Tampilkan postingan dengan label PUPUK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUPUK. Tampilkan semua postingan

Peran Mikroba Pengurai (Mikroba Dekomposer) Dalam Pembuatan Kompos

Mikroba pengurai atau dikenal juga dengan nama mikroba dekomposer atau mikroba selulolitik, adalah sejenis mikroba yang berperan terutama dalam proses pengomposan, terutama dalam mengurai atau memecah material organik. Dalam proses pembuatan kompos, peran mikroba dekomposer sangat penting, terutama untuk memecah dinding selulose tanaman atau bahan organik yang akan dikompos. Selolose merupakan penyusun utama dinding sel tanaman, yang tersedia dalam bentuk terikat dengan plisakarida lain, seperti hemiselulose, pektin, dan lignin.

Di dalam tanah, banyak terdapat mikroba dekomposer yang berperan dalam penguraian selulose secara alami, baik dari jenis jamur (fungi), actinomycetes, dan bakteri, baik aerob maupun anaerob. Beberapa jenis fungi yang termasuk dalam mikroba selulolitik antara lain Trichoderma sp., Penicillium sp., Aspergillus sp., Myrothecium sp., dan Alternaria sp. Sedangkan dari kelompok actinomycetes antara lain, Micromonospora, Streptomyces, Thermoacinomycetes, Thermopolyspora, dan Thermonospora. Jenis bakteri aerob yang berperan dalam penguraian selulose tanaman antara lain Bacillus sp., Cyptopharga sp., Pseudomonas sp., dan Sporocyptopharga sp. Sedangkan bakteri dekomposer dalam kelompok anaerob seperti Clostridium sp. dan Ruminococcus sp.


Dalam proses penguraian bahan-bahan organik (bahan baku kompos), mikroba selulolitik mengeluarkan enzim selulose yang berperan dalam mempercepat proses hidrolisis selulosa dan polisakarida lain. Penguraian bahan-bahan tersebut akan merombak sifat fisik materi, dan akan melepaskan beberapa unsur hara, seperti Nitrogen, Phosphat, Kalium, dan Sulfur. Unsur hara yang dihasilkan dari proses penguraian ini akan dimanfaatkan oleh mikroorganisme untuk mendukung metabolisme tubuhnya. Dengan demikian, aktivitas mikroorganisme akan meningkat, sehingga proses penguraian dan perombakan bahan-bahan organik akan berlangsung semakin cepat. Proses penguraian ini akan menghasilkan karbon, yang sebagian dilepas dalam bentuk gula sederhana, sementara sisa karbon dilepas ke udara dalam bentuk CO2. Dengan demikian, kandungan C (karbon) dalam bahan organik menjadi berkurang, dan kondisi tersebut secara otomatis akan menurunkan C/N rasio.

Dalam perombakan bahan-bahan organik, selulose yang tidak berlignin, seperti jaringan tanaman akuatik tidak berkayu, limbah pabrik kerta, atau serat kapas akan lebih cepat diurai oleh mikroba dekomposer, dibanding dengan tanaman berlignin, terutama tanaman berkayu. Hal ini disebabkan pada tanaman berkayu, selulose dan lignin akan membentuk lignose-lulose, yang tahan terhadap aktivitas mikroba. Oleh karena itu, untuk pengomposan bahan-bahan dari jaringan tanaman berkayu diperlukan peran mikroba penghasil enzim pengurai lignin, seperti Paecilomyces sp., Allezcheria sp., Chaetomium sp., Poria sp., Nocardia sp., Streptomyces sp., Pseudomonas sp., dan Flarocacterium sp.

Di pasaran, telah banyak dijual pupuk mikroba dekomposer, yang dapat digunakan untuk mempercepat proses pengomposan, seperti EM-4, Starbio Plant, Harmoni BS, Temban, Orgadec, dan masih banyak lagi.

