Tampilkan postingan dengan label HORTIKULTURA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HORTIKULTURA. Tampilkan semua postingan

MEMBUAT BIBIT DURIAN

Membuat Bibit Durian – Perbanyakan bibit durian dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah perbanyakan menggunakan teknik sambung (grafting), okulasi (budding), dan teknik penyusuan. Ketiga teknik perbanyakan tanaman tersebut merupakan cara paling cocok untuk menghasilkan bibit durian berkualitas unggul.

Teknik Menyambung (Grafting) Pada Durian

Persiapan batang bawah

Batang bawah berfungsi sebagai penyerap makanan dari dalam tanah, sehingga membutuhkan tanaman berakar dalam. Fungsi lain batang bawah adalah menopang pertumbuhan tanaman, sehingga membutuhkan tanaman kuat. Selain itu, batang bawah juga harus mampu memberikan suplai makanan untuk batang atasnya sehingga tidak mengurangi kualitas dan kuantitas buah.
Langkah-langkah mempersiapkan batang bawah
  1. Biji dipilih dari tanaman yang memiliki daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan. Pilihlah biji bernas, tidak kempes, besar, dan bentuk fisik baik.
  2. Diamkan biji selama satu minggu, kemudian rendam dengan larutan hormon tumbuhan jenis auksin + sitokinin selama 4 jam menjelang ditanam.
  3. Tanam biji di media dalam polibag berukuran diameter 20 cm, tinggi 25 cm. Media tanam berupa campuran tanah dan Pupuk Organik dengan perbandingan 1:1. Tambahkan pupuk NPK ke dalam media kurang lebih sendok makan.
  4. Lakukan perawatan secara rutin, terutama penyiraman tanaman agar tidak kekeringan. Hama penyakit juga harus dikendalikan, meskipun daya tahan tanaman terhadap serangan hama penyakit tinggi.
  5. Setelah tumbuh, bibit siap dilakukan penyambungan setelah mencapai ukuran 15-20 cm.

Persiapan batang atas




Batang atas disebut juga dengan istilah scion atau entres, yaitu bagian atas tanaman sambungan berpotensi menghasilkan buah berkualitas unggul. Oleh karena itu, batang atas harus dipilih dari tanaman yang memiliki kualitas buah unggul, baik rasa, ketebalan daging buah, aroma, maupun kuantitas buah. Batang atas dipilih dari pohon induk unggul, berasal dari cabang sehat, serta tidak terserang hama penyakit.
Langkah-langkah menyiapkan batang atas
  1. Pilih pohon berkualitas buah unggul, kemudian cari cabang atau bagian tanaman sehat berkururan sama dengan ukuran batan bawah, serta memiliki percabangan 2-4 arah dan memiliki tunas baru.
  2. Potong cabang calon batang atas, kemudian segera ditempelkan dengan bibit batang bawah. Jangan menyimpan terlalu lama agar tanaman tidak layu.

Teknik penyambungan bibit durian

Bagian atas batang bawah dipotong miring sehingga bentuknya meruncing atau bisa juga membuat potongan berbentuk huruf ‘V’. Sesuaikan potongan batang atas dengan bentuk porongan batang bawah, kemudian tempelkan dengan batang bawah. Ikat dengan tali lunak, misalnya menggunakan isolatip pipa. Letakkan bibit sambungan di tempat teduh selama beberapa hari agar tanaman tidak mengalami dehidrasi. Lakukan penyiraman secara rutin, tetapi jangan sampai kelebihan air.

Teknik Okulasi Pada Durian

Okulasi merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan penggabungan dua jenis tanaman menggunakan mata tunas sebagai batang atasnya. Tujuan okulasi adalah menghasilkan bibit tanaman unggul baik kualitas maupun kuantitas produksinya.

Persiapan batang bawah

Secara teknis, persiapan batang bawah untuk bibit okulasi tidak beda jauh dengan bibit sambung (grafting), baik kriteria maupun cara penyemaiannya. Hanya saja ukuran tanaman untuk bibit okulasi lebih besar dibanding dengan bibit sambung (grafting). Bibit siap dilakukan okulasi jika sudah berukuran tinggi minimal 50 cm.

Persiapan batang atas

Kriteria tanaman calon batang atas pada bibit okulasi juga tidak beda jauh dengan tanaman untuk bibit sambung (grafting). Perbedaannya hanya terletak pada penggunaan bagian tanaman. Jika pada teknik sambung menggunakan cabang atau pucuk tanaman, maka pada teknik okulasi membutuhkan mata tunas sebagai calon batang atasnya. Berikut ini cara memilih tunas untuk bibit okulasi:
  1. Pilihlah mata tunas dari cabang tidak terlalu tua dan terlalu muda, atau masih setengah berkayu, biasanya memiliki warna kulit cokelat muda, agak kehijauan atau keabu-abuan.
  2. Sebelum diambil mata tunasnya, sebaiknya daun pada cabang terpilih dirontok terlebih dahulu dua minggu sebelum pengambilan mata tunas.
  3. Mata tunas diambil dengan menyayat kulit kayu cabang terpilih. Jika bagian dalamnya tampak berair, menandakan bahwa kambiumnya masih aktif. Hal ini akan mempercepat interaksi dengan batang bawah setelah dilakukan penempelan.

