HORMON TUMBUHAN ATAU ZPT (ZAT PENGATUR TUMBUH)

Dalam dunia pertanian, penggunaan hormon tumbuhan atau dikenal juga dengan istilah ZPT merupakan faktor pendukung yang dapat memberikan kontribusi besar dalam keberhasilan usaha budidaya pertanian. Namun, penggunaan hormon ini harus dilakukan dengat tepat. Pemahaman mengenai fungsi dan peran hormon terhadap laju pertumbuhan maupun perkembangan tanaman sangat penting. Oleh karena itu, pada artikel ini akan kami uraikan mengenai ZPT (Zat Pengatur Tumbuh) dengan harapan bisa memberikan kontribusi dalam usaha agribisnis pertanian.

APA ITU HORMON TUMBUHAN?

Hormon yang sering disebut juga fitohormon merupakan sekumpulan senyawa organik, baik yang terbentuk secara alami maupun buatan. ZPT dalam kadar sangat kecil mampu menimbulkan suatu reaksi atau tanggapan baik secara biokimia, fisiologis maupun morfologis, yang berfungsi untuk mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, maupun pergerakan taksis tanaman atau tumbuhan baik dengan mendorong, menghambat, atau mengubahnya. "Kadar kecil" yang dimaksud berada pada kisaran satu milimol per liter sampai satu mikromol per liter. ZPT berbeda dengan unsur hara atau nutrisi tanaman, baik dari segi fungsi, bentuk, maupun senyawa penyusunnya.

Secara ilmiah, penggunaan istilah hormon tumbuhan sebenarnya mengadopsi analogi fungsi hormon pada binatang. Dilihat dari cara produksinya, hormon pada tumbuhan berbeda dengan hormon pada binatang yang dihaslkan dari jaringan spesifik berupa kelenjar endokrin, tetapi ZPT ini dihasilkan oleh suatu jaringan nonspesifik, biasanya dari jaringan merismatik, yang dapat diproduksi jika mendapatkan rangsangan. Penyebaraan hormon pada seluruh jaringan tumbuhan bisa terjadi dengan sangat mudah, karena penyebarannya bisa melalui ruang antarsel atau disebut dengan sitoplasma, sehingga dalam penyebarannya tersebut, Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) tidak harus melalui sistem pembuluh pengangkut.

Secara individu, tumbuhan akan memproduksi sendiri hormon setelah mengalami rangsangan. Proses produksi hormon dilakukan secara endogen oleh tumbuhan. Rangsangan yang dapat mempengaruhi produksi hormon misalnya lingkungan. Lingkungan merupakan faktor penting yang dapat memicu tumbuhan untuk memproduksi hormon. Setelah menghasilkan hormon hingga pada ambang konsentrasi tertentu, maka sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai menunjukkan reaksi sehingga akan menimbulkan perubahan fisiologis pada tumbuhan. Dengan demikian, tumbuhan akan mulai menunjukkan ekpresi atas pengaruh suatu rangsangan yang telah memicu produksi hormon tersebut. Dari sudut pandang evolusi tumbuhan, hormon tumbuhan merupakan suatu mekanisme pertahanan diri terhadap pengaruh-pengaruh yang diterimanya sehingga dapat terus mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya.

Selain dapat dipengaruhi hormon yang diproduksinya sendiri, tumbuhan juga dapat dipengaruhi oleh hormon yang diterimanya dari luar. Pemberian ZPT dari luar sistem individu disebut juga dengan hormon eksogen, yaitu dengan memberikan bahan kimia sintetik yang dapat berfungsi dan berperan seperti halnya hormon endogen, sehingga mampu menimbulkan rangsangan dan pengaruh pada tumbuhan seperti layaknya fitohormon alami.

Disisi lain zat pengatur tumbuh dapat berfungsi sebagai prekursor, yaitu senyawa yang dapat mendahului laju senyawa lain dalam proses metabolisme, dan merupakan bagian dari proses genetik tumbuhan itu sendiri. Oleh karena itu, untuk membedakan pengertian hormon pada tumbuhan dengan hormon pada binatang, maka dalam dunia pertanian dipakai istilah Zat Pengatur Tumbuh tumbuhan atau ZPT atau dalam bahasa Inggris disebut plant growth regulator/substances. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan intensifikasi dalam budidaya di sektor pertanian, maka ZPT banyak digunakan terutama untuk meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil produksi.

JENIS HORMON TUMBUHAN




Beberapa fungsi Hormon yang bisa diterapkan dalam dunia pertanian diantaranya ialah:

1. AUKSIN

Hormon Auksin banyak ditemukan pada akar, ujung batang, dan bunga. Fungsi hormon auksin dalam petumbuhan tanaman adalah sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang ujung meristem. Auksin berperan penting dalam pertumbuhan, sehingga dapat digunakan untuk memacu kecepatan pertumbuhan tanaman pada budidaya yang dilakukan secara intensif.

Dengan fungsi dan peran penting hormon auksin tersebut, maka dalam dunia pertanian sering digunakan seperti dalam membantu proses pertumbuhan (baik pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang), untuk memecah masa dormansi sehingga dapat mempercepat perkecambahan pada biji, membantu proses pembelahan sel sehingga dapat digunakan untuk mempercepat pembesaran jaringan tumbuhan, mempercepat pemasakan buah, serta untuk mengurangi jumlah biji dalam buah. Hormon auksin akan bekerja secara sinergis dengan dua hormon lain, yaitu sitokinin dan giberelin.

Tumbuhan yang mengalami etiolase atau kekurangan cahaya matahari dan hanya pada salah satu sisinya saja yang mendapat sinar mata hari, maka pertumbuhan sisi yang terkena sinar matahari akan lebih lambat dibanding dengan sisi yang tidak terkena sinar matahari. Hal ini disebabkan kerja hormon auksin terhambat oleh cahaya matahari. Sementara pada sisi tumbuhan yang tidak terkena sinar matahari biasanya akan tumbuh lebih cepat dan lebih panjang, karena hormon ini bekerja dengan optimal dan tidak terhambat oleh pengaruh cahaya matahari. Produksi hormon auksin yang berlebihan tersebut akan cenderung mengarahkan pertumbuhan pada ujung tumbuhan yang tidak terkena matahari menuju ke arah cahaya atau disebut proses fototropisme, sehingga produksi hormon ini dapat dikendalikan oleh individu tumbuhan tersebut.

Dengan pemahaman tersebut, maka dapat dibuat analogi secara sederhana mengenai tumbuhan yang kelebihan hormon auksin. Jika suatu tumbuhan ditempatkan di tempat yang kekurangan sinar matahari, maka pertumbuhannya akan lebih cepat dibanding dengan di tempat terbuka. Bekerjanya hormon auksin pada tumbuhan yang tumbuh dengan kekurangan sinar matahari mengakibatkan pertumbuahan batang yang lebih besar dan panjang dengan warna daun agak kekuningan, dan struktur batang tampak lebih lemah atau lemas. Sedangkan tumbuhan di tempat terbuka, produksi hormon auksin terhambat oleh sinar matahari sehingga pertumbuhannya sedikit terhambat, tetapi memiliki struktur batang yang kokoh dan warna hijau daun yang lebih gelap.

Secara umum, sistem kerja hormon auksin adalah menginisiasi pemanjangan dan pembesaran sel serta memacu protein tertentu yg ada di membran plasma sel untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ mengaktifkan enzim tertentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen dengan rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yang masuk secara osmosis melalui dinding sel. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa auksin merupakan salah satu zat pengatur tumbuh yang banyak mempengaruhi proses fisiologi, seperti pertumbuhan, pembelahan dan diferensiasi sel serta sintesa protein.

Menurut Gardner, dkk., 1991, tumbuhan memproduksi hormon auksin dalam jaringan meristem aktif, yaitu jaringan tumbuhan yang memiliki sel aktif yang dapat membelah dengan cepat. Jaringan meristem pada tumbuhan, misalnya tunas di ketiak daun, pucuk tanaman, daun muda, dan buah. Setelah diproduksi dalam jaringan tersebut, auksin akan menyebar ke seluruh bagian tumbuhan dengan arah penyebaran dari bagian atas tumbuhan ke bagian bawah hingga mencapai titik tumbuh akar. Penyebaran auksin tersebut melalui jaringan pembuluh tapis (floem) atau jaringan parenkhim. Auksin merupakan hormon yang juga dikenal dengan istilah Indole Acetic Acid (IAA), atau asam indolasetat, sebagai auksin utama pada tanaman, yang mengalami proses biosintesis dari asam amino prekursor triptopan, dengan hasil perantara sejumlah substansi yang secara alami mirip auxin (analog) tetapi mempunyai aktifitas lebih kecil dari IAA seperti IAN (Indolaseto nitril), TpyA (Asam Indolpiruvat) dan IAAld (Indolasetatdehid). Proses biosintesis auxin dibantu oleh enzim IAA-oksidase.

IAA atau C10H9O2N, sebagai rumus kimia auksin, merupakan hasil isolasi yang dilakukan pada tahun 1928, dengan menggunakan tepung sari bunga yang tidak aktif. Dengan ditemukannya IAA, maka untuk perkembangan selanjutnya seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat diciptakan auksin sintesis, seperti Amiben atau Kloramben (Asam3-amino2, 5–diklorobenzoat), Hidrazil atau 2,4-D (asam-Nattalenasetat), Bonvel Da2, 4-Diklorofenolsiasetat), Pikloram/Tordon (asam4–amino–3,5,6–trikloro–pikonat), dan NAA (asam (asam 3,6-Dikloro-O-anisat/dikambo).

Fungsi auksin dalam pertumbuhan tanaman

  • Pemberian auksin pada biji atau benih akan memecah dormansi dan akan merangsang proses perkecambahan biji. Perendaman biji/benih dengan auksin juga dapat meningkatkan kuantitas hasil panen.
  • Memacu proses terbentuknya akar serta pertumbuhan akar dengan lebih baik.
  • Auksin akan merangsang dan mempertinggi prosentase timbulnya bunga dan buah.
  • Merangsang terjadinya proses Partenokarpi. Partenokarpi adalah suatu kondisi dimana tumbuhan mampu membentuk buah tanpa proses fertilisasi atau penyerbukan, sehingga dengan pemberian hormon auksin dapat menghasilkan buah tanpa biji.
  • Mengurangi gugurnya buah sebelum waktunya.
  • Memecah dormansi pucuk/apikal, yaitu suatu kondisi dimana pucuk tumbuhan atau akar tidak mau berkembang.

2. SITOKININ

Hormon sitokinin berperan penting dalam merangsang pembelahan sel tumbuhan. Sitokonin berasal dari kata cytokinin yang berarti terkait dengan pembelahan sel. Senyawa dari hormon sitokinin yang pertama kali ditemukan adalah kinetin. Pada awalnya, kinetin diperoleh dari ekstrak sperma burung bangkai, namun kemudian diketahui bahwa kinetin juga bisa ditemukan pada manusia dan tumbuhan. Selain kinetin, senyawa lain yang dapat berfungsi sebagai hormon sitokinin adalah zeatin. Zeatin bisa diperoleh dari ekstrak biji jagung yang masih muda. Kemudian pada perkembangan berikutnya, zeatin juga diketahui sebagai komponen aktif utama pada air kelapa. Dengan demikian, air kelapa juga memiliki kemampuan untuk merangsang pembelahan sel. Sitokinin alami lain misalnya adalah 2iP. Sitokinin alami merupakan turunan dari purin. Sitokinin sintetik kebanyakan dibuat dari turunan purin pula, seperti N6-benziladenin (N6-BA) dan 6-benzilamino-9-(2-tetrahidropiranil-9H-purin) (PBA).

