup. Penutupan bertujuan untuk mengurangi penguapan dan melindungi cacing dari cahaya.

Penanaman atau Pemasukan Bibit Cacing Tanah

Apabila media pemeliharaan telah siap dan bibit cacing tanah telah siap, maka penanaman dapat segera dilaksanakan dalam wadah pemeliharaan. Bibit cacing anah yang ada tidak sekaligus dimasukkan ke dalam media, tetapi harus dicoba sedikit demi sedikit.

Amati apakah bibit cacing itu masuk ke dalam media atau tidak. Jika terlihat masuk, baru kemudian semua bibit cacing bisa dimasukkan. Pengamatan dilakukan setiap tiga jam sekali, apakah ada bibit cacing yang berkeliaran di atas media atau ada yang meninggalkan media. Apabila dalam waktu 12 jam tidak ada cacing yang meninggalkan media berarti cacing tanah tersebut betah dan cocok dengan medi. Sebaliknya jika media tidak cocok, maka cacing tanah akan berkeliaran di permukaan.

Untuk mengatasinya maka harus dilakukan perbaikan media. Perbaikan media budidaya cacing tanah dapat dilakukan dengan cara disiran dengan air, kemudian diperas. Lakukan secara berulang hingga air perasannya tidak berwarna hitam atau cokelat tua.

Pemberian Pakan

Cacing tanah diberi pakan sekali dalam sehari semalam. Jumlah pakan dalam sekali pemberian sama dengan berat cacing tanah saat penanaman.

Secara umum pakan cacing tanah adalah semua kotoran hewan. Kotoran yang dipakai sebaiknya yang sudah matang atau sudah terdekomposisi. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari proses dekomposisi dalam media yang akan menghasilkan panas sehingga dapat menaikkan temperatur dalam media.

Namun pakan yang lebih bervariasi lebih disukai oleh cacing tanah. Variasi pakan dimaksud antara lain 30% kotoran hewan dan 70% kompos hijauan. Atau dapat juga 30% kotoran hewan dan 70% ampas kedelai. Dapat juga diberikan pakan dari sisa-sisa dapur.

Pemberian pakan harus dalam bentuk bubur dengan perbandingan 1 campuran pakan dan 1 air. Pakan diberikan merata di atas permukaan media tetapi sisakan 2-3 cm dari tepi yang tidak ditaburi pakan. Kemudian pakan ditutup dengan kain atau plastik atau bahan lain yang tidak tembus cahaya.

Penggantian Media

Penggantian media dilakukan apabila media sudah menjadi tanah atau kascing (bekas cacing), atau pada media tersebut telah banyak telur yang disebut kokon. Supaya cacing tetap berkembang maka harus dipisahkan antara telur, anak, dan induk. Harus dilakukan penggantian media dengan cepat bila terlihat sudah menjadi tanah.

Hama dan Musuh Cacing Tanah

Lintah membunuh cacing tanah dengan cara menghisap darah cacing sampai habis. Cara pengendaliannya yaitu dengan menaburkan tembakau di permukaan media.

Kumbang menaruh telur-telur dalam media. Setelah telur-telur tersebut menetas menjadi larva, larva akan memakan media dan pakan cacing tanah. Biasanya kumbang jarang ditemukan, tetapi bila menemukan kumbang di permukaan media, segerah dibunuh.

Semut merah, memakan pakan cacing tanah yang mengandung karbohidrat dan lemak. Padahal kedua zat ini diperlukan untuk penggemukan cacing tanah. Pencegahan dilakukan dengan cara sekitar wadah pemeliharaan diberi air cukup.

Tikus, memakan pakan cacing tanah yang berupa butiran, biasanya sisa pakan ayam. Menanggulangi gangguan tikus dengan cara memasang alat perangkap.

Panen

Dalam beternak cacing tanah ada dua hasil yang bernilai ekonomis tinggi yaitu cacing itu sendiri dan kascing. Panen dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satu cara yang akan kami sampaikan disini adalah yang paling sederhana sehingga mudah diaplikasikan.

