Tampilkan postingan dengan label JAHE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JAHE. Tampilkan semua postingan

Kegiatan Pembumbunan Pada Budidaya Jahe

Pembumbunan merupakan kegiatan menguruk pangkal batang tanaman jahe yang bertujuan untuk menimbun rimpang yang menyembul keluar. Waktu pembumbunan dilakukan pada saat tanaman jahe membentuk rumpun. Kegiatan pembumbunan ini biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan sekaligus pemupukan susulan.

Fungsi Pembumbunan Pada Tanaman Jahe

Pada budidaya jahe, pembumbunan memiliki beberapa fungsi, yaitu:

  • Menggemburkan tanah, sehingga dapat mempermudah pembesaran rimpang dan penetrasi akar.
  • Menutup dan melindungi rimpang jahe yang menyembul ke permukaan tanah.
  • Menambah kandungan oksigen dalam tanah.
  • Memperkuat tanaman jahe.
  • Memperluas area perakaran, sehingga unsur hara yang terserap lebih banyak.
  • Mencegah rimpang terkena sinar matahari yang dapat mengakibatkan rimpang mengeras dan berwarna hijau seperti batang.



Waktu Pembumbunan

Kegiatan pembumbunan ini dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, biasanya setelah tanaman jahe membentuk rumpun atau setelah tanah pada bedengan tempat menaman jahe mulai longsor karena hujan. Pembumbunan dapat dilakukan berulang kali, tergantung pada jenis tanah dan curah hujan. Pembumbunan akan lebih sering dilakukan pada tanah-tanah yang remah dan curah hujan tinggi. Kegiatan pembumbunan ini juga bisa dimulai pada saat tanaman jahe membentuk rumpun, sebanya 4-5 anakan. Pembumbunan dilakukan sebelum pemupukan susulan. Biasanya, dalam satu musim, kegiatan pembumbunan dapat dilakukan sebanya 3-6 kali, tergantung kondisi.

Cara Melakukan Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan dengan cara menyiangi gulma terlebih dahulu, kemudian mencangkul tanah tipis-tipis di sekitar tanaman jahe atau sekitar parit (orang Jawa biasa menyebut proses ini dengan istilah "dangir"). Tanah yang telah dicangkul tipis-tipis ini digunakan untuk menimbun pangkal batang tanaman jahe membentuk guludan atau bedengan kecil. Setelah kegiatan pembumbunan, pembudidaya dapat langsung melakukan pemupukan susulan.

RESEP MINUMAN SIRUP POKAK JAHE

Resep Minuman Sirup Pokak Jahe – Selain dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, bahan baku obat-obatan, atau minuman jahe instant, jahe juga dapat diolah dan dijadikan sirup pokak. Jahe memiliki nilai gizi dan nutrisi yang sangat tinggi, serta mengandung zat-zat kimia yang berkhasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit. Membuat sirup pokak dengan bahan dasar jahe, akan menambah variasi berbagai olahan dari jahe, sehingga khasiat jahe dapat dimanfaatkan dalam berbagai bentuk.

Resep Minuman Sirup Pokak Jahe

Resep minuman sirup pokak jahe sangat sederhana. Bahan tambahan dan perlalatan yang diperlukan juga cukup murah dan mudah didapat. Selain sebagai disimpan sebagai bahan pembuat minuman di rumah, sirup pokak jahe juga dapat diperdagangkan untuk mendapatkan keuntungan. Bagi yang sudah terbiasa dalam olahan makanan, membuat minuman sirup pokak jahe merupakan sesuatu yang mudah. Di bawah ini akan kami uraikan mengenai cara membauat sirup pokak jahe.

Peralatan Yang Diperlukan Untuk Membuat Sirup Pokak Jahe

Beralatan yang harus disediakan untuk membuat sirup pokak jahe sangat sederhana. Biasanya peralatan tersebut sudah tersedia dirumah sebagai peralatan dapur yang digunakan sehari-hari. Oleh karena itu, untuk membuat sirup pokak jahe cukup dengan memanfaatkan peralatan yang sudah ada. Anda tidak perlu membeli peralatan-peralatan khusus atau peralatan-peralatan memasak yang sudah modern. Berikut ini beberapa peralatan yang diperlukan untuk membuat sirup pokak jahe.