Fungsi sitokinin bagi pertumbuhan tanaman

  • Memacu pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dengan merangsang proses pembelahan dan pembesaran sel.
  • Merangsang perkecambahan dengan memecah fase dormansi pada biji, sehingga pertumbuhan bibit dapat berlangsung dengan cepat.
  • Memacu pertumbuhan tunas-tunas baru.
  • Hormon sitokinin dapat menunda penuaan pada hasil panen, sehingga daya tahan hasil panen lebih lama.
  • Menaikkan tingkat mobilitas unsur-unsur dalam tumbuhan.
  • Sintesis pembentukan protein akan meningkat dengan pemberian hormon sitokinin.

3. GIBERELIN

Jenis hormon yang mempunyai kemiripan sifat dengan auksin ini merupakan zat pengatur tumbuh yang dapat ditemukan pada hampir semua siklus hidup tumbuhan. Giberelin sering disebut dengan GA (gibberellic acid) atau asam giberelat.

Dalam tumbuhan, melalui xilem dan floem hormon giberelin (GA) ditransportasikan ke seluruh bagian tumbuhan. Giberelin banyak dijumpai pada tumbuhan paku, jamur, lumur, gymnospermae, dan angiospermae (terdapat pada biji muda, pucuk batang, ujung akar, dan daun muda).

Zat pengatur tumbuh ini dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu giberelin aktif (GA Bioaktif) dan giberelin nonaktif. GA bioaktif inilah yang mengontrol pertumbuhan dan perkembangan seluruh tumbuhan baik akar, daun maupun batang tanaman, seperti pengembangan benih, perkecambahan biji, pertumbuhan tunas, pertumbuhan daun, merangsang pembungaan, perkembangan buah, perpanjangan batang, serta deferensiasi akar.

Pemberian giberelin di bawah tajuk tumbuhan dapat meningkatkan laju fotosintesis. Daun tumbuhan berkembang secara signifikan karena hormon ini memacu pertumbuhan daun, terjadi peningkatan pembelahan sel dan pertumbuhan sel yang mengarah pada perkembangan daun. Selain itu juga memacu pemanjangan batang tumbuhan.

4. ETILENA/ETENA/GAS ETILEN

Zat pengatur tumbuh (ZPT) ini adalah satu-satunya hormon yang hanya terdiri dari satu substansi saja, yaitu etena. Etena atau etilena ini merupakan senyawa alkena yang paling sederhana karena hanya terdiri dari 2 atom karbon, dan 4 atom hidrogen. Unsur-unsur ini terhubung oleh ikatan rangkap. Adanya ikatan rangkap penghubung inilah etena juga disebut sebagai olefin (hidrokarbon tak jenuh). Pada tumbuhan, senyawa etilen dijumpai dalam bentuk gas sehingga disebut juga sebagai gas etilen. Pada buah, proses pembusukan mengeluarkan gas ini, karena gas etilen dihasilkan oleh tumbuhan untuk melakukan proses senesens. Proses senesens merupakan proses penuaan yang irreversible (tidak dapat kembali), akhirnya menuju pembusukan. Selain etilen berperan dalam pematangan buah, gas etilen juga berperan dalam pengguguran daun.

Dalam pertumbuhan, etilen mempunyai banyak fungsi, yaitu membantu pemasakan buah, memacu pembungaan, merangsang pemekaran bunga, merangsang pertumbuhan akar dan batang tumbuhan, merangsang absisi (pengguguran) buah dan daun, memacu perkecambahan biji, menghambat pemanjangan batang kecambah, memperkokoh pertumbuhan batang tumbuhan, serta mengakhiri masa dormansi.
Bersama-sama dengan giberelin, etilen berfungsi dalam mengatur perbandingan bunga jantan dan betina pada tumbuhan berumah satu.

Sebetulnya para petani sudah sering memanfaatkan etena dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada saat melakukan pemeraman buah.
Bahkan dalam beberapa masalah mereka juga menggunakan etilen sintetik seperti ethephon (asam 2-kloroetil-fosfonat) dengan merk dagang Ethrel untuk membantu pemasakan cabe, beta-hidroksil-etilhidrazina (BOH) untuk memacu pembentukan bunga pada tanaman nanas, maupun pengarbitan buah untuk mempercepat proses pemasakan.

5. TRIAKONTANOL

Triakontanol (TRIA) merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, terdiri dari 30 karbon dan merupakan alkohol primer jenuh.
ZPT ini berpotensi meningkatkan hasil tanaman, meskipun mekanisme kerjanya belum sepenuhnya diketahui. Pada berbagai penelitian, triakontanol berfungsi meningkatkan rasio gula asam pada budidaya jeruk, serta mampu meningkatkan produksi teh.
Penyemprotan hormon triakontanol dengan konsentrasi rendah pada daun kecambah seperti pada tanaman jagung, tomat, padi menunjukkan peningkatan pertumbuhan.

6. INHIBITOR

Inhibitor merupakan salah satu jenis zpt yang menghambat atau menurunkan laju reaksi kimia, tersebar di setiap organ tumbuhan, dan menghambat pertumbuhan batang. Pada fase dormansi inhibitor bekerja dengan baik. Hormon jenis ini juga ditemukan pada fase pertumbuhan pucuk tumbuhan dan fase perkecambahan.

Tumbuhan akan membentuk inhibitor secara alami yang disebut dengan asam ABA (Asam absisat). Meskipun demikian penambahan hormon juga dihasilkan oleh cendawan dan alga hijau. Asam absisat memiliki 15 atom karbon dan merupakan molekul seskuiterpenoid.
Penerapan hormon inhibitor dalam budidaya pertanian adalah ketika akan mencegah pertunasan baru dan memperbesar umbi tanaman. Diharapkan dengan ZPT ini, pertumbuhan umbi menjadi optimal. Penggunaan inhibitor banyak dimanfaatkan petani untuk membantu mengoptimalkan hasil tanaman berumbi seperti pada budidaya kentang, budidaya bawang, dan sejenisnya.

7. PACLOBUTRAZOL

Paclobutrazol merupakan salah satu jenis hormon yang berfungsi menghambat biosistesis giberelin. Pemakaian hormon ini dapat membantu pohon berbuah di luar musim. Pertumbuhan vegetatif tanaman terhambat yang akhirnya memacu pertumbuhan generatif. Pohon berhenti tumbuh (terhambat) diikuti munculnya kuncup bunga yang akhirnya menghasilkan buah.

EFEKTIFITAS PEMAKAIAN PESTISIDA

Pestisida kimiawi hingga saat ini masih dianggap sebagai satu-satunya senjata pamungkas oleh para pelaku budidaya untuk menghadapi serangan OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) karena kompleksnya permasalahan-permasalahan yang sering dijumpai di lapangan.

BAGAIMANA MENGGUNAKAN PESTISIDA SECARA EFEKTIF?

Para pemakai pestisida, sekalipun sudah sangat akrab dengan pestisida, bahkan tingkat ketergantungannya sangat tinggi, di lapangan masih banyak dijumpai kesalahan-kesalahan pemakaian pestisida. Karena pengetahuan mereka tentang pestisida masih sangat kurang.

Penggunaan pestisida harus seefisien dan seefektif mungkin, agar biaya produksi dapat ditekan seminimal mungkin karena seperti kita ketahui harga pestisida sangat mahal di pasaran. Di samping itu, penggunaan tidak tepat dapat berdampak negatif bagi manusia, karena pestisida mengandung bahan aktif yang berbahaya bagi kesehatan, dapat menyebabkan keracunan pestisida yang berujung pada kematian, untuk itu penggunaan pestisida harus terukur. Lebih dari itu, pemakaian pestisida secara berlebihan juga menyebabkan hama penyakit menjadi kebal terhadap bahan aktif tertentu sehingga menyebabkan kesulitan dalam pengendalian hama penyakit tanaman. Sebagai petani, ada hal-hal yang perlu diketahui untuk menghemat pemakaian pestisida terutama berkaitan dengan penekanan biaya produksi, diantaranya :

Pilih Jenis Pestisida Tepat Sasaran




Ketahuilah terlebih dahulu OPT yang sedang menyerang tanaman, karena jenis dan cara OPT merusak tanaman sangat menentukan jenis formulasi dan cara kerja pestisida yang sebaiknya dipilih. Disarankan menggunakan pestisida berspektrum sempit.

Kenali Bahan Aktif Pestisida

Pilihlah pestisida paling murah. Satu bahan aktif pestisida mempunyai merk dagang yang beraneka ragam dan harga yang berbeda-beda, padahal fungsinya sama. Kenali bahan aktif dan dosis pemakaian yang tertera pada kemasan.

Berikut ini cara memilih dua merk dagang pestisida berbahan aktif sama dengan dosis dan harga yang berbeda. Misal :

Pestisida A : Harga Rp. 200.000 dosis 2ml/lt kemasan 100ml
Pestisida B : Harga Rp. 230.000 dosis 1,5ml/lt kemasam 100ml

Cara memilih :

Harga pestisida A per ml adalah Rp. 2000
Harga pestisida B per ml adalah Rp. 2300

Kalau kita menggunakan sprayer berkapasitas 25 lt, berarti :

Pestisida A : 2ml x 25 x Rp. 2000 = Rp. 100.000
Pestisida B : 1,5ml x 25 x Rp. 2300 = Rp. 86.250

Jadi, harga Pestisida B lebih murah daripada harga pestisida A karena dosisnya lebih rendah, meskipun sekilas tampak lebih mahal pestisida B (Rp. 230.000) daripada pestisida A (Rp. 200.000).

Pencegahan Kekebalan

Penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling baik bahan aktif maupun cara kerjanya, jangan menggunakan bahan aktif pestisida yang sama secara berturut-turut karena akan menimbulkan kekebalan pada OPT. Gantilah bahan aktif pestisida setiap kali penyemprotan pestisida.

Gunakan Dosis Yang Tepat

Dosis/konsentrasi pemakaian pestisida dapat dilihat pada kemasan dari merk pestisida yang digunakan, gunakan dosis terendah terlebih dahulu kemudian tingkatkan sesuai dengan umur tanaman dan perkembangan di lapangan. Untuk menghemat biaya produksi gunakan gelas ukur atau takaran yang tepat. Jangan meningkatkan dosis yang lebih tinggi dari petunjuk di kemasan pestisida karena tidak akan meningkatkan efektifitas pengendalian tetapi justru dapat merusak dan meracuni tanaman, dan bahkan akan mempertinggi tingkat kekebalan OPT terhadap bahan aktif pestisida. Jika hama penyakit tanaman tidak terkendali baru tingkatkan secara perlahan dan terukur dan ganti bahan aktif yang berbeda (bukan merk dagang yang berbeda). Sekalipun melakukan peningkatan dosis/konsentrasi, penyemprotan pestisida harus dilakukan secara berseling (penggunaan bahan aktif yang berbeda-beda setiap kali melakukan penyemprotan).

Waktu Aplikasi Pestisida yang Tepat

Waktu yang baik untuk penyemprotan pestisida adalah pagi dan sore hari. Hindari sinar matahari terik dan cuaca mendung agar penyemprotan pestisida lebih efektif.

TEKNIK GRAFTING SAWO

Grafting yaitu teknik penyambungan antara batang atas (scion) varietas sawo berkualitas dengan batang bawah (root stock) dari tanaman sefamili yang lebih tahan serangan hama penyakit maupun kekeringan. Untuk melakukan grafting pada tanaman keras, perlu diperhatikan kualitas kedua tanaman, baik bagian atas maupun bagian bawahnya. Pada dasarnya, cara menyambung tanaman mempunyai tujuan untuk menghasilkan bibit tanaman yang unggul sehingga secara teknik penyambungan (grafting) tanaman dicari bagian atas berkualitas, berbuah lebat (produktifitas tinggi), rasanya enak (manis), dll yang memiliki sifat unggul lainnya sekalipun rentan terhadap serangan penyakit terutama penyakit akar. Sedangkan bagian bawah dipilih tanaman dengan perakaran yang kuat, tahan serangan hama penyakit, serta kokoh sehingga mampu menopang buah yang lebat. Berikut ini beberapa pilihan varietas sawo sebagai referensi untuk melakukan grafting atau penyambungan dua pohon, sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat untuk dihasilkan bibit yang optimal.