Siapkan alat penerang, bisa lampu bohlam, neon, atau petromaks. Bila salah satu dari bagian wadah pemeliharaan diberi penerang, maka cacing akan berkumpul di bagian lain karena cacing sangat sensitif terhadap cahaya. Kemudian tinggal mengambil cacing tanah yang sudah berkumpul pada salah satu sisi dan memisahkan cacing tanah dengan media. Cara pemanenan sebagai berikut, siapkan wadah berbentuk kerucut atau corong. Masukkan bagian sarang yang terdapat cacingnya (cacing sudah berkumpul pada salah satu bagian setelah bagian lain diberi penerang) ke dalam kerucut atau corong yang sudah dipersiapkan. Corong ditaruh di atas wadah penampung yang hanya diberi lubang sebesar lobang corong sehingga kondisi dalam wadah penampung tetap gelap. Sesuai dengan sifatnya cacing tanah akan turun ke bawah dan masuk dalam wadah penampung dengan sendirinya. Ambil sarang/kascing bagian atas sedikit demi sedikit sampai habis. Demikian cara panen dilakukan sampai semua cacing tertampung dalam wadah penampung.

HAMA PENYAKIT TANAMAN JAGUNG

Hama Penyakit Tanaman Jagung - Tanaman jagung merupakan salah satu komoditas pertanian subsektor tanaman pangan. Pada saat proses produksi atau dalam fase budidaya, tanaman jagung juga tidak luput dari serangan hama penyakit, seperti halnya tanaman pertanian lain. Kerugian akibat serangan hama penyakit jagung bisa dibilang tidak kecil, bahkan beberapa diantaranya berpotensi menimbulkan kegagalan panen. Oleh karena itu, penanganan tepat terhadap serangan hama dan penyakit tanaman jagung akan meningkatkan hasil produksi petani. Pada artikel ini akan kami uraikan satu per satu hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman jagung di areal budidaya.

Hama Tanaman Jagung

Hama tanaman jagung meliputi hama ulat tanah, ulat grayak, belalang, kumbang bubuk, lalat bibit, penggerek tongkol, penggerek batang, serta kutu daun. Hama ini berpotensi menggagalkan panen jika tidak dapat dikendalikan. Sebagai petani, pengamatan maupun pemahaman mengenai masing-masing hama perlu dipelajari agar selama proses budidaya jagung dapat mengendalikan serangan hama sehingga hasil produksi jagung meningkat.

Ulat Tanah (Agrotis sp.)

Hama jenis ini menyerang tanaman jagung muda di malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang tanaman jagung muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga sebagai ulat pemotong. Pengendalian hama ulat pada budidaya jagung dapat dilakukan menggunakan insektisida biologi dari golongan bakteri seperti Bacilius thuringiensis atau insektisida biologi dari golongan jamur seperti Beauvaria bassiana. Secara kimiawi pengendalian hama ulat bisa dilakukan dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Belalang (Locusta sp., dan Oxya chinensis)




Belalang yang menyerang tanaman jagung ada dua jenis, yaitu Locusta sp., dan Oxya chinensis. Seperti halnya ulat tanah, hama jenis ini menyerang tanaman jagung saat masih muda, dengan cara memakan tunas jagung muda (baru tumbuh). Hama belalang pada tanaman jagung merupakan hama migran, dimana tingkat kerusakannya tergantung dari jumlah populasi serta tipe tanaman yang diserang.

Gejala Serangan:
Hama ini menyerang terutama di bagian daun, daun terlihat rusak karena serangan dari belalang tersebut, jika populasinya banyak serta belalang sedang dalam keadaan kelaparan, hama ini bisa menghabiskan tanaman jagung sekaligus sampai tulang–tulang daunnya.

Pengendalian hama belalang pada budidaya jagung secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Kumbang Bubuk (Sitophilus zeamais Motsch)

Kerusakan biji oleh kumbang bubuk dapat mencapai 85% dengan penyusutan bobot biji 17%. Sitophilus zeamais Motsch dikenal dengan maize weevil atau kumbang bubuk, merupakan serangga polifag (memiliki banyak tanaman inang).