Cara Okulasi Bibit Durian

  1. Ambil bibit batang bawah, cari mata tunas yang berjarak 20 cm dari permukaan media. Sayat secara melintang kulit batang bawah tersebut kurang lebih 1 cm di atas mata tunas.
  2. Tarik dan kupas sayatan kulit batang bawah sepanjang 3 cm kearah bawah. Potong tepat pada mata tunasnya, sehingga sayatan kulit tersisa kurang lebih 2/3 bagian.
  3. Sayat mata tunas calon batang secara melintang, kurang lebih 1 cm di atas mata tunas. Tarik dan kupas ke arah bawah kurang lebih sepanjang 3 cm. Perlu diperhatikan, bahwa kambium harus ikut terbawa, jika tidak, okulasi dipastikan gagal.
  4. Tempelkan sayatan mata tunas batang atas ke sayatan batang bawah. Ikat tempelan mata tunas tersebut melingkari batang bawah.
  5. Lindungi mata tunas tersebut dengan kantong plastik bening selama kurang lebih satu minggu. Letakkan ditempat teduh tidak terkena sinar matahari langsung selama beberapa hari hingga mata tunas terlihat hijau.
  6. Jika setelah dua minggu perisai mata tunas berwarna hijau, berarti okulasi berhasil. Tatapi jika berwarna cokelat, maka okulasi dipastikan gagal.

Teknik Penyusuan Pada Durian

Teknik penyusuan dilakukan dengan menggabungkan dua jenis tanaman hidup, dimana batang atas dan batang bawah masih sama-sama menempel perakarannya. Keberhasilan teknis penyusuan ini lebih tinggi dibanding dua teknik di atas.
Kriteria menentukan batang bawah dan batang atas tidak berbeda jauh dengan dua teknik di atas. Hanya saja ukuran batang untuk teknik penyusuan kurang lebih berdiameter 0,6 cm, tinggi 45 cm biasanya bibit berumur satu tahun.

Cara Melakukan Penyusuan Pada Durian

  1. Sayat kedua tanaman baik bibit batang bawah maupun cabang calon batang atas dengan ukuran sama dan empulur tidak ikut tersayat.
  2. Tempelkan kedua sayatan tersebut, harus menutupi satu sama lain, sehingga tidak ada bagian terbuka. Oleh karena itu, ukuran sayatan sebaiknya tidak terlalu besar.
  3. Ikat susuan tersebut, usahakan air hujan tidak masuk ke dalam susuan, karena dapat menimbulkan serangan patogen.
  4. Ikat polibag bibit batang bawah pada salah satu cabang tanaman batang atas agar tidak jatuh.
  5. Siram media bibit batang bawah setiap hari. Lakukan pengontrolan pada ikatan susuan tersebut.
  6. Setelah berumur 2 bulan bekas tempelan mengembang, menandakan teknik perbanyakan tersebut berhasil.
  7. Potong bibit batang bawah 1 cm di atas balutan atau tempelan. Seminggu kemudian, potong batang atas di bawah balutan atau tempelan.
  8. Olesi bekas potongan tersebut dengan fungisida agar tidak terinfeksi cendawan.

MENGENAL TANAMAN OBAT MENGKUDU

Mengenal Tanaman Obat Mengkudu – Mengkudu dikenal sebagai buah yang memiliki khasiat sebagai obat tradisional cukup ampuh. Berbagai macam penyakit dapat disembuhkan dengan ramuan dari tanaman ini. Hampir seluruh bagian tanamannya dapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit.

Tanaman mengkudu berasal dari genus Morinda, yang terdiri lebih dari 80 spesies. Sekitar 60% dari spesies tersebut banyak tumbuh di pulau-pulau yang terletak di sekitar Lautan Pasifik dan Hindia. Namun, hanya 20% dari spesies Morinda yang memiliki nilai ekonomis tinggi, salah satunya adalah Morinda citrifolia atau yang di Indonesia dikenal dengan nama Pace atau Mengkudu. Bahkan kepopuleran mengkudu memberikan predikat hingga dijuluki Queen of the Morinda.