VARIETAS SAWO

Sawo Manila (Manilkara zapota)

Pohon berumur panjang, besar dan rindang. Pohon ini bercabang rendah dengan batang berkulit kasar berwarna coklat kehitaman. Buahnya bersisik kasar coklat dan mudah mengelupas, bertangkai pendek, kulit buah tipis, daging buah manis, lembut kadang memasir berwarna coklat kemerahan sampai kekuningan.
Sawo ini baik ditanam di ketinggian 0-2500 mdpl. Tahan terhadap kekeringan, berbunga dan berbuah sepanjang tahun, akan tetapi pada umumnya terdapat satu atau dua musim berbuah puncak.

Sawo Duren (Sapotaceae)




Sawo jenis ini sering dikenal dengan nama sawo apel, sawo ijo atau apel ijo. Pertumbuahan tanaman relatif cepat, tinggi hingga 30 m, dengan batang berkayu, silindris, tegak, pepagan berpermukaan kasar berwarna cokelat, abu-abu gelap sampai keputihan. Buah berbentuk bulat hingga bulat telur sungsang, kulit buah agak tebal, liat, licin mengkilap berwarna coklat keunguan atau hijau kekuningan sampai keputihan. Daging buah putih atau keunguan, lembut dan banyak mengandung sari buah, manis.

Sawo Mentega (Pouteria campechiana)

Sawo jenis ini sering dikenal dengan nama sawo ubi. Pohon berukuran sedang, tinggi 20 m. Buah berbentuk gelendong, bulat telur, bulat telur sungsang, sampai membulat, berkulit tipis, licin seperti berlilin, kaku, dan berwarna kuning bila masak. Daging buah berwarna kuning, lembap atau agak kering menepung, berbau harum agak samar, manis.

Sawo Kecik (Manilkara kauki)

Pohon berukuran sedang, tinggi 15-20 m, tahan kekeringan. Biasanya berfungsi sebagai tanaman hias dan pelindung. Baik ditanam pada dataran rendah hingga sedang.

Sawo Tanjung (Mimusops elengi)

Pohon berukuran sedang, tinggi 15m, berbunga harum semerbak dan bertajuk rindang, biasa ditanam di taman-taman dan pinggir jalan, tahan kekeringan. Biasanya berfungsi sebagai tanaman hias dan pelindung. Buah kecil-kecil berwarna kuning keungu-unguan, berbentuk gelendong, bulat telur panjang, dan jarang dimakan.

CARA MELAKUKAN GRAFTING

Teknik atau cara melakukan grafting atau penyambungan pada pohon sawo sebenarnya sangat mudah, hanya saja kebiasaan dan rutinitas praktek saja yang menentukan tingkat keberhasilan. Adapun caranya dengan memilih tanaman yang akan dijadikan batang atas (tanaman produktif) dan bawah (tanaman tahan) dengan ukuran sama. Perhatikan cara melakukan grafting berikut ini:

Batang Bawah

Potonglah ujung batang setinggi 20 cm dari permukaan tanah dengan pisau tajam dan steril. Kemudian sayat membentuk huruf V sepanjang 5cm. Bagian ini siap menerima sambungan dari batang atas.

Batang Atas

Potong tanaman batang atas setinggi 15 cm dari ujung tanaman. Sayat hingga pangkal batangnya meruncing. Batang atas ini segera disisipkan pada batang bawah.

Pertemuan antara batang atas dengan batang bawah diikat menggunakan tali rafia atau seal tape menutupi luka sayatan.
Tutup bagian bagian atas dengan plastik seperlunya sebagai tudung. Setelah 10 hari tudung dibuka. Bila sambungan tetap segar berwarna hijau berarti berhasil.

PETUNJUK APLIKASI PESTISIDA

Pestisida adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu. Dalam dunia pertanian, pestisida memegang peranan penting demi terwujudnya pencapaian sasaran yang telah ditetapkan. Hampir semua sektor pertanian, terutama sektor budidaya tanaman, baik hortikultura maupun tanaman panggan, menggunakan pestisida sebagai salah satu sarana pengendalian organisme pengganggu tanaman atau OPT, bahkan banyak para petani yang bergantung pada peran pestisida. Namun, penggunaan secara tidak terukur dan tidak memahami cara kerja pestisida yang digunakan justru dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan, baik pengguna maupun konsumen dari produk pertanian yang bersangkutan. Oleh karena itulah, artikel ini sengaja kami buat dengan harapan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam dunia pertanian.

Klik untuk melihat DAFTAR BAHAN AKTIF PESTISIDA

CARA KERJA PESTISIDA

Racun Kontak

Pestisida jenis ini akan bekerja dengan baik jika terkena atau kontak langsung dengan OPT sasaran. Untuk jenis insektisida, penggunaan racun kontak sangat efektif untuk mengendalikan serangga yang menetap, seperti ulat, kutu daun, dan semut. Racun ini kurang bekerja baik terhadap serangga-serangga yang mempunyai mobilitas tinggi, seperti lalat buah, kutu kebul, dan belalang.

Racun Pernapasan

Cara kerja racun pernapasan hanya ada pada insektisida dan akan bekerja jika terhisap melalui organ pernafasan. Waktu penyemprotan paling efektif adalah ketika hama sasaran sedang berada pada puncak aktifitasnya, sehingga dengan pernapasan yang semakin cepat maka semakin banyak pula racun yang dihisap.

Racun Perut atau Racun Lambung

Racun dalam pestisida jenis ini akan bekerja jika bagian tanaman yang sudah disemprot termakan oleh hama/serangga sasaran. Beberapa rodentisida dan insektisida bekerja dengan cara ini.

Racun Sistemik

Pestisida jenis ini akan bekerja jika racun yang disemprotkan ke bagian tanaman sudah terserap masuk ke dalam jaringan tanaman baik melalui akar maupun daun sehingga dapat membunuh OPT yang berada di dalam jaringan tanaman, seperti bakteri/fungi. Pada insektisida sistemik, serangga akan mati kalau sudah memakan atau menghisap cairan tanaman yang sudah menyerap racun. Cairan atau bagian tanaman yang dimakan akan menjadi racun lambung bagi serangga. Racun sistemik sangat cocok untuk mengendalikan serangga penghisap atau serangga yang sulit dikendalikan menggunakan racun kontak.

Herbisida Purnatumbuh dan Pratumbuh

Pada herbisida purna tumbuh hanya akan bekerja pada bagian tanaman yang sudah memiliki organ sempurna, seperti akar, batang, dan daun. Sedangkan herbisida pra tumbuh akan mematikan biji gulma yang belum berkecambah.

FORMULASI PESTISIDA




Water Dispersable Granule (WDG)

Bentuk butiran halus, merupakan formulasi kering yang mudah dilarutkan dalam air. Tetapi formulasi ini dalam air agak kurang stabil sehingga mudah mengendap.

Emulsifiable Concentrate (EC)

Dibentuk dengan mencampurkan bahan aktif pestisida yang hanya larut dalam minyak dengan penambahan emulsi. Dengan demikian bahan aktif yang hanya larut dalam minyak dapat larut dalam air dan membentuk cairan seperti susu. Formulasi ini sangat stabil sehingga tidak dibutuhkan pengadukan berulang-ulang.

Salt Concentrate (SC)

Dibentuk dengan menggabungkan bahan aktif dari turunan (derifatif) garam dengan air. Bersifat cepat larut dan menyebar merata dalam air.

Wettable Powder (WP)

Dibentuk dari bahan aktif dengan daya larut rendah dan mengandung bahan tambahan (filler). Bahan aktif direkatkan pada bahan tambahan dengan bahan perekat.

Granule (G)

Berbentuk butiran padat dengan ukuran bervariasi sehingga formulasi ini mudah ditebarkan. Merupakan campuran antara bahan aktif dengan butiran yang mampu mengikat ion, seperti butiran liat atau vermikulit, atau dengan cara melapisi bahan aktif dengan polimer seperti kapsul.

Ultra Low Volume (ULV)

Formulasi ini berbentuk cair dengan kandungan bahan aktif sangat tinggi. Dirancang untuk disemprotkan dengan alat khusus, yaitu ULV.

KARAKTERISTIK PESTISIDA

Efektifitas Pestisida

Merupakan daya bunuh pestisida terhadap OPT. Pestisida yang baik memiliki daya bunuh yang cukup untuk mengendalikan OPT dengan dosis rendah sehingga memperkecil dampat buruk terhadap lingkungan.

Selektifitas

Merupakan kemampuan pestisida membunuh beberapa jenis organisme. Disarankan untuk menggunakan pestisida yang bersifat selektif atau berspektrum sempit. Dimana pestisida tersebut hanya membunuh OPT sasaran tanpa membahayakan organisme lain termasuk musuh alami OPT.

Fototoksisitas

Merupakan suatu efek samping aplikasi pestisida yang dapat menimbulkan keracunan bagi tanaman, ditandai dengan pertumbuhan abnormal setelah aplikasi pestisida. Oleh karena itu tidak boleh menggunakan pestisida secara tidak terukur atau berlebihan.

Residu Pestisida

Adalah kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun setelah penyemprotan. Residu terlalu lama akan berbahaya bagi manusia dan lingkungan, sedangkan residu yang terlalu pendek akan mengurangi efektifitas pestisida dalam pengendalian OPT.

Persistensi

Kemampuan pestisida bertahan dalam bentuk racun di dalam tanah. Pestisida yang memiliki persistensi tinggi akan sangat berbahaya bagi lingkungan.

Resistensi

Merupakan kekebalan OPT terhadap pestisida. Pestisida yang memiliki potensi resistensi tinggi sebaiknya tidak digunakan. Untuk mencegah resistensi pada hama/penyakit terhadap salah satu jenis pestisida, sebaiknya dilakukan penggantian bahan aktif setiap kali aplikasi pestisida.

LD 50 atau Lethal Dosage 50%

Besarnya dosis yang dapat mematikan 50% dari jumlah mamalia percobaan. Pestisida yang memiliki LD 50 tinggi berarti hanya dengan dosis yang sangat tinggi pestisida tersebut dapat mematikan mamalia. Dalam penerapan PHT disarankan untuk memilih pestisida dengan LD 50 tinggi.

Kompatibilitas

Adalah kesesusaian antara satu jenis pestisida untuk dicampur dengan pestisida lain tanpa menimbulkan dampak negatif dari pencampuran itu.

PERJALANAN PESTISIDA SETELAH PENYEMPROTAN

Setelah melakukan penyemprotan, maka pestisida akan terkena pengaruh lingkungan. Dengan mengetahui pengaruh yang akan terjadi setelah pestisida disemprotkan, maka akan sangat membantu untuk membuat program penyemprotan sehingga pemakaian pestisida bisa mengikuti prinsip 4 tepat.

Setelah penyemprotan, kemungkinan pertama yang akan terjadi adalah tiupan angin terhadap kabut semprot, sehingga pestisida akan jatuh di tempat yang tidak diharapkan. Walaupun kabut semprot dapat mengenai sasaran, tetapi sebarannya sudah tidak merata, atau terlalu banyak kabut semprot yang terbuang, sehingga terjadi pemborosan pestisida. Kalau hal ini terjadi pada herbisida, maka tanaman utama akan beresiko terkena kabut semprot. Oleh karena itu disarankan penyemprotan tidak dilakukan saat angin bertiup kencang. Kemungkinan lain yang akan terjadi adalah :
  1. Run off, sebagian kabut semprot yang membasahi daun akan mengalir dan jatuh ke tanah, tetesan pestisida yang jatuh ke tanah ini berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan.
  2. Penguapan, sebaiknya penyemprotan tidak dilakukan saat matahari terik.
  3. Fotodekomposisi, penguraian pestisida menjadi bentuk tidak aktif karena pengaruh cahaya, sehingga efektifitas pestisida berkurang.
  4. Penyerapan oleh partikel tanah, menyebabkan tertimbunnya sisa pestisida di dalam tanah sehingga menyebabkan pencemaran tanah. Selain itu penyerapan oleh tanah juga akan menurunkan efektifitas pestisida yang memang ditujukan untuk mengendalikan OPT yang terdapat di dalam tanah.
  5. Pencucian pestisida oleh air hujan dan terbawa ke dalam lapisan tanah bagian bawah sehingga mencemari sumber air tanah.
  6. Reaksi kimia, yaitu perubahan molekul pestisida menjadi bentuk tidak aktif atau tidak beracun.
  7. Perombakan oleh mikroorganisme, bahan pembentuk pestisida setelah jatuh ke tanah akan menjadi bagian tubuh mikroorganisme.