Selain menyerang jagung, hama kumbang bubuk juga menyerang beras, gandum, kacang tanah, kacang kapri, kacang kedelai, kelapa maupun jambu mente. S. Zeamais lebih dominan menyerang jagung dan beras. S. Zeamais merusak biji jagung saat penyimpanan dan juga dapat menyerang tongkol jagung di lahan.

Telur diletakkan satu per satu di lubang gerekan di dalam biji, Keperidian imago sekitar 300-400 butir telur, stadia telur kurang lebih enam hari pada suhu 25°C. Larva menggerek biji jagung serta hidup di dalam biji, umur kurang lebih 20 hari pada suhu 25°C, kelembaban nisbi 70%. Pupa terbentuk di dalam biji jagung dengan stadia pupa berkisar 5-8 hari.

Imago yang terbentuk berada di dalam biji selama beberapa hari sebelum membuat lubang keluar. Imago dapat bertahan hidup cukup lama yaitu sekitar 3-5 bulan jika tersedia makanan, sekitar 36 hari jika tanpa makan.

Siklus hidup sekitar 30-45 hari saat kondisi suhu optimum 29°C, kadar air biji 14% serta kelembaban nisbi 70%. Perkembangan populasi sangat cepat bila bahan simpanan kadar airnya di atas 15%.

Pengendalian
a) Pengelolaan Tanaman
Serangan selama tanaman masih di lahan dapat terjadi jika tongkol terbuka. Tanaman yang kekeringan, dengan pemberian pupuk rendah menyebabkan tanaman mudah terserang busuk tongkol sehingga dapat diinfeksi oleh kumbang bubuk. Panen tepat waktu saat jagung mencapai masak fisiologis dapat mencegah Sitophilus zeamais, karena pemanenan tertunda dapat menyebabkan meningkatnya kerusakan biji jagung saat penyimpanan.

b) Varietas Resisten/Tahan
Penggunaan varietas dengan kandungan asam fenolat tinggi dan kandungan asam aminonya rendah dapat menekan kumbang bubuk, serta penggunaan varietas berpenutup kelobot yang baik.

c) Kebersihan dan Pengelolaan Gudang
Kebanyakan hama gudang cenderung bersembunyi atau melakukan hibernasi sesudah gudang tersebut kosong. Untuk itu harus dibersihkan semua struktur gudang serta membakar semua biji yang terkontaminasi. Biji-biji terkontaminasi ini dijauhkan dari area gudang, lalu dimusnahkan. Selain itu, karung-karung bekas yang masih berisi sisa biji jagung juga harus dibuang. Semua struktur gudang diperbaiki, termasuk dinding retak, dimana serangga dapat bersembunyi di dinding retak. Pada dinding maupun plafon gudang disemprot menggunakan insektisida.

d) Persiapan Biji Jagung Simpanan
Sebelum penyimpanan, perhatikan kadar air dalam biji jagung. Kadar air biji ≤ 12% dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Perkembangan populasi kumbang bubuk akan meningkat pada kadar air 15% atau lebih.

e) Fisik dan Mekanis
Ketika suhu lebih rendah dari 50°C dan di atas 35°C perkembangan serangga akan berhenti. Penjemuran dapat menghambat perkembangan kumbang bubuk. Sortasi dilakukan dengan memisahkan biji rusak yang terinfeksi oleh serangga dengan biji sehat (utuh).

f) Bahan Tanaman
Pengendalian hama kumbang bubuk selama budidaya jagung dapat menggunakan bahan organik dari tanaman, seperti daun Annona sp., Hyptis spricigera, Lantana camara, daun Ageratum conyzoides, Chromolaena odorata, akar dari Khaya senegelensis, Acorus calamus, bunga dari Pyrethrum sp., Capsicum sp., maupun tepung biji dari Annona sp. dan Melia sp.

g) Hayati
Penggunaan agensi patogen dapat mengendalikan kumbang bubuk seperti Beauveria bassiana pada konsentrasi 109 konidia/ml takaran 20 ml/kg biji dapat mencapai kematian 50%. Penggunaan parasitoid Anisopteromalus calandrae juga mampu menekan kumbang bubuk.