Klasifikasi Tanaman Mengkudu

Filum : Angiospermae
Sub filum : Dycotiledonae
Divisi : Lignosae
Famili : Rubiaceae
Genus : Morinda
Spesies : Morinda citrifolia

Sejarah Perkembangan Mengkudu

Tanaman yang termasuk ke dalam keluarga kopi-kopian ini berasal dari daerah Asia Tenggara, yang kemudia menyebar keseluruh dunia, seperti China, Philipina, India, Tahiti, Hawaii, Karibia, Florida, Haiti, Fuji, Kuba, Australia, dan Afrika. Konon, pada 100 tahun Sebelum Masehi, penduduk Asia Tenggara melakukan migrasi ke daratan Polinesia. Dalam perpindahannya tersebut, mereka membawa binatan dan tumbuhan yang dianggap paling berperan untuk menopang kehidupan. Beberapa tumbuhan yang dibawa pada umumnya memiliki kegunaan sebagai bahan pangan, pakaian, bangunan, dan obat-obatan. Salah satu jenis tanaman obat yang dibawa adalah mengkudu. Setelah migrasi yang dilakukan oleh penduduk Asia Tenggara ke daerah Polinesia, kemudian mengkudu mulai menyebar ke berbagai penjuru dunia. Dengan demikian, pemanfaatan mengkudu sebagai obat tradisional telah dilakukan ribuan tahun silam.

Manfaat Mengkudu




Pada perkembangan selanjutnya, bangsa Polinesia menyebut mengkudu dengan nama Noni. Mereka memanfaatkan noni sebagai tanaman obat-obatan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, diantaranya adalah penyakit tumor, asma dan gangguan pernapasan lain, penyakit kulit, luka, dan penyakit usia lanjut. Dan pengetahuan mengenai manfaat mengkudu sebagai tanaman obat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui cerita-cerita rakyat atau nyanyian-nyanyian. Pada masa kejayaan Polinesia, seorang Kahuna (nama yang ditujukan untuk seorang tabib), selalu menggunakan mengkudu sebagai bahan dasar resep obat-obatan.

Pengetahuan tentang khasiat tanaman mengkudu sebagai obat tradisional juga bisa dilihat dari sejarah pengobatan China. Terdapat beberapa peninggalan sejarah dalam bentuk tulisan-tulisan kuno pada masa pemerintahan Dinasti Han, kurang lebih 2000 tahun silam.

Selain dimanfaatkan sebagai obat tradisional, mengkudu juga dimanfaatkan sebagai bahan pewarna alami. Pada tahun 1849, penelitian yang dilakukan oleh industri tekstil Eropa menemukan zat pewarna alami dari tanaman mengkudu yang kemudian diberi nama Morindone dan Morindin. Dari hasil penelitian-penelitian ilmiah inilah, nama Morinda kemudian disematkan pada tanaman mengkudu atau pace.

Dan pada tahun 1860, khasiat mengkudu sebagai tanaman obat ditulis dalam literatur pengobatan barat. Pencatatan tersebut diawali dengan penelitian untuk mencari obat terhadap penyakit-penyakit baru yang ditemukan. Para peneliti Eropa kemudian mulai mempelajari sejarah dan kebudayaan bangsa Polinesia termasuk teknologi pengobatannya.

Kemudian pada tahun 1950 ditemukan zat antibakteri yang terdapat pada buah mengkudu. Pada perkembangan selanjutnya, selama dua puluh tahun, yaitu 1960-1980 dilakukan riset-riset ilmiah untuk membuktikan mengkudu dapat berperan sebagai obat untuk menurunkan penyakit tekanan darah tinggi. Penelitian terhadap kandungan dan manfaat mengkudu terus dilakukan oleh para ahli, hingga pada tahun 1972, seorang ahli biokimia yang bernama Dr. Ralph Heinicke melakukan penelitian terhadap kandungan xeronine pada buah mengkudu. Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1993, dalam sebuah penelitian ilmiah ditemukan kandungan damnacanthal yang merupakan zat antikanker pada buah mengkudu.

TEKNIK MENANAM TANAMAN HIAS SANSEVIERIA

Teknik Menanam Tanaman Hias Sansevieria - Sansevieria merupakan salah satu jenis tanaman hias yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonrsia. Tanaman yang dikenal dengan nama lidah mertua ini memiliki banyak penggemar dari berbagai kalangan di seluruh belahan dunia. Sansevieria terdiri dari berbagai varietas yang sangat beragam. Sebagai tanaman hias, sansevieria sering dimanfaatkan sebagai elemen penghias ruangan maupun pengias taman dan teras rumah. Tanaman ini dikenal mampu menyerap polusi udara dan menghilangkan radiasi lingkungan, sehingga tidak mengherankan jika tanaman hias sansevieria banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penyegar dalam ruangan. Bahkan menurut keyakinan yang berkembang di Tionghoa, tanaman hias sansevieria mampu menghadirkan chi dan menghilangkan pengaruh negatif dalam rumah. Beberapa varietas tanaman hias sansevieria, karena kelangkaan jenis dan keindahan penampilan fisiknya, tergolong dalam tanaman hias eksklusif yang harganya cukup mahal.