  1. Timba atau alat lain yang digunakan untuk mencuci bahan-bahan.
  2. Pisau atau alat pemotong lain.
  3. Talenan atau alat lain yang dapat digunakan sebagai tempat untuk mengeprak rimpang jahe.
  4. Ulekan atau dalam bahasa jawa sering disebut muthu.
  5. Blender untuk menghalusan rimpang jahe.
  6. Gelas takar atau alat pengukur lain.
  7. Ember atau alat lain untuk tempat bahan baku yang telah ducuci.
  8. Panci atau alat lain yang digunakan untuk merebus.
  9. Centong atau alat pengaduk lainnya.
  10. Kompor atau alat lain untuk pemanasan.
  11. Saringan atau alat lain untuk menyaring sirup pokak jahe setelah jadi.
  12. Botol atau alat lain untuk menyimpan sirup pokak jahe setelah jadi.

Bahan Yang Diperlukan Untuk Membuat Sirup Pokak Jahe

5 ons jahe yang sudah tua, 1 kilogram gula pasir, 1 kilogram gual merah, 10 batang serai, 15 butir cengkeh, 8 helai daun pandan, 6 ruas jari kayu manis atau keningar, dan 1.200 mililiter air bersih.

Cara Membuat Sirup Pokak Jahe

Rimpang jahe dikupas hingga bersih, kemudian potong kecil-kecil agar mudah diblender. Setelah itu, potongan rimpang jahe tersebut dikeprak menggunakan muthu atau alat pemukul lain di atas talenan. Kemudian diulek-uleng agar lebih mudah diblender, kemudian haluskan rimpang jahe tersebut menggunakan blender.

Cuci hingga bersih bahan-bahan lain, seperti daun pandan, serai, cengkeh, dan keningar. Gula merah disisir menggunakan pisau, agar mudah larut pada saat perebusan. Masukkan semua bahan dalam 1.200 mililiter air.

Rebus menggunakan api sedang sambil terus diaduk hingga matang. Pengadukan saat sirup hampir matang harus dilakukan lebih cepat agar tidak lengket atau gosong. Perebusan dihentikan saat sirup pokak jahe sudah berwarna merah kehitaman. Kemudian diamkan hingga dingin.

Setelah sirup dingin, kemudian disaring menggunakan saringan halus, agar material padat tidak ikut terbawa. Sirum pokak jahe sudah jadi, masukkan ke dalam botol untuk disimpan atau jika akan dijual, maka pilihlah botol yang menarik.

Demikian informasi terbaik kami sajikan, semoga artikel Resep Minuman Sirup Pokak Jahe, bermanfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

PENYAKIT TANAMAN JAHE

Penyakit yang menyerang tanaman jahe perlu diwaspadai, karena berpotensi menimbulkan kerugian sangat besar bagi kegiatan usaha budidaya jahe. Tanaman jahe termasuk tanaman temu-temuan bernilai ekonomis tinggi sehingga perlu mendapat perhatian serius saat melakukan budidaya agar produksi yang dihasilkan optimal. Meskipun penyebab kegagalan budidaya jahe tidak hanya disebabkan oleh serangan penyakit, namun faktor serangan hama dan penyakit tanaman menjadi faktor dominan dalam budidaya pertanian. Pada artikel kali ini, kami akan mengulas mengenai penyakit tanaman jahe secara lebih rinci, sedangkan masalah hama pengganggu tanaman jahe kami uraikan pada artikel terpisah. Penjelasan mengenai hama pengganggu dapat Anda lihat diHama Tanaman Jahe

Penyakit Tanaman Jahe

Penyakit tanaman jahe adalah organisme pengganggu yang dapat merugikan atau bahkan menggagalkan kegiatan budidaya jahe. Penyakit tanaman jahe bisa disebabkan karena infeksi bakteri maupun fungi (cendawan). Berikut ini beberapa jenis penyakit yang biasa menyerang tanaman jahe.

Penyakit busuk rimpang pada tanaman jahe

Penyakit busuk rimpang pada tanaman jahe disebabkan oleh serangan cendawan atau fungi dan bakteri. Cendawan yang biasa menyerang tanaman jahe dan mengakibatkan busuk timpang adalah Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani. Sementara itu, bakteri yang menyebabkan penyakit busuk rimpang pada tanaman jahe adalah Pseudomonas sp.