h) Fumigasi
Fumigan merupakan senyawa kimia dimana senyawa ini dalam suhu serta tekanan tertentu berbentuk gas. Fumigan dapat membunuh serangga/hama melalui sistem pernapasan. Fumigasi dapat dilakukan di tumpukan komoditas jagung kemudian ditutup rapat menggunakan lembaran plastik. Fumigasi dapat pula dilakukan saat penyimpanan kedap udara seperti penyimpanan dalam silo, menggunakan kaleng kedap udara atau pengemasan menggunakan jerigen plastik, botol yang diisi sampai penuh kemudian mulut botol atau jerigen dilapisi parafin untuk penyimpanan skala kecil. Fumigasi menggunakan phospine (PH3), atau Methyl Bromida (CH3Br).

Lalat Bibit (Atherigona sp.)

Lalat bibit yang menyerang tanaman jagung hanya ditemukan di daerah Jawa dan Sumatera. Lalat bibit dapat merusak pertanaman jagung hingga 80% bahkan lebih (puso). Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara lima sampai 23 hari, serangga betina hidup dua kali lebih lama daripada serangga jantan. Serangga dewasa sangat aktif terbang serta sangat tertarik dengan kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. Imago kecil berukuran panjang 2,5-4,5 mm.
Telur Imago betina mulai meletakkan telur tiga sampai lima hari setelah kawin dengan jumlah telur tujuh sampai 22 butir atau bahkan hingga 70 butir. Imago betina meletakkan telurnya selama tiga sampai tujuh hari. Telur ini diletakkan secara tunggal, berwarna putih, memanjang, serta diletakkan di bawah permukaan daun.
Awalnya, larva terdiri dari tiga instar berwarna putih krem, selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap. Larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan sampai dasar batang, sehingga tanaman menjadi kuning, akhirnya mati.
Pupa terdapat di pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah, umur pupa 12 hari. Puparium berwarna coklat kemerah-merahan sampai coklat, memiliki ukuran panjang 4,1 mm.

Gejala:
Tanaman muda menguning karena larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman menguning, akhirnya mati. Jika tanaman mengalami proses pemulihan, maka pertumbuhannya akan kerdil.

Pengendalian
a) Hayati
- Parasitoid Trichogramma spp. memarasit telur, Opius sp. dan Tetrastichus sp. memarasit larva
- Predator Clubiona japonicola, merupakan predator imago.

b) Kultur Teknis
Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama satu sampai dua bulan saat musim hujan, secara kultur tenis dapat melakukan pengubahan waktu tanam, pergiliran tanaman, atau melakukan tanam serempak.

c) Varietas Resisten
- Galur jagung QPM putih tahan lalat bibit adalah MSQ-P1(S1)-C1-11, MSQ-P1(S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45,
- Galur jagung QPM kuning adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.

d) Kimiawi
Pengendalian menggunakan insektisida dapat dilakukan saat perlakuan benih menggunakan thiodikarb (dosis 7,5-15 g b.a./kg benih) atau karbofuran (dosis 6 g b.a./kg benih). Selanjutnya setelah tanaman jagung berumur 5-7 hari, tanaman disemprot menggunakan karbosulfan (dosis 0,2 kg b.a./ha) atau thiodikarb (0,75 kg b.a/ha). Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.

Ulat Grayak (Spodoptera sp.)

Larva kecil merusak daun serta menyerang secara serentak bergerombol dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan bahkan tinggal tulang daunnya saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi saat musim kemarau.

Pengendalian secara fisik menggunakan alat perangkap ngengat sex feromonoid sebanyak 40 buah/Ha semenjak tanaman jagung berumur 2 minggu.

Penggunaan agensia hayati dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami seperti: Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, atau Metarhizium anisopliae. Dapat juga dari golongan bakteri seperti Bacillus thuringensis. Pemanfaatan patogen virus untuk ulat ini juga dapat dilakukan menggunakan Sl-NPV (Spodoptera litura - Nuclear Polyhedrosis Virus). Parasit lain yang dapat dimanfaatkan adalah Parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, atau Peribeae sp.