Tanaman ini memiliki daya hidup yang cukup baik, bahkan mampu bertahan pada kondisi media atau lahan yang kekurangan unsur hara atau mengalami kekeringan. Penampilan fisik, corak, dan warna daunnya sangat menawan, sehingga tidak mengherankan jika para penggemar tanaman hias dari dulu hingga kini masih mencintai kehadirannya. Tanaman hias sansevieria memiliki warna daun yang sangat beragam, mulai dari hijau, kuning, keputihan, hingga abu-abu. Corak daunnya juga sangat bervariasi, ada yang polos, bergaris, dan ada pula yang beribintik-bintik. Tunas daun tumbuh dari pangkal batang atau rimpang akar di dalam tanah, sehingga memberikan kesan unik terhadap tanaman hias ini.

Teknik Menanam Tanaman Hias Sansevieria

Sebelum melakukan penanaman, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan, sehingga diperoleh pertumbuhan yang optimal dan penampilan yang menawan. Pot yang digunakan harus disesuaikan dengan bentuk atau tipe varietas tanaman hias ini. Begitu pula dengan media tanamnya, yang juga harus disesuaikan dengan karakteristik pertumbuhan tanaman. Misalnya, untuk mendapatkan penampilan yang cantik dan menawan, varietas sansevieria yang berukuran besar dan tinggi sebaiknya ditanaman pada pot yang besar dan tinggi pula, agar penampilannya lebih seimbang. Pemilihan bahan pembuat pot juga menentukan keindahan penampilan, misalnya sansevieria yang berukuran kecil atau mini akan lebih menarik jika ditanam pada pot yang terbuat dari keramik. Sementara itu, untuk menopang pertumbuhan dan kesehatan tanaman, media tanaman sansevieria juga harus steril dan memiliki kandungan unsur hara yang cukup agar pertumbuhan tanaman tidak merana.

Pemilihan Pot




Pot yang digunakan untuk menanan tanaman hias ini dapat berupa pot yang terbuat dari plastik, tanah liat, semen, maupun pot keramik. Masing-masing jenis pot ini memiliki beberapa keuntungan atau kelebihan maupun kekurangan.

Pot tanah liat maupun semen memiliki kelebihan tersendiri, yaitu mudah menyerap air, sehingga kelebihan air pada saat penyiraman lebih tidak beresiko terhadap kesehatan tanaman. Namun, umumnya pot jenis ini harganya lebih mahal. Sementara pot plasti maupun pot keramik tidak mudah menyerap dan membuang kelebihan air, sehingga perlu dibuatkan lubang pembuangan air yang lebih besar. Namun, harga pot plastik relatif lebih murah, sedangkan pot keramik memiliki keindahan penampilan yang menawan. Pada umumnya, para penggemar tanaman hias memilih perpaduan antara pot plastik dan pot keramik. Sansevieria ditanam dalam pot plastik, baru kemudian dimasukkan dalam pot keramik yang ukurannya lebih besar, sehingga pot keramik tetap bersih tidak kotor oleh media.

Komposisi Media Tanam

Secara umum, tanaman hias sansevieria merupakan tanaman kering, artinya tidak menyukai kelebihan air dalam media. Oleh karena itu, pemilihan media juga harus mempertimbangkan karakteristik tersebut. Meskipun lebih menyukai media yang kering, namun pembuatan komposisi juga harus mempertimbangkan karakteristik varietasnya, yaitu kelompok varietas yang lebih toleransi dengan media agak basah, dan kelompok varietas yang benar-benar membutuhkan media dengan kadar air yang minim, terutama untuk tipe sansevieria berdaun silindris. Untuk kelompok pertama, komposisi media terdiri dari 1 pasir malang, 1 sekam bakar, dan 1 Pupuk Organik. Dengan komposisi tersebut, media masih memiliki kemampuan mengikat air yang cukup. Sedangkan kelompok yang benar-benar membutuhkan media dengan kadar air minim yaitu dengan komposisi 2 pasir malang, 1 sekam bakar, dan 1 pupuk organik. Dengan komposisi tersebut, media memiliki kemampuan mengikat air sangat rendah. Secara umum, kebutuhan air tanaman hias ini kurang lebih 26 mililiter per tanaman per minggu, sehingga sebagai tanaman hias dalam ruangan, sansevieria masih mampu tumbuh baik dengan tidak disiram selama setengah bulan. Tanaman ini juga mampu bertahan hidup dalam kondisi polusi udara yang sangat tinggi, dimana pada kondisi tersebut tanaman lain jarang yang mampu bertahan hidup. Salah satu kelebihan tanaman hias ini adalah daya hidupnya yang cukup tinggi atau bisa dibilang tanaman yang bandel.