PETUNJUK PENCAMPURAN PESTISIDA

  1. Jangan mencampur pestisida di tempat tertutup, lakukan pencampuran di tempat terbuka.
  2. Jangan menyimpan campuran pestisida, pencampuran pestisida dengan air hanya dilakukan saat penyemprotan.
  3. Gunakan air bersih dan tidak mengandung kotoran yang dapat menyumbat nozel.
  4. Masukkan air terlebih dahulu ke dalam tangki, baru pestisida dimasukkan dan diaduk.
  5. Jangan menggunakan pestisida yang terlalu lama disimpan dan sudah mengalami perubahan fisik, seperti terbentuknya garam di sekitar tutup botol atau terjadi perubahan warna.
  6. Jangan melakukan pencampuran pestisida satu dengan lainnya jika belum yakin bahwa kedua jenis pestisida tersebut dapat dicampur. Lakukan pengetesan, jika setelah pencampuran dua jenis pestisida terbentuk endapan, atau terbentuk lapisan yang tidak menyatu, seperti minyak dengan air, atau seperti santan pecah, maka kedua jenis pestisida tersebut tidak kompatible untuk dicampur.
  7. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih yang mempunyai cara kerja sama, sebagai contoh: Racun pernafasan dengan racun pernafasan, kontak dengan kontak atau sistemik dengan sistemik.
  8. Jangan mencampur 2 pestisida atau lebih dalam satu golongan, sebagai contoh: piretroid dengan piretroid atau karbamat dengan karbamat.
  9. Buatlah campuran pestisida sesuai perhitungan luas areal yang akan disemprot.
  10. Jangan meningkatkan dosis atau konsentrasi lebih tinggi dari kisaran yang tertera pada label. Jika pada dosis atau konsentrasi tertinggi sesuai yang tercantum pada kemasan suatu pestisida tidak lagi efektif mengendalikan OPT sasaran, maka disarankan untuk mengganti dengan bahan aktif yang berbeda.

PENGGUNAAN SURFAKTAN ATAU LEM

Penggunaan surfaktan sangat diperlukan dalam aplikasi pestisida. Permukaan daun yang memiliki lapisan lilin atau bulu-bulu halus menyebabkan kabut semprot tidak dapat melapisi secara sempurna. Oleh karena itu pemakaian surfaktan sangat disarankan pada budidaya yang berorientasi keuntungan. Surfaktan berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan air, sehingga kabut semprot yang jatuh di atas permukaan daun tidak membentuk butiran, tetapi menyebar ke seluruh permukaan daun. Selain itu surfaktan juga berfungsi sebagai perekat.

DAFTAR BAHAN AKTIF PESTISIDA

Berikut ini kami sajikan informasi mengenai bahan aktif pestisida, untuk memudahkan para petani dalam membeli pestisida dengan mengenal bahan aktifnya. SEMOGA BERMANFAAT!

BAHAN AKTIF
JENIS
BAHAN AKTIF

GOLONGAN
Abamektin
Insektisida
Akarisida
Amidin,
Avermectin
Alfametrin
(Alfasipermetrin)

Insektisida

Piretroid
Almunium fosetil
Fungisida
Organofosfat
Amitraz
Insektisida
Akarisida
Amidin
Amorphous
Insektisida
Difenil
Asam fosfit
Fungisida
-
Asam oksoklinik
Bakterisida
Antibiotik
Asam tolklofos
Fungisida
Pirimidin
Asefat
Insektisida
Organofosfat
Asetamiprid
Insektisida
Piridin
Asibensolar-s-metil
Fungisida
Tiadiazol
Azakonazol
Fungisida
Triazol
Azoksistrobin
Fungisida
Pirimidin
Belerang
Fungisida
Anorganik
Benfukarb
Insektisida
Karbamat
Benomil
Fungisida
Benzimidazol,
MBC
Bensultap
Insektisida
Tiofulfonat
Betasiflutrin
Insektisida
Piretroid
Betasipermetrin
Insektisida
Piretroid
Bifentrin
Insektisida
Piretroid
Bisultap
Insektisida
Neristoksin
BPMC (fenobukarb)
Insektisida
Karbamat
Bupirimat
Fungisida
Pirimidin
Buprofezin
Insektisida
Tiadiazin
Deltametrin
Insektisida
Piretroid
Diafentiuron
Insektisida
Tiourea
Diazinon
Insektisida
Organofosfat
Difenokonazol
Fungisida
Azol
Diflubenzuron
Insektisida
Urea
Diklorfos
Insektisida
Organofosfat
Dikofol
Insektisida
Akarisida
Organoklor,
difenil
Dimehipo
Insektisida
Neristoksin
Dimetoat
Insektisida
Organofosfat
Dimetomorf
Fungisida
Morfolin
Dimikonazol
Fungisida
Triazol
Dinotefuran
Insektisida
Tiosulfonat
Emamektin benzoat
Insektisida
Avermectin
Endosulfan
Insektisida
Organoklorin
Epoksikonazol
Fungisida
Diskarboksimid
Esfenfalerat
Insektisida
Piretroid
Etion
Insektisida
Organofosfat
Etiprol
Insektisida
Organofosfat
Etofenproks
Insektisida
Difenil
Fenamidon
Fungisida
Ditiokarbamat,
organomangan,
organoseng
Fenarimol
Fungisida
Pirimidin
Fenbukonazol
Fungisida
Triazol
Fenfalerat
Insektisida
Piretroid
Fenitrotion
Insektisida
Organofosfat
Fenpiroksimat
Akarisida
Pirazol
Fenpropatrin
Insektisida
Akarisida
Amidin,
piretroid
Fention
Insektisida
Organofosfat
Fentoat
Insektisida
Organofosfat
Fipronil
Insektisida
Fenil-pirazol
Flufenoksuron
Insektisida
Urea
Flusilazol
Fungisida
Triazol,
organosilikon
Flutalonil
Fungisida
Anilida,
trifluorometil
Folpet
Fungisida
Ftalimid,
organoklor
Formotion
Insektisida
Organofosfat
Ftalida
Fungisida
Asam ftalat
Gammasihalotrin
Insektisida
Piretroid,
trifenorometil
Heksaflumuron
Insektisida
Bensoyl,
urea
Heksakonazol
Fungisida
Triazol
Heksitiazoks
Insektisida
Tiozolidin
Imidakloprid
Insektisida
Nitroimidazolidin,
neonikotinoid
Iminoktadin
Fungisida
Diskarboksimid
Iprodion
Fungisida
Diskarboksimid
Iprovalikarb
Fungisida
Karbamat
Isoksation
Insektisida
Organofosfat,
azoksazol
Kaptan
Fungisida
Ftalimid
Karbaril
Insektisida
Karbamat
Karbendazim
Fungisida
Benzimidazol,
MBC
Karbofuran
Insektisida
Karbamat
Karbosulfan
Insektisida
Akarisida
Karbamat,
organofosfat
Kartophidrokloroda
Insektisida
Karbamat
Kasugamisin
Fungisida
Bakterisida
Antibiotik
Klofentezim
Insektisida
Tetrazin
Klorfenapil
Insektisida
Pirol

Klorfluazuron

Insektisida
Urea,
trifluorometil
Klorotalonil
Fungisida
Kloronitile
Klorpirifos
Insektisida
Organofosfat,
piridin
Lamdasihalotrin
Insektisida
Piretroid
Lufenuron
Insektisida
Trifluorometil,
urea
Malation
Insektisida
Organifosfat
Maneb
Fungisida
Ditiokarbamat,
organomangan
Mankozeb
Fungisida
Ditiokarbamat,
organomangan,
organomangan
Mefenoksam
Fungisida
Pirimidin
Merkaptodimetur
Insektisida
Karbamat
Metaflumizon


Metalaksil
Fungisida
Asilalanin
Metalaksil-M
Fungisida
Asilalanin
Metalkarb
Insektisida
Karbamat
Metidation
Insektisida
Orgabofosfat,
tiadiazol
Metil tiofanat
Fungisida
Karbamat,
benzimidazol,
MBC
Metipren
Insektisida
Juvenile,
homone,
mimic
Metiram
Fungisida
Ditiokarbamat,
organoseng
Metoksifenoksida
Insektisida
Diazilhidrazin
Metomil
Insektisida
Karbamat
Mikobutanil
Fungisida
Triazol
MIPC (isopokarb)
Insektisida
Karbamat
Monosultap
Insektisida
Neriktoksin
Novaluron
Insektisida
Benzoyl,
urea
Oksitetrasiklin
Bakterisida
Antibiotik
PCNB quintozin)
Fungisida
Quintizin
Permetrin
Insektisida
Piretroid
Pimetrozin
Insektisida
Triazin
Piraklofos
Insektisida
Organofosfat
Piridaben
Insektisida
Phridazinon
Piridafention
Insektisida
Organofosfat
Pirimifos metil
Insektisida
Organofosfat,
pirimidin
Poksim
Insektisida
Organofosfat,
nitrila
Profenofos
Insektisida
Organofosfat
Prokimidon
Fungisida
Anilida,
diskarboksimid
Propaksur
Insektisida
Karbamat
Propamokarb hidroklorida
Fungisida
Karbamat
Propargit
Akarisida
Fenoksi
Propikonazol
Fungisida
Triazol
Propineb
Fungisida
Karbamat,
organoseng
Protiofos
Insektisida
Organofosfat
Siflutrin
Insektisida
Piretroid
Simoksanil
Fungisida
Urea
Sipermetrin
Insektisida
Piretroid
Siprokonazol
Fungisida
Triazol
Siromazin
Insektisida
Triazin
Spiromesifen
Akarisida
Ditiokarbamat
Streptomisin sulfat
Bakterisida
Antibiotik
Tebukonazol
Fungisida
Triazol
Tembaga
Fungisida
Anorganik
Tetasipermetrin
Insektisida
Piretroid
Tetradifon
Akarisida
Organoklor,
difenil
Tetrakonazol
Fungisida
Azol
Tiakloprid
Insektisida
Neonikotinoid
Tiametoksam
Insektisida
Triazol,
neonikotinoid
Tiodikarb
Insektisida
Karbamat
Tiram
Fungisida
Ditiokarbamat,
organoseng
Triadimefon
Fungisida
Triazol
Triadimenol
Fungisida
Triazol
Triazofos
Insektisida
Organofosfat
Tridemorf
Fungisida
Morfolin
Triflumizol
Fungisida
Trifluorometil,
imidazol
Triflumuron
Insektisida
Benzoyl,
urea
Triklorfon
Insektisida
Organofosfat
Validamisin
Fungisida
Antibiotik
Zineb
Fungisida
Ditiokarbamat,
organoseng
Ziram
Fungisida
Ditiokarbamat,
organoseng
Zoxamide
Fungisida
Pirimidin

BUDIDAYA TERONG

Budidaya terong memiliki prospek bisnis yang cerah. Komoditas sayuran ini banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. Tanaman terong tumbuh hampir di setiap jenis tanah dengan kisaran pH 5-6. Tanaman ini memerlukan air yang cukup untuk menopang pertumbuhannya. Ketinggian tempat yang dapat ditanami tanaman terong antara 1-1200 mdpl dengan suhu optimal 18-25°C.