Penyakit busuk rimpang pada tanaman yang diakibatkan infeksi cendawan Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani




Cendawan ini akan menyerang dengan ganas pada kondisi suhu udara 20-25°C. Patogen ini akan berembang dengan baik dan menyerang parah jika jarak penanam jahe terlalu rapat. Penularan dari satu tanaman yang terinfeksi ke tanaman lain sangat cepat. Penularan penyakit ini bisa melalui tanah atau bibit dari rimpang jahe yang sebelumnya telah terserang.

Gejala serangan penyakit Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani pada tanaman jahe

Gejala serangan ditandai adanya daun tanaman jahe yang menguning pada bagian tepinya, kemudian layu dan tanaman jahe akan mati. Bagian batang tanaman yang mati masih cukup kuat menempel pada rimpang jahe, sedangkan tunas akan mudah dicabut. Bagian dalam batang semu berwarna kecokelatan membentu cincin. Rimpang jahe yang terserang akan mengerut dengan bagian dalam yang berwarna gelam kecokelatan atau kehitaman. Penyakit ini mampu menggagalkan areal pertanaman hingga 50%. Cendawan Fusarium oxysporium tidak hanya menyerang di areal pertanaman, tetapi juga menyerang selama dalam penyimpanan dan mengakibatkan busuk kering pada rimpang jahe.

Pengendalian penyakit Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani pada tanaman jahe

Penyakit ini sangat sulit dikendalikan, dan menjadi patogen yang sangat ditakuti oleh petani. Selain menyerang tanaman jahe, Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani juga menyerang beberapa tanaman lain, seperti tomat, cabai, kentang, dan tembakau. Aplikasi pestisida kimia hampir tidak bisa mengendalikan serangan penyakit ini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi serangan Fusarium oxysporium dan Rhizoctonia solani adalah dengan pengendalian secara organik, yaitu dengan aplikasi agensia hayati dari golongan fungi, Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. yang dicampurkan dalam pupuk organik. Perendaman bibit dengan kedua agensia hayati tersebut sebelum ditanam di lahan. Jika terjadi serangan di lahan, dapat diaplikasikan pestisida organik dengan cara pengocoran. Pestisida organik yang bisa digunakan adalah wonderfat. Dapat juga dilakukan pengocoran menggunakan kedua agensi hayati tersebut dengan interval 14 hari sekali.

Penyakit busuk rimpang pada tanaman yang diakibatkan infeksi bakteri Pseudomonas sp. pada tanaman jahe

Bakteri Pseudomonas sp. merupakan patogen dengan tingkat keganasan serangan menyerupai penyakit Fusarium oxysporium. Penyakit ini juga sangat sulit dikendalikan. Penularan penyakit bakteri Pseudomonas sp. bisa melalui tanaha atau bibit dari rimpang yang sebelumnya terserang. Bakteri Pseudomonas sp. memiliki banyak tanaman inang, sama seperti Fusarium oxysporium. Penyakit ini juga mampu menggagalkan areal pertanaman hingga 50%. Jadi, jika serangan bakteri ini diberengi dengan serangan Fusarium oxysporium, sudah bisa dibayangkan bagaimana kerugian yang akan dialami oleh petani atau pembudidaya jahe.

Genjala bakteri Pseudomonas sp. pada tanaman jahe

Tanaman jahe yang terserang bakteri Pseudomonas sp. ditunjukkan dengan gejala berupa daun tanaman yang melipat atau menggulung. Warna daun akan menguning, kemudian berubah menjadi kecokelatan dan akhirnya mengering. Gejala tersebut biasanya didahului dari daun-daun yang sudah tua. Tunas dan batang semu akan membusuk kemudian tanaman mati. Rimpang jahe akan berwarna gelap dan membusuk dan terdapat cairan atau lendir yang berwarna putih atau cokelat susu. Bakteri Pseudomonas sp. tidak hanya menyerang di areal pertanaman, tetapi juga menyerang selama dalam penyimpanan dan mengakibatkan busuk basah pada rimpang jahe.

Pengendalian penyakit bakteri Pseudomonas sp. pada tanaman jahe

Bakteri Pseudomonas sp. merupakan salah satu penyakit yang sangat sulit dikendalikan. Penyakit ini akan menyerang parah jika kelembaban di areal peranaman sangat tinggi, terutama jika terjadi genangan air di sekitar penanaman. Upaya pengendalian penyakit ini sama seperti pengendalian penyakit yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporium.