Teknik Perbanyak Tanaman

Teknik penanaman sansevieria cukup mudah, hampir tidak beda dengan penanaman tanaman hias lain. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan pemisahan anakan, stek daun, maupun potong pucuk. Biasanya para penggemar sansevieria melakukan perbanyakan dengan pemisahan anakan atau tunas.
Perbanyakan Tanaman Hias Sansevieria Dengan Teknik Pemisahan Anakan
Tanaman hias sansevieria biasanya akan memiliki anakan pada umur satu tahun. Anakan tersebut dipisahkan setelah berumur 2-4 bulan, yaitu dengan cara sebagai berikut:
  1. Pilih pohon induk yang tampak rimbun dan memiliki beberapa anakan.
  2. Tanaman terlebih dahulu harus dikeluarkan dari pot, kemudian bersihkan perakaran dari media tanam atau kotoran lain agar memudahkan proses pemisahan.
  3. Pisahkan anakan yang sudah memiliki paling tidak tiga helai daun yang keluar dari pangkal batang. Pemotongan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dan bekas potongan diolesi dengan pestisida.
  4. Setelah semua anakan yang berdaun minimal tiga helai dipisahkan, masukkan kembali sansevieria ke dalam pot yang sudah disiapkan.
  5. Sebelum tanaman dimasukkan ke dalam pot, terlebih dahulu ¾ bagian diisi dengan media. Letakkan sansevieria di atas media, kemudian tambahkan media hingga pot penuh atau sampar perakaran terpendam.
  6. Tambahkan pupuk NPK secukupnya, ke dalam media, kemudian siram media dan seluruh tanaman hingga air mengalir keluar dari dalam pot. Penyiraman selain untuk mempercepat proses adaptasi tanaman juga untuk memadatkan media tanam.
  7. Letakkan tanaman di tempat yang teduh, dan lakukan penyiraman 3 hari sekali atau jika media sangat kering dan tanaman tampak layu, bisa segera disiram.
Perbanyakan Tanaman Hias Sansevieria Dengan Teknik Stek Daun
Selain pemisahan anakan, cara perbanyakan yang juga cukup banyak dilakukan oleh pembudidaya atau penggemar tanaman hias sansevieria adalah dengan stek daun. Cara ini cukup mudah dilakukan, meskipun laju pertumbuhan tanaman hasil perbanyakan akan sedikit lambat. Namun perlu diingat, perbanyakan dengan cara stek daun ini hanya cocok dilakukan untuk jenis atau varietas tanaman hias sansevieria tertentu agar tidak mengalami perubahan fisik daun, misalnya sansevieria jenis Laurentii, Golden Hahnii, Futura, atau Bantel’s.
Karakteristik daun setiap jenis sansevieria juga berbeda-beda, misalnya untuk beberapa jenis sansevieria yang berdaun pendek, setiap helai daun merupakan satu individu, artinya, satu helai daun hanya dapat distek untuk satu tanaman saja. Sementara itu, untuk sansevieria jenis pedang-pedangan, setiap helai daun dapat dipotong-potong menjadi beberapa individu.
Untuk melakukan perbanyakan dengan stek daun, terlebih dahulu harus memilih induk yang cukup siap, sehat, dan cukup umur, dengan ukuran daun yang relatif besar. Daun yang dipilih adalah daun yang paling tua atau paling bawah. Tancapkan daun atau potongan daun pada media tanam. Komposisi media tanam sama seperti komposisi media yang digunakan untuk menanam tanaman induk. Olesi bagian bawah dengan perangsang akar, seperti Rooton F atau Grow Tone. Letakkan stek di tempat yang teduh atau tidak terkena sinar matahari langsung. Untuk stek daun dari jenis sansevieria yang bertipe pedang, potongan berukuran kurang lebih 10 cm. Siram media tanam hingga air keluar dari dalam pot. Penyiraman dilakukan secara rutin jika kondisi media kering.
Perbanyakan Tanaman Hias Sansevieria Dengan Teknik Potong Pucuk
Pada umumnya, setiap individu akan mengeluarkan dua anakan atau tunas baru. Dengan melakukan toping, atau teknik potong pucuk, anakan yang dihasilkan akan lebih banyak, karena suplai nutrisi tidak digunakan untuk pertumbuhan tanaman induk yang telah ditoping. Selain itu, tanaman yang sudah dimatikan titik tumbuhnya, secara alamiah akan terangsang untuk mengeluarkan tunas atau anakan baru, yang bertujuan untuk memperbaiki daur hidupnya. Teknik potong pucuk ini lebih sesuai diterapkan pada jenis sansevieria yang sulit mengeluarkan anakan atau tunas, misalnya Congo, Nelsonii, atau Moonshine.
Sebelum melakukan pemotongan pucung, pilih pohon induk yang siap, yaitu berdaun minimal 12 helai dan sudah membentuk batang. Potong bagian atas atau pucuk tanaman, minimal sebatas 4 helai daun bagian atas. Lepaskan bagian pucuk tersebut secara perlahan agar susunan daun pada pucuk yang dipotong tidak terlepas. Diamkan ditempat kering selama dua hari, kemudian tanam pucuk tersebut pada media yang telah disiapkan. Siram media tanam dengan air secukupnya, dan letakkan ditempat yang teduh. Penyiraman terus dilakukan secara rutin jika media tanam terlihat kering. Untuk sansevieria yang bertipe daun tipis, anakan akan mulai muncul setelah satu bulan penanaman, sedangkan sansevieria yang bertipe tebal, anakan akan muncul setelah berumur tiga bulan.