PUPUK NPK

Pupuk NPK merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang kandungan unsur utamanya terdiri dari tiga unsur hara sekaligus. Pupuk ini merupakan unsur makro yang sangat mutlak dibutuhkan tanaman. Sesuai dengan namanya, unsur-unsur tersebut terdiri dari unsur N (nitrogen), P (fosfor) dan K (kalium). Unsur NPK ini adalah unsur penting yang membantu tanaman melangsungkan serangkaian proses pertumbuhan. Jika tanaman kekurangan salah satu unsur hara, maka dapat dipastikan pertumbuhan tanaman akan terhambat. Sebagai contoh, jika tanaman kekurangan unsur N, sementara kebutuhan unsur P dan K masih terpenuhi, maka tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik, warna hijau daun memudar hingga menguning. Pada kondisi demikian, tumbuhan akan kesulitan bereproduksi, pembentukan bunga dan buah akan terhambat, bahkan jika kekurangan unsur N sangat signifikan, maka lama-kelamaan tanaman menjadi kerdil bahkan akhirnya mati. Begitu juga sebaliknya, jika unsur P tidak terpenuhi, maka tanaman juga tidak dapat tumbuh dengan baik, akar tidak terbentuk sempurna sehingga menghambat proses pengangkutan zat-zat makanan oleh akar. Selain itu, pembentukan bunga juga kurang sempurna, tanaman kesulitan menghasilkan bunga. Demikian juga jika unsur K tidak tersedia, maka pembungaan banyak terjadi kerontokan, jika akhirnya mau berbuah, buah yang terbentuk juga kurang sempurna, bahkan kualitas buah sangat rendah. Selain itu tanaman kurang tahan terhadap serangan hama penyakit maupun kekeringan.

Manfaat Pupuk NPK

Pemberian pupuk NPK sangat banyak manfaatnya bagi tumbuhan. Pupuk ini mampu memenuhi kebutuhan vital untuk pertumbuhan, dimana seperti telah diuraikan di atas, bahwa unsur NPK mutlak harus tersedia di dalam tanah. Pemberian pupuk NPK mampu menyediakan kebutuhan tanaman akan ketiga unsur makro sekaligus, yaitu N, P dan K. Selain manyediakan unsur NPK sekaligus, biasanya pupuk jenis NPK juga dilengkapi dengan kandungan unsur lain, baik itu unsur makro sekunder maupun unsur mikro. Seperti misalnya pupuk Phonska, selain mengandung unsur makro primer N, P dan K juga mengandung unsur makro sekunder S (Sulfur) sehingga pupuk ini sangat disukai oleh sebagian besar petani. Biasanya pupuk majemuk jenis NPK mudah larut dalam air, sehingga mudah diserap oleh akar. Pemberian pupuk NPK juga mampu meningkatkan jumlah akar di dalam tanah, memacu pertumbuhan bunga, serta pemanenan tepat pada waktunya. Pemupukan NPK secara kasat mata juga meningkatkan kualitas tanaman dan buah, tanaman tumbuh segar dengan daun berwarna hijau. Untuk buah berasa manis, buah masak akan terasa lebih manis, berkilat dan bentuk buah sempurna. Selain itu juga mampu meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan maupun adanya serangan hama penyakit.

Kekurangan Pupuk NPK



Meskipun pemberian pupuk NPK banyak sekali manfaatnya, tetapi pupuk jenis NPK ini juga memiliki kekurangan jika tidak diantisipasi dengan baik. Pemupukan NPK secara berlebihan melebihi kapasitas justru dapat merugikan tumbuhan itu sendiri. Bunga yang terbentuk sangat banyak tetapi tidak mampu membentuk buah, bunga akhirnya rontok berguguran, atau jika sudah terbentuk buah, muah muda banyak yang rontok. Hal ini kemungkinan disebabkan karena ketidakseimbangan antara pemberian pupuk makro primer NPK dengan pupuk lainnya (seperti pupuk makro sekunder berkandungan S (sulfur), Ca (kalsium), dan Mg (magnesium)) maupun pupuk mikro (pupuk berkandungan Mo (molibdenum), Cu (tembaga), Fe (besi), B (boron), dan unsur mikro lainnya).
Dengan demikian pemberian pupuk sebaiknya dilakukan secara berimbang, semua unsur yang dibutuhkan tanaman harus tersedia untuk mengurangi resiko kegagalan, terutama untuk tanaman hortikultura. Penambahan NPK harus diimbangi dengan pemberian pupuk makro sekunder (S, Ca, Mg) dan pupuk mikro.