Penyakit bercak daun pada tanaman jahe

Penyakit bercak daun pada tanaman jahe disebabkan oleh infeksi cendawan Phyllostica zingiberi. Penularan penyakit ini dapat diakibatkan oleh tiupan angin, yaitu dengan menyebarkan spora cendawan.

Gejala serangan penyakit bercak daun Phyllostica zingiberi pada tanaman jahe

Tanaman jahe yang terserang penyakit bercak daun Phyllostica zingiberi ditunjukkan dengan gejala adanya bercak-bercak kuning pada permukaan daun yang berdiameter antara 3-5 mm yang lama-kelamaan bercak tersebut akan berubah menjadi cokelat dan mengering. Pada serangan parah dan tidak terkendali, warna bercak akan berubah menjadi abu-abu dengan titik-titik hitam pada bagin tengahnya yang merupakan koloni dari miselium cendawan. Daun akan berubah mengecil, dan daun muda tampak klorosis. Pada serangan yang berat, tanaman akan mati.

Pengendalian serangan penyakit bercak daun Phyllostica zingiberi pada tanaman jahe

Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan merendam benih dengan agensia hayati Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. seperti penanganan pada penyakit busuk rimpang. Penanganan terhadap tanaman yang terserang di lahan menggunakan pestisida kimia. Sejauh ini belum ada pestisida organik yang cukup efektif mengendalikan penyakit ini. Penyemprotan menggunakan pestisida fungisida berbahan aktif benomil, metil tiofanat, klorotalonil, dan mankozeb, secara berseling dengan interval 14 hari sekali. Dosis atau konsentrasi larutan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan.

HAMA TANAMAN JAHE

Hama penyakit jahe merupakan organisme pengganggu yang berpotensi menimbulkan kerugian bagi kegiatan usaha budidaya jahe. Kerugian yang ditimbulkan akibat serangan hama penyakit ini bisa dalam skala kecil maupun besar, bahkan tidak jarang yang mengakibatkan kegagalan budidaya. Oleh karena itu, untuk menunjang keberhasilan budidaya, hama penyakit tanaman jahe harus dikendalikan dengan serius. Pada artikel ini kami hanya mengulas tentang hama tanaman jahe, sedangkan penyakit pengganggu tanaman jahe dapat Anda lihat pada artikel kami lainnya yang berjudul Penyakit Tanaman Jahe. Berikut ini uraian mengenai hama yang biasa menyerang pada tanaman jahe.

Hama Tanaman Jahe

Hama merupakan binatang pengganggu atau perusak tanaman jahe yang pada periode atau musim tertentu dapat menimbulkan kerugian sangat besar. Hama yang biasa menyerang tanaman jahe diantaranya adalah kepik, ulat, kumbang, nematoda, dan kutu daun. Berikut ini cara pengendalian hama pengganggu tanaman jahe:

Hama kepik pada tanaman jahe

Hama kepik yang biasa menyerang tanaman jahe adalah Epilahre sp. Kepik merupakan hama utama pada tanaman jahe yang menyerang pada bagian daun. Daun yang terserang akan berlubang-lubang.

Hama kepik dapat dikendalikan dengan insektisida organi, yaitu dengan penyemprotan air tuba. Ambil kurang lebih satu 20 cm batang tuba yang sudah tua. Kemudian ditumbuk dan dicampur dengan satu tangki air selama semalam. Pagi harinya air disaring kemudian digunakan untuk menyemprot tanaman. Jika insektisida organik sudah tidak mampu mengendalikan, maka bisa mengendalikan dengan penyemprotan pestisida kimia. Bahan aktif yang bisa digunakan untuk mengendalikan hama kepik ini adalah profenofos, klorpirifos, deltametrin, sipermetrin, atau betasiflutrin. Dosis atau konsentrasi yang digunakan sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan.

Hama ulat pada tanaman jahe




Hama ulat yang biasa menyerang tanaman jahe adalah ulat penggerek akar yang memiliki nama latin Dichorcrosis puntiferalis. Hama ini cukup ganas menyerang tanaman jahe. Akar tanaman jahe yang terserang akan mengering dan akhirnya tanaman mati.

Hama ulat penggerek akar dapat dikendalikan dengan cara seperti pada pengendalian kepik. Insektisida organik dari tuba atau umbi gadung bisa digunakan untuk menyiram di sekitar titik tanam. Jika serangan parah, pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida nematisida berbahan aktif karbofuran dengan dosis 1 gram per titik tanam.