Penyiraman Tanaman

Karena sansevieria merupakan jenis tanaman yang lebih menyukai kondisi kering, maka penyiraman hanya dilakukan seperlunya saja. Penyiraman berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air dan sebagai pelarut unsur hara pada media. Namun, kebutuhan air tanaman hias ini sangat kecil, sehingga lebih tahan pada kondisi yang relatif minim air.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan setiap tiga bulan sekali, menggunakan pupuk akar slow release, yaitu pupuk yang tidak mudah larut. Pupuk yang digunakan adalah NPK 15-15-15. Untuk pot yang berdiameter 15 cm, pemberian pupuk NPK cukup satu sendok makan. Untuk mempercepat pertumbuhan, pemberian pupuk daun juga bisa dilakukan setiap 7 hari sekali. Pupuk daun yang digunakan memiliki komposisi kandungan unsur hara dengan perbandingan NPK 1:1:1.

Repoting Tanaman

Repoting atau penggantian pot baru perlu dilakukan jika tanaman sudah tampak padat atau penuh dengan anakan, sehingga mengurangi estetika atau keindahan penampilan tanaman hias ini. Selain untuk membenahi penampilan tanaman, repoting juga berfungsi untuk mengganti media tanam yang sudah tidak subur lagi. Penggantian media tanam yang baru akan meningkatkan laju pertumbuhan tanaman.

Keluarkan tanaman dari dalam pot jika agak keras, saat mengeluarkan tanaman, pot dipukul atau diketok pelan-pelan. Pisahkan anakan yang mengganggu penampilan sekaligus untuk perbanyakan tanaman. Siapkan pot baru yang berukuran lebih besar, isi ½ bagian pot dengan media tanaman. Masukkan tanaman yang akan dipindahkan, kemudian isi kembali pot dengan media tanam hingga bibir pot. Tambahkan pupuk NPK slow release pada media tanam tersebut. Siram media dan tanaman hingga air keluar dari dalam pot, kemudian letakkan tanaman di tempat yang teduh.

Aksesories Tanaman Hias Sansevieria

Untuk menambah kecantikan penampilan tanaman hias sansevieria, para pembudiaya maupun hobis biasanya menambahkan beberapa aksesories. Beberapa aksesories yang sering digunakan untuk memperindah sansevieria antara lain pasir malang, batu alam, atau kerikil berwarna.

SISTEM KEMITRAAN DALAM USAHA AGRIBISNIS PERTANIAN

Berkembangnya usaha agribisnis di Indonesia telah membuka wacana baru dalam praktek-praktek agribisnis yang dialakukan tertutama oleh petani atau pembudidaya. Salah satu bentuk usaha agribisnis yang cukup banyak dilakukan adalah dengan konsep kemitraan. Beberapa perusahaan mencoba untuk menawarkan konsep kemitraan ini kepada para petani untuk memproduksi suatu komoditas tertentu dan menjamin pemasaran hasil produksinya. Konsep dan pola kemitraan yang ditawarkan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain berbeda-beda. Beberapa hal yang mempengaruhi konsep dan pola kemitraan adalah jenis komoditas yang dibudidayakan, permintaan konsumen dari komoditas yang dibudidayakan, serta pangsa pasar dari komoditas yang dibudidayakan.

Jenis komoditas yang satu dengan komoditas yang lain akan menghasilkan konsep dan pola kemitraan yang berbeda. Begitu pula perusahaan yang memiliki pangsa pasar tertentu terhadap suatu komoditas, akan memiliki konsep dan pola kemitraan yang berbeda dengan perusahaan yang memiliki pangsa pasar lain dengan komodiatas yang sama. Permintaan konsumen pun mempengaruhi pola kemitraan yang ditawarkan oleh perusahaan atau perseorangan kepada petani.