Jenis Pupuk NPK

Pupuk jenis NPK dapat berupa padat (granule) maupun cair. Baik NPK padat maupun NPK cair, kandungan unsur haranya tetap mengutamakan unsur N, P dan K. NPK padat biasanya lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk akar, yaitu diplikasikan ke dalam tanah agar pupuk diserap oleh akar. Sedangkan NPK cair lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk daun, aplikasinya dilakukan dengan cara penyemprotan melalui stomata. Namun, NPK cair yang dijual di pasaran kebanyakan berupa pupuk organik sehingga pemberiannya harus dalam jumlah banyak. NPK cair organik lebih cocok untuk pertanian organik. Meskipun demikian, baik NPK padat maupun NPK cair keduanya sama-sama penting bagi tumbuhan.

Beberapa Contoh Merk Dagang Pupuk NPK

Di pasaran, banyak sekali merk dagang untuk pupuk majemuk NPK, baik yang bersubsidi maupun tidak. NPK bersubsidi untuk saat ini adalah bermerk dagang Phonska, pupuk ini diproduksi oleh PT. Petrokimia Gresik. NPK Phonska berkandungan N 15%, P 15%, K 15%, dan S 10%. Biasanya pupuk phonska dikenal oleh para petani dengan pupuk phonska 15-15-15 atau pupuk NPK 15-15-15 saja. Selain pupuk phonska, pupuk berjenis NPK lain yang tidak bersubsidi juga banyak dijumpai di kios-kios pertanian, seperti pupuk NPK BASF 15-15-15, NPK Holland 15-15-15, NPK Mutiara 16-16-16, NPK Kebomas 16-16-16, NPK Pak Tani 16-16-16, NPK Sawit 13-6-27, NPK Kujang 30-6-8, NPK Gramafix, NPK Sundag, NPK fertilizer dan masih banyak lagi.

HUMUS

Humus merupakan salah satu jenis pupuk organik yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan, baik itu berupa daun, ranting, batang, maupun cabang, yang terurai secara alami. Dilihat dari bahan-bahannya, humus sama hampir sama dengan pupuk kompos, hanya saja pada pupuk kompos, proses dekomposisi dilakukan oleh mikroorganisme (dekomposer) yang ditambahkan oleh manusia. Jadi, pada pembuatan pupuk kompos campur tangan manusia sangat vital.

Mengenal Humus

Terbentuknya humus secara alami di dalam tanah dilakukan oleh mikroorganisme (jasad renik) dan bantuan cuaca. Humus banyak dijumpai di hutan-hutan. Terutama lapisan bagian atas tanah di hutan banyak terbentuk humus. Hal ini dikarenakan bahan-bahan organik dari jatuhnya daun, ranting, maupun batang tanaman yang telah mati terurai secara alami oleh mikroorganisme. Selain itu, rindangnya pepohonan membantu mempercepat proses penguraian. Sama seperti proses pengomposan, mikroorganisme pengurai mengubah senyawa yang sukar larut menjadi senyawa organik tersedia bagi tanaman sehingga mudah diserap oleh akar tanaman. Hanya saja, terbentuknya humus membutuhkan waktu yang sangat lama.

Ciri Humus




Secara kasat mata, bentuk fisik humus dan kompos adalah sama, yang dicirikan dengan warnanya yang hitam atau coklat tua. Sifat humus yang mudah mengikat air dan gembur menjadikan pupuk humus sangat membantu memperbaiki struktur tanah yang rusak. Meskipun untuk lahan pertanian, humus tidaklah cukup mengimbangi aktivitas pertanian yang begitu tinggi. Cara yang baik untuk tetap memanfaatkan pupuk humus adalah dengan seringnya membenamkan pupuk hijau ke dalam tanah. Meskipun sedikit dan lama, paling tidak upaya ini juga berperan dalam pertanian organik berkelanjutan.