CARA MENANAM TERONG YANG BAIK

PERSIAPAN TEKNIS

Derajat keasaman tanah (pH) perlu diukur untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian pada tanah masam atau pH rendah (di bawah 6,5). Pemberian kapur pertanian berfungsi untuk menetralkan pH tanah (pH 7) atau setidaknya mendekati netral. Pengukuran bisa dilakukan dengan kertas lakmus, PH meter, atau cairan PH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan dengan cara zigzag.

PELAKSANAAN BUDIDAYA TERONG




Persiapan Lahan Budidaya Terong

Persiapan lahan meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, Pembuatan bedengan kasar dengan lebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm dan lebar parit 50-70 cm, pemberian kapur pertanian sebanyak 200 kg/rol mulsa PHP (Plastik Hitam Perak) untuk tanah dengan pH di bawah 6,5, pemberian pupuk kandang yang sudah difermentasi sebanyak 20 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP, kemudian dilakukan pengadukan/pencacakan bedengan agar pupuk yang sudah diberikan bercampur dengan tanah, persiapan selanjutnya pemasangan mulsa PHP, pembuatan lubang tanam dengan jarak tanam ideal untuk musim kemarau 60 cm x 60 cm sedangkan untuk musim penghujan bisa diperlebar 70 cm x 60 cm dan kemudian dilakukan pemasangan ajir.

Persiapan Pembibitan dan Penanaman Budidaya Terong

Pada persiapan pembibitan dibutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit yang masih muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai. kemudian benih disemaikan pada polibag. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup dengan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP) dan dijaga dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai pada jam 07.00 - 09.00, dan dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah dan dilakukan setiap pagi. Penyemprotan dengan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid pada umur 15 hss (hari setelah semai) dengan dosis ½ dari dosis terendah. Bibit yang sudah memiliki 4 helai daun sejati siap untuk pindah tanam ke lahan.

PEMELIHARAAN TANAMAN PADA BUDIDAYA TERONG

Penyulaman Tanaman Pada Budidaya Terong

Penyulaman dilakukan sampai dengan umur tanaman 2 minggu. Tanaman yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Dan akan berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.

Perempelan dan Pengikatan Tanaman Terong

Perempelan tunas samping pada tanaman terong dilakukan sampai dengan pembentukan cabang, baik pada cabang utama, cabang kedua, ketiga dan seterusnya di atas cabang utama. Jadi di atas cabang utama, cabang yang dipelihara adalah cabang-cabang produktif, dimana cabang-cabang produktif ini selalu diikuti dengan munculnya bunga. Perempelan tunas samping dilakukan pada semua tunas yang keluar di ketiak daun, baik di bawah cabang utama maupun di bawah cabang-cabang produktif. Perempelan tunas di bawah cabang utama bertujuan untuk memacu pertumbuhan vegetatif tanaman agar tanaman tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembaban pada saat tanaman sudah dewasa, sedangkan perempelan tunas dibawah cabang-cabang produktif bertujuan untuk menjaga kelembaban tanaman dan mengoptimalkan produksi.

Perempelan daun di bawah cabang utama dilakukan pada saat tajuk tanaman telah menutupi seluruh daun bagian bawah, pada saat ini daun sudah tidak berfungsi secara optimal, justru sangat disenangi hama dan penyakit tanaman. Perempelan pada daun juga dilakukan bagi daun tua/terserang penyakit.

Sanitasi Lahan dan Pengairan Pada Budidaya Terong

Sanitasi lahan pada budidaya terong meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, perempelan daun dan pencabutan tanaman yang terserang hama penyakit.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan Budidaya Terong

Pupuk yang digunakan pada pemupukan susulan meliputi pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar diberikan dengan cara pengocoran yaitu saat tanaman berumur 15 hst dan 30 hst berikan 3kg NPK 15-15-15 kemudian larutkan dalam 200lt air, larutan ini dapat digunakan untuk 1000 tanaman dan masing-masing tanaman diberikan 200ml. Pada umur 45 hst dosisnya 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman dan masing-masing tanaman diberikan 200ml. Sedangkan pada umur 60 hst dan 75 hst, dosisnya 5kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman dan tiap tanaman 200ml. Pupuk daun dengan kandungan Nitrogen tinggi diberikan pada umur 14 hst dan 21 hst. Sedangkan kandungan Phospat, Kalium dan mikro tinggi diberikan umur 30 hst dan 60 hst.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADA BUDIDAYA TERONG


HAMA TANAMAN TERONG

Ulat Tanah

Hama jenis ini menyerang tanaman pada malam hari, sedangkan pada siang harinya bersembunyi di dalam tanah atau di balik mulsa PHP. Ulat tanah menyerang batang tanaman yang masih muda dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendaliannya adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1gram pada lubang tanam.

Ulat Grayak

Ulat grayak menyerang daun tanaman bersama-sama dalam jumlah yang sangat banyak, ulat ini biasanya menyerang di malam hari. Pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Ulat Buah

Ulat menyerang terong dengan cara mengebor buah sambil memakannya. Buah yang terserang akhirnya berlubang. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kutu Daun

Kutu daun mengisap cairan tanaman terutama pada daun yang masih muda, kotoran dari kutu ini berasa manis sehingga menggundang semut. Daun yang terserang mengalami klorosis(kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendaliannya dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, tiametoksam, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kutu Kebul

Hama ini berwarna putih, bersayap dan tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menyerang dan menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Kumbang Kuning

Tanaman terong menjadi inang dari kumbang ini, kumbang berwarna kuning dengan seluruh tubuh diselimuti seperti duri. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

Lalat Buah

Lalat buah menyerang buah terong dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur berubah menjadi larva, telur-telur inilah yang akhirnya menggerogoti buah terong sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian lalat buah dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan pada botol aqua yang diikatkan pada bambu dengan posisi horisontal, atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo dengan dosis sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan.

PENYAKIT TANAMAN TERONG

Rebah Semai

Rebah semai biasa menyerang tanaman terong pada fase pembibitan. Cara pengendaliannya dengan penyemprotan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf dengan dosis ½ dari dosis terendah yang tertera pada kemasan.

Layu Bakteri

Penyakit ini sering menggagalkan tanaman, Serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin dengan dosis sesuai pada kemasan.

Layu Fusarium

Gejala yang ditimbulkan oleh layu fusarium hampir sama dengan layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida dengan dosis sesuai pada kemasan.

Busuk Phytopthora

Busuk phytopthora menyerang semua bagian tanaman. Batang yang terserang ditandai dengan bercak coklat kehitaman dan kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman layu. Daun terong yang terserang seperti tersiram air panas. Sedangan serangan pada buah ditandai dengan bercak kebasah-basahan yang menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidroklorida, simoksanil, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram.

Bercak Daun

Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri, berkembang pesat terutama pada musim hujan. Serangan ditandai dengan adanya bercak putih dan bersudut karena dibatasi tulang daun. Kemudian bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun mengeluarkan cairan, akhirnya daun mengering. Pengendaliannya menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis sesuai pada kemasan.

Antraknosa

Antraknosa sering juga diistilahkan dengan nama patek. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman yang ditandai dengan adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar dan menyatu akhirnya daun mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning atau cokelat. Buah yang terserang akan nampak bercak agak bulat dan berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.

Virus

Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama pada musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai dengan pertumbuhan tanaman yang mengerdil, daun mengeriting dan terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya adalah kutu kebul, kutu daun, thrips dan tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama pada saat perempelan. Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (karena gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman yang sudah terserang virus, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman.

STRATEGI PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADA BUDIDAYA TERONG

Penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan, jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut. Tanaman terong merupakan tanaman yang tahan terhadap serangan hama penyakit, sehingga penyemprotan dapat dilakukan 1 minggu sekali atau sesuai kebutuhan. Jadi penggunaan pestisida dapat dihemat.

PANEN

Buah terong dapat dipanen saat tanaman berumur 55 hst. Buah yang dipanen adalah buah yang masih muda, warna buahnya belum memudar. Untuk menjaga kondisi tanaman agar tetap sehat, pada saat pemanenan gunakan alat seperti gunting, sabit, pisau atau sejenisnya supaya bekas potongan tidak mudah terserang penyakit terutama pada musim hujan.

WISATA DIENG PLATEAU

SEJARAH SINGKAT DIENG PLATEAU DAN WONOSOBO

Dieng Plateau merupakan sebuah penggunungan di sekitar lereng Dieng Kabupaten Wonosobo, salah satu kabupaten yang terletak di propinsi Jawa Tengah. Ribuan tahun yang silam, kota ini 'disaba' (dimasuki) oleh orang-orang Keling (India) untuk memindahkan kekuasaanya ke Pulau Jawa tepatnya di Pegunungan Dieng. Orang-orang Keling ini disimbolkan dalam diri Sang Hyang Jagadnata yaitu sosok dewa penguasa kerajaan Jambudwipa di Himalaya. Mereka memindahkan kekuasaanya ke Dataran tinggi Dieng karena diserbu oleh pengembara Hun dari padang rumput Eurasia serta sebaran pengaruh Helenisasi dari Yunani dan Romawi yaitu pengelanaan Iskandar Zulkarnain (Alexander The Great). Salah satu keturunan tokoh Sang Hyang Jagadnata bernama Ajisaka pertama kali datang ke Pulau Jawa telah memilih untuk bertapa di Pegunungan Dieng (Ardi Hyang).

MATA AIR PERADABAN DIENG PLATEAU WONOSOBO

WISATA DIENG PLATEAU
Menurut KH. A. Kholiq Arif (Bupati Wonosobo saat ini) dalam bukunya yang berjudul "Mata Air Peradaban Dua Millenium Wonosobo", awal wangsa-wangsa Jawa muncul adalah di daerah sekitar Dieng (Wonosobo) yaitu Kerajaan Kalingga dengan wilayah kekuasaanya membentang di pesisir utara Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Setelah itu disusul munculnya dinasti Sanjaya-Syailendra (Kerajaan Mataram I) yang menggantikan Kerajaan Kalingga. Kerajaan Kalingga di Jawa ini kemungkinan merupakan kelanjutan dari Kalingga di India (Kalingga = Kaling/Holing menjadi nama kerajaan yakni Kalingga di wilayah sekitar Kashmir yang pernah diinvasi oleh Dinasti Gupta). Bukti munculnya wangsa-wangsa terutama Sanjaya-Syailendra ditandai adanya beberapa prasasti dan candi-candi besar di jawa seperti Candi Dieng, Kalasan, Borobudur, Gedung Songo, Baka, dll. Dari kesekian candi-candi yang tersebar di Jawa Tengah tersebut, candi dieng lah yang memiliki pengaruh gaya arsitektur yang sangat kuat dengan gaya Gupta dan Caluknya (India Selatan). Lebih lanjut menurut Beliau, posisi strategis Dieng dan Wonosobo membuktikan bahwa wilayah ini memiliki peran yang sangat besar yang menentukan arah dan perkembangan konstelasi historis Jawa bahkan Nusantara. Maka dikatakannya "Dari Wonosobolah sesungguhnya 'mata air' peradaban Nusantara itu bersumber dan terus mengalir".

WISATA DIENG PLATEAU




Wisata Dieng terletak di dua kawasan yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Tepatnya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Perjalanan menuju kompleks lokasi wisata Dieng pun dapat ditempuh melalui dua arah utama dari Wonosobo dan Banjarnegara.