Pengendalian secara kimiawi bisa dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif profenofos, klorpirifos, sipermetrin, betasiflutrin atau lamdasihalortrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Kemampuan ulat grayak merusak tanaman jagung berkisar antara 5-50%. Ngengat aktif saat malam hari, sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan. Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat di bagian daun (kadang tersusun 2 lapis), warnanya coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25–500 butir) tertutup bulu seperti beludru.

Larva mempunyai warna bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan serta hidup secara bergerombol. Ulat menyerang tanaman jagung di malam hari, saat siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.

Pupa, ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwana coklat kemerahan, memiliki panjang sekitar 1,6 cm. Siklus hidup berkisar antara 30–60 hari (lama stadium telur 2–4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20–46 hari, pupa 8–11 hari).

Tanaman inang hama ini bersifat polifag, selain jagung juga menyerang tanaman tomat, kubis, cabe, buncis, bawang merah, terung, kentang, kangkung, bayam, padi, tebu, jeruk, pisang, tembakau, kacang-kacangan, tanaman hias, gulmaLimnocharis sp., Passiflora foetida, Ageratum sp., Cleome sp., Trema sp.

Penggerek Tongkol (Heliotis armigera, Helicoverpa armigera.)

Imago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk ke dalam tongkol jagung lalu memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas mupun kuantitas tongkol jagung.
Pada lubang–lubang bekas gorokan hama ini terdapat kotoran–kotoran yang berasal dari hama tersebut, biasanya hama ini lebih dahulu menyerang bagian tangkai bunga.

Musuh alami sebagai pengendali hayati serta cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit, Trichogramma sp. ( parasit telur) atau Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit larva muda.
Pengendalian kimiawi hama ulat grayak efektif dilakukan setelah terbentuk rambut jagung pada tongkol dan selang 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

Penggerek Batang (Ostrinia fumacalis)

Hama ini menyerang semua bagian tanaman jagung di seluruh fase pertumbuhan. Kehilangan hasil akibat serangan pnggerek batang dapat mencapai 80%. Ngengat aktif di malam hari, serta menghasilkan beberapa generasi pertahun, umur imago/ngengat dewasa 7-11 hari. Telur berwarna putih, diletakkan berkelompok, satu kelompok telur beragam antara 30-50 butir, seekor ngengat betina mampu meletakkan telur 602-817 butir, umur telur 3-4 hari. Ngengat betina lebih menyukai meletakkan telur pada tanaman jagung yang tinggi, telur diletakkan di permukaan bagian bawah daun, utamanya pada daun ke 5-9, umur telur 3-4 hari.

Larva (baru menetas) berwarna putih kekuning-kuningan, makan berpindah-pindah, larva muda memakan bagian alur bunga jantan, setelah instar lanjut menggerek batang, umur larva 17-30 hari. Pupa biasanya terbentuk di dalam batang, berwarna coklat kemerah-merahan, umur pupa 6-9 hari.

Gejala Serangan
Larva O. Furnacalis ini mempunyai karakteristik membuat kerusakan di setiap bagian tanaman jagung yaitu membentuk lubang kecil pada daun, lubang gorokan di batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol, batang dan tassel yang mudah patah, serta tumpukan tassel yang rusak.

Pengendalian
  1. Kultur teknis
  2. Waktu tanam tepat
  3. Tumpangsari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
  4. Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman)

Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti :
- Parasitoid Trichogramma sp.. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. Furnacalis.
- Predator Euborellia annulata. Predator ini selain memangsa larva juga pupa O. Furnacalis.
- Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis,
- Cendawan Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. Furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.

Kimiawi
Penggunaan insektisida berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, atau karbofuran efektif untuk menekan serangan penggerek batang jagung.

Kutu Daun (Mysus persicae)

Hama kutu daun pada tanaman jagung adalah Mysus persicae. Hama ini mengisap cairan tanaman jagung terutama pada daun muda, kotorannya berasa manis sehingga mengundang semut serta berpotensi menimbulkan serangan sekunder yaitu cendawan jelaga. Serangan parah menyebabkan daun tanaman mengalami klorosis(menguning), serta menggulung. Kutu daun Mysus juga menjadi serangga vektor penular virus mosaik.