Pemanfaatan Pupuk Humus

Pupuk humus kini banyak diperjualbelikan di pasaran. Karena proses penguraian yang sangat lama menjadikan pupuk humus banyak dijual dengan harga yang lumayan mahal. Biasanya pupuk humus hanya dikemas dalam kantong plastik, bukan karung seperti pada kemasan pupuk organik lain maupun pupuk anorganik. Mahalnya harga pupuk humus inilah sehingga pemanfaatannya tidak dijumpai pada petani, apalagi dengan area budidaya yang sangat luas. Pupuk humus kebanyakan dimanfaatkan oleh para pemulia tanaman dan para ibu rumah tangga. Mereka menambahkan pupuk humus ke dalam media terbatas, seperti pot, ataupun polybag. Meskipun tetap diimbangi dengan penambahan pupuk majemuk seperti N,P,K untuk memenuhi kebutuhan tanaman.
Dewasa ini, ada juga pupuk humus yang diperjualbelikan dengan penambahan unsur makro, meskipun jumlahnya juga kurang signifikan dibandingkan dengan pupuk makro tunggal atau majemuk, seperti pupuk urea, pupuk NPK, dll. Namun upaya penambahan tersebut tentunya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan unsur hara makro, sedangkan unsur mikronya telah tersedia pada humus.

Aplikasi Pupuk Humus

Aplikasi pupuk humus sebetulnya juga hampir sama dengan pupuk kompos maupun pupuk kandang, hanya saja pada pupuk humus yang diaplikasikan berupa bahan-bahan organik mentah, sedang pupuk kompos maupun pupuk kandang berupa pupuk yang sudah jadi (sudah difermentasi). Aplikasi humus untuk sekala luas dengan cara membenamkan ke dalam tanah. Bagi para petani, tanpa terasa sebetulnya mereka juga banyak yang memanfaatkan pupuk humus, terutama saat melakukan pembubunan pada budidaya tanaman hortikultura. Pembalikan tanah saat pembumbunan menggunakan cangkul menyebabkan rumput tertimbun di dalam tanah. Selama proses tertentu bahan-bahan ini akan terurai menjadi tersedia bagi tanaman dan terbentuk humus. Karena proses terjadinya humus alamiah (tidak menambahkan dekomposer dalam jumlah besar) dan pada permukaan tanah, proses penguraian bahan humus tidak menimbulkan panas tinggi sehingga reralif lebih aman dan tidak berbahaya bagi tanaman.

PUPUK KOMPOS

Pupuk kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik akibat campur tangan manusia. Pupuk kompos merupakan hasil pelapukan bahan organik, baik yang berasal dari bahan tanaman maupun limbah pabrik. Kompos dan humus sebetulnya memiliki bentuk fisik yang sama, hanya saja yang membedakannya hanyalah pada proses pembutannya. Kompos terbuat akibat campur tangan manusia, sedangkan humus merupakan pelapukan bahan-bahan organik secara alami.

Mengenal Kompos

Kompos dapat terbuat dari bahan-bahan tanaman seperti dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, dll, maupun limbah, baik limbah rumah tangga maupun limbah pabrik. Selama proses pembuatan pupuk kompos, mikroorganisme menguraikan bahan-bahan organik menjadi senyawa organik yang tersedia bagi tanaman. Senyawa organik ini sebelumnya sukar larut dan berikatan dengan unsur lain. Adanya campur tangan manusia (dengan penambahan dekomposer) akan mempercepat proses penguraian senyawa tersebut menjadi senyawa tersedia dan mudah diserap oleh tanaman. Menjadikan unsur hara yang mutlak diperlukan tanaman, baik unsur hara makro maupun mikro, siap dimanfaatkan untuk kelangsungan hidupnya.