Dieng merupakan salah satu obyek wisata nuansa pegunungan di Jawa Tengah yang memiliki ketinggian tempat sekitar 2.000 mdpl, pegunungan dieng memiliki beberapa kepunden kawah sehingga dikatakan sebagai gunung api raksasa. Dieng yang merupakan kawasan vulkanik aktif ini memiliki suhu udara berkisar 15—20°C pada waktu siang hari dan 10°C pada malam hari. Daerah dingin kawasan dieng plateau menjadi momok bagi warga setempat setiap kali muncul embun beku terutama di pagi hari. Embun beku di dieng plateau ini sering terjadi pada musim kemarau dengan suhu udara mencapai hingga 0°C. Areal pertanian hancur akibat datangnya embun beku, warga sekitar menyebutnya sebagai 'bun upas' (embun racun).

Kawasan wisata Dieng Plateau memiliki kawasan pegunungan eksotik yang sangat indah. Terletak di desa Sembungan dengan ketinggian tempat 2.350 mdpl. Kawasan wisata di Dieng ini dinamakan Si Kunir. Si Kunir menjadi primadona wisata kompleks Dieng Plateau, karena dari ketinggian inilah wisatawan dapat menikmati keindahan sunrise di pagi hari bagaikan di atas awan. Oleh karenanya obyek wisata si kunir Dieng Plateu terkenal dengan istilah bumi kahyangan atau negeri di atas awan. Untuk dapat menikmati keindahan sunrise di si kunir Dieng Plateau, perjalanan menuju puncak wisata dilakukan dini hari.

OBYEK WISATA DIENG PLATEAU

Objek wisata dieng plateau meliputi Gardu Pandang Wisata Dieng Plateau (Tieng), Wisata Dieng Tuk Bimo Lukar, Wisata Dieng Plateau Theatre, Wisata Museum Kailasa Dieng, Wisata Telaga Warna Dieng, Wisata OASE Dieng Plateau (Obyek Wisata Air Telaga Sewiwi), Wisata Dieng Telaga Merdada, Pemandian Air Panas Bitingan Dieng Plateau, Wisata Dieng Air Terjun Sirawe, Wisata Dieng Sumur Jalatunda, Wisata Sikunir Dieng, Wisata Dieng Goa Jimat/Gua Upas, Wisata Dieng Pertapan Mandalasari, Wisata Dieng Darmasala, Wisata Sendang Sedayu Dieng, Wisata Gangsiran Aswotomo Dieng Plateau, Wisata Dieng PLTP Panas Bumi, Wisata Watu Kelir Dieng Plateau, Wisata Dieng Ondo Budo, Wisata Dieng Pendopo Soeharto-Whitlem, Pos Pengamatan Gunung Api Dieng Plateau, Wisata Komplek Candi Arjuna Dieng Plateau, Wisata Kawah Sikidang Dieng Plateau, Wisata Kawah Candradimuka Dieng Plateau, Wisata Kawah Sileri Dieng Plateau, Wisata Kawah Sibanteng Dieng Plateau, dan Wisata Kawah Sinila Dieng Plateau.

BUDIDAYA PEPAYA

Cara praktis budidaya pepaya yang akan saya uraikan disini, bermaksud memanfaatkan bedengan bekas ditanami tanaman bernilai ekonomis tinggi, seperti lahan bekas budidaya cabe, budidaya melon, budidaya terong, budidaya tomat dll dimana dalam sistem budidaya yang digunakan menggunakan sistem mulsa PHP (Plastik Hitam Perak). Dengan asumsi pemupukan dasar saat penanaman tanaman pertama sesuai petunjuk budidaya yang sudah saya uraikan (lihat budidaya cabe, budidaya melon, budidaya tomat, budidaya terong).

Syarat Tumbuh Tanaman Pepaya

Tanaman pepaya tumbuh optimal pada daerah berketinggian tempat antara 200-500 mdpl. Tanaman pepaya membutuhkan sinar matahari penuh tanpa naungan, suhu udara berkisar 22-26°C, pH tanah 6-7.

Tanaman pepaya termasuk tanaman yang sensitif terhadap kekurangan dan kelebihan air. Jika terjadi kekurangan air, pertumbuhannya terhambat dan buah pepaya berbentuk tidak sempurna. Sedangkan jika kelebihan air (terutama ada genangan air) akar tanaman tidak dapat bernafas dengan baik, sehingga mudah terserang penyakit penyebab layu.

PELAKSANAAN BUDIDAYA PEPAYA




Persiapan Lahan

Persiapan lahan pada budidaya tanaman ini meliputi pembuatan lubang tanam (pembolongan mulsa) tepat di tengah bedengan dengan jarak tanam ideal 2,75m zigzag. Sistem tanam zigzag bertujuan menjaga kelembaban antar bedengan, terutama saat musim hujan. Lubangi mulsa dengan panjang 40cm, lebar 40cm. Bisa juga berbentuk bulat berdiameter 50 cm, kemudian dilakukan pembuatan lubang tanam dengan panjang 25cm, lebar 25cm, dan kedalaman 25cm. Pemberian pupuk kandang fermentasi dilakukan 2 minggu sebelum tanam sebanyak 0,5kg/lubang tanam, pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 200 g/lubang tanam.

Persiapan Pembibitan dan Penanaman

Persiapan pembibitan selama budidaya membutuhkan rumah atau sungkup pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai berukuran 8cmx10cm. Benih pepaya disemaikan ke dalam media sebanyak 1 butir/media. Untuk mempercepat perkecambahan benih permukaan media ditutup dengan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa PHP), dijaga dalam keadaan lembab.

Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan. Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00-09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 14 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid dilakukan umur 30 hss (hari setelah semai). Dosis/konsentrasi ½ dosis/konsentrasi terendah. Bibit berdaun sejati 4 helai siap pindah tanam ke lahan.

PEMELIHARAAN TANAMAN PEPAYA

Penyulaman

Penyulaman selama budidaya dilakukan sampai umur tanaman 1,5 bulan. Tanaman yang sudah terlalu tua apabila masih terus disulam akan berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit.

Perempelan

Perempelan tunas samping dilakukan pada tunas yang keluar di ketiak daun. Bertujuan memacu pertumbuhan vegetatif tanaman, agar tanaman pepaya tumbuh kekar, disamping itu juga menjaga kelembaban saat tanaman pepaya sudah dewasa. Dilakukan sampai munculnya bunga pertama.

Sanitasi Lahan dan Pengairan

Sanitasi lahan pada budidaya tanaman pepaya meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan.

Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban 2 minggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan

Pupuk akar diberikan sebulan sekali dengan cara pengocoran, yaitu pada umur 1-4 bulan dosisnya 4kg NPK 15-15-15 dilarutkan dalam 200lt air, tiap tanaman pepaya diberikan 1lt. Sedangkan umur di atas 4 bulan dosisnya 5kg NPK 15-15-15, 1kg ZK dilarutkan dalam 200lt air, tiap tanaman pepaya diberikan 1lt.

Pupuk daun kandungan Nitrogen tinggi diberikan umur 1 bulan, 2 bulan dan 3 bulan, sedangkan kandungan Phospat dan kalium tinggi diberikan umur di atas 6 bulan.

PENGENDALIAN HAMA PENYAKIT TANAMAN PEPAYA


HAMA TANAMAN PEPAYA

Kutu Daun

Kutu daun mengisap cairan tanaman pepaya terutama pada daun muda, kotoran kutu berasa manis sehingga mengundang semut. Daun pepaya terserang mengalami klorosis (kuning), menggulung dan mengeriting, akhirnya tanaman pepaya kerdil. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Kutu Putih

Kutu putih berbentuk bulat dan berwarna kehijauan, seluruh tubuhnya diselumuti lapisan lilin berwarna putih. Hama menyerang tanaman pepaya dengan cara menghisap cairan daun dan menyelubungi buah pepaya. Serangan pada bunga menyebabkan kerontokan. Kotorannya sangat manis sehingga mengundang semut. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Kutu Kebul

Hama ini berwarna putih, bersayap, tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Kutu kebul menghisap cairan sel daun sehingga sel-sel dan jaringan daun pepaya rusak. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Tungau

Tungau bersembunyi di balik daun pepaya dan menghisap cairan daun. Daun pepaya terserang awalnya muncul bintik-bintik berwarna putih, serangan berat seluruh permukaan daun akan tampak berselaput putih, serta pada permukaan bawah daun terdapat benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

PENYAKIT TANAMAN PEPAYA

Layu Bakteri

Serangannya disebabkan oleh bakteri, daun pepaya terserang terkulai lemas lalu gugur, pucuk tanaman pepaya membusuk dan terus menjalar ke bawah sampai akhirnya seluruh tanaman pepaya membusuk. Pengendaliannya dengan membongkar tanaman pepaya sakit sampai ke akar-akarnya, serta penyemprotan kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik dengan bahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin. Dosis/konsentrasi sesuai pada kemasan. Sebagai pencegahan, dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah setiap 1 bulan sekali, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentrasi sesuai anjuran pada kemasan.

Busuk Phytopthora

Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman pepaya. Pangkal batang terserang membusuk kemudian terkulai, serangan serius menyebabkan tanaman pepaya layu. Daun pepaya terserang seperti tersiram air panas, layu, menguning dan menggantung di sekitar batang sebelum akhirnya rontok. Akar lateral membusuk, membentuk massa spora berwarna coklat tua, lunak serta berbau tidak enak. Pada buah serangan dimulai dari tangkai buah pepaya, buah diselimuti miselium cendawan berwarna putih, akhirnya buah pepaya mengeriput berwarna hitam. Pengendaliannya dengan sanitasi kebun, membongkar tanaman pepaya terserang sampai ke akar-akarnya, serta memusnahkan buah pepaya terserang. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentrasi sesuai anjuran pada kemasan.

Antraknosa

Serangan antraknosa pada buah pepaya muda berbentuk luka kecil ditandai adanya getah yang keluar dan mengental, pada buah pepaya menjelang masak ditandai bulatan-bulatan kecil berwarna gelap, saat buah pepaya mulai masak bulatan semakin membesar berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora. Pengendaliannya dengan sanitasi kebun, serta memusnahkan buah pepaya terserang. Pengendalian kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.

Virus

Gejala serangan virus umumnya ditandai dengan pertumbuhan tanaman pepaya mengerdil, daun mengeriting, terdapat bercak kuning kebasah-basahan dengan sisi daun pepaya bergaris-garis tidak teratur (mosaik). Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit virus ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor atau penular. Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya adalah thrips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama pada saat pemangkasan. Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman pepaya terserang virus, kebersihan alat dan memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman pepaya.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Budidaya Tanaman Pepaya

Penyemprotan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan, jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut. Pepaya merupakan tanaman tahan terhadap serangan hama penyakit tanaman, sehingga penyemprotan dapat dilakukan 1 minggu sekali atau sesuai kebutuhan. Jadi penggunaan pestisida dapat dihemat.

PANEN PEPAYA

Buah pepaya dapat dipanen saat tanaman berumur 7 bulan. Buah dipanen adalah buah 20% masak. Untuk menjaga kondisi tanaman pepaya agar tetap sehat, saat pemanenan gunakan pisau atau sejenisnya supaya bekas potongan tidak mudah terserang penyakit terutama musim hujan.

BUDIDAYA MELON

Budidaya Melon - Melon (Cucumis melo) merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomis tinggi. Keberhasilan selama proses budidaya melon menjadi faktor penentu dalam mendatangkan keuntungan tinggi bagi petani atau pelaku usaha yang membidik peluang usaha budidaya tanaman melon. Budidaya pertanian ini banyak dilirik petani karena harganya relatif stabil atau bisa dikatakan fluktuasi harganya masih dalam batas kewajaran.

CARA MENANAM MELON MENGGUNAKAN TEKNOLOGI BUDIDAYA YANG SANGAT APLIKATIF

Cara menanam melon yang akan kami uraikan disini sangat aplikastif sehingga mudah diterapkan oleh para petani. Teknik budidaya tanaman melon disesuaikan dengan kondisi lingkungan saat ini terutama dalam mengantisipasi serangan hama penyakit tanaman. Seperti kita ketahui bahwa serangan hama penyakit yang tak terkendali dapat menggagalkan panen hingga 80% pada budidaya tanaman melon, untuk itu dalam mengantisipasinya diperlukan teknik dan cara budidaya yang benar.