Pengendalian hama kutu daun Mysus persicae dapat menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Peyakit Tanaman Jagung

Seperti halnya hama tanaman jagung, penyakit yang menyerang selama budidaya jagung juga berpotensi menimbulkan kerugian. Serangan parah penyakit-penyakit ini jika tidak dikendalikan dapat menurunkan hasil produksi jagung sehingga juga menurunkan pendapatan petani. Adapun penyakit tanaman jagun biasanya disebabkan oleh serangan hawar daun, busuk pelepah, penyakit bulai, busuk tongkol, busuk batang, karat daun, bercak daun, serta virus.

Hawar Daun (Helmithosporium turcicum)

Gejala
Awal terinfeksinya hawar daun, menunjukkan gejala berupa bercak kecil, berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk ellips dan berkembang menjadi nekrotik (disebut hawar), warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5-15 cm, bercak muncul di mulai dari daun terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat akibat serangan penyakit hawar daun dapat mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering. Cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot jagung, cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk miselium dorman pada daun atau sisa-sisa tanaman di lahan.

Penyebab
Penyakit hawar daun disebabkan oleh Helminthosporium turcicum.

Pengendalian
- Menanam varietas tahan hawar daun, seperti : Bisma, Pioner-2, pioner-14, Semar-2 dan semar-5.
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada tanaman terinfeksi bercak daun.
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif mankozeb atau dithiocarbamate. Dosis/konentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Busuk Pelepah (Rhizoctonia solani)

Gejala
Penyakit busuk pelepah pada budidaya jagung umumnya terjadi di pelepah daun, gejalanya terdapat bercak berwarna agak kemerahan kemudian berubah menjadi abu-abu, selanjutnya bercak meluas, seringkali diikuti pembentukan sklerotium berbentuk tidak beraturan, berwarna putih kemudian berubah menjadi cokelat.

Gejala serangan penyakit ini dimulai dari bagian tanaman yang paling dekat dengan permukaan tanah kemudian menjalar ke bagian atas. Penanaman varietas tidak tahan penyakit ini (rentan), serangan cendawan penyebab busuk pelepah dapat mencapai pucuk atau tongkol jagung. Cendawan ini bertahan hidup sebagai miselium dan sklerotium pada biji jagung, di dalam tanah serta pada sisa-sisa tanaman di lahan. Keadaan tanah basah, lembab, serta drainase kurang baik akan merangsang pertumbuhan miselium dan sklerotia, sehingga kondisi semacam ini merupakan sumber inokulum utama.

Penyebab
Penyebab penyakit busuk pelepah adalah Rhizoctonia solani.

Pengendalian
- Menggunakan varietas/galur tahan sampai agak tahan terhadap penyakit hawar pelepah seperti : Semar-2, Rama, Galur GM 27
- Diusahakan agar penanaman jagung tidak terlalu rapat sehingga kelembaban tidak terlalu tinggi
- Lahan memiliki drainase baik
- Pergiliran tanaman, tidak menanam jagung terus menerus di lahan yang sama
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif mancozeb atau karbendazim. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Bulai (Peronosclerospora maydis)

Penyakit bulai merupakan penyakit utama budidaya jagung. Penyakit ini menyerang tanaman jagung khususnya varietas rentan hama penyakit serta saat umur tanaman jagung masih muda (antara 1-2 minggu setelah tanam). Kehilangan hasil produksi akibat penularan penyakit bulai dapat mencapai 100%, terutama varietas rentan.

Gejala
Gejala khas penyakit bulai adalah adanya warna khlorotik memanjang sejajar tulang daun dengan batas terlihat jelas antara daun sehat. Bagian daun permukaan atas maupun bawah terdapat warna putih seperti tepung, sangat jelas di pagi hari. Selanjutnya pertumbuhan tanaman jagung akan terhambat, termasuk pembentukan tongkol buah, bahkan tongkol tidak terbentuk, daun-daun menggulung serta terpuntir, bunga jantan berubah menjadi massa daun yang berlebihan.