Hama kumbang pada tanaman jahe

Hama kumbang yang biasa menyerang tanaman jahe adalah Araeceras fascicularis dan Lasioderma serricorae. Hama kumbang jahe ini menyerang rimpang, yaitu kumbang betina meletakkan telur pada rimpang jahe menggunakan ovipositornya.

Pengendalian hama kumbang ini sama seperti pengendalian ulat. Untuk menghidari kumbang betina memasukkan telurnya ke dalam rimpang jahe, bisa dilakukan pengocoran menggunakan larutan air tuba seperti yang dilakukan untuk mengendalikan hama ulat penggerek akar. Penyemprotan pestisida kimia bisa dilakukan seperti pada pengendalian hama kepik.

Hama lalat rimpang pada tanaman jahe

Lalat rimpang merupakan hama yang sangat merugikan petani atau pembudidaya jahe. Jenis hama lalat rimpang yang sering tanaman jahe adalah Mimegrala coeruleifrons dan Eumerus figurans. Beberapa ahli menyebutkan bahwa serangan lalat rimpang ini berpotensi menimbulkan serangan busuk rimpang yang diakibatkan oleh bakteri. Namun, pengamatan lain menyebutkan bahwa hama lalat rimpang lebih berpotensi menyerang jika rimpang jahe sudah terinfeksi oleh bakteri. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, yang jelas hingga saat ini lalat rimpang merupakan salah satu hama yang harus diperhatian dengan serius.

Pengendalian hama lalat rimpang perlu mendapatkan perhatian serius oleh petani atau pembudidaya jahe. Pada prinsipnya, pengendalian lalat rimpang ini bisa dilakukan seperti pada pengendalian lalat buah. Lihat LALAT BUAH (Bactrocera sp.). Untuk menghindari serangan pada rimpang, bisa dilakukan pembumbunan secara teratur terhadap rimpang jahe yang menyembul ke permukaan tanah. Selain itu, penyiraman dengan pestisida organik dan pemberian pestisida kimia seperti pada pengendalian hama ulat penggerek akar juga bisa dilakukan.

Hama nematoda pada tanaman jahe

Hama nematoda yang biasa menyerang tanaman jahe adalah Meloidogyne sp.. Hama ini menyerang tanaman jahe pada jaringan akar dan rimpang, sehingga mengakibatkan rimpang menjadi busuk. Akar yang terserang akan membentuk akan terbentuk bintil-bintil kecil akibat pembuluh kayu dan jaringan parenkim menjadi tidak normal. Oleh karena itu, hama ini juga sering disebut dengan hama bintil akar atau puru akar. Rimpang jahe yang terserang nematoda akan berwarna kecokelatan pada bagian permukaannya. Sudut antar tunas akan menunjukkan gejala water soak.

Pengendalian hama nematoda pada tanaman jahe bisa dilakukan menggunakan larutan air tubah, kemudian disiramkan di sekitar titik tanam. Selain itu, bisa juga dilakukan pengendalian secara kimiawi, yaitu dengan menggunakan insektisida nematisida berbahan aktif karbofuran dengan dosis 1 gram/titik tanam.

Hama kutu daun pada tanaman jahe

Hama kutu daun menyerang tanaman jahe dengan cara menghisap cairan tanaman baik pada bagian daun maupun cairan rimpang jahe pada saat awal penanaman. Hama kutu daun yang biasa menyerang tanaman jahe adalah Aspidiella hartii.

Pengendalian hama kutu daun pada tanaman jahe sama seperti pengendalian hama kepik. Hal yang perlu diperhatikan pada saat aplikasi pestisida kimia adalah penggunaan dosis yang terukur sesuai dengan petunjuk yang tertera pada kemasan. Lihat Petunjuk Aplikasi Pestisida

Demikian informasi ini kami sajikan, semoga artikel Hama Tanaman Jahe ini dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

ANALISA USAHA BISNIS BUDIDAYA JAHE

Usaha bisnis budidaya jahe memiliki peluang yang sangat besar. Hal ini disebabkan permintaan pasar terhadap komoditas jahe semakin hari semakin meningkat. Peningkatan konsumsi masyarakat terhadap jahe dipengaruhi oleh peran dan manfaat jahe dalam kehidupan, baik sebagai bumbu masakan, bahan makanan, maupun sebagai bahan obat-obatan, terutama obat tradisional. Salah satu hal yang mempengaruhi tingginya permintaan konsumen terhadap produk jahe ini adalah kandungan minyak atsiri pada rimpang jahe yang sangat tinggi.
Bagaimana kelayakan usaha bisnis budidaya tanaman jahe di negara kita? Di bawah ini kami sajikan analisa usaha bisnis budidaya tanaman jahe yang bisa dijadikan pertimbangan sebelum Anda memutuskan untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan kegiatan usaha budidaya jahe.