Tanaman melon memerlukan curah hujan antara 2000-3000 mm/th dengan ketinggian tempat optimal 200-900 mdpl. Intensitas sinar matahari berkisar antara 10-12 jam per hari. Suhu optimal untuk perkecambahan benih berkisar 28°-30°C, untuk pertumbuhan vegetatif 20-25°C serta untuk pembungaan >25°C. Rasa buah melon yang manis akan tercapai apabila selisih suhu antara siang malam cukup tinggi. Suhu siang hari untuk pembesaran 26°C sehingga dapat meningkatkan fotosintesis. Sedangkan suhu malam harinya <20°C untuk menekan proses respirasi cadangan makanan. Air sangat dibutuhkan oleh tanaman ini karena 90% kandungan buah melon terdiri dari air. Lokasi penanaman melon sebaiknya bukan bekas lahan budidaya tanaman melon atau tanaman sefamili. Minimal sudah diberakan selama 2 tahun untuk memutus siklus hidup hama penyakit tanaman.

PERSIAPAN TEKNIS

Sebelum pelaksanaan budidaya tanaman melon, perlu dilakukan persiapan teknis agar hasil panen optimal. Dalam hal ini kita perlu mengetahui tingkat keasaman tanah tempat budidaya tanaman melon atau derajat keasaman tanahnya. Dengan mengetahui tingkat keasaman tanah diharapkan dapat memanipulasi kondisi tanah agar kondusif untuk pertumbuhan tanaman. Nilai keasaman tanah (pH tanah) dapat kita ketahui dengan cara melakukan pengukuran pH tanah. Pengukuran pH tanah diperlukan untuk menentukan jumlah pemberian kapur pertanian terutama untuk tanah masam (pH rendah khususnya pH di bawah 6,5) karena mayoritas tanah di Indonesia tergolong berjenis tanah asam. Pengukuran pH tanah bisa dilakukan menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag. Penambahan kapur pertanian untuk tanah asam bertujuan menetralkan nilai pH tanah yaitu menjadi 7 atau setidaknya mendekati 7. Tanah bernilai pH ini, unsur hara dalam tanah dalam kondisi tersedia serta mudah diserap olah akar tanaman, tentunya memerlukan bantuan air.

PELAKSANAAN




Pelaksanaan budidaya tanaman melon meliputi persiapan lahan, persiapan benih, penanaman, pemeliharaan tanaman (meliputi penyulaman tanaman, pengikatan, pemangkasan, sanitasi lahan, pengairan, pemupukan susulan), serta pengendalian hama penyakit melon. Agar budidaya tanaman sesuai harapan petani melon, pemahaman mengenai hal ini menjadi sangat penting. Berikut ini akan kami uraikan inti dari setiap jenis kegiatan di atas:

Persiapan Lahan

Pada kegiatan budidaya tanaman melon, persiapan lahan yang harus dilakukan meliputi pembajakan dan penggaruan tanah, pembuatan bedengan kasar, lebar 110-120 cm, tinggi 40-70 cm, lebar parit 50-70 cm, pengapuran 200 kg/rol mulsa untuk tanah di bawah 6,5, pemberian pupuk kandang yang sudah difermentasi 40 ton/ha dan pupuk NPK 15-15-15 sebanyak 150 kg/rol mulsa PHP, pengadukan bedengan agar tersebar merata, persiapan selanjutnya adalah pemasangan plastik mulsa, pembuatan lubang tanam untuk musim kemarau jarak ideal 60 cm x 60 cm sedangkan untuk musim hujan jarak ideal adalah 70 cm x 70 cm, lanjutkan dengan pemasangan ajir. Untuk menjaga kelembaban, sebaiknya menggunakan sistem ajir tegak. Setiap ajir dihubungkan dengan gelagar. Gelagar ini disamping menghubungkan ajir satu dengan lainnya juga berfungsi sebagai tempat penggantungan buah melon. Sebagai penguat, pada ajir paling pinggir dipasang ajir miring sebagai kuda-kuda membentuk sudut ±45°.

Pembibitan dan Penanaman Melon

Persiapan pembibitan membutuhkan rumah (sungkup) pembibitan untuk melindungi bibit melon muda. Kemudian menyediakan media semai dengan komposisi 20 liter tanah, 10 liter pupuk kandang, dan 150 g NPK halus. Media campuran dimasukkan ke dalam polibag semai. Sebelum disemai, lakukan perendaman benih melon dalam larutan fungisida (sistemik) dengan bahan aktif simokanil, atau bisa juga metalaksil. Perendaman dilakukan selama ± 6 jam (½ dari dosis terendah pada kemasan). Untuk mempercepat perkecambahan melon, lakukan penutupan pada permukaan media, bisa menggunakan kain goni atau bagor, atau mulsa. Media harus tetap dijaga agar tetap dalam keadaan lembab. Saat benih melon telah berkecambah, penutup permukaan media semai bisa dibuka, kemudian gunakan plastik transparan sebagai sungkup.
Pembukaan sungkup dimulai saat jam 07.00 - 09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur 5 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif imidakloprid saat umur 8 hss (hari setelah semai), dosis ½ dari dosis terendah. Bibit melon berdaun sejati 4 helai siap untuk pindah tanam ke lahan.

PEMELIHARAAN TANAMAN MELON

Pemeliharaan pada budidaya tanaman melon meliputi penyulaman tanaman, pengikatan tanaman pada ajir atau lanjaran, pemangkasan cabang melon, sanitasi lahan, pengairan atau irigasi, serta pemupukan susulan baik melalui akar maupun daun. Perawatan rutin selama budidaya tanaman melon sangat menentukan hasil produk buah melon karena budidaya tanaman ini termasuk salah satu budidaya tanaman hortikultura bernilai ekonomis tinggi sehingga memerlukan perawatan intensif, disamping itu juga termasuk budidaya pertanian yang membutuhkan biaya tinggi selama proses budidayanya.

Penyulaman Tanaman

Penyulaman pada budidaya tanaman melon dilakukan sampai umur tanaman 2 minggu. Tanaman berumur terlalu tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap pengendalian hama penyakit selama budidaya tanaman melon.

Pengikatan dan Pemangkasan

Pada budidaya tanaman melon, untuk menjaga kelembaban serta mengatur sirkulasi udara di seputar tanaman perlu dilakukan pengikatan maupun pemangkasan tanaman. Melon termasuk tanaman merambat dengan pertumbuhan cepat, untuk itu sedini mungkin harus sudah segera diikatkan pada ajir, pengikatan dilakukan setiap jarak 40 cm.
Pemangkasan cabang pada budidaya tanaman melon bertujuan untuk memelihara cabang sesuai yang dikehendaki. Agar sirkulasi udara di sekitar arel budidaya lancar maka dianjurkan memelihara satu cabang utama. Pemangkasan cabang lateral dimulai dari ruas ke-1 sampai ke-6. Cabang lateral pada ruas ke-7 sampai ke-10 dipelihara sebagai tempat bakal buah melon. Bakal buah diseleksi saat ukuran buah melon minimal sebesar telur, dipilih 2 buah melon yang sempurna. Setelah dilakukan seleksi buah, cabang lateral yang buahnya dipelihara dipangkas dengan menyisakan 3 helai daun diatasnya. Sedangkan cabang lateral yang buahnya tidak dipelihara, yang satu dipangkas di ruas ke-2 dan yang satunya lagi dipelihara sebagai cadangan daun untuk mengantisipasi kekurangan daun akibat serangan hama penyakit tanaman. Pemangkasan cabang lateral dilanjutkan pada ruas ke-12 sampai ke-33. Ujung cabang utama diatas ruas ke-33 kemudian dipangkas.
Buah melon perlu diikat pada gelagar untuk membantu batang tanaman menyangga beban buah melon. Pengikatan dilakukan pada cabang lateral yang berhubungan dengan tangkai buah melon membentuk huruf T.

Sanitasi Lahan dan Pengairan

Sanitasi lahan pada budidaya tanaman melon meliputi : pengendalian gulma/rumput, pengendalian air saat musim hujan sehingga tidak muncul genangan, pemangkasan daun melon serta pencabutan tanaman terserang hama penyakit tanaman.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban seminggu sekali jika tidak turun hujan. Penggenangan jangan terlalu tinggi, batas penggenangan hanya 1/3 dari tinggi bedengan.

Pemupukan Susulan

Pemupukan susulan pada budidaya tanaman melon diberikan baik melalui akar maupun daun. Pupuk akar diberikan melalui pengocoran saat umur melon 15 hst, 25 hst, 35 hst (dosis 3kg NPK 15-15-15 dan 1kg ZK dilarutkan dalam 200lt air, untuk 1000 tanaman, tiap tanaman diberikan 200ml).
Pupuk daun kandungan nitrogen tinggi diberikan saat umur melon 7 hst dan 24 hst, sedangkan kandungan phospat, kalium dan mikro tinggi diberikan umur 20 hst, 30 hst serta 45 hst.

Defisiensi Unsur Hara

Defifiensi atau kahat unsur hara adalan kondisi dimana tanaman kekurangan makanan dalam hal ini adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk melangsungkan proses hidupnya. Defisiensi atau kekurangan unsur hara pada budidaya tanaman melon tervital adalah saat tanaman kekurangan unsur kalium dan magnesium, karena kedua unsur ini mempengaruhi hasil panen buah melon. Deteksi dini adanya kahat kedua unsur ini perlu diketahui agar hasil peroduksi buah melon semakin optimal.

Kalium

Tanaman melon memerlukan unsur hara kalium dalam jumlah sangat banyak. Unsur ini berperan penting baik dalam penyusunan protein maupun karbohidrat. Selain itu pemberian unsur kalium yang cukup juga akan meningkatkan kualitas buah melon serta meningkatkan ketahanan tanaman baik terhadap serangan hama penyakit maupun kekeringan. Kekurangan kalium ditandai adanya gejala tepi daun melon menjadi kuning muda, kemudian berubah menjadi kecoklatan, akhirnya robek seolah bergerigi. Untuk mengatasi kekurangan unsur hara kalium dapat dilakukan pengocoran menggunakan pupuk KNO3, dapat pula dilakukan penyemprotan pupuk daun berkandungan kalium tinggi, misalnya pupuk MKP (Mono Kalium Phospat).

Magnesium

Selama proses budidaya, tanaman juga membutuhkan unsur magnesium dalam jumlah relatif banyak. Unsur ini berfungsi membentuk klorofil (zat hijau daun) serta mengaktifkan enzim-enzim dalam proses metabolisme. Kekurangan unsur magnesium ditandai terjadinya klorosis diantara tulang daun melon, warna daun menguning, terdapat bercak merah kecoklatan sedangkan tulang daun tetap berwarna hijau. Untuk mengatasi kekurangan unsur ini dapat dilakukan pengapuran dan penyemprotan pupuk daun berkandungan unsur magnesiun tinggi, misal magnesium sulfat.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN MELON

Masalah vital yang menjadi momok para petani melon tak lain adalah ketika melihat tanaman budidaya hancur terserang hama penyakit. Bayangan kegagalan melintasi benak mereka, menjadi sangat menyedihkan manakala kerugian juga menyertainya. Teknik dan cara budidaya tanaman melon perlu dikuasai untuk menghindari hal ini atau setidaknya menimimalkan resiko kegagalan selama proses budidaya, terutama cara pengendalian hama penyakit pada budidaya tanaman melon.

HAMA MELON

Hama Gangsir

Hama gangsir menyerang batang melon muda terutama pada tanaman baru saja pindah tanam. Serangannya dilakukan malam hari, hama gangsir memotong batang tanaman tetapi tidak memakannya. Hama ini bersembunyi di dalam tanah (membuat liang pada tanah), keberadaan gangsir dapat dicirikan adanya onggokan tanah di muka liang. Cara pengendaliannya adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gram per lubang tanam.