Dengan adanya pola kemitraan ini, pada satu sisi petani mengalami beberapa keuntungan, namun pada sisi lain, justru merasa tidak memiliki kebebasan. Beberapa perusahaan yang mengadakan kemitraan kepada petani atau pembudidaya sebagai pelaku agribisnis, bahkan ada yang menerapkan konsep dan pola dengan pemberian modal usaha kepada petani atau pembudidaya. Hal ini tentunya akan memberikan keuntungan tersendiri, terutama bagi petani yang memiliki keterbatasan sektor permodalan. Berikut ini kami uraikan beberapa gambaran mengenai kelebihan dan kekurangan konsep dan pola kemitraan yang dikembangkan oleh para pelaku agribisnis.

Kelebihan sistem kemitraan dalam usaha agribisnis :



  1. Beberapa perusahaan ada yang menawarkan dukungan permodalan kepada petani atau pembudidaya, hal ini tentu sangat menguntungkan bagi petani atau pembudidaya dengan modal yang terbatas.
  2. Beberapa perusahaan ada yang menawarkan dukungan sarana-sarana produksi, sehingga petani atau pembudidaya tidak kesulitan dalam mengadakan sarana-sarana produksi.
  3. Sektor pemasaran akan lebih terjamin, karena hasil produksi akan dibeli atau disalurkan oleh perusahaan mitra petani atau pembudidaya.
  4. Adanya pendampingan teknis oleh perusahaan tentu akan memberikan tambahan pengalaman kepada petani atau pembudidaya dalam hal teknologi budidaya.
  5. Kualitas produksi akan lebih terkontrol, sehingga petani atau pembudidaya akan lebih disiplin selama proses produksi
  6. Penetapan target produksi, sehingga dapat memacu produtivitas di sektor pertanian.
  7. Jika sistem kemitraan berkembang dengan baik, dapat meningkatkan ekonomi masyarakat pada suatu daerah.
  8. Produktifitas lahan yang tinggi akan memberikan pengaruh pada perekonomian nasional.
Itulah beberapa keuntungan atau kelebihan secara umum pada sistem kemitraan yang dikembangkan oleh para pelaku agribisnis. Dengan berembangnya sistem kemitraan ini, diharapkan pengembangan usaha di sektor pertanian lebih cepat sehingga akan membantu percepatan pertumbuhan perekonomian nasional.

Disamping memiliki beberapa kelebihan atau keunggulan, sistem kemitraan juga memiliki beberapa kekurangan atau kelamahan diantaranya adalah:
  1. Adanya keterkaitan dan tanggung jawab banyak orang, sehingga sistem kemitraan ini akan memerlukan banyak proses dalam pelaksanaannya.
  2. Aturan yang dibuat biasanya berdasarkan kepentingan perusahaan untuk memenuhi pangsa pasar yang dikelolanya, sehingga petani atau pembudidaya tidak memiliki nilai tawar yang kuat.
  3. Jika salah satu pihak tidak menepati komitmen yang telah disepakati, maka akan menimbulkan suatu perselisihan.
  4. Dalam pola kemitraan dengan sistem inti plasma, biasanya pihak plasma akan menggantungkan pada pihak inti, sehingga apabila terjadi kerugian pada perusahaan inti, maka kegiatan pihak plasma pun akan terhenti.
  5. Standarisasi produk yang sangat ketat, jika produksi yang dihasilkan oleh petani banyak yang tidak masuk pada kriteria standar yang telah ditetapkan, maka akan dilakukan sortasi dalam jumlah yang besar. Hal ini tentu saja sangat merugikan petani atau pembudidaya.
  6. Jika tenis budidaya yang dikembangkan mengikuti arahan teknis dari perusahaan, dan pada suatu ketika dalam proses produksi mengalami kendala, misalnya serangan hama atau penyait, maka penanganan pun akan sedikit terhambat, karena tidak jarang yang menunggu instruksi atau persetujuan perusahaan untuk menanggulangi serangan hama atau penyakit. Hal ini akan menimbulkan resiko yang lebih besar terutama pada pihak produsen.
Demikian uraian singkat mengenai sistem kemitraan dalam usaha agribisni pertanian. Semoga informasi yang kami sajikan dapat memberi manfaat bagi pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungannya, salam Tanijogonegoro.

KRITERIA BIBIT TANAMAN YANG BAIK

Bibit tanaman yang baik dan berkualitas merupakan faktor penunjang yang memiliki peran penting terhadap keberhasilan produksi agribisnis pertanian pada suksektor budidaya. Bibit tanaman yang berkualitas dengan mutu tinggi adalah bibit yang memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh tinggi), dan mutu fisik. Tingginya permintaan konsumen terhadap produk-produk pertanian mengakibatkan kebutuhan sarana dan prasarana pertanian meningkat, termasuk dalam hal ini adalah permintaan akan bibit tanaman.