Jenis Kompos




Berdasarkan jenisnya, kompos dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kompos padat dan kompos cair. Perbedaan kedua jenis pupuk ini ada pada cara pembuatannya. Biasanya pupuk kompos cair lebih banyak memanfaatkan limbah rumah tangga. Adapun artikel cara membuat pupuk kompos cair sudah pernah kami ulas sebelumnya.

Tujuan Membuat Kompos Padat

Tujuan utama dalam pembuatan pupuk kompos adalah menurunkan rasio C/N. Pada bahan-bahan organik segar, C/N rasio masih sangat tinggi. Jika kondisi ini dipaksakan, artinya mengaplikasikan bahan kompos mentah langsung ke dalam tanah, dapat menghambat pertumbuhan tanaman, akibat terburuk menyebabkan kematian. Hal ini terjadi karena selama proses penguraian bahan kompos mengakibatkan peningkatan CO2 dan suhu (panas) dalam tanah. Peningkatan tersebut dikarenakan kandungan air dan udaranya cukup, sehingga proses penguraian bahan organik segar oleh mikroorganisme di dalam tanah berlangsung dengan cepat. Bahkan jika terjadi pada tanah ringan, justru dapat berakibat menurunkan daya ikat tanah terhadap air serta struktur tanahnya berserat dan kasar. Proses dekomposisi untuk pembuatan pupuk kompos membutuhkan suhu sekitar 60°C.

C/N rasio adalah perbandingan C (Karbon) dan N (Nitrogen). Pupuk kompos yang telah difermentasi akan memiliki suhu mendekati suhu lingkungan dan C/N rasio mendekati C/N rasio tanah, berkisar antara 12-15. Pentingnya informasi tentang C/N rasio pada kemasan pupuk kompos, menjadikan pupuk kompos yang dijual di pasaran menjadi perhatian utama sebelum melakukan pembelian. Biasanya, pupuk kompos dengan C/N rasio mendekati 15 lebih diminati konsumen.

Selain C/N rasio, kadar hara pupuk kompos juga tergantung dari bahan-bahan organik yang digunakan, cara pengomposan, cara penyimpanan kompos maupun cara penyimpanan bahan kompos. Meskipun tidak bisa kita pungkiri, kandungan unsur hara pada kompos relatif sedikit. Untuk itulah, bagi sebagian besar petani modern memanfaatkan kompos hanya untuk pembenah tanah. Kebutuhan tanaman akan unsur hara lain yang sangat penting dicukupi dengan penambahan pupuk makro maupun pupuk mikro, terutama pupuk makro, baik itu pupuk makro primer berkandungan N,P,K maupun pupuk makro sekunder seperti Ca, Mg, dan S.

Pemanfaatan Kompos

Kompos dewasa ini sudah banyak dimanfaatkan para petani, (terutama kompos padat) meskipun jika dilihat dari kadar haranya, pupuk kompos masih kalah jauh daripada pupuk kandang. Akan tetapi, penggunaan pupuk kompos lebih praktis, terutama dalam hal pengangkutan. Selain itu, mereka jarang membuat kompos sendiri, biasanya pupuk kompos diperoleh dengan cara membeli di kios-kios pertanian terdekat.
Sama seperti pupuk kandang dan pupuk organik jenis lain, kompos banyak dimanfaatkan untuk tujuan pembenah tanah. Bersadarkan tujuan itulah, petani rela mengeluarkan biaya lebih tinggi karena seperti kita ketahui, pemupukan menggunakan kompos jauh lebih mahal. Biasanya, pemanfaatan pupuk kompos dikarenakan petani kesulitan mencari pupuk kandang maupun pupuk hijau. Kompos cair lebih banyak dimanfaatkan oleh pemulia tanaman maupun ibu rumah tangga, karena cara aplikasi pupuk yang mudah dan dapat membuatnya sendiri, serta memanfaatkan limbah rumah tangga.