Hama Ulat Tanah

Hama jenis ini menyerang tanaman saat malam hari, sedangkan siang harinya bersembunyi di dalam tanah, terkadang juga bersembunyi di balik mulsa PHP. Hama ulat tanah menyerang batang tanaman muda, sama seperti hama gangsir, ulat tanah menyerang tanaman melon dengan cara memotongnya, sehingga sering dinamakan juga ulat pemotong. Cara pengendalia pada budidaya tanaman melon adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gram per lubang tanam.

Hama Ulat Grayak

Hama ulat grayak menyerang daun tanaman bersama-sama dalam jumlah sangat banyak, hama ulat ini biasanya menyerang di malam hari. Pengendalian serangan hama ulat grayak pada budidaya tanaman melon dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Ulat Jengkal

Gejala serangan hama ulat ini ditandai tepi daun melon muda terdapat bekas gigitan serangga, makin lama makin ke tengah hingga tersisa tulang daunnya. Pengendalian serangan hama ulat jengkal dilakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Thrips

Serangan hama thrips ditandai adanya bercak-bercak keperakan pada daun tanaman terserang. Hama ini lebih suka mengisap cairan daun melon muda sehingga menyebabkan daun terserang mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendalian pada budidaya tanaman ini adalah dengan melakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Daun

Hama kutu daun mengisap cairan tanaman terutama daun melon muda, kotoran dari hama kutu ini berasa manis sehingga mengundang semut. Daun melon terserang mengalami klorosis(kuning), menggulung lalu mengeriting, akhirnya tanaman menjadi kerdil. Pengendalian pada budidaya tanaman melon adalah melakukan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kutu Kebul

Hama ini berwarna putih, bersayap, tubuhnya diselimuti serbuk putih seperti lilin. Hama kutu kebul menyerang serta menghisap cairan sel daun melon sehingga sel-sel dan jaringan daun rusak. Pengendalian hama ini dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Tungau

Hama tungau bersembunyi di balik daun melon serta menghisap cairan daun. Daun melon terserang berwarna kecoklatan, terpelintir, serta permukaan bawah daunnya terdapat benang-benang halus berwarna merah atau kuning. Pengendalian hama tungau pada budidaya tanaman melon dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida akarisida berbahan aktif propargit, dikofol, tetradifon, piridaben, klofentezin, amitraz, abamektin, atau fenpropatrin. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Kumbang Daun

Hama kumbang daun dinamakan juga oteng-oteng. Serangannya ditandai adanya bekas gigitan serangga membentuk guratan-guratan konsentris pada daun melon. Selain merusak daun, hama kumbang ini juga merusak bunga melon. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Lalat Buah

Lalat betina dewasa menyerang buah melon dengan cara menyuntikkan telurnya ke dalam buah, kemudian telur berubah menjadi larva, larva-larva ini akhirnya menggerogoti buah melon sehingga buah menjadi busuk. Pengendalian hama lalat buah pada budidaya tanaman melon dapat menggunakan perangkap lalat (sexpheromone), caranya : metil eugenol dimasukkan dalam botol aqua, lalu diikatkan pada bambu (posisi horisontal), atau dapat pula menggunakan buah-buahan yang aromanya disukai lalat (misal nangka, timun) kemudian dicampur insektisida berbahan aktif metomil. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Hama Tikus

Hama tikus menyerang buah melon saat malam hari, sedangkan siang hari biasanya hama ini bersembunyi dalam sarang. Cara pengendalian tikus pada budidaya tanaman melon adalah memberikan umpan yang telah dicampur rodentisida, campuran ini ditaruh di depan lubang tikus yang masih aktif, ditandai adanya sisa-sisa makanan baru pada lubang (terlihat jalan tikus, bekas dilalui tikus). Selain itu bisa juga dengan cara, pada lubang sarang aktif diberi karbit, lalu disiram air, kemudian lubang ditutup dengan tanah agar gas yang ditimbulkan oleh karbit tidak keluar.

Hama Nematoda

Serangan hama nematoda ditandai adanya bintil-bintil pada akar. Hama nematoda merupakan cacing tanah berukuran sangat kecil, hama ini merupakan cacing parasit menyerang bagian akar tanaman. Bekas gigitan cacing nematoda akhirnya menyebabkan serangan sekunder, seperti layu bakteri, layu fusarium, busuk phytopthora atau cendawan lain penyerang akar. Cara pengendalian nematoda adalah dengan pemberian insektisida berbahan aktif karbofuran sebanyak 1 gram per lubang tanam.

PENYAKIT MELON

Penyakit Rebah Semai

Penyakit Rebah semai biasa menyerang tanaman saat fase pembibitan. Cara pengendalian pada budidaya tanaman melon adalah melakukan penyemprotan menggunakan fungisida sistemik berbahan aktif propamokarb hidroklorida, simoksanil, kasugamisin, asam fosfit, atau dimetomorf (dosis ½ dari dosis terendah tertera di kemasan).

Penyakit Layu Bakteri

Penyakit ini sering menggagalkan tanaman, serangannya disebabkan oleh bakteri. Upaya pengendalian penyakit layu bakteri antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin (dosis sesuai di kemasan). Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma saat persiapan lahan, saat melon umur 20 hst dan 35 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Layu Fusarium

Gejala akibat serangan penyakit layu fusarium hampir sama dengan layu bakteri, yang membedakan hanyalah penyebabnya. Penyakit layu fusarium disebabkan oleh serangan jamur. Upaya pengendalian penyakit layu fusarium pada budidaya tanaman melon antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan secara kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida (dosis sesuai di kemasan). Sebagai pencegahan, secara biologi dapat diberikan trichoderma saat persiapan lahan, saat melon umur 20hst dan 35 hst dilakukan pengocoran menggunakan pestisida organik pada tanah, contoh super glio, wonderfat. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Busuk Phytopthora

Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman. Batang melon terserang ditandai adanya bercak coklat kehitaman serta kebasah-basahan. Serangan serius menyebabkan tanaman layu. Daun melon terserang seperti tersiram air panas. Buah melon terserang ditandai bercak kebasah-basahan, lalu menjadi coklat kehitaman dan lunak. Pengendalian secara kimiawi pada budidaya tanaman melon menggunakan fungisida sistemik, gunakan bahan aktif seperti metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil atau dimetomorf dan fungisida kontak, gunakan bahan aktif seperti tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Gummy Stem Blight

Penyakit ini bermula dari bagian bawah batang melon yang nampak seperti tercelup minyak, selanjutnya mengeluarkan cairan berwarna merah cokelat, akhirnya tanaman mati. Daun melon terserang ditandai adanya bercak bundar melekuk ke dalam berwarna cokelat kehitaman lama kelamaan daun melon akan mengering. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, tridemorf, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Powdery Mildew

Gejala diawali adanya bercak bulat kecil berwarna keputihan pada permukaan bagian bawah daun melon. Kemudian bercak akan menyatu, berkembang ke permukaan daun melon bagian atas sehingga daun seperti diselimuti tepung. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, gunakan bahan aktif seperti benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Downy Midew

Terdapat bercak berwana kuning muda pada permukaan daun melon yang dibatasi oleh tulang daun, sedangkan pada permukaan daun bagian bawahnya terdapat massa spora berwarna kehitaman. Ketika terjadi serangan parah tulang daun melon membusuk, akhirnya menyebabkan tanaman mati. Pengendalian secara kimiawi pada budidaya tanaman melon menggunakan fungisida sistemik, gunakan bahan aktif seperti benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Antraknosa

Penyakit antraknosa sering juga diistilahkan dengan nama patek. Penyakit ini menyerang semua bagian tanaman, ditandai adanya bercak agak bulat berwarna cokelat muda, lalu berubah menjadi cokelat tua sampai kehitaman. Semakin lama bercak melebar, lalu menyatu akhirnya daun melon mengering. Gejala lain adalah bercak bulat memanjang berwarna kuning sampai cokelat. Buah melon terserang akan nampak bercak agak bulat, berlekuk berwarna cokelat tua, disini cendawan akan membentuk massa spora berwarna merah jambu. Pengendalian secara kimiawi pada budidaya tanaman melon menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol, dan fungisida kontak berbahan aktif klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Kudis (scab)

Serangan pada buah melon muda akan tampak bercak berwarna hijau-cokelatan melekuk ke dalam, bagian pinggirnya mengeluarkan cairan yang akan mengering seperti karet. Pada buah melon tua serangan penyakit ini akan membentuk kudis bergabus, berwarna cokelat, tetapi proses pematangan buah melon tidak mengalami hambatan. Namun setelah dipanen, cendawan akan aktif serta buah melon mudah membusuk. Daun melon terserang akan terlihat bercak cokelat kebasah-basahan, serta mengeluarkan lendir. Pengendalian secara kimiawi pada budidaya tanaman melon menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah metalaksil, propamokarb hidrokloroda, simoksanil, atau dimetomorf dan fungisida kontak berbahan aktif tembaga, mankozeb, propineb, ziram, atau tiram. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Bercak Daun

Penyakit ini disebabkan oleh serangan bakteri, berkembang pesat terutama saat musim hujan. Serangan ditandai adanya bercak putih bersudut karena dibatasi tulang daun. Kemudian bercak berubah menjadi cokelat kelabu serta bagian bawah daun melon mengeluarkan cairan, akhirnya daun melon mengering. Pengendalian pada budidaya tanaman ini menggunakan bakterisida dari golongan antibiotik berbahan aktif kasugamisin, streptomisin sulfat, asam oksolinik, validamisin, atau oksitetrasiklin, atau dari golongan anorganik seperti tembaga. Dosis/konsentasi sesuai petunjuk di kemasan.

Penyakit Virus

Virus merupakan penyakit yang sangat berpotensi menimbulkan kegagalan terutama saat musim kemarau. Gejala serangan umumnya ditandai pertumbuhan tanaman mengerdil, daun melon mengeriting serta terdapat bercak kuning kebasah-basahan. Penyakit virus sampai saat ini belum ditemukan penangkalnya. Penyakit ini ditularkan dari satu tanaman ke tanaman lain melalui vektor (penular). Beberapa hama yang sangat berpotensi menjadi penular virus diantaranya adalah thrips, kutu daun, kutu kebul, maupun tungau. Manusia dapat juga berperan sebagai penular virus, baik melalui alat-alat pertanian maupun tangan terutama saat melakukan pemangkasan. Beberapa upaya penanganan virus antara lain : membersihkan gulma (karena gulma berpotensi menjadi inang virus), mengendalikan hama/serangga penular virus, memusnahkan tanaman terserang virus, kebersihan alat serta memberi pemahaman kepada tenaga kerja agar tidak ceroboh saat melakukan penanganan terhadap tanaman.

Strategi Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Pada Budidaya Melon

Pengendalian hama gangsir, ulat tanah dan nematoda dilakukan secara bersamaan cukup satu kali pemberian insektisida, yaitu 1gram per lubang tanam.
Pengendalian hama ulat grayak, ulat jengkal, thrips, kutu daun, kutu kebul, tungau, kumbang daun serta lalat buah dan penyakit pada budidaya tanaman melon menggunakan pestisida harus dilakukan berseling atau penggantian bahan aktif yang tertera di atas setiap melakukan penyemprotan (jangan menggunakan bahan aktif yang sama secara berturut-turut).

PANEN MELON

Umur panen buah melon sangat bervariasi, yaitu antara 55-85 hst (hari setelah tanam). Faktor paling berpengaruh terhadap umur panen melon adalah genetik dan lingkungan. Buah melon dengan varietas yang berbeda akan memiliki umur panen berbeda pula sekalipun ditanam pada kondisi lingkungan sama. Demikian juga sebaliknya, varietas melon sama akan memiliki umur panen berbeda andaikata ditanam pada kondisi lingkungan berbeda, terutama ketinggian tempat.

ARTIKEL POPULER