Penyakit bulai tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik dimana gejalanya meluas ke seluruh bagian tanaman jagung serta menimbulkan gejala lokal (setempat). Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh sehingga semua daun akan terinfeksi. Tanaman terinfeksi penyakit bulai saat umur tanaman masih muda umumnya tidak menghasilkan buah, tetapi bila terinfeksi saat tanaman sudah tua masih dapat terbentuk buah, sekalipun buahnya kecil-kecil karena umumnya pertumbuhan tanaman mengerdil.

Penyebab
Penyakit bulai di Indonesia disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya, sedangkan Peronosclerospora sorghii hanya ditemukan di dataran tinggi Berastagi Sumatera Utara serta di Batu Malang Jawa Timur.

Pengendalian
- Menanam varietas tahan penyakit bulai seperti varietas Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima 14, Bima 15, Lagaligo, atau Gumarang
- Melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan
- Penanaman jagung secara serempak
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada tanaman terserang penyakit bulai
- Penggunaan fungisida metalaksil saat perlakuan benih dengan dosis 2 gram (0,7 g bahan aktif) per kg benih

Busuk Tongkol


a. Busuk tongkol Fusarium

Gejala
Gejala penyakit ini ditandai permukaan biji tongkol jagung berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas berwarna merah jambu. Cendawan berkembang baik pada sisa tanaman maupun di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, penyebarannya dapat melalui angin atau tanah.
Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium moniliforme.

b. Busuk tongkol Diplodia

Gejala
Serangan busuk tongkol diplodia ditandai adanya warna coklat pada klobot. Jika infeksi terjadi setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut akhirnya busuk. Miselium cendawan diplodia berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai dari dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji serta menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia berdinding tebal pada sisa tanaman di lahan.
Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis.

c. Busuk tongkol Gibberella

Gejala
Serangan dini pada tongkol jagung dapat menyebabkan tongkol jagung menjadi busuk, kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, serta buahnya berwarna biru hitam di permukaan kelobot maupun bongkol.

Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum.

Pengendalian :
- Menggunakan pemupukan berimbang.
- Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lahan, jika musim hujan bagian batang di bawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah ke atas.
- Pergiliran tanaman mengunakan tanaman bukan termasuk padi-padian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang.

Busuk Batang

Gejala
Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varietas rentan hingga 65%. Tanaman jagung terserang penyakit ini tampak layu atau kering seluruh daunnya. Umumnya gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang terserang berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan, bagian dalam batang busuk, sehingga mudah rebah, serta bagian kulit luarnya tipis. Pangkal batang teriserang akan memperlihatkan warna merah jambu, merah kecoklatan atau coklat.

Penyakit busuk batang jagung dapat disebabkan oleh delapan spesies/cendawan seperti Colletotrichum graminearum, Diplodia maydis, Gibberella zeae, Fusarium moniliforme, Macrophomina phaseolina, Pythium apanidermatum, Cephalosporium maydis, dan Cephalosporium acremonium. Di Sulawesi Selatan, penyebab penyakit busuk batang yang telah berhasil diisolasi adalah Diplodia sp., Fusarium sp. dan Macrophomina sp.

Penularan
Cendawan patogen penyebab penyakit busuk batang memproduksi konidia pada permukaan tanaman inangnya. Konidia dapat disebarkan oleh angin, air hujan ataupun serangga. Pada waktu tidak ada tanaman, cendawan dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman terinfeksi dalam fase hifa atau piknidia dan peritesia yang berisi spora. Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangannya, spora akan keluar dari piknidia atau peritesia. Spora pada permukaan tanaman jagung akan tumbuh lalu menginfeksi melalui akar ataupun pangkal batang. Infeksi awal dapat melalui luka atau membentuk sejenis apresoria, serta mampu masuk ke jaringan tanaman. Spora/konidia yang terbawa angin dapat menginfeksi ke tongkol jagung. Akibat lebih kanjut, biji terinfeksi jika ditanam dapat menyebabkan penyakit busuk batang.

Pengendalian
- Menanam varietas tahan serangan penyakit busuk batang seperti BISI-1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp. 9702, Exp. 9703, CPI-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12, Pioneer-13, Pioneer-14, Semar-9, Palakka, atau J1-C3.
- Melakukan pergiliran tanaman.
- Melakukan pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah.
- Drainase baik.
- Pengendalian penyakit busuk batang (Fusarium) secara hayati dapat dilakukan dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.