Analisa Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe Putih Kecil atau Jahe Emprit dan Jahe Merah

Dalam analisa usaha bisnis ini, kami akan menyajikan studi kelayakan sebuah usaha bisnis, dalam hal ini adalah budidaya tanaman jahe, dengan asumsi harga, variable produksi, produktivitas, hingga harga jual berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi dalam kegiatan budidaya selama tahun 2012.

Biaya Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe Dalam Satu Musim Tanam (12 Bulan)




Sewa Lahan: Rp 10.000.000,-
Benih: 1.000 kg X Rp 6.000,- = Rp 6.000.000,-
pupuk kandang: 40 ton X Rp 250.000,- = Rp 10.000.000,-
NPK: 1.500 kg X Rp 2.300,- = Rp 3.450.000,-
Pengendalian Hama Terpadu: Rp 450.000,-
Tenaga Kerja
Pembuatan Bedengan: 60 HOK X Rp 25.000,- = Rp 1.500.000,-
Penanaman: 60 HOK X Rp 25.000,- = Rp 1.500.000,-
Pemeliharaan: 300 HOK X Rp 25.000,- = Rp 7.500.000,-
Sortasi dan Seleksi: 100 HOK X Rp 25.000,- = Rp 2.500.000,-
Panen dan Pasca Panen: 100 HOK X Rp 25.000,- = Rp 2.500.000,-
JUMLAH= Rp 45.400.000,-

Pendapatan Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe

Panen = 13.000 kg
Penjualan = 13.000 kg X Rp 6.000,- = Rp 78.000.000,-
Pengeluaran = Rp 45.400.000,-
Laba Kotor = Rp 78.000.000,- – Rp 45.400.000,- = Rp 32.600.000,-
Bunga Bank = 12%/thn X Rp 45.400.000,- = Rp 5.448.000,-
Laba Bersih = Rp 27.152.000,-

Analisa Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe Gajah atau Jahe Gajah

Sebagai pembanding untuk menentukan varietas yang akan dibudidayakan, dibawah ini kami sajikan analisa usaha bisnis budidaya tanaman jahe gajah.

Biaya Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe Dalam Satu Musim Tanam (12 Bulan)

Sewa Lahan: Rp 10.000.000,-
Benih: 2000 kg X Rp 6.000,- = Rp 12.000.000,-
Pupuk Kandang: 40 ton X Rp 250.000,- = Rp 10.000.000,-
Pupuk NPK: 1.500 kg X Rp 2.300,- = Rp 3.450.000,-
Pengendalian Hama Terpadu: Rp 450.000,-
Tenaga Kerja
Pembuatan Bedengan: 60 HOK X Rp 25.000,- = Rp 1.500.000,-
Penanaman: 60 HOK X Rp 25.000,- = Rp 1.500.000,-
Pemeliharaan: 300 HOK X Rp 25.000,- = Rp 7.500.000,-
Sortasi dan Seleksi: 100 HOK X Rp 25.000,- = Rp 2.500.000,-
Panen dan Pasca Panen: 100 HOK X Rp 25.000,- = Rp 2.500.000,-
JUMLAH = Rp 51.400.000,-

Pendapatan Usaha Bisnis Budidaya Tanaman Jahe

Panen = 18.000 kg
Penjualan = 18.000 kg X Rp 5.000,- = Rp 90.000.000,-
Pengeluaran = Rp 51.400.000,-
Laba Kotor = Rp 90.000.000,- – Rp 51.400.000,- = Rp 38.600.000,-
Bunga Bank = 12%/thn X Rp 51.400.000,- = Rp 6.168.000,-
Laba Bersih = Rp 32.432.000,-

Demikian informasi ini kami sajikan, semoga artikel Analisa Usaha Bisnis Budidaya Jahe ini dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

ARTIKEL POPULER