Aplikasi Kompos

Aplikasi kompos pada dasarnya sama dengan pupuk kandang, untuk kompos padat dengan cara membenamkan kompos ke dalam tanah atau hanya pada larikan. Pembenaman kompos bertujuan mengurangi penguapan tinggi akibat panas matahari. Sedangkan aplikasi kompos cair juga dengan cara pengocoran.

PUPUK KANDANG

Salah satu peran penting pupuk kandang bagi para petani selain menyuburkan tanah adalah dalam hal memperbaiki struktur tanah. Pupuk kandang merupakan salah satu jenis pupuk organik yang terbuat dari hasil fermentasi kotoran hewan.

Mengenal Pupuk Kandang

Hasil fermentasi kotoran hewan dapat berupa cairan (urine) maupun feses (kotoran padat). Baik kotoran cair maupun padat dari berbagai jenis hewan dapat kita manfaatkan sebagai pupuk kandang. Meskipun demikian, jumlah kotoran yang dihasilkan oleh masing-masing hewan ternak tidaklah sama. Tidak hanya itu, kandungan unsur haranya pun berbeda-beda. Jumlah dan kandungan unsur hara pada kotoran hewan ternak dalam satu jenis pun tidak sama, hal ini sangat tergantung pada jenis makanan maupun cara perawatan. Namun, sebagai seorang petani perbedaan tersebut tidaklah signifikan, sehingga tidak perlu mendapatkan perhatian serius karena selisih kandungan unsur hara dalam kotoran hewan ternak sangat tipis.

Kelebihan pupuk kandang salah satunya adalah mengandung unsur hara lengkap. Unsur hara lengkap ini sangat dibutuhkan tanaman untuk melangsungkan pertumbuhannya. Kandungan unsur hara lengkap pada pupuk kandang berupa unsur makro maupun mikro. Unsur makro merupakan unsur hara tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah besar selama pertumbuhan tanaman, sedangkan unsur mikro hanyalah sedikit. Namun, meskipun unsur mikro dibutuhkan tanaman hanya sedikit, tetapi unsur ini mutlak harus tetap tersedia di dalam tanah. Sehingga pemanfaatan pupuk kandang sangatlah bagus di bidang pertanian karena kebutuhan tanaman akan unsur hara semuanya terpenuhi pada pupuk ini.

Meskipun pupuk kandang mengandung hara lengkap, tetapi kandungan unsur haranya dapat hilang karena disebabkan oleh penguapan tinggi, penyerapan, penyimpanan, maupun proses dekomposisi.
Pembuatan pupuk kandang pada lantai ubin dapat mengurangi hilangnya unsur hara akibat peyerapan, sedangkan kehilangan akibat penguapan dapat diminimalisir dengan pembuatan naungan dan meminimalkan pembalikkan pupuk ketika fermentasi sedang berlangsung.

Berdasarkan proses dekomposisinya, pupuk kandang dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu pupuk dingin dan pupuk panas. Pupuk dingin adalah pupuk yang terjadi karena selama proses dekomposisi atau penguraian oleh mikroorganisme berlangsung perlahan. Karena proses penguraian yang lambat sehingga pupuk ini tidak menimbulkan panas. Pupuk panas merupakan pupuk yang terjadi karena selama proses penguraian oleh mikroorganisme berlangsung dengan cepat, sehingga menimbulkan panas. Pupuk panas apabila diaplikasikan ke dalam tanah dalam keadaan belum matang (belum difermentasi) sangat berbahaya, karena dapat merusak tanaman bahkan menyebabkan kematian. Namun, meskipun pupuk kandang dingin tidak menyebabkan panas, pupuk ini harus tetap difermentasi terlebih dahulu sebelum digunakan agar mikroorganisme yang merugikan tanaman tidak berkembang biak dengan baik. Contoh pupuk kandang panas adalah pupuk dari kotoran ayam, bebek, kuda, dll. Contoh pupuk kandang dingin seperti pupuk dari kotoran kerbau, sapi, dll.