Karat Daun (Puccinia polysora)

Bercak-bercak kecil (uredinia) berbentuk bulat sampai oval terdapat di permukaan daun jagung bagian atas maupun bawah, uredinia menghasilkan uredospora berbentuk bulat atau oval serta berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi Tanaman jagung lainnya, sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi, infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.

Penyebab
Penyakit karat disebabkan oleh Puccinia polysora

Pengendalian
- Menanam varietas tahankarat daun, seperti Lamuru, Sukmaraga, Palakka, Bima-1 atau Semar-10
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai ke akarnya (Eradikasi tanaman) pada tanaman terinfeksi karat daun maupun gulma
- Penyemprotan fungisida menggunakan bahan aktif benomil. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn.)

Gejala
Penyakit bercak daun pada tanaman jagung dikenal dua tipe menurut ras patogennya yaitu ras O dan T. Ras O bercak berwarna coklat kemerahan berukuran 0,6 x (1,2-1,9) cm, sedangkan Ras T bercak berukuran lebih besar yaitu (0,6-1,2)x(0,6-2,7) cm. Ras T berbentuk kumparan, bercak berwarna hijau kuning atau klorotik kemudian menjadi coklat kemerahan. Kedua ras ini, ras T lebih berbahaya (virulen) dibanding ras O. Serangan pada bibit tanaman menyebabkan tanaman menjadi layu atau mati dalam waktu 3-4 minggu setelah tanam.

Tongkol terserang/terinfeksi dini menyebabkan bijinya akan rusak lalu busuk, bahkan tongkol jagung dapat gugur. Bercak pada ras T terdapat di seluruh bagian tanaman (baik daun, pelepah, batang, tangkai kelobot, biji, maupun tongkol jagung). Permukaan biji terinfeksi tertutup miselium berwarna abu-abu sampai hitam sehingga dapat menurunkan hasil produksi secara signifikan. Cendawan ini dalam bentuk miselium dan spora dapat bertahan hidup dalam sisa tanaman di lahan atau pada biji jagung di penyimpanan. Konidia yang terbawa angin atau percikan air hujan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung.

Penyebab
Penyakit bercak daun penyebabnya adalah Bipolaris maydis Syn. Pada B. maydis ada dua ras yaitu ras O dan ras T.

Pengendalian
- Menanam varietas tahan serangan bercak daun, seperti Bima-1, Srikandi Kuning-1, Sukmaraga atau Palakka
- Pemusnahan seluruh bagian tanaman sampai akarnya (Eradikasi tanaman) pada tanaman terinfeksi bercak daun
- Penggunaan fungisida menggunakan bahan aktif mancozeb atau karbendazim. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk di kemasan.

Virus Mosaik

Gejala
Gejala penyakit virus mozaik pada budidaya jagung ditandai tanaman jagung menjadi kerdil, daun berwarna mosaik atau hijau dengan diselingi garis-garis kuning, jika dilihat secara keseluruhan tanaman tampak berwarna agak kekuningan mirip gejala bulai namun permukaan daun bagian bawah maupun atas apabila dipegang tidak terasa adanya serbuk spora. Penularan virus dapat terjadi secara mekanis atau melalui serangga Myzus percicae dan Rhopalopsiphum maydis secara nonpersisten. Tanaman jagung terinfeksi virus ini umumnya menjadikan penurunan hasil secara signifikan.

Pengendalian
- Mencabut tanaman jagung terinfeksi virus seawal mungkin agar tidak menjadi sumber infeksi bagi tanaman sekitarnya ataupun pertanaman musim mendatang.
- Melakukan pergiliran tanaman, tidak menanam tanaman jagung secara terus menerus di lahan yang sama.
- Penyemprotan pestisida apabila di lapangan populasi vektor cukup tinggi. Dosis/konsentrasi tidak melebihi anjuran dalam kemasan.
- Tidak menanam benih jagung dari tanaman terinfeksi virus.

ARTIKEL POPULER