Sebagai petani atau pembudidaya, baik yang melaksanakan proses budidaya dengan cara tradisional maupun yang telah menerapakan sistem budidaya pertanian secara intensif, pemilihan bibit tanaman harus dilakukan secara hati-hati, pilihlah bibit unggul yang sudah benar-benar teruji. Hindari pemilihan bibit tanaman dengan keputusan yang sifatnya spekulatif.

Dewasa ini seiring dengan perkembangan teknologi di sektor pertanian, pada saat yang sama juga diikuti dengan perkembangan organisme pengganggu tanaman yang semakin tidak terkendali. Mengandalkan kemampuan dan daya bunuh pestisida untuk mengendalikan tingkat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) bukanlah hal yang bijak, mengingat kondisi lahan pertanian yang semakin hari semakin kritis serta komitmen untuk tetap menjaga lingkungan agar tetap sehat dan mengurangi tingkat paparan pestisida pada manusia. Disamping itu, tingkat kekebalan organisme pengganggu tanaman atau dalam dunia pertanian dikenal dengan istilah resistensi terhadap bahan aktif pestisida tertentu yang beredar di pasaran, tentu saja akan membuat biaya produksi membengkak, baik dengan meningkatkan dosis pestisida yang digunakan maupun memperpendek interval aplikasi pestisida.



Oleh karena itu, salah satu cara yang tepat untuk meningkatkan produksi pertanian adalah dengan pemilihan bibit tanaman yang benar-benar memiliki tingkat ketahanan tinggi terhadap serangan organisme pengganggu tanaman. Dengan demikian, kriteria pertama yang harus dipenuhi dalam memilih bibit tanaman adalah tingkat ketahanan tanaman terhadap serangan organisme pengganggu tanaman. Ketahanan bibit tanaman ini menjadi kriteria utama sebelum menentukan kriteria yang lain, misalnya produktivitas, kualitas hasil produksi, maupun umur panen. Dengan tanaman yang memiliki tingkat ketahanan tinggi terhadap serangan organisme pengganggu tanaman, diharapkan tanaman yang kita budidayakan akan tumbuh sehat. Jika tanaman tumbuh sehat, maka peluang petani atau pembudidaya untuk memanipulasi agar tanaman menjadi subur semakin besar. Misalnya, dengan pemberian pupuk yang tepat, baik tepat waktu, tepat dosis, maupun tepat sasaran. Sebagai contoh, untuk meningkatkan cita rasa buah, maka bisa diberikan tambahan pupuk dengan kandungan kalium tinggi. Bisa juga memanipulasi pertumbuhan tanaman dengan pemberian hormon tumbuhan secara terukur dan tidak berlebihan. Pemberian hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh juga bisa dilakukan untuk memanipulasi agar karakter pertumbuhan tanaman sesuai dengan yang kita inginkan. Sebagai contoh, pemberian hormon tumbuhan atau zat pengatur tumbuh dari derivat sitokinin dalam dosis yang tepat dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, hasil panen bisa lebih tahan lama.

Setelah bibit tanaman yang kita kehendaki memiliki kriteria terhadap ketahanan serangan organisme penganggu tanaman, maka kriteria berikutnya yang harus dipenuhi saat memilih bibit tanaman adalah produktifitas tanaman. Usahakan untuk memilih bibit tanaman dari varietas atau jenis unggul yang memiliki produktifitas tinggi. Dengan produktifitas tinggi, maka peluang petani atau pembudidaya untuk mendapatkan hasil yang maksimal semakin besar. Standar produktifitas untuk setiap jenis tanaman berbeda-beda. Misalnya, tanaman cabai memiliki produktifitas tertentu yang berbeda pada tanaman jahe atau tanaman jagung. Oleh karena itu, petani harus memiliki standar produksi untuk tanaman yang akan dibudidayakannya.

Kriteria pemilihan bibit tanaman selanjutnya adalah umur tanaman. Tanaman yang mampu berproduksi dengan umur pendek tentu saja akan menguntungkan bagi petani atau pembudidaya, karena hasil produksi yang diharapkan bisa dipanen dalam waktu yang pendek. Dengan demikian, peluang perputaran modal juga bisa lebih cepat.

Jika ketiga kriteria tersebut telah terpenuhi, petani baru menentukan kriteria yang terakhir dalam memilih bibit tanaman, yaitu jenis atau bentuk dan kualitas buah. Bentuk dan kualitas buah memiliki standar yang berbeda-beda untuk setiap komoditas. Hal ini tentu saja sangat dipengaruhi oleh permintaan pasar. Usahakan untuk tidak memilih bibit tanaman dari varietas yang hasil produksinya susah diterima oleh pasar, sehingga aspek pemasaran yang juga menjadi kunci keberhasilan agribisnis juga bisa dihindari.

Demikian sajian informasi dari kami, semoga informasi pendek ini bisa membantu Anda dalam menentukan bibit tanaman yang akan dibudidayakan. Salam tanijogonegoro.

ARTIKEL POPULER