Manfaat Pupuk Kandang




- Mampu menyediakan unsur hara makro, baik makro primer maupun makro sekunder seperti Nitrogen (N), Phospor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Sulfur (S).
- Mampu menyediakan unsur hara mikro, seperti Besi (Fe), Molibdenum (Mo), Boron (B), Mangan (Mn), Seng (Zn), Tembaga (Cu), dll.
- Memiliki daya ikat ion yang tinggi. Hal ini mampu mengefektifkan pemakaian pupuk anorgnaik yang ditambahkan. Kehilangan pupuk anorganik akibat pencucian oleh air hujan maupun penguapan ketika suhu tinggi dapat diminimalisir.
- Pupuk kandang mampu memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat pengolahan lahan yang tidak berimbang, yaitu pemakaian pupuk anorganik dengan tidak diimbangi pupuk organik dan berlangsung dalam kurun waktu lama.

Pupuk Kandang Padat

Aplikasi pupuk kandang dalam dunia pertanian sangat perlu dilakukan oleh pelaku usahatani, mengingat penggunaan pupuk padat ini mampu memperbaiki struktur tanah rusak dan mengembalikan tingkat kesuburan tanah. Sebelum diaplikasikan ke dalam tanah, pupuk kandang harus difermentasi terlebih dahulu sampai matang. Secara fisik, pupuk padat yang telah matang terjadi perubahan warna, selain itu pupuk lebih kering, serta tidak berbau. Meskipun terkadang sulit membedakan pupuk dari kotoran kambing, karena secara fisik pupuk matang dan belum difermentasi tidak terlihat secara signifikan. Bagi para pemula tentu saja akan mengalami kesulitan.

Aplikasi pupuk kandang dapat dibenamkan ke dalam tanah maupun hanya pada larikan, tergantung tingkat kebutuhan petani dan daya beli mereka. Bagi para petani peternak kemungkinan tidak mengalami kendala biaya pembelian sehingga pemanfaatan pupuk kandang lebih optimal. Namun, bagi petani saja, biaya pembelian dan pengangkutan terkadang menjadi kendala utama, terlebih jika lokasi lahan dengan jalan agak jauh. Hal ini tentu saja mengakibatkan pembengkakan biaya produksi. Karena faktor inilah kebanyakan petani enggan menggunakan pupuk kandang untuk budidaya pertanian. Bahkan para petani sekaligus peternak terkadang juga enggan memanfaatkan pupuk kandang jika lokasi budidaya jauh dari jangkauan sarana transportasi. Padahal pemanfaatan pupuk kandang di dunia pertanian sangat penting sekali.

Pupuk Kandang Cair

Pupuk kandang jenis ini berupa cairan urine yang dikeluarkan oleh hewan ternak. Kandungan unsur hara nitrogen pada pupuk kandang cair lebih tinggi jika dibandingkan dengan pupuk padat, sehingga pada pupuk cair (urine) baunya sangat menyengat.
Aplikasi pupuk kandang cair juga harus difermentasi terlebih dahulu. Selain itu, cara aplikasinya juga harus diencerkan menggunakan air. Hal ini dilakukan agar terhindar dari plasmolisis dan mengurangi resiko kematian pada tanaman.
Panas yang tinggi akan mempercepat kehilangan unsur nitrogen dalam pupuk. Aplikasi yang baik dilakukan ketika cuaca lembab, sebaiknya pada sore hari. Selain panas sinar matahari, hujan dan kondisi banyak angin juga menyebabkan penguapan.
Kandungan nitrogen pada pupuk cair lebih mudah dan langsung diserap oleh tanaman jika dibandingkan dengan pupuk kandang padat. Meskipun peyerapannya hanya sebagian, sedangkan sebagiannya lagi masih harus diuraikan. Untuk itulah aplikasi pupuk cair kandang ini lebih efektif dilakukan setelah tanaman tumbuh dengan cara pengocoran.

ARTIKEL POPULER